Fear and Loathing in Britannia Stadium: Stoke dan Statusnya sebagai Momok Arsenal

debuchy-stokecity

Kemarin, setelah kehabisan ide dalam mencari inspirasi menulis blog ini, saya dibuat haru oleh @ngebadjack dan @uwesgege. Tulisan saya ternyata masih dirindukan dan hibernasi saya dalam menulis di musim lalu benar-benar hal yang tidak bisa diterima. Setelah pada 2013 dan 2014 blog ini mengalami keemasan (terdengar jumawa? Bebaskeun!), tahun lalu saya hanya memproduksi dua tulisan. Ada banyak hal yang berubah secara signifikan pada cara saya menonton sepakbola di dua masa tersebut.

Maafkan jika ini terdengar klise: waktu 24 jam dalam sehari ternyata tidak cukup. Sementara gaya penulisan saya di periode produktif tersebut membutuhkan dedikasi yang tidak sedikit: mendownload banyak pertandingan untuk kemudian menganalisisnya, jejumpalitan dari satu situs ke situs lain, hingga telaten memperhatikan catatan statistik beragam klub dan pemain. Repot memang. Tapi menyenangkan.

Pasca sedikit terpekur saya pun teringat akan nasib tulisan-tulisan saya di bolatotal.com yang kini tak bisa diakses. Hal yang membuat saya akhirnya menerbitkan tulisan-tulisan tersebut ke blog ini, meski ada beberapa yang belum saya terbitkan. Saya sadar bahwa tulisan sepakbola bisa tidak lekang oleh waktu jika memiliki nilai narasi yang baik, dan tulisan bersifat analisis suatu pertandingan tidak  menyediakan garansi ketaklekangan oleh waktu tersebut. Kecuali jika tulisan anda sebagus Hunter S. Thompson atau Iain Macintosh.

(Atau mungkin di dunia ini yang tidak lekang oleh waktu hanyalah kecantikan Henidar Amroe dan Meryl Streep?)

Ramainya dunia kepenulisan sepakbola lokal saya pikir sudah menawarkan itu. Meski status penulis online belum semenjanjikan secara ekonomi seperti di luar sana, kini banyak penulis-penulis sepakbola online yang kemudian membukukan tulisan-tulisannya. Teman-teman tentu familiar dengan tulisan bergaya esai yang dipopulerkan Pandit Football. Ada pula penulis sepakbola yang kini merambah ke topik-topik lain dalam tulisannya, Edward S. Kennedy.

Tatkala menerbitkan ulang tulisan-tulisan lama kemarin hari, saya sadar: betapa cepatnya sepakbola berubah. Arsenal British core yang menjadi tema tulisan saya saat itu kini gaungnya tak lagi terdengar. Salah satu personilnya bahkan menjadi pemain langganan yang tiap pertandingan saya maki: Alex-Oxlade Chamberlain. Betapa busuk dan kacrutnya ia. (Topik ini akan saya ulas secara khusus di lain waktu).

Kita senang memproyeksikan banyak hal. Salah satunya adalah pada bagaimana tim kesayangan kita seharusnya bermain, siapa yang seharusnya tampil sebagai starter, siapa pemain muda yang layak dipromosikan ke skuat utama, dan sebagainya. Pada saat menulis artikel tentang penjualan pemain-pemain Arsenal, siapa yang mengira jika Wenger kemudian mengejutkan kita dengan pembelian Mesut Özil? Sesuatu yang saya harap-harapkan karena sosok Giroud membutuhkan pelayan.

Jeda tiga tahun terlalu panjang dan banyak perubahan yang Arsenal alami secara signifikan. Dua gelar Piala FA sebagai contoh. Contoh lain, mungkin melesatnya karir Hector Bellerin di skuat inti. Siapa, sih, yang bakal menduga bahwa pengganti Sagna bukanlah Debuchy atau Jenkinson? Siapa pula yang bisa menduga bahwa Monreal bisa sebegitu dapat diandalkan, menyisihkan Gibbs?

Siapa pula yang bisa menduga bahwa Diaby ternyata bisa juga Arsenal jual? Meski kemudian bakat masyhurnya, mengakrabi ruang medis karena cedera, kini diwarisi Wilshere. Belakangan bahkan saya menyatakan bahwa selagi Wilshere masih punya ‘nama’ di bursa transfer, kenapa tidak Arsenal jual saja? Tragis, memang, mengingat banyak gooner yang menaruh harapan pada pemuda bengal ini. Tapi menurut saya, sebagai klub besar, Arsenal harus berani menempatkan cara berpikir logis di depan hal-hal sentimentil. Dua musim terakhir, apa highlight Wilshere selain mengajak #kelahi lawan, menciptakan sebutir-dua butir gol cantik, dan memrovokasi fans Tottenh*m di dua parade kemenangan Piala FA?

Tidak ada.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme yang di era 60-an begitu nge-hip pernah bilang,

In football everything is complicated by the presence of the opposite team.

Konsep filsafat oposisi biner menunjukkan tajinya: Laki-laki – perempuan, tua – muda, pandai – bodoh, kaya – papa, kuantitatif – kualitatif, positivisme – empirisisme, dan demi menyangkutkannya dengan tulisan ini: harapan baik – harapan buruk, serta permainan sepakbola cantik – permainan pragmatis.

Dan, ya Tuhan, setelah segenap perubahan-perubahan yang saya jabarkan di atas, kini Arsenal harus menyambangi Brittania Stadium di saat persaingan dengan City dan Leicester sedang ketat-ketatnya.

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai Stoke. Ijinkan saya kembali bercerita. Dulu, waktu kecil, hanya ada tiga hal yang begitu menakutkan di mata saya:

  1. Suzanna,
  2. alunan musik latar di film Pengkhianatan G30S, dan
  3. badut hantu Pennywise

Sosok pertama menjadi pelajaran bagi saya bahwa ternyata keanggunan juga bisa menakutkan. Hal nomor dua, hmm, bagaimana menjelaskannya, ya. Sulit jika anda menontonnya di saat Orde baru telah tumbang. Alunan nadanya begitu merasuk mengintai kesadaran. Ada sisi keberanian kita yang seolah-olah ditonjok oleh nada yang diaransemen oleh Embi C. Noer ini. Terlebih film ini berdurasi lebih dari 3 jam dan saya menontonnya di saat masih rapuh rentan secara psikis. Rentan dalam artian segala sesuatu akan membekas hingga dewasa saat seseorang mengalaminya di masa kecil.

Namun di antara dua hal tadi, badut Pennywise-lah yang kerapkali mengacak-acak tidur saya.

anigif_enhanced-24278-1430791562-16

Tahu, kan? Jenis mimpi buruk yang acapkali kita rasai sebagai manifestasi alam sadar kita sebelum tidur. Bisa mimpi jatuh dari jurang, dikejar-kejar hantu, atau memimpikan gigi kita rontok semua. Lihat gambar di atas. Badut rekaan Stephen Hawking ini sukses hadir di mimpi-mimpi buruk saya. Jadi di balik harapan memimpikan gadis cantik, waktu kecil dulu saya selalu siap jika Pennywise hadir. Tapi ya untuk kemudian merutuki kehadirannya dalam tidur seorang bocah. Asu tenan.

Dan bagi saya, Pennywise sama seperti Stoke. Silakan simak video di bawah:

Perlu saya mengulang narasi permainan ‘kotor’ di video di atas? Saya rasa tidak karena kini Stoke telah berbeda. Apalagi kini dihuni oleh bekas penyandang status “wonderkid”. Tidak hanya satu, melainkan dua pemain: Ibrahim Affelay dan Bojan. Di musim ini pun Stoke begitu perkasa saat tampil di kandang. Chelsea, Man. City dan Man. United dibabat dengan catatan cleansheet (1-0, 2-0, 2-0). Stoke memang selalu tampil buruk di Emirates. Tapi di Britannia Stadium? Arsenal tidak pernah menang di sana dalam enam pertemuan terakhir. Betul-betul momok.

Skema

Meski telah resmi mendapatkan Mohamed Elneny, saya rasa Wenger tidak akan memainkannya nanti malam, mengingat ia baru dua hari berada di London bersama rekan-rekan setimnya. Wenger saya rasa akan kembali menduetkan Flamini dan Ramsey sebagai double pivot.

(Soal Elneny, Arsenal’s Kitchen telah membahasnya dengan baik di sini dan sini).

Kehadiran Flamini penting, asal ia tahu sosoknya penting. Penting dalam hal memroteksi 4 bek Arsenal dan menjaga nafsunya dalam bergegabah melakukan pelanggaran tidak perlu.

Posisi yang saya pikir perlu diperdebatkan adalah mengenai siapa yang seharusnya mengisi sisi kanan Arsenal: Chamberlain atau Campbell? Campbell belakangan tampil ciamik, memang. Visi dan workrate-nya aduhai. Tapi saya rasa perlu ada fokus khusus di sisi kanan karena di sisi inilah Arnautovic beroperasi (ia adalah topskor dan pemberi assist terbanyak Stoke musim ini). Dan Bellerin bisa bermain bagus dalam menyerang, jika saya perhatikan, saat bertandem dengan Ramsey atau Walcott. Bukan dua pemain sebelumnya.

Maka beginilah susunan pemain yang saya harapkan dipasang sebagai starter:

Cech

Bellerin – Mertesacker – Koscielny – Monreal

Flamini – Ramsey

Walcott – Özil – Chamberlain

Giroud

Kenapa Chamberlain? Sederhana. Ia punya kemampuan memanfaatkan pelanggaran lawan sehingga membuahkan tendangan bebas bagi Arsenal. Catatan pelanggaran Stoke musim ini terbilang kecil, 10.2 per laga (urutan ke-13 dari 20 klub EPL), tapi mengingat tensi panas saat kedua tim bertemu dan provokasi suporter kandang, besar kemungkinan pertandingan akan berlangung keras. Dan Stoke punya segudang nyali untuk itu. Apalagi Arsenal musim ini telah memperlihatkan apa yang tidak pernah mereka perlihatkan sebelum kedatangan sang maestro Özil: kemampuan menuai gol dari bola-bola mati. Musim ini Arsenal sanggup menciptakan gol dari situasi ini sebanyak 8 kali (torehan yang sama dengan West Ham dan Chelsea).

Selain sisi kanan yang harus bekerja ekstra keras, hal yang sama juga harus diperlihatkan Flamini-Ramsey. Catatan untuk Ramsey, satu hal yang saya tidak suka dari permainannya adalah bagaimana ia kerapkali melakukan sliding tackle saat merebut bola dari lawan. Bukan apa-apa, saat seorang pemain menjatuhkan diri, tentu ia butuh waktu untuk bangkit. Jika tekel tidak benar-benar bagus (dan ini jarang), permainan akan terhenti karena pelanggaran, atau bola yang tidak terebut tadi akan menguntungkan pemain lawan pembawa bola karena ia telah melepaskan diri dari penjaganya (Ramsey).

Ramsey pun harus menahan diri untuk tidak terlalu jauh berkecimpung dalam penyerangan, agar saat Arsenal kehilangan bola, ia mampu berkoordinasi dengan Flamini dalam menutup pergerakan pemain Stoke. Baru jika dirasa perlu, Ramsey bisa memanfaatkan lowongnya pertahanan lawan untuk kemudian merengsek masuk dan melakukan shoot. Tapi itupun sekali-dua kali saja.

Beruntung, Xherdan Shaqiri dipastikan absen nanti malam (dan saya tidak habis pikir bagaimana Stoke bisa membeli pemain ini dari Bayern München), juga gelandang-merangkap-pegulat Geoff Cameron. Jika situs Whoscored memrediksi Stoke akan memasang Glenn Whelan dan Affelay sebagai poros lini tengah, saya tidak yakin karena Charlie Adam dirasa pas. Pas dalam merovokasi pemain kita lewat gaya bermainnya. Mungkin Mark Hughes sependapat dengan saya. Stoke sudah cukup berbahaya tanpa kehadiran Shaqiri dengan trio Arnautovic, Bojan, dan Jonathan Walters.

Peran Giroud sebagai petarung dalam merebut bola-bola lambung juga akan kita nikmati. Kita bisa menaruh harapan besar padanya berkat rekor positifnya akhir-akhir ini: 11 gol berhasil ia ceploskan dari 11 laga yang dijalani.

Untuk menaksir kemenangan, rasa-rasanya kok sulit. Tapi saya sudah memperingatkan, Stoke adalah momok. Jika hal itu pula yang sama-sama dirasai pemain-pemain Arsenal, cara untuk menghadapinya adalah memacu motivasi untuk kembali mengangkangi Leicester City dan Man. City, memupus rekor buruk Britannia Stadium, dan bangkit dari hasil imbang kontra Liverpool kemarin.

Apalagi setelahnya kita akan menghadapi momok yang lain:

Chelsea.

[repost] Gelaran Padusan Arsenal di Tengah Puasa

8
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 22 Juli 2013, dua bulan sebelum Arsenal merekrut Mesut Özil

Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, Solo, Klaten dan sekitarnya mengenal ritual padusan menjelang bulan Ramadhan; seremoni adat dimana masyarakat berkumpul di suatu kawasan perairan baik itu laut, sungai, bendungan, mata air, pemandian hingga kolom renang, sebagai simbol pembersihan raga dan rohani sebelum memasuki bulan suci.

Ritual ini sejatinya adalah buah asimilasi antara agama dan budaya lokal. Di Yogyakarta sendiri padusan telah berlangsung sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. Pihak keraton menentukan kolam air masjid mana yang akan melangsungkan ritual ini. Kini masyarakat berinisiatif melakukannya di tempat-tempat lain, seperti pantai laut selatan. Ramadhan adalah bulan dimana umat muslim menjalani hari dengan pantangan makan-minum dan menjaga perilaku serta nafsu. Masyarakat Indonesia memaknai ‘bersih-bersih’ dalam padusan sebagai wujud kesiapan menghadapi bulan suci.

Arsenal melalui CEO-nya Ivan Gazidis secara terbuka menyatakan kesiapan mereka untuk bersaing dengan klub-klub seperti Chelsea dan Manchester City di bursa transfer. Gazidis juga menegaskan bahwa pihak klub akan melonggarkan batas gaji sehingga perekrutan pemain seperti Wayne Rooney – yang nilainya dua kali lipat dibanding pemain bergaji tertinggi di Arsenal – akan menjadi mudah.

Hingga saat ini Arsenal belum merealisasikan kesiapan tersebut. Satu persatu target mereka mulai dilirik klub lain. Para penggemar mulai pesimis dan merasa musim panas kali ini akan sama dengan musim panas sebelumnya minus hengkangnya pemain kunci. Beberapa menilai langkah Gazidis untuk melakukan wawancara tersebut adalah untuk mendongkrak penjualan tiket terusan musim 2013-14, karena dilakukan menjelang tenggat akhir pendaftaran.

Selain nama Yaya Sanogo, Arsenal memang hanya baru merekrut pemain akademi. Sementara kedalaman skuat inti mereka meresahkan. Sejak awal musim lalu Arsenal hanya mempunyai tiga bek tengah setelah Johan Djourou dipinjamkan. Lalu pada sektor gelandang tengah Abou Diaby kembali masuk ruang perawatan. Sesering apapun Theo Walcott menyatakan hasratnya sebagai striker tengah, dari caranya mencetak gol dia tidak bisa menolak bahwa posisi terideal baginya adalah penyerang sayap – kondisi yang menyisakan nama Olivier Giroud sebagai satu-satunya striker murni yang Arsenal miliki hingga detik ini.

Emosi penggemar dimainkan. Tiga klub di atas mereka; Manchester United, City dan Chelsea sedang mengalami pergantian komando kepelatihan. Bukan tidak mungkin, dengan melakukan perekrutan nama-nama mumpuni, Arsenal akan mampu berbicara banyak di liga, sambil tetap memertahankan performa impresif 10 pertandingan terakhir musim lalu.

Suka atau tidak, pembelian dengan harga ‘wah’ telah menjadi kewajiban bagi klub untuk bersaing di tiap kompetisi yang mereka ikuti. Bayern Muenchen tak segan merogoh kocek di angka 40 juta untuk menggaet Javi Martinez dari Athletic Bilbao, United – yang musim sebelumnya disalip City oleh selisih gol – langsung menggaet Robin van Persie. Belanja jor-joran mungkin hanya hak istimewa City, Chelsea atau PSG, tapi merekrut pemain yang nantinya akan menjadi kunci suatu klub dengan harga tinggi (tapi pantas) adalah mutlak dilakukan.

Ketika bursa transfer musim panas baru akan berakhir 41 hari lagi – rentang waktu segitu bagi Arsenal bisa berarti terlalu cepat dimana City dan Chelsea dengan jumawa masih bisa merekrut pemain-pemain terbaik Eropa – langkah klub yang bisa membuat suporter mereka sedikit tenang adalah bagaimana klub mampu melepas sejumlah pemain yang telah lama menguras keuangan klub ketika kontribusi mereka begitu minim.

Jika digabungkan dengan pemain-pemain akademi yang mereka rilis, Arsenal hingga saat ini telah melepas 20 pemain. Andre Santos menjadi nama terakhir yang mereka jual setelah kepindahannya ke klub Brazil Flamengo mencapai kata sepakat.

Berikut adalah lima pemain skuat senior yang Arsenal lepas:

Vito Mannone – Sunderland – ₤2 juta

Andre Santos – Flamengo – gratis

Denilson – (masih menganggur) – rilis gratis

Andrey Arshavin – Zenith St. Petersburg – gratis

Sebastién Squillaci – gratis

Johan Djourou – Hamburg SV – dipinjamkan semusim

Francis Coquelin – SC Freiburg – dipinjamkan semusim

Ibarat kutu di rambut legam-panjang Sandra Dewi, selain Mannone keempat orang tersebut menyusahkan klub di berbagai level. Pada bursa transfer Januari silam Arsenal hampir melego Arshavin ke Fulham; klub papan tengah dengan kemampuan skuat yang mampu mengejutkan rimba persaingan EPL, dan terpenting, masih berada di London, mengingat Arshavin yang terlanjur kerasan tinggal di ibukota bersama keluarganya. Apa lacur niat tersebut menjadi gagal karena kesepakatan nilai gaji yang tidak memenuhi standar Arshavin. Dia menjadi nama terakhir skuat Rusia di Euro 2008 yang gagal menunjukkan performa maksimal di EPL setelah Roman Pavlyuchenko (Tottenham Hotspur) dan Yuri Zhirkov (Chelsea).

Squilacci adalah bek dengan pengalaman bermain di final Liga Champions, pula mengoleksi 21 caps bersama timnas Prancis. Benar, lagi-lagi merupakan transfer tipikal Arsene Wenger, tapi setidaknya ia bukan bakat tak terasah Prancis seperti dulu saat Arsenal merekrut Nicolas Anelka. Suporter awalnya merasa sedikit lega ketika klub merekrutnya menjelang kompetisi 2010-11, namun anda takkan mau menyebut nama pria ini di hadapan pendukung Arsenal.

Denilson dan Santos tidak bisa mengulang prestasi sesama pemain Brazil terdahulu – Edu dan Gilberto Silva – di Arsenal. Satu-satunya hal yang paling diingat suporter dari sosok Santos, selain kegemarannya main Instagram dan kesalahan penulisan ‘guys’ menjadi ‘gays’ di Twitter, adalah dua golnya di pertandingan krusial versus Chelsea dan West Bromwich Albion. Sisanya, Santos adalah badut.

‘Padusan’ atau pelepasan pemain bertipe magabut ini tak kalah pentingnya dengan perekrutan pemain baru. Betapa tidak? Simak saja bagaimana Nicklas Bendtner berperilaku. Narablog Arsenal terkemuka, Andrew Mangan (arseblog.com), sampai memopulerkan akronim TGSTEL pada diri pemain asal Denmark tersebut. The Greatest Striker That Ever Lived.

Bukan sebuah sanjungan tentu saja.

Anda ingat saat booming penjualan MP3 player beberapa tahun lalu? Seluruh pedagang di toko elektronik – entah sengaja atau kesalahkaprahan – menjajakan berbagai tipe dan merk MP3 player dengan sebutan ‘iPod’. Para pedagang tersebut mungkin tahu iPod asli berharga puluhan kali lipat lebih mahal dari ‘kotak plastik’ yang mereka jual, dan berharap banyak orang akan kecele dengan harga murah untuk membelinya.

Pada situasi Bendtner, kondisi demikian justru terbalik.

Bendtner tidak tahu ‘pasarannya’ menurun di jagat bursa transfer. Selain perilaku di luar lapangan penuh nilai minus – dari keluar klub malam dengan celana melorot, mengemudi mobil dalam keadaan mabuk – terakhir kali Bendtner mencetak gol bersama klub sudah lebih dari satu tahun lampau. Bukan sebuah catatan yang ingin dilihat oleh klub manapun kala mengincar seorang striker tentu saja. Ironis, saat Eintracht Frankfurt sudah hampir merekrutnya seminggu lalu, negosiasi tersebut menjadi mendek akibat nilai gaji yang tidak Bendtner setujui – tersiar kabar Arsenal sampai berniat turut menyokong sekian persen gaji Bendtner selama beberapa bulan.

Umurnya masih terhitung belia, 25 tahun. Harus ada orang yang mampu menampar Bendtner untuk segera kembali ke dunia nyata dari senandung indah gemerlap selebritas pesepakbola. Lagipula, bermain di Frankfurt bisa menjadi batu loncatan baginya untuk menyatakan comeback. Atau dalam perspektif Bendtner, sebagai pengukuhan statusnya sebagai TGSTEL. Frankfurt bermain di liga yang kini disebut-sebut mengalahkan reputasi Spanyol dan Inggris dari segi ke-kompetitifan. Klub tersebut, mengingat musim lalu berhasil menduduki peringkat 6, berhak berlaga di Liga Eropa.

Namun rupanya Bendtner lebih memilih menghabiskan sisa kontrak di Arsenal meski nantinya tak sekalipun diturunkan. Klub yang tak kalah seksi dengan Frankfurt, Malaga, juga berminat memboyongnya. Namun rupanya hanya angin lalu.

Bendtner bersama Marouane Chamakh dan Gervinho – yang konon kepindahannya ke AS Roma akan diresmikan minggu ini – menjadi nama-nama yang akan ‘dibersihkan’ oleh Arsenal sembil tetap menjaga pandangan mata pada target transfer mereka musim ini.

Masyarakat DIY dan sekitarnya melangsungkan mandi besar dalam ritual padusan menjelang puasa. Arsenal justru melakukannya di tengah-tengah periode puasa mereka. Membersihkan skuat dari ‘kutu-kutu’ tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata. Laiknya kutu, perilaku foya-foya tanpa berkeringat mereka bisa menular pada pemain lain.

[repost] Gedion Zelalem Mencuat Di Waktu Yang Tak Tepat

7
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 20 Agustus 2013

“Lucunya dua tahun lalu saya hanya bisa menontonnya [Jack Wilshere] di layar TV dan kini…”

Kalimat tersebut ditulis Gedion Zelalem lewat akun Twitternya pada 22 Juli lalu sebagai caption untuk fotonya bersama Wilshere di suatu pertandingan pra musim Arsenal. (catatan: tweet tersebut kemudian Zelalum hapus).

https://twitter.com/Gedion34/status/359325443196858368

Jika ia sendiri begitu takjub akan guratan nasib yang ia jalani, begitu pula yang penggemar Arsenal rasai. Pasalnya nama Zelalem, meski telah direkrut klub pertengahan musim lalu, adalah sosok yang teramat asing.

Penggemar lebih tertarik mengikuti kiprah eks Borussia Dortmund Tomas Eisfeld, eks La Masia Hector Bellerin, gelandang serang kuat dan lincah Serge Gnabry, atau bakat lokal Chuba Akpom di jajaran pemain muda potensial yang Arsenal miliki.

Zelalem datang dari tempat yang mustahil membuat namanya diperhatikan oleh banyak orang sebagai pesepakbola berbakat: Amerika Serikat. Penggemar lebih tertarik mengikuti mereka yang direkrut klub dari tempat-tempat dimana sepakbola lazim didengungkan, seperti Eisfeld dan Bellerin.

Bukan hanya itu, postur tubuh Zelalem yang kurus ceking pun secara kasat mata kurang meyakinkan. Ia dinilai terlalu ringkih untuk memulai karir akademi di Arsenal, apalagi untuk bermain di skuat utama.

Pemuda yang baru berusia 16 tahun ini, saat didatangkan ke Shenley Ground langsung menyeruak masuk ke tim U-21, dimana lazimnya seorang pemain seumurannya (ditambah reputasinya yang kurang mentereng) hanya bemain di level U-81.

Rasa penasaran para penggemar pun terjawab saat Arsenal memboyongnya bersama 8 pemain akademi lain dalam rangkaian lawatan klub ke Asia beberapa waktu lalu. Di pertandingan melawan Indonesia, ia sempat menguatkan keraguan penggemar saat dengan mudah dijatuhkan Victor Igbonevo.

Fans, baik yang menyaksikan di stadion maupun lewat TV, lebih mengelu-elukan Akpom, Eisfeld serta Olivier Giroud – yang berhasil menceploskan sepasang gol ke gawang Kurnia Meiga. Namun rupanya penampilan Zelalem bersama skuat inti terus berlanjut hingga laga pra musim terakhir versus Manchester City di saat Akpom harus kembali merapat bersama tim junior.

Sekilas tak ada yang istimewa dari permainan Zelalem. Namun jika penonton mau mengeluarkan sedikit konsentrasi saat melihat caranya bermain, ia – di umurnya yang baru menginjak 16 tahun – sanggup mengeluarkan permainan efektif meski terkadang tak terlihat atraktif.

Zelalem tahu dimana ia harus memosisikan diri saat musuh menguasai bola. Di pertandingan-pertandingan pra musim, ia bisa berada di posisi lowong-bebas-kawalan yang memudahkan barisan pertahanan Arsenal untuk memberinya bola.

Ia tidak menyulitkan rekan setim.

Zelalem juga paham syarat yang mutlak dimiliki gelandang tengah dalam mematikan serangan lawan, yakni kemampuan untuk merebut bola tanpa menjatuhkan diri untuk menekel. Ia sadar, jika ia menjatuhkan diri, kemungkinan tekel tersebut berhasil bisa 50-50, perlu waktu lama bagi seorang pemain untuk kembali bangkit dan mengejar bola yang tak mereka dapatkan saat melakukan tekel gagal tadi sehingga membuat pertahanan tim acak-acakan.

Teristimewa tentu saja kemampuannya melepas passing yang sanggup membelah barisan pertahanan lawan (a defense-splitting pass). Ia, dengan raut polosnya bisa tiba-tiba memberi sodoran bola mendatar yang tak diyakini lawan akan mampu menemui rekan setim.

Wilshere, bakat lain dari Arsenal sampai mengakui keistimewan ini dalam sebuah wawancara,

Dia [Zelalem] mampu melihat kemungkinan melakukan operan disaat pemain lain tidak. Kamu berpikir, ‘dia ngapain, sih?’ dan tiba-tiba seseorang menyambar umpan tersebut. Dia baru berumur 16 dan pemain yang sangat menarik,

 

..Tidak akan memakan waktu lama sebelum akhirnya dia siap. Dia begitu nyaman dengan bola. Dalam sesi latihan pun dia merupakan mimpi buruk untuk dihadapi. Dia menjaga bola darimu dan melindunginya. Posturnya memang tidak besar tapi dia kuat,

..dia pemain bagus untuk masa depan.

Seorang skeptis mungkin akan berkilah, ‘ah, lawannya kan hanya tim-tim lemah’ di saat mereka lupa bahwa satu tahun lalu Zelalem hanya bermain sepakbola bersama rekan-rekannya di Olney GBC Rangers, sebuah akademi sepakbola di Washington. Di laga pra musim yang mencuatkan namanya ini ia bermain dengan pemain-pemain profesional yang lebih dulu malang melintang. Ia juga bermain di hadapan ribuan suporter yang menyajikan gemuruh ketegangan di saat satu tahun lalu hanya bermain dengan iringan sorak sorai para orangtua murid.

Jangan lupakan juga faktor jetlag dan perbedaan iklim yang mungkin baru pertama kali ia hadapi seumur hidup.

Maka sebelum laga kontra Nagoya Grampus Eight pun label ‘Cesc Fabregas selanjutnya’ pun menempel di pundaknya. Kedua pemain selain memiliki postur dan gaya bermain serupa, juga mencuat di umur yang sama, 16 tahun. Zelalem belum lahir saat Arsene Wenger pertama kali menangani Arsenal.

Terkait keputusannya memilih Arsenal, ia menegaskan bahwa gaya bermain Arsenal-lah faktor utama sebagai dasar keputusan tersebut. Dan ketika ditanya apa dia senang dengan keputusannya hijrah menyebrangi Samudra Atlantik ke London, Zelalem menjawab singkat tapi padat – seperti operan pembelah pertahanannya,

Keputusan terbaik dalam hidupku.

Wenger juga mengakui bahwa Zelalem adalah salah satu pemain akademi yang berkembang sangat pesat sepanjang pra musim. Dan baru beberapa hari lalu Wenger mencantumkan nama Zelalem dalam skuat Arsenal di ajang liga Champions di saat pemain akademi lain – yang notabenenya merupakan senior Zelalem – dipinjamkan ke lain klub, seperti Chuks Aneke dan Ignasi Miquel.

Maka kenyataan dan ironi pun menghantam Arsenal. Klub seakan tak bisa berhenti untuk memroduksi bakat-bakat muda lagi ciamik, di saat mereka bisa dengan mudah merubah kebijakan di bursa transfer dan menyegerakan diri menyiapkan skuat sebelum kompetisi baru bergulir.

Durasi 2 1/2 bulan bisa berarti terlalu cepat bagi Arsenal untuk bergerak di bursa transfer di saat klub-klub seperti (tak usah jauh-jauh) Tottenham Hotspur telah memiliki skuat yang kompetitif. Arsenal tidak bisa berkilah bahwa mereka lebih berkonsentrasi ‘membuang’ nama-nama dead wood seperti Marouane Chamakh dan Gervinho karena tetangga mereka pun melakukan hal yang sama (Spurs periode ini telah melepas 18 pemainnya).

Arsenal Rabu nanti akan bertandang ke Turki untuk menghadapi Fenerbahce dalam babak play-off liga Champions, namun Wenger belum juga menyegerakan diri untuk menambal kedangkalan skuatnya. Alih-alih berkonsentrasi dalam drama perekrutan Luis Suarez di saat yang benar-benar Arsenal butuhkan adalah pemain-pemain bertahan.

Poros Ram-Teta (Ramsey dan Arteta) yang musim lalu menjadi kunci Arsenal untuk merebut spot UCL tidak mempunyai pelapis sepadan. Wilshere adalah tipe ‘jack of all trade’ dan ‘master of none’. Wilshere tidak memiliki kesadaran bertahan mumpuni seperti Ramsey (kalimat ini mustahil ditulis 10 bulan lalu). Wilshere juga kalah jauh dengan Santi Cazorla dan Tomas Rosicky sebagai pengisi peran no. 10. Sementara Abou Diaby tetaplah menjadi Abou Diaby dan Francis Coquelin baru saja dipinjamkan ke klub Bundesliga Freiburg.

Maka kengototan Wenger untuk tak segera mencari pelapis pun harus dibayar begitu dini saat Mikel Arteta dinyatakan cedera dan harus absen di awal kompetisi. Hasilnya?

Rekor penampilan buruk Arsenal saat tak diperkuat Arteta kembali berlanjut dan takluk oleh klub berperingkat 15 musim lalu Aston Villa dengan skor 1-3. Di kandangnya sendiri.

Wenger dulu bisa leluasa memoles bakat kasar Fabregas karena skuat yang dia miliki begitu bergizi. Fabregas – di umur begitu belia – bersanding dengan nama-nama seperti Dennis Bergkamp, Thierry Henry, Robert Pires dan Gilberto Silva di atas lapangan. Kini yang Arsenal butuhkan adalah menambal sulam rapuhnya skuat yang mereka punya. Bukan bermain-main dalam mengujicoba pemain tak berpengalaman.

Berpatokan pada susunan pemain lawan Aston Villa, Arsenal hanya memiliki 9 pemain yang siap diturunkan untuk menghadapi Fenerbahce di Sukru Saracoglu Stadium.

SEMBILAN.

Arsenal, jika sebelum menghadapi Fenerbahce sudah merekrut Xabi Alonso atau Alvaro Dominguez atau Benedikt Howedes pun belum boleh menyertakan rekrutan anyar karena pemain tersebut tidak mereka daftarkan ke UEFA kemarin.

Sayang sekali. Zelalem, bocah yang besar di negara yang mengenal ‘football’ sebagai ‘soccer’ dan memiliki darah Ethiopia ini belum bisa berbicara lebih banyak bersama skuat utama Arsenal di kompetisi premium.

Wenger tidak bisa lebih gila lagi jika masih saja ngotot memainkan bakat-bakat tak terasah di saat tekanan suporter padanya sudah sedemikian besar.

[repost] Situasi Malaga: Mungkin Mulanya Al-Thani Memandang Malaga Sebagai Shangri-La (bagian I)

6a
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 19 Agustus 2013. Awalnya diniatkan terdiri dari dua bagian. Namun sayang, di samping kesibukan saya (yang tentunya membuat waktu menonton La Liga semakin terbatas), situs bolatotal tutup lapak. Mungkin suatu saat tulisan ini akan saya lanjutkan, tentu dengan gaya, nuansa dan fakta-fakta yang berbeda, terkait rentang waktu yang terpaut jauh.

Dari private lounge di Paris, Abdullah bin Nasser Al-Thani gusar bukan kepalang. Sofa empuk bertatah kulit rusa tak sanggup membuat posisi duduknya nyaman. Berkali-kali ia menggelengkan kepala dan menggaruk rambut ala Mansyur S-nya yang sebenarnya tidak gatal. Pierre, sang pelayan, berulang kali dihardik untuk membawakan sesuatu. Hanya untuk bisa dihardiknya lebih pedas lagi.

Penyebabnya tak lain kekalahan menyakitkan Malaga atas Borussia Dortmund di perempatfinal Liga Champions. Keunggulan 2-1 di hampir sepanjang pertandingan menjadi musnah akibat dua gol cepat di injury time. Gol kemenangan Dortmund yang dicetak Felipe Santana terjadi di menit 93 dan berbau offside.

Al-Thani sontak meraih smartphone-nya dan – karena ia adalah sosok pria Arab modern – melampiaskan kekesalan melalui twitnya yang berbunyi,

Pelatih Malaga saat itu, Manuel Pellegrini, juga menyayangkan buruknya kinerja wasit yang merugikan mantan klub asuhannya tersebut:

There was no refereeing in the last seven minutes. Our players were being elbowed and pushed all over the places. Two of their players should have been given a red card and there was a double offside for their third goal.

Komentar Al-Thani membuat UEFA bertindak lewat sekjennya Gianni Infantino yang menegaskan akan mengadakan investigasi terkait serangan terbuka Al-Thani. Ini berarti hanya memantik bara permusuhan dengan UEFA yang telah tercipta setahun silam.

**

Jika anda penggemar La Liga yang terlalu sibuk menikmati Barcelona atau Real Madrid, UEFA menghukum Malaga terkait gaji pemain dan hutang transfer yang belum mereka bayar dengan larangan berlaga di seluruh ajang sepakbola di bawah naungan UEFA, baik Liga Champions dan Liga Eropa, mulai musim 2013-14. Ihwal penundakan gaji ini yang membuat Fernando Hierro, legenda Madrid yang menjabat direktur sepakbola, mengundurkan diri.

Pada Juli 2012, empat pemain inti Malaga, Ruud van Nistelrooy, Santi Cazorla, Jose Manuel Rondon dan Joris Mathijsen melakukan komplain kepada otoritas olahraga Spanyol terkait gaji yang tertunggak. Selain van Nistelrooy yang pensiun, sisanya kemudian dijual Malaga demi menunaikan kewajiban mereka.

Cazorla, setelah resmi berseragam Arsenal musim lalu berkomentar tentang situasi Malaga ini dengan gamblang: “What happened in Malaga was, in a sense, chaos. There were economic problems and a lot of uncertainty; we were waiting to see if the club would get out of trouble for us to be allowed in the Champions League. It was not immediately clear who was the boss at Malaga. The Sheik (owner Abdullah Al-Thani) was not at Malaga very much, and it was difficult to get an explanation of what was happening, there was no information. There was no one to explain what was happening, and when (former President) Hierro left, that was no one to talk to.

Beruntung Malaga ditangani Pellegrini, sang tukang insinyur yang didaulat menggantikan Jessualdo Ferreira ini setidaknya mampu sedikit mengangkat martabat Malaga di atas lapangan. Malaga, di musim debut Liga Champions mampu menekuk Zenit St. Petersburg 3-0. Setelah vonis UEFA dijatuhkan pun masih mampu membawa Saviola dan kawan-kawan mengalahkan Real Madrid 2-3.

Pellegrini mengoptimalkan peran Isco, pemain didikan Valencia yang uniknya mereka dapatkan dengan bandrol murah. Penampilan Isco sebagai trequartista handal tak ayal membuat Ia juga memoles kembali mesin tua macam Saviola, Joaquin, Martin Demichelis dan Jeremy Toulalan.

6b

Malaga adalah kota istimewa. Di sana Pablo Picasso lahir. Kota ini masuk dalam kawasan otonomi Andalusia, yang puluhan abad silam pernah dikuasai kaum Muslim. Hal yang (mungkin) membuat Al-Thani merasakan kedekatan historis dan psikologis.

Sebagaimana kawasan lain di mediterania, Malaga mengandalkan industri pariwisata untuk menunjang denyut nadi kota. Penguasa Saudi, Raja Fahd konon bisa menghabiskan 5 juta Euro per hari untuk menghabiskan waktu di Marbella, salah satu spot wisata hip di Malaga. Dan, ya, 5 juta Euro atau dalam kurs Rupiah bernilai Rp. 67,984,023,500 itu duit semua. Kota ini juga dikenal sebagai tempat para jutawan menghabiskan waktu bermain golf. Sambil tentu saja wara-wiri dari satu museum ke museum lain.

Malaga CF sendiri adalah klub yoyo. Seperti halnya Manchester City pra-2008 – yang juga diakuisisi saudagar Arab. Prestasi sepakbola mereka kalah jauh dibanding klub Andalusia lain seperti Sevilla dan Real Betis. Penikmat La Liga yang tidak familiar dengan Malaga adalah sebuah keniscayaan. Keadaan tersebut berubah saat dua hal penting terjadi secara berdekatan, yakni:

  1. Pencalonan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, dan
  2. Malaga mengalami kesulitan finansial dan presidennya, Fernando Sanz mulai menjajakan klub tersebut kepada para investor, hingga pada Juni 2010 secara resmi Abdullah mengakuisisi klub tersebut.

Ambisi Qatar untuk menjadi tuan rumah ajang empat tahunan tersebut menjadi satu lagi bukti niat mereka untuk mengeruk untung di ranah sepakbola. Sederhana saja, minyak bumi dan gas alam bisa habis. Ratusan hotel, sibuknya jalur penerbangan maskapai mereka dan Piala Dunia bisa menjadi alternatif bagi negara tersebut untuk tetap bermandikan logam emas.

Pariwisata sebagai andalan negara untuk mendulang devisa, sementara sepakbola – yang tidak hanya mereka sukai sepenuh hati, tapi juga tontonan favorit warga dunia – menjadi alat promosi efektif untuk menunjang sektor pariwisata tadi.

Pun Qatar tak seperti Arab Saudi, yang selain mempunyai sumber daya alam melimpah, juga berkawan cukup lama dengan Amerika dan tiap tahun mendapat suntikan dana dari jutaan peziarah muslim.

Abdullah Al-Thani adalah saudara jauh Emir Qatar, yang tak lain adalah presiden Paris St. Germain. Negara itu berperilaku seperti masyarakat Arab lazimnya di mana dari rahim siapa anda lahir sangat menentukan posisi politik dan ekonomi anda di masyarakat kelak. Dalam pengertian lebih sempit, masyarakat Qatar adalah sistem kesukuan yang diperluas. Abdullah tidak akan mampu menguasai Malaga jika tidak menyandang marga Al-Thani.

Hanya delapan hari setelah penobatan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia – melalui badan nirlabanya, Qatar Foundations – mereka mengikat kontrak dengan Barcelona senilai €170 juta selama 5 tahun sebagai sponsor di seragam klub tersebut. Keluarga inti bani Al-Thani telah menaruh kuasa di klub berpengaruh dunia Barcelona dan PSG (reputasi Paris sebagai jantung dunia tentu akan mendongkrak ‘brand value’ tersebut).

6c

Abdullah, yang berada di luar keluarga inti merasa pengakuisisian Malaga sebagai upaya tepat untuk mengikuti jejak saudaranya.

Namun berbeda dengan bani Mansour di Manchester City, pengakuisisian tersebut tidak diiringi dengan perencanaan matang. City, misalnya, berusaha sangat keras mendongkrak imej klub yang tadinya bukan apa-apa menjadi salah satu brand global. Salah satunya dengan meningkatkan kinerja tim digital branding mereka dimana City menjadi salah satu klub yang pertama kali menggratiskan semua video eksklusif klub di YouTube. Penetapan City sebagai klub terpilih pun terasa signifikan karena kepopuleran Mancchester United.

Abdullah juga tidak menyangka jika ternyata kuku Barcelona dan Real Madrid bisa sedemikan kuat menancap di sepakbola Spanyol. Malaga otomatis terkena imbas ketakmerataan pembagian uang kontrak televisi yang melanda La Liga. Timnas Spanyol boleh saja dominan di atas lapangan, tapi krisis keuangan telah merongrong mereka di level klub profesional selain dua raksasa La Liga karena lilitan hutang dan krisis ekonomi nasional.

Sebagai gambaran, diantara 6 klub teratas La Liga musim lalu, selain Barcelona dan Madrid hanya Real Sociedad klub yang tidak dibelit hutang. Tak heran jika setelah melepas Falcao pun Atletico Madrid masih diberitakan hendak melepas salah satu pemainnya, Diego Costa ke Liverpool. Atletico dikabarkan mempunyai beban hutang sekitar €180juta dan hasil penjualan Falcao lebih banyak menguntungkan pihak agen dan pihak ketiga yang memiliki pemain Kolombia tersebut (oleh sebab sistem third-party ownership).

Nasib buruk belum mau menjauh dari Abdullah dan Malaguistas. Pellegrini hijrah ke Manchester City. Kepindahan Isco, yang tampil gemilang bersama Spanyol di Euro U-21, ke Real Madrid memang tinggal menunggu waktu, salah satu yang bisa disyukuri manajemen klub adalah bahwa jauh sebelum proses transfer itu berlangsung, pihak klub sudah memerbaiki kontrak Isco – sehingga bisa mendulang laba lebih banyak.

Berturut-turut pemain kunci mereka hijrah dari De La Rosaleda: duet sayap tua namun lincah Joaquin Sanchez-Saviola, Julio Baptista, Manuel Iturra, Martin Demichelis hingga Jeremy Toulalan.

Ironis, di saat media dan para penggemar mulai meragukan keseriusan Abdullah berinvestasi di klub, ia malah mendemonstrasikan mental denial: keadaan dimana individu menyangkal fakta-fakta (biasanya menyakitkan atau tak sesuai harapan) yang dengan gamblang sedang dihadapi Malaga.

Cazorla tidak salah jika menyebut adanya ketidakterusterangan sang pemimpin terkait kondisi klub yang karut marut. Pernyataan  Abdullah tadi sama konyolnya dengan menuduh kekalahan Malaga atas Dortmund sebagai tindakan rasis UEFA terhadap klub dan dirinya.

Hingga kini, Malaga terus saja kehilangan pemain-pemain kuncinya. Bahkan, selain kepindahan Isco dan Toulalan, para pemain yang dilepas itu dibanderol gratis. Disinyalir hal itu Malaga lakukan  guna memperlonggar anggaran gaji tahunan. Kini, mereka menyisakan Willy Caballero, Francisco Portillo, Ignacio Camacho, Eliseu dan Roque Santa Cruz – yang akhirnya status peminjamannya dari City dipermanenkan – sebagai punggawa tim.

 **

Rumor berkembang Abdullah sudah tak lagi mengucurkan dana untuk Malaga. Direktur umum mereka, Vicente Casado (sosok pengganti Hierro yang sebelumnya lebih banyak berkutat di aspek bisnis klub tersebut) dengan tegas menyanggah spekulasi tersebut:

 ..the owner will continue to invest in the club. I’m very optimistic about the future of this entity. One of the owner’s representatives is here in his office every day, highlighting his continued interest in the club.

Abdullah tak melihat potensi sepakbola dan pariwisata Malaga sebagai Eldorado; kota fiktif di hikayat Western yang mempunyai cadangan emas melimpah. Abdullah memandang Malaga seperti Shangri-La – sebuah kawasan utopia dari novel Lost Horizon karya James Hilton.

Shangri-La adalah surga di bumi. Atau dalam pendekatan masyarakat barat: simbolisasi eskapisme warga dunia pertama ke kawasan eksotis negara-negara dunia ketiga. Tempat-tempat yang menyajikan wawasan dan pengalaman relijius-humanis sambil tetap menawarkan keindahan hayati khas wilayah tropis.

Masyarakat barat telah puluhan tahun melakukan ‘pencarian’ ini. Tak sedikit dari mereka yang telah ‘menyelami’ Nepal, Tibet, Mumbai hingga Bali.

Abdullah memandang Malaga mempunyai karakteristik surga dunia rekaan novelis Inggris tersebut. Dalam Lost Horizon, fokus cerita berkutat pada pengalaman Hugh Conway, duta besar Inggris di Afghanistan yang terdampar di suatu daerah bernama Shangri-la di Tibet saat hendak mengungsi dari pergolakan politik.

Di kawasan tersebut, Conway, bersama tiga penumpang lainnya mendapati sebuah kawasan yang mendekati definisi surga yang lepas dari tatanan resmi kenegaraan. Mereka memiliki pemimpin sendiri dengan gelar “Lama”. Karena beberapa faktor pribadi, mereka justru betah tinggal di tempat tersebut. Meski terpencil, tempat itu memiliki seni budaya tinggi dan mengenal perabotan modern – dari piano hingga bak mandi merk terkenal – yang mustahil mereka akses.

Pada akhirnya di penghujung cerita, Conway ditemukan dirawat dalam keadaan amnesia di sebuah rumah sakit di China. Seorang perawat mengatakan bahwa Conway diantar oleh seorang wanita dalam keadaan tua yang tak lazim (sangat, sangat tua). Benar atau tidak pengalaman yang Conway ceritakan pada penutur cerita, hanya Conway yang tahu. Pembaca boleh memilih untuk memercayai atau tidak kebenaran cerita Conway.

Kisah Abdullah bersama Malaga hampir berakhir seperti kisah Conway di Shangri-La, di mana ia mulanya menganggap sedang mengalami kebahagiaan di tempat yang jauh dari negeri asalnya. Bedanya, dalam kasus Abdullah ada banyak pihak yang dibuat menderita.

Pihak tersebut tentu saja para penggemar Malaga.

***

[repost] Luis Suarez dan Tony Pulis: Antara Cinta dan Benci

5
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 27 April 2013

Saya mohon maaf pada Branislav Ivanovic dan dunia sepakbola pada umumnya atas kelakuan saya semalam. Sungguh..

Namanya Luis Suarez. Publik Anfield, kawasan tepi sungai Mersey menjulukinya El Pistolero: merujuk pada kemahirannya mencetak gol ke gawang lawan. Laiknya keterampilan para koboi di film-film Spaghetti Western klasik menggunakan pistol. Dus, tidak perlu dijabarkan lagi bagaimana Suarez berkali-kali menyelamatkan anak-anak Brendan Rogers. Singkat kata, dia adalah striker komplit; dari kepala, kaki, kemampuan melakukan tendangan bebas, menusuk masuk kotak pinalti, hingga melepas assist. Definisi mutlak atas apa yang penulis sepakbola bilang ‘versatile’.

Suarez adalah pemenang. Setidaknya ia selalu menunjukkan di atas lapangan sikap enggan untuk kalah. Kalah sama dengan pecundang dan tugasnyalah untuk menghindari kekalahan: mencetak gol sebanyak-banyaknya. Talenta ini dia tunjukkan bahkan sejak pertama kali tampil sebagai pemain pengganti di pertandingan pertamanya untuk Urreta di Uruguay: membalikkan keadaan dari tertinggal dua gol menjadi 3-2. Semua gol dicetak oleh pemain berusia 9 tahun yang baru datang dari Salto, kota penghasil mate – semacam jamu khas Amerika Latin.

Liverpool, Kenny Dalglish maupun Damien Comolli tentu paham saat merekrutnya dari Ajax pada 2011 lalu, Suarez tidak hanya spektakuler di atas lapangan tapi juga punya kecenderungan melakukan hal-hal di luar nalar. Menanduk wasit, melecehkan pemain lawan, diving, meninju bola guna mencegah kebobolan, hingga menggigit pemain lawan.

Seperti Marco van Basten – pelatihnya di Ajax bilang,

Luis is unpredictable, he’s hard to influence but that makes him special.

Luis Suarez dan kontroversi adalah dua sisi mata uang. A handsome devil.

Liverpool dan paguyuban luar biasa suporternya pernah membelanya habis-habisan saat pemain ini didakwa melakukan pelecehan berbau rasis pada Patrice Evra, yang kebetulan pemain Manchester United, salah satu rival terbesar mereka. Betapa sentimentilnya kasus ini hingga kemudian banyak yang menuduh bahwa vonis larangan bermain sebanyak delapan laga adalah sebuah konspirasi FA dan David Gill – chairman FA yang kebetulan juga menjabat chairman di  Manchester United.

Klub saat itu bahkan sampai membuat kaus khusus “Support Suarez” yang dipakai di berbagai kesempatan. Belum lagi puluhan artikel yang menguliti – setidaknya menurut mereka – ketidakadilah terhadap Suarez. Ironis mengingat otoritas sepakbola FIFA dan khalayak sepakbola mengutuk keras tindakan rasisme. Maka tak heran kini pendukung Liverpool pun mulai jengah atas tindakan Suarez yang merugikan klub. Untuk klub yang terkenal melahirkan pemain-pemain bertipe ‘gentleman’ seperti John Barnes, Ian Rush hingga Robbie Fowler, memiliki pemain banyak polah seperti Suarez adalah sebuah hal aneh. Ditambah lagi mereka adalah klub yang menghargai tradisi, yang hingga kini masih memertahankan suasana interior ruang ganti jaman Bill Shankly di Anfield, sebagai contoh.

Dari sisi lain Inggris cerita datang dari klub tertua EPL, Stoke City dan pelatihnya Tony Pulis. Stoke dan Tony Pulis tidak bisa dipisahkan mengingat bagaimana romantisme kebrutalan sepakbola tahun 80-an secara gamblang mereka praktekkan. Jika penasaran seperti apa sepakbola sebelum era Premier League, tonton permainan Stoke City.

Mengutip kolumnis majalah World Soccer, Paul Gardner:

Dalam 20 tahun masa kepelatihannya, Pulis belum memenangi apapun. Siapapun yang melihat tim Stoke asuhannya bermain akan senang jika fakta itu terus berlanjut. Suatu hal yang mustahil memahami pemikiran Pulis dalam memilih gaya bermain seperti itu. Apapun namanya, gaya itu jauh dari slogan FIFA, ‘Beautiful Game’.

Lebih lanjut Gardner menjelaskan bagaimana Pulis dengan sengaja memilih pemain-pemain dengan postur seukuran troll, manusia Neanderthal atau apapun perbandingannya: rata-rata tinggi pemain mereka 1,82 meter. Tidak ada pemain dengan intelejensia ala Spanyol atau Amerika Latin. Mereka memainkan kick and rush dengan arti sebenarnya: tendang pantat lawan, hajar bola hingga ke depan, lalu sundul atau apapun itu asal bola masuk gawang.

Hingga kini Stoke berhasil unggul dalam aspek yang mendukung opini Gardner di atas. Mereka memimpin rataan pelanggaran dengan 13.1 pelanggaran/laga. Juga memimpin jumawa di antara klub lain dalam perolehan kartu kuning/merah: 67/3. Dalam setiap laga mereka tercatat hanya berhasil melakukan rata-rata 4.1 dribel sukses. Bandingkan dengan Arsenal (10.9) dan klub dengan peringkat di bawah mereka, Wigan (6.9).

Meski begitu Stoke sempat mencatat hasil impresif di paruh pertama musim ini. Mereka hanya mengalami tiga kekalahan dengan torehan 9 kali cleansheet dan 21 kebobolan dari 20 pertandingan. Namun semua berubah memasuki Januari, dimana sejak itu mereka mengalami 10 kekalahan dari 14 pertandingan. Meraih poin sama dengan Newcastle, 37, dan bersama Aston Villa dan Wigan membuat duel zona degradasi semakin panas.

Berbeda dengan Alain Pardeaux, maaf, Alan Pardew yang sepertinya tidak mendapat kecaman dari pendukungnya, posisi Pulis sebaliknya. Masyarakat Stoke yang mulia mulai berteriak menuntut pemecatan dirinya dari Britannia Stadium. Padahal keberhasilan Stoke bertahan di rimba EPL tidak lain berkat jasanya yang berhasil membawa Stoke kembali mengarungi liga teratas Inggris per musim 2008/09.

Pulis berhasil membawa Stoke kembali ke kompetisi utama sepakbola Inggris yang terakhir Stoke nikmati lebih dari 20 tahun sebelumnya. Apalagi dua musim lalu dia membawa Stoke melaju ke final Piala FA, yang meski dikandaskan Manchester City, tetap berhak melanglang buana di kompetisi Eropa musim 2011/12. Bayangkan: sepakbola yang orang sebut primitif dan klub yang prestasi terbaiknya hanyalah raihan Piala Liga tahun 1972 mengarungi petualangan di kota-kota obscured  Eropa. Penggemar tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang bagaimana permainan mereka ‘merusak’ wajah sepakbola.

Bagi penggemar, Tony Pulis adalah berkah dan kesatuan. A gift that keeps on giving.

Namun itu berubah. Kini nama-nama seperti Harry Redknapp maupun Martin O’Neill mulai diperhitungkan, atau diharapkan menjadi pengganti Pulis.

Everyone smokes: you only look cool when you don’t follow the hype

George Orwell, satiris pengarang 1984 dan Animal Farm pernah bilang,

Football has nothing to do with fair play. It is bound up with hatred, jealousy, boastfulness, disegard of all rules and sadistic pleasure in witnessing violence: in other words it is war minus the shooting.

Tony Pulis mempunyai kemampuan intimidasi ala sore losers. Bagaimana dia seperti merasa tak bersalah selepas insiden Shawcross mematahkan kaki Ramsey tiga tahun silam – padahal pada 2007 bek bekas binaan akademi United itu juga mencederai kaki Francis Jeffers. Atau saat dia menyerang pemain-pemain lincah nan jenius seperti Oscar dan (lagi-lagi kebetulan) Suarez, bahwa pemain seperti ini hanya merusak sepakbola dengan terus berusaha melakukan diving. Tak lupa saat dia menyerang klub yang beroperasi dengan dana transfer tanpa limit, padahal catatan pembelian Pulis tidak bisa dibilang rendah.

Roberto Martinez, pelatih Wigan, sering dipuja banyak penggemar. Mengingat keberhasilannya yang secara konsisten mampu mengombinasikan Spain connection, permainan cantik dan bujet terbatas untuk membawa Wigan tetap berada di EPL. New York Times bahkan menyebut gaya permainan anak-anak The Latics: ‘Barcelona in disguise’.

Namun sejauh mana pun masturbasi intelektual para hipster sepakbola kala memainkan Wigan di Football Manager, di dunia nyata Stoke asuhan Pulis dengan segala kebrutalannya mampu mengangkangi Wigan di ujung kompetisi EPL.

Tabel di bawah adalah catatan peringkat akhir klasemen kedua klub sejak Martinez menukangi Wigan:

Musim kompetisi Stoke City Wigan Athletic
2009/2010 11 16
2010/2011 13 16
2011/2012 14 15

Football is always about the final result, mind you.

Suarez, yang sebelumnya diramalkan mampu mengakhiri musim ini dengan gelar top skor harus mengakhiri musim lebih cepat. FA mengeluarkan larangan tampil sebanyak 10 pertandingan untuk pemain yang paling dibenci masyarakat Ghana ini. Serta merta banyak pihak mulai meragukan masa depannya di EPL bersama Liverpool. Beberapa penggila serie A bahkan bilang sosok ‘menghibur’ seperti Suarez sangat cocok dengan iklim sepakbola Italia yang penuh intrik dan drama. Proyek baru Pep Guardiola di Bayern Muenchen juga terlihat berminat merekrutnya.

EPL musim depan setidaknya akan kehilangan sosok badut seperti Pulis dan Suarez. Yang tersisa hanyalah sepakbola yang dimainkan dengan pesona nirwana oleh Swansea, Southampton, Arsenal maupun Manchester United: penuh operan satu-dua cepat, skill individu mumpuni dan pemain antah berantah yang tetiba menonjol seperti Michu, Gaston Ramirez, Morgan Schneiderlin, Joe Allen, dst dst.

Nanti dulu.

Semua orang, bak pria dan wanita kini sepertinya merokok. Anda merokok supaya terlihat keren? Anda terlihat keren hanya dan jika anda berbeda dari orang kebanyakan.

Sejarawan sekaligus ahli taktik sepakbola Jonathan Wilson dengan tegas menyanggah bahwa jika dibandingkan permainan anak-anak The Crazy Gang Wimbledon, permainan Stoke tidak sebrutal itu. Meski saya mendukung penuh peraturan yang menghukum tegas tindakan keras di atas lapangan, apa yang Pulis lakukan setidaknya memberi warna tersendiri bagi EPL.

Kutipan Orwell di atas mungkin keluar dari mulutnya beberapa puluh tahun sebelum era Premiership, tapi bukankah benturan fisik yang membuat olahraga ini berbeda dengan bulutangkis atau voli, misalnya? Benturan fisik yang terlampau keras akan menghasilkan pelanggaran. Pihak yang dilanggar mendapat keuntungan sebuah tendangan bebas. Dan dengan ini pula kita bisa melihat bagaimana sosok seperti David Beckham dan Gareth Bale melengkungkan laju bola menuju gawang.

You lose some, you get some.

Apalagi mulai musim depan EPL akan menggunakan teknologi Hawk Eye, sebuah layanan teknologi video rekaman ulang. Terlepas bagaimana pengaplikasiannya di atas lapangan, kita bisa berharap kejadian seperti kasus patahnya kaki Ramsey akan dipelajari dan pelakunya dijatuhi hukuman berat. Hal ini membuat kita penasaran: pendekatan macam apa yang akan dilakukan Pulis bersama Stoke?

Luis Suarez pun sedemikian. Usianya baru menginjak 26, bersama Brendan Rogers dan Steven Gerrard kini sedang memulai sebuah usaha revolusi di Liverpool. Gerrard sudah di ujung karir, Carragher pun baru-baru ini menyatakan pensiun. Suarez sejatinya pantas untuk memimpin anak-anak muda Liverpool hingga beberapa musim ke depan.

Yang membuat olahraga ini begitu populer adalah hal-hal menghibur yang terjadi baik di dalam maupun luar stadion. Pesona komersialisasi EPL dengan jaringan TV kabel dalam skala global. Saya mengamini pendapat Jamie Carragher. EPL jangan sampai kehilangan pesonanya seperti saat mereka kehilangan Cristiano Ronaldo dan Cesc Fabregas – bahkan sebelum mereka benar-benar mekar. Jangan juga kita melupakan perginya Mario Balotelli, sang penjual headline.

Tulisan ini dibuat bukan untuk membela tindakan Suarez. Ditambah dengan reputasinya di mata FA sebelumnya, menggigit tidak dibenarkan dalam sepakbola. Namun jika memang Liverpool melepasnya musim panas nanti, penulis berharap reputasi United sebagai pembajak pemain andalan dari klub rival (Berbatov dan van Persie) kembali terulang. Bisa dibayangkan saat kedua klub bertemu musim depan?

EPL adalah surga bagi para fetish sportstainment. Di beberapa pekan terakhir kita menyaksikan bagaimana Paulo di Canio – yang juga mempunyai reputasi sebagai badut – tidak hanya menyelamatkan Sunderland, tapi juga menyuguhi kita hiburan tersendiri dengan selebrasi penuh passion di sisi lapangan. Musim depan kita juga dipastikan dapat menyaksikan derby Wales setelah Cardiff City memastikan promosi. Ditambah rumor kencang yang menyatakan kembalinya Mourinho, insting imajinasi saya membayangkan adu mulut antara Pulis v Mou atau di Canio v Pulis, baik dalam wawancara ataupun konfrontasi terbuka di sisi lapangan.

Bisa dibayangkan bagaimana serunya EPL musim depan?