Arsenal 0-0 Liverpool: Kegagalan Menyeimbangkan Sisi Kanan Ketika 2 Pemain Sayap Justru Dicadangkan


Karim Benzema yang berminggu-minggu memenuhi mimpi penggemar Arsenal justru menegaskan tidak akan meninggalkan Real Madrid di hari di mana lini serang Arsenal kembali tampil impoten.

Raihan empat poin dari tiga laga bukanlah awal yang bagus ketika sebagian besar fans Arsenal menganggap sosok Petr Cech sebagai kepingan terakhir yang Arsenal butuhkan untuk menjadi perongrong dominasi Man. City dan Chelsea.

Saya tidak ragu untuk menulis ‘lini serang’, bukan Olivier Giroud, karena apa yang telah tersaji sejauh ini, kohesi tim yang Wenger gembar-gemborkan sebelum musim dimulai belumlah tercapai. Saya memiliki keyakinan bahwa Sanchez belum sepenuhnya fit paska membela negaranya menjuarai Copa America. Jika memainkannya di laga versus West Ham adalah sebuah keputusasaan, maka kembali memainkannya di dua laga berikutnya adalah kemandekan pelatih dalam memanfaatkan potensi skuat (mengingat Walcott/Cazorla bisa bermain di sisi kiri). Dan sampai detik ini saya bersiteguh  bahwa posisi striker tengah bukanlah posisi ideal untuk Walcott — sekeras apapun ia memanfaatkan isu itu kala bernegosiasi memperpanjang kontrak.

Prahara bermula saat kedua tim mengumumkan masing-masing skuat yang mengisi starting line-up dan Arsenal kehilangan duet Koscielny-Mertesacker secara bersamaan. Squawka mencatat bahwa ini adalah kali pertama Arsenal tanpa mereka berdua setelah +1000 hari (tiga musim lebih). Sesuatu yang sulit dibayangkan karena Arsenal belum memadumadankan keduanya dengan Chambers atau Gabriel lebih dari 3 laga, apalagi jika keduanya absen. Sesaat sebelum peluit dihentak wasit, saya berimajinasi bahwa keputusan memainkan Chambers-Gabriel adalah murni eksperimen Wenger. Namun rupanya tidak karena keduanya memang berhalangan karena flu dan cedera ringan.

Liverpool memulai musim dengan cukup baik di mana mereka berhasil menjaga keperawanan gawang dan meski ditinggal Raheem Sterling, pembelian Benteke serta semakin matangnya Coutinho membuat fans mereka optimis menatap musim 2015-16.

***

Sebelum saya melanjutkan, saya ingin menawarkan perspektif yang selayaknya tak membuat kita kalut dengan tiga hasil pertama.  Dari empat tim penghuni empat besar musim lalu, baru Man. City yang mengawali musim ini dengan brilian. Sisanya (Chelsea, Arsenal, dan Man. United) belum menemukan ritme terbaik dengan berbagai persoalan pelik di masing-masing kubu.

Liverpool mengawali laga dengan sangat baik. Pendekatan yang digunakan Rodgers begitu keras ditambah fakta beberapa rekrutan anyar mereka berpostur kekar. Giroud yang diplot memenangkan bola-bola lambung dan menjadi pengawal serangan melalui hold-up play-nyaterlihat kesulitan melepas kawalan ketat Martin Skertl. Tercatat dari 6 duel udara yang ia lakukan, hanya 3 yang berhasil ia menangkan. Hal tadi diperburuk dengan penampilan melempem duet CB sehingga membuat Cech langsung membuang bola jauh ke depan ketimbang mengawali serangan dari bawah.

Sebagaimana Skertl, Emre Can dan Lucas Leiva juga sukses menghentikan daya kreatif Santi Cazorla yang kembali dipasangkan bersama Coquelin di jantung lini tengah. Le Coque, menjadi penampil terbaik di babak pertama setelah berkali-kali memperbaiki kesalahan yang diciptakan Chambers. Coquelin bermain dengan tenang dengan tekel-tekel bersihnya, berbanding terbalik dengan pertandingan lalu versus Crystal Palace.

Sulit memang, mengharap duet Chambers-Gabriel akan menawarkan seridaknya setengah dari apa yang Mertescielny tawarkan di tiap laga. Namun 3 error fatal yang Chambers lakukan membuat jantung tiap fans berdegup kencang. Kita bisa kebobolan 2 gol lebih andai tidak diselamatkan tiang gawang dan penampilan gemilang Petr Cech yang di laga inii membuat 8 penyelamatan (DELAPAN!). Sungguh suatu hal yang heroik mengingat di dua laga sebelumnya ia kebobolan tiga gol.

Pada konferensi pers paska laga, terkait Chambers Wenger berujar,

He responded well. It was important for him. You sit there and you wonder how far he can go without losing competitive confidence. In the second half he did well. He’s a good footballer and he will come out of that stronger, with the belief that when he had difficult moments he can come out of it stronger.

Saya termasuk dari fans yang ingin Chambers diganti. Tapi rasanya mengganti Chambers justru akan membuat mentalnya melemah di kemudian hari (ditambah laga ini menjadi kesempatan bagi Chambers sebagai ajang pembuktian). Alih-alih menggantinya, Wenger memercayakan Chambers untuk melanjutkan laga dan Chambers mampu menunaikan tugas tersebut. Dengan segala kepanikan jelang turun minum, patut dipertimbangkan bahwa Chambers teramat belia dan mesti bermain dengan bek yang belum memiliki kemampuan bahasa Inggris baik. Saya harap, di laga yang kurang krusial semisal Piala Carling Wenger akan lebih sering mengombinasikan pasangan CB. Keputusan tepat dari Wenger dengan tidak bertindak reaktif mengganti Chambers di babak kedua.

Dengan segala komedi yang tercipta di babak pertama, alur permainan bisa saja berubah andai tendangan Coutinho tidak membentur tiang kanan gawang Cech, atau sepakan Ramsey tidak dianulir offside oleh hakim garis. Patut dicatat bahwa umpan matang Cazorla tersebut tidak berulang di sisa pertandingan. Menjadi pertanda betapa efektifnya gelandang Liverpool dalam mematikan hulu kreatif The Gunners.

***

Anda yang setia membaca artikel saya, tentu tahu bagaimana sikap saya terhadap Ramsey. Sebelum musim briliannya itu, keteguhan saya membela Ramsey diapresiasi mayoritas pembaca. Tapi jika kemudian pemain yang bersangkutan bermain buruk lebih dari sekali, tentu analisis perlu ditinjau. Özil dan Ramsey terekam telah mengutarakan di posisi mana keduanya ingin bermain. Dan ya, keduanya lebih senang jika dimainkan di tengah.

Menetapkan Ramsey berduet dengan Coquelin ternyata belum terbukti efektif, seperti yang terlihat di laga kontra West Ham. Pun saat melawat ke Selhurst Park, peran Ramsey di sayap kanan begitu minim. Torehan passingnya tak sampai 80, sambil tak sekalipun dribelnya berhasil melewati lawan. Ramsey juga kerap memenuhi sisi kiri lapangan dan membuat Bellerin bekerja sendirian. Percayalah, peran bek sayap juga kompleks karena pola permainan tim modern menuntut mereka seimbang dalam bertahan/menyerang.

Dari ilustrasi di atas tampak jelas bagaimana Arsenal gagal mengoptimalkan lebar lapangan. Ironis, hal tersebut terjadi ketika ada 2 pemain sayap lincah lagi enerjik di bangku cadangan: Alex-Oxlade Chamberlain dan Theo Walcott. And hey, Theo, for the love of Bergkamp: you’re not a central striker.

Menduetkan Coquelin dengan Ramsey sebagai double pivot, untuk saat ini, bukan strategi tepat karena keduanya belum mampu mendikte permainan melalui passing, cara berkomunikasi, serta kemampuan memainkan tempo: atribut komplit yang dimiliki Mikel Arteta. Saya berkhayal usianya belum kepala tiga dan kakinya tak serapuh saat ini.

Kebangkitan peran Coquelin sejak pertengahan musim lalu ternyata berimbas pada peliknya situasi gelandang karena Coquelin menjelma menjadi sosok tak tergantikan.

***

Apapun yang dikatakan Wenger di ruang ganti saat turun minum, ternyata manjur merubah jalannya laga. Secara total Arsenal mampu menciptakan 14 peluang, tiga lebih banyak dibanding The Reds.  Arsenal tampil dominan meski di ujung laga terlihat Ramsey, Cazorla, dan Ox bergantian melepas tembakan tek tentu arah. Orbinho mencatat bahwa Arsenal menjadi tim yang menciptakan peluang terbanyak di EPL — sekaligus menjadi tim terburuk dalam mengonversi peluang-peluang tersebut menjadi gol. Hanya dua dan salah satunya dari gol bunuh diri.

Wajar jika banyak yang menuntut Wenger untuk merekrut striker baru. Meski begitu, mungkin saya menjadi satu dari sedikit orang yang yakin bahwa pola menyerang Arsenal telah sedemikian terpusat ke Giroud.

Alasannya, pola penyerangan Arsenal telah sedemikian Giroud-sentris. Bola-bola lambung mapupun mendatar, kemampuan hold-up play Giroud memaksimalkan gelandang-gelandang serang Arsenal. Bahkan ketika digantikan Walcott pun, pendekatan yang sama dilakukan. Menjadi hal yang mustahil dioptimalkan Walcott karena ia bertipe striker yang menghadap gawang lawan (memanfaatkan umpan terobosan). Tidak seperti Giroud yang lebih sering menghadap gawang sendiri guna melakukan hold-up play atau operan pantul satu-dua.

Alasan lainnya, Welbeck masih cedera dan Sanchez belum terlalu fit paska berlaga di Copa America. Jangan lupa, Giroud mencatatkan dirinya sebagai pemain keempat dengan raihan gol terbanyak dalam 100 laga bersama Arsenal (setelah Thierry Henry, Ian Wright, dan Emmanuel Adebayor). Ia melampaui Dennis Bergkamp dan Robin van Persie, dua pemain yang tercatat mencetak 100 gol lebih untuk Arsenal.

Apakah Arsenal membutuhkan striker yang setidaknya satu level di atas Giroud? Ya. Apakah Benzema lebih baik dari Giroud? Tidak.

Apakah Arsenal perlu merekrut striker baru? Ya. Apakah dengan hadirnya striker baru tersebut — sehebat apapun ia — akan merubah pola serang Arsenal? Saya rasa tidak. Alasannya sederhana:  Tolak ukur harga perekrutan Arsenal serta ketersediaan stok striker seperti itu di bursa transfer saat ini. Jangan dulu anda sebut nama Edinson Cavani, sekeras apapun media-media memberitakannya.

Belakangan, Wenger kerap menyebut kata ‘kohesi’ di berbagai kesempatan wawancara. Sayangnya kita belum melihat adanya bentuk kohesi tersebut di tiga laga pertama.

Manchester City 0-2 Arsenal: Kemenangan yang Bermakna Lebih dari Sekadar Tiga Poin

B7ps60RCYAAKJzM
Di kesempatan yang biasanya bersanding dengan kalimat pesimistik seperti ‘hasil seri saja sudah syukur’, Arsene Wenger membuktikan bahwa ia sebenarnya tidak gagap taktik — ia tahu perbandingan potensi tim lawan dengan timnya. Hanya saja hal tersebut jarang ia lakukan. Di Etihad Stadium 18 Januari 2015 menjadi saksi bagaimana Arsenal mampu menampilkan sepakbola bertahan — yang alih-alih membosankan — justru menghibur mata.

Di pertandingan yang digadang-gadang media menjadi panggung pembuktian antara Sergio Aguero dan Alexis Sanchez (salah dua striker terbaik Liga Inggris ini), ternyata luput menjadi kenyataan saat penonton menyaksikan bahwa sepakbola kolektiflah pemenang sesungguhnya di laga yang dipimpin wasit Mike Dean ini. Fakta tersebut tampak mengamini komentar Wenger yang tidak setuju dengan ajang Ballon d’Or di mana menurutnya akan tidak adil jika permainan kolektif seperti sepakbola ditentukan oleh performa satu individu.

Jika kamu kesulitan untuk memilih pemain terbaik di suatu laga, saat itulah kamu seharusnya paham dan mengukur ulang cara menikmati sepakbola. Hukum sebab akibat dan faktor X menjadi dominan dan hal itu terjadi di pertandingan semalam. Kita tidak bisa menisbikan peran Sanchez hanya karena ia gagal menyumbang gol ataupun assist. Sebagaimana kita tidak bisa alpa menghaturkan pujian atas cameo Tomas Rosicky di penghujung laga.

Tidak salah kiranya jika Jonathan Wilson memerediksikan City akan menang lebih dari satu gol sehari menjelang laga. Rekor Arsenal saat menghadapi City di kandangnya buruk — dan seperti luka yang ditaburi cuka, kekalahan-kekalahan tersebut juga dibumbui oleh pertahanan dungu, gol kemasukan berlimpah, dan pola permainan tak tentu arah. Terakhir Arsenal bisa mengalahkan klub yang dahulu bernama Ardwick di Premier League di kandangnya terjadi pada 24 Oktober 2010 (0-3). Di laga di mana Niklas Bendtner menjadi salah satu pencetak gol itu, tidak satu pun penghuni skuat saat ini yang menjadi starter.

Perjalanan heroik Arsenal musim lalu kala mereka menjadi tim paling lama memuncaki klasemen liga dihancurkan oleh kerapuhan mereka saat menghadapi tim-tim 6 besar di kandangnya. Selain menghadapi hasil memalukan 6-3 (City), 5-1 (Liverpool), dan 6-0 (Chelsea), Arsenal juga satu-satunya tim yang tidak bisa memetik poin penuh saat mengadapi Manchester United-nya David Moyes di saat tim-tim medioker seperti berlomba untuk menciptakan rekor baru.

Kasus duet Mertescielny: Batman tidak hanya membutuhkan Robin tapi juga Detektif Jim Gordon

Ada sebuah kenyataan getir saat Arsenal digasak Liverpool 5-1 musim lalu. Sebelum pertandingan dihelat banyak media yang membeberkan fakta tentang ketangguhan duet Per Mertesacker dan Laurent Koscielny dalam mengawal pertahanan Arsenal. Pasalnya sebelum kekalahan di mana bek teledor Martin Skrtel mampu mencetak dua gol itu, terakhir kali Arsenal mengalami kekalahan saat keduanya menjadi starter terjadi pada Januari 2012. Jika saja rekor dua tahun tersebut berlanjut (laga v Liverpool terjadi dua minggu setelah rekor tersebut berumur dua tahun), mungkin perjalanan Arsenal sebagai pemimpin liga bisa terus menanjak — mengingat fakta Liverpool-lah satu-satunya saingan terberat Arsenal dengan produktivitas trio SAS-nya.

darkknight1

Wenger kembali ditampar karena kejemuannya merekrut gelandang tengah piawai yang tidak hanya melindungi pertahanan, tapi juga sanggup memotong aliran bola jauh sebelum pemain-pemain lawan menghadirkan potensi berbahaya di area pertahanan Arsenal. Duet Ramteta adalah sesuatu yang bulat, utuh, genap. Yang satu menggenapi yang lain. Dan di saat yang satu absen, maka lainnya menjadi tak berdaya. Seperti di laga kontra Liverpool di mana Aaron Ramsey absen.

Itulah alasan mengapa seperti rengekan seorang bocah saya merindui hadirnya sosok gelandang tangguh dalam diri Morgan Schneiderlin. Sosok yang tidak membutuhkan pendamping, baik di skema yang membutuhkan kehadiran double pivot 4-2-1-3 atau di skema yang tidak membutuhkan kehadiran duet dua gelandang tengah. Pasalnya kehadiran double pivot akan mematikan potensi gelandang-gelandang Arsenal lain di mana pada diri Mesut Ozil, Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Tomas Rosicky, dan (belakangan) Alex-Oxlade Chamberlain diplot di skema tiga gelandang nan cair. Sebagaimana yang dilakukan Chelsea pada Oscar-Hazard-Willian pra kehadiran Fabregas.

Hampir 20 hari bursa transfer Januari bergulir, nyatanya sosok tersebut hadir dalam diri si anak hilang Francis Coquelin. Kamu akan terhenyak saat saya membeberkan kenyataan bahwa pada 6 Desember 2014 pun Coquelin masih bermain untuk Charlton Athletic — klub setelah Freiburg di mana ia melanjutkan petualangannya sebagai pemain berstatus ‘tak dibutuhkan’. Setelah menjalani tiga laga sebagai pemain pengganti, Le Coque menjadi starter di lima laga terakhir Arsenal — menjalani keseluruhan laga tersebut dengan kemenangan (10 memasukkan gol dan hanya sekali kebobolan). Maka saya pun tak hanya bermanis kata saat menyebut dominannya faktor sebab-akibat dan faktor X di sepakbola: Wenger ‘menjemput’ Coquelin dari masa pinjamannya karena cedera panjang yang dialami Arteta.

Seperti laiknya peningkatan fitur iPhone generasi 2G ke 3G, Coquelin adalah Flamini dengan fitur yang sepintas sama (orang Perancis; postur keduanya yang tidak terlalu menjulang sebagai gelandang bertahan; dan kecenderungan memrotes, mengintimidasi, dan berteriak sepanjak laga), Coquelin memangkas fitur-fitur tak berguna yang melekat dalam diri Flamini seperti kegemaran mengumpulkan kartu kuning dan ketidakmawasan dalam memosisikan diri. Flamini kerap terpancing asyik menyerang di mana ia seharusnya secara disiplin berdiri memantau laga di posisi yang tak jauh dengan duek bek. Dan jangan sebut gurauan tidak lucu di mana baik fans Arsenal maupun penonton nentral kerap bertaruh di menit ke berapa Flamini akan dihadiahi wasit kartu kuning.

Di pertandingan semalam Coquelin mencatat raihan 11 clearances dan 6 interceptions, terbanyak di antara pemain Arsenal lain. Tak lupa bagaimana di babak pertama kita disuguhi kemurkaannya pada rekan-rekan Gunners saat City sedikit lagi mengonversikan peluang menjadi gol. Jangan pula terkecoh oleh raut muka tuanya: ia baru berusia 23 tahun. Setahun lebih muda dari Yang Mulia Schneiderlin.

Di balik segala kemampuan fisik, intelejensia, dan modal finansial melimpah, toh Batman masih membutuhkan Robin yang memiliki pendekatan berbeda saat menangani kasus-kasus kriminal di Gotham. Dan tanpa kemampuan berpolitik detektif Jim Gordon di dalam struktur kepolisian yang terlalu korup, niscaya si manusia kelelawar akan menemui hambatan-hambatan yang teramat sukar. Detektif Gordon tak hanya bertugas menyalakan bat signal saat tindak kejahatan terjadi, tapi berkat sutradara Christoper Nolan melalui triloginya, penonton jadi tahu bahwa Gordon memberi Batman perspektif yang berbeda dalam mendalami misteri yang terjadi.

Peran Coquelin di Arsenal termanifestasi oleh Detektif Gordon versi Nolan. Ia sudah renta (dalam kasus Le Coque: terbuang) dan jabatan strategisnya di kepolisian dengan mudahnya diganti sosok lain yang lebih baik, namun setidaknya sosok Gordon di The Dark Knight Rises (yang diperankan aktor watak Gary Oldman) mampu mencuri perhatian penikmat film.

Pertandingan semalam adalah ‘momen’ itu. Momen di mana seorang pemain mencuri perhatian sebagaimana Jack Wilshere v Barcelona di 2011 dan Carl Jenkinson v Bayern Muenchen di 2013.

No more the self-fulfilling prophecy

Sosiolog terkemuka Amerika, Robert K. Merton pernah mencetuskan istilah “self-fulfilling prophecy“. Gampangnya adalah suatu keadaan yang awalnya mustahil atau bertolak belakang dengan realita yang ada di masyarakat atau struktur, ternyata bisa berubah dengan mudah oleh suatu keyakinan, yang dicetuskan oleh agen individu maupun kolektif. Kondisi perekonomian yang sejatinya sehat ternyata menjadi ambruk di saat masyarakat dilanda kepanikan dan mencabut investasinya di suatu bank. Hal yang awalnya berlawanan dengan kenyataan (kondisi perekonomian yang sehat) ternyata menjadi ambruk oleh kegilaan massal.

Hal tersebut saya rasakan saat melihat permainan Arsenal tiga musim terakhir. Dengan sudut pandang dan pisau analisis yang berbeda dari Merton tentu saja.

Formula Wenger gampang ditebak. Oper, oper, oper, oper, semua gelandang berada di sepertiga akhir lapangan, oper, oper, oper, bola terebut, dan dengan mudah musuh menjebol gawang Arsenal. Formula tersebut biasanya mujarab saat Arsenal menghadapi lawan papan bawah. Maka tak heran jika mengalami kemenangan pun, perawannya gawang Szczesny menjadi suatu hal yang mustahil. Gampang ditebak.

Rekor tak mampu menang melawan 6 besar EPL musim lalu menjadi fakta tak terbantahkan. Wenger tak hanya dinilai buta taktik, tapi juga mengalami kegilaan. Kalimat populer Albert Einstein (yang faktanya bukan milik ilmuwan jenius itu) yang berbunyi berikut menjadi sering dikutip penulis sepakbola saat Arsenal mengalami kekalahan dengan permainan yang tak tentu arah:

Insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result

Keabsahan siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut bukan menjadi urusan saya. Tapi kalimat ini kerap dikutip penulis dan selebtwit sepakbola dalam rangka terlihat cerdas saat mengeritisi kekalahan Arsenal.

Wenger, jika kita menyimak keteguhannya akan pentingnya basis fondasi dengan mendukung penuh penghematan demi membangun stadion, tentu bukan tipikal orang yang seenak jidat merubah formasi dan skema permainan.

Dan permainan semalam sejatinya pernah kita jumpai saat menghadapi Bayern Muenchen di dua kesempatan. Cuma memang kadarnya saja yang berbeda di mana di dua kesempatan tersebut (saat skuat sepenuh hati menjaga pertahanan) Arsenal sedang menjalankan misi mustahil. Yaitu membalikkan agregat setelah terpuruk di leg pertama.

Yang Arsenal butuhkan adalah agar Wenger menjadi selentur (secara taktikal) ini saat menghadapi lawan yang sedang mengalami performa menanjak, tim-tim besar, atau saat skema possession football favoritnya tak membuahkan hasil. Baik di laga EPL, FA Cup, maupun Liga Champions. Jika kamu lupa di dua ajang terakhir Arsenal masih memiliki kans terbuka untuk meraih hasil manis. Semanis slurpee.

Tidak sekadar lembaran blueprint, tapi juga titik tolak

Dalam (I’m Not Your) Steppin’ Stone, grup musik The Monkees bernyanyi lirih, “When I first met you girl you didn’t have no shoes/now you’re walking ’round like you’re front page news.”

Lagu tersebut menggambarkan jerit hati seorang lelaki saat wanita yang ia cintai ternyata hanya memanfaatkannya demi meraih maksud lain. Si lelaki menjadi batu pijakan sang wanita dalam memanjat strata sosial lebih tinggi.

Duh, kasian.

Tapi baik kiranya jika kita memandang lagu tersebut dari sudut pandang ceria nan berwarna: keterpurukan Manchester City dalam bersaing dengan Chelsea menjadi batu pijakan bagi Arsenal untuk minimal meraih spot 4 besar sebagaimana selama belasan tahun menjadi tradisi.

Arsene stands firm as the zipper works just fine
Arsene stands firm as the zipper works just fine

Secara maksimal? Hm, langit adalah batasnya. Toh di ajang FA Cup dan Liga Champions Arsenal mendapat hasil undiang yang mengembirakan: hanya menghadapi Brighton & Hove Albion dan AS Monaco (yang kini nir-Falcao dan James Rodriguez).

Mengutip Pure Saturday, “Langit terbuka luas, mengapa tidak pikaranku, pikiranmu?”

Secara perlahan Hector Bellerin mampu menjelma menjadi sosok yang diandalkan dalam melapis cederanya Mathieu Debuchy. Olivier Giroud pun tak lagi jago kandang dalam urusan membobol gawang. Giroud terbukti menjadi pemain penting saat ia mampu membobol gawang tim-tim besar di kandangnya. Kegemilangan sihir Cazorla sebagai gelandang tengah membuat kita lupa bahwa ada satu pemain yang juga secara halus merengek untuk dimainkan di posisi tersebut: si pencetak rekor transfer klub Mesut Ozil. Nacho Monreal pun menjelma menjadi unsung hero di mana ia mematikan pergerakan Jesus Navas yang melempar crossing hingga 18 kali tanpa menemui sasaran.

Blueprint atau cetakbiru mutlak dibutuhkan arsitek dan ilmuwan saat menggarap suatu proyek. Yang Arsenal butuhkan adalah bagaimana menambal lini belakang dan kepercayaan Wenger terhadap Coquelin (karena hal terakhir akan menentukan apakah Arsenal kan membeli gelandang atau tidak di bursa Januari kali ini).

On to you, Arsene.

Meramal Pergerakan Arsenal di Bursa Transfer Januari 2015

Bursa transfer Januari belum resmi dibuka namun seperti yang kita sama-sama paham, Arsene Wenger gagal menambal lubang di beberapa lini skuat Arsenal. Saya hanya bisa menghela nafas saat harapan bahwa menjuarai Piala FA bisa menjadi momentum kebangkitan, ternyata Arsenal kembali terjebak ke kenangan masa lalu kebiasaan buruk di musim-musim sebelumnya (badai cedera, tak ada perekrutan gelandang bertahan sementara Arteta dan Flamini semakin menua, performa lini belakang yang sekonyol akting Simon Pegg, yang secara kumulatif memangkas harapan kita jauh sebelum musim berakhir).
Saya tidak yakin Wenger mampu menemukan pemain yang bisa direkrut di pertengahan musim, selain ia sendiri mengakui sebagai pembenci transfer Januari, ajukan pada saya pembelian Arsene terbaik di transfer Januari. Arshavin? Jose Antonio Reyes? Abou Diaby? Nama kedua, selain memperpanjang kutukan pemakai no. 9 memang berperforma apik. Namun menurut saya kala Arsene meminangnya dari Sevilla, ia berniat untuk peremajaan tim, bukan pembelian penting. Tidak usah jauh-jauh, musim lalu pun kita sangat membutuhkan sosok pengganti Theo Walcott. namun siapa yang Arsene rekrut?
Kim fucking Kallstorm.
Saat ini kita mengalami kejadian serupa. Tidak usah kaget saat menghadapi Liverpool Arsenal seperti kebingungan mendistribusikan bola. Poros lini tengah dihuni oleh Flamini dan Chamberlain. Begitu pula di sektor bek ketika musim ini Koscielny lebih sering berada di ruang rawat ketimbang lapangan bola. Pria dengan postur seringkih Nacho Monreal pun didaulat sebagai bek tengah. Sangat fantastis. Saya rasa di masa lalu Abou Diaby pernah menyelamatkan nyawa Arsene. Sehingga, mungkin, kehilangan satu kaki pun Diaby akan tetap berada di Arsenal.
Tulisan ini datang dari partner saya — yang belakangan beberapa kali turut meng-update Twitter, Dadad. Selamat menikmati.

 

Oleh: Unggul Wisesa Hadad

Predictable But Tricky
Cukup menyenangkan sebenarnya untuk saya membahas berbagai macam rumor transfer yang terjadi di musim ini. Tidak seperti beberapa musim lalu, saya selalu mengebu-gebu dan terlalu banyak terpancing berita palsu buatan media atau titipin agen. Namun musim ini saya sudah sedikit memahami pola dari transfer Arsenal di bulan Januari. Saya akan membahasnya dengan cukup singkat dan mudah dimengerti.

Goalkeeper

1. Petr Cech – Chelsea
Transfer Rumour Level : Unbelivably Stupid


Petikan dari agen Peter Cech:

It’s unlikely Petr will leave Chelsea in the January transfer window. The club and coach want to keep him to help win the title. I think Arsenal should have made an offer to him. I think Petr would be considering it. Liverpool need to strengthen their position in goal and they know Petr will be available in the summer.

Kesimpulannya adalah berita kepindahan Petr Cech yang beredar dan menjadi judul yang mengundang untuk diklik adalah murni permainan media dan agen. Di satu sisi agen sedang mencari klub terbaik untuk Petr Cech yang masih dalam performa gemilangnya dan hanya kalah tempat dari Courtois karena Mourinho ingin mengasah kiper mudanya itu. Salah satu klub besar yang menjadi incaran tak lain adalah Arsenal yang selalu rajin diterpa isu kiper dan Liverpool yang kiper-kipernya sedang dalam performa kurang baik.

Untuk mengakhiri paragraf ini, saya nyatakan rumor ini hanyalah permainan kata dari hasil interview agen Petr Cech yang diputar balikkan menjadi berita dengan judul yang mengundang pembaca. Terutama fans Arsenal. Seriously, kiper baru setelah Arsenal punya Szczesny, Ospina dan Martinez?

Defender
1. Tyrone Mings – Ipswich Town
Transfer Rumour Level : Makes Sense

Tyrone Mings. Bek kiri berumur 21 tahun dari Ipswich Town yang digadang-gadang menjadi incaran Arsenal. Posisi bek menjadi fokus berita transfer media belakangan ini. Sampai akhirnya nama Mings mencuat. Bek kiri? Bukannya lagi krisis banget bek tengahnya? Wenger dikabarkan melihat prospek Mings sebagai bek tengah, seperti halnya Chambers yang sebelumnya bermain di posisi bek kanan di klub sebelumnya. Rumor ini cukup masuk akal, mengingat pembelian Mings sebenarnya bisa menjadi sebuah solusi sementara sampai Koscielny kembali dan membangkucadangkan Mings setelah duet Kos dan Per kembali. Terdengar lebih mudah untuk Wenger daripada membangkucadangkan nama besar (yang kemungkinan akan dibeli) yang bisa berbuah masalah besar. Mings pun bisa belajar banyak dari seniornya sebelum siap untuk menjadi langganan starting line up.

2. Winston Reid – Westham
Transfer Rumour Level : Agent Mind Game

Reid salah satu bek yang kerap turut serta ketika Arsenal diserang isu pembelian bek. Sudah 2 musim Reid menjadi salah satu figuran dalam rumor transfer bek Arsenal. Reid yang kontraknya musim depan habis semakin santer dikabarkan dekat dengan Arsenal. Namun menurut saya berita itu hanyalah permainan agen Reid yang ingin kliennya bergabung dengan klub besar dan mendapat untung besar.

3. Sergio Ramos – Real Madrid
Transfer Rumour Level : F**kin Stupid

Setelah dikabarkan menolak perpanjangan kontrak dari Real Madrid selama 2 tahun. Menurut jurnalis dari AS, Wenger dikabarkan sudah menghubungi agen dari Sergio Ramos, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Namun terlepas dari itu, level dari rumor ini sudah memasuki tahap kebodohan yang sulit untuk dipercaya. Rumor ini mungkin akan jauh lebih masuk akal di transfer musim panas besok. Tergantung performa Real Madrid (prestasi musim ini) dan Arsenal (lolos liga champion).

4. Matt Hummels – Borussia Dortmund
Transfer Rumour Level : Unbelivably Stupid

Saya bahkan tidak perlu membahas rumor ini. 30m poundsterling untuk seorang bek, di bulan Januari dengan catatan cedera yang cukup mengkhawatirkan. Rumor ini sedikit masuk akal, karena Dortmund sedang diterjang ombak besar dan harus menjauh dari degradasi.

5. Ron Vlaar – Aston Villa
Transfer Rumour Level : Almost Impossible

Rumor yang cukup masuk akal karena kontrak Vlaar sendiri akan berakhir musim depan. Namun persaingan ketat dari United membuat transfer ini nyaris mustahil. Walaupun sebenarnya Arsenal lebih memiliki nilai plus karena bermain di Liga Champions. Namun efek dari Van Gaal sebagai bos United (Vlaar menjadi pemain inti skuat Belanda yang ditangani van Gaal di Piala Dunia kemarin) bisa membuat transfer ini lebih condong menguntungkan United. Apalagi penawaran gaji dari United pasti jauh lebih besar.

Midfielder

1. Morgan Schneiderlin – Southampton
Transfer Rumour Level : Almost Impossible

Dari musim lalu kita sudah dihubungkan dengan Schneiderlin. Pemain yang bersangkutan bahkan kabarnya sempat mengajukan transfer request. Saingan Arsenal (jika benar-benar mengincarnya) untuk mendapatkan Schneiderlin adalah Spuds. Spuds punya nilai plus karena peran Mauricio Pochettino, mantan pelatih Scheiderlin di Southampton dulu. Namun bisa saja Schneiderlin melihat sisi lain dari konsistensi Arsenal yang selalu tampil di liga champion 17 kali berturut-turut.

Impian Schneiderlin bermain di liga champion mungkin akan bisa lebih mudah tercapai apabila dia bergabung dengan Arsenal. Pertanyaannya adalah, apakah mungkin Southampton akan menjual pemain pentingnya di bulan Januari dan di saat klub ini sedang mengalami penurunan performa?

2. Moussa Sissoko – Newcastle
Transfer Rumour Level : Stupid

Saya masih berbaik hati tidak memberikan level “Unbelivable Stupid” kepada rumor ini. Cukup masuk akal awalnya karena Sissoko bisa bermain sebagai gelandang bertahan untuk Arsenal, walaupun sebenarnya dia lebih sering bermain sebagai gelandang serang di Newcastle. Apalagi beredar hasil wawancaranya yang entah bagaimana wawancara aslinya, dan disimpulkan Sissoko menyukai Arsenal dan ingin bermain di liga champion. Namun pembelian Sissoko adalah pembelian yang sangat-sangat tidak masuk akal untuk Arsenal di Januari saat ini. End of story.

3. Krystian Bielik – Legia Warsaw
Transfer Rumour Level : Makes Sense
Pembelian Bielik yang sepertinya akan terjadi mengingatkan saya akan pembelian Chamberlain. Pemain yang masih muda namun setelah dibeli Wenger dan langsung diberikan akses karpet merah khusus ke tim utama.
Berikut video scouting dari Bielik. Bielik bermain di posisi gelandang bertahan di timnya.

Sekilas permainannya dan gayanya waktu melepas passing mengingatkan saya kepada Cesc Fabregas waktu masih dimainkan di deeper role. Sementara keganasannya menyundul bola sedikit mengingatkan saya ke Nemanja Matic. Namun yang membuat saya sedikit bersemi-semi adalah, Bielik memiliki gaya dribbling yang khas, dan jarang dimiliki oleh gelandang bertahan. Bielik juga sering maju ke depan membantu serangan. Hal ini membuat Bielik lebih mengingatkan saya kepada Jack Wilshere. Apabila transfer ini akan terjadi dan (mungkin) menjadi satu-satunya gelandang yang dibeli oleh Arsenal menurut saya sangat-sangat masuk akal. Ramsey dan Arteta akan kembali di bulan Januari, jadi pembelian Bielik bukan menjadi surplus untuk Arsenal. Bielik bisa dimainkan di FA Cup.

Striker

Tidak akan saya bahas.

Mesut Ozil: The Lost Star

Mengupdate blog secara berkala ternyata mempunyai tantangan yang tidak main-main. Sungguh, saya pribadi begitu merindukan masa-masa di mana blog ini rutin mengupas segala hal tentang Arsenal, baik secara mendalam maupun yang tidak. Beruntung sejak dulu saya memberi ruang bagi sesama gooners untuk menyumbang tulisannya di blog ini. Tulisan ini datang dari goonerette bernama Yasmin — yang mengaku tak pernah menulis artikel sepakbola sebelumnya. Saat email darinya datang di kotak surat kami, rasa senang bukan kepalang menghinggapi. Namun kesibukan (ya, saya tahu ini klise) membuat tulisannya teronggok begitu saja di kotak surel kami. Kali ini Yasmin membahas perkembangan permainan Mesut Ozil di Arsenal, yang dari beberapa pihak dianggap belum nyetel betul dalam skema permainan Arsenal. Ozil dianugrahi posisi favoritnya — AMF — saat Arsenal melawan Aston Villa, kemudian Wenger mengembalikannya di posisi sayap kiri di derbi London Utara, hingga semalam kembali ke AMF. Opini tentangnya bercabang dan tak sedikit gooners ataupun media yang masih menganggap performanya tak seimpresif di Madrid. Selamat membaca!

Oleh: Yasmin Jamilah

Mesut Ozil mengubah segalanya saat didatangkan pada deadline transfer tahun lalu. Selain karena mahar transfernya yang memecahkan beberapa rekor sekaligus (pemain termahal yang pernah dibeli Arsenal, pemain termahal Jerman, pemain termahal yang pernah dijual Real Madrid), kedatangan Ozil juga terkesan mengagetkan karena pada bursa transfer musim lalu, Arsenal masih belum mengatasi eksodus-eksodus bintang yang meninggalkan tim sebelumnya. Kendati begitu, kedatangan Mesut Ozil ke Premier League ternyata mengubah keadaan: Arsenal—yang saat itu baru saja mengalami kekalahan 3-1 dari Aston Villa di kandang dan dianggap tidak cukup kompeten untuk bersaing di klasemen puncak, seketika mendapatkan tambahan respect. Kedatangan Ozil memberikan atmosfer positif untuk Arsenal, yang kemudian memimpin klasemen untuk waktu yang lumayan lama.

Tapi, itu dulu.

Rasanya seperti mimpi saat tahun lalu saya mengecek official website Arsenal dan melihat welcome signing untuk Mesut Ozil, yang sebelumnya bermain di Real Madrid. Rasanya aneh, aneh sekali. Sebagai Goonerette yang tidak pernah menggantung mimpi hingga ke langit, saya tidak percaya melihat Mesut Ozil akhirnya berada di first team Arsenal, menggunakan nomor 11 yang dulunya dipakai Andres Santos.

Namun, hidup terus berubah. Dunia berputar. Bumi berotasi pada matahari.

Terus terang, saya kaget saat mengetahui Mesut Ozil mendapat rating terendah saat pertandingan melawan Borussia Dortmund di Signal Iduna Park, beberapa hari lalu. Salah satu media Jerman, Bild, bahkan mengkritisi kontribusinya dan mengatakan kalau aksinya di lapangan ‘tidak lebih dari sekedar formalitas yang kekurangan kreativitas’. Sebuah kritik yang cukup keras untuk Mesut Ozil, pemain yang baru saja mengantar Jerman memenangkan Piala Dunia di bulan Juli lalu.

Saya memang bukan pengamat sepakbola yang baik. Saya tidak biasa menonton pertandingan La Liga dan mengamati setiap pemain dengan cermat, namun saya tahu Mesut Ozil. Saya tahu bagaimana kualitasnya—raja assist di Eropa dan mendominasi Real Madrid selama bertahun-tahun. Saya tahu benar. Hanya saja, Ozil yang saya lihat di televisi pada pertandingan El Classico melawan Barcelona beberapa tahun lalu bukanlah Ozil yang saya lihat pada pertandingan melawan Borussia Dortmund beberapa hari lalu.

Mari kita telaah sedikit demi sedikit. Musim lalu, Ozil mencatatkan 9 assist di Liga Inggris (rangking ke-5 dari keseluruhan). Jumlah yang lumayan, tapi masih sedikit mengecewakan mengingat kita membeli gelandang yang sebelumnya bisa mencatat 25 assist semusim. Mengecewakan, hanya saja kita harus memahami kalau adaptasi ke Premier League itu sulit. Oke, baiklah. Permulaan yang lumayan baik untuk Ozil. Tidak ada manusia yang sempurna, kan?

Kendati memberikan permulaan yang lumayan apik, Ozil yang dulu bukanlah Ozil yang sekarang. Ia terlihat kesulitan ‘memantaskan’ dirinya di lini tengah Arsenal (yang sering disebut sebagai lini tengah terkuat di Premier League). Ozil terbayang-bayangi sosok Aaron Ramsey yang memang memegang status Player of The Year. Seakan tidak cukup, ‘kebangkitan’ Jack Wilshere juga memperparah keadaannya. Ozil sudah terbiasa bermain di posisi No. 10, namun ia tidak bisa mendapatkan kemewahan itu sekarang. Ozil hampir selalu dimainkan di sayap, sebagai tandem dari Alexis Sanchez.

Perdebatan mengenai Ozil bukanlah hal yang aneh lagi sekarang. Tidak seperti dulu, Ozil kini bukan lagi football journalist’s darling. Ozil sudah sering mendapat kecaman seiring dengan permainannya yang makin memburuk setiap musim, berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Hidup memang semakin berat untuk Ozil. Hanya ada satu hal yang saya takutkan: saya takut sekali Ozil berakhir seperti Fernando Torres di Chelsea.

Entahlah. Musim lalu, Jose Mourinho, mantan pelatihnya di Real Madrid, mengklaim bahwa Ozil adalah ‘salah satu gelandang terbaik di dunia’. Mourinho juga menyamakannya dengan Zinedine Zidane. Memang benar. Di Madrid, kontribusi Ozil memang sangat terasa. Ozil bukanlah tipe pemain yang bisa ‘memberi mesin untuk menjalankan sebuah tim’. Ozil adalah tipe pemain yang bisa memberikan ‘oli untuk menjaga keseimbangan mesin sebuah tim’. Begitulah cara kita memandang Ozil.

Saat menonton laga melawan Dortmund kemarin, saya merasa seperti menonton 10 orang bermain di lapangan tanpa ada koordinasi yang koheren. Ralat, 9 orang. Saya menyadari ada dua orang yang benar-benar invisible—Ramsey dan Ozil. Namun… entahlah, saya bisa memberikan sedikit ‘toleransi’ pada Ramsey yang sudah memberikan banyak sekali kontribusi untuk kita.

Tapi Ozil bukanlah seorang pemain yang patut hilang di lapangan, iya kan? Ozil selalu menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia, tapi mengapa kita tidak bisa mendapatkannya sekarang?

The Arsenal Education

Saya rasa, masalah yang Ozil alami pernah juga dirasakan oleh Ramsey dua musim lalu. Ingat bagaimana performa Ramsey pada tahun 2012? Anda pasti tidak akan pernah menyangka kalau Ramsey bisa menjadi pemain terbaik pada tahun 2013 pada akhirnya. Mungkin, mungkin, mungkin hal yang sama terjadi pada Ozil.

Posisi No. 10 di Arsenal kini sudah paten dipegang oleh Ramsey, yang dua tahun lalu rajin dimainkan sebagai winger. Ingat bagaimana performanya saat melawan Everton dan Manchester City dua tahun lalu? Awalnya saya juga tidak terlalu paham mengapa Ozil ditempatkan sebagai winger sementara Santi Cazorla dan Alex Oxlade-Chamberlain, yang jelas-jelas winger sejati, hanya duduk diam di bench, menunggu kesempatan untuk bermain. Saya bingung dengan keputusan Wenger yang satu ini. Keputusan Wenger memang terkenal kontroversial, namun kadang keputusan Wenger juga membawa sesuatu yang tidak pernah kita tebak sebelumnya. Wenger selalu menjadi tipikal pelatih yang bisa melihat beberapa hal sebelum kita.

Dalam sejarah kepelatihannya, Wenger sudah beberapa kali memainkan gelandang yang ‘sangat gelandang’ sebagai winger. Wenger berpendapat bahwa seorang gelandang memerlukan skill yang komplet sehingga Wenger kerap mengotak-atik posisi pemain itu. Wenger pernah melakukannya pada Ray Parlour, gelandang tengah yang cenderung ‘standar’ namun bisa berkilau saat bermain sebagai winger.

Aaron Ramsey juga mendapat perlakuan sama dua tahun lalu. Hasilnya? Flop of The Year. Alasannya sederhana: Ramsey tidak bisa menjadi gelandang yang baik sementara dia tidak bisa menguasai basic skills yang harus dipenuhinya untuk mendapatkan peran No. 10. Bermain di posisi sayap memang bukan posisi favorit Ramsey, namun kita bisa melihat hasilnya sekarang. Ketidaknyamanan yang Ramsey rasakan berbuah manis. Wenger sendiri pernah berkata,

it is not linked with one position. It is to balance the team. I think in the education of a player it is important that he plays in different positions.

Catatan gol memang menjadi kritik terbesar untuk Ozil selama ini. Di Madrid, Ozil memang bukan tipe pemain yang biasa berlari hingga ke depan gawang untuk menunggu orang lain mengumpan dan mengubahnya menjadi gol. Namun, di Arsenal, torehan gol menjadi sesuatu yang krusial untuk semua posisi. Semua orang mendapatkan tanggung jawab yang sama sebagai pencetak gol.

Memainkan Ozil sebagai winger memang membuat kita semua frustrasi, namun Ozil akan membuat banyak sekali improvement yang vital untuknya. Ozil sudah terlalu terbiasa bermain sebagai central midfielder di Werder Bremen atau Real Madrid sehingga dribblingskill-nya tidak terlalu terasah. Bermain sebagai winger akan memberi Ozil kesempatan untuk membuka celah untuknya sendiri. Ozil akan belajar mengumpan dengan timing yang jauh lebih sempurna. Kemampuan ini tentunya sangat berguna untuk Ozil, kunci baginya untuk menjadi midfielder yang komplet.

Kalau Ozil berniat untuk membuat improvement, maka Ozil akan melakukannya. Jika Ozil ingin sukses di Arsenal, maka dia akan sukses. Semuanya memang butuh waktu. Tidak ada sukses yang dibuat dalam semalam, kan? Saya rasa Wenger masih memberinya kesempatan tanpa peduli bagaimana media dan para suporter menghujatnya, seperti yang Wenger lakukan pada Ramsey dulu. Seperti Ramsey juga, Ozil punya kesempatan untuk menjadi Player of The Year setelah mengalami masa yang sulit. It’s always darkest before the dawn, Mesut!

Match Preview Arsenal v Manchester City, Class v Clash

Arsene-Wenger-Arsenal-Manuel-Pellegrini-Manchester-City

Oleh: Yasmin Jamilah

Laga bentroknya Arsenal dan Manchester City tentu saja menjadi salah satu laga yang paling dinanti penggemar Premier League akhir pekan ini. Pertandingan yang amat menarik setelah rehat dari dunia Liga Inggris yang keras, intrik dan drama selama dua minggu terakhir.
Ini adalah kali pertama saya menulis footballanalysis dan berani mempublikasikannya di media sosial. Sebuah kebangaan tersendiri bagi saya—yang terbiasa menulis draft tulisan fiksi, bukan analisis serius semacam ini.

Akhir pekan ini, laga Arsenal melawan City bisa dibilang adalah laga pembuktian untuk kedua tim. Laga yang sengit dan bertensitinggi tentu saja wajar untuk diharapkan mengingat kedua tim sama-sama tidak ingin kalah, sama-sama tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kehilangan piala.

Di awal musim, the league is a marathon, not a sprint. Penting bagi setiap tim untuk mengantongi poin bersih sebanyak-banyaknya sebelum masa marathon digantikan oleh sprint antara tim-tim yang memang biasa bercokol di papan atas dan yang lainnya.

Kedua tim sama-sama tidak bisa kalah kalau masih ingin menang. Arsenal akan kehilangan tujuh poin dari pemuncak klasemen (yang sangat berharga) jika kalah di laga ini. Sementara itu, City akan kehilangan enam poin jika kalah di laga ini (yang sama-sama berharga).

Danny Welbeck bisa saja mencetak dua gol ke gawang Swiss kemarin dan membawa banyak harapan untuk para Gooner-Goonerette, tapi kemungkinan akan absennya Aaron Ramsey membuat saya sedikit deg-degan. Cedera pada engkelnya saat bertanding di timnas membuat Ramsey terancam absen di laga ini. Padahal, Ramsey merupakan pemain vital yang berperan besar dalam harmoni tim. Jika Ramsey bermain bagus, semua lini terlihat seperti bermain sempurna. Jika Ramsey bermain buruk, semua pemain lain mengikutinya.

Sisi positifnya, beberapa pemain kunci dikabarkan lulus fitness test dan bisa bermain di laga kontra City. Arteta, Gibbs, dan Ozil katanya siap untuk diturunkan. Dedengkot sekaligus kepala suku klinik fisio Arsenal, Abou Diaby, juga turun dalam laga Arsenal U-21 beberapa hari lalu dan katanya siap diturunkan di squad list.
Kalau saya amati berbagai perkembangan yang terjadi di media sosial, nama Danny Welbeck akan keluar menjadi hal yang paling sering saya temui.

Hampir setiap artikel menyebut-nyebut namanya, terlebih setelah si Shaun The Sheep KW ini menyarangkan sepasang gol ke gawang Swiss. Sebagai seorang die-hard Goonerette yang membenci United hingga ke ubun-ubun, kedatangan Welbeck ke Arsenal sebenarnya tidak saya sambut dengan meriah, sukacita atau senang hati. Cenderung kesal, malahan. Awalnya, saya menyangka situasi kedatangan Welbeck ke Arsenal bermula dari transfer Falcao ke United. Domino effect—Falcao datang, Welbeck pun ditendang. Padahal Falcao sudah sempat dihubung-hubungkan ke Arsenal beberapa saat sebelumnya.

Bagaimanapun, Danny Welbeck tetaplah topik yang menarik untuk dibahas. Baru tadi pagi, Louis Van Gaal, pelatih baru United, membeberkan alasan kebijakannya menjual Welbeck. Alasan yang keras, brutal, dan penuh ironi. Keputusan Van Gaal menjual Welbeck sebetulnya dipertanyakan oleh dua legenda United, Paul Scholes dan Gary Neville. Menurut Van Gaal, Welbeck masih belum memiliki kualitas seperti Van Persie (kompatriot kesayangannya di timnas) atau ketajaman seperti Rooney. Padahal, statistik Welbeck tidak terlalu mengecewakan. Welbeck mencetak 29 gol dari 142 laga, yang berarti sekitar satu gol setiap empat laga. Tidak terlalu buruk mengingat Welbeck lebih sering diturunkan di posisi yang bukan menjadi keunggulannya.

Dua minggu lalu, Welbeck masih asyik jadi pemanas bangku cadangan di Old Trafford. Sekarang, dia menjadi simbol berakhirnya sebuah era di United. Kepergiannya menandakan betapa United kini kehilangan idealisme—bagaimana bisa mereka membiarkan Mancunian yang loyalis seperti Welbeck pergi? Kepergian Welbeck adalah keuntungan untuk Arsenal yang memberi kesengsaraan untuk United, tidak peduli apapun yang Van Gaal bilang. Terlebih lagi, Welbeck menyatakan kalau bermain di Arsenal adalah salah satu cita-citanya. Pernyataannya pasti mengoyak hati para fans United sangat dalam, kan?

Ada banyak harapan yang disematkan pada Welbeck. Absennya Giroud akan menambah harapan-harapan itu. Musim lalu, Welbeck mencetak 9 gol di liga, sementara Giroud mencetak 17 gol. Tapi, penting untuk diingat kalau Welbeck jarang sekali mendapat kesempatan musim lalu. Selain itu, Moyes juga kerap menurunkannya di posisi yang kurang nyaman baginya. Goal conversion Welbeck lebih baik daripada Giroud (19.6% dan 16.4%) sementara statistiknya mencetak gol adalah 167 menit sekali, dibandingkan Giroud yang mencetak gol setiap 185.5 menit sekali. Lumayan, kan?

5 players to watch:

1. David Silva: musim lalu, kreativitas Silva membuat para pemain tengah Arsenal kewalahan. Tugas berat ada pada lini tengah dan lini belakang untuk menjaga Silva. Kalau kita memberikannya sedikit space, tentu saja Silva akan mengobrak-abrik pertahanan kita. Seharusnya Wenger mempersiapkan game plan dan strategi khusus untuk menghadapi Silva.

2. Alexis Sanchez: waktunya pembuktian. Pemain yang dibeli dengan harga paling mahal musim ini sepertinya butuh beberapa gol lagi untuk membuktikan kalau dia masih Alexis yang dulu, Alexis yang ditakuti para defender. Publik masih menantikan gol-gol darinya, walaupun ia sudah mencetak dua gol dari dua laga terakhir yang dimainkannya. Laga kontra City adalah saat yang tepat untuk membuktikan diri, untuk membuktikan kalau Alexis tetaplah Alexis.

3. Edin Dzeko: cederanya Steven Jovetic memberikan keuntungan untuk Dzeko sehingga ia bisa menjadi tandem Aguero pada laga ini. Dzeko, yang selalu menjadi the silent hero, kerap kali memberikan hasil yang tidak diduga-duga saat melawan Arsenal. Menarik untuk ditunggu apakah Dzeko akan memberi kejutan lagi atau malah sebaliknya.

4. Per Mertesacker: pertahanan yang solid adalah kunci kemenangan di laga melawan City saat Community Shield kemarin. Mertesacker memegang peranan yang besar dalam laga ini. Kemampuannya membaca permainan tentu saja bisa memberikan keuntungan bagi Arsenal, khususnya untuk lini belakang. Laga ini akan menjadi tes yang berat, namun menantang.

5. Bacary Sagna: our main man, orang yang menjadi superhero kita selama beberapa musim terakhir. Saya jadi penasaran, apakah Sagna akan disambut dengan penuh penghormatan atau malah dicerca seperti Nasri?

Jujur saja, saya cukup percaya diri dengan laga super kali ini. Bursa judi di Inggris juga menjagokan Arsenal untuk memenangi laga ini. Bagi City, laga melawan Arsenal hanyalah pintu gerbang dari laga-laga super yang menanti mereka setelah ini—ada laga away melawan Bayern dan laga kandang melawan Chelsea. Arsenal juga akan menghadapi lawan-lawan yang cenderung menyulitkan—Aston Villa dan Spurs. Pada akhirnya pertanyaan yang sama akan hinggap di kepala kita: mana yang lebih kuat, cash atau class?

PREDIKSI LINE UP:
Arsenal : Szczesny, Debuchy, Mertesacker, Koscielny, Gibbs, Arteta, Cazorla, Ozil, Wilshere, Sanchez, Welbeck
City: Hart, Sagna, Demichelis, Kompany, Kolarov, Nasri, Toure, Fernandinho, Silva, Dzeko, Aguero