Leicester 0-0 Arsenal: Eksperimen dan Komentar Wenger: 0

 

CqUpwYMWgAASiqF
Penampilan dingin #KosTheBoss dicemari ompongnya daya serang The Gunners

Selama mengarungi kiprah di perhelatan EPL, Leicester telah bertemu Arsenal sebanyak 20 kali. Dari seluruh laga itu mereka hanya mampu mendulang 9 poin, yang berarti sebanyak 17 laga mereka akhiri dengan menuai kekalahan. Musim lalu pun cuma Arsenal satu-satunya tim yang tidak mampu Leicester kalahkan baik di kandang maupun tandang.

Laga semakin menarik karena kedua klub adalah juara dan runner-up liga musim lalu, dan sama-sama menderita kekalahan di laga perdana musim 2016-17. Bak menabur garam di atas luka, Arsenal ditolak mentah-mentah oleh kedua pemain andalan mereka: Jamie Vardy dan Riyadh Mahrez.

Pada konferensi pers jelang laga, Wenger mengindikasikan bahwa Alexis-lah yang akan menjadi starter sebagai striker di laga ini. Jika itu saja telah menambah rasa frustasi, ia menambahi pernyataan dengan membandingkan striker Chile itu dengan Luis Suarez atau Srgio Aguero. Juga tentang sulitnya merekrut striker sambil membandingkan situasi Arsenal dengan Real Madrid yang juga tidak/belum merekrut striker (manakala: 1. skuat Madrid lima kali lebih kuat dan komplit dari Arsenal, dan 2. Madrid merekrut Alvaro Morata dari Juventus dengan mahar 30 juta euro). Hal yang sungguh mengusik Sabtu pagi saya:

He loves Giroud. Selain itu ia paham Giroud memiliki peran krusial dalam permainan Arsenal. Jika dulu ia sempat memainkan Walcott di tengah dengan harapan Walcott mau memperpanjang kontrak, diistirahatkannya Giroud adalah langkah untuk melindungi fisik pemain vital ini. Mungkin, Arsenal memang tengah mengupayakan untuk membeli seorang striker saat ini. Bisa jadi, ucapan di atas adalah cara dia sebagai antisipasi jika striker (yang entah siapa) ini gagal direkrut. Dan bila eksperimen sanchez sebagai striker tengah berhasil, ia bak mendulang bonus. Komentar-komentarnya ini membuat saya berpikir bahwa alih-alih memaksimalkan skuat yang ada secara taktikal, ia justru disibukkan dengan bagaimana membuat dalih demi dalih tentang kemandekannya di bursa transfer.

Menjadi mudah akhirnya bagi saya untuk memrediksi jajaran starting line-up pertandingan malam tadi. Satu-satunya yang saya gagal perkirakan adalah dipilihnya nama Holding ketimbang Chambers sebagai pendamping Koscielny.

Mari kita lihat bagaimana Sanchez kewalahan menjalankan peran Giroud.

heatmap alexis
Alexis heat map against Leicester (credit WhoScored)
alexispasses
(credit: StatsZone app) lihat bagaimana Alexis condong nyaman bergerak di sisi kiri

Untuk seseorang yang dihargai £32 juta, penampilan Alexis bersama Arsenal masih jauh dari kata memuaskan. Imajinasi liar kita kala membayangkan bagaimana Giroud didampingi Walcott dan Alexis di kedua sisi sayap untuk sementara belum menjadi kenyataan. Salah satu penyebabnya ya eksperimen-eksperimen seperti ini.

Kenapa Arsenal kerap kesulitan saat menghadapi tim-tim kecil? Karena sudah jadi rahasia umum jika memberi rongga pertahanan terlalu renggang di garis pertahanan mereka, Arsenal bisa dengan mudah melepas umpan penembus pertahanan untuk kemudian bola dikejar pemain-pemain seperti Walcott. Bahkan strategi ini juga dilakoni klub-klub besar. Saya ingat betul bagaimana Mancini pada 2010 menerapkan strategi ini sehingga membuahkan hasil 0-0 yang mana ia anggap sebagai hasil positif. Juga bagaimana Chelsea era Mourinho saat mereka bertandang di Emirates.

Giroud menjadi vital karena dua hal: fisik dan kerajinannya berduel dengan pemain lawan, serta kejeliannya mengirim umpan-umpan kecil sehingga pertahanan lawan mampu dikoyak. Maka ketika lawan mematok pertahanan begitu dalam, dua kapasitas Giroud ini menambah variasi penyerangan Arsenal.

Di dua grafik di atas kita bisa lihat bagaimana Alexis lebih sering beroperasi di kedua sisi sayap. It’s not a fucking rocket science. Berduel sepanjang laga dengan bek raksasa macam Wes Morgan atau Robert Huth sama dengan bunuh diri.

Anda membeli motor bebek matic untuk memudahkan kegiatan Anda. Beban bolak-balik kantor menembus kemacetan Jakarta akan terasa sedikit berkurang. Meskipun ini perihal selera, banyak teman saya yang beralih ke motor matic karena berkat teknologi terkini, motor matic sama hemat bensinnya dengan motor manual. Tak perlu juga menghiraukan harus gonta-ganti gigi. Tapi jika Anda seorang guru di daerah pegunungan terpencil dengan jalan rayanya yang terjal dan berbatu, tiada kata lain selain tolol jika Anda membeli motor matic.

Grafik di bawah layak menjadi kesimpulan betapa tak berhasilnya eksperimen Wenger:

Seperti halnya Walcott, Alexis sebagai penyerang tengah is a big no. Sepanjang laga kontra Liverpool ia cuma mampu melepaskan satu tembakan. Dia terisolasi di posisi ini. Kala peluit babak pertama ditiup, yang saya ingat adalah Alexis lebih banyak mengonfrontasi wasit Mark Clattenburg ketimbang mengonfrontasi pertahanan Leicester. Secara relatif, permainan Alexis menjadi buruk bukan karena ia tidak memiliki talenta, tapi bagaimana Wenger terlalu memaksakan ego sehingga seperti seseorang yang memaksakan menggunakan motor matic di pegunungan.

Kita melawan tim yang terkenal menjuarai EPL karena kesolidannya dalam bertahan dan melakukan serangan-serangan balik kilat, dan Koscielny beserta barisan pertahanan Arsenal seperti menyadarkan kita bahwa Vardy dan Mahrez harus melupakan penampilan ciamik mereka musim lalu. Lihat bagaimana Monreal berkali-kali membikin kecele Mahrez di sisi kiri. Lalu Rob Holding. Wow, kredit patut saya haturkan kepada Wenger (you have to give credit where credit is due) karena telah jeli merekrutnya. Holding begitu berani berinisiatif menghalau bola-bola lambung dengan merengsek maju ketimbang menunggu bola dan pemain lawan menghampirinya.

Diporak-poradakannya Arsenal minggu lalu oleh Liverpool seolah-olah terjadi di dunia paralel (ingat, dialah yang melanggar Coutinho hingga membuahkan tendangan bebas penyama kedudukan). Semalam Holding berhasil menorehkan 9 kali clearances, 5 kali memenangi duel udara (dari 7 kali percobaan), dan 2 kali memblok tendangan pemain Leicester. Saya bergairah untuk memantau sejauh mana perkembangan Holding setidaknya sampai paruh musim kedua.

Sampai berakhirnya babak pertama, catatan statistik di atas kertas mengesankan Arsenal mendominasi permainan dengan melepas 9 tembakan. Statistik menjadi tak impresif saat kita tahu bahwa 6 tembakan dilakukan dari luar kotak penalti; yang menandakan Arsenal kehilangan akal dalam membongkar rapatnya pertahanan Leicester.

Selain solidnya pertahanan Arsenal, kita juga dipertontonkan aksi kalem Granit Xhaka. Ia memang hanya sanggup mengintersepsi bola sebanyak 2 kali. Tapi keduanya terjadi di sepertiga akhir lapangan: ia piawai memotong aliran bola sebelum bola berpindah terlalu dalam ke area Arsenal. Ia pun hanya sekali melakukan pelanggaran (bandingkan dengan saat melawan Liverpool: main secuil menit, melakukan pelanggaran 5 kali dan satu kartu kuning). Kita juga dibuat terperanjat dengan tekel bersih dan wanginya terhadap Mahrez di menit ’24.

Lalu Wenger memutuskan untuk menggantinya. Padahal Coquelin-lah yang harus diganti. Bagaimana tidak? Permainan belum bergulir setengah jam ia sudah menuai kartu kuning. Arsenal was simply riding their luck. Sepakbola adalah permainan yang penuh bias dan sulit menilai reaksi objektif darinya. Jika posisi kita ditukar dengan Leicester City semalam, Anda bisa membayangkan bagaimana reaksi gooners di Twitter jika tak dianugerahi penalti sampai dua kali. Manakala insiden pertama (last-ditch tackle yang gurih nan legit dari Kos the Boss, yang kedua Arsenal murni beruntung karena Bellerin terlihat jelas mengganggu Musa dari belakang).

Kita mesti ingat, dengan kecepatan Mahrez dan Vardy, Leicester begitu cerdik mengincar ganjaran penalti di musim lalu. Bagaimana jika satu dari insiden ini membuahkan penalti, dan pelanggarnya adalah Coquelin sehingga ia terpaksa dikartumerahi Clattenburg? Membayangkannya saja saya sudah ngeri.

Ada satu pemain yang dengan gigih saya maki-maki musim lalu dan kini terlihat seperti ingin menghajar keraguan saya terhadapnya: Alex-Oxlade Chamberlain. Mungkin karena penampilan buruk musim lalu serta kegagalannya membela timnas Inggris pada Euro lalu, tak lagi terlihat kesembronoan Ox dalam bermain. Penyelesaian akhir dan decision making-nya terlihat matang (terutama dalam mengoper dan saat di mana harus melakukan take-on  atau tidak). Bila Wenger kembali memosisikan Alexis pada ‘khittah’nya — penyerang sayap, saya harap hal itu justru memacu Ox untuk tampil lebih baik lagi. Mengapa?  Karena sepanjang berkarir di Arsenal, alih-alih berperan sebagai pemeran utama, penampilan Ox cuma terlihat sebagai cameo.

Berbicara tentang cameo, tampilnya Wilshere cukup menyegarkan mata (karena efektivitas Ozil dan Giroud — meski tak berdampak positif — tak perlu diragukan lagi). Semoga, seperti Ox, ia mampu membuktikan kepada khalayak bahwa memang dialah yang pantas mewarisi nomor punggung Dennin Bergkamp.

***

Tiap klub memiliki khasanah tersendiri yang mungkin hanya dipahami fansnya masing-masing. Dalam kasus Arsenal, salah satu yang saya suka adalah istilah “goonercoaster.” Pengibaratan proses mendukung Arsenal bak menaiki wahana roller coaster: melambat, kemudian turun dengan terjal, untuk kemudian secara drastis kereta melaju membawa penumpang secara vertikal ke atas. Deg deg plas!

Tak perlu mengenang jauh-jauh. Di musim lalu pun Arsenal — dibantu pula dengan ketololan Sp*rs kala melawan Newcastle — mampu menyalip posisi Sp*rs sehingga momen sakral St. Totteringham’s Day tetap terayakan. Padahal skuat Sp*rs musim lalu digadang-gadang sebagai skuat terbaik mereka di era EPL. Skuat muda, sokongan pemain-pemain binaan akademi, serta manajer muda yang visioner secara taktik.

Jadi hasil 0-0 di laga kedua tak lagi membikin saya khawatir. Banyak hal positif yang bisa dikhidmati: mencuri poin di kandang lawan, atau tak ada pemain yang cedera.

Namun hal itu (lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan LAGI!) dinodai dengan komentar yang bernada kurang simpatik dari Wenger:

I’ll spend £300m if I find the player, but we are a club who have 600 employees so we need to have a responsible attitude as well.

Kita sama-sama tahu, mustahil ia mengeluarkan dana setinggi itu selain sebagai cara untuk mempertegas statement. Malah ditambah dengan merasa wajib memikirkan 600 pegawai yang bekerja untuk Arsenal. Dia pelatih atau manajer perusahaan? Mendengar komentar-komentarnya saat bursa transfer berlangsung terasa seperti terserimpung dalam labirin penuh kuntilanak dan genderuwo.

He is a one damn control freak. Jika tidak begitu bagaimana ia bisa menukangi klub hingga 2 dekade. Tapi komentarnya ini membuat saya justru menilai bahwa ia seolah-olah terlalu terbebani untuk mengurus neraca keuangan ketimbang memformulasikan strategi alternatif permainan timnya. Tak usah banyak-banyak. Pikirkan alternatif jitu untuk mengantisipasi ketidakhadiran Giroud (karena Walcott dan Alexis sebagai penyerang tengah dalam 4-2-3-1 terbukti tak efektif, sementara Welbeck masih dalam masa berlibur di ruang rehab).

Karena saat Wenger sibuk mencari-cari dalih tentang kegagalannya di bursa transfer (sambil membandingkan kondisi Arsenal dengan Madrid yang bak membandingkan akting Kristen Stewart dengan akting Diane Keaton), Sp*rs dengan santai namun jitu berhasil merekrut sosok Vincent Janssen, topskor liga Belanda musim lalu (27 gol) asal AZ Alkmaar yang baru berusia 22 tahun.

 

Arsenal 3-4 Liverpool: Malapetaka di Laga Pembuka

arsliv

Dengan segala apa yang terjadi di dua Manchester dan Chelsea, kegagalan Arsenal menjuarai EPL musim lalu terasa semakin menyesakkan. Ketiga tim tersebut bukan hanya memiliki mesin finansial raksasa, tapi juga sama-sama baru merekrut manajer-manajer muda dengan enerji yang sama menakutkannya dengan mesin-mesin finansial tersebut.

Perekrutan dini Granit Xhaka awalnya terasa menyegarkan. Bagaimana tidak!? We’ve done the business so early. Makin optimistis ketika di awal Juni Arsenal mengaktifkan release-clause Jamie Vardy. Meski saya pribadi merasa Vardy bukan sosok yang tepat untuk Arsenal rekrut. Ya, ia top skor musim lalu. Tapi ia telah memasuki masa-masa senja. Jika sosok pemain itu adalah Zlatan Ibrahimovic, tentu faktor usia ini bisa kita singkirkan jauh-jauh. Selain itu, skema permainan Arsenal sudah terlalu bergantung dengan sosok Olivier Giroud. Menjadi jelas setelah kita ketahui fakta bahwa satu-satunya penyerang yang mampu memainkan peran striker tunggal adalah Danny Welbeck, bukan Alexis Sanchez, apalagi Theo Walcott.  Situs These Football Times menjelaskan hal ini dengan baik:

Olivier Giroud combines goal-scoring ability with a wonderful team-ethic and that is what makes him a rare breed, a world-class striker if you may. However, cruelly for him, he is plying his trade at a paradoxical point of time in the game’s history where the use of statistics in analysis, the level of the game, and its coverage, are at an all-time high, but still the evaluation is being done based on an extremely narrow criterion. It represents a great risk to the future of the game.

Diagonal run, operan satu-dua, serta segala rupa cara pemain Arsenal mencetak gol banyak bergantung kepada Giroud. Sayangnya, seperti yang dijelaskan situs di atas, sepakbola semakin terobsesi dengan statistik sehingga fans tidak akan mau mengakui kontribusi Giroud hanya karena bukan dia yang melakukan assist.

Maka, banyak kendala yang Arsenal hadapi saat ingin merekrut striker. Selain faktor-faktor yang saya sebut di atas, kita tahu bahwa striker adalah komoditas paling diburu di bursa transfer. Setidaknya saat gembar-gembor desus Vardy berlangsung, saya tidak sebegitunya berharap ia mau berlabuh di London Utara.

***

Awal musim kompetisi, bagi penggemar sepakbola, berstatus layaknya awal tahun. Anda tentu mengamini pernyataan tadi. Awal musim adalah saat di mana kita kembali memperbaiki harapan dan melupakan hal-hal buruk yang terjadi di musim sebelumnya. Penggemar sepakbola kasual, dalam hal ini mereka yang tidak mendukung satu tim favorit pun, akan tetap mengikuti perkembangan yang ada. Entah itu dengan mengecek bursa transfer, membaca artikel-artikel sepakbola, banyak juga yang mempercayai intuisi untuk mengikuti bursa taruhan — yang mana hal-hal tadi diikuti dengan perbincangan-perbincangan mengenai sepakbola di perjumpaan-perjumpaan sosial masing-masing. Apalagi bagi mereka yang mengimani salah satu klub.

Banyak dari kita yang merasa wajib membeli seragam klub kesayangan terbaru. Kita pun kembali sesumbar dengan rekan-rekan bahwa tim pujaan kitalah yang akan berbicara banyak di musim kali ini. Hal inilah yang membuat sepakbola menarik dan menjadikannya berstatus sebagai olahraga paling populer sejagat. Ia sudah menjadi budaya pop yang menjelma menjadi gaya hidup. Di banyak kasus, kadarnya bahkan melebihi cara kita memperlakukan agama.

Hal itu pula yang menjangkiti kita, fans Arsenal. Tak peduli dengan kecenderungan pelatih dan manajemen yang seperti terlihat tidak memiliki ambisi juara (setidaknya dari kacamata fans klub lain), kita sedemikian berharapnya skuat yang kita memiliki mampu berbicara banyak di musim baru. Berangan-angan untuk kembali menjadi raja — minimal — di Inggris. Tak sedikit juga yang mendukung Arsenal secara taken-for-granted. Loving the club unconditionally. ‘Saya cinta klub ini tak peduli apa yang orang lain katakan. Toh uang yang saya keluarkan paling besar hanya untuk berlangganan TV kabel.’ Tapi percayalah, asa berlebih tetap ada di hati mereka. Bahwa Wenger mungkin berubah, manajemen berambisi lebih, dst dst. Toh lihat saja bagaimana mereka sedini itu merekrut Xhaka yang membuat kita menyangka kebijakan klub benar-benar berubah.

Lalu saat Euro masih bergulir, kita sama-sama tahu bahwa Liverpool-lah yang akan kita hadapi di laga pembuka di kandang kita. Liverpool yang pelatihnya saat ini begitu dirindu sebagian dari kita untuk menggantikan Wenger. Liverpool yang dengan enteng kembali merampok keutuhan skuat Southampton dengan membeli Sadio Mane.

Pertama, mari membicarakan skuat yang diturunkan Wenger sebagai starter. Baiklah, ia belum mempercayakan Xhaka sebagai starter. Wajar karena Xhaka belum pernah sedikit pun mencicipi atmosfer EPL. Tapi menurunkan Elneny dan Coquelin bersamaan dan memplot Ramsey sebagai AMF? Dia pikir ini masih laga pra-musim?! Eksperimen sok asyik yang berbuah blunder sementara kita tahu Santiago Cazorla sudah mampu tampil.

Cech

Bellerin-Holding-Chambers-Monreal

Coquelin-Elneny

Ramsey

Walcott                                      Iwobi

Sanchez

Cazorla adalah spesies langka yang mampu menggoreng bola dengan kedua kaki dengan sama-sama baiknya. Ia mampu mengeksekusi sepak pojok — ketimbang Walcott yang malam ini menjalankan peran ini. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sejak lama saya adalah pembela Ramsey. Tapi hal itu tidak membuat saya buta dan gegabah. Bahkan di Euro lalu pun Ramsey bukanlah kreator karena peran itu diberikan Coleman (pelatih Wales) kepada Joe Allen. Bagi saya, Ramsey adalah jelmaan dari kombinasi antara Frank Lampard dan Ray Parlour dan torehan statistiknya di musim 2013-14 adalah kutukan. Kutukan yang membuatnya (serta kita sebagai penonton) untuk berharap lebih: bahwa ia harus menciptakan assist atau gol di tiap laga. Ini keliru.

Lalu mengenai pasangan bek yang menjadi starter. Bila Skhodran Mustafi (atau Kostas Manolas atau siapa pun itu yang diberitakan media) telah Arsenal rekrut dan bermain di laga ini pun, saya tak menjamin komedi pertahanan takkan terjadi karena jelas terlihat kesalahan besar ada di pundak gelandang bertahan yang seolah-olah terlihat enggan membantu pertahanan padahal mereka tahu satu di antara dua bek ini belum diijinkan membeli alkohol!

Saya sempat memaki Coutinho saat ia begitu mudahnya jatuh saat ‘dipeluk’ Holding. Ada apa, sih, dengan fenomena pemain brilian namun kerap licik meminta pelanggaran seperti dirinya atau Hazard? Namun tatkala Coutinho mampu melepas tendangan melengkung begitu fantastis, batin saya seakan mengoreksi pernyataan tadi. Coutinho tahu ia memiliki kemampuan tendangan bebas di atas rata-rata. Dan sepanjang babak pertama timnya nampak mengalami kebuntuan dalam menembus pertahanan Arsenal. Maka perjudian ini ia lakukan. Percayalah, saya membenci perilaku diving, tapi hal ini sudah merupakan salah satu trik mujarab dalam permainan. Bagaimana jika Wilshere merubah caranya bermain dan memerlakukan diving sebagai proteksi bagi kakinya — sekaligus mendulang foul demi keuntungan tim?

Hey, if there’s a contact, dan kontak tersebut merugikan klub yang bersangkutan, maka wasit harus menetapkan itu sebagai pelanggaran. Sama halnya seperti petinju yang terus-terusan memeluk lawan. Kita tahu hal itu membosankan, tapi penonton tinju fanatik menganggap itu sebagai taktik.

Saya berbincang dengan seseorang yang bukan penonton sepakbola mengenai kekalahan ini. Mungkin demi menghibur saya, ia mengatakan bahwa Arsenal toh mampu mencetak tiga gol.

Persetan.

Ini laga pembuka dan kebobolan empat gol (semuanya dilakukan dengan cara fantastis) di kandang sendiri adalah hal menyakitkan. Dari tiga gol yang berhasil Arsenal cetak, kita tahu bahwa skuat Liverpool pun masih meraba-raba dan sebenarnya mampu Arsenal kalahkan.

Persoalan selanjutnya adalah bijak atau tidaknya Wenger mengistirahatkan beberapa pemain yang berlaga sampai semifinal bersama timnasnya di Euro 2016 lalu (Ozil, Giroud dan Koscielny). Kita harus paham riwayat akrabnya Arsenal dengan cedera. Kebijakan ini juga ia terapkan bagi tiga pemain Jerman yang menjuarai Piala Dunia 2014 silam. Dengan fakta ia mengalami krisis bek, mengapa untuk kali ini saja ia enggan berjudi dengan memainkan Koscielny? Jika berkilah terus mengenai sulitnya melakukan transfer (dengan menyebut-nyebut faktor inflasi harga pemain), mengapa tidak menurunkan Koscielny, salah satu bek terbaik EPL musim lalu? Padahal ia tahu betul Mertesacker dipastikan tidak bisa tampil sampai setidaknya saat Natal tahun ini. Mertesacker bukanlah bek di posisi Koscielny sementara pelapis Mertesacker adalah Gabriel, yang juga cedera. Jadi membeli pengganti Mertesacker bukanlah solusi untuk menambal pengganti Koscielny. Ketimbang memainkan Chambers bersama Holding, bukankah lebih baik Holding diduetkan bersama Kos the Boss?

Rasa-rasanya Arsenal adalah lelucon tidak lucu yang entah bagaimanapun tidak lucunya, lelucon ini terus dilontarkan tiap tahun. Arsenal sebagai perusahaan adalah perusahan sukses karena menurut catatan majalah Forbes menempati urutan kelima sebagai tim dengan nilai kekayaan tertinggi di dunia (sebagai brand memiliki value sebesar $2,017 milyar). Masih dari catatan yang sama, Arsenal adalah klub Inggris dengan nilai tiket terusan termahal. Dari sini saja kita bisa melihat ‘kecakapan’ Arsenal sebagai perusahaan. Namun fans mana, sih, yang bangga dengan torehan finansial klub dibanding torehan di atas lapangan?

Jawara Italia 4 musim berturut-turut, Juventus, sejak jauh hari telah mempersiapkan pengganti Paul Pogba dengan merekrut Miralem Pjanic. Mampukah Pjanic menggantikan peran Pogba? Kita belum tahu dan sama-sama harus menunggu. Tapi bisakah Pjanic — setidaknya — memberi elemen positif lain bagi Juventus? Kita tahu ia bisa dan punya potensi untuk itu. Dan Juventus menempati urutan ke-9 dalam catatan forbes tersebut. Makes you wonder.

Yang paling menggelikan sekaligus ironis adalah Wenger menyatakan di konferensi pers pasca pertandingan bahwa timnya secara fisik belum siap tampil. Padahal, secara kontradiktif ia menyatakan hal sebaliknya saat seminggu sebelumnya mengalahkan Manchester City di laga pra-musim.

Wenger selalu mengatakan bahwa dirinya anti transfer musim dingin & transfer musim panas sebaiknya selesai saat laga pembuka dimulai. Maka persoalannya: jika demikian, kenapa selalu gagal menambal kebutuhan skuat di tiap musim? Kenapa proses transfer selalu berjalan berlarut-larut?

Semoga menghadapi Leicester ia benar-benar mau mengubah kebijakan dengan setidaknya menurunkan Koscielny (jika masih bersikeras mengistirahatkan Giroud dan Ozil).

Fear and Loathing in Britannia Stadium: Stoke dan Statusnya sebagai Momok Arsenal

debuchy-stokecity

Kemarin, setelah kehabisan ide dalam mencari inspirasi menulis blog ini, saya dibuat haru oleh @ngebadjack dan @uwesgege. Tulisan saya ternyata masih dirindukan dan hibernasi saya dalam menulis di musim lalu benar-benar hal yang tidak bisa diterima. Setelah pada 2013 dan 2014 blog ini mengalami keemasan (terdengar jumawa? Bebaskeun!), tahun lalu saya hanya memproduksi dua tulisan. Ada banyak hal yang berubah secara signifikan pada cara saya menonton sepakbola di dua masa tersebut.

Maafkan jika ini terdengar klise: waktu 24 jam dalam sehari ternyata tidak cukup. Sementara gaya penulisan saya di periode produktif tersebut membutuhkan dedikasi yang tidak sedikit: mendownload banyak pertandingan untuk kemudian menganalisisnya, jejumpalitan dari satu situs ke situs lain, hingga telaten memperhatikan catatan statistik beragam klub dan pemain. Repot memang. Tapi menyenangkan.

Pasca sedikit terpekur saya pun teringat akan nasib tulisan-tulisan saya di bolatotal.com yang kini tak bisa diakses. Hal yang membuat saya akhirnya menerbitkan tulisan-tulisan tersebut ke blog ini, meski ada beberapa yang belum saya terbitkan. Saya sadar bahwa tulisan sepakbola bisa tidak lekang oleh waktu jika memiliki nilai narasi yang baik, dan tulisan bersifat analisis suatu pertandingan tidak  menyediakan garansi ketaklekangan oleh waktu tersebut. Kecuali jika tulisan anda sebagus Hunter S. Thompson atau Iain Macintosh.

(Atau mungkin di dunia ini yang tidak lekang oleh waktu hanyalah kecantikan Henidar Amroe dan Meryl Streep?)

Ramainya dunia kepenulisan sepakbola lokal saya pikir sudah menawarkan itu. Meski status penulis online belum semenjanjikan secara ekonomi seperti di luar sana, kini banyak penulis-penulis sepakbola online yang kemudian membukukan tulisan-tulisannya. Teman-teman tentu familiar dengan tulisan bergaya esai yang dipopulerkan Pandit Football. Ada pula penulis sepakbola yang kini merambah ke topik-topik lain dalam tulisannya, Edward S. Kennedy.

Tatkala menerbitkan ulang tulisan-tulisan lama kemarin hari, saya sadar: betapa cepatnya sepakbola berubah. Arsenal British core yang menjadi tema tulisan saya saat itu kini gaungnya tak lagi terdengar. Salah satu personilnya bahkan menjadi pemain langganan yang tiap pertandingan saya maki: Alex-Oxlade Chamberlain. Betapa busuk dan kacrutnya ia. (Topik ini akan saya ulas secara khusus di lain waktu).

Kita senang memproyeksikan banyak hal. Salah satunya adalah pada bagaimana tim kesayangan kita seharusnya bermain, siapa yang seharusnya tampil sebagai starter, siapa pemain muda yang layak dipromosikan ke skuat utama, dan sebagainya. Pada saat menulis artikel tentang penjualan pemain-pemain Arsenal, siapa yang mengira jika Wenger kemudian mengejutkan kita dengan pembelian Mesut Özil? Sesuatu yang saya harap-harapkan karena sosok Giroud membutuhkan pelayan.

Jeda tiga tahun terlalu panjang dan banyak perubahan yang Arsenal alami secara signifikan. Dua gelar Piala FA sebagai contoh. Contoh lain, mungkin melesatnya karir Hector Bellerin di skuat inti. Siapa, sih, yang bakal menduga bahwa pengganti Sagna bukanlah Debuchy atau Jenkinson? Siapa pula yang bisa menduga bahwa Monreal bisa sebegitu dapat diandalkan, menyisihkan Gibbs?

Siapa pula yang bisa menduga bahwa Diaby ternyata bisa juga Arsenal jual? Meski kemudian bakat masyhurnya, mengakrabi ruang medis karena cedera, kini diwarisi Wilshere. Belakangan bahkan saya menyatakan bahwa selagi Wilshere masih punya ‘nama’ di bursa transfer, kenapa tidak Arsenal jual saja? Tragis, memang, mengingat banyak gooner yang menaruh harapan pada pemuda bengal ini. Tapi menurut saya, sebagai klub besar, Arsenal harus berani menempatkan cara berpikir logis di depan hal-hal sentimentil. Dua musim terakhir, apa highlight Wilshere selain mengajak #kelahi lawan, menciptakan sebutir-dua butir gol cantik, dan memrovokasi fans Tottenh*m di dua parade kemenangan Piala FA?

Tidak ada.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme yang di era 60-an begitu nge-hip pernah bilang,

In football everything is complicated by the presence of the opposite team.

Konsep filsafat oposisi biner menunjukkan tajinya: Laki-laki – perempuan, tua – muda, pandai – bodoh, kaya – papa, kuantitatif – kualitatif, positivisme – empirisisme, dan demi menyangkutkannya dengan tulisan ini: harapan baik – harapan buruk, serta permainan sepakbola cantik – permainan pragmatis.

Dan, ya Tuhan, setelah segenap perubahan-perubahan yang saya jabarkan di atas, kini Arsenal harus menyambangi Brittania Stadium di saat persaingan dengan City dan Leicester sedang ketat-ketatnya.

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai Stoke. Ijinkan saya kembali bercerita. Dulu, waktu kecil, hanya ada tiga hal yang begitu menakutkan di mata saya:

  1. Suzanna,
  2. alunan musik latar di film Pengkhianatan G30S, dan
  3. badut hantu Pennywise

Sosok pertama menjadi pelajaran bagi saya bahwa ternyata keanggunan juga bisa menakutkan. Hal nomor dua, hmm, bagaimana menjelaskannya, ya. Sulit jika anda menontonnya di saat Orde baru telah tumbang. Alunan nadanya begitu merasuk mengintai kesadaran. Ada sisi keberanian kita yang seolah-olah ditonjok oleh nada yang diaransemen oleh Embi C. Noer ini. Terlebih film ini berdurasi lebih dari 3 jam dan saya menontonnya di saat masih rapuh rentan secara psikis. Rentan dalam artian segala sesuatu akan membekas hingga dewasa saat seseorang mengalaminya di masa kecil.

Namun di antara dua hal tadi, badut Pennywise-lah yang kerapkali mengacak-acak tidur saya.

anigif_enhanced-24278-1430791562-16

Tahu, kan? Jenis mimpi buruk yang acapkali kita rasai sebagai manifestasi alam sadar kita sebelum tidur. Bisa mimpi jatuh dari jurang, dikejar-kejar hantu, atau memimpikan gigi kita rontok semua. Lihat gambar di atas. Badut rekaan Stephen Hawking ini sukses hadir di mimpi-mimpi buruk saya. Jadi di balik harapan memimpikan gadis cantik, waktu kecil dulu saya selalu siap jika Pennywise hadir. Tapi ya untuk kemudian merutuki kehadirannya dalam tidur seorang bocah. Asu tenan.

Dan bagi saya, Pennywise sama seperti Stoke. Silakan simak video di bawah:

Perlu saya mengulang narasi permainan ‘kotor’ di video di atas? Saya rasa tidak karena kini Stoke telah berbeda. Apalagi kini dihuni oleh bekas penyandang status “wonderkid”. Tidak hanya satu, melainkan dua pemain: Ibrahim Affelay dan Bojan. Di musim ini pun Stoke begitu perkasa saat tampil di kandang. Chelsea, Man. City dan Man. United dibabat dengan catatan cleansheet (1-0, 2-0, 2-0). Stoke memang selalu tampil buruk di Emirates. Tapi di Britannia Stadium? Arsenal tidak pernah menang di sana dalam enam pertemuan terakhir. Betul-betul momok.

Skema

Meski telah resmi mendapatkan Mohamed Elneny, saya rasa Wenger tidak akan memainkannya nanti malam, mengingat ia baru dua hari berada di London bersama rekan-rekan setimnya. Wenger saya rasa akan kembali menduetkan Flamini dan Ramsey sebagai double pivot.

(Soal Elneny, Arsenal’s Kitchen telah membahasnya dengan baik di sini dan sini).

Kehadiran Flamini penting, asal ia tahu sosoknya penting. Penting dalam hal memroteksi 4 bek Arsenal dan menjaga nafsunya dalam bergegabah melakukan pelanggaran tidak perlu.

Posisi yang saya pikir perlu diperdebatkan adalah mengenai siapa yang seharusnya mengisi sisi kanan Arsenal: Chamberlain atau Campbell? Campbell belakangan tampil ciamik, memang. Visi dan workrate-nya aduhai. Tapi saya rasa perlu ada fokus khusus di sisi kanan karena di sisi inilah Arnautovic beroperasi (ia adalah topskor dan pemberi assist terbanyak Stoke musim ini). Dan Bellerin bisa bermain bagus dalam menyerang, jika saya perhatikan, saat bertandem dengan Ramsey atau Walcott. Bukan dua pemain sebelumnya.

Maka beginilah susunan pemain yang saya harapkan dipasang sebagai starter:

Cech

Bellerin – Mertesacker – Koscielny – Monreal

Flamini – Ramsey

Walcott – Özil – Chamberlain

Giroud

Kenapa Chamberlain? Sederhana. Ia punya kemampuan memanfaatkan pelanggaran lawan sehingga membuahkan tendangan bebas bagi Arsenal. Catatan pelanggaran Stoke musim ini terbilang kecil, 10.2 per laga (urutan ke-13 dari 20 klub EPL), tapi mengingat tensi panas saat kedua tim bertemu dan provokasi suporter kandang, besar kemungkinan pertandingan akan berlangung keras. Dan Stoke punya segudang nyali untuk itu. Apalagi Arsenal musim ini telah memperlihatkan apa yang tidak pernah mereka perlihatkan sebelum kedatangan sang maestro Özil: kemampuan menuai gol dari bola-bola mati. Musim ini Arsenal sanggup menciptakan gol dari situasi ini sebanyak 8 kali (torehan yang sama dengan West Ham dan Chelsea).

Selain sisi kanan yang harus bekerja ekstra keras, hal yang sama juga harus diperlihatkan Flamini-Ramsey. Catatan untuk Ramsey, satu hal yang saya tidak suka dari permainannya adalah bagaimana ia kerapkali melakukan sliding tackle saat merebut bola dari lawan. Bukan apa-apa, saat seorang pemain menjatuhkan diri, tentu ia butuh waktu untuk bangkit. Jika tekel tidak benar-benar bagus (dan ini jarang), permainan akan terhenti karena pelanggaran, atau bola yang tidak terebut tadi akan menguntungkan pemain lawan pembawa bola karena ia telah melepaskan diri dari penjaganya (Ramsey).

Ramsey pun harus menahan diri untuk tidak terlalu jauh berkecimpung dalam penyerangan, agar saat Arsenal kehilangan bola, ia mampu berkoordinasi dengan Flamini dalam menutup pergerakan pemain Stoke. Baru jika dirasa perlu, Ramsey bisa memanfaatkan lowongnya pertahanan lawan untuk kemudian merengsek masuk dan melakukan shoot. Tapi itupun sekali-dua kali saja.

Beruntung, Xherdan Shaqiri dipastikan absen nanti malam (dan saya tidak habis pikir bagaimana Stoke bisa membeli pemain ini dari Bayern München), juga gelandang-merangkap-pegulat Geoff Cameron. Jika situs Whoscored memrediksi Stoke akan memasang Glenn Whelan dan Affelay sebagai poros lini tengah, saya tidak yakin karena Charlie Adam dirasa pas. Pas dalam merovokasi pemain kita lewat gaya bermainnya. Mungkin Mark Hughes sependapat dengan saya. Stoke sudah cukup berbahaya tanpa kehadiran Shaqiri dengan trio Arnautovic, Bojan, dan Jonathan Walters.

Peran Giroud sebagai petarung dalam merebut bola-bola lambung juga akan kita nikmati. Kita bisa menaruh harapan besar padanya berkat rekor positifnya akhir-akhir ini: 11 gol berhasil ia ceploskan dari 11 laga yang dijalani.

Untuk menaksir kemenangan, rasa-rasanya kok sulit. Tapi saya sudah memperingatkan, Stoke adalah momok. Jika hal itu pula yang sama-sama dirasai pemain-pemain Arsenal, cara untuk menghadapinya adalah memacu motivasi untuk kembali mengangkangi Leicester City dan Man. City, memupus rekor buruk Britannia Stadium, dan bangkit dari hasil imbang kontra Liverpool kemarin.

Apalagi setelahnya kita akan menghadapi momok yang lain:

Chelsea.

[repost] Gelaran Padusan Arsenal di Tengah Puasa

8
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 22 Juli 2013, dua bulan sebelum Arsenal merekrut Mesut Özil

Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, Solo, Klaten dan sekitarnya mengenal ritual padusan menjelang bulan Ramadhan; seremoni adat dimana masyarakat berkumpul di suatu kawasan perairan baik itu laut, sungai, bendungan, mata air, pemandian hingga kolom renang, sebagai simbol pembersihan raga dan rohani sebelum memasuki bulan suci.

Ritual ini sejatinya adalah buah asimilasi antara agama dan budaya lokal. Di Yogyakarta sendiri padusan telah berlangsung sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. Pihak keraton menentukan kolam air masjid mana yang akan melangsungkan ritual ini. Kini masyarakat berinisiatif melakukannya di tempat-tempat lain, seperti pantai laut selatan. Ramadhan adalah bulan dimana umat muslim menjalani hari dengan pantangan makan-minum dan menjaga perilaku serta nafsu. Masyarakat Indonesia memaknai ‘bersih-bersih’ dalam padusan sebagai wujud kesiapan menghadapi bulan suci.

Arsenal melalui CEO-nya Ivan Gazidis secara terbuka menyatakan kesiapan mereka untuk bersaing dengan klub-klub seperti Chelsea dan Manchester City di bursa transfer. Gazidis juga menegaskan bahwa pihak klub akan melonggarkan batas gaji sehingga perekrutan pemain seperti Wayne Rooney – yang nilainya dua kali lipat dibanding pemain bergaji tertinggi di Arsenal – akan menjadi mudah.

Hingga saat ini Arsenal belum merealisasikan kesiapan tersebut. Satu persatu target mereka mulai dilirik klub lain. Para penggemar mulai pesimis dan merasa musim panas kali ini akan sama dengan musim panas sebelumnya minus hengkangnya pemain kunci. Beberapa menilai langkah Gazidis untuk melakukan wawancara tersebut adalah untuk mendongkrak penjualan tiket terusan musim 2013-14, karena dilakukan menjelang tenggat akhir pendaftaran.

Selain nama Yaya Sanogo, Arsenal memang hanya baru merekrut pemain akademi. Sementara kedalaman skuat inti mereka meresahkan. Sejak awal musim lalu Arsenal hanya mempunyai tiga bek tengah setelah Johan Djourou dipinjamkan. Lalu pada sektor gelandang tengah Abou Diaby kembali masuk ruang perawatan. Sesering apapun Theo Walcott menyatakan hasratnya sebagai striker tengah, dari caranya mencetak gol dia tidak bisa menolak bahwa posisi terideal baginya adalah penyerang sayap – kondisi yang menyisakan nama Olivier Giroud sebagai satu-satunya striker murni yang Arsenal miliki hingga detik ini.

Emosi penggemar dimainkan. Tiga klub di atas mereka; Manchester United, City dan Chelsea sedang mengalami pergantian komando kepelatihan. Bukan tidak mungkin, dengan melakukan perekrutan nama-nama mumpuni, Arsenal akan mampu berbicara banyak di liga, sambil tetap memertahankan performa impresif 10 pertandingan terakhir musim lalu.

Suka atau tidak, pembelian dengan harga ‘wah’ telah menjadi kewajiban bagi klub untuk bersaing di tiap kompetisi yang mereka ikuti. Bayern Muenchen tak segan merogoh kocek di angka 40 juta untuk menggaet Javi Martinez dari Athletic Bilbao, United – yang musim sebelumnya disalip City oleh selisih gol – langsung menggaet Robin van Persie. Belanja jor-joran mungkin hanya hak istimewa City, Chelsea atau PSG, tapi merekrut pemain yang nantinya akan menjadi kunci suatu klub dengan harga tinggi (tapi pantas) adalah mutlak dilakukan.

Ketika bursa transfer musim panas baru akan berakhir 41 hari lagi – rentang waktu segitu bagi Arsenal bisa berarti terlalu cepat dimana City dan Chelsea dengan jumawa masih bisa merekrut pemain-pemain terbaik Eropa – langkah klub yang bisa membuat suporter mereka sedikit tenang adalah bagaimana klub mampu melepas sejumlah pemain yang telah lama menguras keuangan klub ketika kontribusi mereka begitu minim.

Jika digabungkan dengan pemain-pemain akademi yang mereka rilis, Arsenal hingga saat ini telah melepas 20 pemain. Andre Santos menjadi nama terakhir yang mereka jual setelah kepindahannya ke klub Brazil Flamengo mencapai kata sepakat.

Berikut adalah lima pemain skuat senior yang Arsenal lepas:

Vito Mannone – Sunderland – ₤2 juta

Andre Santos – Flamengo – gratis

Denilson – (masih menganggur) – rilis gratis

Andrey Arshavin – Zenith St. Petersburg – gratis

Sebastién Squillaci – gratis

Johan Djourou – Hamburg SV – dipinjamkan semusim

Francis Coquelin – SC Freiburg – dipinjamkan semusim

Ibarat kutu di rambut legam-panjang Sandra Dewi, selain Mannone keempat orang tersebut menyusahkan klub di berbagai level. Pada bursa transfer Januari silam Arsenal hampir melego Arshavin ke Fulham; klub papan tengah dengan kemampuan skuat yang mampu mengejutkan rimba persaingan EPL, dan terpenting, masih berada di London, mengingat Arshavin yang terlanjur kerasan tinggal di ibukota bersama keluarganya. Apa lacur niat tersebut menjadi gagal karena kesepakatan nilai gaji yang tidak memenuhi standar Arshavin. Dia menjadi nama terakhir skuat Rusia di Euro 2008 yang gagal menunjukkan performa maksimal di EPL setelah Roman Pavlyuchenko (Tottenham Hotspur) dan Yuri Zhirkov (Chelsea).

Squilacci adalah bek dengan pengalaman bermain di final Liga Champions, pula mengoleksi 21 caps bersama timnas Prancis. Benar, lagi-lagi merupakan transfer tipikal Arsene Wenger, tapi setidaknya ia bukan bakat tak terasah Prancis seperti dulu saat Arsenal merekrut Nicolas Anelka. Suporter awalnya merasa sedikit lega ketika klub merekrutnya menjelang kompetisi 2010-11, namun anda takkan mau menyebut nama pria ini di hadapan pendukung Arsenal.

Denilson dan Santos tidak bisa mengulang prestasi sesama pemain Brazil terdahulu – Edu dan Gilberto Silva – di Arsenal. Satu-satunya hal yang paling diingat suporter dari sosok Santos, selain kegemarannya main Instagram dan kesalahan penulisan ‘guys’ menjadi ‘gays’ di Twitter, adalah dua golnya di pertandingan krusial versus Chelsea dan West Bromwich Albion. Sisanya, Santos adalah badut.

‘Padusan’ atau pelepasan pemain bertipe magabut ini tak kalah pentingnya dengan perekrutan pemain baru. Betapa tidak? Simak saja bagaimana Nicklas Bendtner berperilaku. Narablog Arsenal terkemuka, Andrew Mangan (arseblog.com), sampai memopulerkan akronim TGSTEL pada diri pemain asal Denmark tersebut. The Greatest Striker That Ever Lived.

Bukan sebuah sanjungan tentu saja.

Anda ingat saat booming penjualan MP3 player beberapa tahun lalu? Seluruh pedagang di toko elektronik – entah sengaja atau kesalahkaprahan – menjajakan berbagai tipe dan merk MP3 player dengan sebutan ‘iPod’. Para pedagang tersebut mungkin tahu iPod asli berharga puluhan kali lipat lebih mahal dari ‘kotak plastik’ yang mereka jual, dan berharap banyak orang akan kecele dengan harga murah untuk membelinya.

Pada situasi Bendtner, kondisi demikian justru terbalik.

Bendtner tidak tahu ‘pasarannya’ menurun di jagat bursa transfer. Selain perilaku di luar lapangan penuh nilai minus – dari keluar klub malam dengan celana melorot, mengemudi mobil dalam keadaan mabuk – terakhir kali Bendtner mencetak gol bersama klub sudah lebih dari satu tahun lampau. Bukan sebuah catatan yang ingin dilihat oleh klub manapun kala mengincar seorang striker tentu saja. Ironis, saat Eintracht Frankfurt sudah hampir merekrutnya seminggu lalu, negosiasi tersebut menjadi mendek akibat nilai gaji yang tidak Bendtner setujui – tersiar kabar Arsenal sampai berniat turut menyokong sekian persen gaji Bendtner selama beberapa bulan.

Umurnya masih terhitung belia, 25 tahun. Harus ada orang yang mampu menampar Bendtner untuk segera kembali ke dunia nyata dari senandung indah gemerlap selebritas pesepakbola. Lagipula, bermain di Frankfurt bisa menjadi batu loncatan baginya untuk menyatakan comeback. Atau dalam perspektif Bendtner, sebagai pengukuhan statusnya sebagai TGSTEL. Frankfurt bermain di liga yang kini disebut-sebut mengalahkan reputasi Spanyol dan Inggris dari segi ke-kompetitifan. Klub tersebut, mengingat musim lalu berhasil menduduki peringkat 6, berhak berlaga di Liga Eropa.

Namun rupanya Bendtner lebih memilih menghabiskan sisa kontrak di Arsenal meski nantinya tak sekalipun diturunkan. Klub yang tak kalah seksi dengan Frankfurt, Malaga, juga berminat memboyongnya. Namun rupanya hanya angin lalu.

Bendtner bersama Marouane Chamakh dan Gervinho – yang konon kepindahannya ke AS Roma akan diresmikan minggu ini – menjadi nama-nama yang akan ‘dibersihkan’ oleh Arsenal sembil tetap menjaga pandangan mata pada target transfer mereka musim ini.

Masyarakat DIY dan sekitarnya melangsungkan mandi besar dalam ritual padusan menjelang puasa. Arsenal justru melakukannya di tengah-tengah periode puasa mereka. Membersihkan skuat dari ‘kutu-kutu’ tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata. Laiknya kutu, perilaku foya-foya tanpa berkeringat mereka bisa menular pada pemain lain.

[repost] Gedion Zelalem Mencuat Di Waktu Yang Tak Tepat

7
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 20 Agustus 2013

“Lucunya dua tahun lalu saya hanya bisa menontonnya [Jack Wilshere] di layar TV dan kini…”

Kalimat tersebut ditulis Gedion Zelalem lewat akun Twitternya pada 22 Juli lalu sebagai caption untuk fotonya bersama Wilshere di suatu pertandingan pra musim Arsenal. (catatan: tweet tersebut kemudian Zelalum hapus).

https://twitter.com/Gedion34/status/359325443196858368

Jika ia sendiri begitu takjub akan guratan nasib yang ia jalani, begitu pula yang penggemar Arsenal rasai. Pasalnya nama Zelalem, meski telah direkrut klub pertengahan musim lalu, adalah sosok yang teramat asing.

Penggemar lebih tertarik mengikuti kiprah eks Borussia Dortmund Tomas Eisfeld, eks La Masia Hector Bellerin, gelandang serang kuat dan lincah Serge Gnabry, atau bakat lokal Chuba Akpom di jajaran pemain muda potensial yang Arsenal miliki.

Zelalem datang dari tempat yang mustahil membuat namanya diperhatikan oleh banyak orang sebagai pesepakbola berbakat: Amerika Serikat. Penggemar lebih tertarik mengikuti mereka yang direkrut klub dari tempat-tempat dimana sepakbola lazim didengungkan, seperti Eisfeld dan Bellerin.

Bukan hanya itu, postur tubuh Zelalem yang kurus ceking pun secara kasat mata kurang meyakinkan. Ia dinilai terlalu ringkih untuk memulai karir akademi di Arsenal, apalagi untuk bermain di skuat utama.

Pemuda yang baru berusia 16 tahun ini, saat didatangkan ke Shenley Ground langsung menyeruak masuk ke tim U-21, dimana lazimnya seorang pemain seumurannya (ditambah reputasinya yang kurang mentereng) hanya bemain di level U-81.

Rasa penasaran para penggemar pun terjawab saat Arsenal memboyongnya bersama 8 pemain akademi lain dalam rangkaian lawatan klub ke Asia beberapa waktu lalu. Di pertandingan melawan Indonesia, ia sempat menguatkan keraguan penggemar saat dengan mudah dijatuhkan Victor Igbonevo.

Fans, baik yang menyaksikan di stadion maupun lewat TV, lebih mengelu-elukan Akpom, Eisfeld serta Olivier Giroud – yang berhasil menceploskan sepasang gol ke gawang Kurnia Meiga. Namun rupanya penampilan Zelalem bersama skuat inti terus berlanjut hingga laga pra musim terakhir versus Manchester City di saat Akpom harus kembali merapat bersama tim junior.

Sekilas tak ada yang istimewa dari permainan Zelalem. Namun jika penonton mau mengeluarkan sedikit konsentrasi saat melihat caranya bermain, ia – di umurnya yang baru menginjak 16 tahun – sanggup mengeluarkan permainan efektif meski terkadang tak terlihat atraktif.

Zelalem tahu dimana ia harus memosisikan diri saat musuh menguasai bola. Di pertandingan-pertandingan pra musim, ia bisa berada di posisi lowong-bebas-kawalan yang memudahkan barisan pertahanan Arsenal untuk memberinya bola.

Ia tidak menyulitkan rekan setim.

Zelalem juga paham syarat yang mutlak dimiliki gelandang tengah dalam mematikan serangan lawan, yakni kemampuan untuk merebut bola tanpa menjatuhkan diri untuk menekel. Ia sadar, jika ia menjatuhkan diri, kemungkinan tekel tersebut berhasil bisa 50-50, perlu waktu lama bagi seorang pemain untuk kembali bangkit dan mengejar bola yang tak mereka dapatkan saat melakukan tekel gagal tadi sehingga membuat pertahanan tim acak-acakan.

Teristimewa tentu saja kemampuannya melepas passing yang sanggup membelah barisan pertahanan lawan (a defense-splitting pass). Ia, dengan raut polosnya bisa tiba-tiba memberi sodoran bola mendatar yang tak diyakini lawan akan mampu menemui rekan setim.

Wilshere, bakat lain dari Arsenal sampai mengakui keistimewan ini dalam sebuah wawancara,

Dia [Zelalem] mampu melihat kemungkinan melakukan operan disaat pemain lain tidak. Kamu berpikir, ‘dia ngapain, sih?’ dan tiba-tiba seseorang menyambar umpan tersebut. Dia baru berumur 16 dan pemain yang sangat menarik,

 

..Tidak akan memakan waktu lama sebelum akhirnya dia siap. Dia begitu nyaman dengan bola. Dalam sesi latihan pun dia merupakan mimpi buruk untuk dihadapi. Dia menjaga bola darimu dan melindunginya. Posturnya memang tidak besar tapi dia kuat,

..dia pemain bagus untuk masa depan.

Seorang skeptis mungkin akan berkilah, ‘ah, lawannya kan hanya tim-tim lemah’ di saat mereka lupa bahwa satu tahun lalu Zelalem hanya bermain sepakbola bersama rekan-rekannya di Olney GBC Rangers, sebuah akademi sepakbola di Washington. Di laga pra musim yang mencuatkan namanya ini ia bermain dengan pemain-pemain profesional yang lebih dulu malang melintang. Ia juga bermain di hadapan ribuan suporter yang menyajikan gemuruh ketegangan di saat satu tahun lalu hanya bermain dengan iringan sorak sorai para orangtua murid.

Jangan lupakan juga faktor jetlag dan perbedaan iklim yang mungkin baru pertama kali ia hadapi seumur hidup.

Maka sebelum laga kontra Nagoya Grampus Eight pun label ‘Cesc Fabregas selanjutnya’ pun menempel di pundaknya. Kedua pemain selain memiliki postur dan gaya bermain serupa, juga mencuat di umur yang sama, 16 tahun. Zelalem belum lahir saat Arsene Wenger pertama kali menangani Arsenal.

Terkait keputusannya memilih Arsenal, ia menegaskan bahwa gaya bermain Arsenal-lah faktor utama sebagai dasar keputusan tersebut. Dan ketika ditanya apa dia senang dengan keputusannya hijrah menyebrangi Samudra Atlantik ke London, Zelalem menjawab singkat tapi padat – seperti operan pembelah pertahanannya,

Keputusan terbaik dalam hidupku.

Wenger juga mengakui bahwa Zelalem adalah salah satu pemain akademi yang berkembang sangat pesat sepanjang pra musim. Dan baru beberapa hari lalu Wenger mencantumkan nama Zelalem dalam skuat Arsenal di ajang liga Champions di saat pemain akademi lain – yang notabenenya merupakan senior Zelalem – dipinjamkan ke lain klub, seperti Chuks Aneke dan Ignasi Miquel.

Maka kenyataan dan ironi pun menghantam Arsenal. Klub seakan tak bisa berhenti untuk memroduksi bakat-bakat muda lagi ciamik, di saat mereka bisa dengan mudah merubah kebijakan di bursa transfer dan menyegerakan diri menyiapkan skuat sebelum kompetisi baru bergulir.

Durasi 2 1/2 bulan bisa berarti terlalu cepat bagi Arsenal untuk bergerak di bursa transfer di saat klub-klub seperti (tak usah jauh-jauh) Tottenham Hotspur telah memiliki skuat yang kompetitif. Arsenal tidak bisa berkilah bahwa mereka lebih berkonsentrasi ‘membuang’ nama-nama dead wood seperti Marouane Chamakh dan Gervinho karena tetangga mereka pun melakukan hal yang sama (Spurs periode ini telah melepas 18 pemainnya).

Arsenal Rabu nanti akan bertandang ke Turki untuk menghadapi Fenerbahce dalam babak play-off liga Champions, namun Wenger belum juga menyegerakan diri untuk menambal kedangkalan skuatnya. Alih-alih berkonsentrasi dalam drama perekrutan Luis Suarez di saat yang benar-benar Arsenal butuhkan adalah pemain-pemain bertahan.

Poros Ram-Teta (Ramsey dan Arteta) yang musim lalu menjadi kunci Arsenal untuk merebut spot UCL tidak mempunyai pelapis sepadan. Wilshere adalah tipe ‘jack of all trade’ dan ‘master of none’. Wilshere tidak memiliki kesadaran bertahan mumpuni seperti Ramsey (kalimat ini mustahil ditulis 10 bulan lalu). Wilshere juga kalah jauh dengan Santi Cazorla dan Tomas Rosicky sebagai pengisi peran no. 10. Sementara Abou Diaby tetaplah menjadi Abou Diaby dan Francis Coquelin baru saja dipinjamkan ke klub Bundesliga Freiburg.

Maka kengototan Wenger untuk tak segera mencari pelapis pun harus dibayar begitu dini saat Mikel Arteta dinyatakan cedera dan harus absen di awal kompetisi. Hasilnya?

Rekor penampilan buruk Arsenal saat tak diperkuat Arteta kembali berlanjut dan takluk oleh klub berperingkat 15 musim lalu Aston Villa dengan skor 1-3. Di kandangnya sendiri.

Wenger dulu bisa leluasa memoles bakat kasar Fabregas karena skuat yang dia miliki begitu bergizi. Fabregas – di umur begitu belia – bersanding dengan nama-nama seperti Dennis Bergkamp, Thierry Henry, Robert Pires dan Gilberto Silva di atas lapangan. Kini yang Arsenal butuhkan adalah menambal sulam rapuhnya skuat yang mereka punya. Bukan bermain-main dalam mengujicoba pemain tak berpengalaman.

Berpatokan pada susunan pemain lawan Aston Villa, Arsenal hanya memiliki 9 pemain yang siap diturunkan untuk menghadapi Fenerbahce di Sukru Saracoglu Stadium.

SEMBILAN.

Arsenal, jika sebelum menghadapi Fenerbahce sudah merekrut Xabi Alonso atau Alvaro Dominguez atau Benedikt Howedes pun belum boleh menyertakan rekrutan anyar karena pemain tersebut tidak mereka daftarkan ke UEFA kemarin.

Sayang sekali. Zelalem, bocah yang besar di negara yang mengenal ‘football’ sebagai ‘soccer’ dan memiliki darah Ethiopia ini belum bisa berbicara lebih banyak bersama skuat utama Arsenal di kompetisi premium.

Wenger tidak bisa lebih gila lagi jika masih saja ngotot memainkan bakat-bakat tak terasah di saat tekanan suporter padanya sudah sedemikian besar.