Fear and Loathing in Britannia Stadium: Stoke dan Statusnya sebagai Momok Arsenal

debuchy-stokecity

Kemarin, setelah kehabisan ide dalam mencari inspirasi menulis blog ini, saya dibuat haru oleh @ngebadjack dan @uwesgege. Tulisan saya ternyata masih dirindukan dan hibernasi saya dalam menulis di musim lalu benar-benar hal yang tidak bisa diterima. Setelah pada 2013 dan 2014 blog ini mengalami keemasan (terdengar jumawa? Bebaskeun!), tahun lalu saya hanya memproduksi dua tulisan. Ada banyak hal yang berubah secara signifikan pada cara saya menonton sepakbola di dua masa tersebut.

Maafkan jika ini terdengar klise: waktu 24 jam dalam sehari ternyata tidak cukup. Sementara gaya penulisan saya di periode produktif tersebut membutuhkan dedikasi yang tidak sedikit: mendownload banyak pertandingan untuk kemudian menganalisisnya, jejumpalitan dari satu situs ke situs lain, hingga telaten memperhatikan catatan statistik beragam klub dan pemain. Repot memang. Tapi menyenangkan.

Pasca sedikit terpekur saya pun teringat akan nasib tulisan-tulisan saya di bolatotal.com yang kini tak bisa diakses. Hal yang membuat saya akhirnya menerbitkan tulisan-tulisan tersebut ke blog ini, meski ada beberapa yang belum saya terbitkan. Saya sadar bahwa tulisan sepakbola bisa tidak lekang oleh waktu jika memiliki nilai narasi yang baik, dan tulisan bersifat analisis suatu pertandingan tidak  menyediakan garansi ketaklekangan oleh waktu tersebut. Kecuali jika tulisan anda sebagus Hunter S. Thompson atau Iain Macintosh.

(Atau mungkin di dunia ini yang tidak lekang oleh waktu hanyalah kecantikan Henidar Amroe dan Meryl Streep?)

Ramainya dunia kepenulisan sepakbola lokal saya pikir sudah menawarkan itu. Meski status penulis online belum semenjanjikan secara ekonomi seperti di luar sana, kini banyak penulis-penulis sepakbola online yang kemudian membukukan tulisan-tulisannya. Teman-teman tentu familiar dengan tulisan bergaya esai yang dipopulerkan Pandit Football. Ada pula penulis sepakbola yang kini merambah ke topik-topik lain dalam tulisannya, Edward S. Kennedy.

Tatkala menerbitkan ulang tulisan-tulisan lama kemarin hari, saya sadar: betapa cepatnya sepakbola berubah. Arsenal British core yang menjadi tema tulisan saya saat itu kini gaungnya tak lagi terdengar. Salah satu personilnya bahkan menjadi pemain langganan yang tiap pertandingan saya maki: Alex-Oxlade Chamberlain. Betapa busuk dan kacrutnya ia. (Topik ini akan saya ulas secara khusus di lain waktu).

Kita senang memproyeksikan banyak hal. Salah satunya adalah pada bagaimana tim kesayangan kita seharusnya bermain, siapa yang seharusnya tampil sebagai starter, siapa pemain muda yang layak dipromosikan ke skuat utama, dan sebagainya. Pada saat menulis artikel tentang penjualan pemain-pemain Arsenal, siapa yang mengira jika Wenger kemudian mengejutkan kita dengan pembelian Mesut Özil? Sesuatu yang saya harap-harapkan karena sosok Giroud membutuhkan pelayan.

Jeda tiga tahun terlalu panjang dan banyak perubahan yang Arsenal alami secara signifikan. Dua gelar Piala FA sebagai contoh. Contoh lain, mungkin melesatnya karir Hector Bellerin di skuat inti. Siapa, sih, yang bakal menduga bahwa pengganti Sagna bukanlah Debuchy atau Jenkinson? Siapa pula yang bisa menduga bahwa Monreal bisa sebegitu dapat diandalkan, menyisihkan Gibbs?

Siapa pula yang bisa menduga bahwa Diaby ternyata bisa juga Arsenal jual? Meski kemudian bakat masyhurnya, mengakrabi ruang medis karena cedera, kini diwarisi Wilshere. Belakangan bahkan saya menyatakan bahwa selagi Wilshere masih punya ‘nama’ di bursa transfer, kenapa tidak Arsenal jual saja? Tragis, memang, mengingat banyak gooner yang menaruh harapan pada pemuda bengal ini. Tapi menurut saya, sebagai klub besar, Arsenal harus berani menempatkan cara berpikir logis di depan hal-hal sentimentil. Dua musim terakhir, apa highlight Wilshere selain mengajak #kelahi lawan, menciptakan sebutir-dua butir gol cantik, dan memrovokasi fans Tottenh*m di dua parade kemenangan Piala FA?

Tidak ada.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme yang di era 60-an begitu nge-hip pernah bilang,

In football everything is complicated by the presence of the opposite team.

Konsep filsafat oposisi biner menunjukkan tajinya: Laki-laki – perempuan, tua – muda, pandai – bodoh, kaya – papa, kuantitatif – kualitatif, positivisme – empirisisme, dan demi menyangkutkannya dengan tulisan ini: harapan baik – harapan buruk, serta permainan sepakbola cantik – permainan pragmatis.

Dan, ya Tuhan, setelah segenap perubahan-perubahan yang saya jabarkan di atas, kini Arsenal harus menyambangi Brittania Stadium di saat persaingan dengan City dan Leicester sedang ketat-ketatnya.

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai Stoke. Ijinkan saya kembali bercerita. Dulu, waktu kecil, hanya ada tiga hal yang begitu menakutkan di mata saya:

  1. Suzanna,
  2. alunan musik latar di film Pengkhianatan G30S, dan
  3. badut hantu Pennywise

Sosok pertama menjadi pelajaran bagi saya bahwa ternyata keanggunan juga bisa menakutkan. Hal nomor dua, hmm, bagaimana menjelaskannya, ya. Sulit jika anda menontonnya di saat Orde baru telah tumbang. Alunan nadanya begitu merasuk mengintai kesadaran. Ada sisi keberanian kita yang seolah-olah ditonjok oleh nada yang diaransemen oleh Embi C. Noer ini. Terlebih film ini berdurasi lebih dari 3 jam dan saya menontonnya di saat masih rapuh rentan secara psikis. Rentan dalam artian segala sesuatu akan membekas hingga dewasa saat seseorang mengalaminya di masa kecil.

Namun di antara dua hal tadi, badut Pennywise-lah yang kerapkali mengacak-acak tidur saya.

anigif_enhanced-24278-1430791562-16

Tahu, kan? Jenis mimpi buruk yang acapkali kita rasai sebagai manifestasi alam sadar kita sebelum tidur. Bisa mimpi jatuh dari jurang, dikejar-kejar hantu, atau memimpikan gigi kita rontok semua. Lihat gambar di atas. Badut rekaan Stephen Hawking ini sukses hadir di mimpi-mimpi buruk saya. Jadi di balik harapan memimpikan gadis cantik, waktu kecil dulu saya selalu siap jika Pennywise hadir. Tapi ya untuk kemudian merutuki kehadirannya dalam tidur seorang bocah. Asu tenan.

Dan bagi saya, Pennywise sama seperti Stoke. Silakan simak video di bawah:

Perlu saya mengulang narasi permainan ‘kotor’ di video di atas? Saya rasa tidak karena kini Stoke telah berbeda. Apalagi kini dihuni oleh bekas penyandang status “wonderkid”. Tidak hanya satu, melainkan dua pemain: Ibrahim Affelay dan Bojan. Di musim ini pun Stoke begitu perkasa saat tampil di kandang. Chelsea, Man. City dan Man. United dibabat dengan catatan cleansheet (1-0, 2-0, 2-0). Stoke memang selalu tampil buruk di Emirates. Tapi di Britannia Stadium? Arsenal tidak pernah menang di sana dalam enam pertemuan terakhir. Betul-betul momok.

Skema

Meski telah resmi mendapatkan Mohamed Elneny, saya rasa Wenger tidak akan memainkannya nanti malam, mengingat ia baru dua hari berada di London bersama rekan-rekan setimnya. Wenger saya rasa akan kembali menduetkan Flamini dan Ramsey sebagai double pivot.

(Soal Elneny, Arsenal’s Kitchen telah membahasnya dengan baik di sini dan sini).

Kehadiran Flamini penting, asal ia tahu sosoknya penting. Penting dalam hal memroteksi 4 bek Arsenal dan menjaga nafsunya dalam bergegabah melakukan pelanggaran tidak perlu.

Posisi yang saya pikir perlu diperdebatkan adalah mengenai siapa yang seharusnya mengisi sisi kanan Arsenal: Chamberlain atau Campbell? Campbell belakangan tampil ciamik, memang. Visi dan workrate-nya aduhai. Tapi saya rasa perlu ada fokus khusus di sisi kanan karena di sisi inilah Arnautovic beroperasi (ia adalah topskor dan pemberi assist terbanyak Stoke musim ini). Dan Bellerin bisa bermain bagus dalam menyerang, jika saya perhatikan, saat bertandem dengan Ramsey atau Walcott. Bukan dua pemain sebelumnya.

Maka beginilah susunan pemain yang saya harapkan dipasang sebagai starter:

Cech

Bellerin – Mertesacker – Koscielny – Monreal

Flamini – Ramsey

Walcott – Özil – Chamberlain

Giroud

Kenapa Chamberlain? Sederhana. Ia punya kemampuan memanfaatkan pelanggaran lawan sehingga membuahkan tendangan bebas bagi Arsenal. Catatan pelanggaran Stoke musim ini terbilang kecil, 10.2 per laga (urutan ke-13 dari 20 klub EPL), tapi mengingat tensi panas saat kedua tim bertemu dan provokasi suporter kandang, besar kemungkinan pertandingan akan berlangung keras. Dan Stoke punya segudang nyali untuk itu. Apalagi Arsenal musim ini telah memperlihatkan apa yang tidak pernah mereka perlihatkan sebelum kedatangan sang maestro Özil: kemampuan menuai gol dari bola-bola mati. Musim ini Arsenal sanggup menciptakan gol dari situasi ini sebanyak 8 kali (torehan yang sama dengan West Ham dan Chelsea).

Selain sisi kanan yang harus bekerja ekstra keras, hal yang sama juga harus diperlihatkan Flamini-Ramsey. Catatan untuk Ramsey, satu hal yang saya tidak suka dari permainannya adalah bagaimana ia kerapkali melakukan sliding tackle saat merebut bola dari lawan. Bukan apa-apa, saat seorang pemain menjatuhkan diri, tentu ia butuh waktu untuk bangkit. Jika tekel tidak benar-benar bagus (dan ini jarang), permainan akan terhenti karena pelanggaran, atau bola yang tidak terebut tadi akan menguntungkan pemain lawan pembawa bola karena ia telah melepaskan diri dari penjaganya (Ramsey).

Ramsey pun harus menahan diri untuk tidak terlalu jauh berkecimpung dalam penyerangan, agar saat Arsenal kehilangan bola, ia mampu berkoordinasi dengan Flamini dalam menutup pergerakan pemain Stoke. Baru jika dirasa perlu, Ramsey bisa memanfaatkan lowongnya pertahanan lawan untuk kemudian merengsek masuk dan melakukan shoot. Tapi itupun sekali-dua kali saja.

Beruntung, Xherdan Shaqiri dipastikan absen nanti malam (dan saya tidak habis pikir bagaimana Stoke bisa membeli pemain ini dari Bayern München), juga gelandang-merangkap-pegulat Geoff Cameron. Jika situs Whoscored memrediksi Stoke akan memasang Glenn Whelan dan Affelay sebagai poros lini tengah, saya tidak yakin karena Charlie Adam dirasa pas. Pas dalam merovokasi pemain kita lewat gaya bermainnya. Mungkin Mark Hughes sependapat dengan saya. Stoke sudah cukup berbahaya tanpa kehadiran Shaqiri dengan trio Arnautovic, Bojan, dan Jonathan Walters.

Peran Giroud sebagai petarung dalam merebut bola-bola lambung juga akan kita nikmati. Kita bisa menaruh harapan besar padanya berkat rekor positifnya akhir-akhir ini: 11 gol berhasil ia ceploskan dari 11 laga yang dijalani.

Untuk menaksir kemenangan, rasa-rasanya kok sulit. Tapi saya sudah memperingatkan, Stoke adalah momok. Jika hal itu pula yang sama-sama dirasai pemain-pemain Arsenal, cara untuk menghadapinya adalah memacu motivasi untuk kembali mengangkangi Leicester City dan Man. City, memupus rekor buruk Britannia Stadium, dan bangkit dari hasil imbang kontra Liverpool kemarin.

Apalagi setelahnya kita akan menghadapi momok yang lain:

Chelsea.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s