[repost] Gedion Zelalem Mencuat Di Waktu Yang Tak Tepat

7
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 20 Agustus 2013

“Lucunya dua tahun lalu saya hanya bisa menontonnya [Jack Wilshere] di layar TV dan kini…”

Kalimat tersebut ditulis Gedion Zelalem lewat akun Twitternya pada 22 Juli lalu sebagai caption untuk fotonya bersama Wilshere di suatu pertandingan pra musim Arsenal. (catatan: tweet tersebut kemudian Zelalum hapus).

https://twitter.com/Gedion34/status/359325443196858368

Jika ia sendiri begitu takjub akan guratan nasib yang ia jalani, begitu pula yang penggemar Arsenal rasai. Pasalnya nama Zelalem, meski telah direkrut klub pertengahan musim lalu, adalah sosok yang teramat asing.

Penggemar lebih tertarik mengikuti kiprah eks Borussia Dortmund Tomas Eisfeld, eks La Masia Hector Bellerin, gelandang serang kuat dan lincah Serge Gnabry, atau bakat lokal Chuba Akpom di jajaran pemain muda potensial yang Arsenal miliki.

Zelalem datang dari tempat yang mustahil membuat namanya diperhatikan oleh banyak orang sebagai pesepakbola berbakat: Amerika Serikat. Penggemar lebih tertarik mengikuti mereka yang direkrut klub dari tempat-tempat dimana sepakbola lazim didengungkan, seperti Eisfeld dan Bellerin.

Bukan hanya itu, postur tubuh Zelalem yang kurus ceking pun secara kasat mata kurang meyakinkan. Ia dinilai terlalu ringkih untuk memulai karir akademi di Arsenal, apalagi untuk bermain di skuat utama.

Pemuda yang baru berusia 16 tahun ini, saat didatangkan ke Shenley Ground langsung menyeruak masuk ke tim U-21, dimana lazimnya seorang pemain seumurannya (ditambah reputasinya yang kurang mentereng) hanya bemain di level U-81.

Rasa penasaran para penggemar pun terjawab saat Arsenal memboyongnya bersama 8 pemain akademi lain dalam rangkaian lawatan klub ke Asia beberapa waktu lalu. Di pertandingan melawan Indonesia, ia sempat menguatkan keraguan penggemar saat dengan mudah dijatuhkan Victor Igbonevo.

Fans, baik yang menyaksikan di stadion maupun lewat TV, lebih mengelu-elukan Akpom, Eisfeld serta Olivier Giroud – yang berhasil menceploskan sepasang gol ke gawang Kurnia Meiga. Namun rupanya penampilan Zelalem bersama skuat inti terus berlanjut hingga laga pra musim terakhir versus Manchester City di saat Akpom harus kembali merapat bersama tim junior.

Sekilas tak ada yang istimewa dari permainan Zelalem. Namun jika penonton mau mengeluarkan sedikit konsentrasi saat melihat caranya bermain, ia – di umurnya yang baru menginjak 16 tahun – sanggup mengeluarkan permainan efektif meski terkadang tak terlihat atraktif.

Zelalem tahu dimana ia harus memosisikan diri saat musuh menguasai bola. Di pertandingan-pertandingan pra musim, ia bisa berada di posisi lowong-bebas-kawalan yang memudahkan barisan pertahanan Arsenal untuk memberinya bola.

Ia tidak menyulitkan rekan setim.

Zelalem juga paham syarat yang mutlak dimiliki gelandang tengah dalam mematikan serangan lawan, yakni kemampuan untuk merebut bola tanpa menjatuhkan diri untuk menekel. Ia sadar, jika ia menjatuhkan diri, kemungkinan tekel tersebut berhasil bisa 50-50, perlu waktu lama bagi seorang pemain untuk kembali bangkit dan mengejar bola yang tak mereka dapatkan saat melakukan tekel gagal tadi sehingga membuat pertahanan tim acak-acakan.

Teristimewa tentu saja kemampuannya melepas passing yang sanggup membelah barisan pertahanan lawan (a defense-splitting pass). Ia, dengan raut polosnya bisa tiba-tiba memberi sodoran bola mendatar yang tak diyakini lawan akan mampu menemui rekan setim.

Wilshere, bakat lain dari Arsenal sampai mengakui keistimewan ini dalam sebuah wawancara,

Dia [Zelalem] mampu melihat kemungkinan melakukan operan disaat pemain lain tidak. Kamu berpikir, ‘dia ngapain, sih?’ dan tiba-tiba seseorang menyambar umpan tersebut. Dia baru berumur 16 dan pemain yang sangat menarik,

 

..Tidak akan memakan waktu lama sebelum akhirnya dia siap. Dia begitu nyaman dengan bola. Dalam sesi latihan pun dia merupakan mimpi buruk untuk dihadapi. Dia menjaga bola darimu dan melindunginya. Posturnya memang tidak besar tapi dia kuat,

..dia pemain bagus untuk masa depan.

Seorang skeptis mungkin akan berkilah, ‘ah, lawannya kan hanya tim-tim lemah’ di saat mereka lupa bahwa satu tahun lalu Zelalem hanya bermain sepakbola bersama rekan-rekannya di Olney GBC Rangers, sebuah akademi sepakbola di Washington. Di laga pra musim yang mencuatkan namanya ini ia bermain dengan pemain-pemain profesional yang lebih dulu malang melintang. Ia juga bermain di hadapan ribuan suporter yang menyajikan gemuruh ketegangan di saat satu tahun lalu hanya bermain dengan iringan sorak sorai para orangtua murid.

Jangan lupakan juga faktor jetlag dan perbedaan iklim yang mungkin baru pertama kali ia hadapi seumur hidup.

Maka sebelum laga kontra Nagoya Grampus Eight pun label ‘Cesc Fabregas selanjutnya’ pun menempel di pundaknya. Kedua pemain selain memiliki postur dan gaya bermain serupa, juga mencuat di umur yang sama, 16 tahun. Zelalem belum lahir saat Arsene Wenger pertama kali menangani Arsenal.

Terkait keputusannya memilih Arsenal, ia menegaskan bahwa gaya bermain Arsenal-lah faktor utama sebagai dasar keputusan tersebut. Dan ketika ditanya apa dia senang dengan keputusannya hijrah menyebrangi Samudra Atlantik ke London, Zelalem menjawab singkat tapi padat – seperti operan pembelah pertahanannya,

Keputusan terbaik dalam hidupku.

Wenger juga mengakui bahwa Zelalem adalah salah satu pemain akademi yang berkembang sangat pesat sepanjang pra musim. Dan baru beberapa hari lalu Wenger mencantumkan nama Zelalem dalam skuat Arsenal di ajang liga Champions di saat pemain akademi lain – yang notabenenya merupakan senior Zelalem – dipinjamkan ke lain klub, seperti Chuks Aneke dan Ignasi Miquel.

Maka kenyataan dan ironi pun menghantam Arsenal. Klub seakan tak bisa berhenti untuk memroduksi bakat-bakat muda lagi ciamik, di saat mereka bisa dengan mudah merubah kebijakan di bursa transfer dan menyegerakan diri menyiapkan skuat sebelum kompetisi baru bergulir.

Durasi 2 1/2 bulan bisa berarti terlalu cepat bagi Arsenal untuk bergerak di bursa transfer di saat klub-klub seperti (tak usah jauh-jauh) Tottenham Hotspur telah memiliki skuat yang kompetitif. Arsenal tidak bisa berkilah bahwa mereka lebih berkonsentrasi ‘membuang’ nama-nama dead wood seperti Marouane Chamakh dan Gervinho karena tetangga mereka pun melakukan hal yang sama (Spurs periode ini telah melepas 18 pemainnya).

Arsenal Rabu nanti akan bertandang ke Turki untuk menghadapi Fenerbahce dalam babak play-off liga Champions, namun Wenger belum juga menyegerakan diri untuk menambal kedangkalan skuatnya. Alih-alih berkonsentrasi dalam drama perekrutan Luis Suarez di saat yang benar-benar Arsenal butuhkan adalah pemain-pemain bertahan.

Poros Ram-Teta (Ramsey dan Arteta) yang musim lalu menjadi kunci Arsenal untuk merebut spot UCL tidak mempunyai pelapis sepadan. Wilshere adalah tipe ‘jack of all trade’ dan ‘master of none’. Wilshere tidak memiliki kesadaran bertahan mumpuni seperti Ramsey (kalimat ini mustahil ditulis 10 bulan lalu). Wilshere juga kalah jauh dengan Santi Cazorla dan Tomas Rosicky sebagai pengisi peran no. 10. Sementara Abou Diaby tetaplah menjadi Abou Diaby dan Francis Coquelin baru saja dipinjamkan ke klub Bundesliga Freiburg.

Maka kengototan Wenger untuk tak segera mencari pelapis pun harus dibayar begitu dini saat Mikel Arteta dinyatakan cedera dan harus absen di awal kompetisi. Hasilnya?

Rekor penampilan buruk Arsenal saat tak diperkuat Arteta kembali berlanjut dan takluk oleh klub berperingkat 15 musim lalu Aston Villa dengan skor 1-3. Di kandangnya sendiri.

Wenger dulu bisa leluasa memoles bakat kasar Fabregas karena skuat yang dia miliki begitu bergizi. Fabregas – di umur begitu belia – bersanding dengan nama-nama seperti Dennis Bergkamp, Thierry Henry, Robert Pires dan Gilberto Silva di atas lapangan. Kini yang Arsenal butuhkan adalah menambal sulam rapuhnya skuat yang mereka punya. Bukan bermain-main dalam mengujicoba pemain tak berpengalaman.

Berpatokan pada susunan pemain lawan Aston Villa, Arsenal hanya memiliki 9 pemain yang siap diturunkan untuk menghadapi Fenerbahce di Sukru Saracoglu Stadium.

SEMBILAN.

Arsenal, jika sebelum menghadapi Fenerbahce sudah merekrut Xabi Alonso atau Alvaro Dominguez atau Benedikt Howedes pun belum boleh menyertakan rekrutan anyar karena pemain tersebut tidak mereka daftarkan ke UEFA kemarin.

Sayang sekali. Zelalem, bocah yang besar di negara yang mengenal ‘football’ sebagai ‘soccer’ dan memiliki darah Ethiopia ini belum bisa berbicara lebih banyak bersama skuat utama Arsenal di kompetisi premium.

Wenger tidak bisa lebih gila lagi jika masih saja ngotot memainkan bakat-bakat tak terasah di saat tekanan suporter padanya sudah sedemikian besar.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s