[repost] Luis Suarez dan Tony Pulis: Antara Cinta dan Benci

5
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 27 April 2013

Saya mohon maaf pada Branislav Ivanovic dan dunia sepakbola pada umumnya atas kelakuan saya semalam. Sungguh..

Namanya Luis Suarez. Publik Anfield, kawasan tepi sungai Mersey menjulukinya El Pistolero: merujuk pada kemahirannya mencetak gol ke gawang lawan. Laiknya keterampilan para koboi di film-film Spaghetti Western klasik menggunakan pistol. Dus, tidak perlu dijabarkan lagi bagaimana Suarez berkali-kali menyelamatkan anak-anak Brendan Rogers. Singkat kata, dia adalah striker komplit; dari kepala, kaki, kemampuan melakukan tendangan bebas, menusuk masuk kotak pinalti, hingga melepas assist. Definisi mutlak atas apa yang penulis sepakbola bilang ‘versatile’.

Suarez adalah pemenang. Setidaknya ia selalu menunjukkan di atas lapangan sikap enggan untuk kalah. Kalah sama dengan pecundang dan tugasnyalah untuk menghindari kekalahan: mencetak gol sebanyak-banyaknya. Talenta ini dia tunjukkan bahkan sejak pertama kali tampil sebagai pemain pengganti di pertandingan pertamanya untuk Urreta di Uruguay: membalikkan keadaan dari tertinggal dua gol menjadi 3-2. Semua gol dicetak oleh pemain berusia 9 tahun yang baru datang dari Salto, kota penghasil mate – semacam jamu khas Amerika Latin.

Liverpool, Kenny Dalglish maupun Damien Comolli tentu paham saat merekrutnya dari Ajax pada 2011 lalu, Suarez tidak hanya spektakuler di atas lapangan tapi juga punya kecenderungan melakukan hal-hal di luar nalar. Menanduk wasit, melecehkan pemain lawan, diving, meninju bola guna mencegah kebobolan, hingga menggigit pemain lawan.

Seperti Marco van Basten – pelatihnya di Ajax bilang,

Luis is unpredictable, he’s hard to influence but that makes him special.

Luis Suarez dan kontroversi adalah dua sisi mata uang. A handsome devil.

Liverpool dan paguyuban luar biasa suporternya pernah membelanya habis-habisan saat pemain ini didakwa melakukan pelecehan berbau rasis pada Patrice Evra, yang kebetulan pemain Manchester United, salah satu rival terbesar mereka. Betapa sentimentilnya kasus ini hingga kemudian banyak yang menuduh bahwa vonis larangan bermain sebanyak delapan laga adalah sebuah konspirasi FA dan David Gill – chairman FA yang kebetulan juga menjabat chairman di  Manchester United.

Klub saat itu bahkan sampai membuat kaus khusus “Support Suarez” yang dipakai di berbagai kesempatan. Belum lagi puluhan artikel yang menguliti – setidaknya menurut mereka – ketidakadilah terhadap Suarez. Ironis mengingat otoritas sepakbola FIFA dan khalayak sepakbola mengutuk keras tindakan rasisme. Maka tak heran kini pendukung Liverpool pun mulai jengah atas tindakan Suarez yang merugikan klub. Untuk klub yang terkenal melahirkan pemain-pemain bertipe ‘gentleman’ seperti John Barnes, Ian Rush hingga Robbie Fowler, memiliki pemain banyak polah seperti Suarez adalah sebuah hal aneh. Ditambah lagi mereka adalah klub yang menghargai tradisi, yang hingga kini masih memertahankan suasana interior ruang ganti jaman Bill Shankly di Anfield, sebagai contoh.

Dari sisi lain Inggris cerita datang dari klub tertua EPL, Stoke City dan pelatihnya Tony Pulis. Stoke dan Tony Pulis tidak bisa dipisahkan mengingat bagaimana romantisme kebrutalan sepakbola tahun 80-an secara gamblang mereka praktekkan. Jika penasaran seperti apa sepakbola sebelum era Premier League, tonton permainan Stoke City.

Mengutip kolumnis majalah World Soccer, Paul Gardner:

Dalam 20 tahun masa kepelatihannya, Pulis belum memenangi apapun. Siapapun yang melihat tim Stoke asuhannya bermain akan senang jika fakta itu terus berlanjut. Suatu hal yang mustahil memahami pemikiran Pulis dalam memilih gaya bermain seperti itu. Apapun namanya, gaya itu jauh dari slogan FIFA, ‘Beautiful Game’.

Lebih lanjut Gardner menjelaskan bagaimana Pulis dengan sengaja memilih pemain-pemain dengan postur seukuran troll, manusia Neanderthal atau apapun perbandingannya: rata-rata tinggi pemain mereka 1,82 meter. Tidak ada pemain dengan intelejensia ala Spanyol atau Amerika Latin. Mereka memainkan kick and rush dengan arti sebenarnya: tendang pantat lawan, hajar bola hingga ke depan, lalu sundul atau apapun itu asal bola masuk gawang.

Hingga kini Stoke berhasil unggul dalam aspek yang mendukung opini Gardner di atas. Mereka memimpin rataan pelanggaran dengan 13.1 pelanggaran/laga. Juga memimpin jumawa di antara klub lain dalam perolehan kartu kuning/merah: 67/3. Dalam setiap laga mereka tercatat hanya berhasil melakukan rata-rata 4.1 dribel sukses. Bandingkan dengan Arsenal (10.9) dan klub dengan peringkat di bawah mereka, Wigan (6.9).

Meski begitu Stoke sempat mencatat hasil impresif di paruh pertama musim ini. Mereka hanya mengalami tiga kekalahan dengan torehan 9 kali cleansheet dan 21 kebobolan dari 20 pertandingan. Namun semua berubah memasuki Januari, dimana sejak itu mereka mengalami 10 kekalahan dari 14 pertandingan. Meraih poin sama dengan Newcastle, 37, dan bersama Aston Villa dan Wigan membuat duel zona degradasi semakin panas.

Berbeda dengan Alain Pardeaux, maaf, Alan Pardew yang sepertinya tidak mendapat kecaman dari pendukungnya, posisi Pulis sebaliknya. Masyarakat Stoke yang mulia mulai berteriak menuntut pemecatan dirinya dari Britannia Stadium. Padahal keberhasilan Stoke bertahan di rimba EPL tidak lain berkat jasanya yang berhasil membawa Stoke kembali mengarungi liga teratas Inggris per musim 2008/09.

Pulis berhasil membawa Stoke kembali ke kompetisi utama sepakbola Inggris yang terakhir Stoke nikmati lebih dari 20 tahun sebelumnya. Apalagi dua musim lalu dia membawa Stoke melaju ke final Piala FA, yang meski dikandaskan Manchester City, tetap berhak melanglang buana di kompetisi Eropa musim 2011/12. Bayangkan: sepakbola yang orang sebut primitif dan klub yang prestasi terbaiknya hanyalah raihan Piala Liga tahun 1972 mengarungi petualangan di kota-kota obscured  Eropa. Penggemar tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang bagaimana permainan mereka ‘merusak’ wajah sepakbola.

Bagi penggemar, Tony Pulis adalah berkah dan kesatuan. A gift that keeps on giving.

Namun itu berubah. Kini nama-nama seperti Harry Redknapp maupun Martin O’Neill mulai diperhitungkan, atau diharapkan menjadi pengganti Pulis.

Everyone smokes: you only look cool when you don’t follow the hype

George Orwell, satiris pengarang 1984 dan Animal Farm pernah bilang,

Football has nothing to do with fair play. It is bound up with hatred, jealousy, boastfulness, disegard of all rules and sadistic pleasure in witnessing violence: in other words it is war minus the shooting.

Tony Pulis mempunyai kemampuan intimidasi ala sore losers. Bagaimana dia seperti merasa tak bersalah selepas insiden Shawcross mematahkan kaki Ramsey tiga tahun silam – padahal pada 2007 bek bekas binaan akademi United itu juga mencederai kaki Francis Jeffers. Atau saat dia menyerang pemain-pemain lincah nan jenius seperti Oscar dan (lagi-lagi kebetulan) Suarez, bahwa pemain seperti ini hanya merusak sepakbola dengan terus berusaha melakukan diving. Tak lupa saat dia menyerang klub yang beroperasi dengan dana transfer tanpa limit, padahal catatan pembelian Pulis tidak bisa dibilang rendah.

Roberto Martinez, pelatih Wigan, sering dipuja banyak penggemar. Mengingat keberhasilannya yang secara konsisten mampu mengombinasikan Spain connection, permainan cantik dan bujet terbatas untuk membawa Wigan tetap berada di EPL. New York Times bahkan menyebut gaya permainan anak-anak The Latics: ‘Barcelona in disguise’.

Namun sejauh mana pun masturbasi intelektual para hipster sepakbola kala memainkan Wigan di Football Manager, di dunia nyata Stoke asuhan Pulis dengan segala kebrutalannya mampu mengangkangi Wigan di ujung kompetisi EPL.

Tabel di bawah adalah catatan peringkat akhir klasemen kedua klub sejak Martinez menukangi Wigan:

Musim kompetisi Stoke City Wigan Athletic
2009/2010 11 16
2010/2011 13 16
2011/2012 14 15

Football is always about the final result, mind you.

Suarez, yang sebelumnya diramalkan mampu mengakhiri musim ini dengan gelar top skor harus mengakhiri musim lebih cepat. FA mengeluarkan larangan tampil sebanyak 10 pertandingan untuk pemain yang paling dibenci masyarakat Ghana ini. Serta merta banyak pihak mulai meragukan masa depannya di EPL bersama Liverpool. Beberapa penggila serie A bahkan bilang sosok ‘menghibur’ seperti Suarez sangat cocok dengan iklim sepakbola Italia yang penuh intrik dan drama. Proyek baru Pep Guardiola di Bayern Muenchen juga terlihat berminat merekrutnya.

EPL musim depan setidaknya akan kehilangan sosok badut seperti Pulis dan Suarez. Yang tersisa hanyalah sepakbola yang dimainkan dengan pesona nirwana oleh Swansea, Southampton, Arsenal maupun Manchester United: penuh operan satu-dua cepat, skill individu mumpuni dan pemain antah berantah yang tetiba menonjol seperti Michu, Gaston Ramirez, Morgan Schneiderlin, Joe Allen, dst dst.

Nanti dulu.

Semua orang, bak pria dan wanita kini sepertinya merokok. Anda merokok supaya terlihat keren? Anda terlihat keren hanya dan jika anda berbeda dari orang kebanyakan.

Sejarawan sekaligus ahli taktik sepakbola Jonathan Wilson dengan tegas menyanggah bahwa jika dibandingkan permainan anak-anak The Crazy Gang Wimbledon, permainan Stoke tidak sebrutal itu. Meski saya mendukung penuh peraturan yang menghukum tegas tindakan keras di atas lapangan, apa yang Pulis lakukan setidaknya memberi warna tersendiri bagi EPL.

Kutipan Orwell di atas mungkin keluar dari mulutnya beberapa puluh tahun sebelum era Premiership, tapi bukankah benturan fisik yang membuat olahraga ini berbeda dengan bulutangkis atau voli, misalnya? Benturan fisik yang terlampau keras akan menghasilkan pelanggaran. Pihak yang dilanggar mendapat keuntungan sebuah tendangan bebas. Dan dengan ini pula kita bisa melihat bagaimana sosok seperti David Beckham dan Gareth Bale melengkungkan laju bola menuju gawang.

You lose some, you get some.

Apalagi mulai musim depan EPL akan menggunakan teknologi Hawk Eye, sebuah layanan teknologi video rekaman ulang. Terlepas bagaimana pengaplikasiannya di atas lapangan, kita bisa berharap kejadian seperti kasus patahnya kaki Ramsey akan dipelajari dan pelakunya dijatuhi hukuman berat. Hal ini membuat kita penasaran: pendekatan macam apa yang akan dilakukan Pulis bersama Stoke?

Luis Suarez pun sedemikian. Usianya baru menginjak 26, bersama Brendan Rogers dan Steven Gerrard kini sedang memulai sebuah usaha revolusi di Liverpool. Gerrard sudah di ujung karir, Carragher pun baru-baru ini menyatakan pensiun. Suarez sejatinya pantas untuk memimpin anak-anak muda Liverpool hingga beberapa musim ke depan.

Yang membuat olahraga ini begitu populer adalah hal-hal menghibur yang terjadi baik di dalam maupun luar stadion. Pesona komersialisasi EPL dengan jaringan TV kabel dalam skala global. Saya mengamini pendapat Jamie Carragher. EPL jangan sampai kehilangan pesonanya seperti saat mereka kehilangan Cristiano Ronaldo dan Cesc Fabregas – bahkan sebelum mereka benar-benar mekar. Jangan juga kita melupakan perginya Mario Balotelli, sang penjual headline.

Tulisan ini dibuat bukan untuk membela tindakan Suarez. Ditambah dengan reputasinya di mata FA sebelumnya, menggigit tidak dibenarkan dalam sepakbola. Namun jika memang Liverpool melepasnya musim panas nanti, penulis berharap reputasi United sebagai pembajak pemain andalan dari klub rival (Berbatov dan van Persie) kembali terulang. Bisa dibayangkan saat kedua klub bertemu musim depan?

EPL adalah surga bagi para fetish sportstainment. Di beberapa pekan terakhir kita menyaksikan bagaimana Paulo di Canio – yang juga mempunyai reputasi sebagai badut – tidak hanya menyelamatkan Sunderland, tapi juga menyuguhi kita hiburan tersendiri dengan selebrasi penuh passion di sisi lapangan. Musim depan kita juga dipastikan dapat menyaksikan derby Wales setelah Cardiff City memastikan promosi. Ditambah rumor kencang yang menyatakan kembalinya Mourinho, insting imajinasi saya membayangkan adu mulut antara Pulis v Mou atau di Canio v Pulis, baik dalam wawancara ataupun konfrontasi terbuka di sisi lapangan.

Bisa dibayangkan bagaimana serunya EPL musim depan?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s