[repost] Rapor Arsenal British Core 2013 (bagian II)

2a
*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 19 Juni 2013

Salah satu periode terpenting Steve Jobs bersama Apple adalah saat Jef Raskin berhasil meyakinkan Jobs agar mau mengunjungi pusat penelitian milik Xerox bernama PARC di Palo Alto. Di film atau buku dijelaskan bagaimana kontrak kerjasama Xerox dengan Apple yang awalnya terlihat menguntungkan Xerox menjadi apa yang praktisi bisnis sebut, ‘pencurian ide terhebat abat 21’.

Jobs setuju dengan tawaran Xerox membeli 100.000 lembar saham Apple asal perusahaan tersebut mengijinkan Jobs bersama timnya – yang kala itu sedang mengembangkan proyek ketiga (Lisa) dan keempat (Macintosh) – melihat teknologi yang sedang mereka kembangkan. Produk dalam kain penutup yang sejatinya masih berupa blueprint tersebut pun disibak, salah dua ide yang dicuri Jobs adalah disain antarmuka (graphic interface) dan prototype mouse.

Yang luput dari perhatian masyarakat adalah bagaimana falsafah salah satu ilmuwan PARC, Alan Kay, menginspirasi Jobs hingga di kemudian hari. Kay di mata para pengembang komputer era itu terkenal dengan kata-katanya, “cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri.” Selama beberapa dekade Apple berhasil merubah paradigma perilaku masyarakat modern terhadap teknologi. Mereka mengembangkan komputer pribadi (PC), komputer tablet, teknologi layar sentuh hingga industri musik lingkup global lewat iPod dan iTunes.

Steve Jobs bersama Apple telah mencuri masa depan. Billy Beane, general manager klub baseball Oakland Athletic yang terkenal dengan filosofi moneyball-nya adalah pemuja Arsene Wenger. Dari laporan Simon Kuper di situs Financial Times Beane berkata, “I think what Wenger tries to do is pay for future performance … it’s an inexact science, so you’re not going to get it right every time.”

Life’s hit and miss. Generasi muda Eropa daratan (Spanyol dan Prancis) yang Wenger bina tidak berjalan dengan baik dari segi pencapaian prestasi. Sementara Wenger (mungkin) menyadari akar Inggris warisan George Graham serta perekrutan brilian Bruce Rioch (Dennis Bergkamp) adalah satu dari sekian fondasi awal kesuksesannya di Arsenal.

Alan Hansen, komentator sepakbola bekas kapten Liverpool pernah mengeluarkan kalimat yang seharusnya ia sesali di sisa hidupnya. “You can’t win anything with kids,” ujarnya kala Manchester United dikalahkan Aston Villa 1-3 di pertandingan pembuka musim 1995/96. Fergie kala itu menjual 3 pemain seniornya: Paul Ince, Andrei Kanchelskis dan Mark Hughes tanpa merekrut pengganti yang sepadan. Di pertandingan itu ia menurunkan 5 bocah Inggris yang kelak kita kenal dengan sebutan Fergie’s Fledglings. Kelimanya – Phil/Gary Neville, Nicky Butt, Paul Scholes dan David Beckham – menjadi tulang punggung bagi kesuksesan klub dengan rentang waktu lama. Menjadi 6 pemain karena di pertandingan itu Ryan Giggs tidak masuk dalam skuat.

Masalahnya, Hansen ketika menjadi pemain pernah dikalahkan oleh tim yang didominasi oleh anak-anak muda. Pengalaman ternyata tidak memberinya pelajaran. Hansen, kapten Liverpool berusia 31 tahun dikalahkan Arsenal di final Piala Liga Littlewoods (kini bernama Capital One Cup) 1986/87. Rataan usia skuat Arsenal saat itu adalah 23.92 tahun sedangkan Liverpool 26.92. Dalam skuat Arsenal arahan George Graham itu hanya David O’Leary dan Viv Anderson yang pernah memenangi gelar kompetitif. Bukan hanya sekali, Hansen kembali “ditampar” 2 musim setelahnya saat – lagi-lagi klub yang sama – Arsenal merebut gelar liga 1988/89 di pertandingan terakhir musim itu. Arsenal harus menang dengan selisih 2 gol jika ingin merebut gelar liga dan dengan dramatis mampu meraihnya di Anfield. Kumpulan bocah Paul Merson, Michael Thomas (21 tahun), Tony Adams, David Rocastle (22) dan Martin Hayes (23) mengalahkan Liverpool yang dihuni pemain berpengalaman seperti John Barnes (25), Steve McMahon, Ian Rush (27), Bruce Grobbelaar (32) dan Hansen yang saat itu berumur 34 tahun. Ingat, Liverpool saat itu begitu dominan di Inggris dan Eropa. Target harus menang 2 gol di kandang mereka adalah hal yang sulit terwujud.

Namun tidak ada yang mustahil dalam sepakbola, Hansen. Seharusnya sebagai komentator televisi Hansen bisa lebih bijaksana dalam mengeluarkan pendapat. Apalagi ini merupakan hal yang sebenarnya ia alami dan ketahui betul.

Di akhir musim 1995/96,  skuat yang ia nilai “tidak-akan-pernah-memenangi-apapun” itu justru meraih gelar ganda, Liga Inggris dan Piala FA – yang ironisnya diraih United dengan mengalahkan bekas klub Hansen, Liverpool.

Alex Oxlade-Chamberlain

2b

Jika penggemar berkilah bahwa penghematan yang klub lakukan adalah buah dari pembangunan stadion, itu tidak sepenuhnya benar. Fakta berbicara, sejak ditangani Arsene Wenger klub ibukota tersebut tidak pernah melakukan pembelian pemain dengan harga fantastis. Hingga detik ini rekor transfer termahal sepanjang masa Arsenal ‘hanya’ berada di angka £14,500,000 saat mereka merekrut Andrei Arshavin dari Zenit St. Petersburg. Sangat rendah dibandingkan rekor transfer Liverpool, United apalagi Chelsea dan Manchester City.

Maka ketika Arsenal merekrut Alex Oxlade-Chamberlain dari Southampton dengan harga 12 juta poundsterling (7 juta di muka) jelang musim 2011/12, tidak sedikit yang kaget. Arsenal lagi-lagi merekrut bakat muda yang belum teruji di kompetisi tertinggi Premiership. “Jubir” fans Arsenal dunia Twitter, Piers Morgan, mengilustrasikan perekrutan Chamberlain, “Wenger signing ANOTHER kid for big money? When will he realise we need experienced defence,  not more young strikers? #Arsenal #Chamberlain.”

Ironisnya, Chamberlain (dan Wilshere) menjadi dua nama yang dielukan masyarakat Inggris terkait masa depan timnas dalam menyongsong Brazil 2014 beberapa minggu terakhir.

Chamberlain adalah putra dari legenda Inggris Mark Chamberlain. “Release the Ox!” – sebuah seruan dari Gunners ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir. Ox dalam bahasa Indonesia mempunyai arti lembu, hewan dengan struktur tubuh kekar dan bertanduk. Fisik Chamberlain sesuai dengan julukannya, kekar dan liat.

Chamberlain berusia 19 tahun dan menjadi pemain termuda di jajaran Arsenal British Core. Seperti Walcott – yang juga berasal dari akademi Southampton – Chamberlain langsung dihargai debut kompetisi internasional oleh pelatih timnas setelah bergabung dengan Arsenal. Yang jadi pembeda, Chamberlain lebih dulu mencicipi arena Premiership dan Liga Champions dibanding Walcott yang saat itu belum sekali pun dimainkan oleh Arsenal di liga.

Chambo, panggilan akrabnya, menjalani musim perdana di tim yang baru saja kehilangan tiga pemain kreatif: Samir Nasri dan Cesc Fabregas yang dijual serta Jack Wilshere yang mengalami cedera panjang. Sejatinya Chamberlain bukanlah pemain bertipe kreatif; pemain yang konstan membuka ruang atau peluang, memberi umpan-umpan pembelah barisan pertahanan atau kemampuan dribel yang membuat bola terlihat seolah-olah lengket di kaki. Permainan Chambo, di usia yang masih belia, tergambarkan secara lengkap saat Arsenal menang atas AC Milan 3-0 di Liga Champions 2011/12.

Menggiring bola menuju kotak penalti, Milan sampai harus menghentikannya lewat 2 pemain, Thiago Silva dan Djamel Mesbah. Penalti dianugrahi wasit dan van Persie tidak melewatkan kesempatan tersebut. Beberapa lupa memberi kredit pada Chamberlain. Ia tidak melakukan hal-hal ajaib dalam 90 menit. Tapi ketika mendapat momen sekian detik untuk berkontribusi, Chambo tak ragu untuk melakukannya.

Di musim 2012/13, saat Chamberlain menjadi starter Wenger selalu menempatkannya di sayap dalam formasi 4-3-3. Seperti di tulisan sebelumnya, gaya bermainnya tidak seperti sayap murni dan – seperti Walcott – menyulitkan Sagna. Di 25 laga EPL yang ia jalani, Chamberlain hanya mampu melepas 7 umpan silang yang sukses menemui rekan. Sisa 51 umpan silang terbuang sia-sia. Kekuatannya terletak pada kemampuan mendobrak pertahanan lawan lewat dribel dan melepas tendangan langsung dari luar kotak penalti. Kedua golnya musim ini (v Newcastle dan Coventry City) juga tercipta lewat tendangan dari luar kotak penalti.

Statistik Chamberlain Tampil sebagai starter Sebagai pengganti Gol Assist
2012/13 17 16 2 3
2011/12 15 11 4 2

 

Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa Chamberlain belum memberikan kontribusi berarti bagi tim. Bahkan jika dibandingkan dengan dua musim lalu, performanya mengalami sedikit penurunan. Chamberlain berada di tim yang memeragakan possession football, sedangkan dirinya adalah pemain bertipe gelandang serang klasik ala Paul Scholes muda. Bedanya, Chamberlain belum memaksimalkan potensinya dalam aspek bertahan seperti (terutama) tekel dan melakukan intercept. Tak heran jika Wenger lebih sering memasukkannya sebagai pemain cadangan. Agar saat Arsenal mengalami kebuntuan, Chamberlain – dengan energi dan tenaganya – mampu memberi kontribusi berarti.

Saat Inggris melakoni pertandingan persahabatan ke Brazil beberapa pekan silam, Chamberlain yang masuk sebagai pemain pengganti berhasil mencetak gol dahsyat, tendangan voli dari luar kotak penalti. Banyak pihak memertanyakan keputusan Wenger yang jarang memberinya kesempatan lebih – di satu sisi Arsenal padahal mempunyai sosok kreator dalam diri Santi Cazorla dan Tomas Rosicky. Chamberlain, tidak seperti penonton, sepertinya paham, gaya bermainnya untuk saat ini belumlah cocok untuk dijadikan starter. Lagipula di umur segitu masih banyak hal yang harus dia pelajari. Ia mengekspresikannya dengan keteguhan hati paska pertandingan lawan Brazil, “I have made a few steps in certain areas of my game, and had a few setbacks that have helped me to learn. But I’m happy with how my season has gone, and the way we finished with Arsenal. I’m still young, and every day I’m involved with either Arsenal or England will help me.”

Jack Wilshere

2c

“… The truly worrying thing is that England have become reliant on a player who has made just ONE start for the national team in the last TWO years,” tulis Martin Lipton di Mirror mengenai ketergantungan Inggris di sektor kreatifitas pada Wilshere.

Wilshere mencatatkan namanya di blantika sepakbola Eropa saat menjadi man of the match di pertandingan Liga Champions 2010/11 melawan tim yang dihuni Xavi, Andres Iniesta dan Lionel Messi. “This is not normal: to be so young and so good,” ujar Fabio Capello saat masih menukangi Three Lions. Namun naas. Ketika dirasa waktu bagi Wilshere untuk lebih bersinar telah tiba, ia jutru dihantam oleh cedera yang membuatnya menepi lebih dari setahun. Mimpi menjalani kompetisi internasional (Euro 2012) pertamanya pun sirna.

Wilshere akhirnya kembali merumput ketika Arsenal menghadapi QPR. Terakhir ia bertanding, ia bersanding dengan Nasri, Fabregas atau van Persie. Kini ia harus beradaptasi dengan tim yang bisa dibilang berbeda 80% dari segi komposisi pemain.

Dianugrahi nomor punggung 10, Wilshere justru terasa sedikit kurang efektif bagi Arsenal. Ya betul, ia tampil heroik saat mereka mengalahkan Swansea 1-0 di Piala FA. Fans Arsenal harus mewaspadai efek Cazorla. Di samping kehadirannya yang impresif, Cazorla memberi dampak “tidak sehat” di lini tengah Arsenal, dalam artian, memberi Wilshere tugas untuk meningkatkan kemampuannya

2d

Begini, Arsenal memeragakan formasi lima gelandang 4-2-3-1 dan 4-3-3. Dengan adanya Cazorla, Wilshere seperti tak mendapat tempat. Sebagai pendamping Arteta dalam dobel pivot, Wilshere kurang memenuhi syarat sebagai gelandang komplit dalam mengawal pertahanan. Lihat saja bagaimana rekornya terlihat menyedihkan dibanding Ramsey dan Mikel Arteta. Dari segi interception, Wilshere berhasil melakukannya sebanyak 24 kali dari 25 laga: setara dengan Diaby yang sanggup melakukannya di 11 pertandingan. Hal itu semakin menguatkan bahwa Wilshere belum cukup waspada dalam mewaspadai serangan-serangan lawan.

Di musim 2010/11, saat dia berhasil meraih penghargaan PFA Young Player of The Year, Wenger memainkannya sebanyak 49 kali di segala kompetisi. 49 kali! Musim lalu ia memang baru kembali di pekan ke-9, namun jumlah pertandingan yang ia jalani hanya 33 kali. Jadi cedera yang dia alami dua musim lalu adalah akibat dari terlalu banyak tenaga Wilshere – yang saat itu masih berumur 19 tahun – tereksploitir. Ini juga jadi faktor lain kenapa Wenger tidak mau memainkan Chamberlain lebih banyak, yakni guna menjaga fisiknya dari potensi cedera yang pernah dialami Wilshere dan Ramsey.

Meski begitu, kehadiran Wilshere di lapangan bukannya tidak kontributif. Arsenal sudah lama kehilangan sosok pemimpin seperti yang dulu mereka punya dalam diri Patrick Vieira. Wilshere mungkin belum mampu untuk mengisi peran itu, tapi mental siap tarungnya mewakili pemain-pemain lain. Dalam otobiografinya, “Red: My Autobiography”, Gary Neville sampai membuat bab khusus berjudul “Beating the Invincibles”.

Neville yang kini berkarir sebagai komentator menulis, “We knew the Invincibles had all the skill in the world but they also had a soft centre. You always felt you had a chance against them because you could get about them, bully them. ‘If you let them play they’ll destroy you,’ the manager told us in his pre-match talk. ‘So you’d better be right up against them. It’s a football match. You’re allowed to tackle. And no other team tackles them so let’s make sure Mister Pires and Mister Henry know that today’s going to be hard. Today’s going to be different.’”

Lima tahun terakhir jika anda menonton Arsenal pasti paham maksud Neville tadi. Fabregas, Hleb, Rosicky atau Eduardo adalah pemain-pemain berskill mumpuni. Jika salah satu dari mereka dikasari, jarang sekali ada pemain yang mau mengonfrontasi lawan atau memertanyakan wasit. Wilshere, sebagai seseorang yang telah bergabung di klub sejak umur 9 tahun hadir menjawab peran “satpam” tersebut. Silakan kasari Cazorla atau Rosicky, tapi jangan harap untuk lepas dari balasan Wilshere selama sisa laga. Musim lalu hal itu kerap terlihat dan foto Wilshere mengonfrontasi lawan tersebar luas di internet. Dari Gareth Bale, Jonas Olsson hingga pemain senior Michael Owen tak segan ia ladeni.

Semangat bertarung model ini yang Arsenal tidak miliki. Kekurangan Wilshere lain terlihat dari bagaimana ia selalu nampak ragu dalam melepas tembakan jarak jauh (yang saya pikir merupakan efek trauma dari cedera). Ditambah penguasaan kaki kanannya yang jauh dari kata sempurna. Wilshere ingin mengikuti jejak Steven Gerrard yang menjadi pemimpin di klub dan timnas. Ia pun mengakui bahwa sosok Gerrard adalah panutannya dalam menapaki karir.

“He (Gerrard) has been the heartbeat of Liverpool for years. He has also been the stand-out performer for England as well. He is a great role model for me. If I can get anywhere near as good as him and drive the team forward like he does, then I will be happy,” katanya memuji sang idola. Dan sebelum laga melawan Brazil di Wembley Februari lalu, Gerrard yang akhirnya bisa kembali berpartner dengannya berkata, “He’s only 21 and a fantastic talent. We’re all delighted he’s back. He’ll get better and better than he is now, which is a scary thought. He has the potential to become one of the best in the world.”

Kini sampailah kita pada pemain terakhir: seorang pemuda Wales yang sukses bertransformasi dan di penghujung musim memberi kontribusi besar dalam rekor 10 pertandingan tanpa kalah.

Aaron Ramsey

2e

Memahami permainan Ramsey untuk kemudian mengapresiasinya awalnya adalah hal mustahil. Teman saya sempat berkelakar, jika saja wajah Ramsey tidak tampan ia akan mendapat cemoohan lebih parah ketimbang Abou Diaby atau Gervinho saat Arsenal mengalami kemandekan permainan. Ramsey kerap melakukan hal-hal sembrono; umpan yang salah sasaran, tendangan yang terlalu lemah atau tekel-tekel gagal yang memberi keuntungan untuk lawan. Kita membicarakan pemain yang di awal karirnya bersama Cardiff City begitu menjanjikan hingga diajak tur stadion Old Trafford oleh petinggi United. Seorang pemain yang mengalami dua kejadian penghantam mental di umur begitu muda.

Pertama tentu saja saat bek Stoke City Ryan Shawcross mematahkan kaki kanannya di dua bagian. Ramsey harus menepi hingga 10 bulan, dan sesembuhnya dari cedera merelakan dirinya dipinjamkan ke dua klub berbeda. Kedua, saat Gary Speed memutuskan untuk mengakhiri nyawanya dengan tragis. Speed adalah sosok mentor bagi Ramsey. Speed pula yang menganugrahinya ban kapten timnas Wales di umur 20 tahun – rekor kapten Wales termuda sepanjang masa.

Ketika akhirnya benar-benar kembali ke Arsenal, Ramsey malah lebih sering diposisikan bermain di sayap oleh Wenger. Pemuda ini bisa menarik minat United dan Arsenal karena kemampuannya bermain sebagai gelandang serang. Kerendah-hatian serta kekuatan mental adalah faktor utama yang harus dimiliki pemain profesional dalam menjalani karir mereka. Berapa banyak pemain berbakat yang ternyata tidak mampu memenuhi ekspektasi klub dan penggemar? Dalam Arsenal saja saya melihat ada Jose Antonio Reyes, yang tidak kerasan tinggal di kampung orang. Dari akademi ada Emmanuel Frimpong dan Henri Lansbury, yang ternyata lebih asyik menyibukkan diri dalam gemerlap selebritas sepakbola. Atau Conor Henderson, pemain potensial namun garis nasib tak memihaknya dengan rentetan cedera yang ia derita.

Di Bolatotal Maret lalu saya menulis untuk Botoligans bagaimana Arteta kewalahan dan membutuhkan pendamping untuk melindungi 4 bek Arsenal. Lantas Arsenal kembali mengalami kekalahan atas Bayern Muenchen (1-3). Di dua pertandingan tadi Wilshere, Cazorla dan Ramsey menjadi starter. Apa yang anda harapkan dari strategi memasang tiga pemain bermental playmaker di pertandingan yang membutuhkan keseimbangan dalam bertahan? Menjadi empat pemain jika kita mengingat gaya bermain Arteta yang juga ofensif saat masih membela Everton.

Jadilah Wenger menentukan prioritas. Wilshere bukan hanya tak piawai dalam bertahan. Ia juga masih harus dieman-eman dari keseringan bermain agar cederanya tak lagi kambuh. Diaby menjadi Diaby dan Francis Coquelin terlalu lama tidak menjadi starter maka Wenger menunjuk peran pendamping ini kepada Ramsey.

Ramsey musim lalu pernah sukses menggantikan Arteta yang cedera. Ia tampak menikmati peran tersebut terutama di pertandingan versus West Ham (5-1) dan Brighton (2-3). “I had a meeting with the boss the other week and he explained to me what’s required for this role. I think I’ve done that in the last couple of games and I feel good in myself. That’s pleasing for me and hopefully I can keep myself in the team and carry on,” katanya seperti dilansir situs klub setelah Arsenal menang atas Brighton.

Kemudian ia melanjutkan, “I got into the box a couple of times, maybe it didn’t break for me but I got forward and Abou Diaby sat. I can still get forward but I’m a bit more restricted as to what I can do.” Dia paham dia bukan lagi seorang Ramsey yang kerap menusuk dan berkreasi ke/di kotak penalti seperti saat masih bersama Cardiff. Ia tahu kapan harus siaga di 2/3 lapangan.

Manchester United punya Phil Jones, sosok utility player yang siap berperan di posisi apapun sesuai kebutuhan tim. Dulu Arsenal pun memiliki pemain seperti ini. Tipe pemain yang jarang jadi sorotan manakala peran mereka tak kalah berarti dibandingkan para bintang. Pemain itu Ray Parlour, si Pele dari Romford, pemain underrated yang menjadi salah satu kunci peraih gelar ganda dua kali bersama The Gunners.

Poros Ramsey-Arteta ini terbukti ampuh. Arsenal bermain pragmatis demi mengejar efektifitas hasil akhir dari pertandingan olahraga: mencapai kemenangan. Di 10 pertandingan terakhir musim lalu Arsenal bukan saja tak terkalahkan, tapi juga sukses membukukan 5 kali cleansheet dan hanya kebobolan 5 gol. Selain tak lupa beri juga kredit atas keberanian Wenger membangkucadangkan kaptennya, Thomas Vermaelen, demi memasangkan duet Mertesacker-Koscielny yang lebih padu dalam mengawal pertahanan.

2f

Gambar di atas adalah statistik tipe operan yang dilakukan Ramsey di 10 pertandingan terakhir (dengan akurasi kesuksesan 644 operan/87%). Bahwa operan panjang yang lebih dominan semakin menegaskan pemahaman Ramsey dalam pendistribusian bola dari jantung lapangan tengah.

Dalam duel adu bodi ia diuntungkan dari hobinya bermain rugby di waktu kecil. Proses bermain di sayap yang dulu ia jalani memberinya benefit untuk lebih jeli melihat celah dan mengeksploitir ruang. Ramsey, adalah pemain yang di mata penonton awam harus memberikan lebih demi mendapat tempat di hati mereka. Maka ketika akhirnya ia mencetak gol lawan Wigan, ada kelegaan yang ia tuangkan saat pemain dan staf melakukan fans appreciation lepas laga berakhir.

“Finally, a goal..!!” ujarnya sambil menatap kamera.

Ramsey seperti band Wales 90-an Super Furry Animals (SFA): menyeruak di tempat dan jaman yang salah. Record label asal London Creation merekrut SFA di tengah gemuruh gelombang Britpop. Fans berharap SFA bisa menjadi Wales-nya Oasis, atau paling tidak Ride. Yang ada mereka seperti gerombolan hippies pengusung musik psikadelik dari negara antah berantah. Sebagaimana SFA yang harus menyesuaikan diri dengan melupakan lirik berbahasa Wales, Ramsey juga – pada awalnya berat – merubah gaya bermain demi menyesuaikan kebutuhan tim.

Prospek

“Aaron has done unbelievable and he will get better with his final ball. He’ll become the next big star at Arsenal. Jack and Aaron are the future, and they will do so well because they are competitive and they are winners. They will be amazing for the club.”

Ucapan tadi keluar dari mulut Cesc Fabregas selepas dirinya mudik ke Barcelona. Bukan tanpa sebab, ia tahu betul bagaimana dua bocah tadi saat dalam permainan terbaiknya mampu mengalahkan United.

2g

2h

Di pertandingan ini Arsenal bermain tanpa Fabregas yang cedera. Anda bisa melihat betapa dominan kedua orang ini menjalankan peran holding midfielder dan playmaker secara bergantian. Di gambar player influence anda bisa melihat perbedaan dua fullback Arsenal yang lebih dominan ketimbang United. Wilshere dan terutama Ramsey menjadi kunci dalam mendistribusikan bola kepada Sagna dan Gael Clichy.

Ramsey menjalankan Arteta-role dan Wilshere sebagai Cazorla. Alex Song sebagai gelandang bertahan: mengingatkan penulis pada skema trisula gelandang dinamis yang juga Arsenal miliki di musim 2007/08.

2i

Segitiga berwarna hijau menggambarkan positioning pemain saat bertahan sedangakan abu-abu saat menyerang. Tim 2007/08 terlihat komplit karena mereka memiliki dua penggiring bola handal, Rosicky dan Hleb, yang kerap bertukar peran. Tak lupa Fabregas yang secara semena-mena mampu melepas assist dari tempat tak terduga.

Skema di atas bisa terwujud dua atau tiga musim lagi. Ingat, Arteta dan Rosicky sudah memasuki kepala tiga. Jika Ramsey mampu memetik pelajaran selama disandingkan dengan Arteta, bukan tidak mungkin jika dirinya memang diplot Wenger untuk mengisi posisi tersebut bersama Arsenal. Banyak fans menyebut tim 2007/08 adalah tim terbaik yang terakhir Arsenal miliki. Saat itu Emmanuel Adebayor (mungkin) berada dalam fase terbaiknya dengan torehan 33 gol. Sayang mereka harus menghadapi tragedi cederanya Eduardo, plus, di akhir musim 2 dari gelandang mereka merapat ke klub lain (Alexander Hleb ke Barcelona, Mathieu Flamini ke AC Milan).

Wenger nampaknya ingin memadukan mereka dengan pemain-pemain senior asing yang mempunyai pengalaman di level internasional – dilihat dari perekrutan yang ia lakukan musim lalu. Ada Cazorla dan Nacho Monreal yang menjuarai Eropa bersama Spanyol. Juga Podolski yang telah lama berlalu lalang bareng Jerman baik di Piala Dunia atau Euro. Dan ketika Rooney menyatakan keinginan untuk keluar dari United, media ramai-ramai memberitakan hasrat Wenger untuk merekrutnya. Brazil 2014 bisa menjadi motivasi bagi Rooney untuk bergabung dengan kompatriatnya di timnas dalam diri Walcott, Wilshere dan Chamberlain.

Hal yang melegakan bagi fans Arsenal, keenam pemain ini tidak bertipe selebriti. Kita paham bagaimana perilaku pesepakbola disana yang tak ada beda dengan musisi. Terakhir ada kabar dari Walcott yang melangsungkan pernikahan (dengan kekasih yang ia pacari sejak umur 16) di tempat terpencil. Jauh dari hingar bingar media. Ketika pemain lebih fokus pada kehidupan luar sepakbola, maka saat itulah awal kehancuran karirnya dimulai. Jika tak percaya anda bisa telusuri pada apa yang terjadi dengan skuat akar Inggris milik Liverpool era 90-an yang justru lebih dikenal dengan julukan Spice Boys; sebuah julukan satir karena mereka tak ubahnya grup musik Spice Girls, menyibukkan diri di catwalk dan gemerlap selebritas. Hal ini yang membedakan mereka dengan Fergie’s Fledglings.

Patut ditunggu mengenai hasrat Wenger untuk menciptakan tim di sekitar akar Inggris. Jika tak ada hal-hal pengganggu seperti cedera yang mematikan karir atau dijual, keenam pemain ini (dilihat dari rataan usia) bisa membawa Arsenal menyongsong tahun-tahun gemilang. Pemain-pemain tak berguna seperti Sebastien Squillaci, Denilson dan Arshavin telah mereka lepas. Sambil menunggu langkah Wenger di bursa transfer, keenam pemain ini bisa jadi alasan bagi fans untuk menatap musim 2013/14 dengan optimis.

(kredit statistik: ESPN, Squawka, StatsZone dan 11v11)