[repost] Rapor Arsenal British Core 2013 (bagian I)

1a

 

*artikel ini pertama  kali tayang di situs bolatotal.com pada 10 Juni 2013

“I saw a headline saying Arsenal are flying the flag for Britain in the Champions League, but I had to wonder where that British involvement was when I saw the team”, ujar manajer West Ham United, Alan Pardew. Komentar dilontarkan manajer yang sekarang menahkodai Newcastle United ini kala Arsenal berhasil mengalahkan Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions 2006 – hampir tujuh tahun silam.

Pardew tidak sendirian. Eks legenda Arsenal (yang saat itu melatih Aston Villa) David O’Leary pun mengeluarkan pernyataan senada. Arsenal bertransformasi – pelan-pelan – dari ketergantungan pada pemain-pemain berpaspor Prancis ke status alien, dalam makna skuat utama diisi oleh pemain-pemain asing, mulai dari Afrika hingga Eropa daratan.

Tak hanya pemain-pemain skuat inti, pemain-pemain yang dipromosikan dari akademi pun kebanyakan pemain asing meski menyandang status homegrown player. Paska final di Paris itu Arsenal masih menggunakan kebijakan ini: bagaimana memanfaatkan laporan para pemantau bakat dari penjuru Eropa untuk kemudian merekrut pemain-pemain berharga murah dan memolesnya untuk pantas tampil di Liga Inggris. Alexander Hleb, Tomas Rosicky, Emmanuel Adebayor, Philippe Senderos, Gael Clichy, Fran Merida, Abou Diaby, Quincy Owusu-Abeyie hingga Arturo Lupoli. Praktis hingga musim 2006/07 hanya Walcott pemain lokal yang dipromosikan Arsene Wenger untuk bermain di tim senior.

Sebenarnya kebijakan tersebut bisa dimengerti dan tidak bisa dikatakan sepenuhnya keliru. Apa yang anda harapkan dari pemain-pemain lokal? Harga mereka meroket terlalu tinggi karena menyandang status homegrown (Adam Johnson, Andy Carroll hingga Stewart Downing contohnya). Lagipula Arsenal tampak putus harapan pada pemain-pemain lokal didikan akademinya. Jermaine Pennant banyak berulah di luar lapangan, David Bentley tak sabar terus-terusan jadi cadangan. Sementara perekrutan dari klub lain seperti Francis “Fox in the Box!” Jeffers dan Matthew Upson menabalkan keengganan Le Prof membeli pemain Inggris. They never seem to live up their overhyped potentials (and overpriced price tags). Satu-satunya pemain lokal yang berhasil berkontribusi maksimal bisa dikatakan hanya ada saat mereka merekrut Sol Campbell dari Tottenham.

Desember silam saat gonjang-ganjing drama perpanjangan kontrak Theo Walcott memanas, Arsene Wenger mengeluarkan komentar yang seperti menasbihkan sebuah kebijakan baru di Arsenal. “I believe we have a good core of young English players. We couldn’t keep the good core of young foreign players but I hope we will be capable to build a team around all these young English players who can achieve something together,” tukasnya. Pemain-pemain yang dimaksud adalah Theo Walcott, Kieran Gibbs, Aaron Ramsey, Jack Wilshere, Carl Jenkinson dan Alex Oxlade-Chamberlain.

Arsenal sampai merilis video khusus prosesi penandatanganan kontrak baru pemain-pemain tersebut di situs resminya. Wilshere, Gibbs, Ramsey, Jenkinson dan Chamberlain duduk manis meneken simbol loyalitas pemain profesional ditemani sang manajer. Di akhir video – sebagai gimmick – terekam adegan Wilshere mencium logo Arsenal di dada. Walcott yang saat itu masih dalam proses negosiasi akhirnya menyusul beberapa minggu setelahnya.

Arsenal dengan akar pemain-pemain lokal? Sesuatu yang bahkan tidak terbayangkan dua tahun silam. Bagaimana kiprah mereka musim 2012/2013? Apakah berhasil menyumbang kontribusi signifikan untuk klub? Mari kita telaah satu persatu.

Carl Jenkinson

Memulai debut EPL pada 2011/2012 di pertandingan kontra Liverpool, ia langung mengalami momen buruk di pertandingan kedua lawan Manchester United. Jenkinson membuat publik memertanyakan keputusan Arsenal merekrutnya dari Charlton Athletic. Tak hanya mendapat kartu merah, di pertandingan tersebut Jenkinson tampak kebingungan mengawal pertahanan kanan. Arsenal baru saja ditinggal Nasri dan Fabregas, juga mengalami krisis pemain. Saya rasa dia pun tidak menyangkan akan secepat itu bermain untuk skuat utama.

Musim 2012/13 belum berjalan, Arsenal lagi-lagi mendapati berita cederanya pemain inti. Bacary Sagna divonis cedera hingga 3 bulan, klub hanya membeli pemain-pemain ofensif (Giroud, Podolski dan Cazorla). Panggilan tugas untuk Jenkinson. Kali ini dia mencoba memulai hari dengan potongan rambut sedikit trendi, tak lagi culun seadanya seperti di musim perdana. Ternyata bukan hanya gaya yang berubah, permainannya pun mengalami perubahan kontras. Jenkinson terlihat seperti sudah bermusim-musim berlaga di EPL. Padahal dua tahun lalu dia hanya beraksi di klub-klub non-liga seperti Welling United dan Eastbourne Bourough. Para pengamat pun memberi kredit pada Steve Bould, eks anggota inti George Graham’s famous wonderwall, yang didaulat menjadi asisten pelatih menggantikan Pat Rice yang pensiun.

Kehadirannya semakin dielu-elukan suporter kala Arsenal bertandang ke Etihad Stadium. Jika saat melawan Liverpool hanya Raheem Sterling yang dia buat tak berkutik, kali ini bukan hanya Jack Rodwell dan Scott Sinclair, tapi juga Gael Clichy dan Joleon Lescott. Jenkinson mempunyai apa yang tidak dimiliki Bacary Sagna, yakni kepercayaan diri untuk melepas umpan silang. Manakala Sagna selalu tampak berusaha menembus lawan terlebih dulu, Jenkinson sadar kemampuan dribelnya tak seberapa, maka permainan Arsenal lebih direct ketimbang saat bersama Sagna.

Memiliki darah Finlandia, Jenkinson di level junior pernah membela dua timnas baik Inggris maupun Finlandia. Roy Hodgson nampaknya terpukau oleh aksinya di level klub, sehingga memastikannya menjadi milik Inggris dengan debut timnas senior. Tantangan Jenkinson masih berat karena Inggris masih memiliki Glen Johnson dan Chris Coleman di posisi bek kanan. Musim ini pun penampilannya bukan tanpa cela. Arsenal dikalahkan Swansea di Emirates dua gol tanpa balas – keduanya terjadi di menit-menit akhir akibat defensive error yang Jenkinson perbuat. Juga kartu merah konyol yang dia lakukan saat Arsenal bertemu Sunderland di paruh kedua musim lalu.

Masih butuh satu musim bagi Jenkinson untuk memantapkan posisinya di klub. Apalagi melihat gaya bermain Theo Walcott di sisi kanan yang jarang turun membantu pertahanan. Sesuatu yang luput diperhatikan para pengamat saat mendiskreditkan Sagna yang kerap kedodoran.

Sesaat setelah dirinya direkrut Arsenal, Jenkinson langsung memesan batu pahat di Armoury Square: sebuah layanan dari klub pada para penggemar untuk mengabadikan namanya (atau nama orang lain seperti keluarga) tak jauh dari Emirates. Sederhana saja tulisan di batu yang Jenkinson pesan: “Grand dad, hope you’re proud.” Ya. Dia mengalami momen Gooner became Gunner seperti Charlie George. Kredit patut dilayangkan pada siapapun sosok yang membisikkan namanya ke telinga Wenger. Jenkinson bahkan pada 2010/11 masih berdiri di tribun Emirates untuk menyaksikan derbi London Utara. Tak ayal hal itu membuat sang ayah bangga,

“It was 1961 and I was walking down Seven Sister’s Road on my dad shoulders. I asked him why people were celebrating (Spurs menjuarai Liga Inggris –pen) and he said ‘don’t worry son, I’ll take you to see some proper football next year.’ So the next season I went to my first Arsenal game, and the club has been my life ever since – I’ve been a season ticket holder as long as I can remember. Now – exactly after 50 years after first standing on the Clock End (salah satu tribun di Highbury –pen) – my son plays for the team. It’s unbelievable. It’s a dream come true for both Carl and myself, I can’t tell you how proud I am of him.”

Kieran Gibbs

Dari Kenny Sansom, Nigel Winterburn hingga Ashley Cole Arsenal kerap memiliki bek kiri tangguh asli Inggris. Gibbs mengawali karir di akademi sepakbola Wimbledon. Saat klub tersebut pailit Arsenal merekrut dirinya – yang saat itu berusia 14 tahun – bersama dua pemain lain. Di antara jajaran pemain British core ini, hanya dialah dan Jack Wilshere yang menembus posisi skuat senior dari jalur akademi.

Gibbs yang berumur 23 tahun menjadi pemain tertua kedua setelah Walcott (24, hanya selisih beberapa bulan). Di musim kelimanya bersama The Gunners semakin mengukuhkan peran sentral untuk tim. Bukan karena ‘lawan’ Gibbs untuk memerebutkan posisi hanyalah Andre Santos, tapi dinilai dari progres yang dia tunjukkan dari segi permainan.

Gibbs kini dengan lihai mampu menggocek lawan-lawannya di sisi kiri. Gaya menyerangnya tampak lebih mematikan jika Wenger memasang Podolski sebagai penyerang sayap kiri. Contoh paling gamblang saat Arsenal bertemu Liverpool di Anfield (0-2), Southampton (6-1) dan Swansea (Piala FA, 2-2). Ketika menghancurkan Southampton dua umpan silangnya berbuah gol bunuh diri. Kerjasamanya bersama Podolski dan Giroud mampu dituntaskannya menjadi sebuah gol tendangan voli first time nan indah versus Swansea. Gibbs kini mampu dengan tenang membongkar pertahanan lawan di dalam kotak penalti.

Menjalani debut pada usia 17 tahun, Gibbs awalnya bukanlah seorang bek, ia seorang gelandang. Kala itu Arsenal mengalami krisis pemain, Gael Clichy dan Armand Traore cedera. Selepas Gibbs mengisi posisi tersebut Wenger kontan menginstruksikannya pindah posisi menjadi full back. Wenger sepertinya rindu saat dulu mendapat warisan dari George Graham berupa sepasang full back asli Inggris dalam diri Nigel Winterburn dan Lee Dixon. Gibbs mempunyai kepribadian kalem dan dewasa. Di antara rekan-rekan akademi, ia bukanlah sosok pencari perhatian seperti Emmanuel Frimpong atau Henri Lansbury, misalnya. Kehidupannya hanya fokus pada sepakbola. Lagipula Gibbs adalah tipe pendiam. Hal yang dia akui di situs klub.

Gibbs pada 2012/13 sanggup tampil sebanyak 34 pertandingan di seluruh ajang kompetitif. Catatan menggembirakan bagi pemain yang sempat dicap injury-prone. Sebagaimana Aaron Ramsey dan Abou Diaby, karirnya sempat berada dalam periode mencekam saat mengalami cedera metatarsal di 2009. Selain meningkatkan kemampuan bertahan (khususnya duel-duel udara) ia juga patut meningkatkan kekuatan fisik agar tak mudah cedera. Beruntung Arsenal Januari lalu merekrut Nacho Monreal. Setidaknya mimpi buruk harus menonton Andre Santos membadut tak lagi terjadi.

Penerus poros Dixon-Winterburn?

Sampailah kita pada pertanyaan di atas.

Theo Walcott

“Walcott, Walcott, Walcott, Walcott.. Sign da ting! Sign da ting!,” begitu bunyi refrain sebuah lagu ciptaan fans saat drama kontrak Walcott berlangsung musim lalu. Terang saja fans berharap Walcott sesegera mungkin memerpanjang kontrak di Arsenal. Mereka telah kehilangan Robin van Persie dan Alex Song, menyisakan dirinya bersama Abou Diaby dan Johan Djourou sebagai pemain terlama yang menghuni Arsenal.

Walcott datang dari akademi sepakbola Southampton pada bursa transfer Januari 2005/06. Sebagai teenage sensation, sebuah keputusan aneh diambil oleh Sven-Goran Eriksson (pelatih Inggris saat itu) menyertakan namanya dalam skuat Inggris untuk Piala Dunia 2006 di Jerman. Padahal meski telah dipinang Arsenal Walcott belum sekalipun mencicipi pertandingan EPL. Debut liga baru ia lakukan selepas Piala Dunia.

Tak heran jka sepanjang karirnya Walcott selalu dinilai overrated. Standar yang diciptakan publik padanya begitu tinggi. Dalam kasus dunia musik ambil contoh band New York The Strokes. Mereka memerkenalkan namanya pada dunia lewat dua album brilian. Tercipta suatu standar (bisa juga harapan) atas karya-karya mereka selanjutnya. Nyatanya The Strokes (ini menurut pendapat saya pribadi) tidak mampu memenuhi ekspektasi pendengar dengan album yang kelewat buruk lewat Angles (Rough Trade/2011). Dan ketika mereka mencoba merengkuh kembali ‘pendengar lama’ melalui Comedown Machine (RCA/2013), sebagian besar sudah mati rasa. Membaca kabar akan rilisnya album baru saja mereka sudah enggan.

 

1b
Data statistik gol dan assist Walcott enam musim terakhir bersama Arsenal di segala ajang kompetitif

Tabel ini membuktikan bahwa Walcott pada dasarnya mengalami progres dari tahun ke tahun. Padahal selepas kepergian van Persie Walcott bukan tak mendapat ancaman karena Arsenal fokus merekrut tiga pemain ofensif musim lalu. Di akhir musim Walcott tak hanya memimpin perolehan gol, tapi juga assist. Kontribusi golnya untuk Arsenal menjadi purna berjumlah 35. Bisa dibilang, Walcott tak mengikuti jalur The Strokes. Condong seperti The Cribs, karirnya sejauh ini aman meski bisa dibilang belum mencapai taraf fantastis.

Walcott kerap berkata pada media bahwa jalur Thierry Henry-lah yang hendak dia tempuh. Hal itu ia nyatakan sejak lama dan pemberian nomor punggung 14 menjadi penyempurnaan atas hasratnya tersebut. Sudahkah Walcott mencapai standar tersebut? Sulit untuk tidak bilang tidak. Bukan hanya publik yang menetapkan standar tinggi, dirinya pun sedemikian.

Salah satu ikon Nike ini terkenal akan kecepatannya saat mengejar atau menggiring bola. Beberapa pihak dengan kejam menilai itulah satu-satunya yang ia punyai sebagai pemain bola. Penulis menilik ada satu lagi dari Walcott selain torehan kontribusi gol, yakni kemampuannya mendistribusikan assist lewat bola-bola mati baik sepak pojok atau tendangan bebas.

Jangan lupa, Walcott juga terkenal sebagai pencetak gol di pertandingan besar. Musim lalu ia beraksi ganas saat Arsenal secara dramatis menang atas Chelsea (3-5) dan Tottenham (5-2). Musim ini, terutama di pertandingan-pertandingan pamungkas, ia mencetak gol cepat ke gawang Manchester United dan QPR. Pula sepasang assist dari tendangan bebas untuk gol Per Mertesacker (v Fulham) dan Laurent Koscielny (v Newcastle).

1c
Pemain senior ‘akar Inggris’ Arsenal. Gibbs dan Walcott, melakukan selebrasi gol kontra Newcastle

Meski sempat mengalami krisis paceklik gol dalam rentang tiga bulan (Januari-April), Walcott mengisinya dengan peran lain yaitu memberi assist untuk rekan-rekannya.

Lalu setelah ini apa?

Anda boleh mencemooh Manchester City atau Chelsea yang menjuarai liga karena kekuatan uang. Tapi yang luput dari perhatian, kedua klub tersebut terisi paling tidak tiga pemain lokal. Di Chelsea ada John Terry, Frank Lampard dan Ashley Cole. Sementara City memiliki Joe Hart, Joleon Lescott, James Milner dan Gareth Barry. Juara musim lalu, Manchester United, tak ada beda. Robin van Persie dan Shinji Kagawa boleh saja menambah komposisi pemain asing di skuat Sir Alex. Tapi pemain-pemain seperti Paul Scholes, Phil Jones, Rio Ferdinand atau Tom Cleverley menjadi tulang punggung bagi setan merah untuk merengkuh gelar ke-20. Yang membuat raihan Chelsea dan City unik, kedua tim saat menjuarai Liga Inggris ditangani oleh pelatih asing.

Bagi Arsenal, selain kembali mengangkangi Tottenham mereka berhasil membungkam mulut Alan Pardew – sosok yang merendahkan kebijakan Arsenal tujuh musim lalu – dengan skor 7-3 dan 1-0. Pada pertemuan pertama di Emirates, 4 dari 6 pemain British core ini diturunkan Wenger sebagai starter. Menjadi 5 jika menghitung Ramsey yang baru diturunkan di menit ’82. Sementara Pardew tak hanya terpuruk, reputasinya kini bisa disebut sebagai pengekor Wenger, mengisi skuatnya dengan pemain-pemain murah asal Prancis namun belum diiringi dengan prestasi (bahkan hampir terdegradasi).

Bagaimana dengan tiga pemain Arsenal berpaspor Britania Raya lain (Jack Wilshere, Aaron Ramsey dan Alex Oxlade-Chamberlain)? Bagaimana prospek mereka dalam mendapatkan tempat di skuat utama? Pantau terus website Bolatotal.

(kredit statistik: ESPN dan WhoScored)

 

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s