Film Fever Pitch Bukan Hanya untuk Pendukung Arsenal

*artikel ini pertama tayang di situs bolatotal.com pada 18 Mei 2013
3a
Paul kecil bersama sang ayah di Highbury

Time and time and time again. Another silly season for every Gooner. Bagi mereka, khususnya belakangan ini, Arsenal sedang menjalani tren positif. Mereka kali terakhir mengalami kekalahan di White Hart Lane; dan setelah keputusan berani Arsene Wenger membangkucadangkan Thomas Vermaelen, yang sejatinya kapten utama tapi kerap bermain sembrono; memercayakan Aaron Ramsey – Mr. Utility, The Arsenal engine – sebagai tandem Arteta, Arsenal hanya kebobolan 5 gol dari 9 pertandingan. Selentingan ‘Arsenal FC sh*t defending since you dont know when’ terlihat tidak relevan melihat hanya satu dari gol-gol yang bersarang ke gawang mereka bemuasal dari permainan terbuka. Sisanya berasal dari eksekusi bola-bola mati baik itu penalti, tendangan bebas atau sundulan hasil tendangan bebas. Kini Arsenal kembali berada di atas angin untuk lolos ke Piala Champions sekaligus melanjutkan dominasi atas Tottenham Hotspur.

Ooo.. Arsene Wenger’s magic, he wears a magic hat. And when he saw the Champions League, he said ‘I’m having that!

Eitsss, tapi sebelum Januari semua tahu mereka mengalami kekalahan memilukan atas Bradford (Piala Liga) dan Blackburn Rovers (Piala FA). Dua ajang yang menurut para pendukungnya merupakan kompetisi dengan peluang paling realistis untuk dimenangkan.

Musim demi musim tanpa gelar pun berlanjut. Where will this story end for a club that used to be one of a major forces in English football?

Saya adalah orang yang realistis. Contohnya bagaimana saya bersikap netral terhadap civil war yang telah berlangsung lama antar sesama Gooners. Katakan ini naif, atau sikap paranoid akan suatu perubahan besar terhadap klub yang saya cintai. Tapi mengetahui betapa njlimetnya situasi dalam manajemen Arsenal, Arsene Wenger adalah orang yang paling tepat sebagai pelatih Arsenal. Setidaknya hingga kontraknya berakhir musim depan.

Lagipula tulisan ini akan membahas sebuah film adaptasi dari sebuah otobiografi milik Nick Hornby (karya tulisnya High Fidelity dan About a Boy di kemudian hari juga diangkat ke layar lebar). Film yang mutlak penulis tonton kala Arsenal mengalami musim memalukan selain DVD The Invincibles atau Arsene Wenger’s Magic Hat tentu saja.

Jika berbicara mengenai film sepakbola, sebelum The Damned United [2009] rilis banyak yang merekomendasikan Goal! [2005] atau Green Street Hooligans [2005]. Film pertama menjabarkan pada kita sebuah mimpi seorang pemain berbakat, bagaimana pertama kali bakatnya ditemukan scout, bermain untuk tim reserve hingga menjadi pemain kunci di Newcastle United. Dimana film kedua – meski bagus – justru lebih sering dijadikan acuan untuk ‘gagah-gagahan’. Terus terang saya tidak tertarik dengan film-film yang menceritakan budaya kekerasan dalam sepakbola seperti GSH, Football Factory [2004] atau The Firm [2009].

Nick Hornby, pada bab pendahuluan Fever Pitch menulis,

I have read books written, for want of a better word, by hooligans, but at least 95 per cent of the millions who watch games every year have never hit anyone in their lives.

Fever Pitch bercerita tentang suka duka Paul Ashworth (diperankan Colin Firth dan Nick Hornby memilih namanya diganti) menjadi pendukung Arsenal. Cerita ini mengalir begitu jujur. Mulanya  Paul kecil sama sekali tidak tertarik pada sepakbola. Lalu perceraian orang tua, yg selain memengaruhi cara berpikir dan meninggalkan trauma mendalam juga menimbulkan masalah lain. Dalam kasus Paul, sang ibu jadi lebih sibuk bekerja manakala ayahnya kawin lagi dan tinggal di kota lain. Paul kecil kehilangan sosok laki-laki dewasa sebagai panutan (ia hanya punya satu adik perempuan). Perlahan-lahan sosok berbaju merah-putih berwujud Charlie George, Pat Rice, George Graham, Liam Brady, Martin Hayes, Alan Smith, David Rocastle hingga Tony Adams  terasa seperti kakak yang tidak pernah dia miliki. Pun silih berganti tokoh pelatih berkarakter seperti Bertie Mee, Terry Neill dan George Graham sebagai pengganti figur ayah yang akan selalu dia miliki.

Setidaknya di akhir pekan.

Kala menonton film hasil adaptasi buku, kita selalu mengantisipasi beberapa fragmen penting dalam buku yang ternyata harus dipotong demi memapatkan durasi. Dalam Fever Pitch, tidak dijelaskan pada penonton bahwa sang ayah pertama kali mengajak Paul menonton sepakbola di pertandingan final Piala FA 1968 antara West Brom kontra Everton (yang Paul tolak). Pertandingan pertama yang dia tonton di TV adalah Manchester United versus Benfica. Fakta lain, Paul tinggal di kawasan dormitory town di Inggris (sebagaimana kota Slough). Atau dalam wawasan lokal kita kenal kota singgah/satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang dimana keterikatan mereka terhadap tempat yang mereka tinggali tidak besar karena mayoritas mencari nafkah di kota tetangga. Imbasnya, warga di sekitar Paul pun – khususnya rekan sepantaran – tidak ada yang mendukung satu tim khusus. Beberapa mendukung QPR karena faktor kedekatan lokasi. Atau klub London lain seperti Spurs dan Chelsea. Paul berkawan akrab dengan pendukung Derby County, tak lain karena ada rasa yang terbagi sebagai sesama ‘the only one supporter’.

Sejatinya sang ayah tidak terlalu menggeluti sepakbola. Paul dia ajak ke Highbury tak lain karena kegiatan yang mereka habiskan sudah terlalu membosankan (menonton bioskop, teater, atau menginap di hotel dimana dia lebih sering mabuk-mabukan). Meski telah bercerai dia tetap mempunyai tanggung jawab untuk menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.

Sebenarnya Paul punya banyak pilihan untuk memilih klub. Arsenal masa itu sedang kacrut-kacrut-nya. QPR punya pemain setara rockstar Rodney Marsh, Spurs punya Jimmy Greaves, West Ham punya pahlawan Piala Dunia 1966 (trio Geoff Hurst, Bobby Moore dan Martin Peters), Arsenal malah memiliki Ian Ure yang menurut Hornby ‘famous only for being hilariously useless’. Versi film punya andil positif dalam menggambarkan situasi jatuh cinta pada pandangan pertama. Paul tumbuh menjadi suporter setia Arsenal, klub yang pertama kali ia tonton di stadion.

Sebelum menonton pertandingan pertamanya (Arsenal v Stoke), penonton bisa melihat betapa Highbury begitu membumi dengan lingkungan sekitar – tidak berdiri angkuh sebagaimana Ashburton Grove, terisolasi dari home-born and bred supporter. Kita bisa menyimak tradisi khas jelang pertandingan; duduk bersama rekan sejawat sambil mengudap fish and chips, penuh dengan celotehan dan senda gurau khas suporter.

Paul (serta penonton) diberi gambaran betapa bobroknya Arsenal saat itu. Betul-betul gamblang.

Kakek-kakek 1 (Frank): Lantas bagaimana dengan pertandingan terakhir musim lalu? Mereka (Arsenal) betul-betul busuk. Dan juga sangat busuk musim sebelumnya. Saya tidak peduli, lah, mereka sekarang memuncaki klasemen. Toh nantinya juga busuk di akhir musim, musim depan dan musim depannya lagi!

Kakek-kakek 2: Lalu kenapa kamu tetap datang, Frank?

Frank: Entahlah. Setidaknya dalam hidup kita harus punya harapan, kan?

Kakek-kakek 2: [bertanya ke Paul] Kamu setuju dengan Frank, nak? Apa mereka sebusuk yang Frank bilang?

Ayah Paul: Ini pertandingan pertamanya

Frank: Kalau begitu kuharap dia paham dengan apa yang akan dia alami. Dengar, nak [berkata kepada Paul], nanti perhatikan pemain nomor 8. Namanya Jon Sammels. Ingat wajahnya baik-baik. Jika suatu waktu kamu punya kesempatan untuk bertemu, sampaikan pesan: “minggat saja lah kau ke Spurs!”

3b

Garis nasib pula yang membuat hikayat ini menjadi tambah menarik.  Paul menjadi suporter di penghujung masa suram Arsenal. Dua musim setelah pertandingan Highbury pertamanya, Arsenal meraih gelar ganda untuk pertama kali dalam sejarah. Lantas kembali mengarungi periode tanpa juara liga hingga 18 tahun berikutnya.

Alur film sering melompat mundur antara Paul dewasa (sudah menjalani karir sebagai guru) dan masa cilik. Paul dewasa adalah tipe suporter bitter yang acapkali melayangkan kata/melakukan gestur/warna muka, ‘eighteen fuck*ng years I’ve been waiting for this!’ manakala berhadapan dengan orang yang baru mengenal ke-wihdatul wujud-annya dengan Arsenal.

Paul dewasa mengajar sastra Inggris bagi siswa menengah. Selalu antusias membicarakan geliat liga di kelas, hingga nge-chant bersama murid-murid. Ia juga menjadi pelatih sepakbola di sekolah tersebut – dan karena saat itu Arsenal dilatih George Graham yang teramat disiplin dalam menerapkan pertahanan gerendel – Paul dengan sepenuh hati menjiplak metodenya. Sangat menarik sekaligus mengundang senyum simpul melihat cara Paul merayakan tiap gol atau mengutuk kesalahan murid-muridnya.

Bagaimana sineas menggambarkan sosok Paul yang elitis/eksklusif ala hipster masa kini juga patut dipuji. Dari caranya mengungkapkan perasaan, memandang miring hal-hal yang dilakukan orang awam, hingga yang tersurat seperti saat merespon pertanyaan dari gebetanmerangkap-rekan kerja Sarah Hughes, apa dia punya plat album Bread: “Memangnya saya terlihat seperti orang yang mengoleksi Bread apa?!”.

Paul jelas mempunyai reputasi sebagai  guru favorit murid-murid. Gaya mengajarnya asyik, cara berbusana dan potongan rambutnya (ukuran zaman itu) trendi, luwes bergaul dengan murid, hingga akhirnya tawaran untuk naik jabatan tiba. Awalnya Paul tidak antusias. Gajinya sudah lebih dari cukup untuk memerpanjang tiket terusan Arsenal, membayar sewa apartemen sambil sesekali jajan plat musik.

Namun hubungannya dengan Sarah ternyata menjadi rumit saat Sarah hamil. Disini drama dimulai.

Sudah lebih dari 20 tahun Paul mendukung Arsenal. Dari momen yang awalnya harus berangkat ditemani figur dewasa (ayah), memaksa sang ibu mengijinkannya pergi sendiri sekaligus membelikan tiket, sampai ke periode mapan – di titik ini Paul benar-benar memertanyakan esensi menjadi suporter sepakbola.

Di luar sepakbola, ternyata ada banyak hal lain yang tidak dimulai bulan Agustus dan berakhir Mei tahun berikutnya. Pernikahan, menjalin hubungan dengan keluarga, berakhirnya suatu rezim politik. Banyak. Selama ini hidupnya berkutat pada musim (sepakbola) bukan – seperti orang banyak – kalender tahunan.

Football has meant too much to me and come to represent too many things. See, after a while it all gets mixed up in your head. You can’t remember whether life is sh*t because Arsenal is sh*t or the other way round. I’ve been to watch far too many games, spent far too much money. Fretted about Arsenal when I should’ve been fretting about something else (……….) The great thing is it comes round again and again. There’s always another season. If you lose the cup final in May there’s the third round to look forward to in January. What’s wrong with that? It’s actually pretty comforting if you think about it. But every now and then, not very often but it happens: you catch a glimpse of a world that doesn’t work like that.

Paul hampir berhenti berharap. Dari sudut pandang lain: mulai menyoroti hal-hal lain yang perlu diperlakukan sama intimnya dengan Arsenal.  Saat itu, musim 1988/89 Arsenal memuncaki klasemen sejak sebelum Januari. Sarah yang buta sepakbola sampai mengutip, “kudengar di wawancara George Graham bilang tidak mungkin bagi Arsenal untuk gagal memenangi liga”. Kondisi yang barang tentu momen berharga bagi pribadi Paul.  ‘Eighteen fuck*ng years!’.  Momen berakhirnya kejumudan prestasi klub pujaan ternyata beriringan dengan masa transisi pria mapan ekonomi ke mapan ekonomi sekaligus mental. Ia menerima tawaran sekolah sambil menimang-nimang hubungannya dengan Sarah dan Arsenal.

Refleksi

Tiap klub punya sejarahnya masing-masing sebagai bagian dari kepingan sejarah suatu jaman. Buku dan film ini terbit sebelum Nick Hornby dan suporter Arsenal mengenal era sepakbola cantik Wengerball. Linimasa cerita (23 musim) berkutat di era Divisi Championship (pra-Premiership) dimana hanya tujuh klub berhasil menjuarai liga: Leeds United, Everton, Arsenal, Derby County, Nottingham Forest, Aston Villa dan Liverpool yang dengan gagah meraup 11 gelar jawara liga. Jangan tanya bagaimana nasib Manchester United saat itu.

3c
it’s up for grabs nowww!!! Thomas!!!

Fever Pitch mengajarkan pada kita tentang menikmati masa pasang surut suatu klub. Dari sisi personal, tiap kali memutar lagu How Can We Hang On to a Dream milik Tim Hardin, penulis memutar memori suram Arsenal; kartu merah Jens Lehmann di final Liga Champions 2006, tangisan Jack Wilshere di final Piala Liga, aksi Puyol memaksa Fabregas memakai jersey Barcelona di Piala Dunia 2010, hingga adegan cedera memilukan Aaron Ramsey dan Eduardo. Sebagaimana menjadi ilustrasi adegan Paul saat mereka dan meraba ingatan buruk akan kegagalan Arsenal miliknya.

Jatuh bangun suatu klub menjadi warna menarik tersendiri bagi masing-masing penggemarnya. Anda tidak bisa memilih menjadi suporter macam apa. Suporter sejati (my arse!) , gadungan atau karbitan. Karena – untuk fans layar kaca – perasaan menjadi yang paling superior (secara berlebihan) dibanding suporter klub lain adalah fana belaka. Butuh delapan tahun bagi Paul untuk dapat menyaksikan Arsenal pimpinan Liam Brady menjuarai Piala FA. Kekalahan memalukan dari Swindon Town di Piala Liga, buruknya permainan tim, hingga tragedi sepakbola Hillsborough menjadi warna-warni yang membentuk spektrum berupa klimaks film: Arsenal memenangi liga dengan cara sangat dramatis di Anfield.

Porsi peran Sarah Hughes di versi buku sebenarnya tidak sedominan di film. Tapi perannya menjadi kunci sineas untuk menarik minat penonton non-Gooners atau bahkan non-penyimak sepakbola. Sarah menjadikan Fever Pitch tidak menjadi sekadar epigon dalam kultur film adaptasi. Penonton film yang menyimak sepakbola akan memandang Sarah, ‘ah, dasar wanita tak tahu apa-apa tentang sepakbola’. Sedangkan penonton yang tak menyimak sepakbola akan menilai Paul, ‘dasar suporter bola, perempuan kece gitu disia-siakan’. Porsi menjadi seimbang dan pada ending filmlah penonton diberi kebebasan untuk menentukan sikap dan menarik kesimpulan.

Unbelievable climax to the league season!

***

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s