Arsenal 0-0 Liverpool: Kegagalan Menyeimbangkan Sisi Kanan Ketika 2 Pemain Sayap Justru Dicadangkan


Karim Benzema yang berminggu-minggu memenuhi mimpi penggemar Arsenal justru menegaskan tidak akan meninggalkan Real Madrid di hari di mana lini serang Arsenal kembali tampil impoten.

Raihan empat poin dari tiga laga bukanlah awal yang bagus ketika sebagian besar fans Arsenal menganggap sosok Petr Cech sebagai kepingan terakhir yang Arsenal butuhkan untuk menjadi perongrong dominasi Man. City dan Chelsea.

Saya tidak ragu untuk menulis ‘lini serang’, bukan Olivier Giroud, karena apa yang telah tersaji sejauh ini, kohesi tim yang Wenger gembar-gemborkan sebelum musim dimulai belumlah tercapai. Saya memiliki keyakinan bahwa Sanchez belum sepenuhnya fit paska membela negaranya menjuarai Copa America. Jika memainkannya di laga versus West Ham adalah sebuah keputusasaan, maka kembali memainkannya di dua laga berikutnya adalah kemandekan pelatih dalam memanfaatkan potensi skuat (mengingat Walcott/Cazorla bisa bermain di sisi kiri). Dan sampai detik ini saya bersiteguh  bahwa posisi striker tengah bukanlah posisi ideal untuk Walcott — sekeras apapun ia memanfaatkan isu itu kala bernegosiasi memperpanjang kontrak.

Prahara bermula saat kedua tim mengumumkan masing-masing skuat yang mengisi starting line-up dan Arsenal kehilangan duet Koscielny-Mertesacker secara bersamaan. Squawka mencatat bahwa ini adalah kali pertama Arsenal tanpa mereka berdua setelah +1000 hari (tiga musim lebih). Sesuatu yang sulit dibayangkan karena Arsenal belum memadumadankan keduanya dengan Chambers atau Gabriel lebih dari 3 laga, apalagi jika keduanya absen. Sesaat sebelum peluit dihentak wasit, saya berimajinasi bahwa keputusan memainkan Chambers-Gabriel adalah murni eksperimen Wenger. Namun rupanya tidak karena keduanya memang berhalangan karena flu dan cedera ringan.

Liverpool memulai musim dengan cukup baik di mana mereka berhasil menjaga keperawanan gawang dan meski ditinggal Raheem Sterling, pembelian Benteke serta semakin matangnya Coutinho membuat fans mereka optimis menatap musim 2015-16.

***

Sebelum saya melanjutkan, saya ingin menawarkan perspektif yang selayaknya tak membuat kita kalut dengan tiga hasil pertama.  Dari empat tim penghuni empat besar musim lalu, baru Man. City yang mengawali musim ini dengan brilian. Sisanya (Chelsea, Arsenal, dan Man. United) belum menemukan ritme terbaik dengan berbagai persoalan pelik di masing-masing kubu.

Liverpool mengawali laga dengan sangat baik. Pendekatan yang digunakan Rodgers begitu keras ditambah fakta beberapa rekrutan anyar mereka berpostur kekar. Giroud yang diplot memenangkan bola-bola lambung dan menjadi pengawal serangan melalui hold-up play-nyaterlihat kesulitan melepas kawalan ketat Martin Skertl. Tercatat dari 6 duel udara yang ia lakukan, hanya 3 yang berhasil ia menangkan. Hal tadi diperburuk dengan penampilan melempem duet CB sehingga membuat Cech langsung membuang bola jauh ke depan ketimbang mengawali serangan dari bawah.

Sebagaimana Skertl, Emre Can dan Lucas Leiva juga sukses menghentikan daya kreatif Santi Cazorla yang kembali dipasangkan bersama Coquelin di jantung lini tengah. Le Coque, menjadi penampil terbaik di babak pertama setelah berkali-kali memperbaiki kesalahan yang diciptakan Chambers. Coquelin bermain dengan tenang dengan tekel-tekel bersihnya, berbanding terbalik dengan pertandingan lalu versus Crystal Palace.

Sulit memang, mengharap duet Chambers-Gabriel akan menawarkan seridaknya setengah dari apa yang Mertescielny tawarkan di tiap laga. Namun 3 error fatal yang Chambers lakukan membuat jantung tiap fans berdegup kencang. Kita bisa kebobolan 2 gol lebih andai tidak diselamatkan tiang gawang dan penampilan gemilang Petr Cech yang di laga inii membuat 8 penyelamatan (DELAPAN!). Sungguh suatu hal yang heroik mengingat di dua laga sebelumnya ia kebobolan tiga gol.

Pada konferensi pers paska laga, terkait Chambers Wenger berujar,

He responded well. It was important for him. You sit there and you wonder how far he can go without losing competitive confidence. In the second half he did well. He’s a good footballer and he will come out of that stronger, with the belief that when he had difficult moments he can come out of it stronger.

Saya termasuk dari fans yang ingin Chambers diganti. Tapi rasanya mengganti Chambers justru akan membuat mentalnya melemah di kemudian hari (ditambah laga ini menjadi kesempatan bagi Chambers sebagai ajang pembuktian). Alih-alih menggantinya, Wenger memercayakan Chambers untuk melanjutkan laga dan Chambers mampu menunaikan tugas tersebut. Dengan segala kepanikan jelang turun minum, patut dipertimbangkan bahwa Chambers teramat belia dan mesti bermain dengan bek yang belum memiliki kemampuan bahasa Inggris baik. Saya harap, di laga yang kurang krusial semisal Piala Carling Wenger akan lebih sering mengombinasikan pasangan CB. Keputusan tepat dari Wenger dengan tidak bertindak reaktif mengganti Chambers di babak kedua.

Dengan segala komedi yang tercipta di babak pertama, alur permainan bisa saja berubah andai tendangan Coutinho tidak membentur tiang kanan gawang Cech, atau sepakan Ramsey tidak dianulir offside oleh hakim garis. Patut dicatat bahwa umpan matang Cazorla tersebut tidak berulang di sisa pertandingan. Menjadi pertanda betapa efektifnya gelandang Liverpool dalam mematikan hulu kreatif The Gunners.

***

Anda yang setia membaca artikel saya, tentu tahu bagaimana sikap saya terhadap Ramsey. Sebelum musim briliannya itu, keteguhan saya membela Ramsey diapresiasi mayoritas pembaca. Tapi jika kemudian pemain yang bersangkutan bermain buruk lebih dari sekali, tentu analisis perlu ditinjau. Özil dan Ramsey terekam telah mengutarakan di posisi mana keduanya ingin bermain. Dan ya, keduanya lebih senang jika dimainkan di tengah.

Menetapkan Ramsey berduet dengan Coquelin ternyata belum terbukti efektif, seperti yang terlihat di laga kontra West Ham. Pun saat melawat ke Selhurst Park, peran Ramsey di sayap kanan begitu minim. Torehan passingnya tak sampai 80, sambil tak sekalipun dribelnya berhasil melewati lawan. Ramsey juga kerap memenuhi sisi kiri lapangan dan membuat Bellerin bekerja sendirian. Percayalah, peran bek sayap juga kompleks karena pola permainan tim modern menuntut mereka seimbang dalam bertahan/menyerang.

Dari ilustrasi di atas tampak jelas bagaimana Arsenal gagal mengoptimalkan lebar lapangan. Ironis, hal tersebut terjadi ketika ada 2 pemain sayap lincah lagi enerjik di bangku cadangan: Alex-Oxlade Chamberlain dan Theo Walcott. And hey, Theo, for the love of Bergkamp: you’re not a central striker.

Menduetkan Coquelin dengan Ramsey sebagai double pivot, untuk saat ini, bukan strategi tepat karena keduanya belum mampu mendikte permainan melalui passing, cara berkomunikasi, serta kemampuan memainkan tempo: atribut komplit yang dimiliki Mikel Arteta. Saya berkhayal usianya belum kepala tiga dan kakinya tak serapuh saat ini.

Kebangkitan peran Coquelin sejak pertengahan musim lalu ternyata berimbas pada peliknya situasi gelandang karena Coquelin menjelma menjadi sosok tak tergantikan.

***

Apapun yang dikatakan Wenger di ruang ganti saat turun minum, ternyata manjur merubah jalannya laga. Secara total Arsenal mampu menciptakan 14 peluang, tiga lebih banyak dibanding The Reds.  Arsenal tampil dominan meski di ujung laga terlihat Ramsey, Cazorla, dan Ox bergantian melepas tembakan tek tentu arah. Orbinho mencatat bahwa Arsenal menjadi tim yang menciptakan peluang terbanyak di EPL — sekaligus menjadi tim terburuk dalam mengonversi peluang-peluang tersebut menjadi gol. Hanya dua dan salah satunya dari gol bunuh diri.

Wajar jika banyak yang menuntut Wenger untuk merekrut striker baru. Meski begitu, mungkin saya menjadi satu dari sedikit orang yang yakin bahwa pola menyerang Arsenal telah sedemikian terpusat ke Giroud.

Alasannya, pola penyerangan Arsenal telah sedemikian Giroud-sentris. Bola-bola lambung mapupun mendatar, kemampuan hold-up play Giroud memaksimalkan gelandang-gelandang serang Arsenal. Bahkan ketika digantikan Walcott pun, pendekatan yang sama dilakukan. Menjadi hal yang mustahil dioptimalkan Walcott karena ia bertipe striker yang menghadap gawang lawan (memanfaatkan umpan terobosan). Tidak seperti Giroud yang lebih sering menghadap gawang sendiri guna melakukan hold-up play atau operan pantul satu-dua.

Alasan lainnya, Welbeck masih cedera dan Sanchez belum terlalu fit paska berlaga di Copa America. Jangan lupa, Giroud mencatatkan dirinya sebagai pemain keempat dengan raihan gol terbanyak dalam 100 laga bersama Arsenal (setelah Thierry Henry, Ian Wright, dan Emmanuel Adebayor). Ia melampaui Dennis Bergkamp dan Robin van Persie, dua pemain yang tercatat mencetak 100 gol lebih untuk Arsenal.

Apakah Arsenal membutuhkan striker yang setidaknya satu level di atas Giroud? Ya. Apakah Benzema lebih baik dari Giroud? Tidak.

Apakah Arsenal perlu merekrut striker baru? Ya. Apakah dengan hadirnya striker baru tersebut — sehebat apapun ia — akan merubah pola serang Arsenal? Saya rasa tidak. Alasannya sederhana:  Tolak ukur harga perekrutan Arsenal serta ketersediaan stok striker seperti itu di bursa transfer saat ini. Jangan dulu anda sebut nama Edinson Cavani, sekeras apapun media-media memberitakannya.

Belakangan, Wenger kerap menyebut kata ‘kohesi’ di berbagai kesempatan wawancara. Sayangnya kita belum melihat adanya bentuk kohesi tersebut di tiga laga pertama.

2 thoughts on “Arsenal 0-0 Liverpool: Kegagalan Menyeimbangkan Sisi Kanan Ketika 2 Pemain Sayap Justru Dicadangkan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s