Manchester City 0-2 Arsenal: Kemenangan yang Bermakna Lebih dari Sekadar Tiga Poin

B7ps60RCYAAKJzM
Di kesempatan yang biasanya bersanding dengan kalimat pesimistik seperti ‘hasil seri saja sudah syukur’, Arsene Wenger membuktikan bahwa ia sebenarnya tidak gagap taktik — ia tahu perbandingan potensi tim lawan dengan timnya. Hanya saja hal tersebut jarang ia lakukan. Di Etihad Stadium 18 Januari 2015 menjadi saksi bagaimana Arsenal mampu menampilkan sepakbola bertahan — yang alih-alih membosankan — justru menghibur mata.

Di pertandingan yang digadang-gadang media menjadi panggung pembuktian antara Sergio Aguero dan Alexis Sanchez (salah dua striker terbaik Liga Inggris ini), ternyata luput menjadi kenyataan saat penonton menyaksikan bahwa sepakbola kolektiflah pemenang sesungguhnya di laga yang dipimpin wasit Mike Dean ini. Fakta tersebut tampak mengamini komentar Wenger yang tidak setuju dengan ajang Ballon d’Or di mana menurutnya akan tidak adil jika permainan kolektif seperti sepakbola ditentukan oleh performa satu individu.

Jika kamu kesulitan untuk memilih pemain terbaik di suatu laga, saat itulah kamu seharusnya paham dan mengukur ulang cara menikmati sepakbola. Hukum sebab akibat dan faktor X menjadi dominan dan hal itu terjadi di pertandingan semalam. Kita tidak bisa menisbikan peran Sanchez hanya karena ia gagal menyumbang gol ataupun assist. Sebagaimana kita tidak bisa alpa menghaturkan pujian atas cameo Tomas Rosicky di penghujung laga.

Tidak salah kiranya jika Jonathan Wilson memerediksikan City akan menang lebih dari satu gol sehari menjelang laga. Rekor Arsenal saat menghadapi City di kandangnya buruk — dan seperti luka yang ditaburi cuka, kekalahan-kekalahan tersebut juga dibumbui oleh pertahanan dungu, gol kemasukan berlimpah, dan pola permainan tak tentu arah. Terakhir Arsenal bisa mengalahkan klub yang dahulu bernama Ardwick di Premier League di kandangnya terjadi pada 24 Oktober 2010 (0-3). Di laga di mana Niklas Bendtner menjadi salah satu pencetak gol itu, tidak satu pun penghuni skuat saat ini yang menjadi starter.

Perjalanan heroik Arsenal musim lalu kala mereka menjadi tim paling lama memuncaki klasemen liga dihancurkan oleh kerapuhan mereka saat menghadapi tim-tim 6 besar di kandangnya. Selain menghadapi hasil memalukan 6-3 (City), 5-1 (Liverpool), dan 6-0 (Chelsea), Arsenal juga satu-satunya tim yang tidak bisa memetik poin penuh saat mengadapi Manchester United-nya David Moyes di saat tim-tim medioker seperti berlomba untuk menciptakan rekor baru.

Kasus duet Mertescielny: Batman tidak hanya membutuhkan Robin tapi juga Detektif Jim Gordon

Ada sebuah kenyataan getir saat Arsenal digasak Liverpool 5-1 musim lalu. Sebelum pertandingan dihelat banyak media yang membeberkan fakta tentang ketangguhan duet Per Mertesacker dan Laurent Koscielny dalam mengawal pertahanan Arsenal. Pasalnya sebelum kekalahan di mana bek teledor Martin Skrtel mampu mencetak dua gol itu, terakhir kali Arsenal mengalami kekalahan saat keduanya menjadi starter terjadi pada Januari 2012. Jika saja rekor dua tahun tersebut berlanjut (laga v Liverpool terjadi dua minggu setelah rekor tersebut berumur dua tahun), mungkin perjalanan Arsenal sebagai pemimpin liga bisa terus menanjak — mengingat fakta Liverpool-lah satu-satunya saingan terberat Arsenal dengan produktivitas trio SAS-nya.

darkknight1

Wenger kembali ditampar karena kejemuannya merekrut gelandang tengah piawai yang tidak hanya melindungi pertahanan, tapi juga sanggup memotong aliran bola jauh sebelum pemain-pemain lawan menghadirkan potensi berbahaya di area pertahanan Arsenal. Duet Ramteta adalah sesuatu yang bulat, utuh, genap. Yang satu menggenapi yang lain. Dan di saat yang satu absen, maka lainnya menjadi tak berdaya. Seperti di laga kontra Liverpool di mana Aaron Ramsey absen.

Itulah alasan mengapa seperti rengekan seorang bocah saya merindui hadirnya sosok gelandang tangguh dalam diri Morgan Schneiderlin. Sosok yang tidak membutuhkan pendamping, baik di skema yang membutuhkan kehadiran double pivot 4-2-1-3 atau di skema yang tidak membutuhkan kehadiran duet dua gelandang tengah. Pasalnya kehadiran double pivot akan mematikan potensi gelandang-gelandang Arsenal lain di mana pada diri Mesut Ozil, Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Tomas Rosicky, dan (belakangan) Alex-Oxlade Chamberlain diplot di skema tiga gelandang nan cair. Sebagaimana yang dilakukan Chelsea pada Oscar-Hazard-Willian pra kehadiran Fabregas.

Hampir 20 hari bursa transfer Januari bergulir, nyatanya sosok tersebut hadir dalam diri si anak hilang Francis Coquelin. Kamu akan terhenyak saat saya membeberkan kenyataan bahwa pada 6 Desember 2014 pun Coquelin masih bermain untuk Charlton Athletic — klub setelah Freiburg di mana ia melanjutkan petualangannya sebagai pemain berstatus ‘tak dibutuhkan’. Setelah menjalani tiga laga sebagai pemain pengganti, Le Coque menjadi starter di lima laga terakhir Arsenal — menjalani keseluruhan laga tersebut dengan kemenangan (10 memasukkan gol dan hanya sekali kebobolan). Maka saya pun tak hanya bermanis kata saat menyebut dominannya faktor sebab-akibat dan faktor X di sepakbola: Wenger ‘menjemput’ Coquelin dari masa pinjamannya karena cedera panjang yang dialami Arteta.

Seperti laiknya peningkatan fitur iPhone generasi 2G ke 3G, Coquelin adalah Flamini dengan fitur yang sepintas sama (orang Perancis; postur keduanya yang tidak terlalu menjulang sebagai gelandang bertahan; dan kecenderungan memrotes, mengintimidasi, dan berteriak sepanjak laga), Coquelin memangkas fitur-fitur tak berguna yang melekat dalam diri Flamini seperti kegemaran mengumpulkan kartu kuning dan ketidakmawasan dalam memosisikan diri. Flamini kerap terpancing asyik menyerang di mana ia seharusnya secara disiplin berdiri memantau laga di posisi yang tak jauh dengan duek bek. Dan jangan sebut gurauan tidak lucu di mana baik fans Arsenal maupun penonton nentral kerap bertaruh di menit ke berapa Flamini akan dihadiahi wasit kartu kuning.

Di pertandingan semalam Coquelin mencatat raihan 11 clearances dan 6 interceptions, terbanyak di antara pemain Arsenal lain. Tak lupa bagaimana di babak pertama kita disuguhi kemurkaannya pada rekan-rekan Gunners saat City sedikit lagi mengonversikan peluang menjadi gol. Jangan pula terkecoh oleh raut muka tuanya: ia baru berusia 23 tahun. Setahun lebih muda dari Yang Mulia Schneiderlin.

Di balik segala kemampuan fisik, intelejensia, dan modal finansial melimpah, toh Batman masih membutuhkan Robin yang memiliki pendekatan berbeda saat menangani kasus-kasus kriminal di Gotham. Dan tanpa kemampuan berpolitik detektif Jim Gordon di dalam struktur kepolisian yang terlalu korup, niscaya si manusia kelelawar akan menemui hambatan-hambatan yang teramat sukar. Detektif Gordon tak hanya bertugas menyalakan bat signal saat tindak kejahatan terjadi, tapi berkat sutradara Christoper Nolan melalui triloginya, penonton jadi tahu bahwa Gordon memberi Batman perspektif yang berbeda dalam mendalami misteri yang terjadi.

Peran Coquelin di Arsenal termanifestasi oleh Detektif Gordon versi Nolan. Ia sudah renta (dalam kasus Le Coque: terbuang) dan jabatan strategisnya di kepolisian dengan mudahnya diganti sosok lain yang lebih baik, namun setidaknya sosok Gordon di The Dark Knight Rises (yang diperankan aktor watak Gary Oldman) mampu mencuri perhatian penikmat film.

Pertandingan semalam adalah ‘momen’ itu. Momen di mana seorang pemain mencuri perhatian sebagaimana Jack Wilshere v Barcelona di 2011 dan Carl Jenkinson v Bayern Muenchen di 2013.

No more the self-fulfilling prophecy

Sosiolog terkemuka Amerika, Robert K. Merton pernah mencetuskan istilah “self-fulfilling prophecy“. Gampangnya adalah suatu keadaan yang awalnya mustahil atau bertolak belakang dengan realita yang ada di masyarakat atau struktur, ternyata bisa berubah dengan mudah oleh suatu keyakinan, yang dicetuskan oleh agen individu maupun kolektif. Kondisi perekonomian yang sejatinya sehat ternyata menjadi ambruk di saat masyarakat dilanda kepanikan dan mencabut investasinya di suatu bank. Hal yang awalnya berlawanan dengan kenyataan (kondisi perekonomian yang sehat) ternyata menjadi ambruk oleh kegilaan massal.

Hal tersebut saya rasakan saat melihat permainan Arsenal tiga musim terakhir. Dengan sudut pandang dan pisau analisis yang berbeda dari Merton tentu saja.

Formula Wenger gampang ditebak. Oper, oper, oper, oper, semua gelandang berada di sepertiga akhir lapangan, oper, oper, oper, bola terebut, dan dengan mudah musuh menjebol gawang Arsenal. Formula tersebut biasanya mujarab saat Arsenal menghadapi lawan papan bawah. Maka tak heran jika mengalami kemenangan pun, perawannya gawang Szczesny menjadi suatu hal yang mustahil. Gampang ditebak.

Rekor tak mampu menang melawan 6 besar EPL musim lalu menjadi fakta tak terbantahkan. Wenger tak hanya dinilai buta taktik, tapi juga mengalami kegilaan. Kalimat populer Albert Einstein (yang faktanya bukan milik ilmuwan jenius itu) yang berbunyi berikut menjadi sering dikutip penulis sepakbola saat Arsenal mengalami kekalahan dengan permainan yang tak tentu arah:

Insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result

Keabsahan siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut bukan menjadi urusan saya. Tapi kalimat ini kerap dikutip penulis dan selebtwit sepakbola dalam rangka terlihat cerdas saat mengeritisi kekalahan Arsenal.

Wenger, jika kita menyimak keteguhannya akan pentingnya basis fondasi dengan mendukung penuh penghematan demi membangun stadion, tentu bukan tipikal orang yang seenak jidat merubah formasi dan skema permainan.

Dan permainan semalam sejatinya pernah kita jumpai saat menghadapi Bayern Muenchen di dua kesempatan. Cuma memang kadarnya saja yang berbeda di mana di dua kesempatan tersebut (saat skuat sepenuh hati menjaga pertahanan) Arsenal sedang menjalankan misi mustahil. Yaitu membalikkan agregat setelah terpuruk di leg pertama.

Yang Arsenal butuhkan adalah agar Wenger menjadi selentur (secara taktikal) ini saat menghadapi lawan yang sedang mengalami performa menanjak, tim-tim besar, atau saat skema possession football favoritnya tak membuahkan hasil. Baik di laga EPL, FA Cup, maupun Liga Champions. Jika kamu lupa di dua ajang terakhir Arsenal masih memiliki kans terbuka untuk meraih hasil manis. Semanis slurpee.

Tidak sekadar lembaran blueprint, tapi juga titik tolak

Dalam (I’m Not Your) Steppin’ Stone, grup musik The Monkees bernyanyi lirih, “When I first met you girl you didn’t have no shoes/now you’re walking ’round like you’re front page news.”

Lagu tersebut menggambarkan jerit hati seorang lelaki saat wanita yang ia cintai ternyata hanya memanfaatkannya demi meraih maksud lain. Si lelaki menjadi batu pijakan sang wanita dalam memanjat strata sosial lebih tinggi.

Duh, kasian.

Tapi baik kiranya jika kita memandang lagu tersebut dari sudut pandang ceria nan berwarna: keterpurukan Manchester City dalam bersaing dengan Chelsea menjadi batu pijakan bagi Arsenal untuk minimal meraih spot 4 besar sebagaimana selama belasan tahun menjadi tradisi.

Arsene stands firm as the zipper works just fine
Arsene stands firm as the zipper works just fine

Secara maksimal? Hm, langit adalah batasnya. Toh di ajang FA Cup dan Liga Champions Arsenal mendapat hasil undiang yang mengembirakan: hanya menghadapi Brighton & Hove Albion dan AS Monaco (yang kini nir-Falcao dan James Rodriguez).

Mengutip Pure Saturday, “Langit terbuka luas, mengapa tidak pikaranku, pikiranmu?”

Secara perlahan Hector Bellerin mampu menjelma menjadi sosok yang diandalkan dalam melapis cederanya Mathieu Debuchy. Olivier Giroud pun tak lagi jago kandang dalam urusan membobol gawang. Giroud terbukti menjadi pemain penting saat ia mampu membobol gawang tim-tim besar di kandangnya. Kegemilangan sihir Cazorla sebagai gelandang tengah membuat kita lupa bahwa ada satu pemain yang juga secara halus merengek untuk dimainkan di posisi tersebut: si pencetak rekor transfer klub Mesut Ozil. Nacho Monreal pun menjelma menjadi unsung hero di mana ia mematikan pergerakan Jesus Navas yang melempar crossing hingga 18 kali tanpa menemui sasaran.

Blueprint atau cetakbiru mutlak dibutuhkan arsitek dan ilmuwan saat menggarap suatu proyek. Yang Arsenal butuhkan adalah bagaimana menambal lini belakang dan kepercayaan Wenger terhadap Coquelin (karena hal terakhir akan menentukan apakah Arsenal kan membeli gelandang atau tidak di bursa Januari kali ini).

On to you, Arsene.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s