Mesut Ozil: The Lost Star

Mengupdate blog secara berkala ternyata mempunyai tantangan yang tidak main-main. Sungguh, saya pribadi begitu merindukan masa-masa di mana blog ini rutin mengupas segala hal tentang Arsenal, baik secara mendalam maupun yang tidak. Beruntung sejak dulu saya memberi ruang bagi sesama gooners untuk menyumbang tulisannya di blog ini. Tulisan ini datang dari goonerette bernama Yasmin — yang mengaku tak pernah menulis artikel sepakbola sebelumnya. Saat email darinya datang di kotak surat kami, rasa senang bukan kepalang menghinggapi. Namun kesibukan (ya, saya tahu ini klise) membuat tulisannya teronggok begitu saja di kotak surel kami. Kali ini Yasmin membahas perkembangan permainan Mesut Ozil di Arsenal, yang dari beberapa pihak dianggap belum nyetel betul dalam skema permainan Arsenal. Ozil dianugrahi posisi favoritnya — AMF — saat Arsenal melawan Aston Villa, kemudian Wenger mengembalikannya di posisi sayap kiri di derbi London Utara, hingga semalam kembali ke AMF. Opini tentangnya bercabang dan tak sedikit gooners ataupun media yang masih menganggap performanya tak seimpresif di Madrid. Selamat membaca!

Oleh: Yasmin Jamilah

Mesut Ozil mengubah segalanya saat didatangkan pada deadline transfer tahun lalu. Selain karena mahar transfernya yang memecahkan beberapa rekor sekaligus (pemain termahal yang pernah dibeli Arsenal, pemain termahal Jerman, pemain termahal yang pernah dijual Real Madrid), kedatangan Ozil juga terkesan mengagetkan karena pada bursa transfer musim lalu, Arsenal masih belum mengatasi eksodus-eksodus bintang yang meninggalkan tim sebelumnya. Kendati begitu, kedatangan Mesut Ozil ke Premier League ternyata mengubah keadaan: Arsenal—yang saat itu baru saja mengalami kekalahan 3-1 dari Aston Villa di kandang dan dianggap tidak cukup kompeten untuk bersaing di klasemen puncak, seketika mendapatkan tambahan respect. Kedatangan Ozil memberikan atmosfer positif untuk Arsenal, yang kemudian memimpin klasemen untuk waktu yang lumayan lama.

Tapi, itu dulu.

Rasanya seperti mimpi saat tahun lalu saya mengecek official website Arsenal dan melihat welcome signing untuk Mesut Ozil, yang sebelumnya bermain di Real Madrid. Rasanya aneh, aneh sekali. Sebagai Goonerette yang tidak pernah menggantung mimpi hingga ke langit, saya tidak percaya melihat Mesut Ozil akhirnya berada di first team Arsenal, menggunakan nomor 11 yang dulunya dipakai Andres Santos.

Namun, hidup terus berubah. Dunia berputar. Bumi berotasi pada matahari.

Terus terang, saya kaget saat mengetahui Mesut Ozil mendapat rating terendah saat pertandingan melawan Borussia Dortmund di Signal Iduna Park, beberapa hari lalu. Salah satu media Jerman, Bild, bahkan mengkritisi kontribusinya dan mengatakan kalau aksinya di lapangan ‘tidak lebih dari sekedar formalitas yang kekurangan kreativitas’. Sebuah kritik yang cukup keras untuk Mesut Ozil, pemain yang baru saja mengantar Jerman memenangkan Piala Dunia di bulan Juli lalu.

Saya memang bukan pengamat sepakbola yang baik. Saya tidak biasa menonton pertandingan La Liga dan mengamati setiap pemain dengan cermat, namun saya tahu Mesut Ozil. Saya tahu bagaimana kualitasnya—raja assist di Eropa dan mendominasi Real Madrid selama bertahun-tahun. Saya tahu benar. Hanya saja, Ozil yang saya lihat di televisi pada pertandingan El Classico melawan Barcelona beberapa tahun lalu bukanlah Ozil yang saya lihat pada pertandingan melawan Borussia Dortmund beberapa hari lalu.

Mari kita telaah sedikit demi sedikit. Musim lalu, Ozil mencatatkan 9 assist di Liga Inggris (rangking ke-5 dari keseluruhan). Jumlah yang lumayan, tapi masih sedikit mengecewakan mengingat kita membeli gelandang yang sebelumnya bisa mencatat 25 assist semusim. Mengecewakan, hanya saja kita harus memahami kalau adaptasi ke Premier League itu sulit. Oke, baiklah. Permulaan yang lumayan baik untuk Ozil. Tidak ada manusia yang sempurna, kan?

Kendati memberikan permulaan yang lumayan apik, Ozil yang dulu bukanlah Ozil yang sekarang. Ia terlihat kesulitan ‘memantaskan’ dirinya di lini tengah Arsenal (yang sering disebut sebagai lini tengah terkuat di Premier League). Ozil terbayang-bayangi sosok Aaron Ramsey yang memang memegang status Player of The Year. Seakan tidak cukup, ‘kebangkitan’ Jack Wilshere juga memperparah keadaannya. Ozil sudah terbiasa bermain di posisi No. 10, namun ia tidak bisa mendapatkan kemewahan itu sekarang. Ozil hampir selalu dimainkan di sayap, sebagai tandem dari Alexis Sanchez.

Perdebatan mengenai Ozil bukanlah hal yang aneh lagi sekarang. Tidak seperti dulu, Ozil kini bukan lagi football journalist’s darling. Ozil sudah sering mendapat kecaman seiring dengan permainannya yang makin memburuk setiap musim, berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Hidup memang semakin berat untuk Ozil. Hanya ada satu hal yang saya takutkan: saya takut sekali Ozil berakhir seperti Fernando Torres di Chelsea.

Entahlah. Musim lalu, Jose Mourinho, mantan pelatihnya di Real Madrid, mengklaim bahwa Ozil adalah ‘salah satu gelandang terbaik di dunia’. Mourinho juga menyamakannya dengan Zinedine Zidane. Memang benar. Di Madrid, kontribusi Ozil memang sangat terasa. Ozil bukanlah tipe pemain yang bisa ‘memberi mesin untuk menjalankan sebuah tim’. Ozil adalah tipe pemain yang bisa memberikan ‘oli untuk menjaga keseimbangan mesin sebuah tim’. Begitulah cara kita memandang Ozil.

Saat menonton laga melawan Dortmund kemarin, saya merasa seperti menonton 10 orang bermain di lapangan tanpa ada koordinasi yang koheren. Ralat, 9 orang. Saya menyadari ada dua orang yang benar-benar invisible—Ramsey dan Ozil. Namun… entahlah, saya bisa memberikan sedikit ‘toleransi’ pada Ramsey yang sudah memberikan banyak sekali kontribusi untuk kita.

Tapi Ozil bukanlah seorang pemain yang patut hilang di lapangan, iya kan? Ozil selalu menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia, tapi mengapa kita tidak bisa mendapatkannya sekarang?

The Arsenal Education

Saya rasa, masalah yang Ozil alami pernah juga dirasakan oleh Ramsey dua musim lalu. Ingat bagaimana performa Ramsey pada tahun 2012? Anda pasti tidak akan pernah menyangka kalau Ramsey bisa menjadi pemain terbaik pada tahun 2013 pada akhirnya. Mungkin, mungkin, mungkin hal yang sama terjadi pada Ozil.

Posisi No. 10 di Arsenal kini sudah paten dipegang oleh Ramsey, yang dua tahun lalu rajin dimainkan sebagai winger. Ingat bagaimana performanya saat melawan Everton dan Manchester City dua tahun lalu? Awalnya saya juga tidak terlalu paham mengapa Ozil ditempatkan sebagai winger sementara Santi Cazorla dan Alex Oxlade-Chamberlain, yang jelas-jelas winger sejati, hanya duduk diam di bench, menunggu kesempatan untuk bermain. Saya bingung dengan keputusan Wenger yang satu ini. Keputusan Wenger memang terkenal kontroversial, namun kadang keputusan Wenger juga membawa sesuatu yang tidak pernah kita tebak sebelumnya. Wenger selalu menjadi tipikal pelatih yang bisa melihat beberapa hal sebelum kita.

Dalam sejarah kepelatihannya, Wenger sudah beberapa kali memainkan gelandang yang ‘sangat gelandang’ sebagai winger. Wenger berpendapat bahwa seorang gelandang memerlukan skill yang komplet sehingga Wenger kerap mengotak-atik posisi pemain itu. Wenger pernah melakukannya pada Ray Parlour, gelandang tengah yang cenderung ‘standar’ namun bisa berkilau saat bermain sebagai winger.

Aaron Ramsey juga mendapat perlakuan sama dua tahun lalu. Hasilnya? Flop of The Year. Alasannya sederhana: Ramsey tidak bisa menjadi gelandang yang baik sementara dia tidak bisa menguasai basic skills yang harus dipenuhinya untuk mendapatkan peran No. 10. Bermain di posisi sayap memang bukan posisi favorit Ramsey, namun kita bisa melihat hasilnya sekarang. Ketidaknyamanan yang Ramsey rasakan berbuah manis. Wenger sendiri pernah berkata,

it is not linked with one position. It is to balance the team. I think in the education of a player it is important that he plays in different positions.

Catatan gol memang menjadi kritik terbesar untuk Ozil selama ini. Di Madrid, Ozil memang bukan tipe pemain yang biasa berlari hingga ke depan gawang untuk menunggu orang lain mengumpan dan mengubahnya menjadi gol. Namun, di Arsenal, torehan gol menjadi sesuatu yang krusial untuk semua posisi. Semua orang mendapatkan tanggung jawab yang sama sebagai pencetak gol.

Memainkan Ozil sebagai winger memang membuat kita semua frustrasi, namun Ozil akan membuat banyak sekali improvement yang vital untuknya. Ozil sudah terlalu terbiasa bermain sebagai central midfielder di Werder Bremen atau Real Madrid sehingga dribblingskill-nya tidak terlalu terasah. Bermain sebagai winger akan memberi Ozil kesempatan untuk membuka celah untuknya sendiri. Ozil akan belajar mengumpan dengan timing yang jauh lebih sempurna. Kemampuan ini tentunya sangat berguna untuk Ozil, kunci baginya untuk menjadi midfielder yang komplet.

Kalau Ozil berniat untuk membuat improvement, maka Ozil akan melakukannya. Jika Ozil ingin sukses di Arsenal, maka dia akan sukses. Semuanya memang butuh waktu. Tidak ada sukses yang dibuat dalam semalam, kan? Saya rasa Wenger masih memberinya kesempatan tanpa peduli bagaimana media dan para suporter menghujatnya, seperti yang Wenger lakukan pada Ramsey dulu. Seperti Ramsey juga, Ozil punya kesempatan untuk menjadi Player of The Year setelah mengalami masa yang sulit. It’s always darkest before the dawn, Mesut!

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s