Match Preview Arsenal v Manchester City, Class v Clash

Arsene-Wenger-Arsenal-Manuel-Pellegrini-Manchester-City

Oleh: Yasmin Jamilah

Laga bentroknya Arsenal dan Manchester City tentu saja menjadi salah satu laga yang paling dinanti penggemar Premier League akhir pekan ini. Pertandingan yang amat menarik setelah rehat dari dunia Liga Inggris yang keras, intrik dan drama selama dua minggu terakhir.
Ini adalah kali pertama saya menulis footballanalysis dan berani mempublikasikannya di media sosial. Sebuah kebangaan tersendiri bagi saya—yang terbiasa menulis draft tulisan fiksi, bukan analisis serius semacam ini.

Akhir pekan ini, laga Arsenal melawan City bisa dibilang adalah laga pembuktian untuk kedua tim. Laga yang sengit dan bertensitinggi tentu saja wajar untuk diharapkan mengingat kedua tim sama-sama tidak ingin kalah, sama-sama tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kehilangan piala.

Di awal musim, the league is a marathon, not a sprint. Penting bagi setiap tim untuk mengantongi poin bersih sebanyak-banyaknya sebelum masa marathon digantikan oleh sprint antara tim-tim yang memang biasa bercokol di papan atas dan yang lainnya.

Kedua tim sama-sama tidak bisa kalah kalau masih ingin menang. Arsenal akan kehilangan tujuh poin dari pemuncak klasemen (yang sangat berharga) jika kalah di laga ini. Sementara itu, City akan kehilangan enam poin jika kalah di laga ini (yang sama-sama berharga).

Danny Welbeck bisa saja mencetak dua gol ke gawang Swiss kemarin dan membawa banyak harapan untuk para Gooner-Goonerette, tapi kemungkinan akan absennya Aaron Ramsey membuat saya sedikit deg-degan. Cedera pada engkelnya saat bertanding di timnas membuat Ramsey terancam absen di laga ini. Padahal, Ramsey merupakan pemain vital yang berperan besar dalam harmoni tim. Jika Ramsey bermain bagus, semua lini terlihat seperti bermain sempurna. Jika Ramsey bermain buruk, semua pemain lain mengikutinya.

Sisi positifnya, beberapa pemain kunci dikabarkan lulus fitness test dan bisa bermain di laga kontra City. Arteta, Gibbs, dan Ozil katanya siap untuk diturunkan. Dedengkot sekaligus kepala suku klinik fisio Arsenal, Abou Diaby, juga turun dalam laga Arsenal U-21 beberapa hari lalu dan katanya siap diturunkan di squad list.
Kalau saya amati berbagai perkembangan yang terjadi di media sosial, nama Danny Welbeck akan keluar menjadi hal yang paling sering saya temui.

Hampir setiap artikel menyebut-nyebut namanya, terlebih setelah si Shaun The Sheep KW ini menyarangkan sepasang gol ke gawang Swiss. Sebagai seorang die-hard Goonerette yang membenci United hingga ke ubun-ubun, kedatangan Welbeck ke Arsenal sebenarnya tidak saya sambut dengan meriah, sukacita atau senang hati. Cenderung kesal, malahan. Awalnya, saya menyangka situasi kedatangan Welbeck ke Arsenal bermula dari transfer Falcao ke United. Domino effect—Falcao datang, Welbeck pun ditendang. Padahal Falcao sudah sempat dihubung-hubungkan ke Arsenal beberapa saat sebelumnya.

Bagaimanapun, Danny Welbeck tetaplah topik yang menarik untuk dibahas. Baru tadi pagi, Louis Van Gaal, pelatih baru United, membeberkan alasan kebijakannya menjual Welbeck. Alasan yang keras, brutal, dan penuh ironi. Keputusan Van Gaal menjual Welbeck sebetulnya dipertanyakan oleh dua legenda United, Paul Scholes dan Gary Neville. Menurut Van Gaal, Welbeck masih belum memiliki kualitas seperti Van Persie (kompatriot kesayangannya di timnas) atau ketajaman seperti Rooney. Padahal, statistik Welbeck tidak terlalu mengecewakan. Welbeck mencetak 29 gol dari 142 laga, yang berarti sekitar satu gol setiap empat laga. Tidak terlalu buruk mengingat Welbeck lebih sering diturunkan di posisi yang bukan menjadi keunggulannya.

Dua minggu lalu, Welbeck masih asyik jadi pemanas bangku cadangan di Old Trafford. Sekarang, dia menjadi simbol berakhirnya sebuah era di United. Kepergiannya menandakan betapa United kini kehilangan idealisme—bagaimana bisa mereka membiarkan Mancunian yang loyalis seperti Welbeck pergi? Kepergian Welbeck adalah keuntungan untuk Arsenal yang memberi kesengsaraan untuk United, tidak peduli apapun yang Van Gaal bilang. Terlebih lagi, Welbeck menyatakan kalau bermain di Arsenal adalah salah satu cita-citanya. Pernyataannya pasti mengoyak hati para fans United sangat dalam, kan?

Ada banyak harapan yang disematkan pada Welbeck. Absennya Giroud akan menambah harapan-harapan itu. Musim lalu, Welbeck mencetak 9 gol di liga, sementara Giroud mencetak 17 gol. Tapi, penting untuk diingat kalau Welbeck jarang sekali mendapat kesempatan musim lalu. Selain itu, Moyes juga kerap menurunkannya di posisi yang kurang nyaman baginya. Goal conversion Welbeck lebih baik daripada Giroud (19.6% dan 16.4%) sementara statistiknya mencetak gol adalah 167 menit sekali, dibandingkan Giroud yang mencetak gol setiap 185.5 menit sekali. Lumayan, kan?

5 players to watch:

1. David Silva: musim lalu, kreativitas Silva membuat para pemain tengah Arsenal kewalahan. Tugas berat ada pada lini tengah dan lini belakang untuk menjaga Silva. Kalau kita memberikannya sedikit space, tentu saja Silva akan mengobrak-abrik pertahanan kita. Seharusnya Wenger mempersiapkan game plan dan strategi khusus untuk menghadapi Silva.

2. Alexis Sanchez: waktunya pembuktian. Pemain yang dibeli dengan harga paling mahal musim ini sepertinya butuh beberapa gol lagi untuk membuktikan kalau dia masih Alexis yang dulu, Alexis yang ditakuti para defender. Publik masih menantikan gol-gol darinya, walaupun ia sudah mencetak dua gol dari dua laga terakhir yang dimainkannya. Laga kontra City adalah saat yang tepat untuk membuktikan diri, untuk membuktikan kalau Alexis tetaplah Alexis.

3. Edin Dzeko: cederanya Steven Jovetic memberikan keuntungan untuk Dzeko sehingga ia bisa menjadi tandem Aguero pada laga ini. Dzeko, yang selalu menjadi the silent hero, kerap kali memberikan hasil yang tidak diduga-duga saat melawan Arsenal. Menarik untuk ditunggu apakah Dzeko akan memberi kejutan lagi atau malah sebaliknya.

4. Per Mertesacker: pertahanan yang solid adalah kunci kemenangan di laga melawan City saat Community Shield kemarin. Mertesacker memegang peranan yang besar dalam laga ini. Kemampuannya membaca permainan tentu saja bisa memberikan keuntungan bagi Arsenal, khususnya untuk lini belakang. Laga ini akan menjadi tes yang berat, namun menantang.

5. Bacary Sagna: our main man, orang yang menjadi superhero kita selama beberapa musim terakhir. Saya jadi penasaran, apakah Sagna akan disambut dengan penuh penghormatan atau malah dicerca seperti Nasri?

Jujur saja, saya cukup percaya diri dengan laga super kali ini. Bursa judi di Inggris juga menjagokan Arsenal untuk memenangi laga ini. Bagi City, laga melawan Arsenal hanyalah pintu gerbang dari laga-laga super yang menanti mereka setelah ini—ada laga away melawan Bayern dan laga kandang melawan Chelsea. Arsenal juga akan menghadapi lawan-lawan yang cenderung menyulitkan—Aston Villa dan Spurs. Pada akhirnya pertanyaan yang sama akan hinggap di kepala kita: mana yang lebih kuat, cash atau class?

PREDIKSI LINE UP:
Arsenal : Szczesny, Debuchy, Mertesacker, Koscielny, Gibbs, Arteta, Cazorla, Ozil, Wilshere, Sanchez, Welbeck
City: Hart, Sagna, Demichelis, Kompany, Kolarov, Nasri, Toure, Fernandinho, Silva, Dzeko, Aguero