Sebuah Refleksi: Arsenal Pasca Hari Raya

Oleh: Goonerpop

Satu minggu terakhir dalam hiruk pikuk mudik, saya menahan diri untuk tidak ngetweet dan mencoba untuk menikmati kampung tanpa media sosial. Apalagi ngetweet Arsenal. Sebenarnya, sih, karena sinyal di kampung saya sangat edge. Mati gaya, deh. Tapi walau tidak ngetweet bukan berarti saya ketinggalan berita.

Arsenal News, Arsenal News Everywhere

Berita Arsenal pertama saya baca di kampung malah berita haru. Carl Jenkinson harus rela posisinya digeser 1 tahun oleh Debuchy dan Chambers (yang ternyata Bellerin juga ikut jadi pertimbangan Wenger) dan membela West Ham United. Padahal pernah saya diskusi di twitter mengenai siapa yang bakal kena loan-spell. Kebanyakan followers lebih memilih dan memperkirakan Sanogo (digusur Campbell) tapi ternyata he suprised you, surprised us. Malah Yaya Sanogo dan Joel Campbell kompak sama-sama bikin kita kecele dengan 5 gol ke gawang Benfica saat Emirates Cup 2014.

SANOGO

Saya sangat kesulitan untuk nonton Emirates Cup di MNC TV karena frekuensinya bertabrakan dengan TV lokal. Terpaksa saya mesti search channel manual yang walaupun channel MNC TV dapat tapi hasilnya berbayang (lucunya channel lain sangat bersih macam Global dan Trans. Universe trolls me well).

Untungnya keluarga sudah pada tidur dan saya masih bisa menikmati gaya selebrasi Joget ala Yaya sampai selebrasi Do The Gerrard Slip. Alexis Sanchez juga tampil memukau dengan flick ala ala plus performa Chambers yang ternyata sangat apik hingga Gooners di twitter sangat percaya diri Arsenal juara musim depan dan bakal menggilas tim-tim papan atas.

Sampai akhirnya Arsenal kalah 0 – 1 lawan AS Monaco.

Sautan Wenger Out mungkin sudah sepi tapi sekarang malah sedang tren membully Giroud apalagi setelah Yaya sempat quatrick. Padahal Giroud itu spesial. Dia memegang peran penting dalam strategi Marketing Arsenal dan Puma plus he’s got very own special move.

Well, Arsenal mungkin harus rela Emirates Cup untuk Valencia tapi saya lebih suka pra musim diawali kekalahan tanggung seperti ini karena bakal jadi motivasi lebih apalagi minggu depannya ada Community Shield.

Positifnya, kita telah menyaksikan sendiri bagaimana Arsenal kita yang sekarang sudah jauh berbeda kekuatan komposisi skuat-nya dibanding 2010-2013 lalu. Musim ini terasa solid karena berkembang pesatnya pemain-pemain muda. Saya pikir musim ini Ramsey masih bakal unjuk gigi, bahkan lebih tajam dari musim kemarin. Sanchez dan Giroud sepertinya bakal jadi tandem yang asyik. Walcott dan The British Core akan lebih menjanjikan. Tapi nama seperti Yaya Sanogo dan Hector Bellerin sepertinya musim ini akan menjadi awal musim mereka yang bahagia. Terlalu cepat untuk berkesimpulan tapi they may surprise you, once again.

Perjalanan Mudik yang Semi Religius

Perjalanan mudik saya hampir penuh tentang melamun Arsenal yang kombinasi dengan pikiran-pikiran random. Pemikiran saya tentang perkembangan Arsenal selalu menghasilkan drama sendiri di dalam hati. Tentang bagaimana ukuran seorang pemain saat statistik berbicara seperti Squawka dan Who Scored misalnya sehingga Wenger menjadi orang pertama yang sangat percaya kegigihan Ramsey.

Seorang pemain pasti pernah melihat bagaimana statistik hasil kerja keras mereka. Bagaimana skill dan kekuatan yang telah mereka latih menjadi patokan scouts klub mancanegara. Atau mereka pasti tertawa melihat lelucon FIFA/PES (Pro Evolution Soccer) saat tau Overall Rating mereka di Software Game paling asyik sejagad itu tidak sesuai, berlebihan atau bahkan mengecewakan (Sanogo pasti bete liat rating dia gak sampai 75).

Apa kalian pernah main Become a Legend PES? Saya sangat ketagihan. Andai kehidupan seperti Become a Legend PES, rasanya akan lebih menyenangkan.

contoh bal

Berangkat dari lamunan yang tidak jorok itu, saya berfikir apa jangan-jangan saya punya statistik kehidupan tapi saya enggak ngeh? statistik kehidupan yang bagaimana dan seperti apa? Tentunya bukan Shot Accuracy dan Swerve.

Saya pernah sekali melamun, bagaimana Tuhan tahu aktivitas yang sangat detail setiap manusia. Perjalanan mudik saya menemukan banyak karakter-karakter manusia tapi bagaimana Tuhan bisa mengelola ini semua. Bagaimana amal perbuatan manusia dicatat dan apakah ada amal yang slip bagai Gerrard. Pasti malaikat-malaikat itu adalah seperti agen-agen Squawka dan Who Scored Tuhan yang diperuntukan buat manusia.

Atau mungkin Tuhan punya chip di dalam manusia sehingga data aktivitas manusia semua terekam bagai super smartphone. Atau Tuhan yang maha super besar itu membelah sepersebagian diri-Nya untuk dibagi-bagi ke setiap umat sehingga Tuhan pasti tau aktivitas manusia yang paling detail. Sampai-sampai kita sendiri tidak ngeh kalau Tuhan sudah ada di dalam diri dari semenjak kecil. Jangan-jangan suara-suara kecil dalam hati adalah suara Tuhan yang terdistraksi oleh bisikan setan.

Teori Become a Legend ala Tuhan.

Saya paling bergidik dengan kesimpulan tentang Tuhan yang terakhir. Merinding bagai nonton film plot Twist. Misal, nih, kalau ternyata memang benar Tuhan sudah ada dalam diri kita sejak kecil berarti manusia itu adalah Tuhan itu sendiri (tapi cuma sekian persen).

Kalau Become a Legend dalam PES mungkin kita akan sangat fokus akan mengembangkan pemain sesuai dengan posisi apa yang kita pilih di menu awal. Jika kita memilih sebagai Winger mungkin kita akan fokus melatih poin Attack, Dribble Speed, Dribble Accuracy, Speed sampai Crossing.

Di dunia nyata, kalau ternyata kemungkinan plot twist Tuhan itu benar, berarti saatnya kita memilih posisi apa di menu awal. Poin yang kita latih ya tentu saja kasih sayang kita, rasa kebijaksanaan, wawasan, tenggang rasa, jiwa pemimpin, kesabaran, kesucian, displin, dan lainnya karena Tuhan maha itu semua. Semua tergantung kita, mau jadi apa, posisi apa dan menjadi manusia yang bagaimana.

Kita ini termasuk Wonderkid atau Late Bloomer? Apa kemanusiaan dan jiwa muda kita sudah sejajar dengan Yaya Sanogo’s flick atau Hector Bellerin’s cross? Apa bulan puasa kemarin kita sudah Quatrick atau malah kena Hamstring dan mundur beribadah 3 pekan? Apa “kaki mu pernah patah” dan bersemangat untuk bounce back ala Ramsey?

Saya mencoba untuk mentransformasikan pesan-pesan tersirat di dalam Arsenal untuk kehidupan saya.

 

One thought on “Sebuah Refleksi: Arsenal Pasca Hari Raya

  1. walaupun lebaran sdh lewat namun ijinkan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri semoga tim kesayangan kita bisa menitih juara demi juara musin ini…..amin

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s