Waktunya Memberikan Ban Kapten pada Per Mertesacker?

a reader both on and off the pitch

Jumpa lagi, kawan-kawan. Setelah hampir tiap musim kita dibelit rasa waswas ketika periode transfer, kini rasa itu berubah setelah Arsenal melakukan dua pembelian penting dengan sigap. Dua hari lalu akhirnya kepindahan Mathieu Debuchy ke Arsenal pun resmi dan dia akan mengenakan nomor punggung 2; yang menandakan barisan belakan kita kali ini mengenakan nomor punggung klasik 1/Szczesny, 2/Debuchy, 3/Gibbs, 4/Mertesacker dan 6/Koscielny.

Tapi di tulisan ini saya tak berminat membahas kabar perburuan pemain baru. Meski cukup mengagetkan juga komentar Wenger tentang status Jenkinson setelah kedatangan Debuchy,

But Debuchy is also mentally strong and dedicated, with a big passion like Jenkinson so I think at right back now we are in a strong position. He is going to compete (with Jenkinson), of course. There is nobody today who can play 60 games at the top level – that’s why you always need two players

Mulanya saya berharap Jenkinson akan dipinjamkan ke sesama klub EPL, setelah musim lalu digadang-gadang diminati Man. City, guna mendapat kesempatan bermain reguler. Jenkinson akan tetap diproyeksikan Wenger sebagai bek kanan masa depan Arsenal terlebih kita harus ingat bahwa Debuchy hampir berumur 29 tahun.

Sisi kanan Arsenal ternyata menjadi bagian lapangan yang dominan dalam memegang bola musim lalu. Jika kita menghitung absennya Walcott, kita kembali sadar bahwa apa yang Sagna lakukan di sektor itu begitu krusial. Ini yang saya rasa perlu diantisipasi oleh Debuchy dan Jenkinson, mengingat Walcott masih cedera dan Sanchez lah yang paling mungkin mengisi posisinya — sementara ia pun pemain yang baru didatangkan.

Kembali ke topik.

Yup. Sudah waktunya kah bagi kita untuk memiliki kapten baru? Kita tahu Vermaelen adalah pria brilian yang memberikan segenap upaya saat turun di lapangan. Tapi sejak mengalami cedera panjang itu, Vermaelen seperti bukan yang dulu kita kenal. Paska kepergian meneer Belanda itu permainannya menjadi kacau dan kerap berbuat blunder. Hingga Maret 2013 Vermaelen telah melakukan defensive errror sebanyak 6 kali. Walhasil Wenger berpaling pada kemitraan Per dan Koscielny  dan hal itu membuahkan hasil positif. Bahkan keduanya mencatat rekor 100% kemenangan kala tampil bersama selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya rekor pecah.

32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan dan 9 kali imbang sebelum akhirnya pecah saat dipermalukan Liverpool (perlu dicatat bahwa di pertandingan itu Wenger memasang duet Wilshere-Arteta sebagai pivot).

Mertesacker menjadi sosok kunci dalam mengawal barisan pertahanan Arsenal musim lalu. Kembali lagi saat kita menengok kekalahan 6-3 dari City, Koscielny terpaksa ditarik di babak pertama akibat cedera. Kecepatan dan agresivitas Koscielny melengkapi kemawasan Per akan taktik. Bisa dimaklumi kenapa akhirnya klub-klub seperti Barcelona dan City mengurungkan niat untuk membeli Vermaelen.

Krisis Kapten Waktu Itu

Jika ada yang bertanya, “kapan terakhir kali Arsenal memiliki kapten sejati di atas lapangan?”

Anda takkan yakin untuk menjawab Mikel Arteta lah sosok tersebut. As much as I love him, Arteta ‘hanya’ wakil dari Vermaelen, sang pemain yang sedang tenggelam.

Lantas kita akan termenung manakala teringat beberapa musim silam, pemberian ban kapten Wenger lakukan kepada pemain yang digadang-gadang akan pindah: Cesc Fabregas dan Robin van Pers*e. Sebelumnya bahkan kita pernah dikapteni secara kontroversial oleh William Gallas. *hela nafas prihatin*

Tak pelak kapten hebat terakhir yang kita punya ada pada diri Thierry Henry. Yang cukup jadi ironi, King Titi tak mampu memersembahkan gelar bagi klub saat ia menjabat kapten, karena gelar terakhir — FA Cup — diarih saat Arsenal dikapteni Patrick Vieira.

Seberapa pentingkah sosok kapten di suatu tim sepakbola?

Selain yang tersirat: jabat tangan dengan kapten tim lawan; berbicara dengan wasit sebelum wasit melempar koin pra kick off, kapten adalah juru bicara pelatih di atas lapangan. Kapten yang bertanggungjawab (dan berhak) memrotes keputusan-keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Kapten adalah orang yang — seharusnya — disegani lawan dan kawan.

Meski tak ada peraturan tertulis, kita sering mendapati kapten suatu tim berposisi di barisan pertahanan, entah itu kiper atau bek. Ada tiga penjelasan logis yang sekiranya menjawab fakta tersebut:

  1. Para bek berposisi di belakang. Hanya di kesempatan tertentu (sepak penjuru) mereka merengsek maju ke depan. Hal ini membuat bek melihat jalannya pertandingan secara jelas. Mereka ‘membaca’ situasi yang sedang dihadapi timnya.
  2. Bek merupakan pemain yang jarang mengalami cedera. Sedangakan seorang kapten diharapkan mampu menjalani seluruh pertandingan. Berbeda dengan para penyerang yang menjadi bulan-bulanan lawan.
  3. Bek identik dengan kata ‘sangar’ atau ‘tegas’. Kata sifat yang butuh melekat pada diri kapten tim.

Lihatlah tim-tim terbaik dunia dan sosok kaptennya. Vincent Kompani (Man. City), Vidic/Rio Ferdinand (Man. United), John Terry (Chelsea), Carles Puyol (Barcelona), Sergio Ramos (Real Madrid), Phillip Lahm (Bayern Muenchen). Bahkan jika kita menengok daftar jawara EPL sepuluh tahun terakhir, tim-tim pemuncak klasemen dikapteni oleh sosok bek!

Pada saat Wenger mandapuk Vermaelen menjadi kapten paska ditinggal RvCunt, kekhawatiran pertama adalah bahwa ia akan mengikuti jejak tiga kapten sebelumnya yang meninggalkan klub saat menjabat kapten. Ternyata kekhawatiran itu salah karena nyatanya Vermaelen justru mengalami periode buruk dalam karirnya. akhirnya paska dikalahkan Sp*rs dan Muenchen dua musim lalu, Wnger memberanikan diri untuk mencopot Vermaelen dan ban kapten diemban oleh sang wakil, Mikel Arteta.

Kapten Masa Depan: Wilshere atau Ramsey?

Kita semua merindukan masa-masa Arsenal dikapteni oleh pemain asli binaan klub. Islington born and bred. Bahwa Arsenal kerap memroduksi bakat-bakat muda untuk kemudian menjadi bintang, tidak sepenuhnya benar karena yang Arsenal era Wenger lakukan adalah mencari bibit-bibit mentah dari seluruh Eropa untuk kemudian dibina dan diberi kesempatan unjuk gigi. Sebut saja Cesc Fabregas, Kolo Toure, Tomas Rosicky dan lain-lain.

Lain halnya dengan Man. United yang terakhir kali memromosikan Danny Welbeck, maka Wilshere menjadi satu-satunya sosok yang pantas menyandang gelar ‘produk asli’ Arsenal. Merupakan sebuah kebanggaan jika kita dipimpin oleh pemain yang kenal betul tradisi dan nilai klub. Seperti yang dulu kita miliki pada diri Tony Adams.

Wilshere pun, dengan segala predikat yang ia sandang sejak mencuat di blantika sepakbola, digadang-gadang untuk memerankan jabatan tersebut. Captain Jack Wilshere. Namun sejak kegemilangan Ramsey di dua musim terakhir, serta bagaimana ia berperilaku di luar lapangan, banyak harapan fans tertuju pada pemuda Wales itu sebagai kapten masa depan.

Ramsey punya pengalaman mengapteni Wales. Kala musim selesai pun ia lebih memilihbermain golf atau melakukan kegiatan promosi/amal inisiatif Arsenal. Sosoknya jauh dari kontroversi. Berbeda dengan Wilshere yang dalam satu tahun terakhir saja kedapatan merokok dan jadi persoalan serius mengingat secara terbuka Wenger tidak menyukai hal tersebut dilakukan pemainnya.

Tapi tentu, sambil menakar usia kedua pemain. Juga dari stok pemain kategori dewasa (bermental pemimpin) di tim, wacana menjadikan kedua pemain ini sebagai kapten harus kita kesampingkan.

Kala waktunya tiba, kita akan kembali berdebat tentang siapa diantara dua yang layak memimpin Arsenal.

Kapten Per

Selain oleh Arteta, musim lalu pun kita kerap dikapteni oleh sosok pria Jerman ini (plus oleh Sagna di satu kesempatan). Meski bukan orang Inggris, fakta bahwa Per seorang gooner di masa kecilnya pun jadi nilai tersendiri.

Mertesacker adalah sosok yang berada dalam kategori ‘one of us‘, seperti Carl Jenkinson. Lihat saja bagaimana ia melakukan selebrasi gol. Ingat kembali saat ia berhasil mencetak gol EPL perdana ke gawang Sp*rs. Berlari sambil meraung ke arah Theo Walcott. Atau saat ia memberi selamat pada siapapun yang mencetak gol untuk Arsenal.

Lihat bagaimana ia memarahi Ozil habis-habisan paska dikalahkan Man. City. Bagaimana ia melampiaskan rasa kecewa dan marah karena Ozil tak mau mengikuti tradisi Arsenal: melakukan lap of appreciation kepada suporter, di manapun Arsenal bermain, berapapun hasil buruk yang diterima tim.

Mertesacker juga telah dua musim dipercaya oleh Wenger untuk menjadi penagih denda akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tim sejak dua musim terakhir. Ia mendapat kepercayaan pelatih dan disegani rekan setim.

Tanpa merendahkan kontribusi Arteta dan apa yang ia bisa perbuat musim depan, kita tahu Arteta telah berumur 32 tahun. Sementara Arsenal memiliki stok gelandang mumpuni yang bejibun. Apalagi jika gelandang tengah baru yang digosipkan akan datang benar-benar terwujud. Sulit rasanya untuk berharap Wenger akan menduetkannya dengan Ramsey jika yang dipinang adalah sosok seperti Khedira atau Schneiderlin.

Mertesacker, jika dilihat dari aspek kebugaran, menjadi pemain nomor tiga yang paling banyak diturunkan Wenger musim lalu dengan jumlah 35 pertandingan setelah Szczesny (37) dan Giroud (36). Bandingkan dengan Arteta yang diturunkan sebanyak 27 kali (4 sebagai pemain pengganti).

Mertesacker juga dinobatkan sebagai ‘pemain musim 2013-14’ setelah Ramsey. Plus, kini ia menyandang status sebagai juara dunia.

Bagaimana menurut kamu? Perlukah kiranya Wenger bertindak tegas dengan mengambil keptusan ini? Atau peran Arteta sebagai kapten masih dirasa krusial? Lantas bagaimana dengan ‘future captain’ Wilshere dan Ramsey?

Beri pendapatmu di bawah, atau jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Selamat leha-leha sebelum Senin datang!

4 thoughts on “Waktunya Memberikan Ban Kapten pada Per Mertesacker?

  1. Momen dia marahin ozil yg paling berkesan . Notabene saat itu ozil pemain bintang yg baru di datengin tapi per tetep marahin doi . Cool .

    Like

  2. Setuju. Udah waktunya Per jadi kapiten. Matang secara usia, bermain reguler, permainan sudah sesuai ‘standar’ EPL, plus juara dunia pula. Arteta yang udah biasa jadi vice-captainnya Vermaelen saya rasa gak akan sakit hati jadi vice-captainnya Per.
    All hail The BFG!

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s