Liverpool are Arsenal’s Necessary Evil

Oleh: Nora Ayudha

I’m Necessary Evil..

sumber gambar

Mungkin banyak sekali tokoh antagonis yang seliweran di Hollywood beberapa tahun belakangan, namun entah tokoh ini seringkali muncul di benak saya setiap ada pergulatan sengit dalam sebuah kompetisi. Yah, judul di atas adalah petikan dialog Bane, salah satu tokoh antagonis dalam film Batman “Dark Knight Rises”, tokoh yang menurut saya kata dan intonasinya lebih meneror ketimbang penampilannya. Cerdas sekali Christopher Nolan membangun karakter Bane yang tidak hanya gahar tapi juga mengintimidasi lewat kata – katanya.

Necessary Evil?

​Dalam konteks sepakbola, necessary evil merujuk pada rival yang “menampar” dominasi dan mengoreksi kompetisi. Di Bundesliga misalnya sebelum eksodus pemain, Borussia Dortmund adalah necessary evil bagi Bayern Munich, bisa jadi tanpa kehadiran Die Borussen, FC Hollywood tidak bisa “memaksakan” kemampuan terbaiknya. Di musim 2011-2012, Dortmund mengejutkan Munchen dengan merebut tampuk kekuasaan dengan selisih 8 poin, tapi apa yang terjadi tahun berikutnya? Stern des Südens menyapu bersih semua kompetisi yang diikuti dengan predikat juara.

Arsenal dan Necessary Evil

​Sebenarnya ingin sekali menyebut Manchester United sebagai necessary evil Arsenal, karena selain MU memang (d)evil juga harus diakui beberapa tahun terakhir susah sekali meraih poin saat berhadapan dengan MU. Namun, pertandingan kemarin membuat saya berpikir dan bernostalgia sejenak. Akhirnya, yah akhirnya Liverpool-lah necessary evil bagi Arsenal. Keraguan saya akan permainan Arsenal yang mulai mudah ditebak dan monoton terbukti ketika matchday ke-25 secara mengejutkan dilucuti di Anfield dengan skor 5-1 yang kemudian disusul dengan tidak bisa memenuhi ekspektasi Gooners untuk meraih 3 poin saat melawan Manchester United di kandang. Tak pelak paska peluit panjang riuh cemooh Gooners membahana. Kekhawatiran semakin hampir terbukti setelah peragaan 20 menit awal di lapangan pertandingan tadi malam seperti de javu saat di Anfield.

Namun, kemenangan kemarin menggugah arti penting Liverpool bagi Arsenal.

We Won The League On Merseyside

sumber:
sumber: the-cannon.com

Kemenangan atas Liverpool seringkali terjadi di saat yang penting, yang paling manis dan hingga 25 tahun berikut dan seterusnya masih dinyanyikan ketika kemenangan di Anfield yang menahbiskan Arsenal sebagai juara lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Padahal saat itu Liverpool diperkuat nama-nama besar seperti John Barnes, Ian Rush dan Bruce Grobbelaar.

Kemarin malam, dengan skuad yang tak jauh berbeda di tubuh Liverpool, lawatan Liverpool ke Emirates menjadi sinyal bahwa Arsenal tidak dalam masa krisis, namun kejatuhan seminggu yang lalu (lebih tepatnya 8 hari yang lalu) direspon positif sebelum mempersiapkan Juara Liga Champion musim lalu untuk menjadi tamu yang “sopan”, seperti tamu–tamu lainnya. Kemenangan kemarin malam menjadi bukti beberapa hal, ini yang bisa saya catat :

1. Debut Yaya Sanogo
Kalau boleh jujur, tidak ada yang istimewa dengan penampilan kemarin, namun untuk pemain yang masih muda, baru pulih dari cedera dan mengusung agenda balas dendam, melawan Liverpool tanpa grogi dan takluk pada intimidasi, terbersit Sanogo adalah pewaris tampuk striker kulit hitam* yang pernah dimiliki Arsenal beberapa musim lalu. Pergerakannya lebih agresif ketimbang “Charming Striker”, lihat saja apa yang terjadi sebelum gol Ox-Chambo terjadi? Untuk debutnya, bak menyaksikan “Muhammad Ali melawan Tony Liston” a legend was born. Berlebihankah? Time will tell.

2. Racikan Arsene Wenger
Saya yakin racikan kemarin membuat ketar-ketir, bagaimana tidak? Lukasz Fabianski yang jarang bermain harus menjadi starter di laga yang traumatik, duet Flamini–Arteta yang beberapa kali membuat blunder, Jenkinson yang harus mengawal pergerakan Cou yang silih berganti posisi dengan Sterling dan Yaya Sanogo yang melakoni debut. Namun apa yang terjadi kemarin? Yang pertama menjadi Man of the Match, yang terakhir menuai pujian setinggi langit.

3. Arsene Wenger bukan Spesialis Gagal! We still running in three Competition! (sorry if it Out Of Topic)

Apa yang bisa dipetik dari hasil kemarin?

​Selain kemenangan 2-1 dan tuntasnya dendam**, Arsenal lebih menarik ketika berhadapan dengan tim yang tampil menyerang atau terbuka. Lihat saja seretnya proses gol melawan tim yang tampil defensif, pemain Arsenal seperti kebingungan membongkar pertahanan lawan, bola berpindah dari 1 sisi ke sisi yang lain, yang paling jelas ketika bertemu MU midweek kemarin, saya percaya saat ini anda akan otomatis menggangguk-anggukkan kepala di depan layar tanda setuju.

​Permainan Liverpool memberikan banyak pelajaran bagi Arsenal. Arsenal harus menghadapi permainan sayap yang cukup sering membuat jantung berdebar dan mata berkunang-kunang. Penetrasi dan pergerakan tanpa bola yang menunggu sang skipper memberikan umpan membelah maupun melebar untuk berupaya mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. Masih ingat shot on goal pertama Liverpool? Apa yang terjadi pada Per? Munchen juga memiliki barisan winger yang tak kalah menakutkan, nominator Ballon D’or bertengger di sana (edit: Franck Ribery dipastikan tidka bisa tampil karena cedera), belum lagi gelandang-gelandang yang buas dan tanpa belas kasihan meneror dan mengkudeta lini kedua. Saya jadi melihat hikmah di Anfield, bagaimana jika Arsenal menang di Anfield dan Emirates saat menjamu MU dan Liverpool di FA? Bisa saja Arsenal terlena dan tersedak di kandang saat menjamu Munchen seperti musim kemarin. Mungkin ini yang disebut Arsene knows.

​Bukan berarti masalah tertuntaskan sepenuhnya. Ijinkan saya menjelaskan, barisan penyerang murni yang dirasa kurang menyumbang kontribusi. Kemudian bagaimana dengan kemampuan come back Arsenal yang terbukti ampuh 2 musim ke belakang? Terakhir Arsenal melakukannya saat tandang ke West Ham. Mungkin ini bukanlah prasyarat mutlak, tapi bukan tidak mungkin Arsenal kecolongan lebih dahulu. Satu-satunya hal yang bisa membuat bangga adalah tren positif di Emirates. Oh iya, kedalaman skuad dan pemain kunci yang tumbang bisa jadi pembeda kedua tim saat melakoni perdelapan final UCL edisi kali ini.

Terakhir, jika harus merefleksi pertandingan kemarin, kemarin adalah pertandingan yang bertajuk balas dendam dan hasilnya memuaskan? Bukankah pertemuan dengan Die Rotten juga serupa? Universe conspires? Ah, entahlah. Saya ini Gooners yang terpisah bermil-mil jaraknya dari London, hanya dukungan dan sedikit kreativitas yang bisa saya berikan untuk mengungkapkan kepada tim tercinta ini.

NB : jika anda cinta pada sesuatu, alangkah baiknya jika cinta itu membuat anda menjadi lebih cerdas dan mampu mengeluarkan potensi anda seutuhnya. Jadilah fans yang mencintai dengan baik, bukannya fans yang mencaci tim sendiri. Jika hal itu terjadi pada anda, sepertinya ada yang salah dengan pengertian fans versi anda? J

* Kalimat ini tidak sedikitpun karena alam bawah sadar saya yang rasis, namun hanya untuk menggambarkan sebuah pola.“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)
** Beritahu temanmu jika kalah di BPL masih bisa berlaga, namun tidak untuk kekalahan di FA berapapun itu skornya, mungkin saja mereka lupa format kompetisi antara BPL dan FA Cup.

***

Profil penulis: Mahasiswa Semester 14 ( 14 means : Look Good, Loyalty, legend). Pemula dalam hal Pedagogi. Menulis sebagai injeksi endorfin

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s