It’s Probably All in the Mind

20140212-052534.jpg

It’s Probably All in the Mind

Selamat sore. Akhirnya setelah sekian bulan absen mengisi blog ini saya kembali mampu menulis sambil mengawal perjalanan Arsenal. Banyak kisah heroik yang luput saya liput. Pula kisah memilukan yang berat menulisnya. Jangan mulai dengan kekalahan dari Liverpool kemarin, karena saya tahu itu memalukan, seakan menghempaskan harapan kita jatuh ke tanah.

Bagaimana bisa Martin Skrtl, bek yang musim lalu posisinya terancam bisa dengan mudah membobol gawang kita dua kali?

Mengutip lagu dari Oasis,

It’s probably all in the mind.

Arsenal belum mampu tampil meyakinkan kala menghadapi tim-tim besar di laga penting.
It’s probably all in the mind..

Mesut Özil ternyata hanyalah satu dari dua kepingan yang hilang karena Olivier Giroud belum mampu memaksimalkan daya ledak kreatifitas playmaker Jerman itu.
It’s probably all in the mind..

Duet maut Mertescielny yang katanya kokoh seperti karang masih saja tampil seperti pasir: tak tahu apa yang terjadi saat diterjang ombak ganas (baca: tim dengan penyerang hebat).
It’s probably all in the mind..

Seperti halnya orang-orang keren lainnya, saya berhenti mendengarkan Coldplay paska album X&Y.
It’s probably all in the mind..

Kalah 5-1 tidak membuat peluang kita pupus. Jangan biarkan serangan, kritikan dan sindiran media membuat keyakinan kita terombang-ambing. Bagaimana dengan Chelsea yang di dua pertandingan terakhir hanya mampu bermain imbang melawan tim papan tengah, West Ham dan West Brom dini hari tadi?

Hasil imbang itu juga yang membuat Arsenal kembali berpeluang merebut pos pertama Premier League. Karena menang 200-0 pun nanti, Manchester City tetap berada di posisi kedua.

Kenyataan ini membuat kita harus merekonstruksi nilai yang dikeluarkan media: bahwa juara liga harus mampu tampil meyakinkan kala melawan rival-rivalnya. Bahwa kekalahan Arsenal atas City dan Liverpool hampir pasti menutup peluang Arsenal menutup satu dasawarsa tanpa gelar liga Inggris.

Masalahnya ada 20 tim yang berlaga di kompetisi ini. Percuma saja Liverpool dan City digdaya dengan berbutir-butir gol yang mereka jebloskan jika ternyata kerap terpeleset saat menghadapi tim non enam besar. Dan bukankah dengan kemampuan Arsenal tampil konsisten (sebelum laga kontra Liverpool) itu yang membuat mereka nyaman bertengger lebih dari 3 bulan?

Arsenal (dan Arsène Wenger) belum mampu menemukan formula tepat saat tampil melawan tim yang dilatih oleh ahli taktik brilian.

Bagaimana dengan dua kemenangan atas Tottenham?
Bagaimana dengan fakta sebagai tim yang mampu menundukkan Dortmund — finalis UCL musim lalu kalau anda lupa — di kandangnya?
Bagaimana dengan leg pertama kontra Napoli?

As I’ve said before:

It’s probably all in the mind.

Masalahnya kita mampu tidak tetap memelihara asa dan harapan?
Sudut pandang harus sedikit dirubah saat tim diterpa krisis. Arsenal jelas berada dalam tekanan besar sebelum sepakmula di Anfield kemarin. Mereka harus menang karena City dan Chelsea hanya menghadapi lawan ringan, sementara lawan yang dihadapi adalah Liverpool yang telah bertransformasi menjadi tim dengan barisan penyerang trengginas.

Lalu yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan: belum genap satu menit gawang Szczesny sudah dibobol oleh pemain yang sejatinya tak diharapkan mampu dengan cerdik mengungguli jebakan zonal marking.

Bayangkan anda telah merakit ulang komputer desktop dengan spek kelas advanced gamer: berpendingin, memori 8 RAM dan prosesor termutakhir, tapi komputer tidak beroperasi maksimal sebab ada kabel yang salah colok!

Jangan lupakan juga fakta perubahan gaya Liverpool yang tak lagi Suarez sentris. Plus gemuruh Anfield yang konon menjadi salah satu stadion terbising di dunia.

Melawan United keseluruhan skuat harus sadar bahwa ini bisa jadi turning point bagi keseluruhan nasib klub musim ini. Mereka harus sadar bahwa skuat David Moyes tak ubahnya para caleg menjelang pemilu yang ringan tangan memberi hadiah.

Jack Wilshere tak boleh lagi terlalu emosional kala berduel dengan gelandang lawan. Dan saya pikir sudah waktunya bagi Kieran Gibbs untuk kembali mengisi pos bek kiri. Semangat juang dan kegigihan Tomas Rosicky juga patut kembali hadir sejak menit pertama.

Tulisan ini mungkin dirasa kurang mendalam. Tapi sebagai permulaan setelah absen lama, saya butuh pemantik agar bisa terus hadir paling tidak dalam skala mingguan.

Tidak seperti semangat menulis saya yang kerap padam, jangan sampai harapan kita melihat Arsenal kembali berjaya berada di ruang hampa.

4 thoughts on “It’s Probably All in the Mind

  1. What doesnt kill you, makes you stronger. Setiap kekalahan mengejutkan (villa dan City), membuat tim ini tampak lebih kuat.

    Marah2 sama pasca liverpool match hanya akan mendatangkan aura negatif makanya gw memilih untuk menghujat twitter, yang penuh dengan keyboard warrior “sekelas” wenger.

    Gw pun terkadang suka terbawa suasana, berlagak bak keyboard warrior yang kayaknya tau semua. I regret it.

    Let’s judge this team at the end of the season. Meanwhile, just show our support.

    Like

    1. Senang rasanya melihat blog ini mulai lagi, saya harap blog ini terus berkembang dan semakin dikenal oleh para gooners… Biar makin pinter biar ga salah persepsi mulu, kena aliran sesat dari media media.

      Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s