Sunderland dan Marseille telah ditaklukkan, berikutnya Stoke

The Gunners on tour

Manakala suatu kerajaan telah mengobarkan panji perang, saat itu kita tahu bahwa sang raja telah siap dan yakin dengan kekuatan bala tentaranya. Suatu partai politik, di negeri yang menganut multi-partai, ketika telah mencanangkan gacoan untuk maju menjadi pemimpin selanjutnya pasti telah paham kredibilitas dan elektabilitas tokoh terkait. Pun suatu perusahaan — katakanlah — periklanan. Ketika plang neon sudah dipasang, gedung sewaan telah terisi perkakas perkantoran, si pemilik telah tahu langkah-langkah yang dibutuhkan untuk bersaing di bisnis periklanan, ‘pasar’ macam apa yang menjadi target kliennya, iklan model apa yang sanggup ia buat, dan seterusnya.

Ketiga contoh di atas menuturkan pada kita bahwa tak peduli di medan perang, arena politik hingga persaingan bisnis, pemahaman akan kekuatan sendiri dan rival mutlak dimiliki seseorang sebelum benar-benar bertempur. Bagi mereka yang paham kekuatannya tak seberapa, akan memilih untuk merendahkan tingkat pencapaiannya.

Kerajaan yang tak memiliki kavaleri tapi mempunyai cadangan kayu berlimpah akan berkongsi dengan kerajaan yang lebih kuat guna menjaga dominasi mereka di masa depan. Partai politik gurem akan melakukan lobi-lobi tingkat dewa guna setidaknya mendapat beberapa kursi di dewan pemerintahan. Perusahaan periklanan bermodal kecil akan bergerilya mencari perusahaan gurem yang bujetnya kecil — mereka harus mawas akan kemampuan pegawainya dalam berkreasi.

Sebuah klub sepakbola, yang bertarung hampir satu tahun di area kompetitif tentu ingin selalu menang. Tapi sebuah mimpi di siang bolong jika klub seperti — katakanlah — Hull City menargetkan menjadi juara EPL di ujung kompetisi. Bagi mereka, bertahan di EPL musim depan sudah merupakan prestasi. Syukur-syukur jika mampu ‘berbicara’ lebih banyak di kompetisi domestik lain.

Lantas akan ada sebuah tudingan kepada saya, ‘memangnya Arsenal klub sekelas Hull? Enak saja!’. Tidak bisa dipungkiri. Tapi komentar tadi tidak sepenuhnya benar.

Sebelum kompetisi UCL digelar minggu lalu, saya membeli dua tabloid sepakbola dengan tiras terbesar yang pada saat bersamaan membahas tim-tim yang berkompetisi di UCL. Mana saja grup yang masuk kategori ‘neraka’, siapa saja yang peluang lolosnya besar, juga prediksi serta ulasan-ulasan mendalam mengenai statistik, tradisi hingga sejarah beberapa klub atau pelatih.

Di tabloid yang saya pegang tersebut, tidak satu pun memajang salah satu pemain Arsenal di sampul. Pun ‘aroma’ tulisan di tiap halaman, mereka tetap berbondong-bondong menjagokan Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Juventus dan Bayern Munchen untuk menjuarai kompetisi tertinggi di Eropa ini. Tidak salah, karena kekuatan klub-klub tersebut dianggap mmemnuhi — bahkan melebihi — standar klub Eropa lain.

Maka ketika Arsenal mampu kembali menang di kandang Marseille, sesungguhnya pencapaian tersebut sudah di luar ekspektasi saya pribadi. Saya ingin Arsenal selalu menang minimal 50-0 atas semua lawan yang dihadapi, tapi sambil menjaga rasa optimis, saya selalu menekankan untuk selalu menakar kadar ekspektasi saya agar tak terlalu kecewa.

Rekor 10 kemenangan tandang yang anak-anak Arsene Wenger raih bahkan tak mampu dilakukan Arsenal era Invincibles. Ya, betul, kekalahan atas Aston Villa adalah sebuah langkah buruk dalam memulai kompetisi. Tapi jika ternyata hal tersebut mampu melecut klub untuk merekrut dua pembelian brilian (seorang pemain dengan julukan si raja assist bewajah sendu dan si anak hilang Mathieu Flamini yang ternyata mampu mematahkan keraguan fans), memompa semangat skuat untuk secara padu mendulang hasil optimal, mengapa tidak?

Di tengah badai cedera, Arsenal mampu meraih 6 kemenangan berturut-turut sementara Chelsea — yang kekuatan skuatnya terlihat mengerikan — justru diremukkan Everton dan Basel. Ada sesuatau yang spesial di tim yang kita punya saat ini. Tak luput dari perhatian, dalam daftar cedera tersebut bahkan terdapat dua kapten utama; hal yang jika terjadi tiga musim lalu akan membuat motivasi tim menjadi pincang dan lihat kini: Per Mertesacker dan Bacary Sagna unjuk diri mengenakan ban kapten untuk menggantikan Thomas Vermaelen dan Mikel Arteta.

Ketika musim baru saja bergulir, semua fans sepakbola pasti memendam hasrat untuk melihat timnya meraih suatu gelar di bulan Mei. Menjelang Agustus, periode dimana semua disibukkan oleh alur keluar-masuk pemain, fans akan (harusnya) bisa merekronstruksi harapan. Dengan hitung-hitungan sederhana (mengindahkan kekuatan skuat, finansial, injury record, tradisi, tren), ada 20 tim yang memerebutkan gelar EPL. Berarti masing-masing tim ‘hanya’ memiliki 1/20 kesempatan untuk menggapai hal tersebut. Belum lagi jika kita menghitung kesempatan suatu tim di kompetisi Piala FA.

Ketika ditanya wartawan apakah skuatnya ini (saat itu media sangat gencar memberitakan ketertarikan Arsenal terhadap Suarez), mampu bersaing dengan tim seperti Chelsea atau City Wenger menjawab,

Yes, of course. I am confident. Why should I sit here and say to you we can absolutely not win the title with the players we have?

Saat itu, jawaban di atas akan terdengar ironis. Tapi Wenger kembali membuktikan bahwa memang benar media telah — mengutip istilah yang dia lontarkan — ‘mencuci otak’ fans di periode bursa transfer. Fans menjadi lupa bahwa tanpa pemain tambahan, skuat yang tak lagi kecolongan pemain kuncinya ini berhasil mencatat rekor menakjubkan setelah menang 2-0 di Allianz Arena.

Sunderland 1 – 3 Arsenal

Sunderland adalah tim seperti Swansea, Southampton atau Newcastle dua musim lalu: tim-tim yang secara kasat mata tak akan membahayakan Arsenal namun fakta berkata dengan mereka-lah kita sering kehilangan poin.

Musim lalu sendiri kita belum pernah menghadapi Sunderland asuhan Paulo di Canio, eks West Ham yang menjadi pelatih mereka di penghujung kompetisi 2012-13.

Di pekan keempat, semua pandangan mata tertuju pada tiap rekrutan baru yang klub mereka gaet di tenggat bursa transfer. Maka tak heran, pandangan mata Gooner (juga non-Gooner) tertuju pada Mesut Ozil; si raja assist berwajah sendu.

Tak butuh waktu lama bagi Ozil untuk menjulangkan namanya di belantara EPL. 11 menit.

Bola yang terlepas tepat di depat kotak 16 yard bergulir ke arah Kieran Gibbs. Gibbs — yang musim ini terlihatt makin berwibawa — melihat pergerakan dua pemain serang Arsenal yang siap meluncur untuk menerima bola lambung. Giroud dan Ozil. Posisi Giroud terlalu riskan sementara si raja assist berwajah sendu telah dengan cerdik membelakangi bek sayap Sunderland.

Gol terjadi begitu indah. Gol yang mengingatkan saya dengan cara Invincibles menghancurkan lawan-lawannya dulu. Bola lambung dari Ljungberg dikontrol Bergkamp sambil sedikit meloncat (juluran kaki ikoniknya itu!), dan dengan sekali lirik, sekali kontrol, the non-flying Dutchman mengirimkan bola ke kotak 6 yard untuk Pires yang sudah berlari kencang. Kiss! Kiss! Bang! Bang!

Ketiga pemain (Gibbs, Ozil dan Giroud), berkontribusi maksimal atas terciptanya gol ini. Betapa pemandangan yang menyejukkan saat melihat semua pemain merayakan gol tersebut.

Sepakbola eksotis telah kembali. Sepakbola elegan ala Arsenal telah dirasa siap kembali beraksi. Gaya sepakbola yang dulu diciptakan Arsene Wenger.

Poin utama dari lemahnya daya serang Sunderland adalah hilangnya sosok Stéphane Sessègnon yang dilepas di Canio ke West Brom. Untuk tim yang (dulu) mengandalkan permainan sayap dan bola-bola lambung, Sessègnon adalah wujud komplit yang musim lalu berkali-kali menyulitkan sisi kanan pertahanan Arsenal. Posturnya menjulang dan kekar, juga piawai dalam menggiring bola menyusuri sayap. Plus, ia bisa diandalkan dalam duel-duel udara.

Paulo di Canio sendiri berujar, ia melepas Sessègnon karena yang bersangkutan memang sudah tak mempunyai hasrat untuk membela tim yang berdomisili di kawasan Wearside ini.

Selanjutnya kita kembali disuguhi sentuhan-sentuhan magis Ozil — si raja assist berwajah sendu — dalam mengontrol permainan. Ia bermain tanpa Mertesacker dan Podolski, dua sosok yang mempu memberinya arahan dengan bahasa ibu, tapi baginya itu bukanlah suatu perkara. Ada dua sodoran bola yang ia berikan untuk Walcott. Namun sayang, ditambah satu umpan silang dari Wilshere, tiga peluang emas tersebut tidak mampu dioptimalkan Walcott.

Ozil bermain lebih rileks. Ia tak diplot Wenger untuk menjemput bola ke 2/3 lapangan. Hal itu menjadi urusan Ramsey dan Wilshere — yang dipertandingan ini ditempatkan di sayap kiri. Dan kegelimangan Ramsey berlanjut dengan torehan enam tekel sukses di babak pertama. Ia menjadi pemain yang ‘membenahi’ alur bola Arsenal jika tercerai-berai. Zidanesque roulette-nya lagi-lagi keluar. Ia sukses ‘menyederhanakan’ tugas Ozil; dimana operan antara Ozil dan Ramsey menjadi kombinasi terbanyak di pertandingan ini.

Sementara bayangan akan meredupnya sinar Wilshere, bisa saya vonis sirna sudah. Wilshere bermain aduhai sebagai gelandang box-to-box sekaligus, dengan kecenderungannya melewati pemain lawan, membuat perhatian pemain Sunderland terpecah. Hingga kini ia belum menyuplai assist ataupun gol, tapi gaya bermainnya tersebut menyumbang warna positif: Arsenal jadi sering dilanggar di daerah-daerah berbahaya. Pula kemampuannya melepas second assist, atau dalam bahasa sederhananya, assist yang tercipta sebelum assist terakhir.

Menilik data dari StatsZone, di babak pertama dominasi Arsenal terlihat kentara. Arsenal berhasil melakukan 292 operan sukses, dimana 83 dari catatan tersebut terjadi di sepertiga akhir lapangan Sunderland. 69.5% possession dan 6 tembakan (50% ke arah gawang).

Babak kedua berjalan, di Canio mengganti David Vaughan yang seperti tertidur dengan Craig Gardner. Belum lima menit, Adam Johnson (salah satu pemain overrated ‘too much too soon’ Manchester City) menyeruak masuk kotak penalti Arsenal dan Koscielny melakukan tekel tak perlu. Gardner pun sukses mengonversinya untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Koscielny loves a late tackle, dan dia memiliki reputasi sebagai penyapu terakhir pertahanan Arsenal. Namun, seperti kita sama-sama ketahui, kerap kali sapuan kakinya berbuah pelanggaran. Saya pikir ini juga merupakan imbas dari absennya Mertesacker, dan meski berduet dengan rekan satu negara (Bacary Sagna), tentu berbeda.

Dari apa yang nampak seperti milik Arsenal, justru Sunderland yang kini mendominasi. Masuknya Gardner terbukti memberi daya gedor berlebih dengan tembakan-tembakan jarak jauhnya. Catatan statistik memerlihatkan rasa frustasi Sunderland dengan torehan 5 tembakan on target dari luar kotak penalti yang mereka bukukan. Sementara Arsenal, dari 10 tembakan yang tercipta di babak kedua, hanya dua yang berasal dari luar kotak 16 yard. Tiga gol pun terjadi di dalam.

Disini-lah Ramsey kembali unjuk gigi. Jenkinson yang terlihat gugup (musim lalu ia diusir wasit kala melawan tim yang sama) mengirim crossing ke kotak penalti. Mengulang apa yang ia lakukan saat menjebol gawang United 3 musim silam, Ramsey mengangkat kedua tangan untuk memberi isyarat bahwa ia bebas kawalan, dan… blam! Bola cantik dari Jenks pun disambar Ramsey. Satu-satunya hal yang saya benci dari Ramsey di gol ini adalah selebrasinya yang ala kadarnya.

Sempat terjadi beberapa insiden yang membuat suporter tuan rumah menyoraki wasit Martin Atkinson. Salah satu yang paling krusial adalah saat ia tak memberi (saya tak paham padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya) advantage atas gol Jozy Altidore. Jika pemain tim A dilanggar sebelum mencetak gol, tapi ia mengindahkan peluit wasit, maka pemain tim A diberi kelleluasaan untuk meneruskan permainan. Jika terjadi gol, seperti di laga ini, maka pelanggaran gugur. Menang dengan sedikit bantuan wasit. Benar-benar Arsenal yang berbeda.

Di gol ketiga Arsenal (kedua dari Ramsey), kita bisa melihat bahwa keputusan Wenger untuk lama memainkannya di sisi sayap membuahkan hasil aduhai. Jika anda masih ingat, di pertandingan ini Giroud tidak hanya memberi one-touch pass untuk Ramsey seorang, tapi juga kepada Walcott (bahkan hingga 3 kali). Ramsey, yang masuk dari lini kedua, berhasil melihat ruang longgar pertahanan Sunderland. Kini dengan kepercayaan diri berlipat ia dengan tenang menaklukkan Keiren Westwood.

Tiga poin yang cukup mengantar Arsenal memuncaki klasemen liga primer. Pihak ofisial menganugrahi gelar man of the match pada Giroud, yang saya pikir bermain tak kalah beringas mengingat ia kembali memenangi duel udara terbanyak (6).

Marseille 1 – 2 Arsenal

Saya telat bangun. Ditambah terbirit-birit mencari link streaming, saya baru bisa menyimak pertandingan di babak kedua.

Dari komentar-komentar di Twitter saya sedikit paham bahwa Arsenal tidak mendominasi pertandingan tandang kedua dalam seminggu ini. Berada di grup neraka bersama Dortmund dan Napoli, tiap tim akan mengoptimalkan laga tandang agar memudahkan posisi mereka di klasemen. Kebobolan satu gol akan sangat menentukan dalam hitung-hitungan penempatan posisi di klasemen.

Saya mendapati sebuah respon dari twit di atas yang berbunyi kurang lebih, ‘gapapa yang penting menang dulu’. Saya tidak setuju karena fase grup yang hanya memertemukan tiap tim masing-masing dua kali, catatan menjebol gawang dan kebobolan akan sangat penting demi lolos ke fase berikutnya. Ditambah obsesi saya terhadap pertahanan (jebakan offside, rekor cleansheet, etc), gol Marseille itu berarti musibah.

Marseille memiliki playmaker timnas Valbuena dan  Jordan Ayew — yang di pertandingan ini kerap menggiring bola menerobos dua lapis pertahanan Arsenal. Sesaat setelah mendapat koneksi streaming mumpuni, pertahanan komedi Arsenal hampir membunuh jalannya laga ketika Mertesacker melakukan kesalahan dalam mengantisipasi umpan silang. Bola yang ia sapu justru terlontar ke arah gawang Szczesny, terlihat 98% masuk ke dalam, Gibbs pun dengan cepat menghalau bola tersebut dengan kepala lonjongnya (ada yang turut memerhatikan bahwa kelonjongan tempurung Gibbs berada di level tak wajar?).

Lucunya, bek tim tuan rumah pun tak mau ketinggalan untuk mengikuti aksi Mertesacker. Bedanya, bola umpan silang Gibbs yang seharusnya ia halau dengan  kaki tapi malah dihalau dengan kepala tersebut mengarah pada Walcott yang berdiri bebas. Momen yang Walcott tuturkan bagai berlangsung puluhan tahun tersebut tak ia sia-siakan. Sepakan kerasnya menghujam arah bola ke sisi kanan atas gawang Mandanda (yang sebetulnya bermain cukup tangguh).

Gibbs kembali menunjukkan kegemilangan dengan assist yang dia berikan pada Ramsey (meski saya tak yakin hal tersebut dihitung assist). Gibbs semakin solid dan menunjukkan determinasi di tiap pertandingan. Perlu di ingat, di musim yang baru berjalan kurang lebih sebulan ini ia telah menyumbang assist dan gol — sesuatu yang tak bisa ia lakukan musim lalu. Ditambah, tugas Gibbs lebih berat ketimbang Sagna/Jenkinson mengingat semua pemain (kecuali Podolski) yang Wenger tempatkan di sisi kiri tak bermain seperti Walcott. Baik Wilshere hingga Cazorla cenderung beroperasi ke tengah. seperti yang terpampang di visualisasi di bawah:

— via @Orbinho

Akan sangat berbahaya jika moda permainan seperti ini terus berlanjut:

  1. Podolski — partner terbaik Gibbs yang mengerti kapan harus turun — harus absen hingga Desember,
  2. Gibbs tidak bisa terus-terusan sanggup menghadapi gempuran lawan dan membantu penyerangan sendirian. Menjadi jelas kenapa Wenger memasukkan Monreal untuk menggantikan pemain selain Gibbs: demi membantu Gibbs agar tak kedodoran.

Tren positif ini, enam kemenangan beruntun di segala ajang dengan skuat pas-pasan, akan menghadapi tantangan berikutnya: menghadapi sekumpulan orang-orang Neanderthal di kandang. Setelah performa menakjubkan di kandang lawan, anak-anak Arsenal harus membuat Ashburton Grove disegani.

Ditambah lagi, Arsenal mulai memasuki periode sibuk. Dari pertandingan melawan Stoke besok, Arsenal hanya punya waktu jeda dua hari saat  meladeni West Brom/25 September (Capital One Cup), Swansea/28 dan Napoli/1 Oktober.

Kombinasi pemain baru lintas-negara yang kita punya — Spanyol dan Jerman — ternyata tak membuat pemain-pemain akar Inggris bentukan Wenger tertutupi sirnanya. Seperti yang dicatat jurnalis internal klub Josh James, 13 dari 15 gol yang Arsenal cipatkan musim ini disumbang (assist/gol) oleh pemain-pemain British core.

Jika kau terus-terusan marah dan melayangkan kritik kepada klub di periode transfer pemain, sudah waktunya kini untuk mengangkat topi bagi para pemain dan terutama pelatih. Seperti tajuk utama blog sejarawan Arsenal Tony Attwood,

Supporting the club, the players and the manager

Selamat berakhir pekan. Jumpa esok hari.

5 thoughts on “Sunderland dan Marseille telah ditaklukkan, berikutnya Stoke

  1. Kutipan Tony Attwood itu melegakan hatiku
    Saat bulan agustus dan kalah dari Galatasaray semua orang mencibir Wenger
    Chants mereka sama sekali tidak ada untuk Wenger
    Bahkan sekarang hubungan pertemanan renggang karena beda prinsip
    Bahkan tautan video mengenai supporter yang marah pada board dan Wenger disodorkan untuk mendukung argumen mereka
    Aku harap sekarang mereka mau fair dengan mengakui kalo Wenger berhasil mendatangkan seorang Ozil dan tidak boros dengan membeli pemain kelas C dengan harga kelas A

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s