KUPAS TUNTAS: Arsenal Global Scouting System dan Mereka yang Tak Pernah Tidur (bagian I)


Oleh: Isril Hamdani

Beberapa tahun lalu sebuah tim dari Bangladesh datang untuk memainkan beberapa pertandingan di Inggris. Mereka tim low profile yang bermain untuk menggalang dana bagi komunitas lokal. Entah mengapa saya tertarik untuk menonton. Saya sangat terkesan dengan kiper tim tersebut dan saya mengatakannya kepada Arsene Wenger. Saya tak percaya ternyata Arsene Wenger sudah mengenal pemain itu. Ia dari Bangladesh! Saya jadi yakin tidak ada satupun pemain di planet ini yang tidak diketahui Arsenal. – Philippe Auclair (Koresponden L’Equipe di London)

Pernyataan diatas bukanlah sebuah pernyataan basa-basi dari seorang Philippe Auclair, sejak Arsene Wenger tiba di Highbury ia melakukan terobosan baru dalam sistem jaringan pemandu bakat di Arsenal yang dinamakan Global Scouting System. Wenger membuat sebuah sistem dengan jangkauan lebih luas, bukan hanya Eropa, tapi sudah mencakup antar benua dan menyentuh area-area yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh siapapun demi mendapatkan permata permata belia.

Apalagi sejak kepindahan ke Ashburton Grove, Arsenal diwajibkan membayar cicilan hutang tiap tahunnya dan Wenger yang kita tau bergelar doktor di bidang ekonomi dipaksa memutar otak untuk hal ini. Seolah tak mau ilmunya semasa kuliah hilang begitu saja dan alih alih mencari pemain via You Tube seperti yang dilakukan oleh banyak tim lain, Wenger malah menghabiskan banyak uang untuk membangun sistem jaringan pemandu bakat kelas dunia.

Seperti yang diungkapkan Francis Cagigao, salah satu scout di Arsenal : “Arsenal mungkin terkesan tidak berbeda dengan Real Madrid, Barcelona atau Valencia, namun kami jauh lebih agresif dibanding mereka. Scout Arsenal adalah bagian penting dari klub, dan mereka membuat kami merasa seperti itu. Kami mendapat fasilitas terbaik untuk bepergian mengunjungi semua pertandingan dan turnamen penting di dunia. Saat ini lebih dari 80 orang dipekerjakan di departemen Scouting Arsenal. Hampir tidak ada klub Eropa yang memiliki jaringan sekuat kami.”

Dan hasilnya bisa kita lihat sendiri, Arsenal sering mendapatkan pemain-pemain yang seolah didatangkan dari planet Mars. Mereka datang dengan wajah polos seolah tidak tahu apa-apa, jauh dari rumah, dan, ehm.. harga yang murah. Sering kali situs transfermarkt.co.uk pun tidak tahu berapa harga pemain-pemain itu. Tapi yang pasti mereka memiliki bakat hebat dan determinasi tinggi untuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Tujuannya jelas, Wenger telah berhasil memangkas biaya pengeluaran klub, menghemat jutaan poundsterling dengan menjadikan jaringan pemandu bakat miliknya sebagai salah satu tulang punggung untuk keberlangsungan hidup klub tersebut.

Buat apa kami bekerja keras mengembangkan bakat dan akhirnya membangkucadangkan mereka karena kita membeli seorang mega bintang. Lebih baik saya bilang kepada manajemen untuk menyimpan 100 juta poundsterling atau diinvestasikan di tempat lain saja. – Arsene Wenger

Kredit khusus memang layak diberikan untuk Wenger, tapi sejatinya scout (pemandu bakat) yang dimiliki Wenger juga patut untuk mendapat pengakuan dan penghargaan. Mereka adalah mata dan telinga Wenger diluar sana. Para scout ini memiliki mata elang yang tajam dalam urusan menemukan pemain. Tanpa mereka mustahil Arsenal sekarang ini memiliki pemain-pemain muda potensial yang dulunya berharga murah.

Di artikel ini biarkan saya untuk mengulas sedikit sistem dan cara kerja jaringan pemandu bakat Arsenal, siapa saja mereka dan pemain-pemain mana saja yang pernah mereka temukan. Tidak lupa sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk admin Indocannon yang mengizinkan saya kembali untuk mengisi kolom artikel tamu. Enjoy!

Arsenal Global Scouting System

Saya tidak peduli paspor mereka, saya hanya peduli bakatnya. – Arsene Wenger

Bagi saya kalimat diatas mengandung nilai magis. Inilah cikal bakal Arsenal Global Scouting System, sebuah konsep dasar mengagumkan yang diterapkan dan ditekankan Wenger kepada para scoutnya. Selain diberikan fasilitas ekslusif, mereka diberikan keleluasaan menemukan pemain. Tidak peduli pemain berasal dari mana dan bermain di klub apa, selagi pemain itu memiliki bakat yang hebat dan memenuhi syarat lainnya, maka Wenger akan dengan senang hati merekrut pemain tersebut. Tidak heran skuad Arsenal berisikan pemain multi-nasional.

Namun sebelum Wenger merancang Arsenal Global Scouting System, sebenarnya arus perpindahan pemain khususnya lintas benua telah terbantu peraturan Bosman yang terjadi tahun 1990-an. Aturan Bosman menyebutkan bahwa klub tidak bisa menahan pemainnya untuk hengkang ke klub lain apabila masa kontraknya telah usai dan klub yang menginginkan pemain tersebut bisa merekrutnya tanpa biaya. Ian Carrington, pengamat dan konsultan beberapa klub di Inggris menegaskan sejak ketentuan Bosman diberlakukan klub-klub Eropa berlomba-lomba mencari bakat muda dari segala pelosok benua. Bahkan adanya peraturan FIFA yang menjaga transfer pemain muda dibawah usia 18 tahun pun tidak menjadi halangan bagi mereka yang mencari Romario dan Ronaldo muda.

FIFA memang melarang sebuah klub membeli dan membawa seorang pemain muda di bawah usia 18 tahun dari satu benua ke benua lainnya. Tapi ada solusi dalam mengatasi hal ini, contohnya kasus Carlos Vela mantan pemain Arsenal asal Meksiko, seluruh keluarganya diajak pindah supaya tidak melanggar peraturan perpindahan pemain itu. Bahkan Arsenal mencarikan pekerjaan untuk ayah Carlos Vela sehingga perpindahannya seolah olah karena pekerjaan ayahnya. Ya, FIFA memang tidak berkutik pada akhirnya.

Arsenal Global Scouting System rancangan Wenger juga dimudahkan karena peraturan tenaga kerja di Eropa misalnya Spanyol. Negara tersebut tidak mengizinkan pemain memiliki ikatan kerja (kontrak) dibawah usia 18 tahun, sehingga pemain pemain seperti Fabregas, Fran Merida, Ignasi Miquel, Jan Toral, Hector Bellerin dan yang terbaru Julio Pleguezuelo bebas direkrut oleh Arsenal.

Selain dimudahkan oleh peraturan tersebut, Wenger juga memiliki skema scouting yang fantastis. Philippe Auclair mengatakan bahwa skema Global Scouting System di Arsenal seperti piramida besar. Yang ada di puncak adalah Arsene Wenger. Dibawahnya adalah Chief Scout (Kepala Pemandu Bakat) Steve Rowley, selanjutnya ada sosok-sosok super scouts yang memimpin semua wilayah utama sepakbola seperti Francis Cagigao (Spanyol dan Portugal), Gilles Grimandi (Prancis, Israel, Swiss dan Afrika), Everton Gushiken dan Pablo Budner (Amerika Selatan), Bobby Bennet (Balkan yang mencakup Serbia, Bosnia, Bulgaria, Makedonia dan Yunani), Peter Clark (Belanda), Danny Karbassiyoon (Amerika Utara), Jurgen Kost (Jerman, Austria dan Rep Ceko), Tony Banfield (Italia, Kroasia dan Slovenia) serta Steve Morrow (International Partnership Performance Supervisor).

Di bawah mereka ada lapisan-lapisan pemandu bakat dari setiap negara. Banyak yang bekerja sebagai pemandu bakat lepas untuk berbagai klub. Selain itu juga faktor koneksi Wenger di luar negeri yang selalu ia eksploitasi dengan baik, contohnya teman lama Wenger Jean Michael Guillou, memiliki sebuah akademi di Pantai Gading bernama ASEC Mimosas yang menghasilkan Kolo Toure dan dibeli Arsenal ‘hanya’ 150 ribu poundsterling.

Menurut David Dein, Wenger percaya bahwa masa depan sepakbola berada di benua Amerika dan Afrika, meskipun Wenger tidak pernah mengakui hal ini secara terbuka namun ia memiliki keyakinan bahwa pemain di benua Amerika memiliki teknik yang lebih unggul dan pemain di benua Afrika memiliki fisik jauh lebih kuat dibanding pemain yang ada di benua Eropa. Sementara itu Chief Scout Arsenal Steve Rowley mengatakan bahwa Wenger dengan tegas percaya setiap pemain besar dimulai dari suatu tempat yang tidak jelas.

Wenger telah membawa visi global dan Arsenal telah ‘meng-global’. Oleh karena itu dengan beberapa peraturan yang cukup memudahkan dalam merekrut pemain yang melahirkan konsep ‘tidak peduli dengan paspor, hanya peduli dengan bakat’ serta gairah dan keyakinan Wenger untuk terus menemukan permata yang terpendam plus skema pemandu bakat layaknya The Dream Team membuat Arsenal Global Scouting System miliknya menjadi pemain utama dalam dalam industri ini dimana persaingannya semakin hari semakin kompetitif dan terkadang sedikit menggila.

How They Work?

Bekerja sebagai pemandu bakat bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Mungkin Anda mengira hanya dengan duduk dipinggir lapangan mengamati pemain sambil memegang pena dan secarik kertas lalu Anda bisa mendapatkan pemain tersebut?

Tentu saja tidak!

Pemandu bakat merupakan sebuah pekerjaan yang sangat intensif dalam sepak bola. Berbagai pertandingan mesti diawasi, pemain harus diuji, agen, orang tua, para penghubung mesti dirayu, dan laporan juga harus ditulis. Namun pada dasarnya yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemandu bakat ada 3 hal, yakni: pengetahuan, seni dan kemampuan untuk merayu.

Pengetahuan yang dibutuhkan adalah kemampuan menilai bakat dan potensi pemain. Pemandu bakat harus cepat menyimpulkan bakat seoran pemain tersebut jika menunggu terlalu lama peluang itu akan hilang. Insting sangat vital dalam hal ini.

Selanjutnya adalah seni, seni yang saya maksud disini ialah seni kamuflase, karena menjadi seorang pemandu hampir sama dengan seorang detektif. Pemandu bakat dengan reputasi tinggi dan datang dari klub besar tidak mungkin memperlihatkan wajahnya saat mengamati seorang pemain.

Contohnya Jose Antonio Reyes, Steve Rowley mengatakan saat itu pemandu bakat Arsenal memantau Reyes dengan topi dan kumis palsu selama 2 tahun di setiap latihan dan pertandingan yang Reyes jalani. Begitu juga halnya dengan Thomas Vermaelen sebelum pindah ke Arsenal Steve Rowley turun langsung untuk mengamati pemain ini, memang tidak memakai kumis palsu tapi Steve bersembunyi dibalik pohon pada saat Thomas Vermaelen sedang latihan bersama Ajax.

Menurut saya cara ini efektif, sebab jika pihak klub mengetahui adanya pemandu bakat yang mengamati pemainnya, maka harga pemain tersebut kemungkinan naik 10 kali lipat dari harga awal. Dengan seni kamuflase pemain tidak tau bahwa mereka sedang dipantau, hal ini bagus karena pemandu bakat bisa mengukur kemampuan yang sebenarnya dari seorang pemain. Seni ini juga membuat seorang pemandu bakat tidak diketahui oleh pemandu bakat dari klub lain yang mungkin saat bersamaan juga memantau pemain tersebut, sebab jika bentuk penyamaran ini diketahui bisa jadi pemain yang diincar akan disambar oleh klub lain.

“Kadang mereka seperti komunitas rahasia. Anda bisa datang ke beberapa laga dan mengenali pemandu bakat lain, tapi kadang mereka bisa tampak tidak jelas. Saya rasa itu memang bagian dari pekerjaan: menyimpan kartu Anda dengan rapi.” Kevin Reeves – Chief Scout Swansea City

Berikutnya kemampuan merayu pemain. Biasanya ini cukup sulit, karena pemandu bakat harus meyakinkan pemain dan keluarganya untuk pindah. Contoh selain Carlos Vela adalah George Puscas. Pada Oktober 2012, Arsenal hampir saja sukses merampungkan kepindahan striker asal Rumania berusia 17 tahun itu — yang sebelumnya sudah dipantau oleh Tony Banfield selama 6 bulan. Namun sang pemain berubah pikiran dan akhirnya bergabung dengan tim Primavera Inter Milan dengan alasan ingin melanjutkan studi di kota Milan.

(bersambung)

10 thoughts on “KUPAS TUNTAS: Arsenal Global Scouting System dan Mereka yang Tak Pernah Tidur (bagian I)

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s