Mesut Özil: Bergy of Our Time

Prelude – Minggu, 1 September 2013

Pagi itu terasa sama seperti Minggu pagi lainnya. Sedikit hening jika biasanya bising (rumah saya di Jakarta berada tepat di pinggir jalan). Saya bangun begitu dini. Alasan pertama adalah karena sebulan terakhir, saat berada di rumah, saya selalu mengajak adik saya latihan berenang di hari Minggu pukul delapan. Alasan kedua adalah perasaan aneh yang terus-menerus berkecamuk di kepala.

Saya menggigil membayangkan pertandingan yang akan berlangsung malam itu. Saya merokok tak habis habis, meski terasa sepat dan bibir saya seperti kebas. Tidak enak. Tapi saya yakin, suasana hening pagi yang menenangkan adalah pertanda bahwa Arsenal akan baik-baik saja menghadapi Sp*rs. Pun melihat respon yang saya terima dari artikel match preview pertandingan tersebut, kepercayaan diri mengepul lagi.

Saya menyambi sarapan pagi itu dengan merespon komentar-komentar di sini, putar-putar linimasa Twitter dan layar TV. Sesekali menimpali pembicaraan bapak ibu di ruang makan. Pikiran saya tidak berada di sana. Kalah dari Sp*rs akan mengulang apa yang Arsenal lakukan dua musim lalu saat klub melakukan pembelian panik.

Yossi Benayoun, Per Mertesacker dan Mikel Arteta berhasil memberikan kontribusi positif saat itu. Tapi kita tak boleh melupakan nama Andre Santos dan Park Chu Young yang menyertai perekrutan tersebut. Buang-buang uang saja. Menang atas Sp*rs pun tekanan untuk merekrut pemain tetap ada. Klub tidak punya alasan untuk tidak merekrut pemain penting setelah apa yang mereka lakukan selama jeda kompetisi; penawaran demi penawaran kepada beberapa pemain yang terdengar tak serius. Celakanya waktu yang tersisa tinggal kurang dari 48 jam.

Alamak!

Verse – kolam renang umum di sebuah komplek, 08.11

Suasana lumayan ramai karena di kolam renang ini menyediakan jasa pelatihan renang bagi anak-anak. Terlihat beberapa orang tua mengawasi anaknya di dalam dan luar kolam. Sesekali pandangan saya menyapu pada — demi Tuhan saya tidak ingin terdengar cabul — ibu-ibu muda yang lumayan cantik.

“Ayo kita pemanasan dulu,” kata saya pada adik yang berumur 11 tahun. Kesempatan yang saya manfaatkan untuk menyisir pemandangan di sana. ‘Oh, ada seorang gadis cantik rupanya,’ batin saya.

Saya semakin semangat merenggangkan badan.

Alasan saya menyamakan jam berenang kami dengan jadwal kursus di sana adalah saya bisa menyuruh adik saya untuk mencuri dengar instruksi dari para pengajar di sana sementara saya melakukan beberapa kali putaran. Baru ketika napas saya terasa sesak, saya melanjutkan menemani adik melancarkan gaya katak yang telah saya ajarkan. Dia belum bisa mengambangkan tubuhnya di air. Bodoh sekali.

Skemanya begini: memegangi dan meneriaki dia 5-6 putaran – saya berenang sendiri 1-3 putaran sambil melirik perempuan tadi – keluar dari kolam sambil meneriaki adik dan menghisap rokok. Begitu terus sampai kira-kira pukul 11.30.

Saya teringat saya belum menyesap kopi pertama dan saya tidak pernah memercayakan orang lain untuk menyeduh kopi untuk saya (saya curiga di kantin kolam renang hanya menyediakan kopi instan — sesuatu yang saya anggap bukan kopi). Dan hal ini saya anggap sebagai pertanda hari yang tidak berjalan baik.

Tuntas berenang — dimana saya melewatkan kesempatan untuk mengajak perempuan tadi berkenalan — kami pulang ke rumah. Saya menyeduh kopi pagi idaman dan bermaksud untuk tidur setelahnya. Namun manusia hanya mampu berkehendak, paman dari pihak ibi — beserta istri dan keempat anaknya — datang berkunjung ke rumah setelah mereka pergi ke car free day. Masalahnya dua anak si paman ini bandel dan enerjiknya minta ampun. Niat tidur saya gagal, dan kembali, saya berbisik lirih, “ini pertanda.”

Arsenal kalah, Jack Wilshere dan Olivier Giroud cedera, dan Arsene Wenger ternyata tidak memiliki rencana apapun terkait transfer pemain. Panic buying all over again. Wenger Out Brigade pun berkeliaran di internet.

Middle Eight – The derby against the enemy: “one nil and we spent fuck all!”

Menjadi penulis sepakbola, saya sebenarnya tidak terlalu senang saat menulis match review/preview. Perkaranya sederhana, tulisan-tulisan tersebut lekang oleh waktu. Lain halnya jika yang saya tulis adalah artikel mendalam yang fokus pada satu masalah. Artikel-artikel tersebut tak lekang oleh waktu, bisa dibaca kapan saja. Pun dalam menulis artikel sepakbola, saya selalu melakukan riset; dari data statistik hingga komentar-komentar obyek yang saya tulis. Terkadang dengan amunisi menonton rekaman ulang pertandingan-pertandingan terdahulu.

Maka, percayalah, tak ada yang lebih membahagiakan saya selain mengetahui artikel tersebut mendapat tanggapan positif. Positif dalam artian, artikel menjadi ruang publik untuk saling mengemukakan pendapat karena saya bukan ahli taktik sepakbola. Saya bisa salah. Melegakan sekali saat melihat notifikasi WordPress berkedip-kedip tanda adanya komentar terbaru.

Lebih menyenangkan lagi saat melihat permainan Arsenal saat itu yang seperti membaca match preview yang saya tulis.

Di artikel ini, saya menulis,

Sekali lagi, penting bagi Arsenal untuk berhati-hati dalam melakukan pressing. Jangan terlalu agresif. Cukup papatkan saja ruang mereka supaya alur operan bola mereka tercecer.

Dan teori saya tersebut ternyata berhasil meredam permainan mereka. I’m a happy man. Wenger memainkan sepakbola pragmatis tapi tetap cantik. Tidak seperti Mourinho. Serangan-serangan balik ala Arsenal menjadi spearhead malam itu yang bisa saja membobol gawang Hugo Lloris lebih dari sekali. Sayang ia tampil begitu ciamik.

Fans sepakbola, secara keseluruhan, adalah spesies pelupa. Di tempat yang sama — Ashburton Grove — saat ditaklukkan Aston Villa Gooners meneriakkan “spend some fuckin money! Spend some fucking money! Spend some fucking money!”

Di laga malam itu, mereka, dengan mood yang 180 derajat berbeda meneriakkan “what a waste of money! What a waste of money! What a waste of money!” kepada fans away Sp*rs di Emirates.

One nil and we spent fuck all. Euforia yang saya rasa jamak dirayakan karena yang dipertaruhkan di laga ini bukan hanya tiga poin di klasemen, tapi juga harga diri dan martabat. Kemenangan akan membungkam mulut para pundit sepakbola (I’m talking to you, Jonathan Wilson, James Horncastle) yang dengan mudah merendahkan kekuatan Arsenal, manakala skuat Sp*rs sejatinya sedang dalam tahap pembentukan ulang.

Selengkapnya mengenai analisa taktis pertandingan ini, bisa dibaca disini. Mumpung ingat sebelum lupa, menyenangkan rasanya ketika mengetahui pemain yang kau yakini akan menjadi bagian integral — atau mengacu bahasa game FM, indispensable — dari klub, pemain yang kau tulis sekian banyak artikel mengenai potensi dirinya, akhirnya berhasil mencuri hati sesama Gooners.

***

Chorus – ‘It’s him’, they said. It’s definitely him

Saya tidak tidur malam itu. Beberapa sumber di Twitter benar-benar yakin Arsenal telah berhasil merekrutnya. Pemain berwajah sendu Real Madrid yang memantapkan namanya di jagat sepakbola pada Piala Dunia 2010.

Paginya, kurang 12 jam bursa transfer ditutup, saya menahan-nahan diri untuk tidak terlalu percaya diri menulis namanya di kicauan Twitter. Di saat semuanya seperti meneriakkan namanya, saya lebih asyik menyebar artikel yang saya tulis untuk bolatotal. Karena saya tahu, dalam hitungan menit semuanya bisa berubah.

Selain dia, nama yang dihembuskan beberapa orang, mengenai pemain megabintang Jerman yang akan direkrut Arsenal adalah Julian Draxler, teenage sensation yang meremukkan Borussia Dortmund di Revierderby musim lalu. Pendapat tersebut saya pikir wajar karena kecenderungan Wenger untuk membeli talenta muda ketimbang bakat yang sudah jadi.

Dan tibalah dini hari 2 September. Malam — waktu Indonesia — dimana semua pecinta sepakbola tak henti-henti merefresh linimasa Twitter/homepage klub favorit masing-masing guna mengetahui siapa pemain baru yang klub mereka rekrut.

Saya yang tak kuat menahan kantuk, akhirnya tertidur. Saat bangun kembali pukul 5, suasana linimasa berubah. Saya tahu ia akhirnya menjadi milik Arsenal. Si raja assist berwajah sendu.

This slideshow requires JavaScript.

Pupus sudah rekor transfer klub. Pupus sudah rekor pemain Jerman termahal yang dipegang Mario Gotze baru-baru ini. Hebatnya lagi, berita ini justru menutup berita kepindahan Gareth Bale yang seharusnya menjadi lakon utama bursa transfer 2013-14.

Mesut Özil is a Gooner. Saya belum paham sepakbola saat Arsenal merekrut Dennis Bergkamp belasan tahun silam. Arsenal yang saya kenal adalah Arsene Wenger, Tony Adams dan Ray Parlour. Playmaker pertama yang saya puja sedemikian dalam kala pertama kali mengenal sepakbola adalah Zinedine Zidane. Dan Zidane sendiri yang berkata bahwa penerus tahta playmaker terhebat sejagat ada dalam diri Mesut Özil.

Mesut Özil is a Gooner. Ini era baru. Dengan perekrutan ini, pupus sudah asumsi kebanyakan orang yang menilai Wenger sudah tak mampu menarik bakat memikat Eropa untuk bermain di bawah asuhannya. Pupus sudah teori-teori liar yang mengatakan Ivan Gazidis dan Dick Law tak kompeten dalam persaingan bursa transfer. Arsene Wenger, tidak seperti saya yang melewatkan kesempatan berkenalan dengan perempuan di kolam renang, tak berpikir dua kali untuk menelpon Özil sebelum North London derby — pemain yang ia incar kala masih berseragam Werder Bremen.

Mesut Özil is a Gooner. Dengan kehadirannya Santi cazorla hanya akan tampil lebih beringas. Theo Walcott akan dimanjakan umpan-umpan pembelah pertahanan. Jack Wilshere akan banyak belajar bagaimana melakukan terobosan di kotak penalti. Senyum Lukas Podolski akan bertambah lebar. Dan yang paling penting.. Kehadiran Özil akan merubah paradigma, atau mindset lawan-lawan saat menghadapi Arsenal. Musim lalu orang-orang ramai membandingakan tiga playmaker Spanyol di EPL dengan Cazorla yang mengungguli rekor Juan Mata dan David Silva. Bayangkan apa yang terjadi jika kedua orang itu bermain di tim yang sama.

Mesut Özil is a Gooner. Perekrutan Mathieu Flamini menjadi tepat mengingat mental bulldog pria Prancis ini yang niscaya akan melindungi permata-permata Arsenal dari permainan kasar para musuh. Olivier Giroud, yang musim ini sudah menunjukkan tanda-tanda positif, akan mubazir jika tak mampu mencetak lebih dari 20 gol.

Mesut Özil is a Gooner. Perekrutan satu pemain tidak menjadi jaminan menjadi juara. Tapi efek kedatangan Özil dirasa sama seperti waktu Arsenal merekrut Bergkamp dulu. Bukan hanya langkah klub yang berubah, tapi si pemain juga turut merasakan dampak positif dengan menjadi figur utama di klub.

Mesut Özil is a Gooner. He’s definitely Bergy of our time. Bergkamp-nya era kita!

Song of the Day

My heart beats, so slowly. My heart beats on and on..

Nantikan dua artikel selanjutnya mengenai Özil dari aspek taktik dan masa depan timnas Jerman.

Simak juga video-video Arsenalfantv yang mewartakan kehebohan Ashburton Grove saat Arsenal meresmikan Mesut Özil: video 1video 2video 3video 4

Ö-zil, to the Arsenal, Ö-zil, to the Arsenal.. Ö-zil, to the Arsenal… Ö-zil, to the Arsenaaal!

*Kredit foto:
  1. suasana di Ashburton Grove: Tom Johnson
  2. foto-foto headline surat kabar: Nick Sutton

7 thoughts on “Mesut Özil: Bergy of Our Time

  1. Great Post!! Penantian selama 1 minggu….. Tetapi, sy kedatangan oezil ke Arsenal memiliki sisi positif dan juga negatif, siapa yg akan terima untuk menjadi pelapis dari oezil?

    Like

  2. Gw baca beritanya pas mau pulang kantor. Gw teriak kenceng bgt di mobil, Many things including the F word. Gw mampir sejenak ke pom bensin untuk solat maghrib. Selesai solat buka twitter, it’s on the freakin BBC.

    Gw lari ke mobil sambil make a small jump with my fist on the air ( i literally did it).

    It’s not like we are definitely going to win trophies. Tapi… ya özil gitu loooh!!!!

    Like

  3. i push the F5 button since 08.00pm sharp as soon as i heard about the signing could be announced on that time,
    ternyataa pukul 04.30am Özil baru resmi diumumin, can you imagine what ive been through from 08.00pm till 04.30am ? all those rumours before it was officially announced
    ohh it was killing me, but eventually
    it was all worth to wait for

    Ö-zil To The Arsenal *sing it lads, sing it loud and clear*

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s