The Arsenal Groundsmen: Kisah Empat Tukang Rumput Arsenal FC

Sebuah klub sepakbola modern adalah kesatuan kolektif yang terdiri dari berbagai elemen pendukung roda klub, dari aspek-aspek di atas maupun luar lapangan (marketing, public relation dll). Kita sama-sama tahu bahwa dulu pun Ken Friar memulai karirnya di Arsenal sebagai pengantar surat.
Elemen-elemen kecil ini, meski tidak terlihat, mempunyai peran masing-masing dalam menjaga denyut kehidupan di Arsenal. Kita begitu asing dengan pembuat teh untuk para pemain, para fisioterapis yang menjaga kebugaran mereka hingga tukang sapu di Marble Hall.
Beberapa hari lalu saya ditegur Isril Hamdani lewat Twitter untuk mengunjungi blog sepakbola miliknya di anotherpitch.wordpress.com. Saya pun tertarik untuk mengikuti ajakannya dan, hey, Isril mempunyai tulisan yang sangat apik. Dia kemudian menawarkan diri untuk menyumbang artikel di indocannon dan tentu saja saya mendukung keinginannya tersebut.
Isril adalah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung berusia 23 tahun yang katanya, sih, ehem.. Baru saja sukses move on dari kegalauannya. Secara personal dia bilang kepada saya bahwa dia seorang pengagum berat Robert Pires dan penulis James Horncastle, juga seorang lelaki yang akhir-akhir ini lebih suka menulis dari pada berdebat dan berkoar-koar di depan banyak orang.
Untuk indocannon, Isril bersedia menceritakan pada kita kisah empat perawat kualitas rumput di Arsenal, dari jaman Highbury hingga Ashburton Grove.
Silakan! 

Oleh: Isril Hamdani

Marilah sejenak melupakan hiruk pikuk kondisi Arsenal sekarang ini, dimana kita sadar akan lemahnya manuver Arsenal di bursa transfer, terlalu seringnya kita di PHP oleh seorang pria yang saya pikir adalah saudara Jeff Bezos, Ivan Gazidis, juga silang pendapat sesama fans yang kukuh dengan prinsip IAWT dan AO (rasanya saya tidak perlu menjelaskan singkatan itu).

Marilah sejenak kita melupakan hal tersebut…

Musim 2013/2014 sudah dimulai, tapi ada satu hal yang masih membekas dibenak saya. Ya, Barclays Premier League Groundsman Of The Year 2012/2013, sebuah penghargaan yang diberikan FA kepada tukang rumput terbaik di Premier League, penghargaan yang sering dipandang sebelah mata, dimana media media di Inggris pun terkesan malas untuk mengulasnya lebih dalam, dan penghargaan ini jatuh ke tangan Dan Duffy, pria yang bekerja sebagai Head Groundsman di Swansea City.

Pria yang sejak tahun 2005 bekerja sebagai tukang rumput di Swansea City ini mengalahkan nama-nama beken lainnya seperti Dave McCulloch (Liverpool), Lee Jackson (Manchester City), Andrew Gray (Southampton), Jonathan Calderwood (Aston Villa) dan yang terakhir tentu saja Paul Ashcroft (Arsenal).

Berbicara tentang perawat lapangan stadion atau biasa disebut tukang rumput, Arsenal harus diakui masih yang terbaik di Liga Inggris. Bukan, bukan karena saya membela tim yang sudah saya cintai sejak tahun 2002 ini atau saya iri dengan Dan Duffy, tapi ini adalah fakta bahwa Arsenal sejak dulu sering menghasilkan tukang rumput yang hebat, dan juga tidak berlebihan jika saya mengatakan Arsenal adalah kiblatnya bagi tukang rumput yang ingin belajar untuk menjadi yang terbaik.

Apa pantas stadion mewah dengan harga tiket yang mahal memiliki groundsman dan kualitas rumput yang jelek? Sudah pasti tidak, kawan.

Oleh karena itu izinkan saya untuk mengulas sedikit tentang sepak terjang 4 tukang rumput terbaik yang pernah dihasilkan Arsenal. Saya tidak akan berbicara tentang serat rumput, rumput artifisial, drainase ataupun pemanas bawah rumput, karena saya bukan seorang tukang rumput apalagi ilmuwan di bidang ini. Anggaplah artikel ini sekedar untuk menambah wawasan Anda, atau jika Anda sering menonton TV, anggaplah ini BO (Bimbingan Orangtua) dan tentu saja Anda boleh mendebat saya. CMIIW.

Darren Baldwin

Sebenarnya saya tidak berminat memasukkan profilnya ke dalam artikel ini, karena dia sekarang berada di Tottenham. Satu-satunya alasan saya untuk menulis kiprahnya adalah karena dia salah satu murid terbaik Steve Braddock. Darren berada di Arsenal sejak tahun 1990, dan pada tahun 1996 dia bergabung ke Tottenham, disana dia memiliki karir yang bagus. Darren meraih gelar Barclays Premier League Groundsman of The Year tahun 2007 dan ditahun yang sama ia juga meraih Professional Football Groundsman of The Year dari Institute of Groundsmanhsip. Saya kira sudah cukup untuk profilnya, silahkan googling jika Anda ingin tau banyak tentangnya.

Paul Ashcroft

Sekarang ini Head Groundsman di Emirates Stadium dipegang oleh Paul Ashcroft. Sebelumnya ia sudah berada di Arsenal selama 11 tahun dan menjadi asisten Paul Burgess selama 8 tahun dan menggantikannya sejak tahun 2009, dimana Paul Burgess hijrah ke Real Madrid.

Tidak banyak memang yang diketahui dari orang ini, namun pria yang senang dengan penggunaan Desso Grassmaster (kombinasi rumput sintetis dengan rumput asli) ini mulai menunjukkan masa depan cerahnya dimana dia meraih gelar pertamanya Barclays Premier League Groundsman of The Year 2011/2012. Musim lalu dia masuk nominasi, meski harus kalah dari Dan Duffy. Namun Paul adalah salah satu dari 10 groundsman terbaik di Eropa, dia bersaing dengan nama-nama hebat seperti Sander Xavier (Barcelona), Vincent Vlamink (RSC Anderlecht), Herman Shulzz (Hamburg) dan tentu saja mantan bosnya Paul Burgess (Real Madrid).

Tapi saya rasa semua hanya tinggal menunggu waktu. Cepat atau lambat Paul Ashcroft akan setara dengan Paul Burgess. Tunggu saja…

Paul Burgess

Mungkin inilah groundsman yang cukup familiar di telinga fans Arsenal. Paul Burgess adalah orang yang unik dan langka. Di saat seorang anak remaja ingin bersekolah setinggi-tingginya dengan harapan meraih sukses di masa depan dengan profesi yang bergengsi, Paul malah berperilaku anti-mainstream, dimana tahun 1994 (usia 16 tahun) ia meninggalkan sekolahnya untuk bergabung dengan Blackpool FC sebagai tukang rumput sembari kursus di Myerscough College selama 3 tahun dengan mengambil bidang kajian “sportsturf.”

Tahun 1996 Paul mencoba peruntungan dengan melamar sebagai groundsman di Arsenal. Gayung bersambut, Paul diterima dan lantas meninggalkan pekerjaannya di Blackpool dan bekerja sebagai groundsman di Highbury yang dimana kelak dia menjadi asisten sang dedengkot tukang rumput, Steve Braddock.

Perawakan dan tampangnya biasa-biasa saja. Namun jika melihat karirnya di Arsenal, dia bak seorang monster bagi tukang rumput yang ada di klub lain. Sejak menjabat sebagai Head Groundsman tahun 2000 menggantikan Steve Braddock, Paul telah meraih 5 gelar Barclays Premier League Groundsman Of The Year, Turf Professional Of The Yeard Award dan Institute of Groundsmanship National Award tahun 2008. Dia juga pernah menjadi konstultan di FIFA selama 5 tahun.

I had a great time at Arsenal, I’m proud of what I’ve done here, and I think that I’ve also left a legacy on the whole of the Premier League. The lighting system that we introduced is used by most other teams over here now as well, and I think if you judge the standard of pitches in the Premier League across the board, they are much better than five years ago. I would like to thank everyone at Arsenal, particularly Arsene Wenger for all of his support, and I’ll miss life at the Club.

Tahun 2009 lalu Paul menerima pinangan Real Madrid dan menjabat sebagai Head Groundsman disana. Saya tidak tahu berapa banyak uang yang dikeluarkan Real Madrid untuk mendapatkanya, yang jelas dia bekerja dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi. CV-nya luar biasa dan dia adalah seorang juara: seorang groundsman terbaik di dunia.

Steve “Bradss” Braddock

Legendary Groundsman. 2 kata yang pantas disematkan untuk pria ini yang sudah 30 tahun menjadi perawat lapangan stadion.

Steve yang sejak kecil merupakan fans Arsenal memulai karirnya sebagai Head Groundsman di Highbury di musim 1987/1988 berkat rekomendasi dan bantuan manajer George Graham. Pada musim pertamanya semua berjalan dengan baik dan Steve melakukan rekonstruksi dimana saat itu rumput di Highbury memiliki beberapa masalah lama dan orang-orang di Arsenal berharap dia mampu menuntaskannya.

Namun di musim keduanya semua terbalik. Steve ternyata belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut dan dia pun mulai mendapat kritik. Bahkan media disana mengatakan bahwa kegagalan Arsenal menjadi juara pada musim itu, maka Steve adalah salah satu penyebabnya. “Tekanan itu besar, saya masih muda dan merasa bahwa seluruh bangsa mengkritik pekerjaan saya,” ujar Steve.

Untunglah malam bersejarah tersebut hadir, Arsenal berhasil mengunci gelar juara melawan Liverpool di Anfield dengan skor 2-0 lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Steve pun bernafas lega.

Musim berikutnya Steve bekerja lebih keras, dia tidak mau lagi melihat rumput yang bermasalah di Highbury. Dia mengatakan bahwa kritik itu benar-benar mendorongnya untuk mencapai yang terbaik dalam karirnya. Ucapan tersebut benar, dia menjadikan rumput di Highbury selalu dalam kondisi fit. Dia bekerja 14 jam sehari, setiap jam 6 pagi Steve akan berjalan-jalan di lapangan mencari sesuatu yang menurutnya harus diperbaiki, dan pukul 8 dia bersama stafnya akan memperbaiki hal tersebut.

Kerja kerasnya pun terbayar, di musim 1998/1999 Steve yang sejak kecil bercita-cita menjadi seorang pemadam kebakaran akhirnya menerima gelar Premier League Groundsman Of The Year. Pada 2009 kemarin dia dianugerahi The IOG (Institute of Groundsmanship) Lifetime Achievement Award berkat jasanya selama 30 tahun di dunia groundsman.

 My best memory was probably winning groundsman of the year and having a presentation on the pitch when the club gave me the cannon.

IOG — yang merupakan sebuah lembaga yang terlibat dalam fasilitas dan lapangan olahraga — mendeskripsikan karir panjang Steve sebagai ‘passion for perfection’.

Yup.Steve pantas untuk mendapatkan itu, dia bagaikan seorang godfather. Seorang perfeksionis sejati yang sadar bahwa Arsenal adalah pemain utama dalam industri ini, Steve selalu menuntut kesempurnaan di setiap pekerjaannya. Dia tahu berapa banyak pemberian air, dosis pupuk, kapan penerapan herbisida dan pestisida hanya dengan melihat rumputnya saja.

If you sat in front of a TV or a computer eating your favourite meal and drinking, you’d soon become obese and lazy. The same is true of turf: too much feed (and too much water, for that matter) is not good for it – turf should always be ‘looking’ for nourishment – yet most believe that if the grass is not lush green then something is wrong. Nothing is further from the truth.

Dia juga mengenalkan kepada kita murid-muridnya yang hebat, Paul Burgess dan Darren Baldwin. Jangan lupa, Steve-lah yang memutuskan apakah Paul Ashcroft layak menjadi Head Groundsman di Arsenal menggantikan Paul Burgess.

Masa bakti Steve sebagai Head Groundsman di Arsenal memang telah berakhir sejak 2000, namun pengaruhnya masih sangat kental disana. Steve adalah panutan semua groundsman dan seorang legenda. Semua itu diraihnya berkat kerja keras, profesionalisme, perhatiannya yang detail dan dedikasi yang tinggi. Kabar terakhir yang saya dapat, Steve telah mengambil alih 10 lapangan latihan klub sepakbola dengan fasilitas state of the art. Arsenal pasti sangat bangga pernah memilikinya.

4 thoughts on “The Arsenal Groundsmen: Kisah Empat Tukang Rumput Arsenal FC

  1. Wow! Seneng ada yang nulis artikel ini, karena profesi saya arsitek lanskap.

    Nambahin dikit,
    Inggris emang terkenal dengan Landscaping-nya yang rapi, simetris, simple, dan perfeksionis. Gak heran kalau gardenernya disiplin.

    Untuk rumput di Emirates, kualitas Desso Grassmaster bener2 dieksploitasi habis2an. Desso emang pinter banget buat kombinasi rumput Cynodon dactylon (yang biasa dipake buat golf, atau sejenis) Secara Cynodon dactylon emang susah banget dirawatnya karena gampang kuning kalo kebanyakan/kekurangan air (harus pas beceknya). makanya dikombinasiin sama rumput sintetis. Kredit buat Paul Ashcroft yang maintenance-nya luar biasa. (Gilanya lagi, nih rumput kombinasi bisa diinjek2 sama ratusan bahkan ribuan orang kalo ada konser di Emirates. kuat!)

    Arsitektural Emirates stadium ngedukung banget buat pertumbuhan sehat si rumput. kalo liat disini –> http://www.youtube.com/watch?v=G-t-5JCIkzg (Building Emirates Stadium) dijelasin tuh sirkulasi udara yang ngedukung rumput bernafas sempurna.

    Saya inget waktu praktikum dulu pas kuliah, dsuruh ngerawat rumput gajah mini dari mulai biji sampe rapih. saya dapet C karena hasil akhir si rumput banyak Gulma (tanaman yang gak lo harepin tumbuh, tapi malah tumbuh. ex: lo lagi nanem rumput, tau2 ada taneman putri malu muncul. kan jelek jadinya haha) dan ga ada yang dapet A haha. kerasa banget susahnya maintenance.

    Bravo buat yang nulis. gue jadi pengen ngelamar ke Emirates buat jadi Groundsmen. mehehe

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s