Catatan Tur Arsenal Indonesia #3 — @jonasima: “..mungkin kita belum berjodoh untuk pertemuan pertama ini”

Oleh: Jonathan Simatupang

Lebih dari satu bulan lalu,  sebuah perasaan yang begitu luar biasa melanda setiap individu yang memilih untuk mendukung Arsenal, saat-saat dimana sebuah jarak dan waktu yang awalnya memisahkan begitu jauh berubah menjadi kedekatan, seperti sebuah cinta sepasang kekasih yang menikmati kisah asmara mereka terpisah jarak dan ketika mereka bertemu di satu tempat dan waktu rindu itu berpadu menjadi satu. Otak kita mulai merekam segala sesuatu yang terjadi beberapa hari bersama dengan klub kebanggaan kita dan saya yakin bahwa rekaman di dalam otak itu takkan pernah ingin kita hapus malah sebaliknya kita menginginkan untuk kembali ke waktu itu lagi.

Ada sebuah perasaan iri ketika melihat stadion yang dibanggakan oleh rakyat Indonesia dipenuhi oleh pendukung Arsenal dan selama 90 menit pertandingan itu sayup-sayup terdengar chants dari mereka yang mengisi stadion di balik hingar bingarnya terompet yang membuat keberisikan. Ketika sebuah keraguan untuk membeli tiket dan selalu ada saja halangannya, saya mengorbankan untuk tidak ikut dalam larutan kebersamaan dalam memerahkan SUGBK malam itu demi pendidikan saya.

Sebuah pengorbanan dan sebuah penantian kita yang terangkai dalam setiap doa pun terjawab dengan manis, setiap usaha yang dilakukan pun menghasilkan cerita untuk menyakinkan Arsenal memilih Indonesia sebagai negara pembuka dalam rangkaian tur mereka di Asia. Saya mengikuti bagaimana teman-teman dari AIS away ke Malaysia saat Arsenal berada disana, dan bagaimana juga para media Malaysia dibuat terkesima karena keberisikan Gooners Indonesia yang tak hentinya bernyanyi dan membentangkan banner raksasa di Bukit Djalil saat itu sehingga setelah pertandingan Arsenal melawan Malaysia saat itu beberapa orang di wawancara oleh media sana. Sebelumnya, saat pengumuman Arsenal akan melawat ke Malaysia di media sosial pun dilakukan kampanye dengan hashtag #IndonesiaWantArsenal seingat saya waktu itu.

Oke, saya tidak akan membahas tentang hal apa saja dan bagaimana yang saya rasakan selama kehadiran Arsenal di Nusantara, karena saya tidak berada disana namun di tulisan ini saya ingin berbagi cerita dengan teman sekalian.

Saya akan memulainya dengan kembali menanyakan hal itu kepada kalian yang membaca tulisan ini, apa arti Arsenal dalam hidup kamu?

Untuk saya, Arsenal itu seperti cinta pertama saya setelah menjalani cinta-cinta monyet dalam hal mendukung sebuah klub sepakbola. Dan saya jatuh cinta terhadap klub ini sewaktu masih duduk di bangku SMP, bukan karena menonton pertandingan mereka atau karena pemainnya di televisi. Saya cukup muda dan lebih menyukai sepakbola saat menjelma dalam berbentuk sebuah game daripada menyaksikan sepakbola itu di layar televisi. Mengenal Arsenal saat itu, ketika saya sedang mengikuti kuis yang diberikan oleh saudara saya dan dari pertanyaan itu hanya ada satu pertanyaan yang paling membuat saya ingat sampai sekarang, yaitu;

Nama klub apa yang nama pelatihnya mirip sama klub yang dilatihnya?

Dan setelah itu, saya mengikuti perkembangan Arsenal ketika masih berlangganan tabloid sepakbola meski pun saat itu saya lebih condong memilih untuk mendukung klub yang sedang juara tiap musimnya, kalau kata orang sekarang sih karbitan. Oke, bukannya kita mendukung suatu klub itu berawal dari karbitan dulu ya?

Baru setelah menganti seragam dari warna putih biru menjadi putih abu dan sejak saat itu cinta saya benar-benar tertambat ke Arsenal. Mencoba mengikuti setiap perkembangannya, mencari tahu tentang sejarahnya, menjadikan gambar-gambar Arsenal menjadi foto profil di berbagai akun media sosial saya. Menjadi fans Arsenal saat itu tidak keren dan lebih banyak yang memilih untuk mengkafirkan dirinya untuk memuja setan.

Mungkin, Arsenal dan Indonesia itu berjodoh? Satu klub dan satu negara yang menghargai perbedaan. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua mungkin saat itu yang menciptakan slogan Arsenal sedang membaca buku tentang Indonesia dan terinspirasi hingga di modifikasi menjadi Victoria Concordia Crescit.

Apa pun sukumu, apa pun agamamu, darimana asal kamu, bila darah ibu pertiwi mengalir di dalam tubuhmu, kita adalah satu! Sebuah persatuan yang membuat kita menyatu dan kuat. Orang luar negeri menyukai Indonesia dan mengenal Indonesia karena keramahannya dan toleransi yang kuat. Persetan dengan yang terjadi belakangan ini tentang bagaimana toleransi yang selalu kita dengungkan kuat dan banggakan itu ternyata sudah hampir luntur oleh sebagian orang yang mengatasnamakan dirinya ‘benar’.

Dan Arsenal, ketika saya sedang membaca tulisan teman saya yang keren @indocannon , membaca bagaimana Arsenal tetap menghargai kaum yang sering diejek atau mendapatkan diskriminasi LGBT, heeem, Lesbian Gay Bisexual Transgender. Atau tentang Arsenal yang sering bekerja sama dengan negara-negara yang berada di kawasan Afrika, dan melakukan aksi kemanusian yang rutin dilakukan setiap tahunnya.

Mungkin, tidak ada hal yang lebih indah lagi ketika menikmati dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Kita memang hidup di tempat yang begitu majemuk dan pastinya akan ada gesekkan-gesekkan yang terjadi, tapi Arsenal mengajarkan saya tentang perbedaan itu, tentang bagaimana mencapai kemenangan dengan keharmonisan, tentang menghargai sebuah tradisi dan sejarah, tentang bagaimana untuk terus berinovasi jauh ke depan.

Sama seperti yang dikatakan oleh Soekarno, ‘Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’ Dan Arsenal melakukan itu, mereka tidak melupakan sejarah dan memberikan tempat khusus, seperti contoh sederhana bagaimana Pat Rice dan Bould yang paling farmiliar, ketika mereka pensiun mereka kembali lagi berada di Arsenal. Atau jam legendaris di Highbury pun dibawa ke stadion baru yang bernama Clock End.

‘Berikan aku sepuluh pemuda dan akan ku goncangkan dunia!’ – Soekarno, mungkin itu yang menjadi dasar kuat bagaimana Arsene menjalankan sistemnya dengan mempercayakan pemain-pemain muda di dalam skuad utamanya. Ketika sebuah keadaan yang memaksanya untuk memilih pemain muda dengan dana yang terbatas dan melawan bahwa uang tidak bisa membeli sebuah sejarah, meski terlihat tidak sukses karena selama menjalankannya tidak ada satu pun gelar yang berhasil ia raih, sedangkan dengan kekuatan uang yang diberikan orang Russia yang mengubah Chelsea menjadi salah satu kekuatan Inggris berhasil memberikan sebuah konsitensi dan jaminan untuk mendapatkan piala tiap musimnya, sedangkan Arsene dengan pemain mudanya? Selalu konsisten untuk memperebutkan tempat 4 besar, selalu konsisten untuk berpuasa hingga tahun kedelapannya, selalu konsisten dengan ketidakkonsistenan mereka saat berada di dalam jalur persaingan, dan kepercayaan diri untuk bergerak melawan.

Untuk kedua kalinya Arsenal menginjakkan kakinya di Indonesia, dan yang paling hangat ialah kenangan bagaimana Arsenal dulu takluk di Surabaya oleh NIAC saat masih diperkuat oleh bintangnya berasal dari Singapura. Kenangan itu pula yang membuat keyakinan Arsenal bahwa ketika mereka datang akan mendapatkan sambutan yang luar biasa sama seperti yang dahulu mereka rasakan ketika di Indonesia. Dulu, nama Arsenal tidaklah seterkenal sekarang tapi antusias di dalam stadion yang penuh sesak.

Arsenal pun menghargai bagaimana kebudayaan Indonesia. Coba lihat bagaimana media-media sering memberitakan tentang pemain Arsenal yang bermain gamelan atau sepak takraw. Setidaknya selain mereka menghargai kebudayaan, mereka pun ikut untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke dunia.

Dan inilah saatnya untuk Indonesia mendapatkan citra positif di mata dunia. Indonesia merupakan negara yang dikenal cinta damai, bersahabat, ramah, dan menghargai setiap perbedaan yang ada.

Itulah yang membuat mengapa saya mendukung Arsenal, sama yang seperti yang dikatakan oleh tuhan.

Tidak peduli siapa dirimu, jenis kelaminmu, suku, bangsa, atau apa yang menjadikan kita berbeda tetapi bila kamu mendukung Arsenal, kita ada saudara dimana pun kamu berada!

Sebuah keasyikan tersendiri ketika menyaksikan klub kesukaan sedang bertanding secara langsung bersama dengan saudara-saudara yang asal Indonesia, bersyukurlah mereka yang mendapatkan kesempatan itu, sayangnya saya tidak dapat menikmati kesempatan itu. mungkin kita belum berjodoh untuk pertemuan pertama ini.

Ketika semuanya melebur dan melekat menjadi satu, ketika teriakkan dan keringat kita bercucuran, ketika sebuah pengorbanan yang telah kita lakukan untuk mewujudkan satu mimpi yang mungkin sulit untuk digapai, ketika status dari penonton rumahan, kafe, atau apa pun sebutannya menjadi penonton langsung dalam stadion. Dan ketika itu pula dalam doa dan harap bahwa yang telah terjadi dapat terulang kembali menyaksikan klub kebanggaan di Nusantara, atau sambil menabung untuk berusaha pergi ke tanah suci menyaksikan langsung di rumah sebenarnya bersama Gooners di London.

Suatu saat nanti, mungkin Arsenal akan kembali lagi untuk ketiga kalinya ke tanah perjanjian ini, atau mungkin saja bila aku atau kamu yang pergi menyaksikan secara langsung di London.

Baca juga:

Catatan Tur Arsenal Indonesia #2 — @haraluas: “Oh to be a Gooner – a dream comes true”

Catatan Tur Indonesia Arsenal #1 — @d_adad: “This day was ours”

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s