Arsenal 3 – 1 Manchester City: Kekalahan Fisik Secara Efektif Dilawan dengan Merenggangkan Ruang

Lesunya gerak Arsenal di bursa transfer bisa membuat seorang fan memilih agar Arsenal kalah secara menyakitkan dari Manchester City — dengan harapan dapat melecut klub untuk sesegera mungkin menuntaskan urusan transfer. Saya tak bisa lebih heran lagi dalam menanggapi fenomena macam itu karena dalam situasi apapun, tiap kekalahan selalu menyakitkan. Apalagi menghadapi City, yang dalam tiga musim terakhir, dengan kekuatan uangnya selalu merongrong stabilitas skuat Arsenal.

Pertandingan yang dihelat di Finlandia ini berlangsung tepat seminggu sebelum kick-off perdana EPL musim 2013-14. Bisa dipastikan kedua pelatih akan menurunkan skuat yang dipersiapkan untuk bertanding di laga perdana musim ini. Berharap tim untuk kalah agar melecut pelatih untuk segera membeli pemain baru adalah tindakan dungu.

Saat melihat susunan formasi yang Manuel Pellegrini — pelatih City — turunkan, saya sedikit terkejut mendapati nama Edin Dzeko dan Alvaro Negredo diturunkan bersamaan, berdasarkan dua hal: 1) Pellegrini kala melatih Malaga hampir selalu memasang satu striker tunggal, dan 2) City era Roberto Mancini memang mengandalkan duet striker, tapi saat itu Mancini mempunyai Carlos Tevez — striker yang memiliki kemampuan membawa bola serta menjaga possession sempurna. Berbeda dengan Negredo dan Dzeko yang mana keduanya adalah spesies serupa.

Kedua tim sama-sama menurunkan formasi ideal. Saya bergidik mendapati nama Yaya Toure berpasangan dengan Fernandinho sebagai double pivot mereka. Pellegrini, atau si Tukang Insinyur — julukannya — juga memercayakan barisan pertahanan utama sebagai starter. Yup, lini belakang yang berhasil mencatatkan diri mereka sebagai tim dengan pertahanan terbaik EPL musim lalu dalam diri Joe Hart, Pablo Zabaleta, Joleon Lescott, Vincent Kompany dan Gael Clichy.

Aaron Ramsey, Inspector Gadget

Lagi, lagi dan lagi. Aaron Ramsey membuktikan kehandalannya sebagai punggawa lini tengah Arsenal. Pada babak pertama Wenger menurunkan trio Ramsey-Arteta-Wilshere, dimana Arteta yang lebih sering menjalankan tugas ‘kotor’. Tentu keunggulan fisik pemain-pemain City merupakan momok bagi Arsenal dimana kita kerap kebobolan melalui bola-bola mati. Bandingkan saja postur ketiga pemain tadi dengan trio Toure-Fernandinho-Silva.

Ada dua ‘Vieira’ disana dan yang Arsenal miliki hanyalah dua gelandang tengah ‘bunglon’ (Ram-teta).

Dan seperti yang saya kritisi lepas laga versus Galatasaray, sepertinya Wenger tahu kegagalannya dalam memasang Gnabry-Poldi di sayap.

Kali ini saya sangat mengapresiasi Theo Walcott. Bukan hanya dengan torehan dua assist dan satu golnya, Walcott juga seperti diyakinkan seseorang bahwa di garis pinggir-lah (sambil mengendap-endap mencuri peluang menyambar thru’ pass) area terideal baginya untuk memberi kontribusi maksimal.

Walcott juga terlihat sering mencari bola di 2/3 lapangan sehingga Sagna tidak kewalahan bertarung sendirian. Beberapa kali keduanya terlihat bertukar operan satu dua demi membongkar pertahanan sisi kiri City.

Selain itu, Arteta kerap terlihat turun begitu jauh ke belakang guna meminta bola dari dua full-back, dan jika bola telah sampai ke kakinya, Koscielny dan Mertesacker bergerak ke sisi pinggir sedemikian jauh sehingga Arsenal mengeksploitasi ruang sejak dari area mereka. Ini membuat konsentrasi City terpecah meski harus diakui, strategi ini sangat rentan blunder jika tidak dilakukan dengan hati-hati. (lagipula manusia tidak disertai spion, seperti mobil. Ketika Arteta turun meminta bola, ia tak akan tahu ada berapa pemain lain yang mencecarnya karena pandangan matanya tertuju ke gawang Szczesny, bukan Joe Hart).

Seperti ini kira-kira visualisasi skema penyerangan Arsenal di babak pertama:

Dua centre-half kita, Mertescielny, bukanlah bek yang mempunyai skill dribble mumpuni. Bukan ball-playing defender seperti David Luiz dan Carles Puyol. Jika mereka tak bergerak ke sisi sayap saat bola dijemput Arteta, Arteta mempunyai kemungkinan untuk kembali mengoper bola pada dua pemain ini, dalam tekanan, kehilangan bola di sayap lebih tak begitu riskan ketimbang kehilangan bola di depan kotak dua belas pas.

Masuk akal.

Wilshere, di laga ini kerap kali dilanggar oleh pemain-pemain City: pendekatan sama juga kita lakukan terhadap David Silva. Ramsey seakan paham bahwa hal tersebut merupakan sinyal baginya untuk melakukan inisiatif serangan.

Gol pertama terjadi begitu indah. Setelah sebelumnya Walcott gagal memaksimalkan umpan-lambung-penuh-pesona-nirwana dari Ramsey di laga versus Galatasaray, kini Walcott mampu menuntaskan sodoran bola Ramsey untuk kemudian  bola chip-nya dengan santai menundukkan Hart.

Lihat apa yang terjadi saat Walcott 'serius' mengeksploitir sisi sayap? Seperti yang terjadi di gol pertama ini, tusukan diagonalnya ke kotak penalti adalah hal terakhir yang diharapkan oleh bak-bek lawan. What a pass from Ramsey.
Lihat apa yang terjadi saat Walcott ‘serius’ mengeksploitir sisi sayap? Seperti yang terjadi di gol pertama ini, tusukan diagonalnya ke kotak penalti adalah hal terakhir yang diharapkan oleh bak-bek lawan.
What a pass from Ramsey.

Ramsey seperti gadget smartphone yang tiap hari kita genggam.

Perkembangan teknologi memudahkan kita untuk melakukan beragam aktifitas dengan satu buah gadget dalam genggaman. Sebut saja merk yang anda miliki adalah produk Apple, Samsung atau Nokia, anda tak perlu cemas saat berwisata ke pantai. Anda bisa mengabadikan momen bersama rekan/saudara, berkirim surel dengan rekan kerja, menikmati lagu-lagu favorit, hingga mencari lokasi ATM terdekat.

Smartphone, dengan beragam fiturnya memudahkan aktifitas manusia era digital. Tapi namanya puluhan fitur dimasukkan ke dalam satu alat, kita kerap mendapati bahwa pihak pabrikan kerap melemahkan satu-dua fiturnya. Smartphone A kualitas audionya yahud, tapi seringkali kepayahan menerima sinyal provider. Smartphone B berlayar jernih dan memiliki fitur 2 sim card yang bisa aktif bersamaan, tapi kerap hang (dan meminta restart) saat melakukan tugas multitasking.

Ramsey bak gadget. Multifungsi dan di kesempatan berbeda memiliki fitur terbaik sekaligus tak-terlalu-memuaskan.

Ramsey menawarkan apa yang tidak ditawarkan Wilshere, Rosicky dan Cazorla untuk Arsenal. Yaitu kemampuan bertindak adaptatif terhadap kebutuhan tim di laga berbeda.

Jangan terlalu kaget jika di akhir musim nanti ia sanggup mengalahkan Wilshere dalam memberikan kontribusi terbaik untuk tim.

Hampir sepanjang laga bola selalu dikuasai lawan. Masuknya Cazorla di babak kedua pun tak mengubah kondisi demikian. Arsenal seakan mengulangi performa akhir musim lalu dengan bermain pragmatis dan memberi perhatian penuh pada pertahanan.

Koscielny bermain seperti bos yang tak segan memecat pegawai teladan di kantornya

Sepanjang laga pra musim, pria ini memberi saya harapan dan rasa takut sekaligus. Ketenangan, kepiawaiannya dalam melakukan last-ditch tackle dan agresivitas yang ia curahkan akan hilang jika ia mengalami cedera atau larangan bertanding nantinya. Terlebih Vermaelen masih cedera dan Ignasi Miquel baru saja resmi dipinjamkan.

Kos tampil begitu dingin. Membuat saya lupa akan keteledorannya melanggar Dzeko musim lalu; yang membuatnya diusir wasit dan memberi keunggulan untuk City. Kini ia tak mau bertele-tele. Jika dirasa perlu, ia tak segan bertindak kasar pada pemain lawan lalu memasang wajah tak berdosa ketika dirasa tekelnya berbau foul.

Silva adalah salah satu playmaker handal (bersama Cazorla dan Juan Mata), yang di atas kertas akan memberikan servis premium untuk Dzeko-Negredo. Sementara Arsenal tak memberikan penjagaan ketat terhadap tiga pemain ini (zonal marking, FTW!), Kos mampu mematahkan tiap peluang City yang berkali-kali didapatkan Negredo. Tanpa sekali pun melakukan pelanggaran tak perlu di kotak penalti.

Duet Mertescielny, yang pasti menjadi starter di pertandingan melawan Aston Villa beberapa hari lagi, semakin mematangkan chemsitry di antara mereka. Hal yang saya pikir sedikit memberi rasa aman bagi kita yang kerap dibuat ketar-ketir oleh ketak-konsistenan pertahanan Arsenal.

Beruntung, Mertesacker menyadari pentingnya menjaga konsistensi yang skuat lakukan di 10 pertandingan terakhir musim lalu. Mertesacker, yang mempunyai kapasitas sebagai kapten, berkata melalui website klub,

I think we have a good team spirit and we’ve built it up, especially in Asia, where we were together for more than two weeks. If we stick together more in the first month, especially in the Champions League qualifier and the first games of the Premier League, we can continue our good run that we had [at the end] of last season.

Chambo sebagai gelandang tengah akan sangat mematikan — sekaligus menuntut Gibbs untuk bekerja lebih keras

Pada laga pra-musim (tur Asia hingga Emirates Cup) kita menyaksikan bagaimana Wenger mulai memercayakan Chambo untuk mengisi posisi teridealnya; sebagai gelandang serang ala Paul Scholes circa 2007-08.

Chambo, meski tak terlalu tinggi, dianugrahi fisik kekar (lihat saja leher beton ala Mike Tyson-nya) namun lincah. Kemampuan crossingnya yang tak terlalu baik membuat penempatannya sebagai penyerang sayap adalah kesia-siaan. Chambo memberi alternatif yang kita nanti-nantikan dari lini kedua penyerang Arsenal, yaitu kemampuan bermain lebih direct serta kebiasannya melepas tendangan jarak jauh. Persis seperti Scholes.

Di pertandingan ini Wenger kermbali memasangnya sebagai starter. Meski di atas kertas berperan sebagai WF (winger forward — penyerang sayap), Chambo lebih sering beroperasi di tengah sambil beberapa kali bertukar posisi dengan Walcott dan Wilshere.

Bilamana Walcott dirasa telah padu dengan Sagna (meski terkadang ia ngeyel untuk kembali bermain sebagai false 14 a.k.a. winger bukan-striker bukan), jika nanti Wenger memilih Chambo ketimbang Poldi di posisi ini, Gibbs akan merasakan apa yang Sagna rasakan musim lalu. Bekerja keras menyisir sekaligus mengawal sisi sayap tanpa bantuan pemain sayap di depannya.

Lalu gelandang serang Arsenal, Cazorla dan Rosicky, dituntut untuk mengisi pos sebelah kiri yang Chambo tinggalkan. Terkonsentrasinya alur penyerangan di sisi kanan — seperti di pertandingan ini — bisa membuat bek-bek lawan lengah untuk menjaga sisi kanan mereka (sisi kiri untuk Arsenal).

Chambo telah membuktikan di pertandingan Brazil versus Inggris bagaimana ia kembali mewujudkan sosok gelandang klasik negri Ratu Elizabeth. Kick and rush tak bertele-tele.

Sirna kecewa di wajah Pellegrini adalah warna positif bagi Arsenal

Saat Ramsey mencetak gol kedua Arsenal, nampak jelas raut kecewa dan gundah di wajah Pellegrini beserta dua asistennya. Pellegrini beberapa hari jelang pertandingan mengatakan bahwa skuat yang ia miliki merupakan skuat terbaik di EPL saat ini. Jangan lupa, meski mengalami musim buruk, City musim lalu tetaplah runner-up EPL dengan rekor pertahanan terbaik. Mengalahkan pertahanan terbaik dengan mencetak tiga gol adalah sebuah asa cerah sebelum menapaki musim baru.

Dan di antara tiga gol yang diceploskan Arsenal, sangat sulit untuk menentukan mana yang terbaik. Seperti halnya untuk memastikan siapa man of the match di pertandingan ini. Apakah Walcott, Koscielny atau Ramsey?

Trivia of the day

‘Gawai’ adalah padanan kata bahasa Indonesia untuk ‘gadget’.

Song of the day

Elevator Love Letter dari grup pop Kanada bernama Stars.

Anda tahu bagaimana rasanya diombang-ambingkan oleh sebuah lagu yang mampu menghadirkan sirna positif dan redup negatif sekaligus (seperti In Between Days dari The Cure)?

Formula nada mayor-lirik minor ini seperti mewakili perasaan fellow Gooners saat ini. Mau bersikap optimis, kok rasanya skuat kita masih dangkal. Mau membiarkan perasaan pesimis, tim ini telah begitu padu dan baru saja menjalani pra-musim dengan cukup meyakinkan.

Ooh to be a Gooner.

3 thoughts on “Arsenal 3 – 1 Manchester City: Kekalahan Fisik Secara Efektif Dilawan dengan Merenggangkan Ruang

  1. kadang suka malu sendiri ngeliat gooner yang “teriak-teriak” di linimasa, galau gara-gara di-PHP-in Arsenal, padahal media yang menciptakan “suasana” itu, termasuk membuat opini yang mengaharapkan kekalahan Arsenal supaya Mr. Wenger cepat membeli pemain baru.
    ah, itu cuma unek-unek di kepala aja sih. pertandingan lawan city kemaren seengganya membuat senyuman di hati kita semua, bohong banget kalau engga. pemain semakin matang, baik dari sisi kerja sama maupun visi bermain, terlihat dari gol pertama, gol kedua, gol ketiga, dan nyaris membuat gol keempat. ya walau ada pemain yang terlihat kurang maksimal, tapi semoga nanti diawal kompetisi sudah siap semua. saya yakin musim ini berbeda, akan ada kejutan yang tak terduga, entah apa itu, yang jelas akan sangat menyenangkan, dan wajib untuk ditunggu.

    Like

  2. Kebimbangan terhadap apa yang akan dilakukan Arsenal pada bursa transfer musim ini, sy agak bingung dengan perasaan sy terhadap “kemungkinan” transfer Luiz Gustavo dan Yoan Gourcuff yg notabene ingin pindah agar mampu msuk skuat Timnas masing-masing. Namun, bila transfer itu berhasil. Siapa yang aka direlakan untuk mengisi bangku cadangan, sedangkan Ram-Teta sudah menuai hal positif.

    Like

  3. Saya ingat ketika saya membeli jersey KW dengan nama Ramsey, lalu saya dicemooh “beli jersey ramsey mainnya acak acakan gitu” saya tertawa saja haha. Lalu banyak juga akun twitter yg berbau arsenal selalu saja mencemooh permainan ramsey, mereka tidak mengerti ketika ramsey bermain buruk itu karena bukan pada posisinya. Coba lihat sekarang ? Mereka menyerukan terus nama ramsey. Bak macaam Penjilat😀

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s