Match Review: Emirates Cup 2013

it’s too shiny, by the way

Secara naif saya dikelabui Emirates dan Arsenal saat mereka mengumumkan acara Google Hangout bersama Arsene Wenger.  Saya lupa menyadari bahwa Emirates Cup akan digelar weekend barusan dan acara Google Hangout tersebut merupakan rangkaian kegiatan promosi Emirates Airlines sebagai sponsor utama Arsenal.

Saat menyimak video tersebut secara live, disamping kecewa dengan buruknya kualitas output audio saya juga dikecewakan oleh pertanyaan yang dilontarkan kepada Arsene yang terkesan ‘settingan’. “Hi, Arsene. Kalau boleh tahu, kemanakah tujuan berwisata favorit anda?,” kata salah satu penanya seakan-akan setelah Arsene menjawab bahwa Jepang-lah negara favorit dia untuk berlibur, ribuan penonton video itu akan berbondong-bondong menyewa tiket pulang-pergi ke Jepang menggunakan layanan Fly Emirates.

Saya pikir Arsenal akan memilih pertanyaan dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan fans di page Google Hangout tersebut. Namun acara tersebut hanyalah sarana penguat brand image Arsenal dan terutama Emirates.

Berbicara tentang Emirates Cup, ajang ini adalah ajang yang sangat kita nantikan karena tahun lalu terpaksa tak terselenggara akibat perhelatan Olimpiade di London. Sungguh demi Tuhan, saya rindu sekali.

Tapi bohong.

Seperti halnya Audi Cup di Jerman, Emirates Cup adalah langkah sponsor untuk memerkuat brand awareness masyarakat sepakbola dengan menghadirkan klub-klub kuat. Ajang tahun ini menghadirkan Napoli, Galatasaray dan Porto, ketiganya adalah tim-tim berperingkat dua besar di masing-masin liga. Dan menjadi ajang unjuk kekuatan setelah sebelumnya hanya menghadapi klub-klub di Asia.

Dibilang ‘ajang unjuk kekuatan’ tidak bisa dibilang tepat sebenarnya. Mungkin lebih ke penyolidan skuat dan membiasakan mereka dengan atmosfir panas persaingan di negri sendiri, setelah di Asia harus bermain mengalahkan jetlag, gegar budaya dan perbedaan iklim yang ekstrim.

Lawan pertama Arsenal adalah Napoli. Klub yang baru saja mengalami perombakan besar-besaran di tiap lini; dari pelatih hingga pemain. Satu hal yang saya perhatikan sejak musim lalu, Napoli, selain memiliki Cavani juga mempunyai trio free-role gelandang yang sama-sama bertubuh kekar dalam diri Marek Hamsik, Gokhan Inler dan Valon Behrami. Tim ini dalam dua musim terakhir konsisten merongrong hegemoni Juventus di Serie A  meninggalkan AC Milan.

Tim yang sejatinya solid kemudian berubah setelah sang pelatih Walter Mazzari berlabuh ke Inter yang mengalami krisis pelatih dan hengkangnya Edison Cavani ke PSG. Rafa Benitez dilantik menjadi pelatih baru dan Napoli bersama presiden eksentriknya memanfaatkan fulus keuntungan penjualan Cavani dengan berbelanja heboh di bursa transfer.

Kita semua pada akhirnya tahu setelah RealMadrid menaikkan harga Gonzalo Higuain, Arsenal pelan-pelan mundur teratur dan Napoli-lah yang akhirnya berhasil menggaet Pipita. Di atas kertas, kekuatan baru Napoli terlihat semakin menyeramkan setelah selain Pipita mereka juga kedatangan Raul Albiol, Pepe Reina dan Dries Martens.

Laga perdana melawan mereka tentu akan sangat menarik.

Arsenal v Napoli: Duet Jerman Poldi-Gnabry gagal memanfaatkan lebar ruang

Pertandingan dilaksanakan sekitar pukul 16.00 waktu Inggris. Karena musim panas, matahari begitu terik menyinari Ashburton Grove. Satu hal yang lagi-lagi membuat saya geleng-geleng kepala, seakan belum cukup di pertandingan Tur Asia lalu mereka menggunakan jersey away untuk mendongkrak penjualan, kini di kandang sendiri pun mereka menggunakan seragam tandang ketimbang merah putih warna kebanggaan.

Saya sepertinya terlalu banyak mengeluh. It needs to be said, really, Seharusnya perusahaan apparel sebesar Nike mempunyai tim survey yang pasti mengetahui bahwa respon jersey away ini sangat baik.

Langsung saja kita simak bagaimana skema permainan kemarin.

Arsenal mengawali kick-off lewat kaki Giroud dan Koscielny. Selama lima menit pertama Arsenal menguasai penuh jalannya pertandingan. Namun setelah 15 menit berjalan, Benitez yang sudah pasti sangat hafal bagaimana Arsenal bermain sepertinya memang sengaja menginstruksikan anak asuhnya agar bertahan di tempat — Napoli bisa sampai menempatkan 6 pemain di dalam kotak penalti.

Di pertandingan ini Cazorla, yang biasanya selalu memecah kebuntuan tak diturunkan dan Wenger mencoba memasukkan Gnabry sebagai starter menggantikan Walcott. Maski sama sekali tak mencantumkan nama Santi Cazorla, Arsenal masih mempunyai Tomas Rosicky yang pada paruh kedua musim lalu tampil heroik. Awalnya saya pikir Arsenal tak akan terlalu kesulitan membuat peluang.

Baru menit ketiga, Gnabry sudah mendapat peluang satu lawan satu dengan Reina akibat kecerobohan bek-bek Napoli. Namun sayang, karena menendang menggunakan kaki lemahnya, kiri, bola sepakan Gnabry masih jauh dari sasaran.

Sebelum laga saya sangat antusias menyambut susunan line-up karena Wenger mencoba menduetkan Ramsey dan Wilshere. Jika dibandingkan saat kita mengalahkan United pada May 2011, permainan kedua pemain tersebut — terutama Ramsey — sudah jauh berbeda. Saat itu keduanya bergantian menjadi pengatur serangan, dengan Alex Song yang diplot sebagai gelandang bertahan. Kali ini, Wilshere dan Ramsey mempunyai beban lebih untuk mengawal pertahanan ketimbang menyerang, meski ada satu kesempatan dimana Wilshere berhasil menusuk masuk ke kotak penalti Napoli dan melepas tendangan lewat kaki terlemahnya, kaki kanan.

Yang jadi perhatian saya adalah bagaimana duet ini menjadi tidak efektif setelah melihat gaya permainan atau pemosisian Gnabry dan Podolski yang kurang baik. Keduanya seakan enggan mengeksplor sisi sayap masing-masing guna membuka ruang dan memberi celah kepada trio Rosicky-Wilshere-Ramsey untuk membongkar pertahanan Napoli yang dikawal bek gaek Paolo Cannavaro.

Keduanya, baik Gnabry dan Poldi juga tidak memosisikan diri sebagai inverted winger, atau gaya bermain para pemain sayap yang membongkar ruang pertahanan melalui tusukan diagonal untuk kemudian melepas tembakan langsung atau memberi umpan terobosan. Keduanya malah seakan merebut jatah posisi trio gelandang tengah di depan kotak penalti Napoli. Walhasil Arsenal banyak mengandalkan serangan lewat crossing yang niscaya menemui rekan terkait banyaknya bek Napoli di kotak penalti. Sesaknya ruang di awal sepertiga akhir lapangan juga membuat mereka kesulitan untuk melakukan operan satu dua karena seperti saya tulis tadi, Napoli tidak memeragakan man-to-man marking dan alur bola dikuasai Arsenal.

Sama halnya ketika anda terlalu bersusah payah menggaet gadis/lelaki incaran yang sebenarnya tidak tertarik dengan anda. Ribuan mention Twitter, pesan BBM/WhatsApp atau panggilan telepon maksimal hanya ditanggapi dengan dingin. Alur penggebetan satu arah ini hanya dikuasai oleh satu orang dan kesadaran anda bahwa incaran tak tertarik lah yang membuat anda memutuskan berhenti menggebet.

Pertahanan Napoli begitu statis memaku diri pada pergerakan pemain, sambil berusaha tidak terpancing untuk menekel pemain Arsenal karena jika tekel itu gagal, ruang yang sudah sedemikian rapat mereka ciptakan akan retak.

Hal ini didukung oleh penempatan Gnabry dan Poldi yang tidak mendukung mereka untuk melakukan tusukan ke dalam kotak penalti. Situasinya begini, jika mereka menusuk ke dalam kotak penalti, jika memang sudah mendapatkan spot yang tepat untuk menendang, posisi bola terbaik akan berada di kaki terlemah mereka: Gnabry kaki kiri dan Poldi kaki kanan. Sementara untuk melakukan operan satu dua dengan Giroud sangat sulit dilakukan akibat penjagaan ketat terhadap Giroud yang pemain Napoli lakukan.

Keduanya juga tidak sepaham dengan pasangan masing-masing, Carl Jenkinson dan Kieran Gibbs.

Petaka skema ini dimulai saat Inler berhasil melepas umpan jauh ke kotak penalti Arsenal yang berhasil dimanfaatkan youngster Italia Lorenzo Insigne — yang sejatinya jauh lebih pendek ketimbang Jenkinson. Saya lupa, tapi sebelumnya juga ada salah satu skema serangan balik serupa dari Napoli yang untungnya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh mereka.

1-0 untuk Napoli akibat pertahanan komikal Arsenal yang sudah sangat lama kita akrabi. Kemana rekor pertahanan fantastis musim lalu?

Fabianski sendiri bukan tanpa cela. Meski ia jarang mendapat cobaan dari penyerang Napoli, ada satu waktu — saat pertahanan Arsenal ditekan Napoli — Fabianski telihat shaky ketika menerima back pass dari Mertesacker dan dengan gugup, walau tak ada satu pemain Napoli pun yang menghadangnya, membuang bola jauh ke garis pinggir lapangan.

Arsenal berhasil mendapat kesempatan untuk menyamakan kedudukan setelah Gibbs dijatuhkan Behrami di kotak penalti. Sang algojo, Podolski, akibat terlalu asyik bermain Instagram pun gagal memanfaatkan kesempatan karena arah bola sukses dibaca Reina. Semakin kelam saja aksi Poldi di pertandingan ini. Sebelumnya, dengan canggung, saat ia sudah berada di posisi enak malah mengoper bola untuk Giroud, yang berada di posisi sulit. Raga Poldi berada di atas rumput Ashburton Grove, tapi saya terka pikirannya tidak disitu. Seperti sedang terjangkit absent-minded professor syndrome.

Mumpung ingat dan sebelum lupa, lingkaran berwarna hitam pada gambar di atas adalah ruang yang seharusnya Poldi-Gnabry eksplor lebih banyak ketimbang merecoki para gelandang tengah. Iya, mereka bukan winger murni. Tapi jika mereka mau menelusur ke sisi lebih luar, akan menarik perhatian setidaknya satu pemain Napoli untuk keluar dari kotak penalti. Jika mereka bekerjasama dengan fullback, otomatis dua pemain Napoli yang akan menjaga/tertarik ke luar. Hal yang akan merenggangkan padatnya pertahanan mereka.

Gol kedua Napoli juga terjadi dengan skema serupa. Kali ini aktor pengirim bola dari 2/3 lapangan adalah Hamsik dengan sepakan menyusurnya. Goran Pandev, striker tua mereka dengan cerdik dan lihai menggiring bola dari sisi kanan pertahanan Arsenal ke sisi kiri, hingga akhirnya mengecoh Fabianski.

On our own turf.

As I said yesterday: My concern is whether Wishere effective enough for our squad’s balance. We couldn’t score goals while he starts no matter who he pairs with. Coba cek di pertandingan melawan Red Urawa dan Napoli. Arsenal kesulitan mencetak gol sebelum akhirnya Wilshere digantikan pemain lain. Saat melawan Urawa (satu-satunya lawan tangguh sepanjang tur Asia 2013), dia berpasangan dengan Arteta, dan ketika akhirnya digantikan oleh Ramsey, permainan Arsenal malah berkembang dimana Ramsey menjadi pengirim key pass di dua gol Arsenal.

Mengenai Wilshere akan saya bahas di tulisan lain. Untuk saat ini, harapan saya perihal turunnya performa Wilshere adalah karena ia menahan diri untuk tidak tampil ngoyo. Kita harus ingat bahwa di ajang pra musim lah Wilshere mendapati cedera panjang. Pula musim ini adalah pertama kali baginya tampil sejak awal musim bergulir sejak terakhir kali melakukannya pada 2010-11.

Di babak kedua, setelah Arteta (yang menggantikan Wilshere) dan Walcott (yang menggantikan Gnabry) masuk, Arsenal mulai tampil lebih efektif. Juga ketika akhirnya Jenkinson digantikan Sagna. Gol yang dinanti0nanti akhirnya datang dengan cara yang kelewat ‘un-Arsenal’. Keduanya berasal dari sepakan set-piece.

Gol pertama hasil tendangan penjuru Walcott dimana Giroud berhasil memanfaatkannya melalui sepakan salto. Setelah melihat tayangan ulang kita paham bahwa andai saja arah bola tak membentur Sagna, gol tersebut tak akan terjadi. Bein Sports, pihak penyiar siaran langsung tersebut mengklaim gol tersebut punya Sagna, sementara Arsenal.com melansir nama Giroud.

Ujung-ujungnya akan seperti pertanyaan kaum pandir ‘lebih dulu mana ayam atau telur?’.

Jika tak mengenai badan Sagna, gol tak akan terjadi. Lalu bagaimana jika laju bola dari sepakan Giroud melaju ke atas? Dalam situasi berbeda, jika  tendangan pemain tim A tak sengaja mengenai pemain tim B dan merubah laju bola menuju gawang, kredit pencetak gol akan tetap di tangan penendang dari tim A.

Gol kedua terjadi mirip dengan gol Arsenal melawan Fulham musim lalu, dimana duet Merte-scielny dengan padu memanfaatkan umpan lambung. Bedanya, gol lawan Fulham dicetak oleh Per dimana Koscielny dengan penuh gaya mengirim umpan (juga melalui sundulan) kepada Per. Kali ini seperti permainan bola basket karena Koscielny sukses menyambar bola liar karena tebasan Reina dengan lemah membuat bola memantul ke depan.

Kegagalan dua pemain Jerman (Gnabry-Poldi) dalam memanfaatkan lebar lapangan dibayar tuntas oleh gol dari dua pemain Prancis (Giroud-via-Sagna’s deflection dan Koscielny).

Karena Emirates Cup tak mengenal jeda, keesokan harinya Arsenal langsung bertemu Galatasaray. Bereuni dengan Emmanuel Eboue dan Didier Drogba — sosok yang menjadi momok dengan rekor 13 golnya ke gawang Arsenal saat masih berbaju Chelsea.

Arsenal v Galatasaray: kembalinya Cazorla belum mampu menginspirasi, Iggy must leave?, debut Emirates Sanogo-Zelalem dan aktor mimpi buruk sekaligus indah bernama Drogba

Saya sempat bertaruh dengan @ShareArsenal, bahwa terpilihnya Wilshere sebagai starter di dua pertandingan pra-musim terakhir adalah upaya Wenger untuk membiasakan Wilshere dengan peran ‘dibilang anchor bukan-box to box ya enggak-DM murni apalagi’ ini. Bersama saudara @deemaz85 saya juga sempat mengobrolkan hal ini:

Di posisi apa, sih, Wilshere mampu tampil optimal untuk tim?

Gelagatnya jelas. Sebagai kreator, torehan assist, shots on goal dan golnya tidak impresif. Di aspek pertahanan, kualitasnya kalah jauh dibanding Ramsey dan Arteta. Sempat terpikir Wilshere sebagai trequartista — attacking midfielder tepat di belakang Giroud — dan menempatkan Cazorla di sayap kiri.

Masalahnya, Cazorla di sayap berperilaku begitu ‘bebas’. Dalam artian kerap meninggalkan posisi sementara satu pemain sayap lain sering tak paham untuk bertukar posisi. Cazorla juga jarang turun untuk membantu Gibbs saat lawan menjadikan sisi kiri sebagai sasaran serang.

Semoga, seperti saya tulis beberapa paragraf lalu, tak diturunkannya Wilshere adalah buah kehati-hatian Wenger agar peristiwa yang lalu (cedera berat) tak kembali terjadi.

Cazorla dan rekrutan anyar Yaya Sanogo menjadi starter. Kerinduan untuk menyaksikan ‘penyihir cilik’ tuntas sudah. Tak bisa dipungkiri, dari raut dan air muka, Cazorla masih tampak ‘jetlag’ paska Piala Konfederasi dan liburan panjang.

Kenapa antara Walcott dan Jenkinson sata tautkan ke tanda X?

Untuk menggambarkan ketakpaduan kedua pemain tersebut.

Saya kerap menulis, bahwa kritik terhadap performa Sagna musim lalu adalah buah ketak-jelian penonton dalam melihat gaya menyerang Walcott. Walcott jarang turun, dan ini lebih parah, kerap tiba-tiba menghilang ke sisi tengah lapangan pertahanan lawan. Otomatis membuat Sagna bermain sendirian menyusur sayap kanan. Beruntung terkadang antara Cazorla dan Ramsey melihat sisi lowong ini dimana mereka akhirnya mengisi spot yang ditinggalkan Walcott.

Pada pertandingan v Galatasaray, Jenko baru saja mengalami mimpi buruk setelah sebelumnya dipecundangi dalam duel udara oleh Insigne. Dan karena stok bek tengah habis, Wenger memercayakan Sagna untuk mengganti Koscielny yang nampaknya diistirahatkan. Di pertandingan ini saya begitu gemas saat bola berada dalam penguasaan Jenko dan dia tak mampu menciptakan peluang berarti.

Anda tentu kerap membaca tentang media yang begitu gemar menaburi permainan Leighton Baines musim lalu dengan pujian?

Tidak bisa saya sangkal, Baines sangat piawai dalam melepas umpan lambung — baik melalui bola mati maupun permainan terbuka. Tapi setelah saya perhatikan lagi, dan jika anda mau memerhatikannya, permainan Baines tak akan sebagus itu bila saja Steven Pienaar tak rela berkorban. Pienaar kerap kali ‘membuka jalan’ bagi Baines untuk berkreasi. Pienar lah yang melakukan tugas kotor demi melapangkan langkah Baines. Hal ini didukung oleh permainan Everton: give the ball to Baines -> send all the big men (Fellaini, Jelavic, Anichebe) to opponents’ box. Pienaar, yang seharusnya lebih bersinar kontan tertutup.

Sama seperti kondisi Arsenal, hanya saja situasinya terbalik. Walcott = Baines, Pienaar = Sagna.

Hal ini diperburuk dengan permainan Walcott semalam dimana ia kerap kali salah umpan dan gagal menembus bek lawan. Komunikasinya bersama Jenko bak pasutri yang baru rujuk dari cerai. Malu-malu tapi mau. Gede gengsi. Padahal keduanya sama-sama butuh.

Semakin dicerca, malah mencetak gol. Theo Walcott akhirnya mencoba mengeksplor sisi kiri dan ketika akhirnya ia tak dijaga untuk melepas crossing, bola hasil sepakannya justru masuk ke gawang Fernando Muslera. Lancarnya laju bola menuju gawang juga didukung oleh kesalahtanggapan bek Galatasaray dalam mengantisipasi bola — sehingga membingungkan sang kiper.

Di pertandingan debutnya, Sanogo tidak terlalu bersinar. Impresi pertama yang dia berhasil berikan untuk saya di pertandingan ini: rasa percaya dirinya tinggi, gemar mengganggu konsentrasi bek dengan berpindah-pindah posisi dan ia bisa meliuk liat dan tak murni mengandalkan tinggi badan. Sayang dua tembakanya belum mampu menjebol gawang Galatasaray.

midfield maestro

Jika kritik banyak tertuju pada Jenkinson dan Walcott, di babak pertama ini kredit dan aplaus praktis milik Ramsey. Ia masih saja sempat salah umpan. Tapi lihat apa yang dia lakukan setelah bola berpindah tangan. Ramsey dengan sigap merebutnya kembali. Dan tentu saja: sebuah sodoran bola lamung dari sisi kiri untuk Walcott yang mengalir layaknya keindahan surgawi. Sayang seribu sayang, Walcott yang hanya berhadapan satu lawan satu dengan kiper belum mampu mengoptimalkan umpan Pirlo-esque tersebut.

Saya senang bukan kepalang akan perkembangan Ramsey ini, dan berharap Wilshere bisa mengadopsi pengalaman Ramsey bertransformasi dan merubah gaya bermain sehingga kehadirannya di lapangan tengah Arsenal tidak sia-sia.

Galatasaray menurunkan pemain-pemain kawakan dan bermain dengan pendekatan cukup keras. Saya sampai hampir lupa bahwa ini hanyalah friendly match.

Hampir terlupa, sepanjang laga — sejak pertandingan v Napoli — suporter Arsenal sering sekali mem-boo hal tak jelas. Contohnya: Higuain. Ya, mereka kecewa Pipita malah berlabuh ke Naples, tapi apa mereka tak membaca berita bahwa Arsenal tak sudi menyanggupi permintaan Madrid yang kepalang mahal? Sasaran lain adalah Reina dan Drogba. Jujur saya sedikit malu dengan kelakuan suporter kita yang sering terlihat tidak antusias dalam mendukung tim di stadion.

Kenapa di laga utama EPL mem-boo pemain ini jarang terjadi? Kenapa tidak membuat chant khusus ketika mencerca pemain lawan (dengan tujuan menjatuhkan mental). Berat bagi saya mengatakan ini: suporter kandang Arsenal masih kalah militan dengan suporter kandang Chelsea. Beberapa bilang, hal itu terjadi karena mahalnya harga tiket. Sangat tidak masuk akal.

Jika saya datang ke suatu konser musik yang tiketnya sangat mahal, band yang tampil adalah band pujaan, saya tak akan berdiam diri sepanjang konser. Ini kesempatan emas untuk menyoraki mereka dan ikut berdendang di semua lagu hingga urat leher saya putus.

Begitu kira-kira perbandingannya. Semoga antusiasme suporter Asia yang mereka lihat di video-video bisa membangkitakan gairah mereka untuk lebih ‘gila’ lagi ketika menyaksikan Arsenal di stadion.

Babak kedua bergulir, Fatih Terim, pelatih Galatasaray memasukkan Weisley Sneijder dan Drogba untuk menggantikan Emre Colak dan Johan Elmander. Ada pula nama Amrabat yang sejak babak pertama gemar sekali merepotkan Arsenal dengan postur kekar tapi lincahnya.

Keserasian keduanya berhasil membangkitkan rona permainan Galatasaray menjadi lebih menyala. Drogba sering turun ke bawah hanya demi membongkar konsentrasi bek Arsenal dan melakukan pinpoint pass dengan para gelandang Galatasaray. Permainan menjadi semakin terbuka saling serang. Berbeda dengan saat kita menghadapi Napoli.

Di menit 60 Arsenal kembali melakukan pergantian pemain; Zelalem untuk Cazorla dan Giroud untuk Sanogo. Sayang sekali, di debutnya di Emirates, Zelalem terpaksa ditempatkan di posisi kurang ideal, seharusnya ia menempati posisi Ramsey/Arteta. Tapi meski begitu dan tak sekalipun satu hollywood pass berhasil ia ciptakan, ada beberapa kali kesempatan saat dia berhasil meliuk dari hadangan pemain Galatasaray. Lumayan.

Rasa khawatir saya selanjutnya tertuju pada sosok Ignasi Miquel. Dalam rangkaian tur Asia lalu, saya tak begitu mengindahkan penampilan kurang maksimalnya. Baru di pertandingan kali ini, saya merasa Miquel tak punya masa depan bersama Arsenal. Ia bertubuh tinggi tapi lemah dalam berduel fisik. Visinya dalam menekel pun — untuk ukuran seorang bek — kurang meyakinkan. Ia kerap ditempatkan Wenger di posisi bek sayap yang sepertinya dengan kurang ikhlas ia jalani. Ia kerap jarang terlihat untuk ingin berusaha melepas crossing di posisi tersebut. Yes, itu bukan posisi pilihannya. Tapi siapapun toh harus siap ditempatkan di posisi lain guna memenuhi kebutuhan tim. Padahal saya ingin sekali melihat eks didikan La Masia itu sukses di Arsenal. Bisa dibilang kesempatan dia (dare I say) untuk tembus ke skuat inti menjadi 30%. Wenger, jika berhasil mendapatkan bek di bursa transfer, lebih baik meminjamkannya ke klub lain guna memompa semangat dan menambah pengalaman bermain bagi Iggy.

Dan kemudian, di ajang friendly, seorang Drogba bisa-bisanya punya niat untuk melakukan diving. Sorakan tertuju padanya semakin keras saja. Meski lantas ia sanggup mengonversi tendangan tersebut. 1-1. Setelahnya sepakan keras Sneijder dari luar kotak penalti berhasil Szczesny patahkan. Terlihat di satu waktu ia beradu mulut dengan Gibbs saat Galatasaray mendapat corner. Sampai kini saya belum tahu apa yang kedua pemain tersebut ributkan.

Kemudian tibalah masa di mana Drogba kembali hadir sebagai mimpi buruk Arsenal. Ia menjadi pencetak gol penentu kemenangan melalui cara yang sangat indah dengan mengelabui Mertesacker terlebih dahulu. Gol ini mengingatkan saya akan golnya ke gawang Barcelona sebelum Chelsea memenangi Liga Champions.

Sosok Drogba seperti Suarez. Sosok yang sanggup mengubah kekalahan menjadi seri atau bahkan kemenangan. A match winner. Sosok pivotal. Buas di dalam kotak penalti, semakin sering ia anda intimidasi, semakin besar niat yang dia punya untuk menghancurkan tim anda.

**

Tak usah terlalu murung. Ini hanya ajang pemanasan sebelum kompetisi sebenarnya dimulai. Masih banyak kekurangan di sana-sini dan ucapan Wenger bahwa tanpa perekrutan baru tim ini bisa menjadi juara EPL saya harap hanya kelakar.

Minggu depan Arsenal akan menjalani laga pra-musim terakhir di Finlandia menghadapi Manchester City. Enam hari sebelum bertemu Aston Villa — lawan pertama di EPL.

Semoga, ketak-yakinannya untuk menambah amunisi kekuatan skuat sebelum bursa transfer ditutup hanyalah guyonan.

2 thoughts on “Match Review: Emirates Cup 2013

  1. Masuknya Zelalem, Ignasi Miquel dan Chuba Akpom
    Menjadi mimpi buruk bagi Arsenal di babak kedua.

    Mereka adalah pemain junior
    Yang belum siap ditampilkan
    Minim pengalaman.

    Meskipun ini laga persahabatan
    Wenger tidak perlu melakukan pergantian tersebut.
    Ini adalah Blunder seorang Arsene Wenger

    Like

  2. “Gol yang dinanti-nanti akhirnya datang dengan cara yang kelewat ‘un-Arsenal’. Keduanya berasal dari sepakan set-piece.”
    – hahaha saya suka dengan kalimat tersebut. cara yang kelewat ‘un-Arsenal’. Set Piece Arsenal musim lalu menurut saya parah. Apalagi corner. Walau memang dari corner mampu membawa kemenangan atas Newcastle di laga pamungkas sekaligus pemasti posisi 4 besar. Namun secara keseluruhan, set piece Arsenal payah. Padahal disitu ada Martesacker, Koscielny dan Giroud dgn postur tinggi. Corner Arsenal besifat pasif stuck pada posisi. Kurang ada pergerakan di dalam kotak penalti kala corner dieksekusi. Lihat bagaimana Evra bisa efektif mencetak gol melalui sundulan dr corner walau badannya tidak tinggi. Ntah bagaimana strategi latihan dari Wenger untuk set piece, terutama corner.

    Satu hal yang masih saya kecewakan di 2 laga Emirates adalah, efisiensi crossing Arsenal masih kurang. Jujur, Jenkinson memliki potensi kemampuan crossing lebih baik daripada Sagna. Namun crossing keduanya tetap jarang menemui sasaran (Giroud). Lihat bagaimana Giroud menjadi top skor di Liga Prancis, Giroud dimanjakan crossing maupun umpan silang dari para pemain Montpellier. Peran Giroud di Arsenal pun tentu menjadi berbeda kala di Montpellier, namun harapan fans terhadap Giroud tetap sama: goal getter. Tolong Wenger, ajarkan para full back kanan-kiri untuk crossing yang efektif dan efisien. Agar mampu menghasilkan gol ketimbang harus sering menerima “siksaan” serangan balik.

    Menyikapi Podolski dan Gnarby. Permainan Gnarby masih dalam kewajaran, pemain muda masih menyesuaikan diri dengan rekan-rekan senior. Begitu pula Sanogo dan Zelalem yang memang tampak tidak begitu istimewa di Emirates Cup. Diantara ketiganya, mungkin hanya Zelalem yang lebih baik penampilannya.
    Nah, bagaimana denga Podolski? Ntah kenapa saya bingung mengapa Podolski jarang mau DRIBBEL bola menusuk ke sisi sayap maupun menusuk masuk kotak penalti melalui sayap. Lihat saat Podolski mendapatkan bola, seolah tidak ada niat atau kreatifitas dari Poldi untuk bawa bola membuka ruang atau menusuk dengan mendribel bola. Yang ada, Podolski langsung passing kembali ke rekan terdekatnya. Otomatis Gibss lah yang harus berfikir dan berperan tentang bagaimana obrak-abrik sisi sayap kiri lawan. Tentu betapa melelahkan menjadi seorang Kieran Gibbs yang harus rajin naik turun.
    Disini lah kenapa Suarez begitu penting bagi Arsenal.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s