Pembelian Realistis Part 1: Kenapa Ginter Bukan Ashley Williams

oleh: Unggul Wisesa Haddad

Sudah bukan fenomena baru melihat Arsenal selalu saja dikait-kaitkan oleh media dengan berbagai macam pemain, baik itu pemain muda maupun pemain bintang. Sebagai seorang penikmat berita-berita transfer yang terjebak di tubuh seorang fans Arsenal, saya sejak musim 2010 sudah sedikit paham permainan-permainan media yang hobi membuat penggemar Arsenal yang berfilosofi “Spend is a must” menjadi berharap-harap yang berujung kenyataan palsu. Apalagi sekarang makin marak ITK abal abal di twitter, sampai-sampai susah membedakan mana yg benar-benar punya koneksi dengan inside source atau mana yang cuma bertugas memanaskan rumor transfer di timeline yang kadagn berujung meningkatnya harga seorang pemain hanya gara-gara rumor tadi.

Saya lupa kapan tepatnya, yang jelas Ashley Williams yang sempat menjadi pahlawan dan dielu-elukan fans Arsenal gara-gara hampir “memancung” kepala Van Persie dengan sepatunya, untuk kemudian turut meramaikan berita transfer Arsenal. Kabar itu diperkuat kondisi kapten Arsenal “semu” Thomas Vermaelen yang mulai menjadi pilihan ketiga dan diisukan hengkang. Status Ashley Williams di Swansea sekarang adalah seorang kapten Swansea (menggantikan Gary monk 15 Juli kemarin) dan Wales (menggantikan Ramsey) dan baru saja menandatangani 3 tahun kontrak bersama Swansea.

Dengan statusnya sebagai pilihan utama di Swansea, rasanya sangat tidak mungkin di umurnya sekarang, 28 tahun seorang Ashley Williams mau menggadaikannya dengan menjadi pilihan ke 3 / 4 di Arsenal. Hal tersebut pasti akan mempengaruhi karirnya di tim nasional juga. Kemungkinan besar pembelian Ashley Williams hanya menjadi bumbu media yang kehabisan berita saja dan itu tidak akan terjadi. Nah, mulai disinilah nama Ginter sebagai seorang versatile player mulai saya munculkan. Pembelian Arsenal untuk CB keempat ini adalah seorang pemain muda bukan pemain yang matang dan berada di puncaknya seperti Ashley Williams.

Matthias Ginter, 19 tahun dari SC Freiburg. Salah satu binaan akademi Freiburg juga. Seorang pemain yang oleh Christian Streich pernah dimainkan di 4 posisi, mulai dari DC, MC, DMC, sampai yang paling mengejutkan menjadi FW !

Matthias Ginter memulai debutnya pada Januari 2012, melawan Augsburg dan mencetak gol pertamanya sekaligus kemenangan pada pertandingan itu. Musim lalu Ginter bermain untuk Freiburg pada 23 pertandingan dan bermain pada 4 posisi dengan porsi terbanyak sebagai DC sebanyak 17 kali, di posisi MC 3 kali, posisi DMC 2 kali, FW 1 kali!!

Melihat posisi yang paling banyak dimainkan Ginter musim lalu adalah sebagai DC, tentunya tidak heran kalau Ginter adalah pembelian realistis Arsenal musim ini apabila mereka mencari bek muda untuk menggantikan posisi Djourou dan Vermaelen yang harus absen 3 bulan ke depan. Salah satu hal yang membuat saya memasukkan nama Matthias Ginter, selain rumor dari media adalah dipinjamkannya Francis Coquelin ke SC Freiburg selama semusim ke depan.

Pertanyaannya adalah, apakah ini deal satu arah? Atau ada kerjasama “lain” yang tersembunyi antara Arsenal dan Freiburg? Entahlah. Mari kita lanjutkan perbincangan kita tentang seorang Ginter.

Yang cukup menarik , Ginter merebut medali emas untuk kategori pemain U-19 dalam Fritz Walter Medaile 2013. Sebuah prestasi yang cukup baik, mengingat Ginter juga memperoleh medali emas juga untuk pemain U-18 tahun kemarin. Ginter adalah seorang pemain yang sebenarnya bertipe tidak jauh berbeda dengan Per Mertesacker dalam hal bertahan sebagai bek. Baik Ginter maupun Mertesacker bukanlah seorang bek yang hobi melakukan dive untuk melakukan sebuah tackle layaknya bek-bek lain. Kedua pemain ini lebih berkonsentrasi melakukan interception daripada melakukan tackle kepada pemain lawan. Selain itu kedua pemain ini juga memiliki gaya permainan yang mengandalkan umpan-umpan pendek.

Mertesacker sendiri dikenal memiliki akurasi passing yang sangat tinggi musim lalu (91%), sedangkan Ginter sendiri memiliki akurasi passing (82%). Kelebihan Ginter daripada Mertesacker yang paling mendasar adalah Ginter dianugerahi bakat sebagai seorang pemain bertahan yang memiliki bakat untuk melakukan long shot dengan baik. Bandingkan saja dengan Mertesacker dengan akurasi shotnya yang hanya 50% dan Ginter sebesar 88%. Kalau anda masih bingung membayangkan kelebihan Ginter ini, coba tengok David Luiz dari Chelsea yang hobi melakukan tendangan-tendangan dari bola-bola muntahan.

Saat bertahan pun Ginter dan Mertesacker sama-sama memiliki presentase tinggi pada waktu melakukan clearance daripada block dan interception. Namun presentase Ginter dalam melakukan interception dan clearance hampir seimbang dengan ratio 1 : 1,5 , sedangkan Mertesacker memiliki presentase 1 : 3. Bisa dilihat bagaimana seorang Ginter memiliki presentasi interception yang cukup tinggi dan ini adalah salah satu bekalnya untuk bermain di posisi DM apabila posisi CB tidak sedang dalam kondisi membutuhkan back up. Otomatis beban seorang Wenger akan lebih mudah dalam menentukan squad yang akan dibawa waktu pertandingan home maupun away.

Kenapa? Oke mari kita simulasikan.

Misal pada suatu pertandingan. Starting line up sudah ditentukan , misal: Sczczesny, Sagna,Per,Kos,Gibbs,Arteta,Wilshere,Ramsey,Podolski,Giroud,Walcott. Maka dari itu pemain cadangan yang akan dibawa adalah 1 kiper, 1 bek tengah pelapis, 1 fullback , 2 forward (winger dan striker) , 2 midfielder .

Nah, apabila seorang Wenger sudah memiliki Ginter sebagai pemain pelapis yang bisa bermain di belakang dan tengah tentu saja Wenger bisa memiliki opsi pemain yang lebih banyak tanpa perlu mengkhawatirkan jumlah midfielder yg dibawa . Sehingga pilihan Wenger bisa jadi 1 kiper, 1 bek yg bisa menjadi midfielder seperti Ginter, 1 fullback, 1 midfielder , 3 forward. Masih bingung? Anggap saja dengan memiliki Ginter di squad, Arsenal bisa mengalokasikan 1 slot midfielder yang dibawa ke bagian Forward, semisal untuk seorang Winger maupun Striker, atau menambah jumlah fullback, in case ingin mempertahankan skor di menit-menit terakhir .

Nah apakah anda sudah sedikit jatuh cinta kepada Matthias Ginter? Semoga saya sedikit berhasil mensugesti anda untuk berpikir lebih realistis ala seorang fans Arsenal. Salam.

One thought on “Pembelian Realistis Part 1: Kenapa Ginter Bukan Ashley Williams

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s