Catatan Tur Indonesia Arsenal — @d_adad: “This Day was Ours”

oleh: Unggul Wisesa Haddad

Saya pernah bilang ke seorang teman waktu Arsenal untuk kedua kalinya datang ke Malaysia.

“Kayaknya kalau Arsenal ke Asia lagi musim depan, kemanapun tujuannya gue bakalan datengin deh”.

Saya benar-benar depresi, lebih tepatnya putus asa bercampur jengkel. Melihat Arsenal untuk kedua kalinya menjalani tur Asia dan tidak melirik Indonesia sebagai destinasi tur mereka. Apakah Arsenal masih belum cukup puas melihat antusiasme Gooner dari Indonesia yang jauh-jauh ke Malaysia untuk melihat mereka pada tahun 2011?.

Entah Tuhan yang sedang mendengar doa saya atau Tuhan takut melihat saya yang depresi ini merampok rumah hanya untuk membeli tiket ke London, pada 1 November 2012 keluar satu link artikel dari Arsenal.com yang kemudian saya baca.

Arsenal Football Club is delighted to announce that the first-team squad will play a match in Jakarta, Indonesia during the summer of 2013.

Saya cuma bisa mangap. Rasanya kekesalan saya kepada Arsenal yang saya utarakan sebelumnya ingin tarik kembali. Saya merasa malu sempat “marah” kepada Arsenal. Euforia tadi membuat saya sejenak melupakan sesuatu beban bernama skripsi. Namun 5 menit kemudian saya tiba-tiba depresi lagi.

“Astaga, ini kalau skripsi nggak kelar tahun ini, gue bisa gagal nonton nih.” Saya sudah terlalu lama menanggung beban bernama skripsi ini. Saya tidak akan bisa menonton pertandingan Arsenal dengan beban ini. Rasanya seperti bersenang-senang sementara istri anda sedang hamil tua. Waktu itu bisa dipastikan, pengumuman Arsenal ke Indonesia menjadi salah satu pemicu saya cepat-cepat menyelesaikan skripsi saya. Bahkan bisa dibilang lebih memotivasi saya daripada nasehat cerewet pacar saya yang sudah lulus dari kemarin-kemarin.

Syukurlah, skripsi saya bisa selesai di bulan Desember dan wisuda di bulan Januari. Saya sudah bisa memastikan 99% pasti akan menonton Arsenal di Jakarta Juli besok. 1% yang bisa membuat saya tidak bisa nonton cuma ada dua hal: saya mati atau tiba-tiba dipaksa menikah.

Kita maju cepat sampai bulan Juli, karena tidak ada yang perlu saya ceritakan tentang Arsenal selain keberhasilan Arsenal mengamankan spot UCL dan finis di atas Spuds. Beban kedua saya selain skripsi, yaitu buku yang saya tulis semenjak bulan Juli tahun lalu juga sudah saya selesaikan bulan Mei. Bulan Juni kemarin buku saya sudah terbit dan dijual di Gramedia juga. Perjalanan saya sampai ke 14 Juli yang ada kaitannya dengan Arsenal juga banyak. Saya bertemu rekan-rekan sesama Gooner di dunia maya yang membuat saya merasa tidak “sendirian” membahas Arsenal di timeline. Sebut saja @anggrainiLB yang sudah saya kenal sejak musim 2010, lalu @indocannon, goonerette penuh pesona yang membuat saya mulai menulis tentang Arsenal, @jonasima; rekan sesama penulis yang sudah menulis berbagai macam artikel sepakbola, @Gonsaurus; gooner dari Semarang, @arsenalverse; seniman Arsenal favorit saya, sampai @info_Arsenal, satu-satunya akun info tentang Arsenal dari Indonesia yang saya follow di timeline. Kami bahkan sempat membuat janji untuk bertemu muka alias kopi darat tanggal 11 Juli nanti.

11 Juli 2013

Tiket pesawat untuk terbang ke Jakarta sudah saya pegang. Saya berangkat hari Sabtu pagi. Saya berangkat sendirian dari Jogja. Semua teman gooner dari Jogja yang saya kenal sudah berangkat dari Kamis dan ada pula yang berhalangan datang seperti @indocannon, kabar yang cukup membuat saya sedih, mengingat betapa besar passion dia terhadap Arsenal. Hal itu sudah saya sadari sejak akunnya masih bernama @bittergooner. Layaknya scout khusus akun twitter, saya yang sempat membaca tulisan di blognya yakin akun ini akan menjelma menjadi sebuah akun “besar”. Bahkan waktu itu saya tidak tanggung-tanggung sempat memberi tawaran kepadanya

“Gue pengen nulis di blog lo nih, boleh nggak?”

Sekitar jam 7 saya sudah terbangun setelah tidur waktu subuh. Saya bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Menggunakan jersey away Arsenal 2012/2013 berwarna ungu. Berharap akan bertemu banyak gooner di bandara Adi Sucipto dan berbincang-bincang dengan mereka. Namun dugaan saya salah.

“Mau nonton Arsenal, ya mas?”

Ini pertanyaan ke 5 yang saya dengar di bandara semenjak saya tiba jam 8 tadi. Waktu pertama diberi pertanyaan ini saya masih bisa menjawab dengan semangat sampai akhirnya tiba juga pertanyaan ketiga yang sekedar saya jawab dengan senyum. Ini seperti bertanya kepada wanita yang sudah memakai gaun pengantin sambil bertanya “Mau nikah ya mbak?” sambil berharap wanita tadi menjawab, “Bukan pak, mau layat” .

Saya pun begitu, setiap mendapat pertanyaan template “mau nonton arsenal mas?” di bandara rasanya ingin menjawab “Bukan pak, saya mau bajak pesawat”.

Sudah sekitar 1 jam saya di bandara dan belum bertemu satupun orang yg memakai baju Arsenal seperti saya. Sampai-sampai saya berpikir, apa jangan jangan saya yang terlalu semangat ya?. Sampai akhirnya waktu saya mengantri untuk boarding, saya melihat seorang laki-laki seumuran saya mengantri jauh di depan saya memakai jersey Arsenal. Yihaa! Teman seperjuangan ada yang satu pesawat. Saya langsung bertekad menyapa dia nanti sesampainya di Jakarta.

Tibalah saya di Jakarta, saya turun terlebih dahulu karena letak seat saya yang paling depan. Saya menunggu “teman” saya tadi. Berharap bisa berbincang-bincang banyak dengan dia. Saya berjalan sedikit lambat sambil menunggu disalip “teman” tadi. Tidak lama kemudian dia sudah di dekat saya dan keluarlah sebuah pertanyaan yang tidak diduga-duga oleh saya juga.

“Mau nonton Arsenal ya bang?”

GOBLOK. Saking seringnya mendengarkan pertanyaan tadi saya jadi latah menanyakan hal serupa. Sungguh awal mula basa-basi yang gagal. Laki-laki yang saya duga dari luar Jawa ini cuma tersenyum pahit yang mengindikasikan kode bahwa dia sama sekali tidak berniat melanjutkan percakapan dengan saya. Selamat datang di Jakarta. Hari itu saya awali dengan kebodohan kelas kakap.

Bus damri saya akhirnya tiba tidak jauh dari GBK. Saya hanya cukup menyebrang saja dan melewati pintu gerbang yang terbuka sedikit untuk sampai di Arsenal Fair di depan GBK. Cuaca Sabtu siang cukup gerah tapi langit justru berawan. Saya tidak terlalu mengindahkan hal itu dan terus menuju ke GBK. Wuah, banner-banner besar berdesainkan Arsenal Asia Tour sudah terlihat. Saya kehabisan kata-kata, apalagi setelah melihat setidaknya ribuan gooners di Arsenal Fair. Penuh sekali. Ada yang memakai jersey Arsenal seperti saya, ada yang memakai kaos peserta AIIG, ada yang cuma memakai baju biasa. Saya sedikit merinding melihat animo ini, mengingat ini baru H-1, gimana kalau pas hari H? Rasa lelah saya hari itu tergantikan perasaan bahagia bertemu teman-teman seperjuangan dari seluruh Indonesia. Siang itu saya lanjutkan dengan berjalan-jalan keliling GBK yang ternyata membuat kaki saya serasa ingin copot. Saya sempatkan duduk-duduk juga di depan tenda Arsenal fair sambil menyapa teman-teman Gooner dari kota lain. Perbincangan kami cuma sekedar bertanya asal, apa yang sudah terjadi seharian tadi, bahkan soal nama mereka masing-masing saya sudah lupa saking banyaknya orang yang saya ajak berkenalan.

Cobaan pertama itu akhirnya datang: hujan deras jam 1 siang.

Bukan hujan biasa, lebih tepat disebut hujan badai. Saya bingung mau berteduh dimana, saya sedang dalam perjalanan menuju FX Plaza 600m dari GBK, tapi hujan sudah terlanjur deras. Saya awalnya hanya berteduh di bawah pohon sampai akhirnya hujan semakin mengganas dan membuat saya basah kuyup seutuhnya. Saya akhir berlari ke penjual minuman yang memiliki payung besar. Bapak-bapak penjual juga menawari saya dengan ramah untuk berteduh dengannya. Saya tidak banyak berbicara dengan bapak-bapak tadi. Mungkin lebih baik begitu. Saya sedang bingung karena hujan tak kunjung berhenti, sementara bapak-bapak tadi juga bingung karena hujan membuat dagangannya tak laku. Sampai akhirnya bapak-bapak tadi berdiri dan hendak beranjak pergi.

“Saya titip dulu ya, daripada begini mendingan saya ngojek payung aja deh”, bapak tadi beranjak pergi mengambil payung dan meminta saya menjaga kiosnya yang sepi.

Selama menunggu kiosnya sampai jam setengah 4 sore, saya seperti menjadi pemandu GBK sore itu. Banyak sekali yang berkali-kali mampir ke kios untuk menanyakan tempat pembelian dan penukaran tiket. Untungnya saya sudah keliling GBK sebelumnya, tidak ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab sore itu. Saya senang bisa membantu mereka, ternyata jalan-jalan iseng siang tadi tidak sia-sia!

Kisah saya sebagai penjaga kios dadakan berakhir jam 4 sore, ketika teman-teman saya dari Bandung akhirnya datang juga. Hujan juga sudah mulai reda, kami beranjak ke Fx. Saya masih dalam keadaan basah dan sedikit kesal melihat isi tas saya ternyata basah kuyup.

Sekitar pukul 7 setelah berbuka puasa saya beranjak keluar dari Fx Plaza. Tujuan saya adalah melihat training session Arsenal. Saya menghabiskan waktu dengan menonton sampai jam setengah 7. Saya melihat keluar dan memasang muka penuh putus asa ke teman-teman saya. “Hujan men”. Bukan hujan yang deras seperti sebelumnya. Tapi cukup untuk bikin pakain kembali basah dan lembab. Saya tidak peduli, the show must go on! Saya berjalan menuju GBK untuk melihat training session.

Lagi-lagi perasaan merinding menghampiri. Saya dalam perjalanan menuju GBK dengan ribuan Gooner! Rasanya seperti fans-fans bola yang datang bersama-sama menuju stadion bola untuk menonton tim sepakbola jagoannya. Rasanya juga sangat lega, seperti berada di sebuah tempat yang aman dan penuh perlindungan tanpa perlu takut akan diserang atau dihancurkan. 5 menit yang tidak mau saya tukar dengan apapun. Berjalan bersama Gooner menuju stadion. Astaga, saya berucap dalam hati, ini semua teman seperjuangan saya.

Mereka semua mungkin punya raut muka yang serupa dengan saya waktu Arsenal menang dan kalah.

Mereka semua punya rasa bangga yang sama seperti saya, rasa bangga sebagai seorang Gooner

Malam itu, untuk pertama kalinya. Saya melihat Arsenal berlatih secara langsung. Saya tidak seberuntung beberapa Gooners yang bertemu dan berfoto langsung dengan para pemain. Buat saya ini sudah sangat cukup. Dari awal keinginan saya tidak muluk-muluk. Saya cuma ingin punya kesempatan melihat Arsenal secara langsung. Malam itu, kotak kosong disamping tulisan “Menonton Arsenal Latihan” sudah saya checklist. Besok adalah ibadah sesungguhnya.

Minggu, 14 Juli 2013

Sekitar jam 2 saya sudah di Fx Plaza lagi. Ternyata banyak Gooner yang sepemikiran dengan saya, menghabiskan waktu di Fx Plaza sebelum pertandingan. Mungkin ini berkah yang tidak disangka-sangka oleh merchant-merchant di Fx. Hampir semua isi Fx adalah para Gooner. Sampai-sampai saya yakin orang-orang yang ke Fx tanpa memakai dresscode “The Gunners” ini mungkin merasa salah kostum dan berujar dalam hati. “Anjir gue salah pake baju, pulang aja kali ya.”

Sampai sekitar jam 6 saya membunuh waktu dengan menonton di bioskop. Kemudian menyempatkan berfoto di depan teater JKT48 (Ini penting buat cerita ke anak cucu besok!). Cuaca hari itu juga sangat cerah, tidak sesuram kemarin.

Semacam langit sedang berkata, “Sorry men, gue udah keterlaluan banget ngasih hujannya kemarin.”

Saya menuju ke GBK dalam keadaan bahagia. Untuk mendukung dan bernyanyi memberi semangat tim yang sebenarnya bukan berasal dari kota maupun negara saya. Ini bukan hal yang pantas didebatkan, tentang siapa fans murni atau siapa fans TV. Tidak ada pembagian hal semacam itu. Menurut saya, Arsenal atau klub-klub yang memiliki fans-fans di seluruh penjuru dunia itu ditakdirkan untuk menjadi tim yang dicintai oleh semua orang. Tim yang kita cintai dengan perasaan memiliki layaknya kekasih. Ketika tim ini disakiti media atau pendukung tim lain, kita juga merasakan hal yang sama. Ketika tim ini berada di puncak, kita juga merasakan kebahagiaannya. Menurut saya fans bola tidak bisa dibagi-bagi. Semua sama.

Keramaian GBK dua kali lipat kelihatan lebih padat dari sebelumnya. Banyak yang ingin mengais rejeki juga dari keramaian ini, mulai dari penjual atribut Arsenal, penjual minuman, tukang parkir, penjual tiket bahkan mungkin copet-copet yang berharap bisa mendapat penghasilan berlipat. Saya terus berjalan menuju GBK dengan Gooner lainnya. Sebagian besar gooner (termasuk saya), malam ini mungkin untuk pertama kalinya menonton Arsenal bertanding secara langsung. Bukan cuma bertanding mungkin, tapi bisa juga menyanyikan chant-chant sampai suara serak, atau mengeluarkan berbagai macam celetukan ketika hampir kebobolan atau berhasil membobol. Yeah, saya tidak sabar untuk itu.

Saya sudah berada di dalam tribun sejak jam setengah 8. Menunggu datangnya pemain Arsenal ke lapangan, sementara pemain-pemain Indonesia sudah keluar terlebih dahulu untuk pemanasan. Suasana tiba-tiba mulai meriah, ketika pemain Arsenal sudah memasuki lapangan. Chant-chant mulai dinyanyikan.

We love you Arsenal We do, We love you Arsenal we do.. Oh Arsenal we love you!

Mungkin kalau saya di TV, saya bisa memastikan sendiri apakah chant-chant di GBK ini sama ramainya seperti waktu Arsenal bertanding di Emirates. Yang jelas, saya terus bernyanyi sambil diikuti perasaan merinding. Feeling the blow, goosebumping on the skin.

Mendengar satu persatu pemain Arsenal yang disebutkan disambut reaksi meriah seperti pembacaan doorprize di acara gerak jalan. Meriah sekali. Apalagi ketika pemain Arsenal mulai keluar dengan baju awaynya yang baru, warna kuning dipadukan biru yang sangat oke mengingatkan saya kepada jersey yang masih bersponsorkan Sega dan JVC. Luar biasa keren. Tampaknya saya harus membelinya musim ini. Saya sendiri cuma menggunakan baju yang saya beli di booth merchandise Arsenal berdesainkan logo Arsenal Asia Tour dan syal Arsenal yang cukup gerah di lehar sehingga saya jadikan ikat kepala. Baju jersey Arsenal saya yang saya bawa sudah basah kuyup semua akibat hujan kemarin.

IMG_1194

Berbagai macam chant dinyanyikan. Mulai dari chant untuk Indonesia yang salah satu lagu wajibnya adalah “Garuda di Dadaku”, sampai chant-chant Arsenal yang biasa kita dengar waktu Arsenal bertanding di TV. Penonton juga cukup kompak dalam hal mem-booing Menpora Indonesia saat ini, Roy Suryo yang menyalami pemain Arsenal satu-persatu. Rasanya malam itu, tidak bernyanyi bersama para gooner adalah sebuah kerugian dan saya tidak mau rugi malam itu. Saya sudah siap kehabisan suara malam itu.

Susunan line up kali itu adalah,

Fabianski

Gibbs – Miquel – Mertesacker – Jenkinson

Arteta (C) – Ramsey – Oxlade-Chamberlain

Walcott – Akpom – Gnabry

Susunan yang berbeda dari yang saya lihat sebelumnya. Mengingat ini debut Chuba Akpom di tim utama. Chamberlain sendiri bermain lebih ke tengah. Theo Walcott dan Gnabry bermain sebagai Inverted Winger bersama Chuba Akpom sebagai one top di depan. Adrenaline saya semakin meningkat setelah giant banner Arsenal di tribun saya digelar sampai menutupi seluruh tribun.

Wah ternyata begini toh rasanya menjadi salah satu dari lautan penonton dengan banner yang super besar.

Saya benar-benar ketagihan sampai terus berteriak “lagi-lagi”. Berbagai macam banner juga dipasang di stadion. Banner yang dipasang pun “hanya” banner berisi dukungan terhadap Arsenal dan menunjukkan identitas siapa pemilik banner tersebut. Bukan banner banci yang bertujuan memancing emosi seperti yang kita lihat waktu pertandingan Indonesia melawan Belanda. Karena malam ini kamu cuma punya satu tujuan. Menonton Arsenal bertanding.

GOL!! Sorakan gol pertama saya untuk Arsenal secara langsung resmi sudah ketika Walcott berhasil membobol gawang Indonesian Dream Team. Chant “THEO THEO THEO THEO THEO” terdengar semakin keras. Penyerang satu ini memang tampaknya percaya dia tidak akan mendapatkan dukungan semeriah ini kalau dia pindah ke klub lain. Kemudian Chuba Akpom membuat gol perdananya di pertandingan debutnya. Umpan dari Gnabry disambut finishing tenang dari Chuba. Saya berharap ini bukan terakhir kalinya saya melihat Chuba nenghasilkan gol di tim utama Arsenal Gnabry sendiri sebelumnya juga terlihat sangat berambisi menghasilkan gol di pertandingan sekaligus hari ulang tahunnya ini, namun sayang tampaknya birthday boy ini harus cukup puas dengan 1 assist kepada Chuba tadi.

Setelah Giroud dan Rosicky masuk, permainan Arsenal semakin agresif. Mereka bermain seakan mereka harus menang untuk mendapatkan spot liga champion. Wenger tidak berbohong waktu memberi pernyataan “Arsenal akan memberikan penampilan terbaiknya”. Giroud yang memberikan dua golnya dengan finishing khas poacher murni, Rosicky yang memberikan bola-bola maut kepada striker, Arteta yang cukup tenang menjaga pertahanan sambil sesekali maju, Ramsey yang terlihat lebih agresif, Podolski yang semakin lincah, kemudian pemain-pemain muda seperti Zelalem, Eisfield, dan Olsson yang tidak kalah menarik untuk diamati membuat semua yang ada di stadion ini sepakat untuk satu hal.

“14 Juli ini adalah salah satu hari Minggu terbaik kami. This day was ours!”

Achievement unlocked : Watching Arsenal Live In The Stadium

3 thoughts on “Catatan Tur Indonesia Arsenal — @d_adad: “This Day was Ours”

  1. selamat buat temen-temen gooners yang sudah melewati hari minggu terindah dalam hidupnya.. doakan temen-temen gooners yang belum beruntung seperti saya dan mbak indocannon suatu saat bisa merasakannya juga tahun depan atau sekalian di ashburton grove. jikalau Tuhan menghendaki saya berkunjung ke ashburton grove, saya ingin mengajak anak saya yang saat ini masih dikandungan ibunya. Semoga!!! #VCC

    Like

  2. I feel … :’)
    Great moment…
    G bisa buat diungkapin..
    Apalagi liat wenger keluar..
    Rasanya mau nangiss..

    Bener kata benhan maka ketika saya katakan “arsenal,by far the greatest team the world has ever seen,it sama dg seruan : agama saya paling benar” :’)

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s