Launching seragam tandang anyar: there’s no one new but that’s okay!

kredit gambar: @Arsenal_Supremo

Dua hari lalu di sore yang terik Arsenal akhirnya menggelar perilisan seragam tandang (away kit) yang akan digunakan untuk musim 2013-14. Sebelumnya sempat tersiar kabar menghebohkan bahwa acara ini akan diiringi dengan perkenalan beberapa rekrutan anyar. Cesc Fabregas, Gonzalo Higuain, Marouane Fellaini dan Łukasz Piszczek akan secara dramatis muncul dari kotak raksasa diringi dengan ledakan mercon dan taburan konfeti sambil menebarkan senyum dan lambaian tangan ke arah awak media dan para penggemar di pelataran Ashburton Grove. Sementara Arsene Wenger, Dick Law dan Ivan Gazidis mengenakan stelan jas warna perak menari di podium sambil tertawa tergelak-gelak.

It was only a daydream, eventually. Arsenal justru menyiapkan jajaran pemain British core untuk memeragakan jaket, kaos, celana dan kaos kaki tandang yang didominasi warna biru dan kuning tersebut. Secara terbuka saya nyatakan; Nike, di musim terakhir kerjasamanya dengan Arsenal telah memoles kinerja buruknya atas disen kostum beberapa musim lalu dengan kembali menggunakan warna klasik yang identik dengan kesuksesan historis Arsenal.

Klub merengkuh gelar ganda pertama tahun 1971 saat mengalahkan Liverpool di Wembley menggunakan wewarna ini. Begitu pula saat kita mengalahkan Manchester United di Piala FA tahun 1979 (thanks to a very late goal from Alan Sunderland). Secara terbuka baik Nike (sebagai pihak apparel) dan klub menyatakan bahwa langkah ini dibuat sebagai penghargaan untuk tim invincibles 2003-04.

Banyak yang kecewa Arsenal ternyata belum juga memastikan perekrutan anyar di momen itu, didorong oleh tweet salah satu tim marketing Arsenal, Charles Allen: bahwa langkah ini adalah sebuah “audacious stunt” dan telah dipersiapkan berbulan-bulan. Juga oleh ketidakberdayaan orang-orang tersebut dalam mengendalikan obsesi mereka untuk mendapatkan pamain baru. Saya tidak akan menulis lagi bagaimana mengganjalnya situasi tersebut kali ini, toh pada tulisan-tulisan sebelumnya telah saya bahas.

Well, I mean, fuck you. Persetan jika anda masih saja mencecar klub dengan pertanyaan seputar transfer atas seremonial ini.

Ada hal penting yang klub hadapi minggu ini dan hal tersebut akan melibatkan kita — penggemar mereka di Indoneia yang kiranya belum cukup beruntung berkunjung kesana. Ini anugrah.

“Arsenal hanya memerhatikan sisi komersil! This is football club not a fucking corporate, we want our Arsenal back!”, you said.

Fuck you twice, then.

Sebutkan satu saja klub EPL — seluruh klub sepakbola profesional tepatnya — yang tidak memerhatikan sisi komersial. I think it’s only fair for Nike to make this last effort memorable. Dan untuk klub yang sekian tahun dinilai tidak memerhatikan bakat asli Inggris, pemilihan Theo Walcott, Kieran Gibbs, Aaron Ramsey, Jack Wilshere, Carl Jenkinson dan Alex Oxlade-Chamberlain sebagai corong klub adalah sebuah langkah berarti untuk membungkam kritik.

Dari 6 pemain tersebut, 4 diantaranya secara reguler menjadi starter musim lalu. Walcott menjadi top skor dan Ramsey membuktikan pada khalayak ia layak untuk diapresiasi. Pun ini adalah musim pertama sejak 2010-11 bagi Wilshere untuk tampil fit sejak persiapan laga pra musim.

Dua hari lalu saya sempat berceloteh di Twitter mengenai pesona lebih JKT 48 dengan girlband lainnya dari segi komersial. Mereka sanggup memberi daya tawar bagi penggemar untuk berdekatan dengan salah satu anggotanya, sekaligus menjauhkan — dengan kebijakan tidak boleh foto bersama, sebagai contoh. Atau bagaimana mereka mampu menggabungkan event gathering sebagai ajang temu antar penggemar-idola dengan mewajibkan pembelian CD.  Banyak sekali sisi kejeniusan sang penggagas jika mau dibahas disini. Pada akhirnya saya berkesimpulan, seburuk apapun suatu hal — yang anda lihat pertama kali — tidak lantas membuat hal tersebut tidak bisa ditarik sisi positifnya.

Saya rasa cukup sekian segala makian saya kali ini. Sekali lagi saya mengapresiasi langkah klub dan pihak apparel dalam menyelenggarakan momen kemarin.  Jika anda tidak tahu, Juventus juga mengeluarkan seragam tandang dengan aksen warna sama seperti milik Arsenal. Tapi mereka tidak melakukannya dengan menyelenggarakan even akbar. Jelas terlihat Nike ingin sekali mendongkrak penjualan kostum Arsenal kali ini karena saya dengar, langkah mereka terdahulu ketika memutuskan untuk menggunakan warna putih, biru dan ungu (demi tuhan!) disebabkan kelesuan penjualan seragam saat mereka menggunakan warna kuning. Untuk kali ini, dengan disen patch, font dan nomor seunik itu saya rasa anda akan tergoda untuk memilikinya. Apalagi jika diselaraskan dengan penuntasan puasa gelar. Dog days are over, with a huge sigh relief trembling in minds.

kutunggu kuningmu di setiap waktuku
“kutunggu kuningmu di setiap waktuku”

Biar bagaimana, Arsenal era EPL begitu identik dengan Nike, meski terkadang ada beberapa disen seragam dari mereka yang terasa kurang memuaskan. Tahun perpisahan — sebelum memercayakan disen apparel pada Puma — layak ditutup dengan disen ciamik dan pagelaran launching itu sendiri adalah sebuah promosi terang-terangan.

Klub dan sponsor sama-sama untung. Keuntungan finansial = mendongkrak kemampuan klub untuk berbicara di bursa transfer dan menutup biaya operasional dalam skala luas.

Carl Jenkinson, our own Charlie George opens his mouth

Langkah lain dari klub yang saya nilai bijaksana adalah dengan mengundang blogger — ketimbang media resmi — untuk mewawancarai Carl Jenkinson secara eksklusif.

Para narablog tersebut adalah Andrew Allen (Arseblognews), Tim Stillman (Arsenal Vision dan Arseblog), Gingers for Limpar, serta Dave Seager, Jeremy Lebor dan Matt Cotton (Gunners Town).

Carl Jenkinson adalah gooner yang menjadi gunner. Sedangkan media independen seperti blog memakai pendekatan personal dan tanpa filter dalam penulisannya — yang membuat mereka lebih ‘dekat’ kepada sesama penggemar ketimbang dengan media resmi. Momen ini terasa tepat, siapa lagi yang bisa mendekatkan pemain pujaan dengan pemujanya selain narablog yang tahu betul keluhan-keluhan mereka.

Jenkinson ‘dikeroyok’ kelima orang tersebut yang secara bergantian memberinya pertanyaan. Dari perasaannya tentang nomor punggung 2 yang kini menganggur (Diaby, pemakai sebelumnya kini bernomor 24) hingga kenangan yang ia punya saat dulu masih berstatus seperti kita; fans.

Secara kebetulan dengan artikel saya sebelumnya mengenai peran Steve Bould, salah satu dari mereka juga bertanya padanya bagaimana peran dan pengaruh partner Tony Adams tersebut. Ia berkata,

I think in terms of coaches, it’s always great to have a coach who’s been there and done it. As a player you do still look up to them and think, ‘You don’t argue with that, he’s done it and been there and achieved great things.’ There’s a lot of respect from the players towards him [Bould]. He’s brought in his own stamp with regards the defensive work and what we’ve been doing. I can’t remember [exactly] but I know we had a good defensive record last season so it’s obviously been working. I think we improved a lot last season,

Sebelumnya, Jenks juga menyebutnya Bouldy, yang terdengar akrab, dan sempat dipertanyakan salah satu narablog. Ini menandakan jenjang umur Bould yang tidak terlalu jauh dengan pemain membuat hubungan antar pemain-pelatih menjadi lentur dan akrab. Kemudian Gingers for Limpar menanyakan tentang bagaimana peran Bould untuk membuat skema bertahan tim lebih ketat musim lalu, yang Jenks jawab,

Yeah, we’ve done a lot more shape work. Since Bouldy has come he’s been working on a specific drill which revolves around shape and pressing when you should press and dropping when you should drop. I guess the answer to your question is yes, we’ve worked on it. I think so far it’s been working.

Status Bould sebagai mantan punggawa skuat legendaris memberi dampak rasa hormat yang para pemain taruh terhadapnya. Untuk sementara, di musim perdananya sebagai asisten pelatih, Bould telah sukses memerbaiki kinerja barisan pertahanan Arsenal.

Jenkinson di awal perbincangan juga menegaskan kesiapannya untuk bertarung secara sehat dengan Bacary Sagna. Mental seperti ini kita butuhkan dari pemain agar mereka selalu waspada akan bahaya direbutnya tempat mereka sebagai starter.

Untuk membaca transkrip wawancara tersebut, bisa berkunjung kesini dan sini.

Mengenai gosip transfer, tidak usah khawatir. Simak saja pendapat Darren. Saat ini skuat kita jelas limbung. Mengingat banyaknya pemain yang dilepas klub (baik melalui penuntasan kontrak seperti Sebastien Squilacci, Andrei Arshavin dan Denilson, atau meminjamkan mereka seperti Johan Djourou). Juga ada nama-nama seperti Nicklas Bendtner, Gervinho dan Marouane Chamakh yang sedang dijajakan ke klub-klub lain. Logikanya, jika per musim hanya ada maksimal dua orang pemain akademi yang dipromosikan ke skuat senior, Arsenal sangat butuh untuk merekrut pemain baru.

Masalahnya menjual pemain yang banyak tingkah (seperti Bendtner), sudah lama tidak bermain penuh (seperti Chamakh dan Park Chu Young) tentu bukan langkah mudah. Apalagi mereka juga enggan pindah ke klub lain, di saat dengan hanya duduk manis tiap pekan bisa digaji tinggi oleh Arsenal (I’m talking to you, Chamakh).

Sampai sini dulu. I’m sorry for saying ‘fuck you’ twioe. Oh. Thrice. Yes. You.

You,  moaners.

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s