Antara Neil Codling dan Steve Bould: hal yang jelas tampak di permukaan jangan sampai luput kita apresiasi

0005df48-642 copy

Steve Bould memulai karir sebagai asisten pelatih di Arsenal dengan catatan impresif: Arsenal menjadi tim kedua dengan rekor kebobolan paling sedikit di EPL musim 2012-13 (37 gol) . Sempat ada berita simpang siur mengenai kuasa Arsene Wenger yang melarangnya melakukan pendekatan defensif saat Arsenal mengalami kejatuhan menyesakkan di Piala FA dan Piala Liga. Baik Wenger dan Bould sendiri menyanggah berita tersebut. Benar atau tidak, kita sebagai pendukung Arsenal jangan sampai gagal memberi kredit atas pengaruh positif kehadiran pria botak ini.

Seperti biasa sebelum masuk ke inti pembahasan saya akan memberikan gambaran perbandingan antara dua kasus. Jika ada sosok idola yang membuat saya menolerir batas-batas bias gender, maka sosok tersebut adalah grup musik Suede. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya yang saat itu masih sangat kecil melihat video klip Animal Nitrate yang, well, membuka mata saya bahwa kaum lelaki pun bisa terlihat ‘cantik’. Mereka secara maksimal menghilangkan machoisme dunia rock and roll yang dikemudian hari saya ketahui telah berkembang di era glam-rock/hair metal 80-an.

David Bowie atau Morrissey bersama The Smiths lebih dahulu melakukan formula itu di industri musik. Tapi kan saya hidup di era Suede, maklum kiranya jika linimasa khasanah permusikan menjadi tidak runut (dan bukankah musik dan fashion selalu mengalami pengulangan tema?). Suede di era awal tampil dengan gaya kebanci-bancian. Sang frontman, Brett Anderson tak ragu memakai lipstik dan maskara, baju ketat mengkilat dengan aksen sadomasokis ala Sex Pistols/Vivienne Westwood dan gerak tubuh kemayu. Citra tersebut paling maksimal diimbangi oleh sang gitaris, Bernard Butler, meski dengan kadar tak terlalu ketara. Pun dalam segi lirik, mereka mengaburkan batas gender dengan melenturkan dominasi kelamin lelaki yang jamak digunakan grup rock Amerika. Sambil tak lupa menaburinya dengan tema-tema abstrak ‘siapa menyakiti siapa’ dan ‘siapa menyelingkuhi siapa’. Tak alpa bercerita tentang bagaimana menghabisi masa muda dengan mengonsumsi pil dan alkohol secara masif. Pada akhirnya, secantik apapun Brett dan Bernard di klip atau panggung, penggemar disodori kenyataan bahwa hal tersebut merupakan gimmick semata.

Salah satu era dramatis dalam karir Suede adalah saat Bernard mulai tak sepaham dengan Brett yang diakhiri dengan keluarnya sang pengatur nada. Alih-alih terpuruk, Suede justru makin sukses di album-album berikutnya (meski harus saya akui, A New Morning adalah album yang kebas-kolaborasi). Suede menemukan gitaris baru dalam diri Richard Oakes dan mencoba menggunakan peran kibordis/rhythm-guitarist dalam diri Neil Codling. Jika anda mau memperhatikan, citra androgini grup tersebut ingin tetap mereka gunakan terlihat dari penampilan Richard dan Neil yang dipaksa mengenakan anting dan lipstik. Menerapakan hal itu pada Richard adalah hal janggal dan tidak pantas, lain halnya pada Neil.

O lala, Neil tak kalah cantik. nei1ll

Cara duduknya saat menghadapi kibor begitu ayu. Terlebih tatapan matanya — dibilang menggoda kurang tepat — yang seakan berkata ringkih, “guyur saya dengan cinta terlarang.”

Di formasi inilah Suede akhirnya mendapat tempat di hati penikmat musik Indonesia — terutama setelah hit singlenya “Beautiful Ones” meledak. Disusul lagu-lagu kalem nan melangut seperti “She’s in Fashion”, “Chemistry Between Us”, “The 2 of Us” dan “Saturday Night”.

Suede dua kali menyambangi Indonesia. Kali pertama mereka datang tahun 2002 membawa tajuk promo album kompilasi single dan kemudian memutuskan rehat dari jagat musik. Kali kedua, terjadi saat mereka memutuskan kembali untuk reuni pada 2011. Sembari menjalani intensitas tur dunia, ternyata mereka rajin mengulik materi baru hingga pada awal tahun ini album Bloodsports pun dirilis. Mereka mengawalinya dengan melepas single gratis berjudul “Barriers”.

Lantas “It Starts and Ends with You” pun dirilis, saya sebagai pendengar lamanya merasa terpuaskan karena Suede tidak lantas melakukan perombakan drastis dari segi aransemen maupun tema lirik. Album ini terasa bertenaga dan optimistis, malah. Saya penasaran dengan respon kritikus mengenai album reuni ini. Ketimbang Pitchfork yang isinya berputar-putar, Allmusic adalah rujukan tepat untuk mengetahui nilai dan daya tarik suatu album lewat kritik/review sederhana tapi informatif. Dari ulasan yang ditulis Stephen T. Erlewine itu, ada sebaris kalimat yang membuat saya sekejap mengernyitkan dahi,

..Also, it helps that he [Brett Anderson], guitarist Richard Oakes, and Neil Codling — a keyboardist who began his stint in the band serving almost as decoration, and has now developed into a valued collaborator, contributing songwriting credits to over half the album — have constructed an elegantly lean, quietly forceful collection of songs that emphasize how Suede play ballads as if they’re anthems and vice-versa

Penulis menyebut peran Neil yang kini bukan sekedar ‘pemanis’ belaka, ‘a keyboardist who began his stint in the band serving almost as decoration, and has now developed into a valued collaborator’.

Kalimat ini yang membuat saya mengeluarkan tweet yang isinya memertanyakan kesamaan persepsi orang-orang pada Neil dan Steve Bould.

Memang tidak bisa disamaratakan antara musisi dan pelatih sepakbola. Karir Neil pun sudah sedemikian panjang dan progresivitas dalam mengarang lagu akan dilihat penikmatnya. Apakah ia hanyalah manekin atau dibutuhkan kontribusi absolutnya atas karya-karya Suede anyar?

Kita mengenal Bould sebagai pemain yang tak kenal kompromi dalam menyapu dan menghadang serangan lawan. Kehadirannya menjadi pelengkap barisan pertahanan legendaris arahan George Graham mengingat salah satu bek tengah utama, David O’Leary, semakin menua. Keputusan Graham merekrutnya dari Stoke terbukti tepat dan ‘boring.. boring.. Arsenal!’ menjadi eufimisme atas konsep efektifitas dalam sepakbola ala Graham: bagaimana seminim mungkin mencegah gawang David Seaman kebobolan. Arsenal pada 1990-91 menjuarai liga dengan rekor hanya sekali mengalami kekalahan.

Lalu bagaimana ia sebagai pelatih?

Nama Bould identik dengan kesuksesan akademi Arsenal level U-18. Dialah yang bertanggungjawab memberi kesempatan untuk Jack Wilshere tampil di level U-18. Kieran Gibbs, terang-terangan menyebut sosok Bould mempunyai pengaruh besar terhadap karirnya,  “Steve Bould had a big influence on me. Obviously he was my manager for two years and I think it was at an important stage in my development as well. He taught me a lot and he taught a lot of the other players as well how to live on and off the pitch.” Gibbs yang mulanya adalah gelandang sayap, kemungkinan besar banyak menyerap ilmu-ilmu bertahan dari Bould.

Mungkin memori paling manis bagi Bould sebagai pelatih tim junior adalah saat ia membawa anak-anak muda seperti Wilshere, Gibbs, Kyle Bartley dan Sanchez Watt memenangkan gelar ganda FA Youth Cup dan Academy Premier League dengan skenario yang hampir mirip seperti saat Bould bersama tim asuhan Graham memenangi Liga Inggris di Anfield, tepat 20 tahun setelah momen bersejarah itu terjadi (1989-2009).

Visinya dalam memajukan klub di level tertinggi pun sudah terlihat tatkala diwawancarai wartawan BBC lepas kesuksesan anak didiknya meraih gelar ganda ini. Bould yang tak mau larut dalam kesuksesan menegaskan,

What we should be judged by is how many kids we get in first teams. Now we want to see them getting in our first team [at Arsenal]. We’ve got Kieran [Gibbs] in at the minute, Jack [Wilshere] has been taken into the first team and we’re hoping we’ve got three, four or five more that are capable of that.

Bould memulai karir kepelatihan di Arsenal sejak 2001, setahun sejak memutuskan gantung sepatu sebagai pemain. Sejak itulah karirnya menanjak dari level U-16 hingga U-21. Penunjukkannya sebagai asisten pelatih pun tiba saat Pat Rice memutuskan pensiun karena masalah di lututnya. Sosok Bould sebagai legenda hidup dan ‘orang dalam’ klub membuat klub berhasil memertahankan tradisinya. Berbeda dengan Fergie di Manchester United yang kerap mengganti asisten.

Imej tegas dan galaknya ternyata dengan cepat segera publik ketahui tatkala Arsenal melakukan lawatan ke Cologne awal musim lalu. Alex Song yang bermalas-malasan saat latihan — akibat merasa jumawa menuntut perbaikan nilai kontrak yang sejatinya baru berakhir dua musim depan — dikabarkan berhadapan satu lawan satu dengan Bould. Akhirnya kita mengetahui selepas kunjungan itu Arsenal menyatakan sikap tidak membutuhkan jasa Song dan memersilakan Barcelona untuk menawarnya.

Penunjukkan dirinya dan Neil Banfield untuk berkecimpung bersama skuat senior tak lain berkat restu Wenger. Bould, sesaat dirinya mendapat kepercayaan ini berkata, “it is more than excitement, it is an absolute privilege and an honour.  I will be learning on the job a little bit but myself and Neil Banfield are more than excited.”

Fans pun mulai mencium adanya indikasi keinginan Wenger untuk memerbaiki kinerja Arsenal di sektor pertahanan. Citra Rice saat mendampingi Wenger dulu — tanpa melupakan segala rasa hormat saya padanya — merupakan sosok “yes man” yang peran eksplisitnya adalah menjadi sosok ayah bagi para pemain. Dengan selisih umur terpaut cukup jauh antara Bould dan Wenger, kita pun antusias akan seperti apa tim ini bersama Bould di dalamnya.

Nyatanya Arsenal berhasil mengawali tiga laga perdana tanpa kebobolan. Puji-pujian dialamatkan padanya, ‘Steve Bould! He’s got no hair but we don’t care!”

Segala gairah antusiasme yang tertumpah menjadi wajar kiranya bagi klub yang terkenal payah dalam bertahan seperti Arsenal.

Hikmah dari kegagalan memalukan Piala FA dan Piala Liga

Perihal kekalahan memalukan atas dua tim semenjana Bradford dan Blackburn tersebut tak perlu saya bahas mendalam. Arsenal berada dalam tekanan luar biasa paska kejadian tersebut. Angin perubahan terjadi saat tim menghadapi Bayern Muenchen di leg kedua babak 16 besar Liga Champions dimana Wenger membangkucadangkan Woljiech Szczesny dan Thomas Vermaelen.

Cederanya Abou Diaby juga memaksa mereka untuk memaksimalakan potensi Aaron Ramsey sebagai pendamping Mikel Arteta. Thomas Rosicky, atas pengalaman dan lebih unggul dalam bertahan, didapuk menggantikan Jack Wilshere.  Sejak itulah Arsenal bertransformasi menjadi tim yang bermain dengan pendekatan pragmatis. Arsenal lebih sering menang dengan hasil 1-0 dan keseluruhan skuat seia-senada sepakat bahwa dengan meraih cleansheet bisa menghasilkan kemenangan.

Two worlds collide. Wenger yang kadung identi dengan sepakbola menyerang mau mengalah dan memerhatikan aspek pertahanan yang Bould kemukakan. Arsenal bermain sebagai tim, sebuah kesatuan. Mereka menyerang bersama-sama dan bertahan bersama-sama. Ada rasa tanggung jawab yang sama besar dipanggul seluruh awak tim. Ini menyenangkan.

49 – 43 – 41. Bukan. Bukan kombinasi nomor togel. Angka-angka tersebut adalah jumlah gol yang bersarang di gawang Arsenal sebelum musim 2012-13, yakni 2011-12 hingga 2009-10. Yang membuat raihan kebobolan 37 musim ini semakin istimewa, barisan belakang Arsenal sebenarnya bukan tanpa masalah. Tim bahkan sempat memakai kiper ketiganya Vito Mannone di awal musim. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila hal tersebut tak terjadi dan Vermaelen tak mengalami fase aneh.

Tim, secara keseluruhan patut diapresiasi. Tapi untuk kali ini saya setuju dengan Le Grove yang menyatakan bahwa perekrutan Bould sebagai pengganti Rice adalah langkah brilian dan kebijakan Wenger menggunakan ‘orang dalam’ patut diacungi jempol.

“Everybody has realised that clean sheets win games a lot of the time,” tukas Bould yang kemudian melanjutkan dengan signifikansi kekalahan atas Sp*rs di White Hart Lane, “I’m hoping that the Tottenham defeat is the big turning point. We played really well on the day and I think we absolutely deserved more than we got. “Two defensive errors and we got punished by good players and that’s what happens.”

Semua mempunyai perannya masing-masing

Asisten manajer. Dari namanya saja dengan sekilas kita bisa memahami berapa persen pengaruh Bould terhadap pendekatan taktik yang Arsenal mainkan. Sinerginya dengan Wenger, tak lain adalah pemahamannya tentang bagaimana menangani bakat-bakat muda yang klub miliki. Contohnya seperti yang sudah saya tulis di atas. Song banyak polah, sikat.

Wenger sebagai pelatih utama tentu memahami kinerja Bould di Arsenal selama lebih dari lima tahun karirnya melatih tim akademi. Bould yang sepantaran dengan eks punggawa pertahanan grendel George Graham seperti Martin Keown dan Nigel Winterburn tentu akan lebih rileks saat para legenda itu memberi masukkan kepadanya untuk disampaikan ke Wenger ketimbang secara langsung.

Kita tidak bisa berharap Bould akan mendapat wewenang berlebih di tim utama. Seperti halnya kesalahan jurnalis yang menganggap sosok Neil Codling sebagai pemanis di Suede. Apa yang mereka harapkan? Brett bukan hanya penulis lirik dan pembentuk grup itu, tapi juga mampu memilah aransemen seperti yang dia lakukan di proyek-proyek di luar Suede (The Tears dan 3 album solo). Lagipula Neil pun di album-album terdahulu — meski tidak banyak — sempat menyumbang ide di beberapa lagu (namanya menjadi co-writer).

Kita harus lebih bijak dalam memandang persoalan dari berbagai perspektif. Untuk saat ini, sekali lagi saya tegaskan, memiliki Bould sebagai pendamping Wenger di dugout adalah sebuah anugrah. Tak hanya statusnya sebagai legenda klub (yang pasti mengetahui seluk beluk tradisi, sejarah dan kebiasaan klub), tapi ditilik dari pengalamannya melatih anak-anak Arsenal di berbagai level. Tinggal bagaimana klub menambal beberapa kekurangan dengan melakukan perekrutan optimal di bursa transfer kali ini.

Long may it last.

* mengenai pola pendekatan taktik dari Steve Bould pernah sedikit saya bahas disini

2 thoughts on “Antara Neil Codling dan Steve Bould: hal yang jelas tampak di permukaan jangan sampai luput kita apresiasi

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s