Jika saya hendak membeli tanah dan mendadak dapat warisan 1 milyar saya tidak akan sesumbar ke orang banyak

Selamat pagi.

Semua orang butuh uang. Mungkin hanya seorang zuhud atau sufi macam Chris McCandles saja yang sanggup melepas segala hal kebendaan yang melekat di dirinya, jasad atau rohani. Saya tidak sedang berfilosofi, hanya memberi gambaran umum. Tujuan kita hidup bisa seribu macam berbeda. Prioritas saya dan anda tak melulu sama. Pada akhirnya, McCandles mati sendirian. Tak ada yang mengubur atau mengiring jasad kuyunya dengan doa dan pujian. Namun pada akhirnya masing-masing dari kita akan mati sendiri, bukan begitu?

Kenyataannya saya hanyalah bagian dari ‘orang kebanyakan’. Mempunyai obsesi pada materi. Taruhlah saya berpendidikan tinggi dan sedang menjalani karir gemilang sebagai karyawan, tuntutan bulanan pun tak banyak karena tidak mempunyai tanggungan — dalam hal ini manusia lain yang harus saya tanggung, istri atau anak. Pengeluaran saya paling banyak hanya beberapa ratus ribu untuk menonton  grup musik kegemaran datang kesini. Sesekali mengoleksi lembar demi lembar brosur dari pameran produk apa saja yang bisa memancing hasrat membeli. Ingat, penghasilan per bulan saya lumayan.

Masalahnya, tak pernah ada kata cukup dalam gairah membeli. Ini obsesi, kawan. Karena saya memandang penting sebuah investasi, tercetuslah sebuah ide untuk memulai usaha penggandaan uang. Memodali saudara dari jauh untuk berjualan pulsa, rasanya tak enak hati. Membeli logam mulia, saya takut kecurian. Lalu saya ingat kata-kata bijak dari bos, bahwa berinvestasi properti selalu menjanjikan. Bisa rumah atau tanah. Saya pun mulai berkhayal dan mencari tahu rasio perbedaan harga per meter tanah terhadap kondisi lingkungan. Kenapa daerah A yang kerap banjir harganya bisa lebih mahal ketimbang daerah B yang aman banjir. Dan seterusnya dan seterusnya.

Saya mulai bergaul dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman dalam investasi tanah. Yah, minimal pernah tiga kali melakukan transaksi jual atau pun beli. Tak lupa mulai mengakrabkan diri dengan makelar-makelar kesohor di lingkungan saya tinggal. Lumayan. Meski masih angan-angan, banyak pelajaran hidup yang saya dapat dari mereka (istri yang menyelingkuhi tukang ojek hingga anak yang hobi melawan).

Tak disangka tak dinyana, kakek dari pihak ibu (yang hanya setahun saya temui) meninggal dunia. Maklum, fokus di karir! Saya cucu satu-satunya. Setelah proses pemakaman, ibu memberitahu bahwa kakek meninggalkan saya sejumlah warisan. Saya hanya mengangguk tanpa arti. Baru saya tahu keesokan hari bahwa jumlah yang saya peroleh tidak main-main. Satu Milyar Rupiah!

Ayah dan ibu hidup berkecukupan. Mereka gemar menabung, pandangan hidupnya pun tak muluk-muluk. Pengeluaran tersier ayah paling hanya bebijian untuk memberi makan empat ekor burung piaraan. Sedangkan ibu, kebahagiaan terbesar perempuan itu — mungkin — kala bisa menyajikan kopi untuk ayah di pagi hari dan kemudian bercengkrama bersama. Maka mereka memercayakan saya dana sebesar itu untuk disimpan atau dibagaimanakan. Ah, dasar orang jaman dulu.

Saya tak berniat menikah cepat-cepat. Buat apa. I’m a yuppy; young, urban and happy! (Ya ya, saya tahu akronim tadi sudah sangat usang). Saya mengencani perempuan. Tapi ya sebatas itu saja, lah. Nonton, makan bareng. Kasual.

Insting saya jelas mengarah pada niat untuk berinvestasi tanah atau lahan kosong. Daerah yang dulunya sepi bisa mendadak ramai dalam waktu singkat. Sekian makelar yang saya kenal, hanya Salam yang saya percaya betul. Hubungan kami bagai abang adik. Saya bisa tertawa tergelak hanya mendengar keluhan yang dia lontarkan dengan logat kental. Saya tak ragu mengulur bantuan kala ia kesusahan. Anaknya tujuh.

Salam — ia menolak saya tambahi embel-embel seperti ‘bang’ — sangat berpengalaman di dunia per-makelaran. Dari tanah, rumah, mobil/motor bekas hingga HP dia sikat. Saya sempat heran, berapa yang dia dapat dari memakelari HP? “Ya lumayan kalo blekberi mah bisa buat rokok seminggu, hehe”, katanya sambil terkekeh. Rokoknya samsu.

Saya selalu berprinsip untuk tidak berbisnis dengan teman. Bukan apa-apa. Dalam bisnis kita tak bisa tahu akan untung atau rugi. Saya takut hubungan saya denga seseorang malah rusak. Saya merutuki kenapa bisa jadi akrab dengan si Salam. Dia tahu betul lokasi mana yang layak untuk dibeli tanahnya. Dia paham cara menawar harga tanah dan seluk beluk keabsahan surat yang harus menyertai lahan kosong. Ah!

Ivan Gazidis (tidak punya kaitan darah atau pertemanan dengan si Salam)

Ivan Gazidis, CEO Arsenal yang besar di Manchester beberapa minggu lalu mengadakan wawancara ekslusif dengan harian Mirror. Ini dia lakukan sebelum mengadakan pertemuan dengan anggota AST

The critical thing now as we look ahead over the next season and the season after is our developing financial capability which will give us a lot more options than in recent years,

We think we have got a fantastic manager who has seen us through moving to a new stadium, which is for many clubs a difficult period, with consistency and so we think we have got the right person to make the kinds of choices and decisions that we are going to have over this really significant period of the club’s development.

So we are feeling very optimistic. It is interesting where we are at the moment in the summer.

I’m not going to talk about individual players at all today. I don’t want to get into the whole speculation around the transfer market but generally, what I’ll say is that it has been quite a slow start and I think that’s because there was such a managerial musical chairs going on that everybody is waiting for that to settle down.

I think clubs are, agents are and players are. Which means it has been quite an unusual beginning to the transfer window. I imagine once most of the managerial appointments settle in a little bit, we will see that starting to pick up.

Saya akan mencoba menjelaskan pernyataannya yang saya tebalkan di atas.

  1. Gazidis memberi sebuah kepastian bahwa keberhasilan Arsenal bertahan dari situasi-mengikat-pinggang sejak pindah stadion mulai memberi hasil, yaitu akan membedakan langkah klub di bursa transfer kali ini,
  2. Tapi di satu sisi, belum ada pembelian penting yang klub lakukan (entah sengaja atau tidak, Gazidis seperti tidak paham bahwa bursa transfer belumlah dibuka. Klub-klub lain — pada saat wawancara ini dilakukan — pun belum meresmikan perekrutannya. Ia menduga (‘I think that’s because) hal itu karena sosok manajer hebat yang ia kemukakan dalam situasi di ujung kontrak. Musim depan adalah musim terakhir Wenger jika mengacu pada kontrak,
  3. Gazidis merasa bahwa hal itu menjadi faktor yang mempengaruhi para pemain beserta agen mereka. Bahwa sosok Wenger masih menjadi jaminan bagi pemain incaran untuk merapat ke Arsenal. Dan saat situasi kontrak Wenger jelas, target transfer tersebut akan terealisasi kepindahannya.

Ini yang tidak kita pahami dan baca lebih teliti. Secara eksplisit Gazidis seperti menggencet Wenger untuk segera memerpanjang kontrak. Gazidis ingin Wenger tetap melanjutkan perjalannya bersama Arsenal. Saya rasa dia paham ada banyak suara yang menyatakan bahwa musim depan adalah musim pembuktian bagi Wenger: trofi atau pergi. Suara-suara fans itu sudah riuh terdengar sejak beberapa musim lalu. Gazidis kemudian memberi pernyataan bahwa Arsenal kali ini bisa menandingi ‘daya beli’ klub-klub seperti Chelsea dan City di bursa transfer.

Ketika ditanya apa Arsenal akan melakukan transfer dengan nilai tinggi, Gazidis menjawab,

That could be players that are big-name players. But it also might not be. It’s going to be the players that Arsene believes in. He is pretty blind to price tags. He looks at what he sees with his eyes and makes judgements based on that. And not on reputations and prices .

Di awal perbincangan ia tak yakin pemain incaran akan mau hinggap ke Ashburton Grove jika situasi kontrak Arsene belum diperpanjang. Namun ketika akhirnya mulai digencet wartawan mengenai kesanggupannya merekrut pemain bintang, jawaban khasnya kembali keluar. Wenger tahhu apa yang ia lakukan. Wenger tahu pemain mana yang ingin dia rekrut dan dia rasa cocok memenuhi kebutuhan tim. Gazidis memberikan jawaban kontradiktif secara bersamaan.

Kalau memang pemilik saham masih memercayakan Wenger, dan ingin memertahankannya, sebaiknya situasi kontraknya tidak usah diumbar. Toh, kebutuhan perpanjangan itu bukan hal yang mendesak karena menyisakan satu musim lagi.

Gazidis berkata bahwa Arsenal kini bisa merekrut pemain seharga  besaran gaji setara Wayne Rooney: yang akan merombak struktur gaji pemain dan memecahkan rekor transfer klub.

Ini yang membedakan saya dengan Gazidis.

Saya — yang baru ketimpa rejeki 1 milyar — tak akan bilang-bilang ke Salam mengenai hal tersebut. Saya akan mencari makelar lain yang tidak menahu keadaan finansial saya yang mampu membeli tawaran tanah mereka. Saya tak mau hubungan saya dengan Salam rusak. Paling nantinya Salam akan saya beritahu, ketika telah membeli tanah, dan memberinya sedekah untuk berbagi kebahagiaan. Saya dan Salam kembali bisa melanjutkan pertemanan.

Anda orang ‘awam’ di dunia properti. Anda jelas tak mau diperdaya oleh penjual. Gazidis sesumbar dengan mengatakan daya saing Arsenal dalam merekrut pemain akan berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Logikanya, jika makelar adalah agen pemain dan mereka tahu uang 1 milyar yang saya punya, apa harga yang mereka tawarkan tetap sama? Apa mereka tidak  mau mendulang keuntungan dengan me-mark up harga? Saya tak akan ujug-ujug mendatangi seorangmakelar dan berkata, “saya baru dapat rejeki, nih, satu milyar. Katanya tanah di ujung gang RT 3 itu mau dijual? Situ yang makelarin?

Jelas tidak.

Beberapa orang yang saya kenal di Twitter bahkan mencurigai langkah Gazidis mengeluarkan penyataan bernada menjanjikan tersebut guna mendongkrak penjualan tiket terusan musim depan. Tenggat terakhir perpanjangan tiket terusan pun berdekatan dengan wawancara yang dia lakukan.

Saya pikir bukan begitu cara menunjukkan kesiapan berkompetisi. Jika niat juara, umumkan saja pemain yang dibeli tanpa harus melakukan PR job macam itu (yang tak hanya sekali dua kali ia lakukan).

Yang jelas, secara samar-samar, saya menangkap wawancara tadi adalah

  1. upaya Gazidis untuk memertahankan Wenger yang terus dirayu PSG,
  2. sekedar berita menyenangkan untuk fans, terkait penjualan tiket terusan dan tur Asia.

Selengkapnya wawancara tadi bisa anda baca disini. Saya mengantisipasi kedua hal tadi, kehilangan Wenger tapi Arsenal belum memersiapkan pengganti, dan pernyataannya tentang kesanggupan membeli pemain hanyalah pemanis belaka. Sugar-coated talks.

Don’t get me wrong. Saya menghargai langkah dan keberhasilannya dalam mendapatkan kerjasama baru dengan Emirates dan Puma. Kepercayaan fans perlahan mulai kembali setelah performa tim di pertandingan-pertandingan pamungkas.

Yang perlu Gazidis lakukan adalah membuktikan ucapannya bukan pemanis marketing belaka. Setelah membeli tanah seluas 1 hektar, hubungan saya dan Salam tetap hangat. Meski dia tidak memakelari transaksi tersebut.

Come on, you, rip roaring reds! Football before markets!

One thought on “Jika saya hendak membeli tanah dan mendadak dapat warisan 1 milyar saya tidak akan sesumbar ke orang banyak

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s