Olivier Giroud: The pains of being detached up front

Girl Giroud, Interrupted

Arsene Wenger, ketika ditanya wartawan perihal siapa yang akan mengisi Olivier Giroud sebagai penyerang tengah, berkata bahwa dalam skuat Arsenal musim ini, Lukas Podolski dan Theo Walcott adalah penyerang Arsenal paling tajam (paling layak mengisi absennya Giroud). Kita tahu bahwa semua pemain sayap Arsenal kecuali Gervinho dengan tegas mengatakan ingin bermain di posisi tersebut — terutama Theo Walcott yang sempat menjadikan isu ini sebagai bumbu perpanjangan kontrak.

Podolski di pertandingan melawan United akhirnya kembali mendapat kesempatan setelah pertama kali mengisi posisi ini di pertandingan pembuka versus Sunderland. Poldi terlihat canggung bermain sebagai penyerang tengah di pertandingan tadi. Meski Arsene membelanya: bahwa Podolski sudah lama tidak menjadi starter.

Tersiar kabar serta asumsi yang menyatakan bahwa selama ini Lukas Podolski bermain dengan kondisi kaki cedera dan harus mendapat suntikan sebelum memasuki lapangan. Jika memang kabar ini benar, maka menjelaskan kenapa Podolski tidak pernah bermain penuh untuk Arsenal. Bahkan berkali-kali masuk sebagai pemain pengganti.

Suka atau tidak, Giroud telah merubah gaya permainan Arsenal dengan kemampuannya meladeni duel-duel udara. Meski tidak dipungkiri, positioning serta shot conversion rate-nya masih jauh dari memuaskan. Dan laga versus United kemarin saya merasakan Arsenal kehilangan sentuhan Giroud dimana Podolski benar-benar kewalahan menghadapi dua bek tengah andal United, Rio Ferdinand dan Johnny Evans.

Tiga dari empat pemain tersubur Arsenal musim lalu adalah pemain baru dan saya melalui tulisan  ini akan mengulas bagaimana sebenarnya potensi, kelemahan dan hal-hal yang harus ditingkatkan dari Olivier Giroud.

Telat Mekar

Olivier Giroud is a late bloomer. Sama seperti Laurent Koscielny, rekannya di timnas Perancis.

Giroud dibesarkan oleh akademi sepakbola Grenoble. Di umur 21 baru meneken kontrak profesional pertama. Not a good sign for the future, tentu. Pemain potensial akan menandatangani kontrak di umur belia — sesaat setelah mereka mencapai batas usia minimum bagi seorang pemain untuk menandatangani kontrak profesional (17 tahun).

Lepas dari Grenoble dia hanya menjalani karir di klub-klub Prancis kasta rendah seperti Istres dan Tours. Akui saja bahwa nama-nama klub tadi baru sekali anda dengar. Seperti Koscielny yang bersinar di Lorient, Giroud pun membuktikan talentanya bersama Montpellier yang musim lalu secara mengejutkan menyalip kedigdayaan Lyon, Lille dan Paris St. Germain.

Bersama Youness Belhanda, dirinya berhasil membawa Montpellier menjuarai Liga Prancis 2011/12 dengan torehan 21 gol. Giroud baru benar-benar mencuri perhatian Arsene saat Arsene menjadi komentator di salah satu pertandingan pra Piala Eropa 2012 silam.

Sejauh ini Giroud berhasil memberikan kontribusi cukup baik untuk pemain yang baru merasakan atmosfir EPL. Giroud berhasil mencetak 17 gol dan 11 assist di semua ajang.

Di bawah bayang-bayang van P*ersie

Arsene ketika ditanya mengenai performa kurang memuaskan Giroud bersama Arsenal berkata begini,

He gave a lot until now and for his first season, he is doing extremely well, He has a fantastic attitude. He is a little bit different to the strikers we used to have but he gives us another dimension with the physical challenge in the air. He has scored 17 goals in all competitions, 11 in the championship and for a first season, that is quite good

Jelas dan gamblang. Untuk standar Arsenal — bahkan era George Graham — sosok striker seperti Giroud seperti barang asing. Lihat saja striker-striker seperti Ian Wright, Alan Smith hingga Thierry Henry. Tipe striker yang rutin bergerak mencari ruang dan gesit. Arsenal memang memiliki sejarah mempunyai striker jangkung: Bendtner dan Adebayor yang performanya kurang impresif. Juga Nwanko Kanu yang justru tidak memanfaatkan posturnya ketika mencetak gol.

Dalam aspek ball-retention, Giroud punya peran besar sebagai penghubung bola (link-up lay) seperti yang terlihat pada gambar di bawah:

Ini adalah pergerakan khas dari Giroud dimana dia turun ke bawah guna menjadi papan pantul dengan pinpoint-pass.
Ini adalah pergerakan khas dari Giroud dimana dia turun ke bawah guna menjadi papan pantul dengan pinpoint-pass. Bola berasal dari Coquelin dia kembalikan pada Coquelin dengan satu sundulan. Lantas dengan cepat Giroud membebaskan diri dari penjagaan dua pemain Fulham. Di gambar kanan bawah, 3 pemain Fulham sudah terlalu fokus menjaga Coq-Cazorla. Sayang Cazorla tidak mampu melihat celah saat Giroud sudah berdiri bebas

********************

Bukan rahasia bila Arsenal adalah tim yang berbahaya saat melakukan serangan balik. Sejak era Invincibles kita kerap mendulang gol melalui skema ini. Yang diperlukan saat melakukan serangan balik, selain kecepatan juga kemampuan membuka ruang dan melakukan operan satu-dua. Dengan postur jangkungnya Giroud menjadi papan pantul bagi rekan-rekannya ketika membongkar barisan pertahanan.

Kemampuan Giroud ini juga terlihat dalam memberi assist. Sebut saja dua gol voli dari Podolski (v Montpellier) dan Gibbs (v Swansea). Giroud berdiri di kotak penalti dan dengan satu sontekan kaki melambungkan bola kepada dua pemain tersebut. Ini salah satu kehandalan Giroud: menempatkan dirinya sebagai focal point di kotak penalti sama dengan membuat bek-bek lawan fokus menjaganya, sehingga pemain-pemain lain bisa mencari celah.

Gol perdana Arsenal musim lalu yang dicetak Podolski. Gol tercipta melalui serangan balik cepat. Podolski yang memberi bola pada Cazorla berlari cepat menuju kotak penalti Liverpool sambil ditempel ketat pemain a (Glen Johnson). Giroud yang lebih dulu tiba di ujung kotak penalti turut memiliki peran dengan mengacaukan konsentrasi 2 bek Liverpool (b dan c) melalui pergerakan tanpa bolanya

********************

Tugas Giroud bertambah berat manakala kita menyaksikan bahwa Arsenal adalah salah satu tim terburuk di EPL dalam memanfaatkan crossing. Berdasarkan data dari EPLIndex pada 14 Maret silam, Arsenal berada di posisi kedua dari bawah dalam pemanfaatan umpan silang dengan rataan akurasi sebesar 18%.  Baik crossing yang tercipta melalui open play maupun bola-bola mati.

Maka jangan heran jika Benteke bisa sedemikian ganas di kotak penalti. Itu merupakan imbas dari permainan Aston Villa yang gemar melakukan crossing (melalui permainan terbuka Villa berada di urutan ke-12 dengan akurasi crossing 19%. Lebih berbahaya saat melepas crossing melalui bola-bola mati: Villa memuncaki torehan crossing dengan akurasi 47%.

Situasi demikian tidak dinikmati Giroud bersama Arsenal. Akurasi Arsenal saat melepas crossing sangat memrihatinkan. Melalui bola mati hanya 24% (terburuk kedua setelah Chelsea). Sedangakan melalui open play mencatat akurasi operan crossing sebesar 16% (ketiga terburuk setelah Liverpool dan QPR). Di antara pemain sayap Arsenal kecuali Podolski dan Gibbs, crossing seperti sesuatu yang haram untuk dilakukan (I’m talking to you, Walcott, Gervinho and Sagna). Nyelenehnya lagi, saat Giroud tidak bermain Arsenal malah sering melakukan crossing ke kotak penalti.

Sekarang mari kita membandingkan pencapaian Giroud dengan striker-striker jangkung EPL lain. (Catatan: gambaran statistik terangkum hanya dari pertandingan di EPL).

Pemain Penampilan Gol Assist Akurat passing Headed duels won Tinggi
Olivier Giroud 34 11 3 64% 57% 192 cm
Edin Dzeko 32 14 3 69% 46% 193 cm
Andy Carroll 24 7 4 61% 65% 193 cm
Peter Crouch 34 7 4 58% 66% 201 cm
Franco di Santo 35 5 2 73% 46% 193 cm
Nikica Jelavic 37 7 2 68.3% 31% 187 cm
Benteke 34 19 4 65% 57% 190 cm
Romelu Lukaku 35 17 4 72% 42% 190 cm

Di antara 7 pemain lain di tabel di atas, hanya Olivier Giroud dan Cristian Benteke yang merupakan debutan di EPL. Sisanya minimal pernah mengecap pengalaman bermain di tim Inggris minimal satu musim. Tidak bisa kita pungkiri bahwa torehan Benteke bersama Aston Villa dan Lukaku bersama West Brom sangat spektakuler. Tapi seperti saya tulis di atas, Benteke sangat terbantu oleh gaya permainan Aston Villa yang direct dan mengandalkan crossing-crossing akurat. Perlu dicatat pula, torehan 11 gol Giroud hanya kalah dari Benteke, Lukaku dan Dzeko.

Sebagai striker jangkung, Giroud hanya mampu memenangi duel udara dengan persentase 57%. Kalah jauh dibanding Peter Crouch (66%). Tapi ada beberapa hal yang membuat Crouch begitu superior dalam hal ini, yakni:

  1. Stoke, seperti yang kita ketahui bersama mengandalkan bola-bola lambung dalam permainannya,
  2. Hal tadi membuat kiper mereka, Asmir Begovic, selalu melepas bola-bola panjang mengarah pada Crouch. Begovic menempati urutan kedua setelah Steven Gerrard sebagai pemain yang paling banyak melepas long ball akurat (8.4 long balls/game dengan 318 long ball),
  3. Kiper utama kita, Szczesny, mempunyai kelemahan dalam urusan pendistribusian bola. Szczesny mencatat rataan hanya 5.4 long ball akurat  per laga. Kalah jauh dibanding kiper-kiper lain: Begovic, Tim Krul (Newcastle), Brad Guzan (Aston Villa), Adam Federici (Reading), Jussi Jääskeläinen (West Ham), Simon Mignolet (Sunderland), Ben Foster (West Brom) dan Mark Bunn (Norwich).

Giroud, berbeda dengan situasi Crouch di Stoke, menjadi satu-satunya harapan Arsenal dalam memenangi duel udara ketika kiper melepas bola lambung. Stoke mempunyai skuat dengan rataan tinggi badan 1,82 cm. Bayangkan.

Situasi ini secara signifikan terlihat di pertandingan kontra Liverpool (saat Giroud bermain) dan Manchester United (saat dia absen). Saya kembali mengajak anda menyimak visualisasi di lapangan.

Catatan headed-duel wons saat Giroud menjadi starter di pertemuan kedua lawan Liverpool. Bola udara yang dimenangi Arsenal menyebar tak hanya di flank, tapi juga di 2/3 dan 3/3 zona lapangan.
Catatan headed-duel wons saat Giroud menjadi starter di pertemuan kedua lawan Liverpool. Bola udara yang dimenangi Arsenal menyebar tak hanya di flank, tapi juga di 2/3 dan 3/3 zona lapangan. Dirinya tidak hanya mencetak gol (melalui sundulan — hasil dari tendangan bebas Jack WIlshere), tapi juga memberi assist bagi gol Theo Walcott
Bandingkan dengan visualisasi headed-duels won saat menjamu United (1-1). Podolski yang menjadi starter di posisi CF jelas kesulitan mengadapi Rio Ferdinand dan Johnny Evans sekaligus
Bandingkan dengan visualisasi headed-duels won saat menjamu United (1-1). Podolski yang menjadi starter di posisi CF jelas kesulitan mengadapi Rio Ferdinand dan Johnny Evans sekaligus

********************

Duet double pivot Arsenal Ram-teta memang tampil apik di paruh kedua musim lalu. Tapi melihat dua gambar di atas serta catatan statistik Ramsey dan Arteta dalam memenangi duel udara, dare I say: Arsenal is a bit struggling without Giroud.

Selain itu, Arsenal yang musim ini melakukan penjagaan zonal marking saat menghadapi set-piece lawan membuat Giroud harus mengisi struktur zonal marking ini. Anda bisa lihat positioning dia saat Arsenal menghadapi tendangan penjuru atau tendangan bebas. Dari posisi bertahan di kotak penalti Arsenal, ia dituntut sigap berlari ke depan saat bola tersebut berbalik menjadi milik Arsenal. Hal ini paling ketara di pertandingan EPL kedua versus Swansea. Serangan balik Arsenal yang diawali Gervinho menjadi gol, Giroud berlari sangat jauh menuju kotak penalti Swansea.

klik http://bit.ly/103AYxv untuk mendapatkan artwork karya @Arsenalverse dengan resolusi tinggi
klik http://bit.ly/103AYxv untuk mendapatkan artwork karya @Arsenalverse dengan resolusi tinggi

Sekarang mari kita bandingkan torehan gol Giroud dengan catatan gol striker-striker tajam Premier League yang berasal dari luar Inggris di musim perdana mereka. Striker-striker yang saya cantumkan minimal mempunyai prestasi sebagai runner-up top scorer sepanjang karir mereka di Inggris:

  1. Jimmy Floyd Hasselbank22 gol dari 40 pertandingan bersama Leeds United musim 1997/98. Jimmy (bersama Michael Owen) menjadi top skor EPL di musim 1998/99 dengan 18 gol dan bersama Chelsea musim 2000/01 dengan 23 gol,
  2. Thierry Henry26 gol dari 47 pertandingan. Menjadi top skor EPL di musim 2001/02 (24 gol), 2003/04 (30), 2004/05 (25) dan 2005/06 (27),
  3. Ruud van Nistelrooy36 gol dari 49 pertandingan bersama Manchester United musim 2001/02. Menjadi top skor EPL di musim 2002/03 dengan 25 gol,
  4. Didier Drogba. 16 gol dari 41 pertandingan bersama Chelsea di musim 2004/05. Menjadi top skor EPL di musim 2006/07 (20 gol) dan 2009/10 (29 gol),
  5. Dimitar Berbatov23 gol dari 49 pertandingan bersama Tottenham Hotspur musim 2006/07. Menjadi top skor EPL musim 2010/11 dengan 20 gol (bersama Carlos Tevez),
  6. Fernando Torres33 gol dari 46 pertandingan bersama Liverpool musim 2007/08. Meski gemilang dengan mencetak 24 gol di liga, Torres harus puas menjadi runner up karena penampilan spektakuler top skor saat itu Cristiano Ronaldo (31 gol),
  7. Olivier Giroud. 17 gol dari 47 pertandingan di musim 2012/13.

Kenapa saya membandingkan Giroud dengan mereka? Karena menjalani musim perdana bersama klub asing adalah pengalaman berat bagi seorang pemain. Mereka harus beradaptasi bukan hanya dengan rekan-rekan setim, tapi juga mempelajari bahasa dan budaya (pola hidup, adat istiadat, makanan) baru. Kalau mau kita ingat, kita pernah punya striker no. 9 yang potensial di musim debut dan menjadi bagian integral di era Invincible, Jose Antonio Reyes. Namun yang terjadi? Reyes tak kerasan tinggal di Inggris dan akhirnya kembali ke Spanyol.

Dari 6 striker asing tersebut, Giroud hanya unggul atas rekor musim perdana Drogba bersama Chelsea. Giroud bahkan kalah jauh dibandingkan torehan Torres.

Yang menarik, asumsi saya sebelumnya bertambah valid. Bahwa seorang pemain membutuhkan adaptasi di liga yang sebelumnya tidak pernah dia arungi. Keenam striker di atas tak ada yang langsung menjadi top skor di musim perdana mereka. Hal ini juga diamini Giroud, seperti dilansir Arsenal.com beberapa waktu lalu,

For a first season in a league like the Premier League, it’s never easy to play very well, like Didier Drogba or Thierry Henry.

Arsenal striking force, Fabregas sebagai Belhanda dan faktor Puma

He who shan’t be named merapat ke United. Arsene Wenger melakukan antisipasi dengan merekrut Podolski, Giroud dan Cazorla. Arsenal, secara peringkat di akhir musim, turun dari posisi tiga menjadi empat. There’s nothing new hence no progress we have made.

But that conclusion doesn’t make me to not say, there’s one or two we should be proud of.

Apa saja kalau begitu?

Arsenal bukan hanya kehilangan kapten, tapi juga seseorang yang — singlehandedly — got this club out of jail. 30 gol EPL berhasil diraih meneer Belanda itu. Jelas kepergiannya membuat kita meragukan hulu ledak meriam London sebelum musim berjalan.

Tapi apa yang terjadi? Arsenal berhasil mencetak 105 gol di semua ajang. Musim lalu dengan orang itu sebagai ujung tombak kita hanya mencetak 96 gol. Rekor individu memang membanggakan bagi seorang pemain. Tapi akankah hal tersebut bisa mengalahkan kebahagiaan kolektif sebagai juara? Meneer Belanda tidak puas hanya menjadi top skor. Makanya dia minggat ke rival. Jika boleh memilih, Davor Suker tentu lebih suka menjadi juara Piala Dunia 1998 ketimbang hanya menjadi top skor.

Tiga pemain baru tersebut di musim perdananya berhasil mencetak torehan 2 digit gol. Hanya Thierry Henry yang mampu mencatat rekor tersebut di musim 1999/2000. Bersama Walcott mereka tercatat sebagai bagian dari 3 tim EPL lain yang mempunyai 4 pemain yang berhasil mencetak dua digit gol di satu musim era Premiership. Alih-alih menggantungkan harapan pada satu orang, kini tanggung jawab diemban bersama.

Bersama Walcott dan Gervinho, ketiga pemain baru ini bahu membahu membantu Arsenal untuk memenangi pertandingan. Kelimanya adalah pemain di timnas masing-masing. Giroud punya motivasi tinggi, timnas Prancis memakai skema serupa dengan Arsenal dan Deschamps masih memrioritaskan Karim Benzema sebagai pilihan pertama. Di beberapa pertandingan terakhir Benzema mengalami panceklik gol bersama timnas dan banyak suara yang menganjurkan Deschamps untuk mengujicoba Giroud sebagai starter.

Beberapa saat setelah Arsenal secara resmi perekrutan Giroud, saya tak sengaja membaca artikel yang menjelaskan bahwa keberhasilan Montpellier menjuarai Liga Prancis bukan hanya karena kegemilangan Giroud (sebagai top skor), tapi juga keberanian sang pelatih Rene Girard menransformasi peran Youness Belhanda sebagai playmaker.

Selepas melihat gol-gol Giroud bersama Montpellier, bisa disimpulkan bahwa Giroud bukan striker yang hanya mengandalkan tinggi badan. Gol-golnya tak berbeda dengan striker andal Eropa lain. Bahkan ada gol salto yang Giroud ciptakan. Menandakan bahwa dirinya adalah striker berbahaya jika telah menyatu dengan tim dan mendapat partner andal (Belhanda).

Tak lama setelah direkrut Arsenal, Puma memerpanjang kerjasama mereka dengan Giroud. Kerjasama ini membuat Arsenal dihuni oleh banyak pemain yang menjabat sebagai duta besar merk apparel asal Jerman tersebut: Mikel Arteta, Bacary Sagna dan Tomas Rosicky. Fakta tadi sedikit menguatkan suatu rumor yang berhembus dari jurnalis terpercaya, bahwa Arsenal mulai musim 2014/15 akan menjalin kerjasama dengan Puma. Terkait berakhirnya kerjasama dengan partner sebelumnya Nike. Saya juga mencatat ada beberapa eks pemain Arsenal juga menjadi duta besar mereka.

Dari Thierry Henry, Gael Clichy hingga Cesc Fabregas.

Wait.

Francesc Fàbregas Soler.

Sedikit berandai-andai. Bagaimana jika Fabregas-lah yang musim depan menjadi pengganti peran Belhanda bagi Giroud?

Mouth-watering, indeed.

Nevertheless, Olivier Giroud berhasil menjalani debut yang baik bersama Arsenal. Ada beberapa kekurangan yang harus dia perbaiki seperti seringnya membuang-buang peluang, ketidakmampuan memertahankan bola saat tim butuh memertahankan keunggulan skor dan sebagainya. Namun kita bisa berharap skuat musim ini akan semakin padu dan menyongsong 2013/14 dengan penuh percaya diri. Sebagaimana tekad pemain berusia 26 tahun ini:

I’m sure that next season will be better. I always want to improve myself so I’m very confident for next year.

Bonne journée et vous voir la prochaine saison!

2 thoughts on “Olivier Giroud: The pains of being detached up front

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s