Sepakbola Alcopop Ala Ram-Teta

103732_6alcopop

Artikel ini pertama kali diterbitkan di situs Arsenal Indonesia Supporter

 

 660x0

Saya rasa sebenarnya pembaca familiar dengan istilah ‘alcopop’. Sebagai bagian dari masyarakat konsumsi dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan alcopop dimana-mana. Dari etalase berpendingin mini-supermarket hingga sponsor acara-acara anak muda.

Alcopop adalah suatu varian alternatif dari produsen minuman beralkohol. Produsen minuman beralkohol pada era 70-an mengalami puncak kejayaan akibat banyaknya negara bagian di Amerika melegalkan penjualan produk beralkohol. Alkohol memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat negara barat. Namun Amerika pada awal perkembanganya adalah negara yang dihuni oleh imigran/pencari suaka yang cenderung relijius. Hingga tahun 50-an masih banyak negara-negara bagian yang melarang penjualan alkohol sehingga perang antar penyalur ilegal miras dan kepolisian kerap terjadi. Singkatnya, pemerintah merasa alkohol tetap produk yang berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Maka perlu ada suatu alternatif yang ‘manis’ agar mereka tetap bisa menjual barang pada kelompok usia yang belum legal mengonsumsi alkohol.

Maka pada tahun 1977, melihat banyaknya produk alcopop beredar di masyarakat, pemerintah Illinois merasa perlu membuat sebuah peraturan terkait produk ini. Alcopop berasal dari dua kata yakni alcohol dan pop. Gambaran kasarnya produk alcopop adalah minuman beralkohol yang manis dan tidak mudah membuat mabuk. Kandungan alkohol di produk-produk alcopop tidak sampai 10% dan terdapat campuran seperti jus atau perisa manis lainnya.

Saya tidak paham regulasi pemerintah Indonesia terkait peraturan ini. Tapi melihat bagaimana anak-anak sekolah bisa bebas membeli bir bisa menggambarkan longgarnya pembatasan umur dalam pembelian produk beralkohol.

Ram-Teta

Sebagai Gooners, pembaca tentu telah menyaksikan bagaimana Arsenal lagi-lagi harus kehilangan Abou Diaby yang mengalami cedera saat latihan dan membuatnya absen hingga sembilan bulan ke depan. Praktis membuat kontribusinya untuk Arsenal musim ini terlalu sedikit (11 pertandingan).

 diaby

Hingga saat ini Arsenal adalah tim EPL yang membuat defensive error terbanyak di EPL. Mulai dari Bacary Sagna, Thomas Vermaelen, Laurent Koscielny, Per Mertesacker hingga Carl Jenkinson seakan bahu membahu membuat kesalahan-kesalahan kecil tapi fatal yang membuat Arsenal kecolongan.

Bagaimana mungkin kealpaan sedemikian bisa terjadi mengingat mereka semua telah bermain bersama-sema minimal di satu musim (Carl Jenkinson)? Jika menilai perubahan ekstrim yang mengharuskan adanya proses adaptasi maka sektor gelandang dan penyeranglah yang lebih membutuhkan proses itu mengingat banyak pemain baru di sektor itu.

Penulis mencoba menganalisis hal ini game demi game dan sepertinya jawaban telah terpampang jelas:

  1. Pendekatan ala Steve Bould dalam aspek pertahanan,
  2. Sistem formasi yang dianut Arsenal dalam mengaplikasi sistem Bould membutuhkan dua gelandang tengah (double pivot) mumpuni.

4-2-3-1 dengan double pivot awalnya dibawa Rafa Benitez saat menjadi pelatih Liverpool. Benitez memang kesohor sukses dengan sistem ini saat dia melatih Valencia. Pada perkembangannya sistem ini menjadi jamak dipakai klub-klub EPL serta Eropa. Duet striker klasik macam Del-Pippo (Del Piero – Filippo Inzaghi) di Juventus tahun 90-an menjadi sesuatu yang usang. Klub EPL yang masih memakai formula ini pun segelintir. Sebut saja Stoke, Sunderland dan Manchester City. Saat ini para gelandang dituntut untuk bermain lebih kreatif lagi. Maka jangan heran ketika Santi Cazorla yang malah memimpin perolehan gol Arsenal, bukan Olivier Giroud.

Pertanyaan lagi-lagi timbul? Apakah sistem ini benar-benar baru bagi Arsenal?

Kenyataanya tidak.

Sejak ditangani Arsene Wenger, Arsenal telah terbiasa memakai dua gelandang tengah yang sama-sama baik dalam bertahan maupun menyerang. Kita mengenal duet Patrick Vieira-Emmanuel Petit saat menjuarai gelar ganda 1997/98. Arsene bahkan memanfaatkan jasa Ray Parlour sebagai utility player yang diturunkan saat kedua pria Prancis tadi absen.

Pola ini semakin menjadi-jadi di era Invincibles saat Arsenal memiliki pemain-pemain sayap yang andal dalam menusuk ke kotak penalti dalam diri Robert Pires dan Freddie Ljungberg. Memang Arsenal di atas kertas memakai formasi 4-4-1-1 dengan Dennis Bergkamp sebagai penyerang lubang, namun dalam prakteknya, ketika menyerang yang terlihat di lapangan adalah transformasi satu target-man dalam diri Thierry Henry menjadi pasukan menyeramkan yang tak pernah lelah menusuk dari sayap kanan dan kiri dengan 4-2-1-3. Imbasnya, Arsenal menjadi mudah kebobolan karena sistem ini juga menuntut dua full-back membantu ketika menyerang. Tapi Arsenal saat itu seakan berkata, “oh, mereka membobol gawang kita tiga kali. Ayo kita balas dengan lima gol, lads!”

Bukan berarti Arsenal melupakan pertahanan, pendekatannya saja yang berbeda. Dengan asumsi bahwa bertahan dalam sepakbola adalah bagaimana semaksimal mungkin menjaga musuh membobol gawang kiper, maka para penyerang Arsenal telah membantu para bek dengan mencetak lebih banyak gol ke gawang lawan. Arsenal di akhir laga tetap menjadi pemenang meski dengan skor 9-8 sekalipun. Sekali lagi, pendekatan dan sudut pandangnya saja yang berbeda.

Melihat Arsenal telah terbiasa dengan pemakaian double-pivot, seharusnya tim ini bisa mencari pengganti Gilberto Silva, yang menurut penulis merupakan gelandang bertahan terbaik yang terakhir kali Arsenal miliki. Sudah dua bursa transfer musim ini dan Arsenal tidak membeli satu pun pemain yang memenuhi syarat sebagai double pivot. Arsenal memang masih memiliki Coquelin dan Diaby. Nama pertama dikondisikan Arsene sebegai pelapis yang terkadang harus rela bermain di posisi yang bukan seharusnya – seperti menjadi full-back kanan saat menghadapi Blackburn Rovers.

Saat Mikel Arteta cedera, Aaron Ramsey akhirnya terpanggil untuk memenuhi panggilan di posisi ini. Setelah berkali-kali ditempatkan di posisi yang bukan seharusnya – flank – Arsene akhirnya menempatkan Ramsey di tengah kemudi permainan Arsenal. Jika telah lama menonton Arsenal, seharusnya tidak kaget ketika Arsene bersikukuh memainkan pemuda Wales ini di sayap. Penempatan pemain non-sayap di sayap bertujuan agar kelak saat mereka dikembalikan ke posisi lebih ke tengah, pemain ini mendapat benefit dari pengalamannya bermain di sayap. Logikanya, pemain sayap biasa berhadapan bukan hanya dengan musuh, tapi juga sempitnya ruang yang mereka eksplor karena berbatasan dengan garis pinggir. Hal ini sukses Arsene lakukan pada Emmanuel Petit dan Thierry Henry.

Sejak mengalami kemenangan atas Bayern, duet Mikel Arteta dan Aaron Ramsey (Ram-Teta) menuai pujian. Berbeda dengan Arteta yang selalu menempati posisi gelandang tengah, Ramsey menjalani partai-partai musim ini sebagai utility player – seseorang yang sanggup memenuhi tugas di berbagai posisi: dari sayap hingga full-back. Terkait hal ini, Ramsey justru tidak mengeluh dan memberikan kredit untuk pelatih:

He [Wenger] is a very approachable guy who you can go and ask how you did and what you need to do to improve after every game. That’s a good thing to have in a relationship. You know where you’re at with him and you know what he thinks you can do to improve. He’s helped me in so many ways and that’s why he’s done so well over the years. He’s given youngsters opportunities and developed them into great players. I was shocked when I heard I’ve been at Arsenal five years

Saat dia harus mengisi peran yang ditinggalkan Arteta karena cedera, Ramsey justru menjawab dengan memberikan permainan apik. Arsene Wenger rupanya secara khusus memberinya wejangan tentang apa yang harus dilakukan dalam mengisi defensife-midfielder ala Arteta. Seperti yang diakuinya langsung,

I had a meeting with the boss the other week and he explained to me what’s required for this role. I think I’ve done that in the last couple of games and I feel good in myself.

That’s pleasing for me and hopefully I can keep myself in the team and carry on. Hopefully I get picked for the next game

Meski begitu, jika boleh memilih tentu Ramsey lebih senang jika diposisikan sebagai gelandang serang. Posisi yang membuatnya terendus Manchester United kala dia masih berseragam Cardiff City. Toh, hal itu dia terima dengan legowo,

I can still get forward but I’m a bit more restricted as to what I can do. You always have to be wary of the hole you’re leaving behind you, but there are occasions when I can get into the box and one of the other midfielders sits

Dilihat dari statistik di atas. Ramsey mempunyai kelemahan dalam duel-duel udara
Dilihat dari statistik di atas. Ramsey mempunyai kelemahan dalam duel-duel udara

Ini membuat kita tersadar bahwa double-pivot Arsenal terbaik musim ini adalah pasangan Ram-Teta. Yang lebih mencengangkan adalah kenyataan yang berbicara bahwa keduanya adalah gelandang serang!

Maka tak ayal penulis menyematkan istilah ‘sepakbola alcopop’ pada keduanya. Perubahan posisi dalam karir seorang pesepakbola adalah hal yang wajar. Sebut saja Kieran Gibbs yang pada awal karirnya adalah seorang sayap kiri. Tapi memiliki dua orang yang aslinya bermental ofensif di posisi yang menuntut kesadaran bertahan adalah sebuah anomali.

Penulis mengajak pembaca untuk kembali menganalisa mengapa bek Arsenal kerap melakukan blunder.

Jika diperhatikan, sejak Bould menjadi asisten pelatih, Arsenal selalu menggunakan pendekatan zonal marking dalam mengantisipasi bola-bola mati. Selalu. Perdebatan antara sistem zonal marking vs man-to-man marking tidak ada ujungnya. Keduanya memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Pertemuan pertama lawan City musim ini menunjukkan kelemahan keduanya lewat gol yang diciptakan Lescott dan Koscielny. Ditambah penggunaan high-defensive line, maka menuntut peran seorang gelandang bertahan yang memiliki awareness tinggi. Lihat saat Arsenal dibobol Blackburn atau dua gol Tottenham di pertemuan terakhir. Semua gol tercipta seakan-akan untuk menghukum kelalaian dalam high-defensive line.

Seorang yang berniat mabuk tidak akan membeli alcopop, dia akan membeli miras dengan kandungan alkohol tinggi.

Double-pivot membutuhkan sepasang pemain yang mengerti tanggung jawab satu sama lain. Kita melihat Liverpool kini hampir selalu memainkan Lucas-Gerrard. Atau Jack Cork-Morgan Schneiderlin di Southampton serta Jonathan de Guzman-Leon Britton di Swansea. Gaya bermain keenam orang itu berbeda tergantung kebutuhan serta kebiasaan klub yang mereka bela. Southampton berbeda dengan Liverpool atau Swansea yang mengandalkan possession football.

Mikel Arteta mengatrol alur permainan Arsenal lewat kemampuannya sebagai pengumpan terbaik di EPL. Permainan Arteta musim lalu dengan musim ini sedikit berbeda dimana sekarang kita hampir tidak pernah melihatnya melepas tendangan jarak jauh – yang saya pikir merupakan imbas dari tanggung jawab yang diembannya di aspek bertahan.

Arteta

Cesc Fabregas, sesaat setelah berlabuh ke Barcelona pernah berceloteh mengungkapkan kebingungannya kenapa Arsenal masih meributkan mencari penggantinya. Arsenal sudah punya talenta gelandang serang hebat dalam diri Wilshere dan Ramsey, ujarnya. Garis takdir berkata lain pada Ramsey, Arsenal kini memiliki Santi Cazorla.

Dalam konteks situasional, permainan Ram-Teta seharusnya mampu dengan optimal mengawal 4-2-3-1 ala Arsenal menjalani sisa pertandingan EPL. Apalagi selain United dan pertandingan penting lawan Everton, Arsenal hanya menghadapi tim-tim kecil – meski tidak menutup kemungkinan akan terpeleset. Namun idealnya, Arsenal sebelum memasuki musim 2013/14 harus mencari pemain di posisi ini.

Melihat umur Arteta yang sudah memasuki kepala tiga, ada indikasi bahwa Ramsey yang baru berumur 22 tahun akan diproyeksi menjadi pendamping sekaligus penggantinya kelak. Ditambah Arsenal kerap kebobolan oleh gol-gol konyol, maka mencari pemain baru mutlak menjadi kewajiban. Nama-nama seperti Ignacio Camacho, Jack Cork, Morgan Schneiderlin, Maxime Gonalons, Blaise Matuidi kerap dihembuskan para fans belakangan ini. Bahkan ada rumor yang menyebutkan Arsenal sedang mendekati Jeremy Toulalan – pemain bagus yang sayangnya sudah tua dan kerap cedera.

Terlepas dari yang tersirat, Arsene Wenger sebenarnya berusaha untuk membeli sosok pengisi posisi ini dalam diri Jan Vertonghen. Memang benar dia akhirnya berlabuh ke Sp*rs sebelum kompetisi dimulai, namun ex-pemain Ajax tersebut belakangan mengakui alasannya memilih Sp*rs ketimbang Arsenal adalah karena Arsene akan menjadikannya gelandang bertahan di Arsenal.

Steve Bould, selepas kemenangan susah payah atas West Brom secara khusus memberi kredit pada Ramsey,

Seeing him in day-to-day training, he works extremely hard. He never moans, gets on with his game and has done everything he’s been asked to do. He’s physically fantastic and he gives something to the team. I think he’s improving all the time

Arsenal memiliki stok gelandang serang nan kreatif melimpah. Di skuat utama kita memiliki Cazorla, Wilshere dan Rosicky. Belum nama-nama dari tim junior yang sepertinya tak sabar mencicipi kesempatan seperti Serge Gnabry dan Thomas Eisfeld. Saya bisa membayangkan Ramsey akan menjadi penerus si Mr. Lego Mikel Arteta terlebih, ini sebatas lelucon, belakangan Ramsey juga mengikuti jejak Arteta dengan merapikan dan melicinkan  rambutnya

Terlepas dari itu semua, mari kita sama-sama berharap Ram-Teta mampu membawa Arsenal meraih satu-satunya hasil positif musim ini: lolos ke Liga Champions sekaligus memerpanjang rekor perayaan St. Totteringham Day.

Kredit statistik/grafis: Squawka.com

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s