Beberapa Poin dari Pertandingan Kontra Everton

premier-football-fc-jack-wilshere-kevin-mirallas-arsenal-everton_2930665
you cheeky bastard

I was trying to not bite any kind of living-being while watching Everton game. Just like you, perhaps. Tapi hasil seri bagi saya merupakan poin positif mengingat pendekatan Moyes di laga itu begitu brilian. Nevertheles, here’s a point from that game.

(-)

    1. Kenapa Wilshere jadi starter? Saya pikir ucapan Arsene paska pertandingan versus Norwich — bahwa dia tidak perlu buru-buru memainkan Wilshere yang baru sembuh dari cedera — akan membuatnya menyimpan anak muda itu guna pertandingan nanti malam melawan Fulham dan United. Selain masih terlihat belum bugar betul, dia juga terlihat begitu frustasi menghadapi pemain-pemain Everton yang tak hanya bongsor tapi juga bermain cukup keras seperti Fellaini dan Darron Gibson. Andai saja Arsene memainkan Podolski sebagai starter, maka Arsenal akan mempunyai pemain yang siap ‘adu jotos’ dengan pendekatan permainan ultra-pressing yang diperagakan anak asuh David Moyes itu.
    2. Masih berhubungan dengan Podolski: tidak ada satu pun penyerang sayap Arsenal yang melakukan tracking-back guna membantu dua fullback (Sagna dan Gibbs). Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Podolski yang membuat namanya berminggu-minggu tak menjadi starter, tapi jika berpasangan dengan Gibbs — sebagai poros sayap kiri — dinamika pasangan ini mempunyai workrate yang prima seperti terlihat di pertandingan versus Liverpool (0-2) dan Southampton (6-1). Memang sayap kiri Arsenal lebih menonjol ketimbang yang kanan, ini bisa dimengerti karena Bacary Sagna seolah bermain sendirian mengingat Walcott yang pada kenyataanya sering menusuk ke tengah
    3. Average-height. Terlihat jelas betapa Arsenal selalu kesulitan menghadapi tim-tim dengan rataan tinggi badan lebih menjulang. Meski di atas kertas menggunakan formasi 4-4-1-1 dengan Fellaini menjadi penyerang lubang, pada prakteknya Moyes menugaskan Fellaini untuk mengikuti kemana saja bola bergulir. Hal ini membuat Everton — di atas lapangan — memakai tiga gelandang bertahan yang siap tempur mematahkan possession football ala Arsenal.
    4. Olivier Giroud’s first touch > hold-up play. Giroud kembali terlihat menjengkelkan dengan membuang beberapa peluang di depan gawang. Namun yang patut digarisbawahi adalah kemampuan Giroud dalam hold-up play (menahan bola di kaki) jauh dari kata memuaskan. Padahal kemampuan hold-up play begitu penting bagi pria tampan ini mengingat dia berperan sebagai striker tunggal: dalam memulai serangan balik hingga menjaga bola tetap di kaki anak-anak Arsenal. Kemampuannya dalam melakukan pin-point pass (baik lewat kaki atau kepala) saya rasa sudah cukup baik, tinggal bagaimana dia menutupi kelemahan dia dalam menahan bola
    5. Kembali ke poin no 1, mamasang 2 advanced playmaker dalam diri Wilshere dan Cazorla ternyata tidak sesuai ketika menghadapi tim yang bermain dengan gaya seperti Everton kemarin. Cazorla bukan gelandang bertipe ‘direct’ seperti Cleverley dan Gerrard. Dia selalu akan mengoceh penjaganya dengan dribel aduhainya itu, yang mana, ehem, saya pikir sedikit tidak efisien dengan permainan Arsenal. Sementara Wilshere terlihat lelah dan kewalahan. Sudah dua pertandingan dia terlihat tidak impresif, sekedar catatan. Ada pula sebuah informasi dari Twitter yang menyebutkan bahwa Arsenal bermain lebih baik tanpa Wilshere:
      via @MFworldfootball
      via @MFworldfootball

      Catatan statistik di atas memang masih perlu dikaji, namun memang jika diperhatikan Wilshere seolah kebingunganbermain bersama Cazorla yang begitu dominan. Saya sejatinya ingin sekali melihat Arsenal bermain tanpa Cazorla dengan Wilshere mengisi peran eks pemain Villareal tersebut (seperti saat menang 1-0 lawan Swansea di ajang FA cup).

Pertandingan baru berjalan 25 menit dan Everton sudah mendapat dua kartu kuning. Pelanggaran demi pelanggaran terjadi dan kita kerap kali melihat Arsene memrotes ofisial keempat di sideline. Saya pribadi memberi kredit untuk keberanian David Moyes memainkan ultra-pressing: hal yang membuat timnya praktis kesulitan ketika menyerang (Anichebe terlihat frustasi) dan hasil imbang memang hal maksimal yang ingin mereka kejar.

Terlepas dari kealpaan wasit dalam melihat pelanggaran, ada sebuah teori yang terus saya simpan hingga tulisan ini ditulis. Yakni bahwa Arsenal seharusnya meniru Barcelona ketika menghadapi tim-tim keras. Bahwa kita harus — sealamiah mungkin — mencoba jatuh dan meminta pelanggaran. Saya tekankan kata ‘alamiah’ karena kita pasti tidak ingin mempunyai pemain-pemain yang terkenal karena diving. Tapi setidaknya ketika lawan menggencet pemain Arsenal (contoh: Fellaini menggencet Ramsey), begitu ada kontak sekecil apapun dari Fellaini dan Ramsey mencoba terlihat kesakitan maka wasit akan memberi keuntungan bagi kita. Selain menghindari cedera, bisa membuat kita tetap menguasai bola. Yang jadi kendala adalah bagaimana nantinya bola-bola mati tersebut diperlakukan oleh Arsenal, mengingat kita tidak begitu andal dalam menguasai bola-bola mati (baik dalam bertahan maupun menyerang).

Oke, selain hal-hal di atas, saya berkesempatan mengambil beberapa poin positif:

(+) 

  1. Sagna dan Gibbs. Puji Tuhan, kedua orang ini bermain gemilang. Sagna bak karang kokoh di tepi laut menghadapi duet maut Everton Baines-Pienaar. Sedangkan Gibbs, seolah-olah merasa mendapat ancaman dari kehadiran Nacho Monreal, bermain taktis. Kini dia tidak ragu-ragu untuk mencoba melewati pemain lawan. Tidak seperti dulu yang jika dihalang-halangi, akan mengembalikan bola kepada rekan setim.
  2. RAM-TETA. Bahkan di bulan Maret saya masih mendengar ucapan miring (terutama pada Ramsey) dan tak diberi kreditnya Mikel Arteta. Terlepas dari tulisan saya di website AIS yang membahas duet anomali Ram-Teta ini, perlahan tapi pasti Gooners mulai mengapresiasi kedua pemain yang sejatinya bermental serang ini
  3. How we won the war by winning an offside. Anichebe terlihat frustasi dan meski Kevin Mirallas sempat dua kali berhasil menusuk ke dalam kotak penalti, duet Kos-Per mampu memberi kenyamanan bagi pemain lain tanpa melakukan kontak fisik dengan pemain-pemain Everton: dengan cara setting-up jebakan offside.
  4. Kos-Per. Keduanya terlihat berpelukan seusai wasit meniup peluit tanda bubaran. Saya kompak menyetujui sikap Arsene membangkucadangkan Vermaelen. Menyedihkan melihat apa yang terjadi pada Vermaelen musim ini. Semoga kita kembali melihat ‘Verminator’ yang dulu biasa kita lihat aksinya mengawal barisan pertahanan Arsenal.

Man of the Match (WhoScored.com): Aaron Ramsey

ramseyverton

Sampai jumpa di artikel berikutnya. Up the Arsenal!

2 thoughts on “Beberapa Poin dari Pertandingan Kontra Everton

  1. setuju gue kalau Arsenal harusnya bermain se-alamiah mungkin kalau dilanggar,jangan terlalu ngotot untuk tetap menggiring bola kalau emang dilanggar. Emang dari segi fighting spirit bagus tapi ini penting untuk bisa menurunkan tempo,memberikan jeda dan memberikan ruang untuk mengkreasikan serangan yang lebih matang. keseringan pemain Arsenal dilanggar tapi ngotot terus giring bola tapi hasilnya gak bagus.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s