Kekalahan Arsenal Di White Hart Lane Menjelaskan Bahwa Arteta Membutuhkan Pendamping

Mikel-Arteta-001

*artikel ini pertama kali dipublikasikan disini

“The loss of Makélelé was the beginning of the end for Los Galacticos. You can see that it was also the beginning of a new dawn for Chelsea. He was the base, the key and I think he is the same to Chelsea now”, Fernando Hierro.

Ada sebuah penjelasan masuk akal dari pernyataan bek legendaris Real Madrid tersebut. Karena tulisan ini akan menjabarkan sekrup yang hilang di mesin gelandang Arsenal, maka penulis akan mencoba memberikan kegemilangan Makalele di tiga musim pertamanya bersama Chelsea (sesama klub EPL): Chelsea hanya kebobolan 15 dan 23 gol di musim 2004/05 dan 2005/06.

Mikel Arteta saat berlabuh ke Arsenal dari Everton musim lalu digadang-gadang akan menjadi pengganti Cesc Fabregas yang pulang kampung ke Catalan. Banyak fans Arsenal yang kecewa karena di akhir musim kontribusi Arteta di posisi itu (torehan gol dan assist) tidak terlalu signifikan – meski dia sering mencetak gol-gol penting. Fans lebih mengapresiasi transformasi Alex Song yang justru menjadi pengirim assist untuk gol-gol Van Persie. Bisa dimafhumi karena fans berharap Arteta diplot di posisi seharusnya yang pernah membuat namanya berkibar di Everton. Sebagai seorang Barcelona reject, gemilang di Glasgow Rangers untuk kemudian tenggelam di Real Sociedad, Arteta bersama Tim Cahill menjadi mesin Everton dan membawa klub itu lolos ke Liga Champions di musim 2004/05 dan Liga Eropa dua musim berturut-turut (2007/08 dan 2008/09).

What makes someone a good defensive midfielder? Tekel? Nope. Terlalu banyak mentekel akan membuat barisan bek kedodoran terlebih di EPL yang sarat akan pemain-pemain serang cepat. Atribut paling penting dari posisi ini adalah kemampuan membaca arah permainan; baik itu alur passing maupun pergerakan pemain-pemain lawan. Arsene Wenger rupanya mengerti Arteta memiliki dua kemampuan ini. Ketika Alex Song dijual dan Arsenal mendatangkan Santi Cazorla peran Arteta sebagai holding midfielder semakin kental.

Statistik membuktikan hal ini. Dari situs WhoScored.com Arteta berada di posisi teratas skuat Arsenal dalam hal pertahanan (defending-wise). Arteta hingga saat ini berhasil meraih 80 tekel (rata-rata 3.3 tekel/game), 67 interceptions (2.8 per game) dan 36 clearences (1.5 per game). Dari aspek tekel Arteta memuncaki peraihan ini di Arsenal sementara tiga centre-half Arsenal Thomas Vermaelen, Laurent Koscielny dan Per Mertesacker berada di urutan 8, 12 dan 17. Ditambah fakta Arteta adalah pemain terbanyak yang melakukan pelanggaran di Arsenal, peran invisible-nya semakin kentara.

Arsenal hampir selalu memainkan formasi 4-2-3-1. Formasi ini membutuhkan kehadiran double-pivot midfielder : harus ada satu lagi pemain yang mampu mendampingi Arteta. Pemain tersebut mutlak memiliki kemampuan mengadaptasi dan membaca permainan lawan. Di awal musim Arsenal kerap memulai alur serangan dari bawah, practically Arteta menjemput bola dari duet centre-halves dan ini rentan ancaman manakala lawan melakukan pressing. Tugas Arteta sedikit ringan saat Jack Wilshere pulih dari cedera tapi Arsenal masih rapuh saat Arsenal kehilangan bola di sepertiga akhir pertahanan lawan atau saat mereka kehilangan bola. Gol Tottenham semalam dan Chelsea beberapa waktu lalu menggambarkan dengan gamblang. Pemain Arsenal yang sedang menguasai bola dihantam gelandang lawan: lawan Chelsea Francis Coquelin kehilangan bola karena berduel dengan Ramirez, saat gol kedua Tottenham malam tadi Cazorla yang kehilangan bola karena skema serupa.

Kedua gol tadi terjadi dalam tempo begitu singkat. Dengan dua operan Oscar Azpilicueta dan Gylfi Sigurdsson mampu melepas assist yang membongkar pertahanan Arsenal yang tidak hanya keropos, tapi juga bingung karena mereka memainkan garis pertahanan tinggi (high-defending line).

Arsenal musim ini kerap merotasi pemain-pemain yang mendampingi Arteta. Mereka adalah Abou Diaby, Francis Coquelin dan Aaron Ramsey. Arsenal bisa sukses meraih gelar-gelarnya di era Arsene Wenger adalah mereka memiliki duet gelandang kokoh. Era pertama adalah saat Arsene menduetkan Patrick Vieira dan Emmanuel Petit, lalu di era Invincibles Arsenal memiliki Gilberto Silva dan juga Edu mengingat Vieira sudah tidak muda lagi. Arsenal sempat mempunyai sosok potensial dalam diri Mathieu Flamini, namun seperti yang sudah termaktub dalam epos “Tahun-Tahun Pelunasan Stadion”, Flamini menjadi salah satu pemain yang tidak mau memerpanjang kontrak – terkait nominal gaji yang tidak naik – selain Ashley Cole, Alex Hleb dan Robin van Persie .

Dua dari tiga pemain yang penulis sebut di atas (Diaby dan Ramsey) bahkan sejatinya adalah gelandang serang. Aaron Ramsey sebelum kakinya dipatahkan Ryan Shawcross dua musim lalu adalah pemuda potensial yang Fabregas sebut akan menjadi pemain pengatur serangan Arsenal bersama Jack Wilshere. Nama kedua, Abou Diaby, adalah satu dari sekian keputusan-keputusan Arsene Wenger yang penuh misteri.

Mayoritas fans Arsenal sudah terlalu jenuh dengan keadaan Diaby. Dari hal postur, negara dan (maaf) warna kulit, pemain ini saat pertama kali didatangkan digadang-gadang sebagai jawaban atas sosok yang hilang dari diri Patrick Vieira. Cerita berkata lain saat ternyata Diaby lebih sering berkutat dengan cedera. Saat dalam performa terbaiknya, Diaby adalah gelandang box-to-box handal. Bisa dilihat saat Arsenal menang atas Liverpool dan Brighton & Hove Albion. Selain dua pertandingan tadi Diaby adalah Diaby. Gerakannya dan cara otaknya berpikir sedemikian lambat. Arsenal kerap kehilangan momen saat Diaby seharusnya jeli mengirimkan killer pass atau – paling fundamental – kehilangan bola di sepetiga akhir pertahanan lawan.

Wenger favouritism over Diaby ini tambah pelik mengingat beberapa pemain Arsenal saat wawancara juga memberi pujian atas Diaby. Mengapa demikian? Jika hal ini terus berlanjut maka kasus Flamini akan kembali terulang dengan Francis Coquelin sebagai aktor utamanya.

Di awal musim Francis Coquelin sempat menyatakan hasratnya untuk menjadi pemain utama dan tidak ragu untuk minggat jika kesempatan tak kunjung datang: “I have given myself six months and then I will take stock. If I see it is blocked, I will go somewhere else. But for now I know I have the qualities to make a name for myself at Arsenal”. Coquelin baru berusia 21 tahun dan Arsene Wenger sejauh ini telah mengujinya untuk menjadi lebih baik di lapangan tengah dengan menempatkannya di flank – seperti yang dia terapkan pada Ramsey. Sederhana saja. Pemain yang ditempatkan di sayap akan mengalami kesulitan dalam membongkar ruang ketimbang pemain tengah karena ruang mereka terlalu sempit berhadapan dengan pemain lawan dan juga garis pinggir. Percobaan ini sukses Arsene terapkan pada Thierry Henry dan Emmanuel Petit.

Menganggap Coquelin sebagai sosok tepat sebagai pendamping Arteta sontak sirna mengingat tinggi tubuhnya tak sampai 1.8 meter. Coquelin bisa saja diproyeksikan sebagai pelapis Arteta tapi apakah dia bisa sabar menjadi ban serep setelah ucapannya di atas? Disinilah Arsene Wenger harus bertanggung jawab atas keengganannya membeli defensive midfielder. Bagaimana mungkin dia bisa begitu yakin Diaby mampu menjaga kebugaran sepanjang musim setelah lebih dari dua musim tak kunjung menunjukkan kontribusi progresif?

Nama-nama seperti Lucas Biglia, Diame, M’Vila bergantian mengisi headline sebagai incaran Arsenal dan Andre Vilas-Boas (AVB) malam tadi menunjukkan pada Wenger bahwa Arsenal benar-benar membutuhkan seorang anchor dalam formasi 4-2-3-1. AVB tidak terlalu pusing dengan absennya Sandro dan Tom Huddlestone sebagai pemain yang mengakomodir Scott Parker karena mereka masih memiliki Mousa Dembele dan Jake Livermore. Kedalaman skuat AVB terlihat mengerikan karena mereka menyisipkan nama Tom Caroll di bangku cadangan. Seandainya semua pemain di atas dalam kondisi bugar, AVB akan kewalahan memilih siapa dua pemain yang mengisi posisi double pivot ini. AVB bisa memilih berdasarkan siapa lawan yang dihadapi. Duet Sandro-Dembele tentu menjadi pilihan utama dan ditilik dari usia gelandang-gelandang tersebut masa depan Tottenham terlihat sedikit lebih cerah jika Arsene Wenger tidak membeli pemain pendamping Arteta.

Dalam catatan situs Squawka, Mousa Dembele semalam melakukan 4 tekel dan dua interception – lebih tinggi daripada Mikel Arteta dan Aaron Ramsey dan rekan setimnya Scott Parker. Penonton pertandingan semalam khususnya fans Arsenal seharusnya tidak luput dari fakta ini.

Arsene, jika memang ada, sejauh ini siapa pemain yang anda pantau untuk menjadi sekrup yang hilang di barisan gelandang Arsenal? Tidak usah jauh-jauh ke Prancis untuk melobi Étienne Capoue, Maxime Gonalons atau Blaise Matuidi. Anda telah memikat bakat Southampton seperti Theo Walcott dan Alex-Oxlade Chamberlain. Ada satu pemain lagi yang sejauh ini menjadi satu-satunya pemain EPL yang telah mencatat lebih dari 100 tekel. Nama pemain berusia 23 tahun itu Morgan Schneiderlin dan menurut situs trasfermarkt banderolnya saat ini hanya tiga juta poundsterling. Muda, berasal dari Prancis dan berharga murah. Tunggu apa lagi? Fakta-fakta di atas menjelaskan bahwa Arteta butuh partner dan keringanan hatinya untuk memangkas gaji saat pindah ke Arsenal harus diapresiasi, Prof. Bukan tidak mungkin pemain berambut rapi ini bisa menjadi Andrea Pirlo-nya Arsenal jika menemukan partner seperti Arturo Vidal di Juventus.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s