Jack Wilshere: The Boy That Gives Us Hope — dan mengapa Arsenal tidak perlu terburu-buru menjadikannya kapten

Jack+Wilshere_8

Jack+Wilshere_8

Pertandingan antara Arsenal melawan Stoke City memasuki menit-menit akhir. Pertandingan menghadirkan penuh kontradiksi. Tuan rumah mati-matian menggempur tim tamu yang kesohor dengan sepakbola primitif — intimidasi, provokasi, bola-bola panjang dan pelatih bawel Tony Pulis — sejak awal pertandingan dan saat Ryan Shawcross melepas tembakan dengan serampangan ke gawang Szczesny, saat itulah penonton paham bahwa Stoke memang mengincar hasil seri.

Insiden kecil terjadi saat Mikel Arteta melakukan tekel kepada Michael Owen — eks harapan Inggris yang hanya menjalani kegemilangan karir level klub di Liverpool. Tekel itu fair karena ujung kaki Arteta berhasil menyapu bola. Namun naas bagi Owen, tebasan Arteta juga membuatnya terjatuh limbung. Saat kedua pemain senior itu bergelut di atas rumput Ashburton Groves, Owen yang berada di bawah Arteta melayangkan tinju ke bahu Arteta. Sontak Arteta pun mendorong Owen sebelum menjauhinya dan sekelebat, sepersekian detik, seorang pemuda 21 tahun berlari menuju mantan pemain Real Madrid itu sambil melayangkan kata-kata keras. Raut wajahnya murka. Anda bisa melihat bocah ini tidak terima sang kapten diperlakukan demikian. Apalagi di depan publik Arsenal. Rumahnya sejak berumur 9 tahun.

Wasit akhirnya memberi kartu kuning kepada Arteta karena perbuatannya mendorong Owen. Tapi aksi bocah inilah yang menjadi sorotan penggemar Arsenal. Aksi yang bukan sekali ini saja dia lakukan saat lawan mengintimidasi rekan setim. Anda tentu telah melihat kolase foto di internet dimana dia tanpa tedeng aling-aling menantang Gareth Bale — setelah Adebayor membuat Cazorla terkapar — atau saat sosok kecilnya dengan dramatis berhadapan dengan bek West Brom, Jonas Olsson.

Bocah ini bernama Jack Wilshere. Sosok yang begitu kita rindukan kehadirannya setelah tak sekalipun bermain musim lalu karena cedera. Bocah yang kita harapkan mampu bertransformasi menjadi pria pemimpin Arsenal hingga sepuluh tahun nanti. Arsene Wenger setelah pertandingan kontra West Brom berkata singkat,

We have our young old Jack back

Sebuah pernyataan yang menyiratkan kelegaan. Kelegaan telah memiliki kembali pemain termuda yang melakoni debut untuk Arsenal.

Harapan sudah terlalu banyak menumpuk di pundaknya

Fabio Cappelo — eks pelatih timnas Inggris — saat memutuskan untuk memanggil Jack berujar,

This is not normal: to be so young and so good

Mendapat pujian dari seseorang yang berhasil meraih 5 scudetto dengan 2 klub berbeda dan 2 trofi Liga Champions akan membuat siapa saja besar kepala. Timnas Inggris saat itu masih dihuni the unchangeable Lampard dan Gerrad (apalagi jika kita menghitung Adam Johnson, James Milner dan Scott Parker). Belum lagi tekanan dari fans Inggris yang merindukan kejayaan yang terakhir mereka rengkuh tahun 1966. Capello juga memberi sinyal akan membangun tim untuk Wilshere, bukan Wilshere sebagai bagian dari tim. Sebuah cita-cita futuristik dari pelatih yang kesohor menangani talenta Franco Baresi, Paolo Maldini (AC Milan) dan Raul Gonzales (Madrid) saat mereka masih belia — seperti Wilshere saat itu. Terakhir kali Inggris mengalami eforia macam ini mungkin saat sosok Paul ‘Gazza’  Gascoigne memimpin mereka di Euro 1990.

Jack Wilshere selalu menjadi kapten Arsenal di berbagai level junior dan Inggris selalu memakai tenaganya di level-level yang jauh lebih tua dari umurnya saat itu. Saat berumur 14 dia bermain untuk timnas U-16 dan saat membela timnas U-17 dia baru berumur 15. Apa yang anda lakukan di umur-umur segitu? Selepas turnamen Uero U-17 tahun 2009 di Jerman, situs resmi UEFA melansir nama-nama yang digadang akan menjadi pemain bintang di negaranya masing-masing. Tiga tahun berlalu dan hanya dua pemain yang saya tahu betul kiprahnya saat ini, Jack Wilshere dan Lennart Thy. Nama kedua, penyerang klub Jerman favorit para hipster St. Pauli bisa saya kenali tak lebih karena kegemaran saya memainkan klubnya saat bermain FIFA bersama teman-teman.

Misi Capello untuk membangun timnas Inggris dengan Wilshere sebagai peran sentral akhirnya pupus oleh cedera panjang sang pemain. Capello bahkan sampai mengeluarkan pendapat di media betapa buruknya kinerja tim medis Arsenal dalam menangani kasus cedera Wilshere. Syahdan seperti kita sama-sama ketahui, Capello akhirnya mengundurkan diri dari jabatan pelatih Inggris sebelum misinya tercapai.

Cerita di atas bisa menjelaskan pada kita bahwa karunia yang Wilshere dapat, bakat, adalah hal yang tidak hanya menjadi anugrah bagi dirinya tapi juga bagi sekian juta orang. Saat Wilshere akhirnya kembali ke lapangan hijau dalam pertandingan U-21 antara Arsenal dan (lagi-lagi) West Brom, kita seakan tak percaya pemain ini mampu kembali bermain; umpan-umpan khas serta juluran lidahnya kala menggiring bola memberikan sensasi yang lain. Dia tidak bermain penuh di pertandingan itu dan melihatnya mengenakan nomor 10 — meski tanpa tulisan ‘Wilshere’ di atasnya — membuat kita melupakan kegagalan pemakai nomor keramat sebelumnya yang berlabuh ke sebelah selatan Inggris.

Sebuah cerita tentang talenta muda datang dari klub Inggris Selatan lainnya. Steven Gerrard is the name. Well, like I do, you can mock and troll all you want about his club, you can blame Suarez for daily jokes. Tapi akuilah, Gerrard adalah salah satu sosok pemimpin di dunia sepakbola dan kita harus beruntung mampu melihat permainannya. Sama seperti Wilshere, bakat Gerrard diendus Liverpool di usia yang masih sangat belia, 8 tahun. Sebuah pernyataan dari eks youth couch Liverpool menjelaskan bakatnya,

Outstanding potential has to be recognised and nurtured and Stephen Gerrard, a gem from Huyton, could be the next on our production line. He attends Cardinal Heenan School and already represents Liverpool Schools Under-14s although he is only 12-years-old. He has enormous natural talent and is a Liverpool fan through and through. His attitude towards coaching and personal development is a joy to see and our staff is genuinely excited by his prospects

Saya tidak akan pernah lupa  aksi Gerrard memimpin Liverpool di malam final Liga Champions di Istanbul. Selebrasi golnya membuat para pemain dan ribuan kopites membakar lagi semangat di dada. Setelah lebih dulu tertinggal tiga gol di babak pertama. Kisah selanjutnya adalah sejarah. Pertandingan melawan AC Milan ini selalu berada dalam daftar pertandingan final terbaik di majalah-majalah.

Arsenal Man and his growing partnership with Santi in midfield is for the sake of Arsenal future

Tidak perlu diragukan lagi determinasi dan dedikasi Wilshere untuk Arsenal. Setidaknya ini bisa kita lihat dari perkataan-perkataannya yang secara viral tersebar luas di internet. Bagaimana dia berkata tidak perlu jasa agen untuk memerpanjang kontrak di Arsenal. Bagaimana dia dengan tegas berkata tidak akan mencium ‘Arsenal badge’ lalu pergi seperti yang lain. Ada rona kebanggaan menyeruak dalam dada kita, tentu. Apalagi, well, kegemaran Arsenal menjual pemain bintang demi mengikis utang pembangunan Ashburton Grove.

Tanpa kehadirannya di lapangan musim lalu dia menantang tiap fans Spu*s yang memfollow dia di Twitter. Dengan lantang dia mengajak bertaruh bahwa posisi Spu*s saat itu yang berada di atas Arsenal adalah sementara dan jika Arsenal gagal merayakan St. Totteringham Day dia akan menyumbang £3000 untuk seseorang:

All Spurs fans buzzing that they are ahead of us in the league (for once). Its a marathon, not a sprint! I tell you what at the end of the season if Spurs finish above Arsenal I will give £3000 to charity. If Arsenal finish above Spurs every Spurs fan that follows me must send me a pound each and I will give it to @Jack_Marshall_ charity! Do we have a deal THFC fans!?

wilshere

Masih segar di ingatan saat Arsenal memerpanjang kontrak lima pemain Britania secara berbarengan beberapa bulan lalu. Arsenal sampai mengunggah video penandatanganan kontrak itu ke situs resminya dan kita bisa lihat di akhir video bagaimana Wilshere mencium badge Arsenal penuh cinta. Wilshere, di umur yang begitu belia membuat banyak orang menaruh harapan besar padanya. Tapi kita harus ingat, dalam sepakbola jangan pernah menaruh harapan pada pemain. Cintai klub, siapa pun pemain dan pelatihnya. Bukan berarti saya meragukan loyalitas Wilshere. Kisah-kisah pendahulunya yang pergi di usia muda masih terpatri kuat di pikiran.

Perihal Wilshere dan loyalitas hingga detik ini tidak perlu kita ragukan. Namun bagaimana peran paling fundamental dia untuk Arsenal? Permainannya di atas lapangan? Wilshere kembali merumput bersama skuat yang hampir tidak dikenalnya. Sisa-sisa pemain inti dari terakhir kali dia merumput mungkin hanya Szczesny, Sagna, Walcott. Sedangkan Ramsey musim ini masih menjalani tahun-tahun eksperimen. Ramsey harus dicantumkan karena duet ini pernah begitu padu di musim 2010-2011. Highlight tentu saja saat Arsenal berhasil mengalahkan United 1-0 melalui gol Ramsey. Perlu diingat saat itu Cesc tidak bisa bermain karena cedera dan Arsene memplot duet Ramsey-Wilshere sebagai jendral lapangan tengah dan Nasri di sayap kiri. Mari kita lihat perbandingan passing antara keduanya:

wilshereramseypassinfinalthird
Dilihat dari skema passing di final third United antara dua pemain, terlihat Ramsey lebih banyak melakukan operan bola-bola panjang dan Wilshere bola-bola pendek. Ramsey condong lebih banyak bekerja sama dengan sayap kanan Sagna dan Walcott
playerinfluence
Peran duet ini begitu vital. Terlihat dari grafik Sagna-Clichy yang bisa begitu besar. Distribusi bola lebih seimbang ketimbang United

Di musim itu Arsenal harus kehilangan Cesc Fabregas dan mengalami rangkaian hasil buruk hingga tiga sisa pertandingan musim 2011/13 (2 seri dan 1 kali kalah).

Saat itu mungkin kita berpikiran duet ini masih prematur untuk dijadikan pakem di masa depan. Apalagi musibah menghampiri: Cesc berlabuh ke Barcelona dan Wilshere harus meninggalkan lapangan bola lebih dari setahun. Duet menjanjikan Wilshere-Ramsey baru bisa kita simak saat Arsenal mengalahkan Swansea di pertandingan replay piala FA melawan Swansea dan v Brighton.

Kehadiran Santi Cazorla sejak awal musim melahirkan dinamika baru bagi Arsenal. Dimana perannya sebagai advance midfielder mampu tampil apik di pertandingan awal musim melawan Liverpool (2-0), Southampton (6-1) dan City (1-1). Namun rupanya begitu Cazorla dimatikan, Arsenal kelabakan. Hal ini terlihat di matchday 6 v Chelsea saat Ramirez dan Oscar dengan rajin menghambat pergerakan Cazorla dan — terkadang — Arteta.

The day we’ve been waiting for finally comes. Wilshere kembali merumput di pertandingan v QPR dari bangku cadangan. Saat ini performa dia belum terlihat. Apalagi di pertandingan berikutnya v United dia diusir wasit akibat dua kartu kuning yang diterimanya. Barulah beberapa matchday berikutnya, terutama saat melawan West Brom, peran signifikan Wilshere mulai terlihat. Menarik bagaimana duetnya dengan Cazorla mampu ‘membebaskan’ pria asal Spanyol itu dalam bertahan. Juga bagaimana antara keduanya lebih sering melakukan passing pass-to-space daripada pass-to-feet. Konsekuensinya, banyak ruang akan terbuka dan pergerakan pemain depan saat melakukan serangan balik bisa lebih cepat. Melihat Wilshere bermain, anda akan jarang sekali melihatnya berhenti di tengah permainan. Saat tidak membawa bola dia selalu berlari membuka ruang. Begitu pula setelah melepas passing.

jackchambomovement
Disini, bola tiba di kaki Sagna atas operan dari Chambo. Lihat bagaimana Chambo dan Wilshere berlari bersamaan mencoba mengeksploitasi jenjang renggang pertahanan West Brom
jackmoves
Skema berbeda, Giroud mendapat bola panjang dari Vermaelen. Kontrol bolanya yang bagus sehingga bisa keep possession dan Wilshere berlari sambil menunjuk ruang kosong pertahanan West Brom. Wilshere berhasil memanfaatkan umpan Giroud untuk kemudian melepas crossing ke Chambo. Sayang tendangan voli Chambo masih melambung tinggi

Situs haugstadfootball.net menjelaskan fenomena Wilshere dan Moussa dembele di Tottenham dalam formasi 4-2-3-1 yang ramai digunakan oleh tim-tim EPL. Bagaimana tim-tim tersebut memakai double pivot midfielder yang tidak mempunyai peran khusus. Dalam artian: kedua pemain mengemban tanggung jawab yang sama dalam bertahan maupun menyerang. Mungkin proporsinya yang berbeda. Saat melawan Stoke lalu contohnya: Double pivot Arsenal memakai Arteta dan Wilshere dimana Wilshere disebut haugstadfootball sebagai ‘the new species dribbling central midfielder’. Begitu pula saat Wilshere diduetkan dengan Ramsey, Diaby atau Coquelin. PR untuk ketiga orang ini adalah: kemampuan mereka beradaptasi dengan kebutuhan tim untuk mengisi ‘The Arteta Role’ terkait Wilshere dan Cazorla sudah pasti mengisi starting line-up di pertandingan-pertandingan krusial. Melihat grafik di bawah, pola seperti inilah yang sering kita temukan dari duet Cazorla-Wilshere.

Wilsheremove

Passing pattern satu dua ala Barcelona kerap kali terlihat dan lagi-lagi saat laga melawan West Brom (cek disini: http://imageshack.us/a/img715/3903/tikitaka.gif) dimana pertandingan itu disebut sebagai pertandingan terbaik Wilshere setelah sembuh dari cedera. Lebih-lebih setelahnya Arsenal mampu untuk pertama kalinya di musim ini untuk meraih empat kemenangan berturut-turut sebelum akhirnya ditahan Southampton 1 Januari lalu.

Selain semakin ciamiknya Wilshere untuk melepas killer pass, jika diperhatikan dia kini juga menjadi corner taker di sisi kanan — dimana Theo Walcott di sisi kiri. Juga bagaimana Wilshere kerap mengambil set-piece dari sisi agak dalam guna melepas umpan untuk Giroud– seperti yang terlihat di pertandingan kontra Liverpool.

Namun seperi yang Podolski bilang saat ditekuk Manchester City 2-0: shit happens. Dan Arsenal seringkali berada di situasi shit happens tersebut. Ketajaman trio Giroud-Podolski-Walcott tidak terlalu signifikan karena sebagian besar gol-gol mereka tercipta di satu pertandingan (v Southampton 6-1, Reading 2-5, Spu*s 5-2, Newcastle 7-3 dan terakhir West Ham 5-1). Disini-lah Wilshere harus lebih memberanikan diri melepas tembakan jarak jauh — seperti yang kerap dia lakukan saat bermain untuk tim junior. Wilshere kerap kali ragu untuk menembak saat posisinya sudah sedemikian enak. Wilshere juga harus melatih lagi kaki kanannya, sebagaimana Ramsey yang wajib membiasakan passing menggunakan kaki kiri.

Masa depan cerah

Steven Gerrard, sebelum laga persahabatan antara Inggris v Brazil berkata,

I don’t want to add any pressure. That’s unfair. But playing against him recently and in training, he’s a one-off. He’s a lot better than your normal Premier League midfielder. I have a lot of confidence in him. He’s got a bit of everything, he can tackle, get up and down the pitch, create a goal, score a goal, can pass. He can tick almost every box, and he’s going to get better and better. He’s only 21 and a fantastic talent. We’re all delighted he’s back and happy to play with him

Di laga melawan Swedia lalu, Arsene sudah mewanti-wanti Roy Hodgson agar tidak memaksa Wilshere tampil sejak awal. Kini hampir bisa dipastikan Roy akan mencoba memainkan Wilshere untuk berduet dengan Gerrard di lapangan tengah.  Wilshere di suatu kesempatan pernah mengungkapkan rasa kagumnya pada Gerrard dan berhasrat mengikuti jejaknya meraih prestasi bersama satu klub. Sambil merendah, dia merasa masih jauh dibanding Gerrard terutama dalam hal melepas bola-bola lambung dan kemampuan mencetak gol dari luar kotak penalti.

Wilshere tidak akan seperti Bentley: the next david Beckham yang karirnya anjlok setelah dilepas Arsenal karena hobi berjudi. Atau Francis Jeffers dan Jermaine Pennant. Nama kedua bahkan mencetak hattrick untuk Arsenal di pertandingan debut melawan Southampton. Keputusannya untuk meninggalkan Twitter terbilang dewasa. Biarlah pemain konsentrasi di lapangan.

Perlahan tapi pasti, our very own Jack Wilshere menuju fase pria dewasa di umur 21 tahun. Dia pernah mengalami horor dalam karir, juga titik balik saat di usia 19 tahun dianugrahi putra yang dia beri nama Archie.

Selepas aksi comebacknya kontra QPR, dia berkata pada media:

For any player to have four months out is tough, but to have a year out and another couple of months is frustrating. When you’re nearly back a couple of times and then have another setback it’s really hard to take. But I’ve got my son now and I don’t know what I’d do if it wasn’t for him. He helped me through it massively, my family have helped me so much and it’ll strengthen me.

Kalimat yang menakjubkan melihat dulu dia pernah meludahi sopir taksi saat tahu sang sopir memakai topi Spu*s. Proses pendewasaan pasti juga terjadi di lapangan. Wilshere bermain dengan Podolski: andalan Jerman yang pernah merasakan dua Piala Dunia dan dua Piala Eropa. Juga pemain senior lain semisal Mikel Arteta, Santi Cazorla, Per Mertesacker dan Thomas Vermaelen. Kita semua berhasrat Wilshere memimpin Arsenal sebagai kapten. Tapi untuk saat ini, biarlah Wilshere berperan sebagai little guardian di tim. Main-main dengan Arteta? Wilshere siap konfrontasi. ‘Iseng’ saat duel dengan Giroud di udara? Wilshere akan gantian mejahili anda.

Masa depan Arsenal begitu cerah. Saya baru ingat bahwa dia baru berumur 21 tahun. Saat sebagian dari kita baru menginjak bangku kuliah.

COYG!

klik gambar di atas untuk mendapatkan artwork karya @Arsenalverse dalam resolusi lebih tinggi

One thought on “Jack Wilshere: The Boy That Gives Us Hope — dan mengapa Arsenal tidak perlu terburu-buru menjadikannya kapten

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s