Ada Hikmah Sebelum Laga Tandang Melawan Brighton

kredit foto: http://www.seagullschat.com/history/

Tahun 1996 Arsenal mengumumkan kepada khalayak sosok manajer baru mereka pengganti Bruce Rioch. Orang itu bernama Arsene Wenger dan dia berasal dari Prancis. Orang asing pertama yang melatih klub London tersebut.  Arsene who? Kata mereka. Karena mungkin satu-satunya pria Prancis bernama Arsene yang mereka kenal hanya Arsene Lupin. Itu pun tokoh fiktif.

Di tahun yang sama, tepatnya di bulan April 1996 sebuah kerusuhan terjadi di Sussex. Penonton di stadion Goldstone menyeruak masuk lapangan setelah wasit meniup peluit akhir laga Brighton & Hove Albion versus Donchaster. Bukan untuk merayakan suatu kemenangan orang-orang itu berhamburan. Rasa sedih, marah, kesal dan sebagainya campur aduk terlihat di wajah mereka. Sebagian bahkan merongrong ke bagian direktur klub untuk melontarkan segala rasa yang menghimpit dada. Ini bahkan kali kedua mereka mengamuk di stadion.

Amuk massa ini terjadi karena tempat dimana tiap pekan mereka menghabiskan suka dan duka secara berjamaah telah dijual. Dijual oleh segelintir orang yang mengendalikan simbol identitas mereka demi uang. Fans Brighton terpaksa merasakan getirnya realitas sepakbola modern. Era dimana seseorang tidak hanya peduli pada permainan timnya di atas lapangan. Era dimana mereka juga memerhatikan hal di luar lapangan seperti penjualan tiket, pembagian hak siar televisi atau perusahaan Asia mana lagi yang akan menjadi sponsor tim sepakbola mereka.

Wajar jika mereka kesal. Klub ini telah menjalani tahun-tahun dalam kesemenjanaan dan mismanajemen. Hingga akhirnya duet pengusaha lokal Bill Archer dan Greg Stanley unjuk diri sebagai dewa penyelamat dengan langkah-langkah yang terlihat bak sentuhan Midas. Mereka menyelamatkan klub dari krisis finansial dengan meminjam dana pinjaman sebesar 800.000 poudsterling dari bank. Kemudian merekrut legenda Arsenal yang baru saja melatih Glasgow Celtic, Liam Brady dan David Bellotti sebagai chief director.

Sayang seribu sayang bulan madu ini hanya berlangsung dua tahun karena pada 1995, sebuah surat kabar lokal melansir berita bahwa ketiga orang ini telah menjual Goldstone Stadium — stadion yang telah mereka tempati sejak 1902 — untuk dikembangkan menjadi area perbelanjaan. Jelas mereka mengamuk. Penjualan stadion ini dilakukan secara sepihak. Jajaran board sebuah klub seharusnya terbuka dalam mengambil langkah-langkah penting. Aksi pitch-invading pertama akhirnya terjadi. Di laga melawan York City ini bahkan kedua gawang sampai hancur dan pertandingan terpaksa dihentikan di menit 67.

Paska penjualan Goldstone, Brighton menjalani partai kandang mereka di Fratton Park, markas Fulham karena pemilik baru Goldstone Stadium, perusahaan properti Chartwell Land meminta bayaran £480,000 semusim sebelum stadion itu benar-benar dirobohkan. Setelah musim benar-benar selesai mereka memilih tempat sejauh 110 KM dari Brighton, tepatnya di Pristfield Stadium, wilayah Kent, markas klub Gillingham FC. Bisa dibayangkan betapa melelahkannya menjadi suporter klub semenjana ini jika jarak untuk mencapai Pristfield Stadium saja melebihi rentang jarak Jakarta-Cikampek (estimasi 70 KM).

Memasuki musim 1997/98, saat Arsenal yang baru dua musim dilatih ‘Arsene Who?’ menggapai gelar ganda kedua (liga Inggris dan FA Cup) rasa frustasi suporter Brighton semakin menjadi-jadi. Mereka menggalang protes sampai ke London. Mulai dari long march, meminta atensi suporter klub lain seantero Inggris hingga menyatroni rumah direksi klub. Perjuangan berat mereka memakan waktu dua tahun hingga akhirnya pada 1999 mereka berhasil kembali ‘pulang kampung’ dengan menjadikan Whitedean Stadium sebagai kandang mereka. Hal ini tidak mudah karena arena ini tidak memenuhi standar untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola. Suporter dan pemerintah lokal bahu membahu menggalang dana hingga bisa sedikit menyempurnakan Whitedean Stadium. Saya tulis ‘sedikit’ karena faktanya stadion ini pun berada di urutan keempat dalam daftar ‘Stadion Terburuk di Inggris’ yang dirilis harian Observer pada tahun 2004.

“Ah, bodo amat”, pikir mereka. Karena yang terpenting sepakbola bisa kembali hadir di kota mereka. Meminjam frasa dari lagu resmi timnas Inggris di piala Eropa 1996: “It’s coming home.. it’s coming home.. it’s coming.. football’s coming home”. Tidak berlebihan, karena saat mendengar kata Brighton yang terlintas dalam benak orang Inggris adalah tempat plesir pinggir pantai. Saya pribadi baru mendengar klub sepakbola bernama Brighton & Hove Albion setelah menonton biopik manajer legendaris Brian Clough, The Damned United.  Brighton & Hove Albion adalah satu-satunya tim sepakbola di kota itu.

“People go to Brighton for various reasons. For a holiday, for a day-trip, for a place to retire, for a Tory Party conference. Or for a dirty weekend. With all due respect to the club and its fans, you don’t go there for the football” – Brian Clough

Puluhan tahun setelah Brian Clough memutus kontraknya dengan Brighton demi menerima tawaran Leeds United, Tuhan ternyata mendengar panjatan doa warga Brighton. Selain pulang kampung tim sepakbola mereka dianugrahi dua juru selamat.

Orang pertama adalah striker muda haus gol yang direkrut dari Bristol Rovers, Bobby Zamora. Bobby dengan torehan 77 gol selama tiga musim membantu Brighton promosi beruntun dari divisi tiga ke divisi satu. Prestasi sulit dan hanya segelintir klub yang mampu melakukan promosi beruntun, salah duanya adalah Southampton dan Manchester City.

Orang kedua adalah Dick Knight — melalui perpanjangan tangan legenda Arsenal Liam Brady. Meski karir kepelatihannya tidak sukses, Liam adalah salah satu pahlawan dalam kampanye perjuangan suporter Brighton. Atas inisiatifnya-lah terbentuk suatu konsorsarium yang bertujuan membeli kepemilikan klub dari Bill Archer dan Greg Stanley. Salah satu orang yang masuk ke dalam konsorsarium itu adalah Dick Knight. Dia ada disana sejak klub ini berjuang memerbaiki Whitedean Stadium agar layak pakai, juga saat klub berhasil menapaki Divisi 1 liga profesional Inggris, satu tingkat di bawah EPL. Ucapan DJ terkenal Fatboy Slim yang juga suporter Brighton merangkum jasa-jasanya.

“There wouldn’t be Brighton & Hove Albion without Dick Knight”

Bobby Zamora (tengah) dan Dick Knight (kanan). Sumber foto: http://news.bbc.co.uk/sport2/hi/football/teams/b/brighton/873998.stm

Seperti Wilfried Zaha kini, Bobby Zamora saat itu akhirnya tidak bisa menolak tawaran klub EPL dan berlabuh ke Tottenham Hotsp*r di musim 2003/04. Musim dimana Arsenal akhirnya menuntaskan liga tanpa terkalahkan. Dick Knight, meski kini menjabat sebagai presiden seumur hidup Brighton pada 2009 menuntaskan sumbangsihnya untuk klub dengan menjual mayoritas saham kepada Tony Bloom, seorang pemain poker merangkap pengusaha properti di tahun 2009. Tony kelak berhasil mendapat dana investasi ‘wah’ untuk membangun Falmer Stadium/The Amex. Terdengar satir mengingat 12 tahun lalu klub ini sampai tiga kali berpindah stadion.

Kita dan Mereka Membagi Ironi yang Sama

Brighton hanya empat musim merasakan kompetisi kasta tertinggi di Inggris. Itu pun sudah lama sekali. Prestasi paling glamor mereka pun hanya saat mampu menahan imbang Manchester United di final Piala FA. Menariknya, tim pertama yang mereka kalahkan di musim pertama kasta tertinggi liga domestik mereka adalah Arsenal.

Stadion, selain berfungsi substansial sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan juga merupakan salah satu sarana bagi klub untuk mendapat keuntungan. Sebelum laga kontra Manchester City dua pekan lalu tersiar berita aksi protes fans Manchester City atas mahalnya harga tiket di Ashburton Grove/Emirates. Di laga yang berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan City itu beberapa suporter pun memamerkan banner yang menyindir mahalnya tiket.

Membandingkan Falmer Stadium dengan Emirates tentu tidak berimbang. Dimana yang pertama hanya mampu menampung kurang dari sepertiga jumlah kursi di Emirates. Dana pembangunan The Amex pun hanya (kurang lebih) seperlima dari total dana pembangunan Emirates yang ditaksir berjumlah 470 juta poundsterling.

Namun kebijakan kedua tim dalam melepas harga tiket terasa menyulitkan suporter masing-masing klub. Season ticket atau tiket terusan Brighton (termahal £625, termurah  £425) dinilai terlalu mahal. Saya kemudian tersenyum simpul mengingat dulu mereka pernah berkandang di salah satu stadion terburuk di Inggris, dan ketika akhirnya memiliki stadion yang bahkan tahun lalu memenangi penghargaan sebagai venue baru terbaik dunia (sumber), tetap saja ada orang-orang yang kecewa.

Kegetiran juga melanda Gooners, fans Arsenal. Ah, saya tak perlu mengingat kenyataan bahwa tak satu pun trofi diraih semenjak hijrah dari Highbury. Emirates kerap dijadikan kambing hitam atas tahun-tahun nirgelar Arsenal. Saya kembali teringat tahun-tahun awal menonton sepakbola saat saya tidak tahu pemain mana yang akan dibeli. Atau berapa nilai kontrak sponsor klub tertentu. Dulu yang saya tahu hanya skuad senior dan pelatih. Siapa itu Peter-Hill Wood, David Dein dan Herbert Chapman? Yang saya pedulikan hanyalah laporan kemenangan Arsenal di tabloid olahraga atau rekaman gol Anelka di acara sepakbola akhir pekan.

Kini bahkan tahu siapa saja pemain Arsenal yang  dijual Darren Dein. Atau susunan formasi tim setengah jam sebelum kick-off.

Saya, seperti anda mungkin, dulu hanya mengenal sepakbola sebagai perayaan. Kesedihan akibat kalah atau rasa senang karena menang toh akhirnya menjadi perayaannya masing-masing.

Supporting a football club is supposed to be a fun thing to do, I believe. Pada akhirnya saya kembali sadar tak peduli berapa jersey asli Arsenal yang kita punya, bagi mereka suporter asing adalah ‘pasar’. Saat suporter Manchester United melakukan protes pembelian Malcolm Glazer atas klub mereka tahun 2005, mereka sadar sekeras apapun mereka teriak tak akan didengar. Idealisme membuat mereka membentuk FC United of Manchester. Masih atau tidak mereka ke Old Trafford atau menonton Manchester United saya tidak paham.

Keberhasilan Bradford mencapai final Capital One Cup bisa menjadi motivasi mereka nanti malam. Seperti Bradford yang menumbangkan tiga tim EPL sebelum ke Wembley, Brighton sebelum laga ini juga menumbangkan wakil EPL, Newcastle. Apalagi sang pelatih Gustavo Poyet dan Wayne Bridge sudah tidak asing menghadapi Arsenal karena mereka pernah berseragam Chelesea dan Tottenham Hotsp*r.

Saya ingin Arsenal menang karena peluang kita di ajang ini lebih terbuka ketimbang EPL atau Champions League. Apalagi ajang kompetisi sepakbola tertua di dunia ini kini berumur 150 tahun. Menjadi sebuah cerita tersendiri jika Arsenal-lah yang bisa meraihnya.

Banyak hal yang bisa disimak dari Arsenal. Saya pikir anda cuma buang-buang waktu jika berusaha mengerti konstelasi pucuk kepemimpinan (board) di Arsenal. Atau mencoba sepaham dengan paguyuban suporter seperti Black Scarf, She Wore A Yellow Ribbon hingga Arsenal Supporter Trust. Menjadi suporter ‘sejati’ klub asing tidak perlu segitunya. Love towards football club should be unconditional. Toh kamu tidak rugi apa-apa, kan?

Sesaat sebelum mengakhiri tulisan, saya teringat celotehan-celotehan khas antar sesama fans layar kaca.

“Anjir, Arsenal kalah lagi..”,

atau

“Yes, gua baca di koran Arsenal beli Davor Suker! Lo tau kan dia topskor Piala Dunia?”

Seperti itu. Dulu.

7 thoughts on “Ada Hikmah Sebelum Laga Tandang Melawan Brighton

  1. Dulu, jadi fans sepakbola ga seribet sekarang. Mesti tau latar belakang klub, tau segala hal tentang klub dan sebagainya. apalagi sampe ngomentarin jajaran klub hadeh.

    “Supporting a football club is supposed to be a fun thing to do, I believe.”

    masalah manajemen klub mah biar aja board yang ngurus, kita disini cukup menikmati aja.

    fans: a person who has a strong interest in or admiration for a particular sport, art or entertainment form, or famous person.
    #BringOurFansBack ahahahah

    Like

    1. toss dulu ah, mate
      Saya suka ngerasa sedih aja sama realita ini. Di Twitter atau forum-forum pengetahuan mereka tentang kondisi manajemen/finansial Arsenal bener-bener juara. Tapi kemudian saya kenal akun Twitter bernama @gooner1947. Dia veteran perang dan sering menyayangkan reaksi fans modern kala tim mereka kalah.

      Jaman dulu ya nonton bola sebatas di lapangan (TV), kan. Semoga tulisan ini bermanfaat buat sesama pecinta bola lain. Armchair fucking fans.

      Like

  2. Nah iya, masalahnya buat apa tau kondisi manajemen/finansial Arsenal? toh yang kita nikmati juga cuman yang di lapangan doang. Fans modern? yang mikir mereka lebih tau dari Arsene Wenger? hahah korban dipanas panasin sama pers sana.

    “Arsenal phpin fansnya mulu, rumor transfer gapernah ada yang terjadi. #WengerOut #PepIn” <- kaya gini fans modern maksut ente? ahahahahah

    Amin! Armchair itu maksutnya gimana?

    Like

  3. ^…
    Tipe-tipe pendukung itu ada banyak, ada yang kritis ada yang Yesman!!..
    Itu hak mereka mau jadi kritis, emang salah kalo sebagai fans kami (yang kalian bilang fans sok atur manajemen) kritis sedikit??
    Kami sama kok kaya kalian, kami cuma mau yang terbaik, kami juga ga bodoh kok.. Kita 7 tahun gelar puasa karena apa?? Karena kebijakan yang salah selama ini… Yah masa kalian yang sudah nonton dari ‘dulu’ gak tahu dan gak terima sih dengan keadaan sekarang.. Aku saja, saya dan kalian suka Arsenal karena apa?? Karena waktu itu Arsenal sebagai tim juara.. Yah setidaknya kandidat juara, lihat sekarang.. Tujuan tiap musim cuma masuk UCL.. Masuk UCL emang menguntungkan dari segi finansial.. Tapi kalo finansial tidak di barengi prestasi yah sama saja dengan perusahaan dagang.. Imho

    Like

    1. Kok ini lucu ya. Ente dukung arsenal karena trofinya (atau yang anda sebut “jadi tim juara”) apa karena sepakbolanya? kalo ngedukung karena tim juaranya mah mending dukung United, lebih seru gila. Secara hampir tiap tahun dapet trofi. lagian kalo misalnya Arsenal juara, kita dapet apa? haha
      Kalo gua sendiri sih lebih suka Arsenal karena beautiful footballnya, toh yang kita nikmati juga permainan dilapangannya doang kan. Kalo dapet trofi dan sebagainya mah anggep aja bonus.

      Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s