The Arsenal That We Used To Know

ramseyoioi

Fantastis. Benar-benar fantastis. Arsenal lagi-lagi berhasil menepis keraguan media, penggemar sepakbola.. dan terutama fansnya. Bermain dalam tekanan oleh raihan hasil buruk di dua pertandingan terakhir membuat Arsenal trengginas. Lima gol dihasilkan dari berbagai cara dan bahkan lewat upaya set-piece — yang jika kamu perhatikan rekaman ulangnya akan sadar bahwa gol Ollie G itu tercipta berkat hasil latihan berulang-ulang. Sangat templated. Dan ya, tendangan penjuru Theo jauh lebih baik ketimbang RvPrick.

Same shit different bowl for The Irons. Seperti di pertemuan pertama musim ini, mereka lebih dulu unggul setelah gol Collison membuat hening publik Ashburton Grove. Sistem pertahanan zonal marking mengungkap tabir buruknya ketika salah satu pemain (dalam kasus ini Ollie G) tidak cukup prima dalam menghalau bola set-piece sehingga jenjang kosong antara garis pertahanan mampu dimanfaatkan lawan untuk menembak bola.

Susunan Formasi dan Blunder Fat Sam

West Ham memakai formasi yang sedang ‘in’ di EPL: 4-2-3-1 dimana Arsenal sudah lama memakai formasi ini kala Arsene mengubah formasi juara 4-4-2, khususon demi  mengakomodir rising star kita saat itu Cesc Fabregas. Hampir semua klub di EPL memakai formasi ini mulai dari United (yang dulu lebih sering memakai 4-4-1-1), Swansea, Liverpool dan banyak lagi.

Saya jelas terkaget-kaget saat tidak menemukan nama Mo Diame, Matt Jarvis dan Joe Cole di starting line-up klub London Barat ini.

Alih-alih menyertakan ketiga orang itu, Sam Allardyce menurunkan Mark Noble dan Jack Collison yang cenderung bertipe bertahan — memberi indikasi bahwa West Ham berniat bermain negatif.

Saya mengacuhkan sejenak teori yang mengatakan bahwa tidak diturunkannya Diame karena pemain ini sedang melakukan negosiasi dengan Arsenal. Jika kamu menonton partai West Ham v Chelsea beberapa minggu lalu pasti paham betapa mengerikannya sosok Diame — ditambah dua pivotal MF kita kerap kewalahan menghadapi pemain-pemain yang tidak hanya mengandalkan fisik tapi juga visi bermain. Joe Cole yang baru direkrut dari Liverpool pun menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah dua tahun mengarungi  petualangan hambar di Prancis dan Merseyside. Padahal West Ham baru bermain minggu depan (langkah mereka di ajang FA cup sudah terhenti). Lawan mereka minggu depan pun ‘hanyalah’  Fulham. Ini saya pikir letak kesalahan Fat Sam. Kenapa tidak tampil all-out seperti kala mengalahkan Chelsea?

Mungkin dia ingin mengantisipasi possession football Arsenal yang sukses mengalahkannya 1-3 di Boleyn Ground?

On the contratry, The underpressured Arsenal tampil dengan amunisi terbaik. Cederanya Arteta, Le Coq dan Diaby membuat harapan kita dua tahun lalu terwujud: duet Wilshere dan Ramsey di lapangan tengah. Theo kembali tampil sebagai penyerang sayap bersama Poldi di sisi kiri dan Ollie G sebagai penyerang tengah. Duet centre-half masih memercayakan Per-Vermaelen. Dari susunan formasi ini bisa kita bayangkan betapa cairnya ruang gerak tiga gelandang dan dua penyerang sayap.

Babak Pertama

Ramalan bahwa West Ham akan bermain negatif (baca: kasar) benar-benar terbukti di 20 menit awal. Highlightnya tentu saat Collison memberi Wilshere sebuah hantaman keras. Untung saja The Braveheart Wilshere tidak mengalami cedera parah dan sanggup melanjutkan pertandingan. Diplotnya striker bertubuh raksasa Carlton Cole semakin memperjelas strategi Fat Sam: hajar, provokasi, cari pelanggaran dan mainkan bola-bola mati. Terlebih Cole tampil sangat baik dalam hal penguasaan bola. Seringkali bola-bola lambung yang dia terima dikuasai sendiri — berbeda dengan Ollie G yang cenderung menjadi papan pantul Arsenal.

Tempo permainan berjalan cukup cepat. Arsenal terlihat shaky menghadapi permainan macam ini. Hal yang saya sayangkan (seperti insiden Le Coq versus Ramires sebelumnya) adalah bagaimana reaksi pemain Arsenal lain saat Wilshere dihajar Collison. Tak ada satu pun pemain yang protes dan memertanyakan wasit atau mengancam Collison. Komentator bahkan sampai ikut mengkhawatirkan hal ini karena mental macam ini berbahaya jika dipelihara.

Juga ada suatu kesempatan dimana vaz Te melakukan tindakan kotor terhadap Per. Dia menginjak tumit Per yang sedang menghalangi bola agar keluar dari lapangan. Kartu kuning layak jadi ganjarannya.

Publik Ashburton Grove pun sontak terdiam kala Collison mampu menjebol gawang Szczesny dari hasil set-piece. Keunggulan mereka tidak bertahan lama karena akhirnya Podolski berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan keras kaki kiri dari luar kotak penalti. Kredit juga patut dihaturkan pada Wilshere yang dengan jeli menyungkil bola melewati 2 pemain West Ham kepada Poldi yang coming from behind.

Pada 25 menit terakhir babak pertama kedua tim saling mengancam lawannya masing-masing. Ada satu peluang dari sundulan Ricardo vaz Te yang masih melambung jauh dari gawang dan sontekan Cole yang masih dapat dihalau oleh….. RAMSEY, FTW! Sayangnya upaya Ramsey ini memberi dampak negatif pada kapten kita Vermaelen. Mereka berdua bersama-sama merasa bertanggung jawab karena kecolongan dan akhirnya malah kaki Ramsey menghantam engkel Vermaelen cukup keras.

Babak Kedua Arsenal Kerasukan Arwah Invincibles

Era dimana dua sayap Arsenal seakan tidak peduli bermain di sisi kiri maupun kanan. Era dimana tiap individu dari barisan penyerang mampu mencetak gol sekaligus menciptakan peluang. Era dimana trisula garda depan Arsenal tampil begitu cair dan cepat. Era dimana mereka mampu memersembahkan trofi khusus edisi emas karena berhasil tampil sepanjang musim tanpa sekalipun kalah.

Itu yang saya lihat di layar kaca semalam. Empat gol terjadi dari sudut dan cara yang berbeda. Sagna yang belakangan tampil muram pun mendadak kembali menjadi Sagna yang kita kenal. This is The Arsenal we used to know. Blimey!

Gol kedua hasil sundulan Ollie G seperti menampar gol West Ham di babak pertama karena gol ini tercipta atas kejelian Theo, Per dan Ollie G dalam merusak sistem pertahanan man-to-man marking West Ham. Per yang sebelumnya berada di sisi kiri gawang Jääskeläinen berhasil menarik Winston Reid yang menjaganya sehingga ruang yang dia tinggalkan mampu diterobos Ollie G sehingga striker rupawan ini mampu menyontek umpan penjuru dari Theo. Sebuah gol yang hanya tercipta melalui ratusan kali praktek kala latihan.

Gol Cazorla beberapa menit kemudian membuat saya kelimpungan memilih siapa yang pantas diberikan kredit lebih banyak. Baik Ramsey, Wilshere, Poldi, Ollie G, atau Cazorla kah yang berperan lebih banyak atas gol cantik ini. Skemanya begini: Ramsey berhasil menghalau bola dari pemain West Ham dan tanpa ba-bi-bu langsung menyodorkannya pada Wilshere. Wilshere lantas memberi umpan mendatar terukur pada Poldi yang dengan sedikit dribel lantas memainkan umpan 1-2 bersama Ollie G (dan Ollie G sudah melakukan hal ini tiga kali! Saat melawan Montpellierre, Swansea dan malam ini. Striker paling flop musim ini di EPL!). Poldi setelah menerima bola lob — yang tak kalah ganteng dengan sang pemberi umpan — tidak menyonteknya langsung ke gawang namun memberi bola pada Santi yang datang dari second line. Apa yang anda harapkan dari umpan semanis itu di tangan penyihir? Tentu keajaiban. 3-1 untuk Arsenal dan Fat Sam makin tidak kerasan berlama-lama duduk di bangku ofisial.

Poldi kemudian berhasil menorehkan namanya sebagai pemain pertama di EPL yang mampu mencetak gol dan memberi tiga assist dalam satu pertandingan. Raihan tiga assistnya ini membuat dia memuncaki tangga pemberi assist terbanyak di EPL untuk sementara. West Ham makin kehilangan arah di saat Arsenal makin semlohay memainkan gaya dan agresi permainan yang telah lama mereka lupakan. Ini adalah pertama kalinya di musim ini Arsenal bermain sebagai kesatuan. Mereka bertahan bersama, menyusun skema penyerangan bersama dan merayakan gol demi gol bersama. Ashburton Grove penuh taburan senyum malam tadi.

Menit pertandingan baru menunjukkan angka 60 dengan skor 5-1 untuk Arsenal membuat kita semua mengharapkan bertambahnya pundi-pundi gol untuk Arsenal. Namun hal itu terpaksa menjadi angan-angan belaka karena pertandingan harus dihentikan akibat terkaparnya pemain West Ham Danny Potts setelah bertabrakan dengan Sagna.

Wasit memberikan tambahan waktu sebanyak 12 menit karena proses antisipasi insiden oleh tim medik berlangsung di lapangan dan membuat pertandingan terhenti cukup lama.

Pujian Untuk Back Four. Bould Effect Perlahan Matang?

Arsenal adalah tim di EPL dengan raihan gol kebobolan karena hasil defensive error terbanyak. 12 buah. Performa para defender menjaga keperawanan gawang Arsenal di tiga pertandingan awal EPL sempat dipuji banyak pihak. Penunjukkan asisten pelatih baru Steve Bould — yg dulunya merupakan anggota tenar pertahanan gerendel Arsenal era 90-an — disinyalir memberi efek positif bagi pertahanan Arsenal yang sejak tujuh musim terakhir tampil memikat lawan untuk bersuka cita membobol gawang mereka.

Namun hal itu hanya berlangsung hingga pertandingan keempat kontra Manchester City. Arsenal kebobolan akibat terlalu keukeuh memakai formula zonal marking: gol pertama yang bersarang ke gawang Arsenal musim ini berasal dari aksi set-piece. Apalagi setelahnya Arsenal bertemu Chelsea dan penyakit kambuhan kembali menjangkiti para bek. Dua gol tercipta dari set-piece.

Ada catatan statistik menarik yang saya petik dari pertandingan semalam:

  1. Berdasarkan data dari WhoScored, Arsenal yang begitu dominan dalam penguasaan bola (69% v 31%) berhasil membuat lima jebakan offside. Saya berkesimpulan selain kreatif dan clinical-nya para penyerang, hal yang membuat West Ham mati kutu adalah: salah satu upaya mereka mencetak gol, yaitu melalui umpan-umpan lambung kerap gagal karena suksesnya jebakan offside ini.
  2. Arsenal tercatat melakukan 16 kali tekel. Hal yang menarik dari hasil akumulatif tersebut adalah fakta bahwa dua centrehalf kita tidak SEKALIPUN melakukan tekel. Ini menandakan ada rasa tanggung jawab di pundak dua bek sayap dan dua gelandang pivot untuk lebih dulu menghentikan pergerakan pemain lawan ketimbang kemudian merepotkan dua centrehalf.

Indikasi ini sangat baik. Perlahan, meski harus menunggu hingga setengah musim, formula Steve Bould yang keras memertahankan sistem zonal marking menemukan titik terang. Tentu kita berharap mereka dapat memertahankannya di pertandingan-pertandingan selanjutnya.

We’ve Found The New Regista in Ramsey

Oke, saya pikir berlebihan jika Aaron Ramsey saya nobatkan sebagai regista* baru di Arsenal. Terlebih ini kali pertama dia mengisi posisi gelandang bertahan dan tidak ada pengatur serangan vokal di Arsenal. Baik Wilshere dan Cazorla bergantian merangkai pola serang Arsenal. Tapi ternyata statistik tidak bisa berbohong. Berikut data yang saya dapat dari situs EPLindex:

Data statistik Aaron Ramsey tadi malam:

  • Passes: 117/123 (95%)
  • Chances Created/key passes: 2
  • Possession Wins: 9
  • Tackles Won: 3/3

Serta visual yang saya dapat dari situs Squawka. (cat: meski ada sedikit perbedaan antara EPLIndex dan Squawka dalam raihan passing Ramsey, visualisasi dibawah menunjukkan bakat ‘regista’ Ramsey):

registaramsey

ramsey heatmap

Dari gambar di atas kamu bisa perhatikan betapa ‘jumawa’ Ramsey menjadi bos di lapangan tengah. Seperti Arteta dia bisa menahan diri untuk tidak mencoba membantu penyerangan. Kita mengenal Ramsey sering melakukan tembakan-tembakan jarak jauh kala beroperasi di sayap atau pun AMF. Ini menunjukkan dua hal positif: a). Dia semakin dewasa dan siap tampil untuk memenuhi kebutuhan tim. Menjadi pengganti Arteta tentu tidak sesuai dengan tabiatnya yang gemar menyerang. Tapi Ramsey, dengan penuh gaya sambil sekaligus mematahkan keraguan para Gooners sukses menunaikan tugasnya dengan baik; b). Meski belum tampil optimal kala bermain sebagai winger, berapa posisi yang pernah Ramsey jalani? Ramsey memenuhi panggilan tim kapanpun diturunkan. Sebagai starter atau sebagai pemain pengganti, mengangguk patuh pada tuntutan dan tuntunan pelatih. Ini menyenangkan. Kita menemukan sosok Ray Parlour baru pada dirinya. Ini juga menenangkan, kelak. I love you, Rambo.

ramseyoioi
Jangan kau layangkan lagi virtual abuse padanya!

Kesimpulan

Hasil positif ini membuat Arsenal tetap menguntit Everton dan Tottenham serta menjauhi Liverpool. Akhir pekan ini kita akan bertandang ke The AMEX Stadium — kandang Brighton and Hove Albion dalam lanjutan kompetisi FA Cup. Tentu jika performa spektakular semalam dapat kembali tersaji akan membuat kepercayaan diri kita lebih tinggi sebelum menjamu Liverpool minggu depan.

Enough for now. Thanks a bunch for reading my craps.

Victoria Concordia Crescit!

* regista adalah istilah bahasa Italia yang disematkan pada gelandang bertahan yang juga berperan sebagai playmaker. Penampilan Andrea Pirlo di AC Milan, Juventus dan timnas Italia sukses menjadi barometer posisi ini.

2 thoughts on “The Arsenal That We Used To Know

  1. dari 27 kali kejebolan di EPL, 12 berasal dari defensive error? bayangkan kalo misalnya back four udah solid. we’re the best team in the world.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s