Arsenal Bermain Tanpa Hati di Pertandingan Derby

BrothersBreaking
BrothersBreaking
Kamu pasti menang jika kamu memang ingin

Melelahkan. Hati dan pikiran.

Saya rasa kita merasakan satu kata itu bersama-sama. Satu kata itu meninggalkan luka. Oh boy, the moment Theo and Jack celebrated that goal. Saya lelah menyalahkan pemain. Apalagi menyalahkan pelatih dan direksi board. Semua serba salah, semuanya salah.

Ramires diragukan menjadi MoTM karena aksi kasar dan — terlihat seperti — diving: tidak sepenuhnya benar.

Where’s the spirit? Where’s the passion? Where are all the requirements you need to show on the pitch. It’s a fucking derby.

Arsenal memulai pertandingan dengan daftar pemain seperti kala tampil melawan Swansea. Sayangnya Lukas Podolski mengalami cedera ringan sehingga tidak dapat diturunkan. Sedangakan Chelsea yang sebelumnya ditahan imbang Southampton tampil dengan kekuatan penuh dimana mereka memainkan kembali Branislav Ivanovic yang tampaknya sengaja disimpan Benitez untuk laga ini.

Kemenangan atas Chelsea di Stamford Bridge akan menjaga kesempatan kita meraih posisi empat besar.

Dan Chelsea bukan tim yang tidak bisa dikalahkan. Karena selama Januari ini pun mereka dua kali kalah dari QPR dan Swansea serta ditahan imbang Southampton.

Menjadi Bengis = Kewajiban, Another Disastrous Performance by Sagna

Sepakbola adalah permainan fisik, saya yakin anda semua paham akan hal itu. Kadang ada fakstor eksternal lain yang membuat permainan 2×45 menit ini menjadi menarik. Sayangnya kedua hal itu tidak terlihat dari permainan Arsenal kemarin. Cederanya Arteta dan Podolski tidak bisa dijadikan alasan bagi pemain untuk berleha-leha. Dan ini pertandingan derby.

Chelsea dan Arsenal memakai pola yang sama, menaruh 5 pemain sebagai gelandang. Dua inverted winger mereka pun –Hazard di kanan dan Oscar di kiri– bertipe sama dengan Cazorla dan Walcott; mengandalkan pace dan link-up play dengan 3 gelandang lain. Praktis kunci pertandingan ada pada 2 pivotal midfielder. Di kubu Chelsea peran itu sukses diemban Lampard dan Ramires. Arsenal menaruh Le Coq dan Diaby. Nama pertama bermain impresif, nama kedua malah sering kelimpungan membantu back four dan kerap mengalami momen ‘absent-minded scientist’.

Pertandingan belum memasuki menit 10 dan Chelsea sudah berhasil membuka keunggulan melalui Juan Mata. Memang sebelum gol itu terjadi ada sedikit insiden — debatable decision — dimana Le Coq yang sedang memegang kendali bola dihajar Ramires sebelum akhirnya bola bergulir ke kaki Azpilicueta. Nama terakhir mengirim bola lambung dengan sangat sempurna yang akhirnya diselesaikan dengan sempurna pula oleh Mata. Tapi kesalahan paling besar ada pada Sagna. Lihat gambar di bawah.

sagnamata2

Ada lima pemain Chelsea yang berada di lapangan Arsenal. Menyusun offside trap akan sangat sulit bagi Per dan Vermaelen karena serangan terjadi mendadak. Sepersekian detik insiden Le Coq-Ramires itu terjadi dan bola tiba-tiba melayang balik ke pertahanan Arsenal. Lihat posisi Sagna. Terlihat begitu ompong. Positioning Per dan Vermaelan sudah tepat (lihat tanda panah) dimana mereka melakukan closing down menutup Oscar dan Hazard.

Jika memang anak-anak Arsenal merasa seharusnya ada pelanggaran, kenapa reaksi mereka begitu hampa? Di tayangan TV tidak ada satu pun pemain melakukan protes memertanyakan keputusan wasit. Where’s the passion for fuck sake? Satu-satunya yang melakukan protes adalah Arsene Wenger jika anda perhatikan.

Kecerobohan Sagna kembali terulang sebelum gol kedua Chelsea. Keputusan wasit juga patut dipertanyakan. Jika memang Szczesny melakukan pelanggaran terhadap Ramires, kenapa tidak diberi kartu merah langsung? Pelanggaran itu terjadi di posisi satu lawan satu. Last man tackle dan menggagalkan gol open play. Tapi ketimbang memertanyakan keputusan wasit, silakan perhatikan lagi dimana Sagna saat pelanggaran itu terjadi.

manasagna

Sebelum Mata mengirim through pass pada Ramires, bola berada di kaki Diaby — seperti kejadian gol pertama tercipta — bola direbut lawan dengan cepat dan dalam sekejap Mata sudah memenetrasi Arsenal di kotak penalti. Padahal Sagna saat bola masih dikuasai Diaby  tidak berada dalam posisi menyerang. Alih-alih berlari dengan sigap menutup atau mengapit pergerakan Ramires, pelanggaran ini mungkin tidak terjadi.

Kecerobohan Sagna kembali terjadi di menit 30-an. Ini sangat fatal karena bermain sebagai wingback di tim seperti Arsenal, dia harusnya paham tugas dia selama 90 menit adalah naik-turun membantu penyerangan dan pertahanan.

Bola berada di kendali Arsenal, Sagna mendapat kesempatan crossing namun — seperti yang kita semua duga — gagal karena membentur pemain Chelsea. Apa yang sepatutnya diperbuat Sagna begitu mengetahui upayanya gagal? Tentu dia harus cepat turun menutup celah yang dia tinggalkan. Tapi, well, just see the picture below.

sagana jalan

Lihat bagaimana Oscar bisa berdiri begitu bebas . Anda tidak salah baca jika saya menulis bahwa Sagna BERJALAN demi menutup sisi kanan pertahan Arsenal. Dia berjalan. Words fail me, I don’t know what to say. Pada akhirnya skema penyerangan ini tidak membuahkan gol karena tendangan Hazard masih jauh dari sasaran.

Positioning Diaby dan Per sudah tepat (lihat tanda panah: arah pemain yang mereka jaga). Sedangakan Le Coq menutup pergerakan Hazard yang sedang membawa bola.

Saya pikir sudah waktunya bagi Arsene untuk kembali memainkan Jenkinson mengingat performa buruk Sagna sejak lawan Southampton (kemenangan 1-0 v Swansea menjadi pengecualian). Salah satu faktor tidak diturunkannya Jenko selain pulihnya Sagna dari cedera menurut saya karena performa buruknya kala Arsenal mengalami kekalahan 0-2 di Ashburton Grove. Tapi kenapa hal itu tidak berlaku pada Sagna? Kenapa hampir semua pemain (selain fullback Per-Verma-Koscielny) seperti mendapat kepastian menjadi starter? Kenapa Andre Santos baru diganti Vermaelen setelah 3 pertandingan tampil buruk?

Seperti anda, saya juga tidak tahu jawabannya.

Seperti saat melawan United, pertandingan babak pertama ini menjadi berat sebelah. Peluang demi peluang yang tercipta tidak berbuah gol. Baik oleh Giroud, Walcott hingga Santi Cazorla. Skema pertahanan Chelsea menjadi 6 pemain dengan 4 di antaranya — Cahill, Ivanovic, Lampard dan Ramires — menyeruak masuk menutup aliran bola di kotak penalti mereka. Taktik ini berhasil karena Arsenal selalu membawa bola hingga sepertiga lapangan lawan tanpa variasi. Tidak ada kerjasama mematikan di kedua sisi sayap. Tidak ada link-up play yang baik antara Cazorla-Gibbs di sisi kiri dan Walcott-Sagna di sisi kanan.

Telat Panas. Arsenal Pikir Mereka United

Pertahanan United sangat buruk tapi mereka selalu mampu balik mengejar ketertinggalan. Bisa dibilang semua klub EPL menyuguhkan pertahan amburadul musim ini menilik data dari WhoScored. Yang membuat tim empat besar mampu meraih poin adalah kemampuan armada serang mereka untuk mengonversi peluang menjadi gol. Di sektor ini Arsenal kekurangan inovasi dan efisiensi — minus pertandingan v Spuds dan Newcastle. Lihat gambar di bawah.

chelseakeypasses
visual diambil dari situs Squawka.com
arsenalkeypasses
visual diambil dari situs Squawka.com

Dari sini kita bisa lihat bahwa dalam pertandingan melawan Chelsea Arsenal praktis mengandalkan through pass untuk menggedor jala lawan. Bandingkan dengan Chelsea yang menghasilkan key pass dari berbagai sektor dan tipe (long ball, low cross dll). Kemampuan Giroud sebagai rebounder Arsenal ketika melakukan flick passes tidak terlihat. Gary Cahill dan Ivanovic sukses memreteli tiap ruang yang Giroud punya.

Giroud bukanlah striker buruk. Dia — meski tinggi besar — tidak melulu mengandalkan postur bongsornya untuk mencetak gol. Tapi ekspresi dia ketika gagal memanfaatkan peluang seharusnya tidak dia keluarkan. Dia harus tampil bengis. Boleh menunjukkan wajah frustasi atau menyesal. Namun bukan berarti dia harus terlihat seperti PNS ter-PHK.

Walcott meski mencetak gol juga bukan tanpa cela. Di beberapa pertandingan terakhir dia kerap mengambil sendiri satu peluang yang andai saja dia berikan ke kawan yang posisinya lebih lowong, akan tercipta gol. Lihat saja pertandingan lawan Swansea. Atau saat kemenangan l6-3 lawan Newcastle. Dia baru memberi umpan begitu berhasil mencetak gol. Walcott seperti menunjukkan bahwa dialah our talisman musim ini. Indikasi ini tidak baik.

Hingga peluit babak kedua berbunyi, skor tidak berubah. Arsenal tidak berhasil mengulang prestasi musim lalu yang berhasil mengubah ketertinggalan menjadi 5-3. Atau saat Kanu beraksi heroik dengan hattricknya merubah kedudukan 2-0 menjadi 2-3.

Afterall, besok kita akan menjamu West Ham di Ashburton Grove. Kemenangan atas The Irons akan membuat kita terus menguntit Everton (selisih 1 poin) dan menjauhi Liverpool (unggul 3 poin).

Sampai nanti. Thanks for reading it. Come on, Arsenal!

720363261

2 thoughts on “Arsenal Bermain Tanpa Hati di Pertandingan Derby

  1. tambahan mate,sagna selain defendingnya ngaco,crossingnya juga buruk..kalo bola crossing ga ngenain pemain lawan..ya pasti arahnya ga karuan.Jenkinson punya jiwa yang ga kalah kayak JW,harusnya dia yang main,dia.yang mau bersungguh-sungguh,someone who love this club *cheers*

    Like

    1. ingat blunder Jenkinson waktu Arsenal kalah sama Swansea di Emirates? Arsenal krisis right back kompeten. kalo bukan Sagna yang berpengalaman jadi starter, siapa lagi? CMIIW

      Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s