FA Cup Replay: Arsenal – Swansea, Harapan Terakhir?

Not a party pooper, just shows you how shit our defence is

Here we go again. Setengah Januari sudah berjalan tanpa ada sinyal pasti siapa yang akan dibeli Arsenal, Theo yang masih saja enggan membubuhkan tanda tangan di kontrak baru, serta kekalahan terakhir atas Manchester City. Damn you, Koscielny. 2013 berjalan tanpa satu kemenangan pun berhasil Arsenal raih. Saat Danny Graham berhasil menceploskan bola guna menyamakan kedudukan. Fuck sake, Arsene. Why are you doing this to us? Jadwal Januari yang memang sudah ketat (v City, Chelsea dan Liverpool) bertambah mengkhawatirkan karena harus menjalani partai ulangan FA cup melawan Swansea. Belum lagi pertandingan boxing day melawan West Ham. Saking kadung Arsenalnya, sempat terbersit di pikiran bahwa dari semua laga itu, maksimal kita hanya bisa menang lawan Liverpool (“you’re just a spuds of merseysiidee..”) dan West Ham.

fixture
Januari kelabu?

Orang bijak bilang agar kita mengejar cita-cita setinggi langit. Namun orang bijak tidak hidup di era sepakbola modern dimana income, revenue, hak siar TV, slot liga Champions punya andil besar dalam menentukan arah suatu klub. Swansea adalah klub hebat. Michael Laudrup dalam 10 tahun ke depan akan menjadi salah satu pelatih yang diperhitungkan di kancah sepakbola. Penunjukkannya sebagai pengganti Brendan Rodgers oleh manajemen Swansea patut diacungi jempol mengingat banyaknya darah Spanyol di klub itu. I don’t think I have to explain the brilliance of Michu. Three goals under his name against us so far.

Di Twitter saya pernah bilang bahwa Arsenal harus mempertimbangkan FA Cup dengan serius. Bukan hanya karena kompetisi ini satu-satunya ajang paling memungkinkan bagi Arsenal untuk menang, tapi juga atas pertimbangan fundamental lainnya. Arsenal sejak pindah ke Ashburton Grove dari Highbury bagai melihat tim balap di Formula 1. Tiap musim tim-tim balap selalu mengadakan perombakan. Inovasi teknologi baru, tim mekanik baru, sponsor baru, namun jarang sekali –terutama tim-tim balap besar–mengganti pembalapnya. Sosok yang mengemudikan mobil berlaju kilat tersebut. Pengemudi tim balap Arsenal adalah Arsene. No need to argue. Several names leaving clubs, I don’t need to remind you which are those names.

Tidak ada satupun skuad di Arsenal sekarang yang pernah memenangi piala. Jika membangun tim dengan mental juara saja sudah sangat sulit, apalagi ditambah dengan kenyataan selalu ada perombakan di skuad Arsenal tiap musim. Menyedihkan tapi itulah kenyataanya. Pembelian Lukas Podolski dan Santi Cazorla merupakan langkah jitu untuk membangun tim juara ini. Nama pertama sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kiprahnya bersama timnas Jerman. Sedangkan nama kedua, meski bukan pemain inti di timnas Spanyol adalah pemegang medali emas Piala Dunia dan Eropa. Tendensi Arsene untuk membangun skuad hasil binaan akademi berdarah Inggris butuh waktu dan hadirnya pemain senior seperti Arteta, Podolski dan Cazorla akan membuat skenario itu berjalan mulus. Jika Theo akhirnya memperpanjang kontrak dan tidak ada satupun pemain skuad inti sekarang yang pindah, maka tim ini akan menjadi tim yang solid. Mereka membutuhkan chemistry. Sejauh ini tiga rekrutan anyar tidak mengalami kendala berarti dalam mengadaptasi sepakbola Inggris. Yang mereka butuhkan sekarang adalah menang bersama-sama, laga tiap laga, dan menangis bersama. Seburuk apapun kekalahannya. Rome wasn’t built in a day, mind you.

Empat Pertandingan Melawan Arsenal Tanpa Kalah Adalah Prestasi, Chico dan De Guzman adalah kunci

Yes. Ini yang membuat saya khawatir di pertandingan ulangan malam nanti meski berlangsung di Ashburton Grove. Rekor ini akan menjadi doping, ditambah prestasi mereka mengalahkan Chelsea 2-0 di Stamford Bridge di leg pertama semifinal Capital One Cup yang membuat publik berharap mereka mampu menginjak Wembley di final.

Swansea adalah Spanyolnya EPL sebagaimana dulu Arsenal kerap disebut The Gallic Arsenal. Filosofi ini tidak datang dalam satu malam (baca: semenjak kedatangan Laudrup) tapi juga mengakar sejaki era Roberto Martinez dan Brendan Rodgers–kini keduanya melatih Wigan dan Liverpool.

Sejak musim lalu Swansea mendapat banyak simpati dari publik berkat sajian sepakbola tiki-taka kolektif yang diperankan oleh aktor-aktor tak terduga/antah berantah. Duet pivotal-midfielders Sigurdsson dan Joe Allen boleh saja pergi, tapi Laudrup menggantinya dengan Jonathan de Guzman dan Michu. Nama terakhir jadi primadona EPL kini, sedangkan nama pertama meski tak sementereng Michu memegang peranan penting dalam mengakomodir aliran bola dari Leon Britton. Pemain pinjaman asal Villareal ini seperti melengkapi peran Sigurdsson musim lalu dengan menjadi gelandang komplit yang tak hanya mampu bertahan tapi juga menciptakan peluang.

Grafis statistik di bawah sedikit menjelaskan krusialnya peran de Guzman, goal-getting wise:

Michu dengan peran gelandang anomalinya memang merupakan goalscorer hebat, tapi dia hanya menciptakan sedikit peluang jika dibandingkan de Guzman. De Guzman mampu menciptakan 30 peluang dengan 4 assist dan 25 key pass, dimana Michu ‘hanya’ mampu membuat 1 assist dan 21 key pass (23). Ini tidak lantas membuat peran Michu insignifikan karena ternyata ia mampu menjadi kunci Swansea dalam menciptakan gol karena kerjasama keduanya saja cukup mematikan. Ditambah lagi duet sayap Swansea Wayne Routledge dan Pablo Hernandez juga cukup tajam. Bayangkan: dari 31 gol yang dicetak Swansea di EPL, hanya 3 gol yang mampu diceploskan lone-striker mereka, Danny Graham.

De Guzman juga sukses dalam duel perebutan bola. Mengambil data dari WhoScored, sepanjang EPL musim ini dia berhasil melakukan 28 tekel (1.3 per laga), 16 intercept (0.8 per laga), 14 clearences (0.7 per laga) dari 17 laga yang dia mainkan. Terdengar seperti sosok box-to-box midifielder idaman Arsenal bukan?

Seperti yang telah saya tulis diatas, maka julukan Swanselona menjadi label atas mereka. Pola permainan yang mengandalkan penguasaan bola dan fluid-nya poros tiga penyerang ini sebelumnya dan hingga kini diadopsi Arsenal, dan mencapai kesempurnaan di tangan anak-anak Barcelona. Namun bertolak belakang dengan tim Katalan itu, Arsenal kehilangan kunci dalam menjaga ritme di tengah mengingat rapuhnya kaki Diaby. Kapan double pivot Diaby-Arteta menunjukkan potensi paling jelas? Tonton pertandingan Liverpool-Arsenal musim ini dan anda akan temukan jawabannya. Duet Cazorla-Wilshere memang memanjakan mata, tapi jika terus-terusan membiarkan Wilshere seenaknya menjelajah di final third lawan hanya membuat Arteta kelimpungan.

Apalagi Arsenal adalah tim terunggul di EPL dalam hal kebobolan akibat defensive-error. Entah apa yang terbersit di benak George Graham kala menyaksikan tim yang pernah ia tangani dan dijuluki ‘Boring, boring Arsenal’ karena kedisiplinan barisan belakang dalam menjaga kesucian offside trap.

Hebatnya lagi, jika De Guzman cedera Swansea masih memiliki eks Glasgow Celtic Ki Sung-Yueng. Di pertandingan lalu Laudrup memilih mengganti De Guzman ketimbang Ki untuk memasukkan Michu karena peran Michu sebagai goal-getter. I repeat: bukan karena De Guzman tampil buruk, melainkan Swansea butuh inspirator dalam mencetak gol dan terbukti Ki mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Bonus: Ki adalah pencentak gol penting kala membela Celtic dan ia bisa menjadi alternatif saat Laudrup mengalami deadlock. Meski belum memberi assist atau gol, dari 13 kali tampil di pertandingan EPL Ki mampu menyuplai 19 key pass.

As much as I praise their possesion football, saya harus memberi kredit khusus pada Jose Manuel Flores aka Chico. Centre-half gondrong yang juga berasal dari Spanyol. Bukan hanya karena ratingnya paling tinggi diantara pemain Swansea lain merujuk situs WhoScored. Mengandalkan possesion football akan terlihat sia-sia jika tidak mempunyai penyerang clinical dan pertahanan tangguh. Lihat Arsenal dan Liverpool. Chico sebagaimana Puyol di Barcelona juga mampu menekan lawan dengan melakukan dribble. Bek dengan daya jelajah tinggi akan menghadirkan mimpi buruk bagi siapapun karena memberikan banyak ruang terekspos akibat surplus pemain di barisan pertahanan mereka. Chico memiliki torehan 60.8 passes per game dan persentasi kesuksesan passingnya mencapai 90.4%. Per Mertesacker memang lebih unggul dalam persentasi passing yang sukses (92.1%), tapi semua itu terangkum dari 55.9 pass/game dimana Chico jauh lebih unggul.

Sementara itu dari kubu Arsenal…

Selain Koscielny yang harus menjalani hukuman, Arsene mengonfirmasi bahwa Arteta dan Rosicky juga tidak bisa tampil. Arteta adalah metronom. Unsung hero. The one who does every dirty job on every game. Dalam situasi serupa Januari musim lalu, Arteta juga cedera dan Arsenal mengalami tiga kekalahan di EPL (v Fulham, SWANSEA dan Man. United).

Arsene selain mengonfirmasi kondisi cedera Arteta juga menegaskan pentingnya sosoknya di lapangan:

He (Arteta) has a scan on Monday, (He will be out for) approximately three weeks. It is a strain on his calf. In midfield he gives us stability, experience and tactical knowledge. We will miss that.

Catatan Arsenal musim lalu jika bermain tanpanya juga mengerikan: tidak pernah menang dari 8 pertandingan (kalah 4, seri 4). Arsenal dengan kehadirannya saja musim ini gampang oleng. Apalagi jika dia absen?

Oleh sebab itu tadi sore saya sempat melontarkan dinamika tanpa Arteta ini di Twitter. Siapa yang–tidak hanya pantas–tapi juga kapabel dalam mengisi pos yang ditinggal Arteta?

Sepakbola bukanlah matematika dan kita tidak bisa mengandalkan catatan statistik dalam menganalisa apa yang akan dan telah terjadi di lapangan. Namun hal ini kadang menjadi penting menjadi tolak ukur dan, ehm.. senjata para jurnalis untuk memperkuat argumennya.

Berikut perbandingan statistik antara Diaby, Ramsey dan Coquelin:

  • Apps: 7-14-10
  • Tackle/game: 1.9-1.7-1.3
  • Intercept/game: 1.9-0.8-1.2
  • Success pass (%): 86.8-85.1-83.7
  • Average passes: 60.9-35.4-21.8
  • Key passes (average per game): 8(1.1)-19(0.6)-1(0.1)

Apa yang bisa dipetik dari statistik di atas? Tidak ada. Bagaimana mungkin membandingkan tiga pemain yang jarang menempati pos Arteta. Diaby baru kembali dari cedera sejak terakhir memerkuat Arsenal saat melawan Chelsea, Coquelin jarang dimainkan (lebih sering turun dari bangku cadangan), sedangkan Ramsey lebih sering diplot Arsene sebagai sayap. Tapi diantara tiga pemain itu saya dengan terpaksa memilih Ramsey karena alasan emosional dan momentum.

Secara emosional Ramsey adalah satu dari lima pemain Britania yang baru saja memerpanjang kontrak dengan Arsenal. Duetnya dengan Wilshere akan menjanjikan kekompakan dan saling pengertian. Secara momentum, ini akan menjadi starter dimana Ramsey diplot di posisi alaminya, gelandang. Ada asumsi yang mengatakan bahwa kengototan Arsene menempatkannya di sayap adalah upaya untuk meningkatkan positioning awareness dia yang akan berguna di tengah. Posisi sayap adalah lini dimana para pemain mengandalkan sempitnya ruang untuk mengeksplor pertahanan lawan. Maka kecepatan dan kemampuan dribel menjadi syarat utama di posisi ini. Jika di sayap Ramsey mampu beradaptasi, maka ketika diturunkan di posisi alaminya dia akan lebih mampu mengeksploitasi ruang sempit dari sebelumnya. Mau bukti? Tidak usah jauh-jauh. Peluang terbaik Arsenal saat menghadapi City hari Minggu lalu tercipta dari kejelian Ramsey mengirim umpan terobosan kepada Theo. Sebuah kesempatan yang jika tidak dihalau Lescott akan menjadi salah satu gol terbaik Arsenal musim ini.

Di pertandingan terakhir saya mengritisi performa Sagna yang jauh dari kita harapkan dan seperti anda semua, saya merindukan Jenkinson. A gooner who becomes gunner. Gonjang-ganjing kontrak kerap membuat Arsene ‘terpaksa’ membuat kebijakan guna mencegah pemain yang bersangkutan meninggalkan Arsenal. Masih ingatkah anda dengan keputusan Arsene menjadikan Fabregas kapten? Keputusan yang hanya sanggup mencegahnya setahun sebelum akhirnya kembali berlabuh ke Barcelona.

Apalagi dengan catatan keunggulan Arsenal dibanding tim EPL lain dalam hal kebobolan dari hasil defensive error, 12 gol, Sagna menyumbang empat alias sepertiganya! Bac adalah salah satu bek kanan paling konsisten di EPL musim lalu, tapi jika Arsene berani menggantinya dengan Jenkinson, akan memeberi impresi siapapun tidak puna jaminan bermain selama dia tidak memberikan yang terbaik untuk tim.

Poros trisula serang Podolski-Giroud-Arteta harus dimainkan untuk memertegas harapan saya bahwa Arsene mengambil serius ajang FA Cup untuk memupus keraguan fans. Apalagi ajang sepakbola tertua di dunia ini kini berumur 150 tahun. Menjadi keistimewaan tersendiri jika Arsenal yang berhasil merengkuhnya.

Kesimpulan
Both team will play “you play high we fight higher, you score 2, we score 3” kind of game. Joy to watch, destructive defending. So the key lies on both teams goalscoring ability. Defenders should keep their eyes open in 90 minutes, no time for complacency/defensive error.

Till next time & Up the Arsenal!

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s