Tahta Raja Highbury: There Was Charlie Before Henry

Pernah berfikir kenapa orang Prancis itu tidak dijuluki King of Highbury?

Charlie+George+Arsenal

“And Charlie George isn’t ordinary. At the age of 13 I knew I was going to be a great footballer. It was a question of who was going to be the lucky club to sign me. That’s the way I thought about my life in those days*”

Dalam sepakbola modern, ucapan di atas bahkan dianggap arogan untuk seorang Lionel Messi. Apalagi kalimat tersebut keluar dari bocah berumur 20 tahun. 20 tahun dalam standar pemain sepakbola adalah bambu muda atau kita kenal rebung yang hanya bisa dijadikan sayur.

Tapi ucapan di atas keluar dari mulut Charlie George. Tokoh ikonik dalam sejarah Arsenal. Karena golnya ke gawang Liverpool-lah yang membuat Arsenal meraih gelar ganda untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di Islington era itu para gadis memujanya, para bocah lelaki mengikuti selebrasi “I’m the king of Highbury”** saat mereka mencetak gol di pertandingan sepakbola jalanan. Charlie George adalah pengejawantahan semboyan “raih cita-citamu setinggi langit”. Dan nama George kerap didengungkan ibu-ibu di London Utara pada bayi lelakinya hingga kini. Highbury adalah singgasananya. Meski kita, penggemar Arsenal Indonesia lebih mengenal satu raja bernama King Henry.

Kualitas Mengalahkan Kuantitas

Lahir dan besar di Islington, Charlie kecil menonton pertandingan Arsenal di Highbury (yang hanya berjarak 2 menit dari rumahnya) sejak berumur 5 tahun. Meski sempat ditawari West Ham untuk bergabung ia akhirnya masuk ke dalam Arsenal Academy enam tahun kemudian. Charlie meneken kontrak profesionalnya bersama Arsenal saat berumur 16 tahun, di bulan Mei 1966. From a Gooner became Gunner.

“Three-and-a-half years later I had gone from standing there shouting out the players’ names to actually playing with those guys”

Ucapnya pada BBC kala itu.

”This boy could be the King of Highbury in five years,” kata kiper legendaris dan juga rekan setimnya Bob Wilson. Di musim pertamanya ia berhasil mencetak 15 gol dan mempersembahkan European Fairs Cup – kompetisi 2nd tier UEFA yang sudah dihapus, dan mengakhiri 17 tahun puasa gelar Arsenal. Andaikata selama itu Arsenal menjalani tahun-tahun tanpa trofi di era 90-an, penggemar Arsenal di Indonesia mungkin tak sampai seratus.

Sepanjang karir ia bermain sebagai striker ataupun inside forward***. Tubuh jangkung, rambut gondrong sebahu dan jambang lebat membuat sosoknya begitu mudah dikenali.

Charlie George bukanlah striker bertipe bomber seperti Ian Wright atau Thierry Henry. Torehan golnya untuk Arsenal ‘hanya’ 49 gol dari 179 pertandingan. Ia tak termasuk dalam laskar agung Arsenal Centurions, pemain-pemain yang berhasil menorehkan 100 gol untuk Arsenal. Prestasi yang bahkan bisa diukir Robin van Persie si pecundang tak tahu diri.

Ah, apalah arti ratusan gol jika kau tak sanggup mempersembahkan satu piala pun untuk klub yang kau bela? Apalah arti gol-gol itu dibandingkan gol Charlie ke gawang Liverpool di Wembley, 8 Mei 1971? Gol yang memastikan Arsenal meraih gelar ganda setelah lima hari sebelumnya menjadi juara Liga Inggris?

Hidupnya glamor, gayanya di dalam dan di luar lapangan flamboyan. Ringkasnya, ia penggemar tiap inchi riak kehidupan yang wajib disyukuri baik dan buruknya. Ia selalu riang gembira saat rekannya mencetak gol. Seperti saat pertandingan melawan Chelsea di minggu-minggu terakhir Liga Inggris musim 70/71.

Ia memberikan dua assist dan setelah pemain yang dia layani menceploskan bola ke gawang lawan sontak ia hampiri, peluk dan mengacungkan tangan ke udara. Dari cuplikan video ini anda tahu ada keriaan di tiap selebrasi khas Charlie. Selebrasi seorang pemenang. Selebrasi yang sama juga ia lakukan saat Arsenal menjamu Manchester United. 24 Agustus 1973

Juga selebrasinya saat melawan Manchester City, 24 Maret 1973, lihat bagaimana ia melambaikan tangan dan melayangkan kecupan untuk suporter away Arsenal hari itu.

Sayang seribu sayang. Prestasi heroik Charlie di dua musim pertamanya bersama Arsenal merupakan prestasi terbesarnya sebagai pesepakbola. Ia mengakrabi hantu cedera dan kerap bermasalah dengan temperamen serta hobinya berselisih dengan pelatih. Bertie Mee, pelatih Arsenal saat itu sudah sangat sabar membimbing pemain yang bisa saja menjadi one of the greatest. Perselisihannya dengan Don Revie, pelatih timnas Inggris, membuat dirinya hanya sekali membela The Three Lions. Tepatnya 60 menit saat Inggris menjamu Republik Irlandia.

Ia menolak godaan Spu*s dan lebih memilih bergabung dengan kekuatan besar sepabola Inggris saat itu, Derby County yang baru ditinggal Brian Clough. Meski tak mampu meraih gelar apapun, selamanya ia akan dikenang publik The Rams melalui hattrick-nya ke gawang Real Madrid.

“I was a scorer of a great goals not a great goal scorer”, katanya mencoba merendah.

Seorang gadis tak akan lupa pria pertama yang mencium bibirnya. Seorang bocah lelaki sampai kapanpun akan mengingat perkelahian satu lawan satu pertamanya. Charlie ditakdirkan menjadi kreator gol-gol cantik maupun penentu. Hal yang membuat namanya menjadi folkore di London Utara sana.

“As a boy he watched his heroes at the North Bank. As a man he left the terraces, entered the pitch and became a hero himself. Charlie George, the king of Highbury, the scorer of a goal that clinched the double”

Kalimat di atas diucapkan presenter di video penasbihan figur Charlie sebagai salah satu dari 32 pemain yang diabadikan lukisnnya di dinding luar Ashburton Grove.

So You Want to be a Rock and Roll Star?

“The price you paid for your riches and fame/was it all a strange game?/you’re a little insane/the money, the fame, the public acclaim/don’t forget what you are/you’re a rock ‘n’ roll star!”

merseybeat-gunners
Okay, Graham. You play Ringo I play Paul. Let’s mock them Spurs of Merseyside

Jalanan menyanyikan namanya. Suporter membuat lagu-lagu untuk memujanya****.

Sebagai rockstar hidupnya selalu diselimuti desas-desus. Ia pernah berkata pada wartawan bahwa perasaan di soraki oleh pendukung Arsenal di Highbury melebihi perasaan saat berhubungan seks. Atas dasar itu mungkin selebrasi gol Wembley-nya dituturkan ‘rakyat’ Arsenal ia lakukan dalam keadaan — maaf — penisnya ereksi. Hal yang ia tangkis berkali-kali di media; bahwa ia sudah terlalu lelah bermain 120 menit, bahwa selebrasi serupa telah ia lakukan di ajang yang sama musim itu melawan Manchester City.

Charlie memaknai betul perannya sebagai ‘wakil rakyat’. Ialah sang terpilih dari ribuan bocah London Utara lain yang akhirnya bisa membela mereka di atas lapangan. Ia tak segan-segan mengonfrontasi wasit, meninju hingga menanduk pemain rival hingga hidung pemain tersebut bercucuran darah, melayangkan simbol V***** terhadap suporter Derby County dan tak lupa memrovokasi Gooner di stadion untuk bersorak lebih keras lagi.

Saat masih menjadi pemain reserve dia pura-pura sakit agar bisa menyaksikan laga FA cup tim senior  di Bristol.

Charlie punya kharisma untuk memikat hati Gooner.

Lahir dengan wajah rupawan menjadi nilai plus baginya untuk memikat para gadis.

‘I was always impressing the girls. That used to make me feel big. I wasn’t quite a juvenile delinquent but very near it”

Saat tampil di hadapan publik bersama kekasihnya Susan Farge, mereka berdua tak ada bedanya dengan George Harrison dan Pattie Boyd. Mengenakan busana terkini dangan aura selebritas tingkat tinggi.

Ingat jaman itu pesepakbola adalah pesepakbola. Mereka tidak bergaji £100.000/pekan. Mereka tidak sibuk berkeliaran di catwalk atau membintangi produk perawatan tubuh. Mereka belum kenal istilah diving, berjibaku di lapangan becek dengan tingkat kekerasan tinggi – yang akan membuat Luis Suarez meraung-raung jika karirnya ditukar ke era itu.

Ucapan Brian Clough pada anak-anak Nottingham Forest bisa menjabarkan arena pertarungan sepakbola jaman tersebut,

“Tear into the cunts. Don’t let these wankers get the better of you. Now go out there and beat them. Otherwise I’ll kick your bollocks into touch”

Sosoknya yang banyak tingkah — baik di luar dan dalam lapangan — menjadi anomali saat itu. Bersama George Best dan Rodney Marsh, status pesepakbola sebagai selebriti telah mereka arungi sebelum Beckham membintangi Brylcream. Best dan Marsh, saking ikoniknya di Manchester, figur foto mereka bisa dilihat di album pertama Oasis Definitely Maybe. Band asal Manchester lain serpihan Joy Division yang ditinggal mati vokalisnya, New Order, bahkan merekam lagu berjudul Best and Marsh. George Best – saking ngartisnya – kerap dijuluki The Fifth Beatle.

Sebelum Chris Waddle dan Glen Hoddle tampil bergaya new romantic sambil menyanyikan lagu mereka di acara TV Top of the Pops , Charlie lebih dulu melakukannya. Lagi-lagi gosip yang katanya kalau digosok makin sip, ia diberitakan akan banting setir jadi penyanyi mengingat karirnya yang jeblok di Arsenal.

“Some bloke came up to me one time and said, “You could be a pop star, Charlie. Like Marc Bolan or one of that lot. Let’s make a record.” So we did. It was called A Love Song For My Lady. Bit of a romantic number you might say”

Kelakuan non-sepakbola di atas yang ia lakukan tak pernah ia sesali. Publik Highbury akan selalu mengenang aksi serta pengabdian raja mereka. King Charlie.

Refleksi Selebritas Terhadap Loyalitas dan Harapan untuk The Next Charlie George

Saya selalu menyematkan gelar raja pada Thierry Henry. Dengan segala trofi dan gol yang ia persembahkan untuk Arsenal, selebrasinya ke suporter Spu*s yang dijadikan patung di pelataran Ashburton Grove, gol terakhir di Highbury sekaligus selebrasi sujud penghormatan atas rumput stadion itu..

Omong kosong dan tak akan berujung jika memperdebatkan mana yang layak menjadi Raja Highbury sesungguhnya. Pertama, saya dan juga anda belum hidup dan siaran EPL baru hadir di negri ini pertengahan 90-an, tidak memungkinkan untuk menjadi suporter Arsenal era Charlie George (kecuali anda berumur 52 tahun dan lama tinggal di Inggris). Kedua, Thierry Henry is simply better than Charlie.

Namun ada alasan kenapa kita tak menemukan julukan King of Highbury kepada Henry.

Charlie George is the never dismantled king and at Highbury lies his throne.

Jika boleh saya menyimpulkan, pesepakbola adalah publik figur. Kepada mereka harapan dan doa dipanjatkan. Kepada mereka juga terlampiaskan segala makian dan cercaan. Seperti halnya penyanyi dan bintang film, cemooh dan pujian akan dihaturkan atas prestasi dan karya mereka. Menjadi anti-thesis jika kita coba memaknai arti publik figur double-standard seperti Charlie George, George Best, Rodney Marsh atau musisi seperti Liam Gallagher, Pete Doherty dan Rhoma Irama.

Nama-nama musisi yang saya sebut tadi tidak hanya terkenal akan karyanya. Tapi juga segala tingkah polah mereka di kehidupan nyata. Kita manusia biasa menjadikan sepakbola dan musik sebagai sarana eskapis. Keluar dari rutinitas hidup normal yang membosankan dan penuh aturan. Kadang kita ingin berteriak ‘Toniight.. I’m a rock and roll star” sambil berjalan penuh kesombongan sehabis mendengar lagu Oasis, lain waktu kita mengikuti selebrasi khas pemain idola masing-masing di lapangan futsal atau ketika nobar. Sepakbola dan musik telah menjadi produk budaya populer yang bisa dinikmati dengan sentuhan jari.

Usia muda dengan talenta di atas rata-rata menjadikan mereka kerap kali sesumbar. Kau tentu ingat masa-masa Jack Wilshere masih aktif berkicau di akun Twitter-nya. Jujur, provokatif dan tanpa tedeng aling-aling saying what he likes.

Kita tak merasakan momen ‘Gooner-became-Gunner’ era Charlie George dan David Rocastle. Tapi jika kau mendukung Arsenal era awal siaran Premier League di Indonesia, kau adalah orang yang beruntung bisa menyaksikan gol Ray Parlour ke gawang Chelsea di final piala FA. Jika saat itu belum mengerti sepakbola, panjatkanlah doa agar pemain seperti Carl Jenkinson dan Jack Wilshere akan memimpin masa-masa jaya Arsenal 3-5 tahun ke depan.

Charlie George saat ini selain mengelola pub juga menjadi pemandu tur di Ashburton Grove. Dia kembali lagi menjadi Gooner, supporting Arsenal from the terraces..

Up The Arse!

Pernah berfikir kenapa orang Prancis itu tidak dijuluki King of Highbury?
Pernah berfikir kenapa orang Prancis itu tidak dijuluki King of Highbury?

* http://arsenalonetwofive.files.wordpress.com/2012/04/086-1971-08-21-parade-02.jpg?w=500&h=865

** selebrasi ini begitu ikonik. Bisa dilihat dalam budaya pop di film Fever Pitch (1997) saat Paul Asworth kecil mengikuti selebrasi Charlie saat bermain bola di jalan. Film yang diangkat dari novel ini wajib kau tonton

*** inside forward adalah posisi yang jamak dipakai dalam sepakbola jaman itu. Simpelnya, inside forward adalah posisi trequartista Del Piero di Juventus, namun dalam implementasinya selalu ada dua inside forward (kanan dan kiri) di tiap tim. Mereka adalah gelandang serang sekaligus penyerang lubang untuk membantu kinerja striker dan tidak berkewajiban melepas crossing

****sejauh ini saya telah menemukan tiga lagu yang dikarang fans untuk Charlie George: 1) Charlie George Calypso oleh Steven North & The Flat Back Four, 2) I Wish I Could Play Like Charlie George oleh The Strikers dan 3) The Only Cockney Rebel That Ever Meant a Thing for Me was Charlie George oleh Halftime Oranges

***** melayangkan simbol V dengan telapak tangan menghadap muka adalah sebuah penghinaan. Baca selengkapnya disini http://www.massey.ac.nz/~wwpubafs/magazine/2002_Nov/stories/questions.html

One thought on “Tahta Raja Highbury: There Was Charlie Before Henry

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s