Arsenal’s 2012-2020 British Core: Mencuri Masa Depan

Arsenal All-Brits Famous Wonderwall
Arsenal All-Brits Famous Wonderwall

Sekitar jam 10 malam tadi beredar kabar di Twitter dari akun @jeffnorthlondon bahwa Arsenal akan mengumumkan berita ‘penting’ pada pukul 3 sore waktu Inggris (10 malam waktu Indonesia).

Muncullah beragam asumsi dari para ‘expert’ Arsenal di Twitter tentang berita tersebut.
Pengumuman kontrak baru Theo Walcott? Perekrutan amunisi anyar? Macam-macam.

Lantas di jam yang sudah dibocorkan itu Arsenal memunculkan berita di website bahwa mereka akhirnya memperpanjang durasi kontrak lima pemain muda mereka yang kebetulan produk asli Inggris.

Arsenal Football Club is delighted to announce that five of its young internationals have today signed new long-term contracts.

The quintet of Kieran Gibbs (23), Carl Jenkinson (20), Alex Oxlade-Chamberlain (19), Aaron Ramsey(21) and Jack Wilshere (20), who are all full internationals, and between them have already made more than 350 first-team appearances for the Gunners, have all committed their long-term futures to Arsenal.

Penggemar Arsenal boleh kecewa karena drama kontrak Theo Walcott masih bersambung. Tapi selain membentuk opini publik dengan headline bombastis, ada nilai yang lebih fundamental dari perpanjangan kontrak pemain-pemain tersebut.

Berakhirnya masa romantis French Connection

Di awal kepelatihannya di Arsenal, Arsène Wenger merekrut pemain-pemain Prancis yang kelak meraih banyak gelar. Patrick Vieira di musim pertamanya, Nicholas Anelka dan Emmanuel Petit (1997/98) serta Thierry Henry — yang sedang flop di Juventus — di musim 1999/2000.

Ini adalah keputusan breakthrough karena memang formula ini berhasil mendatangkan banyak gelar. Langkah Arsène merekrut pemain-pemain Prancis ini menjadi visioner karena saat itu format Premier League (baca: komersialisasi/globalisasi) baru berjalan beberapa tahun dan dia bisa melihat bahwa beberapa tahun ke depan liga ini akan menjadi yang terbaik dan berimbas pada beberapa langkahnya di bursa transfer.

Premier League dengan jaringan SkySports-nya pun menjadi liga terdepan di antara liga-liga Eropa lainnya. Hasilnya investor asing pun berdatangan mulai dari Rusia (Chelsea), Thailand (Manchester City), Amerika (Manchester United dan Liverpool), Timur Tengah (Manchester City dan Arsenal) hingga Malaysia (Queens Park Rangers). Kedatangan pemain-pemain asing juga tidak terbendung termasuk talenta pemain-pemain asal Afrika.

Inilah yang membuat basis French connection ini menjadi krusial karena mayoritas negara Afrika menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi.
Cesc Fabregas dalam sebuah wawancara pernah berujar kalau dia mengalami kesulitan saat tiba di Arsenal pertama kali karena harus belajar bahasa Prancis mengingat banyaknya pemain Afrika disana.
Jadi saat itu Arsenal bisa menciptakan keharmonisan meski dihuni banyak pemain non-Inggris karena faktor komunikasi tadi.

Namun tentu ada saja komentar negatif media tentang internasionalisasi skuad Arsenal saat itu. Arsène dikecam tidak memberi kesempatan bagi talenta muda Inggris di Arsenal dan seolah-olah menjadi yang terdepan dalam menghambat karir mereka.

Kecaman ini makin memuncak pada tahun 2005 (pertandingan melawan Crystal Palace) saat Arsenal menjadi tim pertama di Premier League yang menurunkan skuad yang dihuni oleh 16 pemain asing (tanpa satu pun pemain kelahiran Inggris).

Well, Arsène bukannya tidak mencoba karena sebelum itu pun dia sudah merekrut pemain lokal seperti Francis Jeffers atau memprosikan pemain asli Arsenal Academy seperti Ashley Cole, Jermaine Pennant hingga David Bentley.

Memang, nama-nama pemain Inggris tadi pada kenyataanya menjadi pemain gagal atau kalah bersaing dengan pemain asing.
Mmm, maaf. Ashley Cole menjadi pengecualian karena dia akhirnya berlabuh ke Chelsea demi siraman jutaan pounds fulus Abramovich.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga pemain Inggris mengingat regulasi UEFA & FA yang mewajibkan klub untuk menyertakan pemain-pemain berstatus homegrown player di skuadnya. Pasar menjadi tidak masuk akal kerena agen-agen pemain pun menaikkan harga pemain-pemain Inggris. Nama-nama seperti Wayne Bridge, Adam Johnson, Andy Carrol, Charlie Adam, Steven Downing menjadi tidak wajar jika dibandingkan dengan performa mereka di klubnya masing-masing.

Warisan Terakhir Arsène Wenger?

Disadari atau tidak, Arsène berhutang besar pada para pendahulunya terutama George Graham yang membina akar Inggris di skuad yang dia warisi seperti boyband “Arsenal Famous Wonderwall” yang beranggotakan David Seaman, Martin Keown, Tony Adams, Steve Bould, Lee Dixon dan Nigel Winterburn serta gelandang enerjik Ray Parlour.

Ibaratnya Arsenal adalah hotel bintang lima di Qatar yang merekrut banyak tenaga kerja asing — baik yang ahli maupun pekerja kasar, maka pemain warisan George tadi adalah pegawai-pegawai lama asli Qatar yang tidak hanya mengerti seluk beluk perusahaan tapi juga menjadi tuan rumah yang ramah bagi para pegawai asing sehingga bisa memperkenalkan kultur/adat istiadat negara mereka sehingga pegawai asing itu semakin kerasan dan berkontribusi maksimal di perusahaan tersebut.

Sebelum berita perpanjangan kontrak ini resmi beredar, Arsène memang menegaskan hasratnya untuk membangun skuad yang berfondasikan pemain-pemain asli Inggris.

Mengutip ucapannya beberapa bulan lalu,

“I believe we have a good core of young English players. We couldn’t keep the good core of young foreign players but I hope we will be capable to build a team around all these young England players who can achieve something together”

Manchester United era treble banyak dipuji bukan hanya kehebatannya meraih tiga gelar dalam semusim. Tapi juga keberanian Fergie untuk memainkan anak-anak muda di tim utama. Class of ’91 ala Fergie yang dihuni David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Nicky Butt, Phil/Gary Neville itu menjadi motor United dalam meraih banyak gelar bukan hanya karena skill mereka, tapi juga rasa memiliki dan mencintai klub melebihi pemain-pemain asing yang ada di skuad United. Bahkan Paul Scholes dan Ryan Giggs pun tanpa ragu menyatakan kesanggupan saat United mengalami krisis pemain musim lalu.

Ini yang saya pikir akan menjadi salah satu warisan Arsène selain banyak gelar dan hijrah ke Ashburton Grove. Tersiar kabar Arsenal juga mengincar talenta muda lain seperti Wilfried Zaha (Crystal Palace) dan Luke Shaw (Southampton). Belum lagi kalau anda mau menghitung bakat-bakat muda di Arsenal Academy seperti Nico Yennaris, Benik Afobe, Jerneade Meade hingga Chuba Akpom yang begitu menggiurkan untuk segera dipromosikan ke skuad utama.

I’m not an anglophile, tapi melihat klub yang saya cintai dihuni oleh pemain yang juga mencintai klubnya, penggemar mana yang tidak senang. Tanya saja pada fans Barcelona bagaimana rasanya berjaya di Spanyol dan Eropa dengan skuad yang dihuni pemain-pemain didikan asli Katalan.

Ada sebuah tweet yang bisa mengilustrasikan perasaan bangga ini,

Jack Wilshere adalah Mr. Arsenal penerus Tony Adams dan secara fantastis mengacak-acak Barcelona di musim pertamanya. Gibbs (yang telah bergabung di Arsenal sejak berumur 15 tahun) meski di timnas harus bersaing dengan Ashley Cole dan Leighton Baines (yang sedang dalam performa terbaiknya) saya yakini menjadi pilihan utama dalam 3-4 tahun ke depan. The Ox tidak perlu diragukan setelah mencuri perhatian saat Euro kemarin. Dalam diri Carl Jenkinson kita melihat mimpi kita menjadi nyata, he grew supporting Arsenal with his dad and brother from the terrace and living our dream to play with red and white shirt (seorang Gooner yang akhirnya menjadi Gunner seperti Charlie George, David Rocastle and Ray Parlour). Aaron Ramsey? Hey, dia mengalami kejadian tragis berupa cedera yang hampir mematikan karir dan kematian mentornya Gary Speed yang bunuh diri. And he’s only 21 for fuck sake!

Rata-rata usia pemain ini adalah 21 tahun dan pada 2020 nanti akan berada di puncak karirnya.
Saya berharap akan ada lagi pertandingan tribute/memorable saat mereka pensiun sebagaimana Dennis Bergkamp dan Lee Dixon.

So Jack, Gibbs, Jenko, Ramsey and Ox. Congratulation for your contract renewals and here is hoping we will see you and the rest of Arsenal player stealing the future.

Theo, where were you while we’re gettin high?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s