Kebuntuan di Britannia Stadium

Sepakbola kembali memasuki salah satu masa paling meresahkan seminggu belakangan. Masa dimana semua klub berlomba-lomba untuk menambal sulam, menambah kekuatan atau bahkan memperdalam kedalaman skuad agar siap dari ketatnya jadwal kompetisi reguler. Terutama untuk mereka yang juga bermain di kompetisi Eropa.

Saya sebagaimana Anda (mungkin) turut menyaksikan pergerakan Arsenal di bursa transfer musim panas ini yang well, merasa frustasi karena ternyata Arsenal tidak menambah satu pelapis di sektor yang kita harapkan – defensive midfielder dan penyerang. Alih-alih mendatangkan kiper berusia 17 tahun asal Makedonia, Dejan Iliev (gratis pula!).

Hal itulah yang membuat saya alpa untuk membuat tulisan tentang kegagalan Arsenal meraih tiga poin di Britannia Stadium.

No excuse, I will sum it up in one post.

Stoked to win, yet gutted in the end

Britannia Stadium, 26 Agustus 2012

Wasit: Lee Mason

Man of the Match: Mikel Arteta

Menahan imbang Stoke terdengar seperti prestasi untuk Arsenal. Saya mungkin bisa memberi judul lebih pahit seperti ‘Kegagalan Kedua Mencetak Gol di Musim 2012/2013’, namun adalah fakta bahwa Stoke bukan lawan yang bisa dianggap remeh – bahkan meski bermain tandang sekalipun.

Arsene Wenger merupakan salah satu musuh publik Stoke mengingat dia pernah mengritik pedas terhadap cara bermain klub yang ironisnya merupakan klub tertua diantara klub EPL lainnya saat ini.

Stoke di tangan Tony Pulis adalah tim dengan permainan pragmatis dengan bumbu ‘tendang dan hajar’ yang begitu kental. Tim yang dijuluki The Potters ini mengandalkan bola-bola lambung saat menyerang. Hal yang diadopsi secara gamblang dengan berkali-kali mencetak gol melalui umpan throw-in Rory Delap. Sesuatu yang membuat mereka kerap dijuluki ‘The Dirty’ Stoke City atau The Rugby Team.

Tony Pulis paham bahwa secara finansial dia tidak mungkin mampu menyaingi klub-klub besar EPL. Stoke dibawah asuhannya berisi pemain-pemain siap tempur sepanjang 90 menit. Nama-nama seperti Robert Huth, Ryan Shawcross dan Dean Whitehead (yang untungnya tidak bermain karena terkena kartu merah di pertandingan sebelumnya) terkenal sebagai tukang pukul dari Midlands barat.

Anda tidak boleh lupa insiden ‘Aaron Ramsey Horror Injury’ di tahun 2010. Pertandingan yang hingga menit ke-65 bertahan di skor 1-1 menjadi drama horor sepakbola saat Ryan Shawcross – yang mengetahui bola liar sudah 80% di kaki Ramsey – dengan brutalnya melancarkan tekel keras yang membuat Ramsey absen sembilan bulan.

Shawcross tak pelak diganjar kartu merah oleh wasit. Jika Anda memberanikan diri melihat video tragedi itu di YouTube, dari reaksi para pemain Arsenal, bisa dibayangkan betapa sembrononya tindakan Shawcross. Tony Pulis setelah pertandingan membela anak didiknya tersebut. Tony rupanya lupa bahwa pada tahun 2007, Shawcross juga mematahkan engkel Francis Jeffers (Sheffield Wednesday) dan membuat mantan pemain Arsenal tersebut absen tiga bulan.

Wenger yang kecewa karena kehilangan salah satu bakat mudanya menilai Stoke asuhan Tony Pulis bukan bermain sebagai tim sepakbola. Melainkan tim rugby. Tony di salah satu kesempatan pernah berkilah tanggapan publik dan menilai Arsenal lebih kasar (berdasarkan perbandingan jumlah koleksi kartu bagi kedua tim).

Permusuhan kedua manajer juga menular pada atmosfir penonton di stadion. Suporter Stoke berjanji akan mengintimidasi Wenger dengan melakukan aksi impersonifikasi terhadap Wenger. Janji itu rupanya terwujud dengan banyaknya penonton di stadion yang mengenakan topeng bergambar wajah Wenger.

Sebelum kick-off, Gary Neville, eks kapten Manchester United yang kini menjadi football pundit memberikan komentar sangat baik terhadap Arsenal yang baru saja kehilangan Alex Song:

“Arsenal football club is the most important thing, players are just grains of sand on the beach. Arsenal is 125-years old”.

Arsenal turun dengan formasi penyerang sedikit berbeda dibanding saat melawan Sunderland. Arsene Wenger kali ini mempercayakan Giroud dan Podolski sejak menit awal. Dengan Giroud sebagai forward winger di kiri dan Gervinho di sayap kanan.

Secara mengejutkan Sczeczny mengalami cedera ringan dan Fabiansky – kiper kedua – juga sedang mengalami cedera. Walhasil Wenger harus mempercayakan posisi penjaga gawang kepada Vito Mannone. Hal yang membuat banyak orang termasuk saya cukup waswas karena blundernya kala melawan Olympiakos musim lalu di Liga Champion.

Permainan berjalan cepat. Dan terang saja kebutralan Stoke tetap terasa saat di menit 16 Robert Huth menekel Lukas Podolski dan langsung diganjar kartu kuning oleh wasit.

Giroud, meski masih tampak kebingungan mencari peluang patut diapresiasi karena selain memenangi duel-duel udara di zona pertahanan Stoke, dia juga kerap turun ke bawah membantu benteng Arsenal dari serangan bola-bola lambung  anak-anak The Potters.

Gervinho, kali ini rupa-rupanya belum kapok dengan obsesinya untuk meniru Christiano Ronaldo dengan melakukan gocekan-gocekan tidak penting. Dia mempenatrasi lawan cukup baik, namun saat dirasa ada peluang untuk mengoper, dia selalu menggiring bola ke sudut jauh sisi kiri pertahanan Stoke dan.. bola berpindah tangan.

Kebuntuan di lini serang Arsenal masih terjadi dan Arsenal hanya menghasilkan satu shot-on-target di laga ini. Giroud mendapat peluang bagus di menit 89 saat melihat posisi kiper Stoke Begovic yang terlalu jauh dari gawangnya. Namun sayang tendangan spekulasi dengan kaki kirinya tersebut masih melambung tipis di atas gawang Begovic.  Keputusan Giroud patut disayangkan karena Ramsey telah berlari mencari celah dan mungkin karena instingnya sebagai striker, Giroud lebih jeli melihat gawang ketimbang posisi teman.

Mengenai Aaron Ramsey, di laga ini dia bermain dengan cukup percaya diri (mengingat tragedi horor tersebut bisa saja membuatnya trauma), namun lagi-lagi kelakuan brilian suporter Stoke jadi sorotan karena begitu Ramsey masuk menggantikan Santi Cazorla di menit 81, teriakan ‘boooooo’ menggemuruh pada Ramsey. Brilliant, Stoke!

Diaby yang kehilangan bola sebanyak 28 kali dan hanya menyelesaikan 78% dari keseluruhan passingnya patut berterima kasih pada pasangannya di jantung permainan Arsenal, Mikel Arteta. Mikel tampil tenang dan berhasil menjadi man of the match dengan rating 8. Kali ini dia bukan saja melindungi barisan back-four dari tengah tapi juga kerap membantu Jenkinson di sisi kanan yang memang kelimpungan digempur Michael Kightly dan Marc Wilson. Mikel juga berhasil melakukan 4 tekel bersih, 3 intercept dan 3 kali membuka peluang.

Kekhawatiran fellow gooner akan penampilan Vito Mannone rupanya tidak terjadi karena dia cukup dingin menjaga gawangnya sepanjang 90 menit. Dia tidak tampak grogi saat Geoff Cameron (rekrutan anyar) melakukan aksi lempar lembing (throw-in) ke arah Peter Crouch. Hebat sekali Tony Pulis. Insting piciknya juga hebat di bursa transfer dengan melakukan pembelian pemain dengan skill menyerupai Delap – yang di pertandingan ini dibangkucadangkan.

Terlepas dari kebuntuan di lini serang Arsenal, fellow gooner harus puas dengan apa yang dilakukan asisten pelatih Steve Bould (ini musim pertamanya yang menggantikan Pat Rice yang pensiun). Dia berhasil mendisiplinkan empat bek Arsenal yang kesohor suka melakukan kecerobohan di tiga musim terakhir. Kedua bek sayap Gibbs dan Jenkinson  meski belum memberikan kontribusi berarti saat menyerang, sangat disiplin saat bertahan. Mereka berdua sangat cepat turun ke belakang saat Arsenal kehilangan bola di depan.

Gary Neville, eks bek sayap United itu bahkan memberikan pujian khusus akan hal ini. Katanya di sesi post-match analysis TV Sky Sports, “one of the best defensive displays from an Arsenal side he has ever seen and in the post-Invincibles era”.

Arsenal, meski menguasai 67% ball possession harus puas dengan hasil ini: pulang ke London tanpa cedera dan mencuri satu poin di kandang lawan. Maka ketika wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga, Tony Pulis pun melakukan selebrasi kemenangan dengan polesan seringai liciknya itu.

One thought on “Kebuntuan di Britannia Stadium

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s