Van Persie, You Ungreatful Bastard

When I have to make tough decisions in my life I listen to the little boy inside me. That little boy was screaming ‘Manchester United’

Cukup, Robin. Cukup.

Berakhir sudah drama Robin van.. Cukup. Selanjutnya yang bersangkutan akan saya sebut sebagai Stapleton saja. Ulang lagi, deh.

Berakhir sudah drama menegangkan bertajuk ‘Kemana Kau Berlabuh, Stapleton?’ ini. Sebagaimana kita semua tahu, Manchester United lah yang berhasil menggaet topskor sekaligus PFA Player of The Year musim liga Inggris musim lalu. Manchester United yang sepertinya tidak belajar dari kegagalan Berbatov harus merogoh kocek mereka dalam-dalam: 24 juta poundsterling ditambah tuntutan penyetaraan gajinya dengan Wayne ‘Shrek’ Rooney – 220.000 poundsterling/pekan.

Tentu saya harus mengungkit Berbatov karena proses pembeliannya dari Spuds ke Manchester United pun terbilang sensasional dan secara substansial mirip dengan transfer Stapleton. 1) Harga yang sensasional: 30 juta poundsterling , 2) langkah Fergie yang dinilai pihak Spuds melanggar peraturan liga Inggris – saat itu Fergie disinyalir melakukan kontak dengan Berbatov di luar transfer window.

Meski kemudian Berbatov berhasil menjadi top skorer EPL musim 2010/2011 (20 gol bersama Tevez yang juga mengemas jumlah gol sama), tapi menyimak perannya keseluruhan di United sampai musim kemarin rasa-rasanya fans United tak perlu melulu asik nyinyir pada transfer hampa Torres ke Chelsea dan Andy Caroll ke Liverpool. 30 juta poundsterling dan hanya mengemas 48 gol selama 4 musim.

Sehari setelah berita mengejutkan Stapleton, terkuak bahwa sejak Januari musim lalu Stapleton punya niat busuk untuk membelot ke United. Jika boleh su’uzon, saya mengendus hal yang dulu Fergie lakukan saat ngegebet Berbatov lewat jalan belakang pun terulang. Yah, saya dan anda boleh saja berspekulasi ini itu tanpa ujung. Namun siapa tahu? Melihat proses kepindahannya ke United yang tergolong cepat.

Malin Kundang Sepakbola = Dikutuk Mandul/Cedera

Sebagai fans layar kaca era 2.0 kurang afdhol rasanya jika tidak mengaktualkan diri dengan memantau berita-berita dari klub kesayangan lewat internet (baca: twitter). Harus twitter membuat seorang fan sepakbola sebagai orang gunung jika masih mengandalkan tabloid dwi-mingguan dan tayangan olahraga di TV.

Sontak twitter feed dipenuhi oleh ketidakpuasan hingga makian tentang kepindahan Stapleton. Bagaimana tidak? Pernyataannya untuk tidak memperpanjang kontrak feels completely like backstabbing, innit? No one is bigger than the club, surely. Tepat setelah pernyataan itu keluar, saya sungguh yakin bahwa dia akan menjadi kapten kesekian kita yang akan hengkang. ‘You’re dead to me now, Stapleton’, batin saya saat itu.

Namun banyak juga gooner berpemahaman psikologi positivisme yang menganggap langkah itu sebagai ancaman Stapleton untuk melecut ambisi board dan pelatih (baca: dengan merekrut nama-nama besar ke Arsenal).

“Yesss. Gitu dong jadi kapten. Biar board sama Wenger buka mata beli pemain bintang matang!”

Fucking hell, you know the rest of story right? Stapleton baru setahun menjadi kapten. Jika memang sekuat itu pengaruh dia pada kebijakan manajemen, secara logis tidak mungkin untuk seorang pro mengeluarkan pernyataan sepihak. Dengan duduk manis di rapat-rapat klub Stapleton bisa dengan gampang memberi masukan buat Arsenal, jika memang posisinya sekuat itu.

Stapleton hanya tampil penuh satu musim sepanjang delapan tahun karirnya di Arsenal, yang kebetulan dibarengi dengan performa fantastis. Selama delapan tahun itu pula Wenger mempercayai talentanya dengan selalu memperpanjang kontrak. Bahkan dibela saat dia tersandung kasus pelecehan seksual.

Tidak usah heran, hey United fan jika kemudian kami berharap kaki dia langsung remuk secara ajaib setibanya di Manchester. Kami akan senang hati menyaksikan kelahiran Berbatov atau Forlan atau Michael Owen/Owen Hargreaves baru di klub kalian.

Era Verminator, Buka Puasa Silverware?

Kepergiannya ke kubu opa Fergie sebenarnya tidak meninggalkan lubang apa pun. Dari segi pengganti daya gedor kita sudah punya Lukas Podolski dan Oliver Giroud. Nama pertama selain mempunyai beberapa kemiripan dengan Stapleton, juga punya beberapa nilai plus seperti mental juara dan pengalaman segudang. Nama kedua, another french connection (meski masih trauma dengan Chamakh yang juga berasal dari klub juara liga Prancis)  punya potensi menggiurkan. Kelebihannya dalam mengonversi bola-bola atas menjadi gol akan menjadi pemandangan mengasikkan mengingat Arteta, Cazorla dan Rosicky punya kemampuan hebat melepas bola-bola atas (Song tidak saya sebut perkara rumor kepindahannya ke Barcelona semakin santer).

Selanjutnya tentu saja dari sisi kepemimpinan. Saya dan Anda tentu bisa langsung menoleh pada nama Thomas Vermaelen sebagai kapten selanjutnya. Penampilannya kala menjadi kapten pengganti mengingatkan saya akan kepemimpinan Tony ‘Mr. Arsenal’ Adams: galak, cepat dan mampu membuat gol-gol penentu hasil pertandingan. Vermaelen bahkan lebih gila lagi, dialah bek liga Inggris dengan gol terbanyak saat ini sejak bergabung ke Arsenal pada 2009.

Namun ada poin lain yang membuat saya begitu bergairah menatap musim ini. Coba lihat siapa saja kapten yang membawa Arsenal juara sejak 1993 – 2005:

Premier League
2004, Patrick Vieira, Defensive midfielder
2002, Tony Adams, Defender
1998, Tony Adams, Defender

FA Cup 
2005, Patrick Vieira, Defensive midfielder
2003, Patrick Vieira, Defensive midfielder
2002, Tony Adams, Defender
1998, Tony Adams, Defender
1993, Tony Adams, Defender

Carling Cup
1993 Beat Sheffield Wednesday 2-1, Tony Adams, Defender

European Cup Winners Cup Winners
1994 Beat Parma 1-0 (in Copenhagen), Tony Adams, Defender

Jika jeli, Anda akan sadar bahwa dua kapten selama kurun waktu tersebut berposisi sebagai pemain bertahan. Iya, lantas apa hubungannya? Bagaimana jika kita tengok sejarah kapten-kapten yang pernah membawa timnya memenangi liga?

2012. Vincent Kompany, Centre back
2011, Nemanja Vidić, Centre back
2010, John Terry, Centre back
2009, Gary Neville, Right back + Ryan Giggs (vc) + Rio Ferdinand, Centre back
2008, Ryan Giggs (vc)+ Rio Ferdinand, Gary Neville (c) cidera panjang
2007, Gary Neville, Right back
2006, John Terry, Centre back
2005, John Terry, Centre back
2004, Patrick Vieira, Defensive midfielder
2003, Roy Keane, Midfielder
2002, Tony Adams, Defender
2001, Roy Keane, Midfielder
2000, Roy Keane, Midfielder
1999, Roy Keane, Midfielder
1998, Tony Adams, Defender
1997, Eric Cantona, Forward
1996, Steve Bruce, Centre back
1995, Tim Sherwood, Midfielder
1994, Bryan Robson, Midfielder
1993, Steve Bruce, Centre back (vc), Bryan Robson cidera panjang

Dari daftar tersebut hanya Eric Cantona yang berposisi sebagai penyerang. Hanya satu striker merangkap kapten yang berhasil membawa timnya menjuarai liga. Bahkan Thierry Henry yang kita banggakan itu gagal memberi prestasi saat menjabat kapten. So be positive, Gunners!

Terima Kasih, Stapleton!

Terima kasih karena telah membuat saya kesal dan menginspirasi lahirnya blog ini,

Terima kasih atas inisiatifmu untuk tidak membuat sesak persaingan lini depan Arsenal (memberi ruang pada Poldi, Giroud, Chamakh dan Bendtner bersaing tanpa bergantung pada penyerang berkaki kaca sepertimu),

Terima kasih karena mempercepat pemberian nomor 10 untuk Jack Wilshere – yang sejak karirnya di Youth Academy mengenakan nomor tersebut,

Terima kasih untuk membuat kami tertawa terbahak-bahak menyaksikan lahirnya Diego Forlan baru. Kelak, saat itu saya yakin tiba menghampirimu.

Victoria Concordia Crescit.

2 thoughts on “Van Persie, You Ungreatful Bastard

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s