Waktunya Memberikan Ban Kapten pada Per Mertesacker?

a reader both on and off the pitch

Jumpa lagi, kawan-kawan. Setelah hampir tiap musim kita dibelit rasa waswas ketika periode transfer, kini rasa itu berubah setelah Arsenal melakukan dua pembelian penting dengan sigap. Dua hari lalu akhirnya kepindahan Mathieu Debuchy ke Arsenal pun resmi dan dia akan mengenakan nomor punggung 2; yang menandakan barisan belakan kita kali ini mengenakan nomor punggung klasik 1/Szczesny, 2/Debuchy, 3/Gibbs, 4/Mertesacker dan 6/Koscielny.

Tapi di tulisan ini saya tak berminat membahas kabar perburuan pemain baru. Meski cukup mengagetkan juga komentar Wenger tentang status Jenkinson setelah kedatangan Debuchy,

But Debuchy is also mentally strong and dedicated, with a big passion like Jenkinson so I think at right back now we are in a strong position. He is going to compete (with Jenkinson), of course. There is nobody today who can play 60 games at the top level – that’s why you always need two players

Mulanya saya berharap Jenkinson akan dipinjamkan ke sesama klub EPL, setelah musim lalu digadang-gadang diminati Man. City, guna mendapat kesempatan bermain reguler. Jenkinson akan tetap diproyeksikan Wenger sebagai bek kanan masa depan Arsenal terlebih kita harus ingat bahwa Debuchy hampir berumur 29 tahun.

Sisi kanan Arsenal ternyata menjadi bagian lapangan yang dominan dalam memegang bola musim lalu. Jika kita menghitung absennya Walcott, kita kembali sadar bahwa apa yang Sagna lakukan di sektor itu begitu krusial. Ini yang saya rasa perlu diantisipasi oleh Debuchy dan Jenkinson, mengingat Walcott masih cedera dan Sanchez lah yang paling mungkin mengisi posisinya — sementara ia pun pemain yang baru didatangkan.

Kembali ke topik.

Yup. Sudah waktunya kah bagi kita untuk memiliki kapten baru? Kita tahu Vermaelen adalah pria brilian yang memberikan segenap upaya saat turun di lapangan. Tapi sejak mengalami cedera panjang itu, Vermaelen seperti bukan yang dulu kita kenal. Paska kepergian meneer Belanda itu permainannya menjadi kacau dan kerap berbuat blunder. Hingga Maret 2013 Vermaelen telah melakukan defensive errror sebanyak 6 kali. Walhasil Wenger berpaling pada kemitraan Per dan Koscielny  dan hal itu membuahkan hasil positif. Bahkan keduanya mencatat rekor 100% kemenangan kala tampil bersama selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya rekor pecah.

32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan dan 9 kali imbang sebelum akhirnya pecah saat dipermalukan Liverpool (perlu dicatat bahwa di pertandingan itu Wenger memasang duet Wilshere-Arteta sebagai pivot).

Mertesacker menjadi sosok kunci dalam mengawal barisan pertahanan Arsenal musim lalu. Kembali lagi saat kita menengok kekalahan 6-3 dari City, Koscielny terpaksa ditarik di babak pertama akibat cedera. Kecepatan dan agresivitas Koscielny melengkapi kemawasan Per akan taktik. Bisa dimaklumi kenapa akhirnya klub-klub seperti Barcelona dan City mengurungkan niat untuk membeli Vermaelen.

Krisis Kapten Waktu Itu

Jika ada yang bertanya, “kapan terakhir kali Arsenal memiliki kapten sejati di atas lapangan?”

Anda takkan yakin untuk menjawab Mikel Arteta lah sosok tersebut. As much as I love him, Arteta ‘hanya’ wakil dari Vermaelen, sang pemain yang sedang tenggelam.

Lantas kita akan termenung manakala teringat beberapa musim silam, pemberian ban kapten Wenger lakukan kepada pemain yang digadang-gadang akan pindah: Cesc Fabregas dan Robin van Pers*e. Sebelumnya bahkan kita pernah dikapteni secara kontroversial oleh William Gallas. *hela nafas prihatin*

Tak pelak kapten hebat terakhir yang kita punya ada pada diri Thierry Henry. Yang cukup jadi ironi, King Titi tak mampu memersembahkan gelar bagi klub saat ia menjabat kapten, karena gelar terakhir — FA Cup — diarih saat Arsenal dikapteni Patrick Vieira.

Seberapa pentingkah sosok kapten di suatu tim sepakbola?

Selain yang tersirat: jabat tangan dengan kapten tim lawan; berbicara dengan wasit sebelum wasit melempar koin pra kick off, kapten adalah juru bicara pelatih di atas lapangan. Kapten yang bertanggungjawab (dan berhak) memrotes keputusan-keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Kapten adalah orang yang — seharusnya — disegani lawan dan kawan.

Meski tak ada peraturan tertulis, kita sering mendapati kapten suatu tim berposisi di barisan pertahanan, entah itu kiper atau bek. Ada tiga penjelasan logis yang sekiranya menjawab fakta tersebut:

  1. Para bek berposisi di belakang. Hanya di kesempatan tertentu (sepak penjuru) mereka merengsek maju ke depan. Hal ini membuat bek melihat jalannya pertandingan secara jelas. Mereka ‘membaca’ situasi yang sedang dihadapi timnya.
  2. Bek merupakan pemain yang jarang mengalami cedera. Sedangakan seorang kapten diharapkan mampu menjalani seluruh pertandingan. Berbeda dengan para penyerang yang menjadi bulan-bulanan lawan.
  3. Bek identik dengan kata ‘sangar’ atau ‘tegas’. Kata sifat yang butuh melekat pada diri kapten tim.

Lihatlah tim-tim terbaik dunia dan sosok kaptennya. Vincent Kompani (Man. City), Vidic/Rio Ferdinand (Man. United), John Terry (Chelsea), Carles Puyol (Barcelona), Sergio Ramos (Real Madrid), Phillip Lahm (Bayern Muenchen). Bahkan jika kita menengok daftar jawara EPL sepuluh tahun terakhir, tim-tim pemuncak klasemen dikapteni oleh sosok bek!

Pada saat Wenger mandapuk Vermaelen menjadi kapten paska ditinggal RvCunt, kekhawatiran pertama adalah bahwa ia akan mengikuti jejak tiga kapten sebelumnya yang meninggalkan klub saat menjabat kapten. Ternyata kekhawatiran itu salah karena nyatanya Vermaelen justru mengalami periode buruk dalam karirnya. akhirnya paska dikalahkan Sp*rs dan Muenchen dua musim lalu, Wnger memberanikan diri untuk mencopot Vermaelen dan ban kapten diemban oleh sang wakil, Mikel Arteta.

Kapten Masa Depan: Wilshere atau Ramsey?

Kita semua merindukan masa-masa Arsenal dikapteni oleh pemain asli binaan klub. Islington born and bred. Bahwa Arsenal kerap memroduksi bakat-bakat muda untuk kemudian menjadi bintang, tidak sepenuhnya benar karena yang Arsenal era Wenger lakukan adalah mencari bibit-bibit mentah dari seluruh Eropa untuk kemudian dibina dan diberi kesempatan unjuk gigi. Sebut saja Cesc Fabregas, Kolo Toure, Tomas Rosicky dan lain-lain.

Lain halnya dengan Man. United yang terakhir kali memromosikan Danny Welbeck, maka Wilshere menjadi satu-satunya sosok yang pantas menyandang gelar ‘produk asli’ Arsenal. Merupakan sebuah kebanggaan jika kita dipimpin oleh pemain yang kenal betul tradisi dan nilai klub. Seperti yang dulu kita miliki pada diri Tony Adams.

Wilshere pun, dengan segala predikat yang ia sandang sejak mencuat di blantika sepakbola, digadang-gadang untuk memerankan jabatan tersebut. Captain Jack Wilshere. Namun sejak kegemilangan Ramsey di dua musim terakhir, serta bagaimana ia berperilaku di luar lapangan, banyak harapan fans tertuju pada pemuda Wales itu sebagai kapten masa depan.

Ramsey punya pengalaman mengapteni Wales. Kala musim selesai pun ia lebih memilihbermain golf atau melakukan kegiatan promosi/amal inisiatif Arsenal. Sosoknya jauh dari kontroversi. Berbeda dengan Wilshere yang dalam satu tahun terakhir saja kedapatan merokok dan jadi persoalan serius mengingat secara terbuka Wenger tidak menyukai hal tersebut dilakukan pemainnya.

Tapi tentu, sambil menakar usia kedua pemain. Juga dari stok pemain kategori dewasa (bermental pemimpin) di tim, wacana menjadikan kedua pemain ini sebagai kapten harus kita kesampingkan.

Kala waktunya tiba, kita akan kembali berdebat tentang siapa diantara dua yang layak memimpin Arsenal.

Kapten Per

Selain oleh Arteta, musim lalu pun kita kerap dikapteni oleh sosok pria Jerman ini (plus oleh Sagna di satu kesempatan). Meski bukan orang Inggris, fakta bahwa Per seorang gooner di masa kecilnya pun jadi nilai tersendiri.

Mertesacker adalah sosok yang berada dalam kategori ‘one of us‘, seperti Carl Jenkinson. Lihat saja bagaimana ia melakukan selebrasi gol. Ingat kembali saat ia berhasil mencetak gol EPL perdana ke gawang Sp*rs. Berlari sambil meraung ke arah Theo Walcott. Atau saat ia memberi selamat pada siapapun yang mencetak gol untuk Arsenal.

Lihat bagaimana ia memarahi Ozil habis-habisan paska dikalahkan Man. City. Bagaimana ia melampiaskan rasa kecewa dan marah karena Ozil tak mau mengikuti tradisi Arsenal: melakukan lap of appreciation kepada suporter, di manapun Arsenal bermain, berapapun hasil buruk yang diterima tim.

Mertesacker juga telah dua musim dipercaya oleh Wenger untuk menjadi penagih denda akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tim sejak dua musim terakhir. Ia mendapat kepercayaan pelatih dan disegani rekan setim.

Tanpa merendahkan kontribusi Arteta dan apa yang ia bisa perbuat musim depan, kita tahu Arteta telah berumur 32 tahun. Sementara Arsenal memiliki stok gelandang mumpuni yang bejibun. Apalagi jika gelandang tengah baru yang digosipkan akan datang benar-benar terwujud. Sulit rasanya untuk berharap Wenger akan menduetkannya dengan Ramsey jika yang dipinang adalah sosok seperti Khedira atau Schneiderlin.

Mertesacker, jika dilihat dari aspek kebugaran, menjadi pemain nomor tiga yang paling banyak diturunkan Wenger musim lalu dengan jumlah 35 pertandingan setelah Szczesny (37) dan Giroud (36). Bandingkan dengan Arteta yang diturunkan sebanyak 27 kali (4 sebagai pemain pengganti).

Mertesacker juga dinobatkan sebagai ‘pemain musim 2013-14′ setelah Ramsey. Plus, kini ia menyandang status sebagai juara dunia.

Bagaimana menurut kamu? Perlukah kiranya Wenger bertindak tegas dengan mengambil keptusan ini? Atau peran Arteta sebagai kapten masih dirasa krusial? Lantas bagaimana dengan ‘future captain’ Wilshere dan Ramsey?

Beri pendapatmu di bawah, atau jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Selamat leha-leha sebelum Senin datang!

Cesc Fabregas: Cinta yang Tak Pernah Kembali


Oleh: Jonathan Simatupang

Semua orang ingin merasakan yang namanya mencintai dan dicintai, namun terkadang kita hanya merasakan sebagiannya. Ada yang ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai orang yang tersebut dan ada juga yang mencintai tetapi tidak berbalas. Semuanya terjadi di dalam kehidupan ini.

Dalam kehidupan yang fana ini serta dalam percintaan, terkadang kita merasakan yang namanya rasa sakit hati saat orang yang begitu cintai pergi begitu saja — meski dia berjanji akan kembali lagi kepada kita suatu saat nanti.

Entah kapan dan banyak kata manis yang ia ucapkan membuat kita terbuai dengan kata manis-manisnya yang begitu indah bagaikan orasi-orasi dari para politikus yang penuh dengan retorika semata.

Kehilangan orang yang kita cintai menyisakan kepedihan di dalam hati, bak luka yang digores dengan pisau yang tumpul namun sangat sakit terasa. Ucapannya ketika ingin pergi terasa manis yang membuat kita tak sadar terhipnotis untuk menantikan dia kembali lagi sampai mengatakan kita adalah rumah bagi dirinya, kapan pun dia dapat kembali bila saat yang tepat nanti.

Cinta itu sakit, perih, dan banyak hal. Kita ingin melihat dia bahagia, namun kita tidak ingin kehilangan dirinya dari sisi kita. Kita mengatakan kita akan baik-baik saja, nyatanya kita masih berharap dan tak bisa berpaling dari dirinya. Kita akan mengatakan juga bahwa dia adalah yang terbaik. Saat dia pergi dan sedang sedih, kita menghibur dirinya dan saat dia merasa sendirian dan terbuang, kita akan mengatakan kepadanya marilah kembali ke rumah!

Rasa manis itu kini berubah menjadi tawar bahkan menjadi kecewa.

Iya, anak hilang itu sudah kembali ke rumahnya di London. Bukan untuk merah dengan logo meriam di dadanya yang selalu ia cium dulu. Bukan untuk kembali kepada orangtua yang membesarkannya ketika ia terbuang di masa kecilnya. Bukan untuk kembali kepada orang yang mencintainya dan mengharapkannya kembali. Dia kembali karena cintanya yang tak sampai dan pergi ke seberang yang lebih menjanjikannya uang yang berlimpah.

Cerita ini tentang anak hilang dari Catalan. Cesc.

Namanya kalah dari bintang Barcelona saat ini, di masa kecilnya dulu ia adalah kapten dari generasinya, namun sayangnya ia harus menyingkir ke London dan dibesarkan dengan seorang profesor yang memiliki andil dalam perkembangannya. Di London dia ternyata bertemu dengan orang-orang hebat, macam Henry dan Bergkamp.

Ia ditempa. Ia tumbuh.

Hingga pada suatu hari. Ketika ia mengangkat piala untuk negaranya, teman-temannya memaksanya untuk memakai jersey dari klub masa kecilnya dan dia masih mengelak dengan mengatakan dia akan tetap di London.

London adalah rumahnya. Ban kapten melingkar di lengannya. Ia adalah mataharinya dan semua berotasi di sisinya. Di jamannya, jarang kita dapatkan Arsenal bermain dengan cepat satu dua sentuhan namun melainkan bola tertahan di kakinya, memberikan operan manis, lalu kembali kepadanya, semuanya menjadi tergantung kepada dirinya. Permainan Arsenal terpusat di anak hilang ini.

Singkat cerita, ia sudah tidak tahan lagi untuk kembali ke rumah dia sebenarnya bermain bersama teman-teman seangkatannya dan dilatih oleh idolanya sendiri. Prof sebenarnya ingin menahannya untuk tidak pergi, prof masih berharap kepadanya dan ia rela untuk membuat taktik yang sesuai dengan pemain kesayangannya ini. Tapi, tidak. Dia malah tetap pergi.

Beribu kata ia katakan. Semanis kata yang ia ucapkan mampu mengalahkan manisnya gula. Ia mengatakan bahwa salah satu orang yang paling ia hormati adalah Arsene dan Arsenal adalah rumahnya. Dia mengatakan bila dia memakai tidak akan jersey biru dan kejadian yang paling kita ingat adalah ketika ia membuang jersey setan merah begitu saja.

Semuanya terekam dan takkan pernah mati. Bahkan untuk pergi ia sampai rela menambahkan mahar dengan uangnya sendiri untuk dapat pindah ke klub masa kecilnya.

Rasa kecewa muncul terhadap dirinya. Bagaimana tidak kecewa, ketika kita mencintai seseorang, orang tersebut malah meninggalkan kita untuk cinta pertamanya atau untuk orang lain yang menurut dia lebih baik dari kita.

Memang kehidupan ini keras, mimpi yang indah itu dibenturkan dengan kerasnya kehidupan ini. saat ia pergi, tidak lama kemudian yang menjadi idolanya dan alasannya untuk pindah pun meninggalkan posisinya. Selama di klub masa kecilnya, statistik mengatakan penampilannya tidak buruk-buruk amat, namun sayangnya ia lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan.

Mimpinya dulu ia menjadi pujaan di klub masa kecilnya sama seperti yang ia dapatkan di London. Mimpinya dulu adalah bermain selama mungkin dan mengangkat piala bersama klub dari masa kecilnya. Kenyataannya, ia masih kalah dengan Messi atau si anak baru Neymar. Namanya semakin meredup dan tak lagi menjadi pusat dari rotasi planet-planet, malah ia yang dulu menjadi matahari berubah menjadi bulan.

Berkali-kali ia diberitakan masuk ke dalam daftar jual klub masa kecilnya dan akhirnya ia benar-benar keluar dari klub masa kecilnya di tahun ini. sebuah ironi, ketika ia sudah bersama dengan orang-orang yang mendukungnya dan mencintainya dengan sepenuh hati, ia malah pergi dengan mengorbankan dirinya sendiri untuk dapat bersanding dengan orang lain dari masa lalunya. Semuanya terbayarkan. Namun, ia keliru. Orang lain itu tidak sepenuhnya untuk mencintai dan mendukungnya.

Dia ingin kembali lagi ke orang yang mendukung dan mencintainya, namun sayangnya orang yang mendukung dan mencintainya itu menutup hati untuk dirinya. Prof tidak menjemputnya untuk kembali ke rumah. Tidak ada tempat untuk Cesc, kedatangannya hanya akan menghambat pertumbuhan dari Chambo, Ramsey, atau Jack bahkan buruknya mengacaukan taktik yang sudah dibangun kembali oleh Prof sepeninggal kepergiannya.

Apakah kamu kecewa terhadap anak hilang ini?

Saat ini Cesc benar-benar seperti anak hilang. Anak yang pergi berlalu lalang dan tidak menemukan kembali rumahnya dimana. Ia hilang bagaikan domba yang tak tahu dimana gembalanya, bahkan sampai ia menjilat ludahnya sendiri.

https://twitter.com/cesc4official/status/103393370709299200

Manisnya kata-katanya dulu menjadi hambar. Rasa cinta dulu kepada dirinya seiring berubah menjadi kekecewaan kepadanya. Cerita-cerita dulu yang pernah terjalin mesra, layaknya buku-buku usang yang siap untuk diberikan kepada orang lain atau disimpan di dalam gudang.

Untukku sendiri, aku tak masalah ia pergi dari Barcelona, yang menjadi sakit hati kepadanya ialah kepulangannya ke Inggris dan London. Pergi ke klub seberang yang dulu ia pernah mengatakan yang sering muncul di timeline  ini.

Kenapa harus kesana Cesc?
Apakah kamu tahu rasa sakit hati Cesc?
Kamu tahu, bagaimana kami berharap berapa tahun ke depan kamu akan kembali lagi dan mencium lambang meriam di dadamu dengan penuh kebanggaan?

Tidak. Kali ini kamu benar-benar menghancurkan hati kami. Pertama kamu hancurkan hati kami saat kamu pergi ke Barcelona di saat kami memerlukanmu dan yang kedua kamu pergi ke Chelsea. Kamu tahu rasa sakit hati kami yang kamu lakukan?

Aku tidak berharap bila kamu disana cedera, yang kuharapkan hanyalah yang terbaik untukmu Cesc. Bila ini terbaik untukmu, biarlah terjadi meski kekecewaan mengendap di palung hati kami paling dalam.

Aku harap, kamu pun tidak mencium logo di dadamu nantinya seperti kamu mencium logo meriam di dadamu dulu. Karena kami tahu, seberapa kamu mencintai klub ini, namun kami pun tahu ini lah yang terjadi di masa yang semuanya di atur oleh uang.

Dan kami harusnya sadar, bila kami memiliki Jack, Ramsey, dan Chambo. Atau kami masih memiliki Zelalem yang disebut-sebut adalah titisan kamu Cesc!

Semoga kau sukses di klub barumu dan bukan menjadi penghangat bangku cadangan kembali.

Kali ini belajarlah dari Cesc tentang percintaan. Bersyukurlah ketika kita memiliki hubungan dengan seseorang, jangan tergoda karena melihat orang lain yang menurut kita lebih baik. Karena rumput tetangga memang selalu hijau namun tidak selamanya yang kita lihat itu baik. Terkadang malah buruk untuk kita.

Seperti cinta Cesc yang disia-siakan oleh cinta pertamanya yang rela ia tinggalkan cintanya saat itu, ternyata cinta pertamanya tidak memberikan kesempatan untuk dia dapat berkembang dengan baik malah memberikan tekanan yang luar biasa untuk dirinya. Saat ia menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke cintanya saat itu, semuanya sudah terlambat. Cinta yang ia tinggalkan sudah memiliki cinta yang baru dan tidak ada lagi tempat untuk dirinya.

Inilah kehidupan. Inilah sepakbola. Inilah percintaan. Semuanya indah bukan? Ada drama yang tersaji di dalamnya. Ada kisah yang membuat kita bahagia ketika saat bersama. Ada kisah yang membuat kita menangis karena perpisahaan. Dan ada sebuah drama ketika orang yang pernah mengisi relung hati malah jadian dan tersenyum bersama dengan sahabat, eh,  lawan.

Kenapa Sami Khedira bukan Morgan Schneiderlin atau Lars Bender

Lying wide awake under strange sky wanting to call Arsene but it is late at night

Piala Dunia 2014 telah berlalu dan segenap drama dan aksi brilian yang ditampilkannya menjadi sejarah tersendiri yang akan kita ingat kelak. Entah itu gigitan Suarez terhadap Chiellini, kegemilangan James Rodriguez meraih Golden Boot, kegamangan Messi kala peluit final ditiup wasit, hingga kejayaan yang diraih tiga pemain Jerman Arsenal — Per Mertesacker, Lukas Podolski dan Mesut Ozil.

Menghitung mundur hingga 31 Agustus, warna lain dari sepakbola yang akan tersaji adalah geliat bursa transfer, yang anehnya, kita lalui dengan gegap gempita setelah Arsenal berhasil menggaet superstar Chili Alexis Sanchez yang bermain apik bersama negaranya kemarin. Mengenai Sanchez dan bagaimana ia akan bermain bersama Arsenal akan saya tuangkan nanti. Namun luangkan waktu kalian untuk membayangkan bagaimana kerjasama link-up play ia bersama Theo Walcott, Olivier Giroud dan Mesut Ozil memporakporandakan lini belakang klub-klub EPL.

Mouth watering sight.

Ada sebuah artikel yang begitu baik memaparkan situasi keuangan Arsenal di Telegraph yang terbit beberapa hari lalu. Menyatakan bagaimana ketersediaan fulus yang Arsenal miliki adalah buah dari perencanaan 10 tahun sejak Ashburton Grove berdiri. Bahwa semuanya kini menjadi ‘masuk akal’. Sengaja saya beri tanda kutip karena nyatanya ratusan artikel tak mampu membuat sebagian suporter sadar bahwa kebijakan pengiritan yang Arsenal jalankan adalah bagian dari long-time planning: terwujud dalam rentang satu tahun melalui perekrutan Mesut Ozil dari Real Madrid dan Alexis Sanchez dari Barcelona — dua raksasa sepakbola dunia.

Melalui Alexis Sanchez — yang direkrut ketika Piala Dunia belum usai dan satu bulan lebih sebelum jendela transfer ditutup — Arsene Wenger dan Arsenal seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang dulu tak terjawab secara eksplisit. Klub ini, ketika waktunya tiba, akan kembali mampu bersaing secara finansial tanpa mengorbankan pemain-pemain i skuat utama. Kita perlu juga menilik bahwa penjualan Sagna ke Manchester City adalah suatu keniscayaan. Toh, akan tiba waktunya seorang pemain mengalami rasa bosan bermain di satu klub dalam jangka waktu panjang. Beberapa nama pun didengungkan untuk mengisi kekosongan yang Sagna tinggal mengingat Carl Jenkinson dirasa belum cukup mumpuni mengisi pos bek kanan itu: Serge Aurier dan Mathieu Debuchy. Selain itu Arsenal yang ditinggal Lukasz Fabianski pun dikabarkan mengincar kiper: David Ospina.

Yang tak kalah menarik dan jadi perbincangan kini adalah berita mengenai Arsenal yang mengincar gelandang tengah. Tiga nama menyeruak ke benak gooner, yakni Morgan Schneiderlin (Southampton), Lars Bender (Bayer Leverkusen), dan Sami Khedira (Real Madrid) — kedua nama terakhir bahakan disebut secara resmi di sebuah artikel, sedangkan nama pertama baru sebatas rumor dan Southampton mustahil melepasnya dari klub yang ditinggal banyak punggawa utama.

Perdebatan meruncing ke persoalan substansial: bahwa Khedira bukanlah gelandang bertahan murni, melainkan box-to-box midfielder di mana kita telah memiliki Aaron Ramsey dan Jack Wilshere di posisi tersebut.

Ya, benar. Desakan untuk memiliki ‘the next Patrick Vieira or at least in same boat as Gilberto Silva’ sepertinya tak kunjung usai kecuali Arsenal membeli Paul Pogba dari Juventus.

Tapi ungkapan yang menyebutkan bahwa Khedira tak terlalu menonjol di aspek bertahan tak sepenuhnya salah. Berikut tabel yang membandingkan catatan statistik Khedira dengan pemain lain. Perlu dicatat bahwa data Khedira saya ambil di musim 2012-13 mengingat di musim lalu ia lama berkutat dengan cedera. Variabel yang ditandai bintang merupakan raihan tertinggi diantara yang lain.

Arteta Schneiderlin L. Bender Khedira
Mins. Played 2407 2765* 2344 1744
Pass completion 92%* 89% 77% 81%
Tackles won 2.26 2.64 3* 1.44
Sccssful take ons 0.55 0.64 1.66* 0.20
Interceptions 2.03 2.06* 1.76 1.16
Chances created 0.61 0.91* 0.69 0.76
Total shots 0.39 0.94* 0.76 0.84

* sumber statistik: squawka.com

Dari data di atas tampak Schneiderlin dan Lars Bender begitu menonjol. Keduanya pun lebih muda dari Khedira (yang kini berumur 27 tahun) dan memiliki postur tubuh serupa. Schneiderlin kembali unggul jika kita menilik fakta bahwa ia telah lama bermain di EPL bersama Southampton.

Tapi apakah statistik mampu menggambarkan suatu hal dengan pasti? Sebagian penganut paham filsafat positivistik akan mengangguk setuju. Tapi duhai kawan, sepakbola sebagaimana manusia dalam kehidupan sosial tak akan bisa diukur lewat angka, berjalan tanpa kepastian lewat ketakteraturan dan kedinamisan.

Kumungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan pun perlu diperhitungkan. Contohnya begini. Adalah fakta, di atas kertas dan di dalam lapangan, bahwa Lars Bender gelandang hebat. Tapi tawaran Arsene Wenger sebesar  £19 juta ditolak Bayer Leverkusen musim lalu. Apalagi Leverkusen juga telah kehilangan Emre Can yang dipinang Liverpool. Sementara di kubu Southampton, meski telah memiliki Victor Wanyama dan Jack Cork, sulit rasanya bagi kita untuk mendapatkan tanda tangan Schneiderlin. Kemitraan Wanyama dan Schneiderlin lebih banyak dipakai Pochettino musim lalu ketimbang duet Schneiderlin-Cork yang mengundang decak kagum dua musim silam. Sulit rasanya bagi The Saints untuk merelakan kepergiannya setelah ditinggal aktor integral kesuksesan mereka, Pochettino (pelatih), Adam Lallana (playmaker/ikon klub), Luke Shaw dan Rickie Lambert (ikon klub).

Sementara Real Madrid masih memiliki Xabi Alonso dan bintang muda mereka Asier Illaramendi jika Khedira pergi. Plus kedatangan Toni Kroos dari Bayern Munchen di mana sang pemain sendiri telah menyatakan kepindahannya ke ibukota Spanyol tersebut ketika diwawancari wartawan dari situs UOL paska kemenangan Jerman atas Argentina,

We’ve finished the World Cup in the best way possible. Now I’m going to Madrid, so that’s two dreams achieved

Kepergian Khedira saya rasa tinggal menunggu resminya kedatangan Kroos di Real Madrid yang konon akan diresmikan pada hari Kamis.

Khedira seperti yang dikutip Wikipedia memiliki atribut,

He is considered a dynamic midfielder with “flawless aerial ability” who can cover a lot of ground, recover the ball and quickly join in the team attack with his powerful mid-rangeshooting

Dia tak banyak melakukan tekel-tekel tak perlu sehingga dirasa sesuai dengan skema Arsenal. Sementara situs Whoscored menjelaskan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk melakukan operan-operan pendek dan piawai dalam melepas key-pass (operan yang menghasilkan gol).

Jika kita cermati lebih jauh, Arsene Wenger mempunyai kecenderungan untuk memahami tren yang berkembang dalam sepakbola ketika membangun tim di Arsenal.

skuat Jerman kala menghancurkan Inggris 4-0 di final Piala Eropa U-21 tahun 2009

skuat Jerman kala menghancurkan Inggris 4-0 di final Piala Eropa U-21 tahun 2009

 

Kita ingat di awal karirnya di Arsenal, bagaimana ia mengisi skuat Arsenal dengan banyak pemain Perancis. Setelah sukses mengawinkan gelar ganda pada 1997/98, Perancis sukses meraih gelar dunia pertama mereka di mana gol ketiga Perancis dicetak oleh Emmanuel Petit berkat sodoran umpan Patrick Vieira.

Kemudian jelang 2010, kita sadar bagaimana ia beralih ke Spanyol dengan mendatangkan pemain-pemain dari negara tersebut seperti Jose Antonio Reyes, Cesc Fabregas, Manuel Almunia dan Fran Merida (Arteta, Cazorla dan Monreal dikesampingkan karena direkrut paska 2010).

Barulah pada 2011, Arsenal dijejali bakat-bakat Jerman: Podolski, Mertesacker dan Ozil yang merupakan skuat timnas senior. Serta bakat-bakat muda seperti Serge Gnabry, Thomas Eisfeld dan Gedion Zelalem. Nama terakhir, yang mencuat di tur Arsenal musim lalu, bisa saja membela timnas Amerika Serikat atau Ethiopia jika kelak telah menentukan kepada negara mana pemain ini mengikrarkan diri. Namun Zelalem sejauh ini membela tim junior Jerman di berbagai kesempatan.

Semakin masuk akal ketika ketika melihat foto di atas. Khedira telah sejak lama menjadi partner Ozil di level timnas dan klub (Real Madrid). Pada diri Khedira kita menemukan sosok pemenang. Ia pemenang Bundesliga dan DFB Pokal bersama Stuttgart. Juga jawara Liga Champions bersama Real Madrid. Trofi Piala Dunia pun menggenapi raihan prestasinya yang gemerlap. Sekali lagi saya ungkapkan: Khedira adalah sosok pemenang yang mengerti bagaimana pergerakan Ozil di lapangan, serta mampu padu bekerjasama dengan lini belakang dengan Per Mertesacker.

Hal-hal di atas tak akan kita temukan pada diri Schneiderlin maupun Bender. Meski kedua pemain tersebut berumur lebih muda atau dibanderol lebih murah ketimbang nilai mahar Khedira. Faktor pengalaman dan mental juara yang tentu mampu dipelajari Ramsey, Wilshere, Gibbs dan rekan-rekan.

Sontak saya kembali teringat pada perdebatan ‘the next Patrick Vieira’ di awal tulisan. Apa yang kita ingat dari sosok kapten legendaris tersebut? Tentu pergerakan dia memotong bola yang sedang dibawa pemain lawan, untuk kemudian dengan kecepatannya menggiring bola tersebut jauh ke depan dan memberinya pada striker-striker Arsenal. Sederhananya, ya box-to-box midfielder. Seperti yang ada pada diri Sami Khedira.

Menggembirakannya lagi, Khedira menobatkan Vieira sebagai panutannya di atas lapangan. Seperti yang ia tuturkan pada situs UEFA.com,

During my early years I looked up to Patrick Vieira,” he said. “He was very involved up front, very strong in defence, ran a lot, was aggressive and had great skills.

Ia pun menyadari bahwa aksi ‘berdarah-darahnya’ takkan diapresiasi oleh banyak penggemar karena pujian akan berhamburan pada para pencetak gol dan pendribel handal,

I understand perfectly that the spotlight is for Cristiano Ronaldo, Özil and [Karim] Benzema. It’s normal – they’re the artists, they’re the ones who do scissor kicks, nutmegs, incredible dribbling. We have an incredible team with the best attacking players in the world, but we need to win the ball first.

Winning the ball first.

Bangun serangan dari awal dengan merebut bola yang sedang dikuasai lawan, lalu biarkan tugas selanjutnya diteruskan Ozil, Ramsey, Cazorla, Walcott, Sanchez, Podolski, atau Giroud.

Jurnalis spesialis Serie A dan La Liga, Mina Rzouki menjabarkan letak krusial Khedira di Real Madrid paska diluluhlantakkan Dortmund dua tahun silam,

Consistently underrated, the loss of the player against Dortmund perfectly proved his indispensability. Without his dynamism, the Spaniards failed to press as a unit and without his tactical intelligence, Dortmund easily identified the holes within midfield to exploit.

However, no one suffers more than Xabi Alonso in the absence of his midfield partner. With the German alongside him, Alonso can adopt a higher position on the field and dedicate more of his time to creating play quickly. Without Khedira, the Spaniard is often forced to adopt a deeper role to receive the ball free from pressure, which subsequently allows the opponent a few seconds more to stifle Alonso’s passes to either the full-backs or wingers waiting patiently on the flanks.

A leader on the pitch, Khedira never stops playing, remains focused for the entirety of the match and always believes in the win. Off the pitch, he is a strong character who is both respected for his influence and loved for his sense of humour and friendly touch. The man responsible for choosing the songs on the German team bus, his hilarious one liners that include ‘Poldi [Lukas Podolski] is not a man of many words but a man of explicit words’ make him a delight off the pitch as well as on it.

Khedira akan bisa memberi Wilshere pelajaran bagaimana cara merebut bola untuk kemudian mendistribusikannya jauh ke pertahanan lawan tanpa melakukan pelanggaran. Umurnya yang 27 tahun saya rasa bukan masalah mengingat umur sekian merupakan periode puncak karir seorang pesepakbola.

Yang lebih menggembirakan lagi, jika Khedira gagal digaet pun, pilihan lainnya tak kalah mengecewakan.

On to you, Arsene.

And yeah, it’s good to be back. Selamat datang musim 2014-15.

Liverpool are Arsenal’s Necessary Evil

Oleh: Nora Ayudha

I’m Necessary Evil..

Mungkin banyak sekali tokoh antagonis yang seliweran di Hollywood beberapa tahun belakangan, namun entah tokoh ini seringkali muncul di benak saya setiap ada pergulatan sengit dalam sebuah kompetisi. Yah, judul di atas adalah petikan dialog Bane, salah satu tokoh antagonis dalam film Batman “Dark Knight Rises”, tokoh yang menurut saya kata dan intonasinya lebih meneror ketimbang penampilannya. Cerdas sekali Christopher Nolan membangun karakter Bane yang tidak hanya gahar tapi juga mengintimidasi lewat kata – katanya.

Necessary Evil?

​Dalam konteks sepakbola, necessary evil merujuk pada rival yang “menampar” dominasi dan mengoreksi kompetisi. Di Bundesliga misalnya sebelum eksodus pemain, Borussia Dortmund adalah necessary evil bagi Bayern Munich, bisa jadi tanpa kehadiran Die Borussen, FC Hollywood tidak bisa “memaksakan” kemampuan terbaiknya. Di musim 2011-2012, Dortmund mengejutkan Munchen dengan merebut tampuk kekuasaan dengan selisih 8 poin, tapi apa yang terjadi tahun berikutnya? Stern des Südens menyapu bersih semua kompetisi yang diikuti dengan predikat juara.

Arsenal dan Necessary Evil

​Sebenarnya ingin sekali menyebut Manchester United sebagai necessary evil Arsenal, karena selain MU memang (d)evil juga harus diakui beberapa tahun terakhir susah sekali meraih poin saat berhadapan dengan MU. Namun, pertandingan kemarin membuat saya berpikir dan bernostalgia sejenak. Akhirnya, yah akhirnya Liverpool-lah necessary evil bagi Arsenal. Keraguan saya akan permainan Arsenal yang mulai mudah ditebak dan monoton terbukti ketika matchday ke-25 secara mengejutkan dilucuti di Anfield dengan skor 5-1 yang kemudian disusul dengan tidak bisa memenuhi ekspektasi Gooners untuk meraih 3 poin saat melawan Manchester United di kandang. Tak pelak paska peluit panjang riuh cemooh Gooners membahana. Kekhawatiran semakin hampir terbukti setelah peragaan 20 menit awal di lapangan pertandingan tadi malam seperti de javu saat di Anfield.

Namun, kemenangan kemarin menggugah arti penting Liverpool bagi Arsenal.

We Won The League On Merseyside

sumber:

sumber: the-cannon.com

Kemenangan atas Liverpool seringkali terjadi di saat yang penting, yang paling manis dan hingga 25 tahun berikut dan seterusnya masih dinyanyikan ketika kemenangan di Anfield yang menahbiskan Arsenal sebagai juara lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Padahal saat itu Liverpool diperkuat nama-nama besar seperti John Barnes, Ian Rush dan Bruce Grobbelaar.

Kemarin malam, dengan skuad yang tak jauh berbeda di tubuh Liverpool, lawatan Liverpool ke Emirates menjadi sinyal bahwa Arsenal tidak dalam masa krisis, namun kejatuhan seminggu yang lalu (lebih tepatnya 8 hari yang lalu) direspon positif sebelum mempersiapkan Juara Liga Champion musim lalu untuk menjadi tamu yang “sopan”, seperti tamu–tamu lainnya. Kemenangan kemarin malam menjadi bukti beberapa hal, ini yang bisa saya catat :

1. Debut Yaya Sanogo
Kalau boleh jujur, tidak ada yang istimewa dengan penampilan kemarin, namun untuk pemain yang masih muda, baru pulih dari cedera dan mengusung agenda balas dendam, melawan Liverpool tanpa grogi dan takluk pada intimidasi, terbersit Sanogo adalah pewaris tampuk striker kulit hitam* yang pernah dimiliki Arsenal beberapa musim lalu. Pergerakannya lebih agresif ketimbang “Charming Striker”, lihat saja apa yang terjadi sebelum gol Ox-Chambo terjadi? Untuk debutnya, bak menyaksikan “Muhammad Ali melawan Tony Liston” a legend was born. Berlebihankah? Time will tell.

2. Racikan Arsene Wenger
Saya yakin racikan kemarin membuat ketar-ketir, bagaimana tidak? Lukasz Fabianski yang jarang bermain harus menjadi starter di laga yang traumatik, duet Flamini–Arteta yang beberapa kali membuat blunder, Jenkinson yang harus mengawal pergerakan Cou yang silih berganti posisi dengan Sterling dan Yaya Sanogo yang melakoni debut. Namun apa yang terjadi kemarin? Yang pertama menjadi Man of the Match, yang terakhir menuai pujian setinggi langit.

3. Arsene Wenger bukan Spesialis Gagal! We still running in three Competition! (sorry if it Out Of Topic)

Apa yang bisa dipetik dari hasil kemarin?

​Selain kemenangan 2-1 dan tuntasnya dendam**, Arsenal lebih menarik ketika berhadapan dengan tim yang tampil menyerang atau terbuka. Lihat saja seretnya proses gol melawan tim yang tampil defensif, pemain Arsenal seperti kebingungan membongkar pertahanan lawan, bola berpindah dari 1 sisi ke sisi yang lain, yang paling jelas ketika bertemu MU midweek kemarin, saya percaya saat ini anda akan otomatis menggangguk-anggukkan kepala di depan layar tanda setuju.

​Permainan Liverpool memberikan banyak pelajaran bagi Arsenal. Arsenal harus menghadapi permainan sayap yang cukup sering membuat jantung berdebar dan mata berkunang-kunang. Penetrasi dan pergerakan tanpa bola yang menunggu sang skipper memberikan umpan membelah maupun melebar untuk berupaya mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. Masih ingat shot on goal pertama Liverpool? Apa yang terjadi pada Per? Munchen juga memiliki barisan winger yang tak kalah menakutkan, nominator Ballon D’or bertengger di sana (edit: Franck Ribery dipastikan tidka bisa tampil karena cedera), belum lagi gelandang-gelandang yang buas dan tanpa belas kasihan meneror dan mengkudeta lini kedua. Saya jadi melihat hikmah di Anfield, bagaimana jika Arsenal menang di Anfield dan Emirates saat menjamu MU dan Liverpool di FA? Bisa saja Arsenal terlena dan tersedak di kandang saat menjamu Munchen seperti musim kemarin. Mungkin ini yang disebut Arsene knows.

​Bukan berarti masalah tertuntaskan sepenuhnya. Ijinkan saya menjelaskan, barisan penyerang murni yang dirasa kurang menyumbang kontribusi. Kemudian bagaimana dengan kemampuan come back Arsenal yang terbukti ampuh 2 musim ke belakang? Terakhir Arsenal melakukannya saat tandang ke West Ham. Mungkin ini bukanlah prasyarat mutlak, tapi bukan tidak mungkin Arsenal kecolongan lebih dahulu. Satu-satunya hal yang bisa membuat bangga adalah tren positif di Emirates. Oh iya, kedalaman skuad dan pemain kunci yang tumbang bisa jadi pembeda kedua tim saat melakoni perdelapan final UCL edisi kali ini.

Terakhir, jika harus merefleksi pertandingan kemarin, kemarin adalah pertandingan yang bertajuk balas dendam dan hasilnya memuaskan? Bukankah pertemuan dengan Die Rotten juga serupa? Universe conspires? Ah, entahlah. Saya ini Gooners yang terpisah bermil-mil jaraknya dari London, hanya dukungan dan sedikit kreativitas yang bisa saya berikan untuk mengungkapkan kepada tim tercinta ini.

NB : jika anda cinta pada sesuatu, alangkah baiknya jika cinta itu membuat anda menjadi lebih cerdas dan mampu mengeluarkan potensi anda seutuhnya. Jadilah fans yang mencintai dengan baik, bukannya fans yang mencaci tim sendiri. Jika hal itu terjadi pada anda, sepertinya ada yang salah dengan pengertian fans versi anda? J

* Kalimat ini tidak sedikitpun karena alam bawah sadar saya yang rasis, namun hanya untuk menggambarkan sebuah pola.“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)
** Beritahu temanmu jika kalah di BPL masih bisa berlaga, namun tidak untuk kekalahan di FA berapapun itu skornya, mungkin saja mereka lupa format kompetisi antara BPL dan FA Cup.

***

Profil penulis: Mahasiswa Semester 14 ( 14 means : Look Good, Loyalty, legend). Pemula dalam hal Pedagogi. Menulis sebagai injeksi endorfin

It’s Probably All in the Mind

20140212-052534.jpg

It’s Probably All in the Mind

Selamat sore. Akhirnya setelah sekian bulan absen mengisi blog ini saya kembali mampu menulis sambil mengawal perjalanan Arsenal. Banyak kisah heroik yang luput saya liput. Pula kisah memilukan yang berat menulisnya. Jangan mulai dengan kekalahan dari Liverpool kemarin, karena saya tahu itu memalukan, seakan menghempaskan harapan kita jatuh ke tanah.

Bagaimana bisa Martin Skrtl, bek yang musim lalu posisinya terancam bisa dengan mudah membobol gawang kita dua kali?

Mengutip lagu dari Oasis,

It’s probably all in the mind.

Arsenal belum mampu tampil meyakinkan kala menghadapi tim-tim besar di laga penting.
It’s probably all in the mind..

Mesut Özil ternyata hanyalah satu dari dua kepingan yang hilang karena Olivier Giroud belum mampu memaksimalkan daya ledak kreatifitas playmaker Jerman itu.
It’s probably all in the mind..

Duet maut Mertescielny yang katanya kokoh seperti karang masih saja tampil seperti pasir: tak tahu apa yang terjadi saat diterjang ombak ganas (baca: tim dengan penyerang hebat).
It’s probably all in the mind..

Seperti halnya orang-orang keren lainnya, saya berhenti mendengarkan Coldplay paska album X&Y.
It’s probably all in the mind..

Kalah 5-1 tidak membuat peluang kita pupus. Jangan biarkan serangan, kritikan dan sindiran media membuat keyakinan kita terombang-ambing. Bagaimana dengan Chelsea yang di dua pertandingan terakhir hanya mampu bermain imbang melawan tim papan tengah, West Ham dan West Brom dini hari tadi?

Hasil imbang itu juga yang membuat Arsenal kembali berpeluang merebut pos pertama Premier League. Karena menang 200-0 pun nanti, Manchester City tetap berada di posisi kedua.

Kenyataan ini membuat kita harus merekonstruksi nilai yang dikeluarkan media: bahwa juara liga harus mampu tampil meyakinkan kala melawan rival-rivalnya. Bahwa kekalahan Arsenal atas City dan Liverpool hampir pasti menutup peluang Arsenal menutup satu dasawarsa tanpa gelar liga Inggris.

Masalahnya ada 20 tim yang berlaga di kompetisi ini. Percuma saja Liverpool dan City digdaya dengan berbutir-butir gol yang mereka jebloskan jika ternyata kerap terpeleset saat menghadapi tim non enam besar. Dan bukankah dengan kemampuan Arsenal tampil konsisten (sebelum laga kontra Liverpool) itu yang membuat mereka nyaman bertengger lebih dari 3 bulan?

Arsenal (dan Arsène Wenger) belum mampu menemukan formula tepat saat tampil melawan tim yang dilatih oleh ahli taktik brilian.

Bagaimana dengan dua kemenangan atas Tottenham?
Bagaimana dengan fakta sebagai tim yang mampu menundukkan Dortmund — finalis UCL musim lalu kalau anda lupa — di kandangnya?
Bagaimana dengan leg pertama kontra Napoli?

As I’ve said before:

It’s probably all in the mind.

Masalahnya kita mampu tidak tetap memelihara asa dan harapan?
Sudut pandang harus sedikit dirubah saat tim diterpa krisis. Arsenal jelas berada dalam tekanan besar sebelum sepakmula di Anfield kemarin. Mereka harus menang karena City dan Chelsea hanya menghadapi lawan ringan, sementara lawan yang dihadapi adalah Liverpool yang telah bertransformasi menjadi tim dengan barisan penyerang trengginas.

Lalu yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan: belum genap satu menit gawang Szczesny sudah dibobol oleh pemain yang sejatinya tak diharapkan mampu dengan cerdik mengungguli jebakan zonal marking.

Bayangkan anda telah merakit ulang komputer desktop dengan spek kelas advanced gamer: berpendingin, memori 8 RAM dan prosesor termutakhir, tapi komputer tidak beroperasi maksimal sebab ada kabel yang salah colok!

Jangan lupakan juga fakta perubahan gaya Liverpool yang tak lagi Suarez sentris. Plus gemuruh Anfield yang konon menjadi salah satu stadion terbising di dunia.

Melawan United keseluruhan skuat harus sadar bahwa ini bisa jadi turning point bagi keseluruhan nasib klub musim ini. Mereka harus sadar bahwa skuat David Moyes tak ubahnya para caleg menjelang pemilu yang ringan tangan memberi hadiah.

Jack Wilshere tak boleh lagi terlalu emosional kala berduel dengan gelandang lawan. Dan saya pikir sudah waktunya bagi Kieran Gibbs untuk kembali mengisi pos bek kiri. Semangat juang dan kegigihan Tomas Rosicky juga patut kembali hadir sejak menit pertama.

Tulisan ini mungkin dirasa kurang mendalam. Tapi sebagai permulaan setelah absen lama, saya butuh pemantik agar bisa terus hadir paling tidak dalam skala mingguan.

Tidak seperti semangat menulis saya yang kerap padam, jangan sampai harapan kita melihat Arsenal kembali berjaya berada di ruang hampa.

Sunderland dan Marseille telah ditaklukkan, berikutnya Stoke

The Gunners on tour

Manakala suatu kerajaan telah mengobarkan panji perang, saat itu kita tahu bahwa sang raja telah siap dan yakin dengan kekuatan bala tentaranya. Suatu partai politik, di negeri yang menganut multi-partai, ketika telah mencanangkan gacoan untuk maju menjadi pemimpin selanjutnya pasti telah paham kredibilitas dan elektabilitas tokoh terkait. Pun suatu perusahaan — katakanlah — periklanan. Ketika plang neon sudah dipasang, gedung sewaan telah terisi perkakas perkantoran, si pemilik telah tahu langkah-langkah yang dibutuhkan untuk bersaing di bisnis periklanan, ‘pasar’ macam apa yang menjadi target kliennya, iklan model apa yang sanggup ia buat, dan seterusnya.

Ketiga contoh di atas menuturkan pada kita bahwa tak peduli di medan perang, arena politik hingga persaingan bisnis, pemahaman akan kekuatan sendiri dan rival mutlak dimiliki seseorang sebelum benar-benar bertempur. Bagi mereka yang paham kekuatannya tak seberapa, akan memilih untuk merendahkan tingkat pencapaiannya.

Kerajaan yang tak memiliki kavaleri tapi mempunyai cadangan kayu berlimpah akan berkongsi dengan kerajaan yang lebih kuat guna menjaga dominasi mereka di masa depan. Partai politik gurem akan melakukan lobi-lobi tingkat dewa guna setidaknya mendapat beberapa kursi di dewan pemerintahan. Perusahaan periklanan bermodal kecil akan bergerilya mencari perusahaan gurem yang bujetnya kecil — mereka harus mawas akan kemampuan pegawainya dalam berkreasi.

Sebuah klub sepakbola, yang bertarung hampir satu tahun di area kompetitif tentu ingin selalu menang. Tapi sebuah mimpi di siang bolong jika klub seperti — katakanlah — Hull City menargetkan menjadi juara EPL di ujung kompetisi. Bagi mereka, bertahan di EPL musim depan sudah merupakan prestasi. Syukur-syukur jika mampu ‘berbicara’ lebih banyak di kompetisi domestik lain.

Lantas akan ada sebuah tudingan kepada saya, ‘memangnya Arsenal klub sekelas Hull? Enak saja!’. Tidak bisa dipungkiri. Tapi komentar tadi tidak sepenuhnya benar.

Sebelum kompetisi UCL digelar minggu lalu, saya membeli dua tabloid sepakbola dengan tiras terbesar yang pada saat bersamaan membahas tim-tim yang berkompetisi di UCL. Mana saja grup yang masuk kategori ‘neraka’, siapa saja yang peluang lolosnya besar, juga prediksi serta ulasan-ulasan mendalam mengenai statistik, tradisi hingga sejarah beberapa klub atau pelatih.

Di tabloid yang saya pegang tersebut, tidak satu pun memajang salah satu pemain Arsenal di sampul. Pun ‘aroma’ tulisan di tiap halaman, mereka tetap berbondong-bondong menjagokan Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Juventus dan Bayern Munchen untuk menjuarai kompetisi tertinggi di Eropa ini. Tidak salah, karena kekuatan klub-klub tersebut dianggap mmemnuhi — bahkan melebihi — standar klub Eropa lain.

Maka ketika Arsenal mampu kembali menang di kandang Marseille, sesungguhnya pencapaian tersebut sudah di luar ekspektasi saya pribadi. Saya ingin Arsenal selalu menang minimal 50-0 atas semua lawan yang dihadapi, tapi sambil menjaga rasa optimis, saya selalu menekankan untuk selalu menakar kadar ekspektasi saya agar tak terlalu kecewa.

Rekor 10 kemenangan tandang yang anak-anak Arsene Wenger raih bahkan tak mampu dilakukan Arsenal era Invincibles. Ya, betul, kekalahan atas Aston Villa adalah sebuah langkah buruk dalam memulai kompetisi. Tapi jika ternyata hal tersebut mampu melecut klub untuk merekrut dua pembelian brilian (seorang pemain dengan julukan si raja assist bewajah sendu dan si anak hilang Mathieu Flamini yang ternyata mampu mematahkan keraguan fans), memompa semangat skuat untuk secara padu mendulang hasil optimal, mengapa tidak?

Di tengah badai cedera, Arsenal mampu meraih 6 kemenangan berturut-turut sementara Chelsea — yang kekuatan skuatnya terlihat mengerikan — justru diremukkan Everton dan Basel. Ada sesuatau yang spesial di tim yang kita punya saat ini. Tak luput dari perhatian, dalam daftar cedera tersebut bahkan terdapat dua kapten utama; hal yang jika terjadi tiga musim lalu akan membuat motivasi tim menjadi pincang dan lihat kini: Per Mertesacker dan Bacary Sagna unjuk diri mengenakan ban kapten untuk menggantikan Thomas Vermaelen dan Mikel Arteta.

Ketika musim baru saja bergulir, semua fans sepakbola pasti memendam hasrat untuk melihat timnya meraih suatu gelar di bulan Mei. Menjelang Agustus, periode dimana semua disibukkan oleh alur keluar-masuk pemain, fans akan (harusnya) bisa merekronstruksi harapan. Dengan hitung-hitungan sederhana (mengindahkan kekuatan skuat, finansial, injury record, tradisi, tren), ada 20 tim yang memerebutkan gelar EPL. Berarti masing-masing tim ‘hanya’ memiliki 1/20 kesempatan untuk menggapai hal tersebut. Belum lagi jika kita menghitung kesempatan suatu tim di kompetisi Piala FA.

Ketika ditanya wartawan apakah skuatnya ini (saat itu media sangat gencar memberitakan ketertarikan Arsenal terhadap Suarez), mampu bersaing dengan tim seperti Chelsea atau City Wenger menjawab,

Yes, of course. I am confident. Why should I sit here and say to you we can absolutely not win the title with the players we have?

Saat itu, jawaban di atas akan terdengar ironis. Tapi Wenger kembali membuktikan bahwa memang benar media telah — mengutip istilah yang dia lontarkan — ‘mencuci otak’ fans di periode bursa transfer. Fans menjadi lupa bahwa tanpa pemain tambahan, skuat yang tak lagi kecolongan pemain kuncinya ini berhasil mencatat rekor menakjubkan setelah menang 2-0 di Allianz Arena.

Sunderland 1 – 3 Arsenal

Sunderland adalah tim seperti Swansea, Southampton atau Newcastle dua musim lalu: tim-tim yang secara kasat mata tak akan membahayakan Arsenal namun fakta berkata dengan mereka-lah kita sering kehilangan poin.

Musim lalu sendiri kita belum pernah menghadapi Sunderland asuhan Paulo di Canio, eks West Ham yang menjadi pelatih mereka di penghujung kompetisi 2012-13.

Di pekan keempat, semua pandangan mata tertuju pada tiap rekrutan baru yang klub mereka gaet di tenggat bursa transfer. Maka tak heran, pandangan mata Gooner (juga non-Gooner) tertuju pada Mesut Ozil; si raja assist berwajah sendu.

Tak butuh waktu lama bagi Ozil untuk menjulangkan namanya di belantara EPL. 11 menit.

Bola yang terlepas tepat di depat kotak 16 yard bergulir ke arah Kieran Gibbs. Gibbs — yang musim ini terlihatt makin berwibawa — melihat pergerakan dua pemain serang Arsenal yang siap meluncur untuk menerima bola lambung. Giroud dan Ozil. Posisi Giroud terlalu riskan sementara si raja assist berwajah sendu telah dengan cerdik membelakangi bek sayap Sunderland.

Gol terjadi begitu indah. Gol yang mengingatkan saya dengan cara Invincibles menghancurkan lawan-lawannya dulu. Bola lambung dari Ljungberg dikontrol Bergkamp sambil sedikit meloncat (juluran kaki ikoniknya itu!), dan dengan sekali lirik, sekali kontrol, the non-flying Dutchman mengirimkan bola ke kotak 6 yard untuk Pires yang sudah berlari kencang. Kiss! Kiss! Bang! Bang!

Ketiga pemain (Gibbs, Ozil dan Giroud), berkontribusi maksimal atas terciptanya gol ini. Betapa pemandangan yang menyejukkan saat melihat semua pemain merayakan gol tersebut.

Sepakbola eksotis telah kembali. Sepakbola elegan ala Arsenal telah dirasa siap kembali beraksi. Gaya sepakbola yang dulu diciptakan Arsene Wenger.

Poin utama dari lemahnya daya serang Sunderland adalah hilangnya sosok Stéphane Sessègnon yang dilepas di Canio ke West Brom. Untuk tim yang (dulu) mengandalkan permainan sayap dan bola-bola lambung, Sessègnon adalah wujud komplit yang musim lalu berkali-kali menyulitkan sisi kanan pertahanan Arsenal. Posturnya menjulang dan kekar, juga piawai dalam menggiring bola menyusuri sayap. Plus, ia bisa diandalkan dalam duel-duel udara.

Paulo di Canio sendiri berujar, ia melepas Sessègnon karena yang bersangkutan memang sudah tak mempunyai hasrat untuk membela tim yang berdomisili di kawasan Wearside ini.

Selanjutnya kita kembali disuguhi sentuhan-sentuhan magis Ozil — si raja assist berwajah sendu — dalam mengontrol permainan. Ia bermain tanpa Mertesacker dan Podolski, dua sosok yang mempu memberinya arahan dengan bahasa ibu, tapi baginya itu bukanlah suatu perkara. Ada dua sodoran bola yang ia berikan untuk Walcott. Namun sayang, ditambah satu umpan silang dari Wilshere, tiga peluang emas tersebut tidak mampu dioptimalkan Walcott.

Ozil bermain lebih rileks. Ia tak diplot Wenger untuk menjemput bola ke 2/3 lapangan. Hal itu menjadi urusan Ramsey dan Wilshere — yang dipertandingan ini ditempatkan di sayap kiri. Dan kegelimangan Ramsey berlanjut dengan torehan enam tekel sukses di babak pertama. Ia menjadi pemain yang ‘membenahi’ alur bola Arsenal jika tercerai-berai. Zidanesque roulette-nya lagi-lagi keluar. Ia sukses ‘menyederhanakan’ tugas Ozil; dimana operan antara Ozil dan Ramsey menjadi kombinasi terbanyak di pertandingan ini.

Sementara bayangan akan meredupnya sinar Wilshere, bisa saya vonis sirna sudah. Wilshere bermain aduhai sebagai gelandang box-to-box sekaligus, dengan kecenderungannya melewati pemain lawan, membuat perhatian pemain Sunderland terpecah. Hingga kini ia belum menyuplai assist ataupun gol, tapi gaya bermainnya tersebut menyumbang warna positif: Arsenal jadi sering dilanggar di daerah-daerah berbahaya. Pula kemampuannya melepas second assist, atau dalam bahasa sederhananya, assist yang tercipta sebelum assist terakhir.

Menilik data dari StatsZone, di babak pertama dominasi Arsenal terlihat kentara. Arsenal berhasil melakukan 292 operan sukses, dimana 83 dari catatan tersebut terjadi di sepertiga akhir lapangan Sunderland. 69.5% possession dan 6 tembakan (50% ke arah gawang).

Babak kedua berjalan, di Canio mengganti David Vaughan yang seperti tertidur dengan Craig Gardner. Belum lima menit, Adam Johnson (salah satu pemain overrated ‘too much too soon’ Manchester City) menyeruak masuk kotak penalti Arsenal dan Koscielny melakukan tekel tak perlu. Gardner pun sukses mengonversinya untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Koscielny loves a late tackle, dan dia memiliki reputasi sebagai penyapu terakhir pertahanan Arsenal. Namun, seperti kita sama-sama ketahui, kerap kali sapuan kakinya berbuah pelanggaran. Saya pikir ini juga merupakan imbas dari absennya Mertesacker, dan meski berduet dengan rekan satu negara (Bacary Sagna), tentu berbeda.

Dari apa yang nampak seperti milik Arsenal, justru Sunderland yang kini mendominasi. Masuknya Gardner terbukti memberi daya gedor berlebih dengan tembakan-tembakan jarak jauhnya. Catatan statistik memerlihatkan rasa frustasi Sunderland dengan torehan 5 tembakan on target dari luar kotak penalti yang mereka bukukan. Sementara Arsenal, dari 10 tembakan yang tercipta di babak kedua, hanya dua yang berasal dari luar kotak 16 yard. Tiga gol pun terjadi di dalam.

Disini-lah Ramsey kembali unjuk gigi. Jenkinson yang terlihat gugup (musim lalu ia diusir wasit kala melawan tim yang sama) mengirim crossing ke kotak penalti. Mengulang apa yang ia lakukan saat menjebol gawang United 3 musim silam, Ramsey mengangkat kedua tangan untuk memberi isyarat bahwa ia bebas kawalan, dan… blam! Bola cantik dari Jenks pun disambar Ramsey. Satu-satunya hal yang saya benci dari Ramsey di gol ini adalah selebrasinya yang ala kadarnya.

Sempat terjadi beberapa insiden yang membuat suporter tuan rumah menyoraki wasit Martin Atkinson. Salah satu yang paling krusial adalah saat ia tak memberi (saya tak paham padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya) advantage atas gol Jozy Altidore. Jika pemain tim A dilanggar sebelum mencetak gol, tapi ia mengindahkan peluit wasit, maka pemain tim A diberi kelleluasaan untuk meneruskan permainan. Jika terjadi gol, seperti di laga ini, maka pelanggaran gugur. Menang dengan sedikit bantuan wasit. Benar-benar Arsenal yang berbeda.

Di gol ketiga Arsenal (kedua dari Ramsey), kita bisa melihat bahwa keputusan Wenger untuk lama memainkannya di sisi sayap membuahkan hasil aduhai. Jika anda masih ingat, di pertandingan ini Giroud tidak hanya memberi one-touch pass untuk Ramsey seorang, tapi juga kepada Walcott (bahkan hingga 3 kali). Ramsey, yang masuk dari lini kedua, berhasil melihat ruang longgar pertahanan Sunderland. Kini dengan kepercayaan diri berlipat ia dengan tenang menaklukkan Keiren Westwood.

Tiga poin yang cukup mengantar Arsenal memuncaki klasemen liga primer. Pihak ofisial menganugrahi gelar man of the match pada Giroud, yang saya pikir bermain tak kalah beringas mengingat ia kembali memenangi duel udara terbanyak (6).

Marseille 1 – 2 Arsenal

Saya telat bangun. Ditambah terbirit-birit mencari link streaming, saya baru bisa menyimak pertandingan di babak kedua.

Dari komentar-komentar di Twitter saya sedikit paham bahwa Arsenal tidak mendominasi pertandingan tandang kedua dalam seminggu ini. Berada di grup neraka bersama Dortmund dan Napoli, tiap tim akan mengoptimalkan laga tandang agar memudahkan posisi mereka di klasemen. Kebobolan satu gol akan sangat menentukan dalam hitung-hitungan penempatan posisi di klasemen.

Saya mendapati sebuah respon dari twit di atas yang berbunyi kurang lebih, ‘gapapa yang penting menang dulu’. Saya tidak setuju karena fase grup yang hanya memertemukan tiap tim masing-masing dua kali, catatan menjebol gawang dan kebobolan akan sangat penting demi lolos ke fase berikutnya. Ditambah obsesi saya terhadap pertahanan (jebakan offside, rekor cleansheet, etc), gol Marseille itu berarti musibah.

Marseille memiliki playmaker timnas Valbuena dan  Jordan Ayew — yang di pertandingan ini kerap menggiring bola menerobos dua lapis pertahanan Arsenal. Sesaat setelah mendapat koneksi streaming mumpuni, pertahanan komedi Arsenal hampir membunuh jalannya laga ketika Mertesacker melakukan kesalahan dalam mengantisipasi umpan silang. Bola yang ia sapu justru terlontar ke arah gawang Szczesny, terlihat 98% masuk ke dalam, Gibbs pun dengan cepat menghalau bola tersebut dengan kepala lonjongnya (ada yang turut memerhatikan bahwa kelonjongan tempurung Gibbs berada di level tak wajar?).

Lucunya, bek tim tuan rumah pun tak mau ketinggalan untuk mengikuti aksi Mertesacker. Bedanya, bola umpan silang Gibbs yang seharusnya ia halau dengan  kaki tapi malah dihalau dengan kepala tersebut mengarah pada Walcott yang berdiri bebas. Momen yang Walcott tuturkan bagai berlangsung puluhan tahun tersebut tak ia sia-siakan. Sepakan kerasnya menghujam arah bola ke sisi kanan atas gawang Mandanda (yang sebetulnya bermain cukup tangguh).

Gibbs kembali menunjukkan kegemilangan dengan assist yang dia berikan pada Ramsey (meski saya tak yakin hal tersebut dihitung assist). Gibbs semakin solid dan menunjukkan determinasi di tiap pertandingan. Perlu di ingat, di musim yang baru berjalan kurang lebih sebulan ini ia telah menyumbang assist dan gol — sesuatu yang tak bisa ia lakukan musim lalu. Ditambah, tugas Gibbs lebih berat ketimbang Sagna/Jenkinson mengingat semua pemain (kecuali Podolski) yang Wenger tempatkan di sisi kiri tak bermain seperti Walcott. Baik Wilshere hingga Cazorla cenderung beroperasi ke tengah. seperti yang terpampang di visualisasi di bawah:

— via @Orbinho

Akan sangat berbahaya jika moda permainan seperti ini terus berlanjut:

  1. Podolski — partner terbaik Gibbs yang mengerti kapan harus turun — harus absen hingga Desember,
  2. Gibbs tidak bisa terus-terusan sanggup menghadapi gempuran lawan dan membantu penyerangan sendirian. Menjadi jelas kenapa Wenger memasukkan Monreal untuk menggantikan pemain selain Gibbs: demi membantu Gibbs agar tak kedodoran.

Tren positif ini, enam kemenangan beruntun di segala ajang dengan skuat pas-pasan, akan menghadapi tantangan berikutnya: menghadapi sekumpulan orang-orang Neanderthal di kandang. Setelah performa menakjubkan di kandang lawan, anak-anak Arsenal harus membuat Ashburton Grove disegani.

Ditambah lagi, Arsenal mulai memasuki periode sibuk. Dari pertandingan melawan Stoke besok, Arsenal hanya punya waktu jeda dua hari saat  meladeni West Brom/25 September (Capital One Cup), Swansea/28 dan Napoli/1 Oktober.

Kombinasi pemain baru lintas-negara yang kita punya — Spanyol dan Jerman — ternyata tak membuat pemain-pemain akar Inggris bentukan Wenger tertutupi sirnanya. Seperti yang dicatat jurnalis internal klub Josh James, 13 dari 15 gol yang Arsenal cipatkan musim ini disumbang (assist/gol) oleh pemain-pemain British core.

Jika kau terus-terusan marah dan melayangkan kritik kepada klub di periode transfer pemain, sudah waktunya kini untuk mengangkat topi bagi para pemain dan terutama pelatih. Seperti tajuk utama blog sejarawan Arsenal Tony Attwood,

Supporting the club, the players and the manager

Selamat berakhir pekan. Jumpa esok hari.

KUPAS TUNTAS: Arsenal Global Scouting System dan Mereka yang Tak Pernah Tidur (bagian II)

Oleh: Isril Hamdani

(bagian terakhir dari dua tulisan)

George Puscas

Berbeda dengan Bobby Bennet, pemandu bakat yang sudah lebih dari 10 tahun berada di Arsenal ini berhasil membujuk Nicklas Bendtner di tahun 2004 untuk pindah ke Arsenal dengan membawakan jersey Arsenal yang ditandatangani pemain idolanya, Robert Pires. Sementara itu di klub lain Manchester United berhasil mengontrak striker AS Roma David Petrucci setelah ulang tahunnya ke 16 dengan bayaran 95 ribu poundsterling per tahun dan ayahnya ditawari pekerjaan sebagai groundsman di lapangan latihan klub. Sebenarnya ini adalah tugas seorang manajer meyakinkan pemain dan keluarganya untuk pindah, tapi seorang pemandu bakat berkelas juga harus memiliki atribut ini.

Untuk apa manajer turun tangan jika pemandu bakatnya pun mampu meyakinkan sang pemain untuk pindah?

Lalu bagaimana cara kerja mereka?

Hal pertama yang dilakukan pemandu bakat di Arsenal adalah mengidentifikasi bakat bakat pemain yang ada. Identifikasi itu mencakup bakat alami sang pemain, kehidupan pribadi dan keluarganya. Sebagai contoh saat Francis Cagigao menemukan Iqnasi Miguel. Sebelum merokemendasikannya ia terlebih dahulu harus mengidentifikasi pemain tersebut. Hasil identifikasi dari Cagigao akan dikirimkan ke chief scout Steve Rowley dan dinilai apakah layak atau tidak.

Proses kedua adalah pantauan ulang berkali kali. Selesai diidentifikasi, dilaporkan dan dinilai bagus, maka akan dipantau lagi sebanyak 2 kali lagi atau lebih. Iqnasi Miquel yang merupakan hasil rekomendasi Cagigao akan dinilai oleh Rowley. Hasilnya ditinjau dari permainannya lebih mendalam lagi. Jika hasil pantauan dalam 2 pertandingan itu kurang baik, maka akan ditinjau lagi lebih mendalam dalam waktu yang lebih lama. Tetapi jika hasil dari pemantauan beberapa pertandingan itu positif, maka Rowley akan mengutus pemandu bakat lain selain si perekomendasi. Jika pendapat dari si pemandu bakat kedua ini ternyata tetap positif seperti si perekomendasi bakat, maka Rowley yang akan turun langsung.

Disini tugas Rowley akan benar benar diuji, ia yang akan langsung turun ke lapangan untuk mengumpulkan data-data pemain beserta video permainannya. Hasil pantauan Rowley beserta pemandu bakatnya yang berisi data-data dan video pemain itu jika dinilai layak akan dilaporkan kepada Arsene Wenger.

Hasil laporan dari Steve Rowley yang diterima Wenger akan di-review lagi oleh si profesor. Jika layak, Wenger akan mengontak klub asal pemain tersebut untuk mencari infonya. Setelah itu, Wenger akan mengontak koleganya di klub si pemain incaran bermain untuk mencari segala informasi tentang pemain itu. Dan apabila hasilnya benar benar layak, maka Wenger akan melakukan pengamatan secara langsung lagi dan jika berminat maka ia akan mengajukan kontrak ke pemain.

They who never sleep

Jika pemandu bakat menemukan pemain muda potensial dari klub klub yang ada di Brazil atau Argentina, katakanlah klub itu Santos, Corinthians, Fluminese, Boca Juniors, River Plate, Newell’s Old Boys, menurut saya itu biasa — karena reputasi klub klub tersebut cukup besar, namanya juga cukup familiar dan negara tersebut memang dikenal sebagai penghasil wonderkid.

Namun jika seorang pemandu bakat menemukan pemain muda dari klub antah berantah dan berada di lowest league, itu baru luar biasa.

Sebut saja Nicklas Bendtner sebelum tiba di Arsenal dia bermain di Kjobenhavns Boldklub, Ignasi Miquel dari Esportivo Cornella, Fredrik Ljungberg di Halmstads BK, Sebastian Larsson di IFK Esklistuna, Havard Nordveit di Haugesund, Johan Djourou di Etoile Carouge, Joel Campbell di Deportivo Saprissa, Philippe Senderos dari Servette, atau yang sedikit aneh Ryo Miyaichi, sebelum di trial oleh Arsenal dia ditemukan saat turnamen antar sekolah di Jepang, Ryo mewakili sekolahnya Chukyodai Chuyko High School. D iluar sekolah Ryo juga bermain di sebuah klub bernama Sylphid FC.

Nama-nama klub di atas mungkin asing di telinga kita, tapi begitulah para pemandu bakat di Arsenal: bekerja sampai ke kasta terendah hanya untuk menemukan pemain muda potensial, mereka menjangkau suatu tempat yang memang sulit dijangkau oleh pemandu bakat lain. Dan perlu diingat bahwa pemandu bakat yang baik dapat membantu menghemat jutaan pound dan semakin rendah level yang dicermati, semakin sulit pekerjaan ini dilakukan. Para pemandu bakat di Arsenal telah melewati tahap ini.

Namun ada satu hal yang mengganjal pikiran saya yakni gaji yang mereka terima. Saya kaget bahwa rata rata gaji mereka hanya berkisar 1000-1500 pounds per pekan — kecuali Steve Rowley mendapat 5000 pounds per pekannya. Bahkan Everton Gushiken hanya bergaji 900 pounds. Kita tahu Arsenal adalah klub yang ketat dalam hal pengeluaran apalagi untuk urusan gaji, namun dengan gaji segitu saya pikir kurang sebanding dengan apa yang mereka beri selama ini. Mereka memang diberikan fasilitas eksklusif, tapi mereka ini adalah super scout, saya tidak yakin apakah ada klub diluar sana yang memiliki para pemandu bakat sebaik Arsenal.

Saya tidak mau menebak apakah mereka memiliki tunjangan atau bonus dari pekerjaannya, tapi jika saya penguasa di Arsenal, maka saya akan memberikan mereka gaji setara Oxlade Chamberlain ataupun Aaron Ramsey. Kenapa? Karena saya tidak ingin lagi kehilangan orang orang terbaik. Kita sudah pernah kehilangan Sandro Orlandelli, salah satu scout terbaik Arsenal yang bulan April lalu menerima pinangan Santos dan menjabat sebagai direktur sepakbola. Sandro adalah orang yang menemukan Pedro Botelho, Carlos Vela, Denilson dan Wellington Silva. Dan jauh sebelum itu kita juga pernah kehilangan Paul Burgess, groundsman terbaik di dunia, dan tentunya terakhir kehilangan pemain pemain terbaik.

Arsenal harus bisa melindungi para super scout ini. Mereka adalah penganut setia filosofi Wenger dan salah satu bagian yang vital yang menjaga keberlangsungan hidup Arsenal. Mereka adalah pemandu bakat kelas dunia: bekerja keras siang malam menemukan permata permata yang terpendam, dan saat mereka sudah menemukannya, mereka dengan sekuat tenaga tidak akan melepasnya. They never sleep at this job! They’re super scouts.

Steve Morrow (International Partnership Performance Supervisor)

Morrow, kiri, bersama George Graham. Karir Morrow terhenti setelah mengalami cedera aneh: terjatuh saat dipanggul Tony Adams ketika tim merayakan keberhasilan memenangi Piala Liga

Secara resmi pria asal Irlandia Utara ini bukanlah seorang pemandu bakat, tapi karena pekerjaannya yang lebih banyak dihabiskan diluar negeri membuat pria yang mirip dengan Steve Jobs ini secara tidak langsung menjadi scout tambahan buat Arsenal.

Steve dikenal sebagai mantan pemain Arsenal yang memenangi titel Piala Liga tahun 1993 dan mencetak gol kemenangan pada laga tersebut serta meraih UEFA Cup Winner pada tahun 1994. Selama 10 musim di Arsenal Steve mengantongi 85 penampilan dan mencetak 3 gol.

Pasca keluar dari Arsenal Steve bermain di Queen Park Rangers dan FC Dallas. Dia pensiun pada tahun 2003 diusia 34 tahun lalu tahun 2006 Steve menjadi manajer FC Dallas dan hanya bertahan selama dua musim.

Tahun 2008 Steve kembali ke Arsenal dan bekerja sebagai pengawas kinerja beberapa klub di luar Eropa yang menjadikan Arsenal sebagai mitra internasional mereka seperti Colorado Rapids dari US, BEC Tero dari Thailand, dan Hoang Anh Gia Lai di Vietnam. Diluar itu Steve juga bekerja di akademi Arsenal yang ada di Mesir dan Ghana.

Everton Gushiken dan Pablo Budner (Amerika Selatan)

Dua orang ini seperti hantu, tidak terlihat dan berita tentang mereka sangat sedikit, bahkan saya tidak pernah menemukan fotonya. Everton dan Pablo berada di Arsenal sejak tahun 2007, dan mereka berdua adalah scout tersisa, karena sebelumnya Sandro Orlandelli sudah keluar dari Arsenal. Khusus untuk Everton Gushiken, dia adalah orang yang merekomendasikan Giuliano De Paula, gelandang serang dari klub Internacional, tapi sayang pemain ini lebih dulu digaet FC Dnipro dengan banderol 11 juta Euro. Selain itu dia juga merekomendasikan Bernard, winger Atletico Mineiro kepada Arsenal. Saya tidak tahu apakah Arsenal memberikan tawaran resmi atau tidak kepada pemain ini, tapi yang jelas sekarang Bernard sudah berlabuh di Shakhtar Donetsk dengan transfer 25 juta Euro, dan itulah sebabnya kenapa saya memasang foto Bernard.

Tantangan: saya akan memberikan Anda secangkir kopi hitam jika Anda menemukan foto Everton dan Pablo!

Peter Clark (Belanda)

Sama seperti Everton dan Pablo orang ini juga seperti hantu, saya tidak menemukan satupun fotonya. Sejauh ini belum diketahui siapa saja pemain yang pernah direkrut Arsenal dari hasil temuannya. Tapi pada tahun 2008 lalu mantan pemain Arsenal ini merekemondasikan Eljero Elia kepada Wenger dan di musim ini Peter masih terus mengamati perkembangan dari dua pemain PSV, Georginio Wijnaldum dan Zakaria Bakkali (foto). Semoga saja Wenger merekrut dua pemain itu.

Tony Banfield (Italia, Kroasia dan Slovenia)

Maafkan saya jika kualitas fotonya buram, saya lelah mencari foto orang ini dan hanya satu ini yang saya temukan. Tony merupakan anak dari pelatih tim utama Arsenal Neil Banfield. Penemuan terbesarnya sejauh ini adalah Johan Djourou dimana ada sedikit cerita unik didalamnya. Awal mulanya ketika Tony menghadiri turnamen remaja di Kroasia, saat itu dia duduk berdekatan dengan para pemandu bakat dari klub lain. Entah disengaja atau tidak, Tony mendengar obrolan dari dua orang pemandu bakat yang menceritakan seorang anak kecil berusia 15 tahun dari klub Etoile Carouage bernama Johan Djourou. Tanpa berpikir lama saat itu Tony langsung menghubungi Steve Rowley untuk memantau pemain ini secara intensif dan hasilnya Arsenal lebih dulu merekrutnya.

Danny Karbassiyoon (Amerika Utara)

Jika kebanyakan pemandu bakat susah untuk ditemukan berita dan profilnya, orang ini malah sebaliknya. Danny Karbassyion mudah ditemui di jejaring sosial Twitter, dia cukup aktif menggunakannya. (Catatan editor: selain menjadi pencari bakat untuk Arsenal, Danny — bersama seorang rekan — juga seorang pendiri website sepakbola Soccer Without Limits).

Pria asal Amerika Serikat yang memiliki darah Italia dan Iran ini sebelumnya adalah mantan pemain Arsenal, dia berposisi sebagai bek kiri dan selama berkarir sejak tahun 2003 sampai 2005 dia hanya mengemas 3 penampilan dan mencetak satu gol saat debutnya melawan Manchester City pada Oktober 2004 di ajang Piala Liga lewat assist Frances Fabregas.

Setelah dilepas Arsenal tahun 2005 Danny bermain untuk Burnley selama dua musim dan hanya memperoleh 5 penampilan akibat cedera serius yang dialaminya. Dia tidak mendapat tempat dan Agustus 2006 Burnley melepasnya secara gratis.

Tahun 2007 Danny menerima tawaran trial untuk AZ Alkmaar namun gagal karena problem pada lututnya tak kunjung sembuh dan AZ Alkmaar enggan mengambil resiko. Dan Februari 2007 Danny memutuskan pensiun dari sepakbola dimana saat itu dia masih berusia 22 tahun.

Saat memutuskan pensiun Danny mengatakan bahwa dia ingin keluar dari sepakbola dan fokus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun pada April 2007 Steve Rowley menawarkannya pekerjaan sebagai pemandu bakat dan ditugaskan di wilayah Amerika Utara, sebuah pekerjaan yang sulit ditolak oleh pria penggemar berat tim AC Milan ini.

Dan sekarang Danny berstatus sebagai pemandu bakat termuda di Arsenal, saat ini dia berusia 29 tahun, karirnya masih panjang, dan sejauh ini kita baru mengetahui 2 pemain yang ditemukannya, orang itu adalah Joel Campbell dan Gedion Zelalem.

Juergen Kost (Jerman, Rep Ceko dan Austria)

Alih alih sebagai pemandu bakat, orang ini malah lebih cocok dilihat sebagai petinju kelas berat WBC dan bertarung melawan Vitaly Klitschko. Sama seperti Pablo dan Everton, tidak banyak yang diketahui dari orang ini selain pemain yang ditemukannya yaitu Philipe Senderos, Kyle Ebicilio, Lukasz Fabianski dan Wojciech Szczesny. Diluar pekerjaannya sebagai pemandu bakat Juergen mengajar di International Soccer Bank untuk memberikan pelatihan kepada siswa yang ingin menjadi seorang pemandu bakat profesional.

Bobby Bennet (Balkan: Serbia, Bosnia, Bulgaria, Makedonia dan Yunani)

Orang ini berada di Arsenal sejak tahun 2001 dan sekarang bertugas di semenanjung Balkan berkat rekomendasi dari Boro Primorac, orang terdekat Wenger. Namun sebelum itu ia bekerja untuk wilayah Skandinavia yang mencakup Denmark, Swedia serta Norwegia selama 7 tahun dan menemukan Nicklas Bendtner, Havard Nordtveit dan Sebastian Larsson.

Sejauh ini Arsenal memang belum merekrut pemain dari Balkan selama Bobby bertugas disana. Tapi pada September 2011 Bobby telah menemukan Mateo Kovacic yang dulunya bermain di Dinamo Zagreb, Steve Rowley juga turun langsung untuk memantaunya, dan pemain ini sudah masuk dalam radar Wenger, namun entah dengan alasan apa akhirnya Arsenal tidak jadi merekrutnya dan Mateo Kovacic pun mendarat di Inter Milan.

Mari kita tunggu penemuan terbaru dari Bobby Bennet. Saya berharap dia menemukan The New Edin Dzeko…

Gilles Grimandi (Prancis, Israel, Swiss dan Afrika)

Hanya ada satu manusia yang lebih tau tentang pemain asal Prancis selain Wenger di Arsenal, orang itu adalah Gilles Grimandi. Saya tak mau bercerita panjang lebar tentang mantan pemain Arsenal ini, karena CV nya luar biasa. Secara keseluruhan dia telah menemukan dan merekomendasikan Bacary Sagna, Gael Clichy, Abou Diaby, Gilles Sunu, Alex Song, Samir Nasri, Mathieu Flamini, Oliver Giroud, Yaya Sanogo dan Laurent Koscielny. Diluar itu Gilles juga mengusulkan Clement Granier, Mapou Yanga Mbiwa, Mamadou Sakho dan Remy Cabella kepada Wenger.

Gilles came to watch me at Auxerre and he invited me to a hotel in Paris. Arsene Wenger was there to welcome me in person. I was very impressed that he had come all that way specially. He told me I would get my chance at Arsenal. He said he’d been following me for years. The journey he’d made convinced me to join Arsenal. – Yaya Sanogo

Dan kelak jika Steve Rowley pensiun, mungkin hanya ada dua orang yang layak untuk menggantikannya, orang itu adalah Francis Cagigao dan Gilles Grimandi.

Francis Cagigao (Spanyol dan Portugal)

“You have to see this kid, he is special.” Itulah kalimat pertama yang diucapkan Francis Cagigao saat menelepon Steve Rowley saat pertama kali melihat Frances Fabregas tahun 2002 silam dimana waktu itu Fabregas yang berusia 15 tahun bertanding di partai derby Catalan melawan Espanyol. Cagigao mendesak Steve untuk terbang dari London untuk melihat Fabregas, dan saat Steve melihatnya Steve hanya butuh waktu 15 menit untuk membuat keputusan bahwa Arsenal harus merekrutnya.

Kisah diatas mungkin sebuah penemuan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arsenal, khususnya Cagigao terlebih lagi tahun 2002 itu adalah tahun pertama Cagigao memulai karir sebagai scout di Arsenal.

Tapi sebelum berkarir sebagai scout Cagigao, ya Cagigao (kadang sedikit sulit mengeja namanya : Cakigao) juga sempat berkarir sebagai pemain di Arsenal, tepatnya pada tahun 1984 (usia 16 tahun) sampai 1988, selanjutnya dia membela Barcelona B pada tahun 1989, dan hanya bertahan satu tahun. Setelah itu karirnya menurun, dan hanya dihabiskan di liga liga Cacing, bermain di klub Ferrol, Yeclano dan Lemos. Sepanjang karirnya dia hanya bermain 36 kali dan pensiun tahun 1998.

We’ve always seen that you don’t have to be the biggest, strongest or quickest to be a great footballer, and once he matures a little bit more in his game he’ll develop very well. – Francis Cagigao

Walaupun sebagai pesepakbola karirnya tidak sesuai harapan, namun dalam urusan menemukan pemain, Cagigao termasuk salah satu yang terbaik dan aset berharga yang dimiliki Arsenal. Selain Fabregas, Cagigao juga yang menemukan Ignasi Miquel, Jan Toral, Hector Bellerin dan Fran Merida. Media di Spanyol menjulukinya “Arsenal Man In Spain” dan sekarang Cagigao menjabat sebagai asisten Steve Rowley.

Steve Rowley (Chief Scout/Kepala Pencari bakat)

Rowley, berbincang bersama Wenger

Rowley, berbincang bersama Wenger

Seorang Legenda! Jika Anda berbicara tentang Steve Rowley maka Anda harus berbicara di level lain. Steve tidak bisa dibandingkan dengan pemandu bakat lain yang ada di Arsenal, orang ini berada di level yang sama dengan Pierluigi Casiraghi (Inter Milan), Nito (Real Madrid), Noerbert Ziegler (Bayer Leverkusen) dan Piet De Visser (Chelsea).

Steve adalah kepala pemandu bakat dan orang yang paling bertanggung jawab dalam Arsenal Global Scouting System. Dia adalah sesepuh, sudah 33 tahun berada di Arsenal jauh sebelum Wenger tiba di Highbury dan Steve adalah orang yang menemukan Tony Adams dan Ray Parlour.

Steve juga orang yang loyal, tahun 2011 kemarin dia menolak tawaran Chelsea untuk menjabat sebagai direktur olahraga menggantikan Frank Arnesen yang hijrah ke Hamburg dan menolak tawaran Zenit St Petersburg dengan gaji yang cukup besar. Arsenal tidak boleh melepas orang ini, Wenger harus mengikatnya dengan kuat.

Kesimpulan

Ian Carrington mengatakan sistem jaringan pemandu bakat layaknya seperti sebuah investasi, tidak ada jaminan bahwa pemain yang mereka jaring akan menjadi pemain bintang. Namun dengan memperbesar jaringan pemantauan mereka, masing masing klub berharap rasio sukses mereka pun akan semakin baik. Apalagi mengingat bahwa jika mereka tidak melakukan scouting, kompetitor mereka pasti melakukannya.

Dan saya membayangkan jika Wenger tidak pernah melatih Arsenal mungkin Arsenal tidak akan memiliki Global Scouting System, kalaupun Arsenal memilikinya mungkin kita hanyalah plagiat dari sebuah model yang diterapkan oleh klub lain bukanlah sebagai penggagas.

Steve Rowley pernah berujar bahwa sebelum Wenger tiba di Arsenal ia tidak pernah bepergian ke luar negeri untuk memantau seorang pemain. Sekarang semua berubah, setiap pemandu Arsenal bakat memiliki wilayah teritorial masing masing di seluruh pelosok dunia, tidak ada area yang tidak terjamah, hampir semua pemain akan terdeteksi oleh Arsenal.

We are able to attract the most promising prospects, because we have a calling card stamped ‘Arsene Wenger’. They know they will get the chance to play. It is one of our principal arguments. And of course, the great money paid to youngsters at Arsenal helps. – Gilles Grimandi

Apa yang dikatakan Gilles adalah realita. Arsene Wenger adalah kunci kenapa pemain muda mau bermain untuk Arsenal. Mereka sadar mereka akan mendapat kesempatan bermain lebih banyak dibanding bermain di klub besar lainnya. Faktor besar lainnya adalah fasilitas, semua orang sudah mengakui fasilitas latihan Arsenal mungkin yang terbaik di Inggris. Selebihnya adalah uang sebagai alat pelicin, dalam hal ini mungkin Arsenal masih kalah dibanding klub lain, kita sudah pernah mengalami hal ini dalam kasus Cristiano Ronaldo, Edin Dzeko, dan Didier Drogba. Kita lebih dulu disalip oleh tim lain hanya karena mereka menggelontorkan uang lebih banyak. But don’t worry itu hanyalah hal kecil di masa lalu, saya yakin Wenger sudah belajar banyak dari hal-hal seperti itu . Bukankah baru baru ini kita baru saja mendatangkan nomor 10 terbaik di dunia?

Seperti yang dikatakan Benhan bahwa Arsenal adalah klub inovasi dari era Herbert Chapman sampai Arsene Wenger, dan kini Wenger sudah membuktikan itu, ia telah memetik hasil dari sistem yang telah digagas dan dirancangnya, dan sekarang banyak klub yang berlomba lomba meniru model ini, tapi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada klub lain, hanya sedikit klub yang mampu menyamai jaringan pemandu bakat Arsenal yang sudah mengglobal. Saya bangga mengatakan bahwa Arsenal adalah pemain terdepan dalam industri ini.

Victoria Concordia Crescit!

Catatan penulis: Terima kasih kepada majalah Four Four Two edisi Agustus 2010 yang mengupas “Rahasia Kehidupan Pemandu Bakat” dan sebuah akun di Facebook yang bernama Arsenalku serta artikel Ian Carrington di salah satu situs lokal Indonesia. Beberapa kutipan saya ambil dari artikel tersebut. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Catatan editor: untuk mengetahui bagaimana kerja seorang pencari bakat, tonton film “Trouble with the Curves” yang dibintangi Clint Eastwood, Amy Adams serta Justin Timberlake. Meski lahan yang mereka garap adalah baseball, tapi saya rasa bisa sedikit memberikan gambaran tentang bagaimana mereka bekerja, intrik antar sesama scout, hingga gesekan dengan bos di klub.