Mesut Ozil: The Lost Star

Mengupdate blog secara berkala ternyata mempunyai tantangan yang tidak main-main. Sungguh, saya pribadi begitu merindukan masa-masa di mana blog ini rutin mengupas segala hal tentang Arsenal, baik secara mendalam maupun yang tidak. Beruntung sejak dulu saya memberi ruang bagi sesama gooners untuk menyumbang tulisannya di blog ini. Tulisan ini datang dari goonerette bernama Yasmin — yang mengaku tak pernah menulis artikel sepakbola sebelumnya. Saat email darinya datang di kotak surat kami, rasa senang bukan kepalang menghinggapi. Namun kesibukan (ya, saya tahu ini klise) membuat tulisannya teronggok begitu saja di kotak surel kami. Kali ini Yasmin membahas perkembangan permainan Mesut Ozil di Arsenal, yang dari beberapa pihak dianggap belum nyetel betul dalam skema permainan Arsenal. Ozil dianugrahi posisi favoritnya — AMF — saat Arsenal melawan Aston Villa, kemudian Wenger mengembalikannya di posisi sayap kiri di derbi London Utara, hingga semalam kembali ke AMF. Opini tentangnya bercabang dan tak sedikit gooners ataupun media yang masih menganggap performanya tak seimpresif di Madrid. Selamat membaca!

Oleh: Yasmin Jamilah

Mesut Ozil mengubah segalanya saat didatangkan pada deadline transfer tahun lalu. Selain karena mahar transfernya yang memecahkan beberapa rekor sekaligus (pemain termahal yang pernah dibeli Arsenal, pemain termahal Jerman, pemain termahal yang pernah dijual Real Madrid), kedatangan Ozil juga terkesan mengagetkan karena pada bursa transfer musim lalu, Arsenal masih belum mengatasi eksodus-eksodus bintang yang meninggalkan tim sebelumnya. Kendati begitu, kedatangan Mesut Ozil ke Premier League ternyata mengubah keadaan: Arsenal—yang saat itu baru saja mengalami kekalahan 3-1 dari Aston Villa di kandang dan dianggap tidak cukup kompeten untuk bersaing di klasemen puncak, seketika mendapatkan tambahan respect. Kedatangan Ozil memberikan atmosfer positif untuk Arsenal, yang kemudian memimpin klasemen untuk waktu yang lumayan lama.

Tapi, itu dulu.

Rasanya seperti mimpi saat tahun lalu saya mengecek official website Arsenal dan melihat welcome signing untuk Mesut Ozil, yang sebelumnya bermain di Real Madrid. Rasanya aneh, aneh sekali. Sebagai Goonerette yang tidak pernah menggantung mimpi hingga ke langit, saya tidak percaya melihat Mesut Ozil akhirnya berada di first team Arsenal, menggunakan nomor 11 yang dulunya dipakai Andres Santos.

Namun, hidup terus berubah. Dunia berputar. Bumi berotasi pada matahari.

Terus terang, saya kaget saat mengetahui Mesut Ozil mendapat rating terendah saat pertandingan melawan Borussia Dortmund di Signal Iduna Park, beberapa hari lalu. Salah satu media Jerman, Bild, bahkan mengkritisi kontribusinya dan mengatakan kalau aksinya di lapangan ‘tidak lebih dari sekedar formalitas yang kekurangan kreativitas’. Sebuah kritik yang cukup keras untuk Mesut Ozil, pemain yang baru saja mengantar Jerman memenangkan Piala Dunia di bulan Juli lalu.

Saya memang bukan pengamat sepakbola yang baik. Saya tidak biasa menonton pertandingan La Liga dan mengamati setiap pemain dengan cermat, namun saya tahu Mesut Ozil. Saya tahu bagaimana kualitasnya—raja assist di Eropa dan mendominasi Real Madrid selama bertahun-tahun. Saya tahu benar. Hanya saja, Ozil yang saya lihat di televisi pada pertandingan El Classico melawan Barcelona beberapa tahun lalu bukanlah Ozil yang saya lihat pada pertandingan melawan Borussia Dortmund beberapa hari lalu.

Mari kita telaah sedikit demi sedikit. Musim lalu, Ozil mencatatkan 9 assist di Liga Inggris (rangking ke-5 dari keseluruhan). Jumlah yang lumayan, tapi masih sedikit mengecewakan mengingat kita membeli gelandang yang sebelumnya bisa mencatat 25 assist semusim. Mengecewakan, hanya saja kita harus memahami kalau adaptasi ke Premier League itu sulit. Oke, baiklah. Permulaan yang lumayan baik untuk Ozil. Tidak ada manusia yang sempurna, kan?

Kendati memberikan permulaan yang lumayan apik, Ozil yang dulu bukanlah Ozil yang sekarang. Ia terlihat kesulitan ‘memantaskan’ dirinya di lini tengah Arsenal (yang sering disebut sebagai lini tengah terkuat di Premier League). Ozil terbayang-bayangi sosok Aaron Ramsey yang memang memegang status Player of The Year. Seakan tidak cukup, ‘kebangkitan’ Jack Wilshere juga memperparah keadaannya. Ozil sudah terbiasa bermain di posisi No. 10, namun ia tidak bisa mendapatkan kemewahan itu sekarang. Ozil hampir selalu dimainkan di sayap, sebagai tandem dari Alexis Sanchez.

Perdebatan mengenai Ozil bukanlah hal yang aneh lagi sekarang. Tidak seperti dulu, Ozil kini bukan lagi football journalist’s darling. Ozil sudah sering mendapat kecaman seiring dengan permainannya yang makin memburuk setiap musim, berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Hidup memang semakin berat untuk Ozil. Hanya ada satu hal yang saya takutkan: saya takut sekali Ozil berakhir seperti Fernando Torres di Chelsea.

Entahlah. Musim lalu, Jose Mourinho, mantan pelatihnya di Real Madrid, mengklaim bahwa Ozil adalah ‘salah satu gelandang terbaik di dunia’. Mourinho juga menyamakannya dengan Zinedine Zidane. Memang benar. Di Madrid, kontribusi Ozil memang sangat terasa. Ozil bukanlah tipe pemain yang bisa ‘memberi mesin untuk menjalankan sebuah tim’. Ozil adalah tipe pemain yang bisa memberikan ‘oli untuk menjaga keseimbangan mesin sebuah tim’. Begitulah cara kita memandang Ozil.

Saat menonton laga melawan Dortmund kemarin, saya merasa seperti menonton 10 orang bermain di lapangan tanpa ada koordinasi yang koheren. Ralat, 9 orang. Saya menyadari ada dua orang yang benar-benar invisible—Ramsey dan Ozil. Namun… entahlah, saya bisa memberikan sedikit ‘toleransi’ pada Ramsey yang sudah memberikan banyak sekali kontribusi untuk kita.

Tapi Ozil bukanlah seorang pemain yang patut hilang di lapangan, iya kan? Ozil selalu menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia, tapi mengapa kita tidak bisa mendapatkannya sekarang?

The Arsenal Education

Saya rasa, masalah yang Ozil alami pernah juga dirasakan oleh Ramsey dua musim lalu. Ingat bagaimana performa Ramsey pada tahun 2012? Anda pasti tidak akan pernah menyangka kalau Ramsey bisa menjadi pemain terbaik pada tahun 2013 pada akhirnya. Mungkin, mungkin, mungkin hal yang sama terjadi pada Ozil.

Posisi No. 10 di Arsenal kini sudah paten dipegang oleh Ramsey, yang dua tahun lalu rajin dimainkan sebagai winger. Ingat bagaimana performanya saat melawan Everton dan Manchester City dua tahun lalu? Awalnya saya juga tidak terlalu paham mengapa Ozil ditempatkan sebagai winger sementara Santi Cazorla dan Alex Oxlade-Chamberlain, yang jelas-jelas winger sejati, hanya duduk diam di bench, menunggu kesempatan untuk bermain. Saya bingung dengan keputusan Wenger yang satu ini. Keputusan Wenger memang terkenal kontroversial, namun kadang keputusan Wenger juga membawa sesuatu yang tidak pernah kita tebak sebelumnya. Wenger selalu menjadi tipikal pelatih yang bisa melihat beberapa hal sebelum kita.

Dalam sejarah kepelatihannya, Wenger sudah beberapa kali memainkan gelandang yang ‘sangat gelandang’ sebagai winger. Wenger berpendapat bahwa seorang gelandang memerlukan skill yang komplet sehingga Wenger kerap mengotak-atik posisi pemain itu. Wenger pernah melakukannya pada Ray Parlour, gelandang tengah yang cenderung ‘standar’ namun bisa berkilau saat bermain sebagai winger.

Aaron Ramsey juga mendapat perlakuan sama dua tahun lalu. Hasilnya? Flop of The Year. Alasannya sederhana: Ramsey tidak bisa menjadi gelandang yang baik sementara dia tidak bisa menguasai basic skills yang harus dipenuhinya untuk mendapatkan peran No. 10. Bermain di posisi sayap memang bukan posisi favorit Ramsey, namun kita bisa melihat hasilnya sekarang. Ketidaknyamanan yang Ramsey rasakan berbuah manis. Wenger sendiri pernah berkata,

it is not linked with one position. It is to balance the team. I think in the education of a player it is important that he plays in different positions.

Catatan gol memang menjadi kritik terbesar untuk Ozil selama ini. Di Madrid, Ozil memang bukan tipe pemain yang biasa berlari hingga ke depan gawang untuk menunggu orang lain mengumpan dan mengubahnya menjadi gol. Namun, di Arsenal, torehan gol menjadi sesuatu yang krusial untuk semua posisi. Semua orang mendapatkan tanggung jawab yang sama sebagai pencetak gol.

Memainkan Ozil sebagai winger memang membuat kita semua frustrasi, namun Ozil akan membuat banyak sekali improvement yang vital untuknya. Ozil sudah terlalu terbiasa bermain sebagai central midfielder di Werder Bremen atau Real Madrid sehingga dribblingskill-nya tidak terlalu terasah. Bermain sebagai winger akan memberi Ozil kesempatan untuk membuka celah untuknya sendiri. Ozil akan belajar mengumpan dengan timing yang jauh lebih sempurna. Kemampuan ini tentunya sangat berguna untuk Ozil, kunci baginya untuk menjadi midfielder yang komplet.

Kalau Ozil berniat untuk membuat improvement, maka Ozil akan melakukannya. Jika Ozil ingin sukses di Arsenal, maka dia akan sukses. Semuanya memang butuh waktu. Tidak ada sukses yang dibuat dalam semalam, kan? Saya rasa Wenger masih memberinya kesempatan tanpa peduli bagaimana media dan para suporter menghujatnya, seperti yang Wenger lakukan pada Ramsey dulu. Seperti Ramsey juga, Ozil punya kesempatan untuk menjadi Player of The Year setelah mengalami masa yang sulit. It’s always darkest before the dawn, Mesut!

Match Preview Arsenal v Manchester City, Class v Clash

Arsene-Wenger-Arsenal-Manuel-Pellegrini-Manchester-City

Oleh: Yasmin Jamilah

Laga bentroknya Arsenal dan Manchester City tentu saja menjadi salah satu laga yang paling dinanti penggemar Premier League akhir pekan ini. Pertandingan yang amat menarik setelah rehat dari dunia Liga Inggris yang keras, intrik dan drama selama dua minggu terakhir.
Ini adalah kali pertama saya menulis footballanalysis dan berani mempublikasikannya di media sosial. Sebuah kebangaan tersendiri bagi saya—yang terbiasa menulis draft tulisan fiksi, bukan analisis serius semacam ini.

Akhir pekan ini, laga Arsenal melawan City bisa dibilang adalah laga pembuktian untuk kedua tim. Laga yang sengit dan bertensitinggi tentu saja wajar untuk diharapkan mengingat kedua tim sama-sama tidak ingin kalah, sama-sama tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kehilangan piala.

Di awal musim, the league is a marathon, not a sprint. Penting bagi setiap tim untuk mengantongi poin bersih sebanyak-banyaknya sebelum masa marathon digantikan oleh sprint antara tim-tim yang memang biasa bercokol di papan atas dan yang lainnya.

Kedua tim sama-sama tidak bisa kalah kalau masih ingin menang. Arsenal akan kehilangan tujuh poin dari pemuncak klasemen (yang sangat berharga) jika kalah di laga ini. Sementara itu, City akan kehilangan enam poin jika kalah di laga ini (yang sama-sama berharga).

Danny Welbeck bisa saja mencetak dua gol ke gawang Swiss kemarin dan membawa banyak harapan untuk para Gooner-Goonerette, tapi kemungkinan akan absennya Aaron Ramsey membuat saya sedikit deg-degan. Cedera pada engkelnya saat bertanding di timnas membuat Ramsey terancam absen di laga ini. Padahal, Ramsey merupakan pemain vital yang berperan besar dalam harmoni tim. Jika Ramsey bermain bagus, semua lini terlihat seperti bermain sempurna. Jika Ramsey bermain buruk, semua pemain lain mengikutinya.

Sisi positifnya, beberapa pemain kunci dikabarkan lulus fitness test dan bisa bermain di laga kontra City. Arteta, Gibbs, dan Ozil katanya siap untuk diturunkan. Dedengkot sekaligus kepala suku klinik fisio Arsenal, Abou Diaby, juga turun dalam laga Arsenal U-21 beberapa hari lalu dan katanya siap diturunkan di squad list.
Kalau saya amati berbagai perkembangan yang terjadi di media sosial, nama Danny Welbeck akan keluar menjadi hal yang paling sering saya temui.

Hampir setiap artikel menyebut-nyebut namanya, terlebih setelah si Shaun The Sheep KW ini menyarangkan sepasang gol ke gawang Swiss. Sebagai seorang die-hard Goonerette yang membenci United hingga ke ubun-ubun, kedatangan Welbeck ke Arsenal sebenarnya tidak saya sambut dengan meriah, sukacita atau senang hati. Cenderung kesal, malahan. Awalnya, saya menyangka situasi kedatangan Welbeck ke Arsenal bermula dari transfer Falcao ke United. Domino effect—Falcao datang, Welbeck pun ditendang. Padahal Falcao sudah sempat dihubung-hubungkan ke Arsenal beberapa saat sebelumnya.

Bagaimanapun, Danny Welbeck tetaplah topik yang menarik untuk dibahas. Baru tadi pagi, Louis Van Gaal, pelatih baru United, membeberkan alasan kebijakannya menjual Welbeck. Alasan yang keras, brutal, dan penuh ironi. Keputusan Van Gaal menjual Welbeck sebetulnya dipertanyakan oleh dua legenda United, Paul Scholes dan Gary Neville. Menurut Van Gaal, Welbeck masih belum memiliki kualitas seperti Van Persie (kompatriot kesayangannya di timnas) atau ketajaman seperti Rooney. Padahal, statistik Welbeck tidak terlalu mengecewakan. Welbeck mencetak 29 gol dari 142 laga, yang berarti sekitar satu gol setiap empat laga. Tidak terlalu buruk mengingat Welbeck lebih sering diturunkan di posisi yang bukan menjadi keunggulannya.

Dua minggu lalu, Welbeck masih asyik jadi pemanas bangku cadangan di Old Trafford. Sekarang, dia menjadi simbol berakhirnya sebuah era di United. Kepergiannya menandakan betapa United kini kehilangan idealisme—bagaimana bisa mereka membiarkan Mancunian yang loyalis seperti Welbeck pergi? Kepergian Welbeck adalah keuntungan untuk Arsenal yang memberi kesengsaraan untuk United, tidak peduli apapun yang Van Gaal bilang. Terlebih lagi, Welbeck menyatakan kalau bermain di Arsenal adalah salah satu cita-citanya. Pernyataannya pasti mengoyak hati para fans United sangat dalam, kan?

Ada banyak harapan yang disematkan pada Welbeck. Absennya Giroud akan menambah harapan-harapan itu. Musim lalu, Welbeck mencetak 9 gol di liga, sementara Giroud mencetak 17 gol. Tapi, penting untuk diingat kalau Welbeck jarang sekali mendapat kesempatan musim lalu. Selain itu, Moyes juga kerap menurunkannya di posisi yang kurang nyaman baginya. Goal conversion Welbeck lebih baik daripada Giroud (19.6% dan 16.4%) sementara statistiknya mencetak gol adalah 167 menit sekali, dibandingkan Giroud yang mencetak gol setiap 185.5 menit sekali. Lumayan, kan?

5 players to watch:

1. David Silva: musim lalu, kreativitas Silva membuat para pemain tengah Arsenal kewalahan. Tugas berat ada pada lini tengah dan lini belakang untuk menjaga Silva. Kalau kita memberikannya sedikit space, tentu saja Silva akan mengobrak-abrik pertahanan kita. Seharusnya Wenger mempersiapkan game plan dan strategi khusus untuk menghadapi Silva.

2. Alexis Sanchez: waktunya pembuktian. Pemain yang dibeli dengan harga paling mahal musim ini sepertinya butuh beberapa gol lagi untuk membuktikan kalau dia masih Alexis yang dulu, Alexis yang ditakuti para defender. Publik masih menantikan gol-gol darinya, walaupun ia sudah mencetak dua gol dari dua laga terakhir yang dimainkannya. Laga kontra City adalah saat yang tepat untuk membuktikan diri, untuk membuktikan kalau Alexis tetaplah Alexis.

3. Edin Dzeko: cederanya Steven Jovetic memberikan keuntungan untuk Dzeko sehingga ia bisa menjadi tandem Aguero pada laga ini. Dzeko, yang selalu menjadi the silent hero, kerap kali memberikan hasil yang tidak diduga-duga saat melawan Arsenal. Menarik untuk ditunggu apakah Dzeko akan memberi kejutan lagi atau malah sebaliknya.

4. Per Mertesacker: pertahanan yang solid adalah kunci kemenangan di laga melawan City saat Community Shield kemarin. Mertesacker memegang peranan yang besar dalam laga ini. Kemampuannya membaca permainan tentu saja bisa memberikan keuntungan bagi Arsenal, khususnya untuk lini belakang. Laga ini akan menjadi tes yang berat, namun menantang.

5. Bacary Sagna: our main man, orang yang menjadi superhero kita selama beberapa musim terakhir. Saya jadi penasaran, apakah Sagna akan disambut dengan penuh penghormatan atau malah dicerca seperti Nasri?

Jujur saja, saya cukup percaya diri dengan laga super kali ini. Bursa judi di Inggris juga menjagokan Arsenal untuk memenangi laga ini. Bagi City, laga melawan Arsenal hanyalah pintu gerbang dari laga-laga super yang menanti mereka setelah ini—ada laga away melawan Bayern dan laga kandang melawan Chelsea. Arsenal juga akan menghadapi lawan-lawan yang cenderung menyulitkan—Aston Villa dan Spurs. Pada akhirnya pertanyaan yang sama akan hinggap di kepala kita: mana yang lebih kuat, cash atau class?

PREDIKSI LINE UP:
Arsenal : Szczesny, Debuchy, Mertesacker, Koscielny, Gibbs, Arteta, Cazorla, Ozil, Wilshere, Sanchez, Welbeck
City: Hart, Sagna, Demichelis, Kompany, Kolarov, Nasri, Toure, Fernandinho, Silva, Dzeko, Aguero

Mengulas Pergerakan Arsenal di Bursa Transfer 2014-15

1410456116203_wps_4_ST_ALBANS_ENGLAND_SEPTEMB

Oleh: Adrian Dwitomo

Transfer window dibuka 1 Juli dan ditutup tadi pagi, atau tepatnya 31 Agustus 11:00 waktu setempat.
Sedikit keunikan adalah, karena adanya permintaan dari Arsenal, Manchester United dan Hull City, maka tadi malam deadline sempat diundur untuk beberapa jam.

Anyway, mari kita bahas pembelian dari Arsenal yang kali ini terlihat cukup aktif.

1. David Ospina
Kiper Kolombia yang bermain cukup bagus di piala dunia ini menarik perhatian Wenger, terutama setelah perginya pahlawan FA Cup Lukas Fabianski. Setelah bertahun-tahun jadi cadangan, sudah saatnya Fabianski pindah ke klub yang bisa menjadikan dia kiper utama. So Far, Swansea sepertinya pilihan tepat.
Ospina adalah pengganti Fabianski, sampai sekarang masih cedera. Tetapi menurut gue Ospina adalah upgrade dari Fabianski. Semoga dengan adanya persaingan yang lebih ketat sekarang, dapat mendorong Szczesnya menjadi kiper yang lebih baik lagi

2. Calum Chambers
Tahun lalu, gue cuman tau dia sebagai pemain rotasi bersama Nathan Clyne di Southampton. Ternyata dia bisa bermain di segala posisi: CB, RB dan DM. Gue kira dia akan menjadi backup dari Debuchy, ternyata dia diplot oleh Wenger sebagai CB. Artinya Chambers adalah pengganti dari Vermaelen yang pindah ke Barça. Setelah melihat mainnya di beberapa pertandingan awal musim, dia udah menjadi salah satu bek favorit gue.
Gue memilih duet Kos-Per hanya berdasarkan mereka sudah saling kenal saja, tetapi dari segi kemampuan, Chambers tidaklah jauh di bawah mereka.
Taun depan, saya dukung Chambers jadi bek inti! :)

3. Mathieu Debuchy
Bek kanan Perancis ini adalah pengganti dari Sagna yang pindah ke Manchester City. Kita bisa lihat di Piala Dunia 2014 bahwa Debuchy menggantikan Sagna sebagai bek kanan utama di timnas Perancis. Jadi bisa ditarik kesimpulan kalau Debuchy memang juga pantas untuk menggantikan Sagna di Arsenal.
Kemampuan menyerang Debuchy di atas Sagna, agresifitas juga bisa disamakan dengan Sagna, walaupun mungkin kekuatannya masih kalah. Satu lagi kelebihan Debuchy yaitu lebih muda dari Sagna. Debuchy juga sudah berpengalaman dengan Premier League bersama Newcastle

4. Alexis Sanchez
Menjadi pemain Cili pertama di Arsenal. Alexis bermain cukup bagus di Piala Dunia dengan mencetak 2 gol. Di Barcelona dia juga menjadi salah satu bintang. Alexis dapat bermain di berbagai posisi, namun sepertinya posisi yang akan paling sering dia mainkan di Arsenal adalah sayap kanan/kiri, lalu setelah itu menjadi penyerang tunggal jika dibutuhkan. So far sudah 2 gol dan 1 assist. Sebagai pembelian Arsenal termahal musim ini dengan 35 juta pound, semoga dia dapat cepat beradaptasi dan menunjukkan kepantasannya dihargai demikian tinggi.

5. Danny Wellbeck
Cederanya Olivier Giroud tampaknya memaksa Wenger untuk membeli seorang penyerang. Wellbeck sepertinya terpaksa dijual oleh MU karena mereka mendatangkan Falcao. Wellbeck gue nilai cukup bagus untuk ukuran premier league. Tapi jujur aja, dia belum bisa menjadi tumpuan Arsenal untuk meraih gelar juara. Hanya waktu yang bisa membuktikan gue salah. Semoga gue salah.

Pemain-pemain di atas memberikan Arsenal harapan untuk musim yang lebih baik. Kalo dinilai secara keseluruhan, gue bilang tim musim ini lebih baik dari musim lalu, ada peningkatan. Tapi ada beberapa kendala yang dapat menjadi penghambat Arsenal untuk meraih gelar juara:

1. Tidak membeli backup untuk posisi CB
Arsenal hanya memiliki Mertesacker, Koscielny dan Chambers sebagai CB. Ada gelagat bahwa Wenger juga akan memainkan Monreal sebagai CB jika dibutuhkan, tapi Monreal juga merupakan backup dari posisi LB. Secara total Arsenal hanya memiliki 6 pemain bertahan, ditambah Bellerin dan Hayden jika mau dihitung. Gue cukup yakin Bellerin dan Hayden akan main di tim utama musim ini, entah di FA cup atau COC. Komposisi ini tidaklah cukup untuk menjalani musim dengan lebih dari 50 pertandingan, apalagi jika memiliki target juara.

2. Tidak upgrade posisi DM
Iya, Arteta adalah salah satu pemain favorit gue di Arsenal. Perannya tidak jauh beda dengan Alonso di Madrid atau Pirlo di Juve, Deep Lying Playmaker. Tetapi Arteta, sang kapten, sudah berusia 32, permainannya pun sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan dan tentu saja semakin rentan cedera. Cadangan yang dimiliki pun “hanya” Flamini. No disrespect, Flamini mungkin bisa berguna melawan tim-tim papan tengah atau bawah Liga Inggris yang sangat mengedepankan fisik, tetapi melawan tim-tim besar, sangat diragukan, ditambah lagi dengan habit nya dia mengoleksi kartu kuning.

3. Wenger ingin menerapkan formasi baru 4-1-4-1
Terlihat para pemain belum terlalu biasa memainkan formasi ini. Dapat dilihat juga pada posisi mengejar di menit-menit akhir, Wenger sering kembali ke formasi yang sudah biasa yaitu 4-2-3-1. Formasi 4-1-4-1 bukan formasi jelek, karena dimainkan juga oleh Muenchen musim lalu dan gue juga sering melihat Jerman memakai itu. Mungkin alasan Wenger memakai formasi itu dan menempatkan Özil di kiri, karena Jerman juga begitu. Tetapi pemain masih perlu waktu untuk adaptasi untuk mengintrepretasikan formasi baru Wenger ini. Kita lihat sampai kapan Wenger tetap pada 4-1-4-1, bisa saja kembali 4-2-3-1 atau mungkin terus sampai akhir musim.

4. Faktor cedera
Ini sudah menjadi masalah menahun bagi Arsenal, maka dari itu Arsenal musim ini merekrut Shad Forsythe dari timnas Jerman. Sejauh ini, hasilnya belum terlihat, pemain masih silih berganti cedera: Arteta, Gibbs dan Koscielny. Masalah ini sangat penting untuk segera ditemukan solusinya terutama mengingat keterbatas stok pemain bertahan Arsenal.

Review dan Preview di atas bukan menunjukkan kepesimisan gue sebagai gooner, lebih ke arah objektif dan realistis. Arsenal akan kembali memperebutkan posisi 3-4. Posisi 3 akan terlihat sebagai prestasi oleh Arsenal. Mungkin bisa mencuri kesempatan di FA atau COC. Kalau UCL? masih lebih jauh lagi dari jangkauan. Sekali lagi, gue akan sangat bahagia jika Arsenal membuktikan gue salah besar!

#COYG

Sebuah Refleksi: Arsenal Pasca Hari Raya

Oleh: Goonerpop

Satu minggu terakhir dalam hiruk pikuk mudik, saya menahan diri untuk tidak ngetweet dan mencoba untuk menikmati kampung tanpa media sosial. Apalagi ngetweet Arsenal. Sebenarnya, sih, karena sinyal di kampung saya sangat edge. Mati gaya, deh. Tapi walau tidak ngetweet bukan berarti saya ketinggalan berita.

Arsenal News, Arsenal News Everywhere

Berita Arsenal pertama saya baca di kampung malah berita haru. Carl Jenkinson harus rela posisinya digeser 1 tahun oleh Debuchy dan Chambers (yang ternyata Bellerin juga ikut jadi pertimbangan Wenger) dan membela West Ham United. Padahal pernah saya diskusi di twitter mengenai siapa yang bakal kena loan-spell. Kebanyakan followers lebih memilih dan memperkirakan Sanogo (digusur Campbell) tapi ternyata he suprised you, surprised us. Malah Yaya Sanogo dan Joel Campbell kompak sama-sama bikin kita kecele dengan 5 gol ke gawang Benfica saat Emirates Cup 2014.

SANOGO

Saya sangat kesulitan untuk nonton Emirates Cup di MNC TV karena frekuensinya bertabrakan dengan TV lokal. Terpaksa saya mesti search channel manual yang walaupun channel MNC TV dapat tapi hasilnya berbayang (lucunya channel lain sangat bersih macam Global dan Trans. Universe trolls me well).

Untungnya keluarga sudah pada tidur dan saya masih bisa menikmati gaya selebrasi Joget ala Yaya sampai selebrasi Do The Gerrard Slip. Alexis Sanchez juga tampil memukau dengan flick ala ala plus performa Chambers yang ternyata sangat apik hingga Gooners di twitter sangat percaya diri Arsenal juara musim depan dan bakal menggilas tim-tim papan atas.

Sampai akhirnya Arsenal kalah 0 – 1 lawan AS Monaco.

Sautan Wenger Out mungkin sudah sepi tapi sekarang malah sedang tren membully Giroud apalagi setelah Yaya sempat quatrick. Padahal Giroud itu spesial. Dia memegang peran penting dalam strategi Marketing Arsenal dan Puma plus he’s got very own special move.

Well, Arsenal mungkin harus rela Emirates Cup untuk Valencia tapi saya lebih suka pra musim diawali kekalahan tanggung seperti ini karena bakal jadi motivasi lebih apalagi minggu depannya ada Community Shield.

Positifnya, kita telah menyaksikan sendiri bagaimana Arsenal kita yang sekarang sudah jauh berbeda kekuatan komposisi skuat-nya dibanding 2010-2013 lalu. Musim ini terasa solid karena berkembang pesatnya pemain-pemain muda. Saya pikir musim ini Ramsey masih bakal unjuk gigi, bahkan lebih tajam dari musim kemarin. Sanchez dan Giroud sepertinya bakal jadi tandem yang asyik. Walcott dan The British Core akan lebih menjanjikan. Tapi nama seperti Yaya Sanogo dan Hector Bellerin sepertinya musim ini akan menjadi awal musim mereka yang bahagia. Terlalu cepat untuk berkesimpulan tapi they may surprise you, once again.

Perjalanan Mudik yang Semi Religius

Perjalanan mudik saya hampir penuh tentang melamun Arsenal yang kombinasi dengan pikiran-pikiran random. Pemikiran saya tentang perkembangan Arsenal selalu menghasilkan drama sendiri di dalam hati. Tentang bagaimana ukuran seorang pemain saat statistik berbicara seperti Squawka dan Who Scored misalnya sehingga Wenger menjadi orang pertama yang sangat percaya kegigihan Ramsey.

Seorang pemain pasti pernah melihat bagaimana statistik hasil kerja keras mereka. Bagaimana skill dan kekuatan yang telah mereka latih menjadi patokan scouts klub mancanegara. Atau mereka pasti tertawa melihat lelucon FIFA/PES (Pro Evolution Soccer) saat tau Overall Rating mereka di Software Game paling asyik sejagad itu tidak sesuai, berlebihan atau bahkan mengecewakan (Sanogo pasti bete liat rating dia gak sampai 75).

Apa kalian pernah main Become a Legend PES? Saya sangat ketagihan. Andai kehidupan seperti Become a Legend PES, rasanya akan lebih menyenangkan.

contoh bal

Berangkat dari lamunan yang tidak jorok itu, saya berfikir apa jangan-jangan saya punya statistik kehidupan tapi saya enggak ngeh? statistik kehidupan yang bagaimana dan seperti apa? Tentunya bukan Shot Accuracy dan Swerve.

Saya pernah sekali melamun, bagaimana Tuhan tahu aktivitas yang sangat detail setiap manusia. Perjalanan mudik saya menemukan banyak karakter-karakter manusia tapi bagaimana Tuhan bisa mengelola ini semua. Bagaimana amal perbuatan manusia dicatat dan apakah ada amal yang slip bagai Gerrard. Pasti malaikat-malaikat itu adalah seperti agen-agen Squawka dan Who Scored Tuhan yang diperuntukan buat manusia.

Atau mungkin Tuhan punya chip di dalam manusia sehingga data aktivitas manusia semua terekam bagai super smartphone. Atau Tuhan yang maha super besar itu membelah sepersebagian diri-Nya untuk dibagi-bagi ke setiap umat sehingga Tuhan pasti tau aktivitas manusia yang paling detail. Sampai-sampai kita sendiri tidak ngeh kalau Tuhan sudah ada di dalam diri dari semenjak kecil. Jangan-jangan suara-suara kecil dalam hati adalah suara Tuhan yang terdistraksi oleh bisikan setan.

Teori Become a Legend ala Tuhan.

Saya paling bergidik dengan kesimpulan tentang Tuhan yang terakhir. Merinding bagai nonton film plot Twist. Misal, nih, kalau ternyata memang benar Tuhan sudah ada dalam diri kita sejak kecil berarti manusia itu adalah Tuhan itu sendiri (tapi cuma sekian persen).

Kalau Become a Legend dalam PES mungkin kita akan sangat fokus akan mengembangkan pemain sesuai dengan posisi apa yang kita pilih di menu awal. Jika kita memilih sebagai Winger mungkin kita akan fokus melatih poin Attack, Dribble Speed, Dribble Accuracy, Speed sampai Crossing.

Di dunia nyata, kalau ternyata kemungkinan plot twist Tuhan itu benar, berarti saatnya kita memilih posisi apa di menu awal. Poin yang kita latih ya tentu saja kasih sayang kita, rasa kebijaksanaan, wawasan, tenggang rasa, jiwa pemimpin, kesabaran, kesucian, displin, dan lainnya karena Tuhan maha itu semua. Semua tergantung kita, mau jadi apa, posisi apa dan menjadi manusia yang bagaimana.

Kita ini termasuk Wonderkid atau Late Bloomer? Apa kemanusiaan dan jiwa muda kita sudah sejajar dengan Yaya Sanogo’s flick atau Hector Bellerin’s cross? Apa bulan puasa kemarin kita sudah Quatrick atau malah kena Hamstring dan mundur beribadah 3 pekan? Apa “kaki mu pernah patah” dan bersemangat untuk bounce back ala Ramsey?

Saya mencoba untuk mentransformasikan pesan-pesan tersirat di dalam Arsenal untuk kehidupan saya.

 

Waktunya Memberikan Ban Kapten pada Per Mertesacker?

a reader both on and off the pitch

Jumpa lagi, kawan-kawan. Setelah hampir tiap musim kita dibelit rasa waswas ketika periode transfer, kini rasa itu berubah setelah Arsenal melakukan dua pembelian penting dengan sigap. Dua hari lalu akhirnya kepindahan Mathieu Debuchy ke Arsenal pun resmi dan dia akan mengenakan nomor punggung 2; yang menandakan barisan belakan kita kali ini mengenakan nomor punggung klasik 1/Szczesny, 2/Debuchy, 3/Gibbs, 4/Mertesacker dan 6/Koscielny.

Tapi di tulisan ini saya tak berminat membahas kabar perburuan pemain baru. Meski cukup mengagetkan juga komentar Wenger tentang status Jenkinson setelah kedatangan Debuchy,

But Debuchy is also mentally strong and dedicated, with a big passion like Jenkinson so I think at right back now we are in a strong position. He is going to compete (with Jenkinson), of course. There is nobody today who can play 60 games at the top level – that’s why you always need two players

Mulanya saya berharap Jenkinson akan dipinjamkan ke sesama klub EPL, setelah musim lalu digadang-gadang diminati Man. City, guna mendapat kesempatan bermain reguler. Jenkinson akan tetap diproyeksikan Wenger sebagai bek kanan masa depan Arsenal terlebih kita harus ingat bahwa Debuchy hampir berumur 29 tahun.

Sisi kanan Arsenal ternyata menjadi bagian lapangan yang dominan dalam memegang bola musim lalu. Jika kita menghitung absennya Walcott, kita kembali sadar bahwa apa yang Sagna lakukan di sektor itu begitu krusial. Ini yang saya rasa perlu diantisipasi oleh Debuchy dan Jenkinson, mengingat Walcott masih cedera dan Sanchez lah yang paling mungkin mengisi posisinya — sementara ia pun pemain yang baru didatangkan.

Kembali ke topik.

Yup. Sudah waktunya kah bagi kita untuk memiliki kapten baru? Kita tahu Vermaelen adalah pria brilian yang memberikan segenap upaya saat turun di lapangan. Tapi sejak mengalami cedera panjang itu, Vermaelen seperti bukan yang dulu kita kenal. Paska kepergian meneer Belanda itu permainannya menjadi kacau dan kerap berbuat blunder. Hingga Maret 2013 Vermaelen telah melakukan defensive errror sebanyak 6 kali. Walhasil Wenger berpaling pada kemitraan Per dan Koscielny  dan hal itu membuahkan hasil positif. Bahkan keduanya mencatat rekor 100% kemenangan kala tampil bersama selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya rekor pecah.

32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan dan 9 kali imbang sebelum akhirnya pecah saat dipermalukan Liverpool (perlu dicatat bahwa di pertandingan itu Wenger memasang duet Wilshere-Arteta sebagai pivot).

Mertesacker menjadi sosok kunci dalam mengawal barisan pertahanan Arsenal musim lalu. Kembali lagi saat kita menengok kekalahan 6-3 dari City, Koscielny terpaksa ditarik di babak pertama akibat cedera. Kecepatan dan agresivitas Koscielny melengkapi kemawasan Per akan taktik. Bisa dimaklumi kenapa akhirnya klub-klub seperti Barcelona dan City mengurungkan niat untuk membeli Vermaelen.

Krisis Kapten Waktu Itu

Jika ada yang bertanya, “kapan terakhir kali Arsenal memiliki kapten sejati di atas lapangan?”

Anda takkan yakin untuk menjawab Mikel Arteta lah sosok tersebut. As much as I love him, Arteta ‘hanya’ wakil dari Vermaelen, sang pemain yang sedang tenggelam.

Lantas kita akan termenung manakala teringat beberapa musim silam, pemberian ban kapten Wenger lakukan kepada pemain yang digadang-gadang akan pindah: Cesc Fabregas dan Robin van Pers*e. Sebelumnya bahkan kita pernah dikapteni secara kontroversial oleh William Gallas. *hela nafas prihatin*

Tak pelak kapten hebat terakhir yang kita punya ada pada diri Thierry Henry. Yang cukup jadi ironi, King Titi tak mampu memersembahkan gelar bagi klub saat ia menjabat kapten, karena gelar terakhir — FA Cup — diarih saat Arsenal dikapteni Patrick Vieira.

Seberapa pentingkah sosok kapten di suatu tim sepakbola?

Selain yang tersirat: jabat tangan dengan kapten tim lawan; berbicara dengan wasit sebelum wasit melempar koin pra kick off, kapten adalah juru bicara pelatih di atas lapangan. Kapten yang bertanggungjawab (dan berhak) memrotes keputusan-keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Kapten adalah orang yang — seharusnya — disegani lawan dan kawan.

Meski tak ada peraturan tertulis, kita sering mendapati kapten suatu tim berposisi di barisan pertahanan, entah itu kiper atau bek. Ada tiga penjelasan logis yang sekiranya menjawab fakta tersebut:

  1. Para bek berposisi di belakang. Hanya di kesempatan tertentu (sepak penjuru) mereka merengsek maju ke depan. Hal ini membuat bek melihat jalannya pertandingan secara jelas. Mereka ‘membaca’ situasi yang sedang dihadapi timnya.
  2. Bek merupakan pemain yang jarang mengalami cedera. Sedangakan seorang kapten diharapkan mampu menjalani seluruh pertandingan. Berbeda dengan para penyerang yang menjadi bulan-bulanan lawan.
  3. Bek identik dengan kata ‘sangar’ atau ‘tegas’. Kata sifat yang butuh melekat pada diri kapten tim.

Lihatlah tim-tim terbaik dunia dan sosok kaptennya. Vincent Kompani (Man. City), Vidic/Rio Ferdinand (Man. United), John Terry (Chelsea), Carles Puyol (Barcelona), Sergio Ramos (Real Madrid), Phillip Lahm (Bayern Muenchen). Bahkan jika kita menengok daftar jawara EPL sepuluh tahun terakhir, tim-tim pemuncak klasemen dikapteni oleh sosok bek!

Pada saat Wenger mandapuk Vermaelen menjadi kapten paska ditinggal RvCunt, kekhawatiran pertama adalah bahwa ia akan mengikuti jejak tiga kapten sebelumnya yang meninggalkan klub saat menjabat kapten. Ternyata kekhawatiran itu salah karena nyatanya Vermaelen justru mengalami periode buruk dalam karirnya. akhirnya paska dikalahkan Sp*rs dan Muenchen dua musim lalu, Wnger memberanikan diri untuk mencopot Vermaelen dan ban kapten diemban oleh sang wakil, Mikel Arteta.

Kapten Masa Depan: Wilshere atau Ramsey?

Kita semua merindukan masa-masa Arsenal dikapteni oleh pemain asli binaan klub. Islington born and bred. Bahwa Arsenal kerap memroduksi bakat-bakat muda untuk kemudian menjadi bintang, tidak sepenuhnya benar karena yang Arsenal era Wenger lakukan adalah mencari bibit-bibit mentah dari seluruh Eropa untuk kemudian dibina dan diberi kesempatan unjuk gigi. Sebut saja Cesc Fabregas, Kolo Toure, Tomas Rosicky dan lain-lain.

Lain halnya dengan Man. United yang terakhir kali memromosikan Danny Welbeck, maka Wilshere menjadi satu-satunya sosok yang pantas menyandang gelar ‘produk asli’ Arsenal. Merupakan sebuah kebanggaan jika kita dipimpin oleh pemain yang kenal betul tradisi dan nilai klub. Seperti yang dulu kita miliki pada diri Tony Adams.

Wilshere pun, dengan segala predikat yang ia sandang sejak mencuat di blantika sepakbola, digadang-gadang untuk memerankan jabatan tersebut. Captain Jack Wilshere. Namun sejak kegemilangan Ramsey di dua musim terakhir, serta bagaimana ia berperilaku di luar lapangan, banyak harapan fans tertuju pada pemuda Wales itu sebagai kapten masa depan.

Ramsey punya pengalaman mengapteni Wales. Kala musim selesai pun ia lebih memilihbermain golf atau melakukan kegiatan promosi/amal inisiatif Arsenal. Sosoknya jauh dari kontroversi. Berbeda dengan Wilshere yang dalam satu tahun terakhir saja kedapatan merokok dan jadi persoalan serius mengingat secara terbuka Wenger tidak menyukai hal tersebut dilakukan pemainnya.

Tapi tentu, sambil menakar usia kedua pemain. Juga dari stok pemain kategori dewasa (bermental pemimpin) di tim, wacana menjadikan kedua pemain ini sebagai kapten harus kita kesampingkan.

Kala waktunya tiba, kita akan kembali berdebat tentang siapa diantara dua yang layak memimpin Arsenal.

Kapten Per

Selain oleh Arteta, musim lalu pun kita kerap dikapteni oleh sosok pria Jerman ini (plus oleh Sagna di satu kesempatan). Meski bukan orang Inggris, fakta bahwa Per seorang gooner di masa kecilnya pun jadi nilai tersendiri.

Mertesacker adalah sosok yang berada dalam kategori ‘one of us‘, seperti Carl Jenkinson. Lihat saja bagaimana ia melakukan selebrasi gol. Ingat kembali saat ia berhasil mencetak gol EPL perdana ke gawang Sp*rs. Berlari sambil meraung ke arah Theo Walcott. Atau saat ia memberi selamat pada siapapun yang mencetak gol untuk Arsenal.

Lihat bagaimana ia memarahi Ozil habis-habisan paska dikalahkan Man. City. Bagaimana ia melampiaskan rasa kecewa dan marah karena Ozil tak mau mengikuti tradisi Arsenal: melakukan lap of appreciation kepada suporter, di manapun Arsenal bermain, berapapun hasil buruk yang diterima tim.

Mertesacker juga telah dua musim dipercaya oleh Wenger untuk menjadi penagih denda akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tim sejak dua musim terakhir. Ia mendapat kepercayaan pelatih dan disegani rekan setim.

Tanpa merendahkan kontribusi Arteta dan apa yang ia bisa perbuat musim depan, kita tahu Arteta telah berumur 32 tahun. Sementara Arsenal memiliki stok gelandang mumpuni yang bejibun. Apalagi jika gelandang tengah baru yang digosipkan akan datang benar-benar terwujud. Sulit rasanya untuk berharap Wenger akan menduetkannya dengan Ramsey jika yang dipinang adalah sosok seperti Khedira atau Schneiderlin.

Mertesacker, jika dilihat dari aspek kebugaran, menjadi pemain nomor tiga yang paling banyak diturunkan Wenger musim lalu dengan jumlah 35 pertandingan setelah Szczesny (37) dan Giroud (36). Bandingkan dengan Arteta yang diturunkan sebanyak 27 kali (4 sebagai pemain pengganti).

Mertesacker juga dinobatkan sebagai ‘pemain musim 2013-14′ setelah Ramsey. Plus, kini ia menyandang status sebagai juara dunia.

Bagaimana menurut kamu? Perlukah kiranya Wenger bertindak tegas dengan mengambil keptusan ini? Atau peran Arteta sebagai kapten masih dirasa krusial? Lantas bagaimana dengan ‘future captain’ Wilshere dan Ramsey?

Beri pendapatmu di bawah, atau jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Selamat leha-leha sebelum Senin datang!