Sebuah Refleksi: Arsenal Pasca Hari Raya

Oleh: Goonerpop

Satu minggu terakhir dalam hiruk pikuk mudik, saya menahan diri untuk tidak ngetweet dan mencoba untuk menikmati kampung tanpa media sosial. Apalagi ngetweet Arsenal. Sebenarnya, sih, karena sinyal di kampung saya sangat edge. Mati gaya, deh. Tapi walau tidak ngetweet bukan berarti saya ketinggalan berita.

Arsenal News, Arsenal News Everywhere

Berita Arsenal pertama saya baca di kampung malah berita haru. Carl Jenkinson harus rela posisinya digeser 1 tahun oleh Debuchy dan Chambers (yang ternyata Bellerin juga ikut jadi pertimbangan Wenger) dan membela West Ham United. Padahal pernah saya diskusi di twitter mengenai siapa yang bakal kena loan-spell. Kebanyakan followers lebih memilih dan memperkirakan Sanogo (digusur Campbell) tapi ternyata he suprised you, surprised us. Malah Yaya Sanogo dan Joel Campbell kompak sama-sama bikin kita kecele dengan 5 gol ke gawang Benfica saat Emirates Cup 2014.

SANOGO

Saya sangat kesulitan untuk nonton Emirates Cup di MNC TV karena frekuensinya bertabrakan dengan TV lokal. Terpaksa saya mesti search channel manual yang walaupun channel MNC TV dapat tapi hasilnya berbayang (lucunya channel lain sangat bersih macam Global dan Trans. Universe trolls me well).

Untungnya keluarga sudah pada tidur dan saya masih bisa menikmati gaya selebrasi Joget ala Yaya sampai selebrasi Do The Gerrard Slip. Alexis Sanchez juga tampil memukau dengan flick ala ala plus performa Chambers yang ternyata sangat apik hingga Gooners di twitter sangat percaya diri Arsenal juara musim depan dan bakal menggilas tim-tim papan atas.

Sampai akhirnya Arsenal kalah 0 – 1 lawan AS Monaco.

Sautan Wenger Out mungkin sudah sepi tapi sekarang malah sedang tren membully Giroud apalagi setelah Yaya sempat quatrick. Padahal Giroud itu spesial. Dia memegang peran penting dalam strategi Marketing Arsenal dan Puma plus he’s got very own special move.

Well, Arsenal mungkin harus rela Emirates Cup untuk Valencia tapi saya lebih suka pra musim diawali kekalahan tanggung seperti ini karena bakal jadi motivasi lebih apalagi minggu depannya ada Community Shield.

Positifnya, kita telah menyaksikan sendiri bagaimana Arsenal kita yang sekarang sudah jauh berbeda kekuatan komposisi skuat-nya dibanding 2010-2013 lalu. Musim ini terasa solid karena berkembang pesatnya pemain-pemain muda. Saya pikir musim ini Ramsey masih bakal unjuk gigi, bahkan lebih tajam dari musim kemarin. Sanchez dan Giroud sepertinya bakal jadi tandem yang asyik. Walcott dan The British Core akan lebih menjanjikan. Tapi nama seperti Yaya Sanogo dan Hector Bellerin sepertinya musim ini akan menjadi awal musim mereka yang bahagia. Terlalu cepat untuk berkesimpulan tapi they may surprise you, once again.

Perjalanan Mudik yang Semi Religius

Perjalanan mudik saya hampir penuh tentang melamun Arsenal yang kombinasi dengan pikiran-pikiran random. Pemikiran saya tentang perkembangan Arsenal selalu menghasilkan drama sendiri di dalam hati. Tentang bagaimana ukuran seorang pemain saat statistik berbicara seperti Squawka dan Who Scored misalnya sehingga Wenger menjadi orang pertama yang sangat percaya kegigihan Ramsey.

Seorang pemain pasti pernah melihat bagaimana statistik hasil kerja keras mereka. Bagaimana skill dan kekuatan yang telah mereka latih menjadi patokan scouts klub mancanegara. Atau mereka pasti tertawa melihat lelucon FIFA/PES (Pro Evolution Soccer) saat tau Overall Rating mereka di Software Game paling asyik sejagad itu tidak sesuai, berlebihan atau bahkan mengecewakan (Sanogo pasti bete liat rating dia gak sampai 75).

Apa kalian pernah main Become a Legend PES? Saya sangat ketagihan. Andai kehidupan seperti Become a Legend PES, rasanya akan lebih menyenangkan.

contoh bal

Berangkat dari lamunan yang tidak jorok itu, saya berfikir apa jangan-jangan saya punya statistik kehidupan tapi saya enggak ngeh? statistik kehidupan yang bagaimana dan seperti apa? Tentunya bukan Shot Accuracy dan Swerve.

Saya pernah sekali melamun, bagaimana Tuhan tahu aktivitas yang sangat detail setiap manusia. Perjalanan mudik saya menemukan banyak karakter-karakter manusia tapi bagaimana Tuhan bisa mengelola ini semua. Bagaimana amal perbuatan manusia dicatat dan apakah ada amal yang slip bagai Gerrard. Pasti malaikat-malaikat itu adalah seperti agen-agen Squawka dan Who Scored Tuhan yang diperuntukan buat manusia.

Atau mungkin Tuhan punya chip di dalam manusia sehingga data aktivitas manusia semua terekam bagai super smartphone. Atau Tuhan yang maha super besar itu membelah sepersebagian diri-Nya untuk dibagi-bagi ke setiap umat sehingga Tuhan pasti tau aktivitas manusia yang paling detail. Sampai-sampai kita sendiri tidak ngeh kalau Tuhan sudah ada di dalam diri dari semenjak kecil. Jangan-jangan suara-suara kecil dalam hati adalah suara Tuhan yang terdistraksi oleh bisikan setan.

Teori Become a Legend ala Tuhan.

Saya paling bergidik dengan kesimpulan tentang Tuhan yang terakhir. Merinding bagai nonton film plot Twist. Misal, nih, kalau ternyata memang benar Tuhan sudah ada dalam diri kita sejak kecil berarti manusia itu adalah Tuhan itu sendiri (tapi cuma sekian persen).

Kalau Become a Legend dalam PES mungkin kita akan sangat fokus akan mengembangkan pemain sesuai dengan posisi apa yang kita pilih di menu awal. Jika kita memilih sebagai Winger mungkin kita akan fokus melatih poin Attack, Dribble Speed, Dribble Accuracy, Speed sampai Crossing.

Di dunia nyata, kalau ternyata kemungkinan plot twist Tuhan itu benar, berarti saatnya kita memilih posisi apa di menu awal. Poin yang kita latih ya tentu saja kasih sayang kita, rasa kebijaksanaan, wawasan, tenggang rasa, jiwa pemimpin, kesabaran, kesucian, displin, dan lainnya karena Tuhan maha itu semua. Semua tergantung kita, mau jadi apa, posisi apa dan menjadi manusia yang bagaimana.

Kita ini termasuk Wonderkid atau Late Bloomer? Apa kemanusiaan dan jiwa muda kita sudah sejajar dengan Yaya Sanogo’s flick atau Hector Bellerin’s cross? Apa bulan puasa kemarin kita sudah Quatrick atau malah kena Hamstring dan mundur beribadah 3 pekan? Apa “kaki mu pernah patah” dan bersemangat untuk bounce back ala Ramsey?

Saya mencoba untuk mentransformasikan pesan-pesan tersirat di dalam Arsenal untuk kehidupan saya.

 

Waktunya Memberikan Ban Kapten pada Per Mertesacker?

a reader both on and off the pitch

Jumpa lagi, kawan-kawan. Setelah hampir tiap musim kita dibelit rasa waswas ketika periode transfer, kini rasa itu berubah setelah Arsenal melakukan dua pembelian penting dengan sigap. Dua hari lalu akhirnya kepindahan Mathieu Debuchy ke Arsenal pun resmi dan dia akan mengenakan nomor punggung 2; yang menandakan barisan belakan kita kali ini mengenakan nomor punggung klasik 1/Szczesny, 2/Debuchy, 3/Gibbs, 4/Mertesacker dan 6/Koscielny.

Tapi di tulisan ini saya tak berminat membahas kabar perburuan pemain baru. Meski cukup mengagetkan juga komentar Wenger tentang status Jenkinson setelah kedatangan Debuchy,

But Debuchy is also mentally strong and dedicated, with a big passion like Jenkinson so I think at right back now we are in a strong position. He is going to compete (with Jenkinson), of course. There is nobody today who can play 60 games at the top level – that’s why you always need two players

Mulanya saya berharap Jenkinson akan dipinjamkan ke sesama klub EPL, setelah musim lalu digadang-gadang diminati Man. City, guna mendapat kesempatan bermain reguler. Jenkinson akan tetap diproyeksikan Wenger sebagai bek kanan masa depan Arsenal terlebih kita harus ingat bahwa Debuchy hampir berumur 29 tahun.

Sisi kanan Arsenal ternyata menjadi bagian lapangan yang dominan dalam memegang bola musim lalu. Jika kita menghitung absennya Walcott, kita kembali sadar bahwa apa yang Sagna lakukan di sektor itu begitu krusial. Ini yang saya rasa perlu diantisipasi oleh Debuchy dan Jenkinson, mengingat Walcott masih cedera dan Sanchez lah yang paling mungkin mengisi posisinya — sementara ia pun pemain yang baru didatangkan.

Kembali ke topik.

Yup. Sudah waktunya kah bagi kita untuk memiliki kapten baru? Kita tahu Vermaelen adalah pria brilian yang memberikan segenap upaya saat turun di lapangan. Tapi sejak mengalami cedera panjang itu, Vermaelen seperti bukan yang dulu kita kenal. Paska kepergian meneer Belanda itu permainannya menjadi kacau dan kerap berbuat blunder. Hingga Maret 2013 Vermaelen telah melakukan defensive errror sebanyak 6 kali. Walhasil Wenger berpaling pada kemitraan Per dan Koscielny  dan hal itu membuahkan hasil positif. Bahkan keduanya mencatat rekor 100% kemenangan kala tampil bersama selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya rekor pecah.

32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan dan 9 kali imbang sebelum akhirnya pecah saat dipermalukan Liverpool (perlu dicatat bahwa di pertandingan itu Wenger memasang duet Wilshere-Arteta sebagai pivot).

Mertesacker menjadi sosok kunci dalam mengawal barisan pertahanan Arsenal musim lalu. Kembali lagi saat kita menengok kekalahan 6-3 dari City, Koscielny terpaksa ditarik di babak pertama akibat cedera. Kecepatan dan agresivitas Koscielny melengkapi kemawasan Per akan taktik. Bisa dimaklumi kenapa akhirnya klub-klub seperti Barcelona dan City mengurungkan niat untuk membeli Vermaelen.

Krisis Kapten Waktu Itu

Jika ada yang bertanya, “kapan terakhir kali Arsenal memiliki kapten sejati di atas lapangan?”

Anda takkan yakin untuk menjawab Mikel Arteta lah sosok tersebut. As much as I love him, Arteta ‘hanya’ wakil dari Vermaelen, sang pemain yang sedang tenggelam.

Lantas kita akan termenung manakala teringat beberapa musim silam, pemberian ban kapten Wenger lakukan kepada pemain yang digadang-gadang akan pindah: Cesc Fabregas dan Robin van Pers*e. Sebelumnya bahkan kita pernah dikapteni secara kontroversial oleh William Gallas. *hela nafas prihatin*

Tak pelak kapten hebat terakhir yang kita punya ada pada diri Thierry Henry. Yang cukup jadi ironi, King Titi tak mampu memersembahkan gelar bagi klub saat ia menjabat kapten, karena gelar terakhir — FA Cup — diarih saat Arsenal dikapteni Patrick Vieira.

Seberapa pentingkah sosok kapten di suatu tim sepakbola?

Selain yang tersirat: jabat tangan dengan kapten tim lawan; berbicara dengan wasit sebelum wasit melempar koin pra kick off, kapten adalah juru bicara pelatih di atas lapangan. Kapten yang bertanggungjawab (dan berhak) memrotes keputusan-keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Kapten adalah orang yang — seharusnya — disegani lawan dan kawan.

Meski tak ada peraturan tertulis, kita sering mendapati kapten suatu tim berposisi di barisan pertahanan, entah itu kiper atau bek. Ada tiga penjelasan logis yang sekiranya menjawab fakta tersebut:

  1. Para bek berposisi di belakang. Hanya di kesempatan tertentu (sepak penjuru) mereka merengsek maju ke depan. Hal ini membuat bek melihat jalannya pertandingan secara jelas. Mereka ‘membaca’ situasi yang sedang dihadapi timnya.
  2. Bek merupakan pemain yang jarang mengalami cedera. Sedangakan seorang kapten diharapkan mampu menjalani seluruh pertandingan. Berbeda dengan para penyerang yang menjadi bulan-bulanan lawan.
  3. Bek identik dengan kata ‘sangar’ atau ‘tegas’. Kata sifat yang butuh melekat pada diri kapten tim.

Lihatlah tim-tim terbaik dunia dan sosok kaptennya. Vincent Kompani (Man. City), Vidic/Rio Ferdinand (Man. United), John Terry (Chelsea), Carles Puyol (Barcelona), Sergio Ramos (Real Madrid), Phillip Lahm (Bayern Muenchen). Bahkan jika kita menengok daftar jawara EPL sepuluh tahun terakhir, tim-tim pemuncak klasemen dikapteni oleh sosok bek!

Pada saat Wenger mandapuk Vermaelen menjadi kapten paska ditinggal RvCunt, kekhawatiran pertama adalah bahwa ia akan mengikuti jejak tiga kapten sebelumnya yang meninggalkan klub saat menjabat kapten. Ternyata kekhawatiran itu salah karena nyatanya Vermaelen justru mengalami periode buruk dalam karirnya. akhirnya paska dikalahkan Sp*rs dan Muenchen dua musim lalu, Wnger memberanikan diri untuk mencopot Vermaelen dan ban kapten diemban oleh sang wakil, Mikel Arteta.

Kapten Masa Depan: Wilshere atau Ramsey?

Kita semua merindukan masa-masa Arsenal dikapteni oleh pemain asli binaan klub. Islington born and bred. Bahwa Arsenal kerap memroduksi bakat-bakat muda untuk kemudian menjadi bintang, tidak sepenuhnya benar karena yang Arsenal era Wenger lakukan adalah mencari bibit-bibit mentah dari seluruh Eropa untuk kemudian dibina dan diberi kesempatan unjuk gigi. Sebut saja Cesc Fabregas, Kolo Toure, Tomas Rosicky dan lain-lain.

Lain halnya dengan Man. United yang terakhir kali memromosikan Danny Welbeck, maka Wilshere menjadi satu-satunya sosok yang pantas menyandang gelar ‘produk asli’ Arsenal. Merupakan sebuah kebanggaan jika kita dipimpin oleh pemain yang kenal betul tradisi dan nilai klub. Seperti yang dulu kita miliki pada diri Tony Adams.

Wilshere pun, dengan segala predikat yang ia sandang sejak mencuat di blantika sepakbola, digadang-gadang untuk memerankan jabatan tersebut. Captain Jack Wilshere. Namun sejak kegemilangan Ramsey di dua musim terakhir, serta bagaimana ia berperilaku di luar lapangan, banyak harapan fans tertuju pada pemuda Wales itu sebagai kapten masa depan.

Ramsey punya pengalaman mengapteni Wales. Kala musim selesai pun ia lebih memilihbermain golf atau melakukan kegiatan promosi/amal inisiatif Arsenal. Sosoknya jauh dari kontroversi. Berbeda dengan Wilshere yang dalam satu tahun terakhir saja kedapatan merokok dan jadi persoalan serius mengingat secara terbuka Wenger tidak menyukai hal tersebut dilakukan pemainnya.

Tapi tentu, sambil menakar usia kedua pemain. Juga dari stok pemain kategori dewasa (bermental pemimpin) di tim, wacana menjadikan kedua pemain ini sebagai kapten harus kita kesampingkan.

Kala waktunya tiba, kita akan kembali berdebat tentang siapa diantara dua yang layak memimpin Arsenal.

Kapten Per

Selain oleh Arteta, musim lalu pun kita kerap dikapteni oleh sosok pria Jerman ini (plus oleh Sagna di satu kesempatan). Meski bukan orang Inggris, fakta bahwa Per seorang gooner di masa kecilnya pun jadi nilai tersendiri.

Mertesacker adalah sosok yang berada dalam kategori ‘one of us‘, seperti Carl Jenkinson. Lihat saja bagaimana ia melakukan selebrasi gol. Ingat kembali saat ia berhasil mencetak gol EPL perdana ke gawang Sp*rs. Berlari sambil meraung ke arah Theo Walcott. Atau saat ia memberi selamat pada siapapun yang mencetak gol untuk Arsenal.

Lihat bagaimana ia memarahi Ozil habis-habisan paska dikalahkan Man. City. Bagaimana ia melampiaskan rasa kecewa dan marah karena Ozil tak mau mengikuti tradisi Arsenal: melakukan lap of appreciation kepada suporter, di manapun Arsenal bermain, berapapun hasil buruk yang diterima tim.

Mertesacker juga telah dua musim dipercaya oleh Wenger untuk menjadi penagih denda akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tim sejak dua musim terakhir. Ia mendapat kepercayaan pelatih dan disegani rekan setim.

Tanpa merendahkan kontribusi Arteta dan apa yang ia bisa perbuat musim depan, kita tahu Arteta telah berumur 32 tahun. Sementara Arsenal memiliki stok gelandang mumpuni yang bejibun. Apalagi jika gelandang tengah baru yang digosipkan akan datang benar-benar terwujud. Sulit rasanya untuk berharap Wenger akan menduetkannya dengan Ramsey jika yang dipinang adalah sosok seperti Khedira atau Schneiderlin.

Mertesacker, jika dilihat dari aspek kebugaran, menjadi pemain nomor tiga yang paling banyak diturunkan Wenger musim lalu dengan jumlah 35 pertandingan setelah Szczesny (37) dan Giroud (36). Bandingkan dengan Arteta yang diturunkan sebanyak 27 kali (4 sebagai pemain pengganti).

Mertesacker juga dinobatkan sebagai ‘pemain musim 2013-14′ setelah Ramsey. Plus, kini ia menyandang status sebagai juara dunia.

Bagaimana menurut kamu? Perlukah kiranya Wenger bertindak tegas dengan mengambil keptusan ini? Atau peran Arteta sebagai kapten masih dirasa krusial? Lantas bagaimana dengan ‘future captain’ Wilshere dan Ramsey?

Beri pendapatmu di bawah, atau jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Selamat leha-leha sebelum Senin datang!

Cesc Fabregas: Cinta yang Tak Pernah Kembali


Oleh: Jonathan Simatupang

Semua orang ingin merasakan yang namanya mencintai dan dicintai, namun terkadang kita hanya merasakan sebagiannya. Ada yang ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai orang yang tersebut dan ada juga yang mencintai tetapi tidak berbalas. Semuanya terjadi di dalam kehidupan ini.

Dalam kehidupan yang fana ini serta dalam percintaan, terkadang kita merasakan yang namanya rasa sakit hati saat orang yang begitu cintai pergi begitu saja — meski dia berjanji akan kembali lagi kepada kita suatu saat nanti.

Entah kapan dan banyak kata manis yang ia ucapkan membuat kita terbuai dengan kata manis-manisnya yang begitu indah bagaikan orasi-orasi dari para politikus yang penuh dengan retorika semata.

Kehilangan orang yang kita cintai menyisakan kepedihan di dalam hati, bak luka yang digores dengan pisau yang tumpul namun sangat sakit terasa. Ucapannya ketika ingin pergi terasa manis yang membuat kita tak sadar terhipnotis untuk menantikan dia kembali lagi sampai mengatakan kita adalah rumah bagi dirinya, kapan pun dia dapat kembali bila saat yang tepat nanti.

Cinta itu sakit, perih, dan banyak hal. Kita ingin melihat dia bahagia, namun kita tidak ingin kehilangan dirinya dari sisi kita. Kita mengatakan kita akan baik-baik saja, nyatanya kita masih berharap dan tak bisa berpaling dari dirinya. Kita akan mengatakan juga bahwa dia adalah yang terbaik. Saat dia pergi dan sedang sedih, kita menghibur dirinya dan saat dia merasa sendirian dan terbuang, kita akan mengatakan kepadanya marilah kembali ke rumah!

Rasa manis itu kini berubah menjadi tawar bahkan menjadi kecewa.

Iya, anak hilang itu sudah kembali ke rumahnya di London. Bukan untuk merah dengan logo meriam di dadanya yang selalu ia cium dulu. Bukan untuk kembali kepada orangtua yang membesarkannya ketika ia terbuang di masa kecilnya. Bukan untuk kembali kepada orang yang mencintainya dan mengharapkannya kembali. Dia kembali karena cintanya yang tak sampai dan pergi ke seberang yang lebih menjanjikannya uang yang berlimpah.

Cerita ini tentang anak hilang dari Catalan. Cesc.

Namanya kalah dari bintang Barcelona saat ini, di masa kecilnya dulu ia adalah kapten dari generasinya, namun sayangnya ia harus menyingkir ke London dan dibesarkan dengan seorang profesor yang memiliki andil dalam perkembangannya. Di London dia ternyata bertemu dengan orang-orang hebat, macam Henry dan Bergkamp.

Ia ditempa. Ia tumbuh.

Hingga pada suatu hari. Ketika ia mengangkat piala untuk negaranya, teman-temannya memaksanya untuk memakai jersey dari klub masa kecilnya dan dia masih mengelak dengan mengatakan dia akan tetap di London.

London adalah rumahnya. Ban kapten melingkar di lengannya. Ia adalah mataharinya dan semua berotasi di sisinya. Di jamannya, jarang kita dapatkan Arsenal bermain dengan cepat satu dua sentuhan namun melainkan bola tertahan di kakinya, memberikan operan manis, lalu kembali kepadanya, semuanya menjadi tergantung kepada dirinya. Permainan Arsenal terpusat di anak hilang ini.

Singkat cerita, ia sudah tidak tahan lagi untuk kembali ke rumah dia sebenarnya bermain bersama teman-teman seangkatannya dan dilatih oleh idolanya sendiri. Prof sebenarnya ingin menahannya untuk tidak pergi, prof masih berharap kepadanya dan ia rela untuk membuat taktik yang sesuai dengan pemain kesayangannya ini. Tapi, tidak. Dia malah tetap pergi.

Beribu kata ia katakan. Semanis kata yang ia ucapkan mampu mengalahkan manisnya gula. Ia mengatakan bahwa salah satu orang yang paling ia hormati adalah Arsene dan Arsenal adalah rumahnya. Dia mengatakan bila dia memakai tidak akan jersey biru dan kejadian yang paling kita ingat adalah ketika ia membuang jersey setan merah begitu saja.

Semuanya terekam dan takkan pernah mati. Bahkan untuk pergi ia sampai rela menambahkan mahar dengan uangnya sendiri untuk dapat pindah ke klub masa kecilnya.

Rasa kecewa muncul terhadap dirinya. Bagaimana tidak kecewa, ketika kita mencintai seseorang, orang tersebut malah meninggalkan kita untuk cinta pertamanya atau untuk orang lain yang menurut dia lebih baik dari kita.

Memang kehidupan ini keras, mimpi yang indah itu dibenturkan dengan kerasnya kehidupan ini. saat ia pergi, tidak lama kemudian yang menjadi idolanya dan alasannya untuk pindah pun meninggalkan posisinya. Selama di klub masa kecilnya, statistik mengatakan penampilannya tidak buruk-buruk amat, namun sayangnya ia lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan.

Mimpinya dulu ia menjadi pujaan di klub masa kecilnya sama seperti yang ia dapatkan di London. Mimpinya dulu adalah bermain selama mungkin dan mengangkat piala bersama klub dari masa kecilnya. Kenyataannya, ia masih kalah dengan Messi atau si anak baru Neymar. Namanya semakin meredup dan tak lagi menjadi pusat dari rotasi planet-planet, malah ia yang dulu menjadi matahari berubah menjadi bulan.

Berkali-kali ia diberitakan masuk ke dalam daftar jual klub masa kecilnya dan akhirnya ia benar-benar keluar dari klub masa kecilnya di tahun ini. sebuah ironi, ketika ia sudah bersama dengan orang-orang yang mendukungnya dan mencintainya dengan sepenuh hati, ia malah pergi dengan mengorbankan dirinya sendiri untuk dapat bersanding dengan orang lain dari masa lalunya. Semuanya terbayarkan. Namun, ia keliru. Orang lain itu tidak sepenuhnya untuk mencintai dan mendukungnya.

Dia ingin kembali lagi ke orang yang mendukung dan mencintainya, namun sayangnya orang yang mendukung dan mencintainya itu menutup hati untuk dirinya. Prof tidak menjemputnya untuk kembali ke rumah. Tidak ada tempat untuk Cesc, kedatangannya hanya akan menghambat pertumbuhan dari Chambo, Ramsey, atau Jack bahkan buruknya mengacaukan taktik yang sudah dibangun kembali oleh Prof sepeninggal kepergiannya.

Apakah kamu kecewa terhadap anak hilang ini?

Saat ini Cesc benar-benar seperti anak hilang. Anak yang pergi berlalu lalang dan tidak menemukan kembali rumahnya dimana. Ia hilang bagaikan domba yang tak tahu dimana gembalanya, bahkan sampai ia menjilat ludahnya sendiri.

https://twitter.com/cesc4official/status/103393370709299200

Manisnya kata-katanya dulu menjadi hambar. Rasa cinta dulu kepada dirinya seiring berubah menjadi kekecewaan kepadanya. Cerita-cerita dulu yang pernah terjalin mesra, layaknya buku-buku usang yang siap untuk diberikan kepada orang lain atau disimpan di dalam gudang.

Untukku sendiri, aku tak masalah ia pergi dari Barcelona, yang menjadi sakit hati kepadanya ialah kepulangannya ke Inggris dan London. Pergi ke klub seberang yang dulu ia pernah mengatakan yang sering muncul di timeline  ini.

Kenapa harus kesana Cesc?
Apakah kamu tahu rasa sakit hati Cesc?
Kamu tahu, bagaimana kami berharap berapa tahun ke depan kamu akan kembali lagi dan mencium lambang meriam di dadamu dengan penuh kebanggaan?

Tidak. Kali ini kamu benar-benar menghancurkan hati kami. Pertama kamu hancurkan hati kami saat kamu pergi ke Barcelona di saat kami memerlukanmu dan yang kedua kamu pergi ke Chelsea. Kamu tahu rasa sakit hati kami yang kamu lakukan?

Aku tidak berharap bila kamu disana cedera, yang kuharapkan hanyalah yang terbaik untukmu Cesc. Bila ini terbaik untukmu, biarlah terjadi meski kekecewaan mengendap di palung hati kami paling dalam.

Aku harap, kamu pun tidak mencium logo di dadamu nantinya seperti kamu mencium logo meriam di dadamu dulu. Karena kami tahu, seberapa kamu mencintai klub ini, namun kami pun tahu ini lah yang terjadi di masa yang semuanya di atur oleh uang.

Dan kami harusnya sadar, bila kami memiliki Jack, Ramsey, dan Chambo. Atau kami masih memiliki Zelalem yang disebut-sebut adalah titisan kamu Cesc!

Semoga kau sukses di klub barumu dan bukan menjadi penghangat bangku cadangan kembali.

Kali ini belajarlah dari Cesc tentang percintaan. Bersyukurlah ketika kita memiliki hubungan dengan seseorang, jangan tergoda karena melihat orang lain yang menurut kita lebih baik. Karena rumput tetangga memang selalu hijau namun tidak selamanya yang kita lihat itu baik. Terkadang malah buruk untuk kita.

Seperti cinta Cesc yang disia-siakan oleh cinta pertamanya yang rela ia tinggalkan cintanya saat itu, ternyata cinta pertamanya tidak memberikan kesempatan untuk dia dapat berkembang dengan baik malah memberikan tekanan yang luar biasa untuk dirinya. Saat ia menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke cintanya saat itu, semuanya sudah terlambat. Cinta yang ia tinggalkan sudah memiliki cinta yang baru dan tidak ada lagi tempat untuk dirinya.

Inilah kehidupan. Inilah sepakbola. Inilah percintaan. Semuanya indah bukan? Ada drama yang tersaji di dalamnya. Ada kisah yang membuat kita bahagia ketika saat bersama. Ada kisah yang membuat kita menangis karena perpisahaan. Dan ada sebuah drama ketika orang yang pernah mengisi relung hati malah jadian dan tersenyum bersama dengan sahabat, eh,  lawan.

Kenapa Sami Khedira bukan Morgan Schneiderlin atau Lars Bender

Lying wide awake under strange sky wanting to call Arsene but it is late at night

Piala Dunia 2014 telah berlalu dan segenap drama dan aksi brilian yang ditampilkannya menjadi sejarah tersendiri yang akan kita ingat kelak. Entah itu gigitan Suarez terhadap Chiellini, kegemilangan James Rodriguez meraih Golden Boot, kegamangan Messi kala peluit final ditiup wasit, hingga kejayaan yang diraih tiga pemain Jerman Arsenal — Per Mertesacker, Lukas Podolski dan Mesut Ozil.

Menghitung mundur hingga 31 Agustus, warna lain dari sepakbola yang akan tersaji adalah geliat bursa transfer, yang anehnya, kita lalui dengan gegap gempita setelah Arsenal berhasil menggaet superstar Chili Alexis Sanchez yang bermain apik bersama negaranya kemarin. Mengenai Sanchez dan bagaimana ia akan bermain bersama Arsenal akan saya tuangkan nanti. Namun luangkan waktu kalian untuk membayangkan bagaimana kerjasama link-up play ia bersama Theo Walcott, Olivier Giroud dan Mesut Ozil memporakporandakan lini belakang klub-klub EPL.

Mouth watering sight.

Ada sebuah artikel yang begitu baik memaparkan situasi keuangan Arsenal di Telegraph yang terbit beberapa hari lalu. Menyatakan bagaimana ketersediaan fulus yang Arsenal miliki adalah buah dari perencanaan 10 tahun sejak Ashburton Grove berdiri. Bahwa semuanya kini menjadi ‘masuk akal’. Sengaja saya beri tanda kutip karena nyatanya ratusan artikel tak mampu membuat sebagian suporter sadar bahwa kebijakan pengiritan yang Arsenal jalankan adalah bagian dari long-time planning: terwujud dalam rentang satu tahun melalui perekrutan Mesut Ozil dari Real Madrid dan Alexis Sanchez dari Barcelona — dua raksasa sepakbola dunia.

Melalui Alexis Sanchez — yang direkrut ketika Piala Dunia belum usai dan satu bulan lebih sebelum jendela transfer ditutup — Arsene Wenger dan Arsenal seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang dulu tak terjawab secara eksplisit. Klub ini, ketika waktunya tiba, akan kembali mampu bersaing secara finansial tanpa mengorbankan pemain-pemain i skuat utama. Kita perlu juga menilik bahwa penjualan Sagna ke Manchester City adalah suatu keniscayaan. Toh, akan tiba waktunya seorang pemain mengalami rasa bosan bermain di satu klub dalam jangka waktu panjang. Beberapa nama pun didengungkan untuk mengisi kekosongan yang Sagna tinggal mengingat Carl Jenkinson dirasa belum cukup mumpuni mengisi pos bek kanan itu: Serge Aurier dan Mathieu Debuchy. Selain itu Arsenal yang ditinggal Lukasz Fabianski pun dikabarkan mengincar kiper: David Ospina.

Yang tak kalah menarik dan jadi perbincangan kini adalah berita mengenai Arsenal yang mengincar gelandang tengah. Tiga nama menyeruak ke benak gooner, yakni Morgan Schneiderlin (Southampton), Lars Bender (Bayer Leverkusen), dan Sami Khedira (Real Madrid) — kedua nama terakhir bahakan disebut secara resmi di sebuah artikel, sedangkan nama pertama baru sebatas rumor dan Southampton mustahil melepasnya dari klub yang ditinggal banyak punggawa utama.

Perdebatan meruncing ke persoalan substansial: bahwa Khedira bukanlah gelandang bertahan murni, melainkan box-to-box midfielder di mana kita telah memiliki Aaron Ramsey dan Jack Wilshere di posisi tersebut.

Ya, benar. Desakan untuk memiliki ‘the next Patrick Vieira or at least in same boat as Gilberto Silva’ sepertinya tak kunjung usai kecuali Arsenal membeli Paul Pogba dari Juventus.

Tapi ungkapan yang menyebutkan bahwa Khedira tak terlalu menonjol di aspek bertahan tak sepenuhnya salah. Berikut tabel yang membandingkan catatan statistik Khedira dengan pemain lain. Perlu dicatat bahwa data Khedira saya ambil di musim 2012-13 mengingat di musim lalu ia lama berkutat dengan cedera. Variabel yang ditandai bintang merupakan raihan tertinggi diantara yang lain.

Arteta Schneiderlin L. Bender Khedira
Mins. Played 2407 2765* 2344 1744
Pass completion 92%* 89% 77% 81%
Tackles won 2.26 2.64 3* 1.44
Sccssful take ons 0.55 0.64 1.66* 0.20
Interceptions 2.03 2.06* 1.76 1.16
Chances created 0.61 0.91* 0.69 0.76
Total shots 0.39 0.94* 0.76 0.84

* sumber statistik: squawka.com

Dari data di atas tampak Schneiderlin dan Lars Bender begitu menonjol. Keduanya pun lebih muda dari Khedira (yang kini berumur 27 tahun) dan memiliki postur tubuh serupa. Schneiderlin kembali unggul jika kita menilik fakta bahwa ia telah lama bermain di EPL bersama Southampton.

Tapi apakah statistik mampu menggambarkan suatu hal dengan pasti? Sebagian penganut paham filsafat positivistik akan mengangguk setuju. Tapi duhai kawan, sepakbola sebagaimana manusia dalam kehidupan sosial tak akan bisa diukur lewat angka, berjalan tanpa kepastian lewat ketakteraturan dan kedinamisan.

Kumungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan pun perlu diperhitungkan. Contohnya begini. Adalah fakta, di atas kertas dan di dalam lapangan, bahwa Lars Bender gelandang hebat. Tapi tawaran Arsene Wenger sebesar  £19 juta ditolak Bayer Leverkusen musim lalu. Apalagi Leverkusen juga telah kehilangan Emre Can yang dipinang Liverpool. Sementara di kubu Southampton, meski telah memiliki Victor Wanyama dan Jack Cork, sulit rasanya bagi kita untuk mendapatkan tanda tangan Schneiderlin. Kemitraan Wanyama dan Schneiderlin lebih banyak dipakai Pochettino musim lalu ketimbang duet Schneiderlin-Cork yang mengundang decak kagum dua musim silam. Sulit rasanya bagi The Saints untuk merelakan kepergiannya setelah ditinggal aktor integral kesuksesan mereka, Pochettino (pelatih), Adam Lallana (playmaker/ikon klub), Luke Shaw dan Rickie Lambert (ikon klub).

Sementara Real Madrid masih memiliki Xabi Alonso dan bintang muda mereka Asier Illaramendi jika Khedira pergi. Plus kedatangan Toni Kroos dari Bayern Munchen di mana sang pemain sendiri telah menyatakan kepindahannya ke ibukota Spanyol tersebut ketika diwawancari wartawan dari situs UOL paska kemenangan Jerman atas Argentina,

We’ve finished the World Cup in the best way possible. Now I’m going to Madrid, so that’s two dreams achieved

Kepergian Khedira saya rasa tinggal menunggu resminya kedatangan Kroos di Real Madrid yang konon akan diresmikan pada hari Kamis.

Khedira seperti yang dikutip Wikipedia memiliki atribut,

He is considered a dynamic midfielder with “flawless aerial ability” who can cover a lot of ground, recover the ball and quickly join in the team attack with his powerful mid-rangeshooting

Dia tak banyak melakukan tekel-tekel tak perlu sehingga dirasa sesuai dengan skema Arsenal. Sementara situs Whoscored menjelaskan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk melakukan operan-operan pendek dan piawai dalam melepas key-pass (operan yang menghasilkan gol).

Jika kita cermati lebih jauh, Arsene Wenger mempunyai kecenderungan untuk memahami tren yang berkembang dalam sepakbola ketika membangun tim di Arsenal.

skuat Jerman kala menghancurkan Inggris 4-0 di final Piala Eropa U-21 tahun 2009
skuat Jerman kala menghancurkan Inggris 4-0 di final Piala Eropa U-21 tahun 2009

 

Kita ingat di awal karirnya di Arsenal, bagaimana ia mengisi skuat Arsenal dengan banyak pemain Perancis. Setelah sukses mengawinkan gelar ganda pada 1997/98, Perancis sukses meraih gelar dunia pertama mereka di mana gol ketiga Perancis dicetak oleh Emmanuel Petit berkat sodoran umpan Patrick Vieira.

Kemudian jelang 2010, kita sadar bagaimana ia beralih ke Spanyol dengan mendatangkan pemain-pemain dari negara tersebut seperti Jose Antonio Reyes, Cesc Fabregas, Manuel Almunia dan Fran Merida (Arteta, Cazorla dan Monreal dikesampingkan karena direkrut paska 2010).

Barulah pada 2011, Arsenal dijejali bakat-bakat Jerman: Podolski, Mertesacker dan Ozil yang merupakan skuat timnas senior. Serta bakat-bakat muda seperti Serge Gnabry, Thomas Eisfeld dan Gedion Zelalem. Nama terakhir, yang mencuat di tur Arsenal musim lalu, bisa saja membela timnas Amerika Serikat atau Ethiopia jika kelak telah menentukan kepada negara mana pemain ini mengikrarkan diri. Namun Zelalem sejauh ini membela tim junior Jerman di berbagai kesempatan.

Semakin masuk akal ketika ketika melihat foto di atas. Khedira telah sejak lama menjadi partner Ozil di level timnas dan klub (Real Madrid). Pada diri Khedira kita menemukan sosok pemenang. Ia pemenang Bundesliga dan DFB Pokal bersama Stuttgart. Juga jawara Liga Champions bersama Real Madrid. Trofi Piala Dunia pun menggenapi raihan prestasinya yang gemerlap. Sekali lagi saya ungkapkan: Khedira adalah sosok pemenang yang mengerti bagaimana pergerakan Ozil di lapangan, serta mampu padu bekerjasama dengan lini belakang dengan Per Mertesacker.

Hal-hal di atas tak akan kita temukan pada diri Schneiderlin maupun Bender. Meski kedua pemain tersebut berumur lebih muda atau dibanderol lebih murah ketimbang nilai mahar Khedira. Faktor pengalaman dan mental juara yang tentu mampu dipelajari Ramsey, Wilshere, Gibbs dan rekan-rekan.

Sontak saya kembali teringat pada perdebatan ‘the next Patrick Vieira’ di awal tulisan. Apa yang kita ingat dari sosok kapten legendaris tersebut? Tentu pergerakan dia memotong bola yang sedang dibawa pemain lawan, untuk kemudian dengan kecepatannya menggiring bola tersebut jauh ke depan dan memberinya pada striker-striker Arsenal. Sederhananya, ya box-to-box midfielder. Seperti yang ada pada diri Sami Khedira.

Menggembirakannya lagi, Khedira menobatkan Vieira sebagai panutannya di atas lapangan. Seperti yang ia tuturkan pada situs UEFA.com,

During my early years I looked up to Patrick Vieira,” he said. “He was very involved up front, very strong in defence, ran a lot, was aggressive and had great skills.

Ia pun menyadari bahwa aksi ‘berdarah-darahnya’ takkan diapresiasi oleh banyak penggemar karena pujian akan berhamburan pada para pencetak gol dan pendribel handal,

I understand perfectly that the spotlight is for Cristiano Ronaldo, Özil and [Karim] Benzema. It’s normal – they’re the artists, they’re the ones who do scissor kicks, nutmegs, incredible dribbling. We have an incredible team with the best attacking players in the world, but we need to win the ball first.

Winning the ball first.

Bangun serangan dari awal dengan merebut bola yang sedang dikuasai lawan, lalu biarkan tugas selanjutnya diteruskan Ozil, Ramsey, Cazorla, Walcott, Sanchez, Podolski, atau Giroud.

Jurnalis spesialis Serie A dan La Liga, Mina Rzouki menjabarkan letak krusial Khedira di Real Madrid paska diluluhlantakkan Dortmund dua tahun silam,

Consistently underrated, the loss of the player against Dortmund perfectly proved his indispensability. Without his dynamism, the Spaniards failed to press as a unit and without his tactical intelligence, Dortmund easily identified the holes within midfield to exploit.

However, no one suffers more than Xabi Alonso in the absence of his midfield partner. With the German alongside him, Alonso can adopt a higher position on the field and dedicate more of his time to creating play quickly. Without Khedira, the Spaniard is often forced to adopt a deeper role to receive the ball free from pressure, which subsequently allows the opponent a few seconds more to stifle Alonso’s passes to either the full-backs or wingers waiting patiently on the flanks.

A leader on the pitch, Khedira never stops playing, remains focused for the entirety of the match and always believes in the win. Off the pitch, he is a strong character who is both respected for his influence and loved for his sense of humour and friendly touch. The man responsible for choosing the songs on the German team bus, his hilarious one liners that include ‘Poldi [Lukas Podolski] is not a man of many words but a man of explicit words’ make him a delight off the pitch as well as on it.

Khedira akan bisa memberi Wilshere pelajaran bagaimana cara merebut bola untuk kemudian mendistribusikannya jauh ke pertahanan lawan tanpa melakukan pelanggaran. Umurnya yang 27 tahun saya rasa bukan masalah mengingat umur sekian merupakan periode puncak karir seorang pesepakbola.

Yang lebih menggembirakan lagi, jika Khedira gagal digaet pun, pilihan lainnya tak kalah mengecewakan.

On to you, Arsene.

And yeah, it’s good to be back. Selamat datang musim 2014-15.

Liverpool are Arsenal’s Necessary Evil

Oleh: Nora Ayudha

I’m Necessary Evil..

sumber gambar

Mungkin banyak sekali tokoh antagonis yang seliweran di Hollywood beberapa tahun belakangan, namun entah tokoh ini seringkali muncul di benak saya setiap ada pergulatan sengit dalam sebuah kompetisi. Yah, judul di atas adalah petikan dialog Bane, salah satu tokoh antagonis dalam film Batman “Dark Knight Rises”, tokoh yang menurut saya kata dan intonasinya lebih meneror ketimbang penampilannya. Cerdas sekali Christopher Nolan membangun karakter Bane yang tidak hanya gahar tapi juga mengintimidasi lewat kata – katanya.

Necessary Evil?

​Dalam konteks sepakbola, necessary evil merujuk pada rival yang “menampar” dominasi dan mengoreksi kompetisi. Di Bundesliga misalnya sebelum eksodus pemain, Borussia Dortmund adalah necessary evil bagi Bayern Munich, bisa jadi tanpa kehadiran Die Borussen, FC Hollywood tidak bisa “memaksakan” kemampuan terbaiknya. Di musim 2011-2012, Dortmund mengejutkan Munchen dengan merebut tampuk kekuasaan dengan selisih 8 poin, tapi apa yang terjadi tahun berikutnya? Stern des Südens menyapu bersih semua kompetisi yang diikuti dengan predikat juara.

Arsenal dan Necessary Evil

​Sebenarnya ingin sekali menyebut Manchester United sebagai necessary evil Arsenal, karena selain MU memang (d)evil juga harus diakui beberapa tahun terakhir susah sekali meraih poin saat berhadapan dengan MU. Namun, pertandingan kemarin membuat saya berpikir dan bernostalgia sejenak. Akhirnya, yah akhirnya Liverpool-lah necessary evil bagi Arsenal. Keraguan saya akan permainan Arsenal yang mulai mudah ditebak dan monoton terbukti ketika matchday ke-25 secara mengejutkan dilucuti di Anfield dengan skor 5-1 yang kemudian disusul dengan tidak bisa memenuhi ekspektasi Gooners untuk meraih 3 poin saat melawan Manchester United di kandang. Tak pelak paska peluit panjang riuh cemooh Gooners membahana. Kekhawatiran semakin hampir terbukti setelah peragaan 20 menit awal di lapangan pertandingan tadi malam seperti de javu saat di Anfield.

Namun, kemenangan kemarin menggugah arti penting Liverpool bagi Arsenal.

We Won The League On Merseyside

sumber:
sumber: the-cannon.com

Kemenangan atas Liverpool seringkali terjadi di saat yang penting, yang paling manis dan hingga 25 tahun berikut dan seterusnya masih dinyanyikan ketika kemenangan di Anfield yang menahbiskan Arsenal sebagai juara lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Padahal saat itu Liverpool diperkuat nama-nama besar seperti John Barnes, Ian Rush dan Bruce Grobbelaar.

Kemarin malam, dengan skuad yang tak jauh berbeda di tubuh Liverpool, lawatan Liverpool ke Emirates menjadi sinyal bahwa Arsenal tidak dalam masa krisis, namun kejatuhan seminggu yang lalu (lebih tepatnya 8 hari yang lalu) direspon positif sebelum mempersiapkan Juara Liga Champion musim lalu untuk menjadi tamu yang “sopan”, seperti tamu–tamu lainnya. Kemenangan kemarin malam menjadi bukti beberapa hal, ini yang bisa saya catat :

1. Debut Yaya Sanogo
Kalau boleh jujur, tidak ada yang istimewa dengan penampilan kemarin, namun untuk pemain yang masih muda, baru pulih dari cedera dan mengusung agenda balas dendam, melawan Liverpool tanpa grogi dan takluk pada intimidasi, terbersit Sanogo adalah pewaris tampuk striker kulit hitam* yang pernah dimiliki Arsenal beberapa musim lalu. Pergerakannya lebih agresif ketimbang “Charming Striker”, lihat saja apa yang terjadi sebelum gol Ox-Chambo terjadi? Untuk debutnya, bak menyaksikan “Muhammad Ali melawan Tony Liston” a legend was born. Berlebihankah? Time will tell.

2. Racikan Arsene Wenger
Saya yakin racikan kemarin membuat ketar-ketir, bagaimana tidak? Lukasz Fabianski yang jarang bermain harus menjadi starter di laga yang traumatik, duet Flamini–Arteta yang beberapa kali membuat blunder, Jenkinson yang harus mengawal pergerakan Cou yang silih berganti posisi dengan Sterling dan Yaya Sanogo yang melakoni debut. Namun apa yang terjadi kemarin? Yang pertama menjadi Man of the Match, yang terakhir menuai pujian setinggi langit.

3. Arsene Wenger bukan Spesialis Gagal! We still running in three Competition! (sorry if it Out Of Topic)

Apa yang bisa dipetik dari hasil kemarin?

​Selain kemenangan 2-1 dan tuntasnya dendam**, Arsenal lebih menarik ketika berhadapan dengan tim yang tampil menyerang atau terbuka. Lihat saja seretnya proses gol melawan tim yang tampil defensif, pemain Arsenal seperti kebingungan membongkar pertahanan lawan, bola berpindah dari 1 sisi ke sisi yang lain, yang paling jelas ketika bertemu MU midweek kemarin, saya percaya saat ini anda akan otomatis menggangguk-anggukkan kepala di depan layar tanda setuju.

​Permainan Liverpool memberikan banyak pelajaran bagi Arsenal. Arsenal harus menghadapi permainan sayap yang cukup sering membuat jantung berdebar dan mata berkunang-kunang. Penetrasi dan pergerakan tanpa bola yang menunggu sang skipper memberikan umpan membelah maupun melebar untuk berupaya mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. Masih ingat shot on goal pertama Liverpool? Apa yang terjadi pada Per? Munchen juga memiliki barisan winger yang tak kalah menakutkan, nominator Ballon D’or bertengger di sana (edit: Franck Ribery dipastikan tidka bisa tampil karena cedera), belum lagi gelandang-gelandang yang buas dan tanpa belas kasihan meneror dan mengkudeta lini kedua. Saya jadi melihat hikmah di Anfield, bagaimana jika Arsenal menang di Anfield dan Emirates saat menjamu MU dan Liverpool di FA? Bisa saja Arsenal terlena dan tersedak di kandang saat menjamu Munchen seperti musim kemarin. Mungkin ini yang disebut Arsene knows.

​Bukan berarti masalah tertuntaskan sepenuhnya. Ijinkan saya menjelaskan, barisan penyerang murni yang dirasa kurang menyumbang kontribusi. Kemudian bagaimana dengan kemampuan come back Arsenal yang terbukti ampuh 2 musim ke belakang? Terakhir Arsenal melakukannya saat tandang ke West Ham. Mungkin ini bukanlah prasyarat mutlak, tapi bukan tidak mungkin Arsenal kecolongan lebih dahulu. Satu-satunya hal yang bisa membuat bangga adalah tren positif di Emirates. Oh iya, kedalaman skuad dan pemain kunci yang tumbang bisa jadi pembeda kedua tim saat melakoni perdelapan final UCL edisi kali ini.

Terakhir, jika harus merefleksi pertandingan kemarin, kemarin adalah pertandingan yang bertajuk balas dendam dan hasilnya memuaskan? Bukankah pertemuan dengan Die Rotten juga serupa? Universe conspires? Ah, entahlah. Saya ini Gooners yang terpisah bermil-mil jaraknya dari London, hanya dukungan dan sedikit kreativitas yang bisa saya berikan untuk mengungkapkan kepada tim tercinta ini.

NB : jika anda cinta pada sesuatu, alangkah baiknya jika cinta itu membuat anda menjadi lebih cerdas dan mampu mengeluarkan potensi anda seutuhnya. Jadilah fans yang mencintai dengan baik, bukannya fans yang mencaci tim sendiri. Jika hal itu terjadi pada anda, sepertinya ada yang salah dengan pengertian fans versi anda? J

* Kalimat ini tidak sedikitpun karena alam bawah sadar saya yang rasis, namun hanya untuk menggambarkan sebuah pola.“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)
** Beritahu temanmu jika kalah di BPL masih bisa berlaga, namun tidak untuk kekalahan di FA berapapun itu skornya, mungkin saja mereka lupa format kompetisi antara BPL dan FA Cup.

***

Profil penulis: Mahasiswa Semester 14 ( 14 means : Look Good, Loyalty, legend). Pemula dalam hal Pedagogi. Menulis sebagai injeksi endorfin