Liverpool are Arsenal’s Necessary Evil

Oleh: Nora Ayudha

I’m Necessary Evil..

Mungkin banyak sekali tokoh antagonis yang seliweran di Hollywood beberapa tahun belakangan, namun entah tokoh ini seringkali muncul di benak saya setiap ada pergulatan sengit dalam sebuah kompetisi. Yah, judul di atas adalah petikan dialog Bane, salah satu tokoh antagonis dalam film Batman “Dark Knight Rises”, tokoh yang menurut saya kata dan intonasinya lebih meneror ketimbang penampilannya. Cerdas sekali Christopher Nolan membangun karakter Bane yang tidak hanya gahar tapi juga mengintimidasi lewat kata – katanya.

Necessary Evil?

​Dalam konteks sepakbola, necessary evil merujuk pada rival yang “menampar” dominasi dan mengoreksi kompetisi. Di Bundesliga misalnya sebelum eksodus pemain, Borussia Dortmund adalah necessary evil bagi Bayern Munich, bisa jadi tanpa kehadiran Die Borussen, FC Hollywood tidak bisa “memaksakan” kemampuan terbaiknya. Di musim 2011-2012, Dortmund mengejutkan Munchen dengan merebut tampuk kekuasaan dengan selisih 8 poin, tapi apa yang terjadi tahun berikutnya? Stern des Südens menyapu bersih semua kompetisi yang diikuti dengan predikat juara.

Arsenal dan Necessary Evil

​Sebenarnya ingin sekali menyebut Manchester United sebagai necessary evil Arsenal, karena selain MU memang (d)evil juga harus diakui beberapa tahun terakhir susah sekali meraih poin saat berhadapan dengan MU. Namun, pertandingan kemarin membuat saya berpikir dan bernostalgia sejenak. Akhirnya, yah akhirnya Liverpool-lah necessary evil bagi Arsenal. Keraguan saya akan permainan Arsenal yang mulai mudah ditebak dan monoton terbukti ketika matchday ke-25 secara mengejutkan dilucuti di Anfield dengan skor 5-1 yang kemudian disusul dengan tidak bisa memenuhi ekspektasi Gooners untuk meraih 3 poin saat melawan Manchester United di kandang. Tak pelak paska peluit panjang riuh cemooh Gooners membahana. Kekhawatiran semakin hampir terbukti setelah peragaan 20 menit awal di lapangan pertandingan tadi malam seperti de javu saat di Anfield.

Namun, kemenangan kemarin menggugah arti penting Liverpool bagi Arsenal.

We Won The League On Merseyside

sumber:

sumber: the-cannon.com

Kemenangan atas Liverpool seringkali terjadi di saat yang penting, yang paling manis dan hingga 25 tahun berikut dan seterusnya masih dinyanyikan ketika kemenangan di Anfield yang menahbiskan Arsenal sebagai juara lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Padahal saat itu Liverpool diperkuat nama-nama besar seperti John Barnes, Ian Rush dan Bruce Grobbelaar.

Kemarin malam, dengan skuad yang tak jauh berbeda di tubuh Liverpool, lawatan Liverpool ke Emirates menjadi sinyal bahwa Arsenal tidak dalam masa krisis, namun kejatuhan seminggu yang lalu (lebih tepatnya 8 hari yang lalu) direspon positif sebelum mempersiapkan Juara Liga Champion musim lalu untuk menjadi tamu yang “sopan”, seperti tamu–tamu lainnya. Kemenangan kemarin malam menjadi bukti beberapa hal, ini yang bisa saya catat :

1. Debut Yaya Sanogo
Kalau boleh jujur, tidak ada yang istimewa dengan penampilan kemarin, namun untuk pemain yang masih muda, baru pulih dari cedera dan mengusung agenda balas dendam, melawan Liverpool tanpa grogi dan takluk pada intimidasi, terbersit Sanogo adalah pewaris tampuk striker kulit hitam* yang pernah dimiliki Arsenal beberapa musim lalu. Pergerakannya lebih agresif ketimbang “Charming Striker”, lihat saja apa yang terjadi sebelum gol Ox-Chambo terjadi? Untuk debutnya, bak menyaksikan “Muhammad Ali melawan Tony Liston” a legend was born. Berlebihankah? Time will tell.

2. Racikan Arsene Wenger
Saya yakin racikan kemarin membuat ketar-ketir, bagaimana tidak? Lukasz Fabianski yang jarang bermain harus menjadi starter di laga yang traumatik, duet Flamini–Arteta yang beberapa kali membuat blunder, Jenkinson yang harus mengawal pergerakan Cou yang silih berganti posisi dengan Sterling dan Yaya Sanogo yang melakoni debut. Namun apa yang terjadi kemarin? Yang pertama menjadi Man of the Match, yang terakhir menuai pujian setinggi langit.

3. Arsene Wenger bukan Spesialis Gagal! We still running in three Competition! (sorry if it Out Of Topic)

Apa yang bisa dipetik dari hasil kemarin?

​Selain kemenangan 2-1 dan tuntasnya dendam**, Arsenal lebih menarik ketika berhadapan dengan tim yang tampil menyerang atau terbuka. Lihat saja seretnya proses gol melawan tim yang tampil defensif, pemain Arsenal seperti kebingungan membongkar pertahanan lawan, bola berpindah dari 1 sisi ke sisi yang lain, yang paling jelas ketika bertemu MU midweek kemarin, saya percaya saat ini anda akan otomatis menggangguk-anggukkan kepala di depan layar tanda setuju.

​Permainan Liverpool memberikan banyak pelajaran bagi Arsenal. Arsenal harus menghadapi permainan sayap yang cukup sering membuat jantung berdebar dan mata berkunang-kunang. Penetrasi dan pergerakan tanpa bola yang menunggu sang skipper memberikan umpan membelah maupun melebar untuk berupaya mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. Masih ingat shot on goal pertama Liverpool? Apa yang terjadi pada Per? Munchen juga memiliki barisan winger yang tak kalah menakutkan, nominator Ballon D’or bertengger di sana (edit: Franck Ribery dipastikan tidka bisa tampil karena cedera), belum lagi gelandang-gelandang yang buas dan tanpa belas kasihan meneror dan mengkudeta lini kedua. Saya jadi melihat hikmah di Anfield, bagaimana jika Arsenal menang di Anfield dan Emirates saat menjamu MU dan Liverpool di FA? Bisa saja Arsenal terlena dan tersedak di kandang saat menjamu Munchen seperti musim kemarin. Mungkin ini yang disebut Arsene knows.

​Bukan berarti masalah tertuntaskan sepenuhnya. Ijinkan saya menjelaskan, barisan penyerang murni yang dirasa kurang menyumbang kontribusi. Kemudian bagaimana dengan kemampuan come back Arsenal yang terbukti ampuh 2 musim ke belakang? Terakhir Arsenal melakukannya saat tandang ke West Ham. Mungkin ini bukanlah prasyarat mutlak, tapi bukan tidak mungkin Arsenal kecolongan lebih dahulu. Satu-satunya hal yang bisa membuat bangga adalah tren positif di Emirates. Oh iya, kedalaman skuad dan pemain kunci yang tumbang bisa jadi pembeda kedua tim saat melakoni perdelapan final UCL edisi kali ini.

Terakhir, jika harus merefleksi pertandingan kemarin, kemarin adalah pertandingan yang bertajuk balas dendam dan hasilnya memuaskan? Bukankah pertemuan dengan Die Rotten juga serupa? Universe conspires? Ah, entahlah. Saya ini Gooners yang terpisah bermil-mil jaraknya dari London, hanya dukungan dan sedikit kreativitas yang bisa saya berikan untuk mengungkapkan kepada tim tercinta ini.

NB : jika anda cinta pada sesuatu, alangkah baiknya jika cinta itu membuat anda menjadi lebih cerdas dan mampu mengeluarkan potensi anda seutuhnya. Jadilah fans yang mencintai dengan baik, bukannya fans yang mencaci tim sendiri. Jika hal itu terjadi pada anda, sepertinya ada yang salah dengan pengertian fans versi anda? J

* Kalimat ini tidak sedikitpun karena alam bawah sadar saya yang rasis, namun hanya untuk menggambarkan sebuah pola.“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)
** Beritahu temanmu jika kalah di BPL masih bisa berlaga, namun tidak untuk kekalahan di FA berapapun itu skornya, mungkin saja mereka lupa format kompetisi antara BPL dan FA Cup.

***

Profil penulis: Mahasiswa Semester 14 ( 14 means : Look Good, Loyalty, legend). Pemula dalam hal Pedagogi. Menulis sebagai injeksi endorfin

It’s Probably All in the Mind

20140212-052534.jpg

It’s Probably All in the Mind

Selamat sore. Akhirnya setelah sekian bulan absen mengisi blog ini saya kembali mampu menulis sambil mengawal perjalanan Arsenal. Banyak kisah heroik yang luput saya liput. Pula kisah memilukan yang berat menulisnya. Jangan mulai dengan kekalahan dari Liverpool kemarin, karena saya tahu itu memalukan, seakan menghempaskan harapan kita jatuh ke tanah.

Bagaimana bisa Martin Skrtl, bek yang musim lalu posisinya terancam bisa dengan mudah membobol gawang kita dua kali?

Mengutip lagu dari Oasis,

It’s probably all in the mind.

Arsenal belum mampu tampil meyakinkan kala menghadapi tim-tim besar di laga penting.
It’s probably all in the mind..

Mesut Özil ternyata hanyalah satu dari dua kepingan yang hilang karena Olivier Giroud belum mampu memaksimalkan daya ledak kreatifitas playmaker Jerman itu.
It’s probably all in the mind..

Duet maut Mertescielny yang katanya kokoh seperti karang masih saja tampil seperti pasir: tak tahu apa yang terjadi saat diterjang ombak ganas (baca: tim dengan penyerang hebat).
It’s probably all in the mind..

Seperti halnya orang-orang keren lainnya, saya berhenti mendengarkan Coldplay paska album X&Y.
It’s probably all in the mind..

Kalah 5-1 tidak membuat peluang kita pupus. Jangan biarkan serangan, kritikan dan sindiran media membuat keyakinan kita terombang-ambing. Bagaimana dengan Chelsea yang di dua pertandingan terakhir hanya mampu bermain imbang melawan tim papan tengah, West Ham dan West Brom dini hari tadi?

Hasil imbang itu juga yang membuat Arsenal kembali berpeluang merebut pos pertama Premier League. Karena menang 200-0 pun nanti, Manchester City tetap berada di posisi kedua.

Kenyataan ini membuat kita harus merekonstruksi nilai yang dikeluarkan media: bahwa juara liga harus mampu tampil meyakinkan kala melawan rival-rivalnya. Bahwa kekalahan Arsenal atas City dan Liverpool hampir pasti menutup peluang Arsenal menutup satu dasawarsa tanpa gelar liga Inggris.

Masalahnya ada 20 tim yang berlaga di kompetisi ini. Percuma saja Liverpool dan City digdaya dengan berbutir-butir gol yang mereka jebloskan jika ternyata kerap terpeleset saat menghadapi tim non enam besar. Dan bukankah dengan kemampuan Arsenal tampil konsisten (sebelum laga kontra Liverpool) itu yang membuat mereka nyaman bertengger lebih dari 3 bulan?

Arsenal (dan Arsène Wenger) belum mampu menemukan formula tepat saat tampil melawan tim yang dilatih oleh ahli taktik brilian.

Bagaimana dengan dua kemenangan atas Tottenham?
Bagaimana dengan fakta sebagai tim yang mampu menundukkan Dortmund — finalis UCL musim lalu kalau anda lupa — di kandangnya?
Bagaimana dengan leg pertama kontra Napoli?

As I’ve said before:

It’s probably all in the mind.

Masalahnya kita mampu tidak tetap memelihara asa dan harapan?
Sudut pandang harus sedikit dirubah saat tim diterpa krisis. Arsenal jelas berada dalam tekanan besar sebelum sepakmula di Anfield kemarin. Mereka harus menang karena City dan Chelsea hanya menghadapi lawan ringan, sementara lawan yang dihadapi adalah Liverpool yang telah bertransformasi menjadi tim dengan barisan penyerang trengginas.

Lalu yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan: belum genap satu menit gawang Szczesny sudah dibobol oleh pemain yang sejatinya tak diharapkan mampu dengan cerdik mengungguli jebakan zonal marking.

Bayangkan anda telah merakit ulang komputer desktop dengan spek kelas advanced gamer: berpendingin, memori 8 RAM dan prosesor termutakhir, tapi komputer tidak beroperasi maksimal sebab ada kabel yang salah colok!

Jangan lupakan juga fakta perubahan gaya Liverpool yang tak lagi Suarez sentris. Plus gemuruh Anfield yang konon menjadi salah satu stadion terbising di dunia.

Melawan United keseluruhan skuat harus sadar bahwa ini bisa jadi turning point bagi keseluruhan nasib klub musim ini. Mereka harus sadar bahwa skuat David Moyes tak ubahnya para caleg menjelang pemilu yang ringan tangan memberi hadiah.

Jack Wilshere tak boleh lagi terlalu emosional kala berduel dengan gelandang lawan. Dan saya pikir sudah waktunya bagi Kieran Gibbs untuk kembali mengisi pos bek kiri. Semangat juang dan kegigihan Tomas Rosicky juga patut kembali hadir sejak menit pertama.

Tulisan ini mungkin dirasa kurang mendalam. Tapi sebagai permulaan setelah absen lama, saya butuh pemantik agar bisa terus hadir paling tidak dalam skala mingguan.

Tidak seperti semangat menulis saya yang kerap padam, jangan sampai harapan kita melihat Arsenal kembali berjaya berada di ruang hampa.

Sunderland dan Marseille telah ditaklukkan, berikutnya Stoke

The Gunners on tour

Manakala suatu kerajaan telah mengobarkan panji perang, saat itu kita tahu bahwa sang raja telah siap dan yakin dengan kekuatan bala tentaranya. Suatu partai politik, di negeri yang menganut multi-partai, ketika telah mencanangkan gacoan untuk maju menjadi pemimpin selanjutnya pasti telah paham kredibilitas dan elektabilitas tokoh terkait. Pun suatu perusahaan — katakanlah — periklanan. Ketika plang neon sudah dipasang, gedung sewaan telah terisi perkakas perkantoran, si pemilik telah tahu langkah-langkah yang dibutuhkan untuk bersaing di bisnis periklanan, ‘pasar’ macam apa yang menjadi target kliennya, iklan model apa yang sanggup ia buat, dan seterusnya.

Ketiga contoh di atas menuturkan pada kita bahwa tak peduli di medan perang, arena politik hingga persaingan bisnis, pemahaman akan kekuatan sendiri dan rival mutlak dimiliki seseorang sebelum benar-benar bertempur. Bagi mereka yang paham kekuatannya tak seberapa, akan memilih untuk merendahkan tingkat pencapaiannya.

Kerajaan yang tak memiliki kavaleri tapi mempunyai cadangan kayu berlimpah akan berkongsi dengan kerajaan yang lebih kuat guna menjaga dominasi mereka di masa depan. Partai politik gurem akan melakukan lobi-lobi tingkat dewa guna setidaknya mendapat beberapa kursi di dewan pemerintahan. Perusahaan periklanan bermodal kecil akan bergerilya mencari perusahaan gurem yang bujetnya kecil — mereka harus mawas akan kemampuan pegawainya dalam berkreasi.

Sebuah klub sepakbola, yang bertarung hampir satu tahun di area kompetitif tentu ingin selalu menang. Tapi sebuah mimpi di siang bolong jika klub seperti — katakanlah — Hull City menargetkan menjadi juara EPL di ujung kompetisi. Bagi mereka, bertahan di EPL musim depan sudah merupakan prestasi. Syukur-syukur jika mampu ‘berbicara’ lebih banyak di kompetisi domestik lain.

Lantas akan ada sebuah tudingan kepada saya, ‘memangnya Arsenal klub sekelas Hull? Enak saja!’. Tidak bisa dipungkiri. Tapi komentar tadi tidak sepenuhnya benar.

Sebelum kompetisi UCL digelar minggu lalu, saya membeli dua tabloid sepakbola dengan tiras terbesar yang pada saat bersamaan membahas tim-tim yang berkompetisi di UCL. Mana saja grup yang masuk kategori ‘neraka’, siapa saja yang peluang lolosnya besar, juga prediksi serta ulasan-ulasan mendalam mengenai statistik, tradisi hingga sejarah beberapa klub atau pelatih.

Di tabloid yang saya pegang tersebut, tidak satu pun memajang salah satu pemain Arsenal di sampul. Pun ‘aroma’ tulisan di tiap halaman, mereka tetap berbondong-bondong menjagokan Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Juventus dan Bayern Munchen untuk menjuarai kompetisi tertinggi di Eropa ini. Tidak salah, karena kekuatan klub-klub tersebut dianggap mmemnuhi — bahkan melebihi — standar klub Eropa lain.

Maka ketika Arsenal mampu kembali menang di kandang Marseille, sesungguhnya pencapaian tersebut sudah di luar ekspektasi saya pribadi. Saya ingin Arsenal selalu menang minimal 50-0 atas semua lawan yang dihadapi, tapi sambil menjaga rasa optimis, saya selalu menekankan untuk selalu menakar kadar ekspektasi saya agar tak terlalu kecewa.

Rekor 10 kemenangan tandang yang anak-anak Arsene Wenger raih bahkan tak mampu dilakukan Arsenal era Invincibles. Ya, betul, kekalahan atas Aston Villa adalah sebuah langkah buruk dalam memulai kompetisi. Tapi jika ternyata hal tersebut mampu melecut klub untuk merekrut dua pembelian brilian (seorang pemain dengan julukan si raja assist bewajah sendu dan si anak hilang Mathieu Flamini yang ternyata mampu mematahkan keraguan fans), memompa semangat skuat untuk secara padu mendulang hasil optimal, mengapa tidak?

Di tengah badai cedera, Arsenal mampu meraih 6 kemenangan berturut-turut sementara Chelsea — yang kekuatan skuatnya terlihat mengerikan — justru diremukkan Everton dan Basel. Ada sesuatau yang spesial di tim yang kita punya saat ini. Tak luput dari perhatian, dalam daftar cedera tersebut bahkan terdapat dua kapten utama; hal yang jika terjadi tiga musim lalu akan membuat motivasi tim menjadi pincang dan lihat kini: Per Mertesacker dan Bacary Sagna unjuk diri mengenakan ban kapten untuk menggantikan Thomas Vermaelen dan Mikel Arteta.

Ketika musim baru saja bergulir, semua fans sepakbola pasti memendam hasrat untuk melihat timnya meraih suatu gelar di bulan Mei. Menjelang Agustus, periode dimana semua disibukkan oleh alur keluar-masuk pemain, fans akan (harusnya) bisa merekronstruksi harapan. Dengan hitung-hitungan sederhana (mengindahkan kekuatan skuat, finansial, injury record, tradisi, tren), ada 20 tim yang memerebutkan gelar EPL. Berarti masing-masing tim ‘hanya’ memiliki 1/20 kesempatan untuk menggapai hal tersebut. Belum lagi jika kita menghitung kesempatan suatu tim di kompetisi Piala FA.

Ketika ditanya wartawan apakah skuatnya ini (saat itu media sangat gencar memberitakan ketertarikan Arsenal terhadap Suarez), mampu bersaing dengan tim seperti Chelsea atau City Wenger menjawab,

Yes, of course. I am confident. Why should I sit here and say to you we can absolutely not win the title with the players we have?

Saat itu, jawaban di atas akan terdengar ironis. Tapi Wenger kembali membuktikan bahwa memang benar media telah — mengutip istilah yang dia lontarkan — ‘mencuci otak’ fans di periode bursa transfer. Fans menjadi lupa bahwa tanpa pemain tambahan, skuat yang tak lagi kecolongan pemain kuncinya ini berhasil mencatat rekor menakjubkan setelah menang 2-0 di Allianz Arena.

Sunderland 1 – 3 Arsenal

Sunderland adalah tim seperti Swansea, Southampton atau Newcastle dua musim lalu: tim-tim yang secara kasat mata tak akan membahayakan Arsenal namun fakta berkata dengan mereka-lah kita sering kehilangan poin.

Musim lalu sendiri kita belum pernah menghadapi Sunderland asuhan Paulo di Canio, eks West Ham yang menjadi pelatih mereka di penghujung kompetisi 2012-13.

Di pekan keempat, semua pandangan mata tertuju pada tiap rekrutan baru yang klub mereka gaet di tenggat bursa transfer. Maka tak heran, pandangan mata Gooner (juga non-Gooner) tertuju pada Mesut Ozil; si raja assist berwajah sendu.

Tak butuh waktu lama bagi Ozil untuk menjulangkan namanya di belantara EPL. 11 menit.

Bola yang terlepas tepat di depat kotak 16 yard bergulir ke arah Kieran Gibbs. Gibbs — yang musim ini terlihatt makin berwibawa — melihat pergerakan dua pemain serang Arsenal yang siap meluncur untuk menerima bola lambung. Giroud dan Ozil. Posisi Giroud terlalu riskan sementara si raja assist berwajah sendu telah dengan cerdik membelakangi bek sayap Sunderland.

Gol terjadi begitu indah. Gol yang mengingatkan saya dengan cara Invincibles menghancurkan lawan-lawannya dulu. Bola lambung dari Ljungberg dikontrol Bergkamp sambil sedikit meloncat (juluran kaki ikoniknya itu!), dan dengan sekali lirik, sekali kontrol, the non-flying Dutchman mengirimkan bola ke kotak 6 yard untuk Pires yang sudah berlari kencang. Kiss! Kiss! Bang! Bang!

Ketiga pemain (Gibbs, Ozil dan Giroud), berkontribusi maksimal atas terciptanya gol ini. Betapa pemandangan yang menyejukkan saat melihat semua pemain merayakan gol tersebut.

Sepakbola eksotis telah kembali. Sepakbola elegan ala Arsenal telah dirasa siap kembali beraksi. Gaya sepakbola yang dulu diciptakan Arsene Wenger.

Poin utama dari lemahnya daya serang Sunderland adalah hilangnya sosok Stéphane Sessègnon yang dilepas di Canio ke West Brom. Untuk tim yang (dulu) mengandalkan permainan sayap dan bola-bola lambung, Sessègnon adalah wujud komplit yang musim lalu berkali-kali menyulitkan sisi kanan pertahanan Arsenal. Posturnya menjulang dan kekar, juga piawai dalam menggiring bola menyusuri sayap. Plus, ia bisa diandalkan dalam duel-duel udara.

Paulo di Canio sendiri berujar, ia melepas Sessègnon karena yang bersangkutan memang sudah tak mempunyai hasrat untuk membela tim yang berdomisili di kawasan Wearside ini.

Selanjutnya kita kembali disuguhi sentuhan-sentuhan magis Ozil — si raja assist berwajah sendu — dalam mengontrol permainan. Ia bermain tanpa Mertesacker dan Podolski, dua sosok yang mempu memberinya arahan dengan bahasa ibu, tapi baginya itu bukanlah suatu perkara. Ada dua sodoran bola yang ia berikan untuk Walcott. Namun sayang, ditambah satu umpan silang dari Wilshere, tiga peluang emas tersebut tidak mampu dioptimalkan Walcott.

Ozil bermain lebih rileks. Ia tak diplot Wenger untuk menjemput bola ke 2/3 lapangan. Hal itu menjadi urusan Ramsey dan Wilshere — yang dipertandingan ini ditempatkan di sayap kiri. Dan kegelimangan Ramsey berlanjut dengan torehan enam tekel sukses di babak pertama. Ia menjadi pemain yang ‘membenahi’ alur bola Arsenal jika tercerai-berai. Zidanesque roulette-nya lagi-lagi keluar. Ia sukses ‘menyederhanakan’ tugas Ozil; dimana operan antara Ozil dan Ramsey menjadi kombinasi terbanyak di pertandingan ini.

Sementara bayangan akan meredupnya sinar Wilshere, bisa saya vonis sirna sudah. Wilshere bermain aduhai sebagai gelandang box-to-box sekaligus, dengan kecenderungannya melewati pemain lawan, membuat perhatian pemain Sunderland terpecah. Hingga kini ia belum menyuplai assist ataupun gol, tapi gaya bermainnya tersebut menyumbang warna positif: Arsenal jadi sering dilanggar di daerah-daerah berbahaya. Pula kemampuannya melepas second assist, atau dalam bahasa sederhananya, assist yang tercipta sebelum assist terakhir.

Menilik data dari StatsZone, di babak pertama dominasi Arsenal terlihat kentara. Arsenal berhasil melakukan 292 operan sukses, dimana 83 dari catatan tersebut terjadi di sepertiga akhir lapangan Sunderland. 69.5% possession dan 6 tembakan (50% ke arah gawang).

Babak kedua berjalan, di Canio mengganti David Vaughan yang seperti tertidur dengan Craig Gardner. Belum lima menit, Adam Johnson (salah satu pemain overrated ‘too much too soon’ Manchester City) menyeruak masuk kotak penalti Arsenal dan Koscielny melakukan tekel tak perlu. Gardner pun sukses mengonversinya untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Koscielny loves a late tackle, dan dia memiliki reputasi sebagai penyapu terakhir pertahanan Arsenal. Namun, seperti kita sama-sama ketahui, kerap kali sapuan kakinya berbuah pelanggaran. Saya pikir ini juga merupakan imbas dari absennya Mertesacker, dan meski berduet dengan rekan satu negara (Bacary Sagna), tentu berbeda.

Dari apa yang nampak seperti milik Arsenal, justru Sunderland yang kini mendominasi. Masuknya Gardner terbukti memberi daya gedor berlebih dengan tembakan-tembakan jarak jauhnya. Catatan statistik memerlihatkan rasa frustasi Sunderland dengan torehan 5 tembakan on target dari luar kotak penalti yang mereka bukukan. Sementara Arsenal, dari 10 tembakan yang tercipta di babak kedua, hanya dua yang berasal dari luar kotak 16 yard. Tiga gol pun terjadi di dalam.

Disini-lah Ramsey kembali unjuk gigi. Jenkinson yang terlihat gugup (musim lalu ia diusir wasit kala melawan tim yang sama) mengirim crossing ke kotak penalti. Mengulang apa yang ia lakukan saat menjebol gawang United 3 musim silam, Ramsey mengangkat kedua tangan untuk memberi isyarat bahwa ia bebas kawalan, dan… blam! Bola cantik dari Jenks pun disambar Ramsey. Satu-satunya hal yang saya benci dari Ramsey di gol ini adalah selebrasinya yang ala kadarnya.

Sempat terjadi beberapa insiden yang membuat suporter tuan rumah menyoraki wasit Martin Atkinson. Salah satu yang paling krusial adalah saat ia tak memberi (saya tak paham padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya) advantage atas gol Jozy Altidore. Jika pemain tim A dilanggar sebelum mencetak gol, tapi ia mengindahkan peluit wasit, maka pemain tim A diberi kelleluasaan untuk meneruskan permainan. Jika terjadi gol, seperti di laga ini, maka pelanggaran gugur. Menang dengan sedikit bantuan wasit. Benar-benar Arsenal yang berbeda.

Di gol ketiga Arsenal (kedua dari Ramsey), kita bisa melihat bahwa keputusan Wenger untuk lama memainkannya di sisi sayap membuahkan hasil aduhai. Jika anda masih ingat, di pertandingan ini Giroud tidak hanya memberi one-touch pass untuk Ramsey seorang, tapi juga kepada Walcott (bahkan hingga 3 kali). Ramsey, yang masuk dari lini kedua, berhasil melihat ruang longgar pertahanan Sunderland. Kini dengan kepercayaan diri berlipat ia dengan tenang menaklukkan Keiren Westwood.

Tiga poin yang cukup mengantar Arsenal memuncaki klasemen liga primer. Pihak ofisial menganugrahi gelar man of the match pada Giroud, yang saya pikir bermain tak kalah beringas mengingat ia kembali memenangi duel udara terbanyak (6).

Marseille 1 – 2 Arsenal

Saya telat bangun. Ditambah terbirit-birit mencari link streaming, saya baru bisa menyimak pertandingan di babak kedua.

Dari komentar-komentar di Twitter saya sedikit paham bahwa Arsenal tidak mendominasi pertandingan tandang kedua dalam seminggu ini. Berada di grup neraka bersama Dortmund dan Napoli, tiap tim akan mengoptimalkan laga tandang agar memudahkan posisi mereka di klasemen. Kebobolan satu gol akan sangat menentukan dalam hitung-hitungan penempatan posisi di klasemen.

Saya mendapati sebuah respon dari twit di atas yang berbunyi kurang lebih, ‘gapapa yang penting menang dulu’. Saya tidak setuju karena fase grup yang hanya memertemukan tiap tim masing-masing dua kali, catatan menjebol gawang dan kebobolan akan sangat penting demi lolos ke fase berikutnya. Ditambah obsesi saya terhadap pertahanan (jebakan offside, rekor cleansheet, etc), gol Marseille itu berarti musibah.

Marseille memiliki playmaker timnas Valbuena dan  Jordan Ayew — yang di pertandingan ini kerap menggiring bola menerobos dua lapis pertahanan Arsenal. Sesaat setelah mendapat koneksi streaming mumpuni, pertahanan komedi Arsenal hampir membunuh jalannya laga ketika Mertesacker melakukan kesalahan dalam mengantisipasi umpan silang. Bola yang ia sapu justru terlontar ke arah gawang Szczesny, terlihat 98% masuk ke dalam, Gibbs pun dengan cepat menghalau bola tersebut dengan kepala lonjongnya (ada yang turut memerhatikan bahwa kelonjongan tempurung Gibbs berada di level tak wajar?).

Lucunya, bek tim tuan rumah pun tak mau ketinggalan untuk mengikuti aksi Mertesacker. Bedanya, bola umpan silang Gibbs yang seharusnya ia halau dengan  kaki tapi malah dihalau dengan kepala tersebut mengarah pada Walcott yang berdiri bebas. Momen yang Walcott tuturkan bagai berlangsung puluhan tahun tersebut tak ia sia-siakan. Sepakan kerasnya menghujam arah bola ke sisi kanan atas gawang Mandanda (yang sebetulnya bermain cukup tangguh).

Gibbs kembali menunjukkan kegemilangan dengan assist yang dia berikan pada Ramsey (meski saya tak yakin hal tersebut dihitung assist). Gibbs semakin solid dan menunjukkan determinasi di tiap pertandingan. Perlu di ingat, di musim yang baru berjalan kurang lebih sebulan ini ia telah menyumbang assist dan gol — sesuatu yang tak bisa ia lakukan musim lalu. Ditambah, tugas Gibbs lebih berat ketimbang Sagna/Jenkinson mengingat semua pemain (kecuali Podolski) yang Wenger tempatkan di sisi kiri tak bermain seperti Walcott. Baik Wilshere hingga Cazorla cenderung beroperasi ke tengah. seperti yang terpampang di visualisasi di bawah:

— via @Orbinho

Akan sangat berbahaya jika moda permainan seperti ini terus berlanjut:

  1. Podolski — partner terbaik Gibbs yang mengerti kapan harus turun — harus absen hingga Desember,
  2. Gibbs tidak bisa terus-terusan sanggup menghadapi gempuran lawan dan membantu penyerangan sendirian. Menjadi jelas kenapa Wenger memasukkan Monreal untuk menggantikan pemain selain Gibbs: demi membantu Gibbs agar tak kedodoran.

Tren positif ini, enam kemenangan beruntun di segala ajang dengan skuat pas-pasan, akan menghadapi tantangan berikutnya: menghadapi sekumpulan orang-orang Neanderthal di kandang. Setelah performa menakjubkan di kandang lawan, anak-anak Arsenal harus membuat Ashburton Grove disegani.

Ditambah lagi, Arsenal mulai memasuki periode sibuk. Dari pertandingan melawan Stoke besok, Arsenal hanya punya waktu jeda dua hari saat  meladeni West Brom/25 September (Capital One Cup), Swansea/28 dan Napoli/1 Oktober.

Kombinasi pemain baru lintas-negara yang kita punya — Spanyol dan Jerman — ternyata tak membuat pemain-pemain akar Inggris bentukan Wenger tertutupi sirnanya. Seperti yang dicatat jurnalis internal klub Josh James, 13 dari 15 gol yang Arsenal cipatkan musim ini disumbang (assist/gol) oleh pemain-pemain British core.

Jika kau terus-terusan marah dan melayangkan kritik kepada klub di periode transfer pemain, sudah waktunya kini untuk mengangkat topi bagi para pemain dan terutama pelatih. Seperti tajuk utama blog sejarawan Arsenal Tony Attwood,

Supporting the club, the players and the manager

Selamat berakhir pekan. Jumpa esok hari.

KUPAS TUNTAS: Arsenal Global Scouting System dan Mereka yang Tak Pernah Tidur (bagian II)

Oleh: Isril Hamdani

(bagian terakhir dari dua tulisan)

George Puscas

Berbeda dengan Bobby Bennet, pemandu bakat yang sudah lebih dari 10 tahun berada di Arsenal ini berhasil membujuk Nicklas Bendtner di tahun 2004 untuk pindah ke Arsenal dengan membawakan jersey Arsenal yang ditandatangani pemain idolanya, Robert Pires. Sementara itu di klub lain Manchester United berhasil mengontrak striker AS Roma David Petrucci setelah ulang tahunnya ke 16 dengan bayaran 95 ribu poundsterling per tahun dan ayahnya ditawari pekerjaan sebagai groundsman di lapangan latihan klub. Sebenarnya ini adalah tugas seorang manajer meyakinkan pemain dan keluarganya untuk pindah, tapi seorang pemandu bakat berkelas juga harus memiliki atribut ini.

Untuk apa manajer turun tangan jika pemandu bakatnya pun mampu meyakinkan sang pemain untuk pindah?

Lalu bagaimana cara kerja mereka?

Hal pertama yang dilakukan pemandu bakat di Arsenal adalah mengidentifikasi bakat bakat pemain yang ada. Identifikasi itu mencakup bakat alami sang pemain, kehidupan pribadi dan keluarganya. Sebagai contoh saat Francis Cagigao menemukan Iqnasi Miguel. Sebelum merokemendasikannya ia terlebih dahulu harus mengidentifikasi pemain tersebut. Hasil identifikasi dari Cagigao akan dikirimkan ke chief scout Steve Rowley dan dinilai apakah layak atau tidak.

Proses kedua adalah pantauan ulang berkali kali. Selesai diidentifikasi, dilaporkan dan dinilai bagus, maka akan dipantau lagi sebanyak 2 kali lagi atau lebih. Iqnasi Miquel yang merupakan hasil rekomendasi Cagigao akan dinilai oleh Rowley. Hasilnya ditinjau dari permainannya lebih mendalam lagi. Jika hasil pantauan dalam 2 pertandingan itu kurang baik, maka akan ditinjau lagi lebih mendalam dalam waktu yang lebih lama. Tetapi jika hasil dari pemantauan beberapa pertandingan itu positif, maka Rowley akan mengutus pemandu bakat lain selain si perekomendasi. Jika pendapat dari si pemandu bakat kedua ini ternyata tetap positif seperti si perekomendasi bakat, maka Rowley yang akan turun langsung.

Disini tugas Rowley akan benar benar diuji, ia yang akan langsung turun ke lapangan untuk mengumpulkan data-data pemain beserta video permainannya. Hasil pantauan Rowley beserta pemandu bakatnya yang berisi data-data dan video pemain itu jika dinilai layak akan dilaporkan kepada Arsene Wenger.

Hasil laporan dari Steve Rowley yang diterima Wenger akan di-review lagi oleh si profesor. Jika layak, Wenger akan mengontak klub asal pemain tersebut untuk mencari infonya. Setelah itu, Wenger akan mengontak koleganya di klub si pemain incaran bermain untuk mencari segala informasi tentang pemain itu. Dan apabila hasilnya benar benar layak, maka Wenger akan melakukan pengamatan secara langsung lagi dan jika berminat maka ia akan mengajukan kontrak ke pemain.

They who never sleep

Jika pemandu bakat menemukan pemain muda potensial dari klub klub yang ada di Brazil atau Argentina, katakanlah klub itu Santos, Corinthians, Fluminese, Boca Juniors, River Plate, Newell’s Old Boys, menurut saya itu biasa — karena reputasi klub klub tersebut cukup besar, namanya juga cukup familiar dan negara tersebut memang dikenal sebagai penghasil wonderkid.

Namun jika seorang pemandu bakat menemukan pemain muda dari klub antah berantah dan berada di lowest league, itu baru luar biasa.

Sebut saja Nicklas Bendtner sebelum tiba di Arsenal dia bermain di Kjobenhavns Boldklub, Ignasi Miquel dari Esportivo Cornella, Fredrik Ljungberg di Halmstads BK, Sebastian Larsson di IFK Esklistuna, Havard Nordveit di Haugesund, Johan Djourou di Etoile Carouge, Joel Campbell di Deportivo Saprissa, Philippe Senderos dari Servette, atau yang sedikit aneh Ryo Miyaichi, sebelum di trial oleh Arsenal dia ditemukan saat turnamen antar sekolah di Jepang, Ryo mewakili sekolahnya Chukyodai Chuyko High School. D iluar sekolah Ryo juga bermain di sebuah klub bernama Sylphid FC.

Nama-nama klub di atas mungkin asing di telinga kita, tapi begitulah para pemandu bakat di Arsenal: bekerja sampai ke kasta terendah hanya untuk menemukan pemain muda potensial, mereka menjangkau suatu tempat yang memang sulit dijangkau oleh pemandu bakat lain. Dan perlu diingat bahwa pemandu bakat yang baik dapat membantu menghemat jutaan pound dan semakin rendah level yang dicermati, semakin sulit pekerjaan ini dilakukan. Para pemandu bakat di Arsenal telah melewati tahap ini.

Namun ada satu hal yang mengganjal pikiran saya yakni gaji yang mereka terima. Saya kaget bahwa rata rata gaji mereka hanya berkisar 1000-1500 pounds per pekan — kecuali Steve Rowley mendapat 5000 pounds per pekannya. Bahkan Everton Gushiken hanya bergaji 900 pounds. Kita tahu Arsenal adalah klub yang ketat dalam hal pengeluaran apalagi untuk urusan gaji, namun dengan gaji segitu saya pikir kurang sebanding dengan apa yang mereka beri selama ini. Mereka memang diberikan fasilitas eksklusif, tapi mereka ini adalah super scout, saya tidak yakin apakah ada klub diluar sana yang memiliki para pemandu bakat sebaik Arsenal.

Saya tidak mau menebak apakah mereka memiliki tunjangan atau bonus dari pekerjaannya, tapi jika saya penguasa di Arsenal, maka saya akan memberikan mereka gaji setara Oxlade Chamberlain ataupun Aaron Ramsey. Kenapa? Karena saya tidak ingin lagi kehilangan orang orang terbaik. Kita sudah pernah kehilangan Sandro Orlandelli, salah satu scout terbaik Arsenal yang bulan April lalu menerima pinangan Santos dan menjabat sebagai direktur sepakbola. Sandro adalah orang yang menemukan Pedro Botelho, Carlos Vela, Denilson dan Wellington Silva. Dan jauh sebelum itu kita juga pernah kehilangan Paul Burgess, groundsman terbaik di dunia, dan tentunya terakhir kehilangan pemain pemain terbaik.

Arsenal harus bisa melindungi para super scout ini. Mereka adalah penganut setia filosofi Wenger dan salah satu bagian yang vital yang menjaga keberlangsungan hidup Arsenal. Mereka adalah pemandu bakat kelas dunia: bekerja keras siang malam menemukan permata permata yang terpendam, dan saat mereka sudah menemukannya, mereka dengan sekuat tenaga tidak akan melepasnya. They never sleep at this job! They’re super scouts.

Steve Morrow (International Partnership Performance Supervisor)

Morrow, kiri, bersama George Graham. Karir Morrow terhenti setelah mengalami cedera aneh: terjatuh saat dipanggul Tony Adams ketika tim merayakan keberhasilan memenangi Piala Liga

Secara resmi pria asal Irlandia Utara ini bukanlah seorang pemandu bakat, tapi karena pekerjaannya yang lebih banyak dihabiskan diluar negeri membuat pria yang mirip dengan Steve Jobs ini secara tidak langsung menjadi scout tambahan buat Arsenal.

Steve dikenal sebagai mantan pemain Arsenal yang memenangi titel Piala Liga tahun 1993 dan mencetak gol kemenangan pada laga tersebut serta meraih UEFA Cup Winner pada tahun 1994. Selama 10 musim di Arsenal Steve mengantongi 85 penampilan dan mencetak 3 gol.

Pasca keluar dari Arsenal Steve bermain di Queen Park Rangers dan FC Dallas. Dia pensiun pada tahun 2003 diusia 34 tahun lalu tahun 2006 Steve menjadi manajer FC Dallas dan hanya bertahan selama dua musim.

Tahun 2008 Steve kembali ke Arsenal dan bekerja sebagai pengawas kinerja beberapa klub di luar Eropa yang menjadikan Arsenal sebagai mitra internasional mereka seperti Colorado Rapids dari US, BEC Tero dari Thailand, dan Hoang Anh Gia Lai di Vietnam. Diluar itu Steve juga bekerja di akademi Arsenal yang ada di Mesir dan Ghana.

Everton Gushiken dan Pablo Budner (Amerika Selatan)

Dua orang ini seperti hantu, tidak terlihat dan berita tentang mereka sangat sedikit, bahkan saya tidak pernah menemukan fotonya. Everton dan Pablo berada di Arsenal sejak tahun 2007, dan mereka berdua adalah scout tersisa, karena sebelumnya Sandro Orlandelli sudah keluar dari Arsenal. Khusus untuk Everton Gushiken, dia adalah orang yang merekomendasikan Giuliano De Paula, gelandang serang dari klub Internacional, tapi sayang pemain ini lebih dulu digaet FC Dnipro dengan banderol 11 juta Euro. Selain itu dia juga merekomendasikan Bernard, winger Atletico Mineiro kepada Arsenal. Saya tidak tahu apakah Arsenal memberikan tawaran resmi atau tidak kepada pemain ini, tapi yang jelas sekarang Bernard sudah berlabuh di Shakhtar Donetsk dengan transfer 25 juta Euro, dan itulah sebabnya kenapa saya memasang foto Bernard.

Tantangan: saya akan memberikan Anda secangkir kopi hitam jika Anda menemukan foto Everton dan Pablo!

Peter Clark (Belanda)

Sama seperti Everton dan Pablo orang ini juga seperti hantu, saya tidak menemukan satupun fotonya. Sejauh ini belum diketahui siapa saja pemain yang pernah direkrut Arsenal dari hasil temuannya. Tapi pada tahun 2008 lalu mantan pemain Arsenal ini merekemondasikan Eljero Elia kepada Wenger dan di musim ini Peter masih terus mengamati perkembangan dari dua pemain PSV, Georginio Wijnaldum dan Zakaria Bakkali (foto). Semoga saja Wenger merekrut dua pemain itu.

Tony Banfield (Italia, Kroasia dan Slovenia)

Maafkan saya jika kualitas fotonya buram, saya lelah mencari foto orang ini dan hanya satu ini yang saya temukan. Tony merupakan anak dari pelatih tim utama Arsenal Neil Banfield. Penemuan terbesarnya sejauh ini adalah Johan Djourou dimana ada sedikit cerita unik didalamnya. Awal mulanya ketika Tony menghadiri turnamen remaja di Kroasia, saat itu dia duduk berdekatan dengan para pemandu bakat dari klub lain. Entah disengaja atau tidak, Tony mendengar obrolan dari dua orang pemandu bakat yang menceritakan seorang anak kecil berusia 15 tahun dari klub Etoile Carouage bernama Johan Djourou. Tanpa berpikir lama saat itu Tony langsung menghubungi Steve Rowley untuk memantau pemain ini secara intensif dan hasilnya Arsenal lebih dulu merekrutnya.

Danny Karbassiyoon (Amerika Utara)

Jika kebanyakan pemandu bakat susah untuk ditemukan berita dan profilnya, orang ini malah sebaliknya. Danny Karbassyion mudah ditemui di jejaring sosial Twitter, dia cukup aktif menggunakannya. (Catatan editor: selain menjadi pencari bakat untuk Arsenal, Danny — bersama seorang rekan — juga seorang pendiri website sepakbola Soccer Without Limits).

Pria asal Amerika Serikat yang memiliki darah Italia dan Iran ini sebelumnya adalah mantan pemain Arsenal, dia berposisi sebagai bek kiri dan selama berkarir sejak tahun 2003 sampai 2005 dia hanya mengemas 3 penampilan dan mencetak satu gol saat debutnya melawan Manchester City pada Oktober 2004 di ajang Piala Liga lewat assist Frances Fabregas.

Setelah dilepas Arsenal tahun 2005 Danny bermain untuk Burnley selama dua musim dan hanya memperoleh 5 penampilan akibat cedera serius yang dialaminya. Dia tidak mendapat tempat dan Agustus 2006 Burnley melepasnya secara gratis.

Tahun 2007 Danny menerima tawaran trial untuk AZ Alkmaar namun gagal karena problem pada lututnya tak kunjung sembuh dan AZ Alkmaar enggan mengambil resiko. Dan Februari 2007 Danny memutuskan pensiun dari sepakbola dimana saat itu dia masih berusia 22 tahun.

Saat memutuskan pensiun Danny mengatakan bahwa dia ingin keluar dari sepakbola dan fokus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun pada April 2007 Steve Rowley menawarkannya pekerjaan sebagai pemandu bakat dan ditugaskan di wilayah Amerika Utara, sebuah pekerjaan yang sulit ditolak oleh pria penggemar berat tim AC Milan ini.

Dan sekarang Danny berstatus sebagai pemandu bakat termuda di Arsenal, saat ini dia berusia 29 tahun, karirnya masih panjang, dan sejauh ini kita baru mengetahui 2 pemain yang ditemukannya, orang itu adalah Joel Campbell dan Gedion Zelalem.

Juergen Kost (Jerman, Rep Ceko dan Austria)

Alih alih sebagai pemandu bakat, orang ini malah lebih cocok dilihat sebagai petinju kelas berat WBC dan bertarung melawan Vitaly Klitschko. Sama seperti Pablo dan Everton, tidak banyak yang diketahui dari orang ini selain pemain yang ditemukannya yaitu Philipe Senderos, Kyle Ebicilio, Lukasz Fabianski dan Wojciech Szczesny. Diluar pekerjaannya sebagai pemandu bakat Juergen mengajar di International Soccer Bank untuk memberikan pelatihan kepada siswa yang ingin menjadi seorang pemandu bakat profesional.

Bobby Bennet (Balkan: Serbia, Bosnia, Bulgaria, Makedonia dan Yunani)

Orang ini berada di Arsenal sejak tahun 2001 dan sekarang bertugas di semenanjung Balkan berkat rekomendasi dari Boro Primorac, orang terdekat Wenger. Namun sebelum itu ia bekerja untuk wilayah Skandinavia yang mencakup Denmark, Swedia serta Norwegia selama 7 tahun dan menemukan Nicklas Bendtner, Havard Nordtveit dan Sebastian Larsson.

Sejauh ini Arsenal memang belum merekrut pemain dari Balkan selama Bobby bertugas disana. Tapi pada September 2011 Bobby telah menemukan Mateo Kovacic yang dulunya bermain di Dinamo Zagreb, Steve Rowley juga turun langsung untuk memantaunya, dan pemain ini sudah masuk dalam radar Wenger, namun entah dengan alasan apa akhirnya Arsenal tidak jadi merekrutnya dan Mateo Kovacic pun mendarat di Inter Milan.

Mari kita tunggu penemuan terbaru dari Bobby Bennet. Saya berharap dia menemukan The New Edin Dzeko…

Gilles Grimandi (Prancis, Israel, Swiss dan Afrika)

Hanya ada satu manusia yang lebih tau tentang pemain asal Prancis selain Wenger di Arsenal, orang itu adalah Gilles Grimandi. Saya tak mau bercerita panjang lebar tentang mantan pemain Arsenal ini, karena CV nya luar biasa. Secara keseluruhan dia telah menemukan dan merekomendasikan Bacary Sagna, Gael Clichy, Abou Diaby, Gilles Sunu, Alex Song, Samir Nasri, Mathieu Flamini, Oliver Giroud, Yaya Sanogo dan Laurent Koscielny. Diluar itu Gilles juga mengusulkan Clement Granier, Mapou Yanga Mbiwa, Mamadou Sakho dan Remy Cabella kepada Wenger.

Gilles came to watch me at Auxerre and he invited me to a hotel in Paris. Arsene Wenger was there to welcome me in person. I was very impressed that he had come all that way specially. He told me I would get my chance at Arsenal. He said he’d been following me for years. The journey he’d made convinced me to join Arsenal. – Yaya Sanogo

Dan kelak jika Steve Rowley pensiun, mungkin hanya ada dua orang yang layak untuk menggantikannya, orang itu adalah Francis Cagigao dan Gilles Grimandi.

Francis Cagigao (Spanyol dan Portugal)

“You have to see this kid, he is special.” Itulah kalimat pertama yang diucapkan Francis Cagigao saat menelepon Steve Rowley saat pertama kali melihat Frances Fabregas tahun 2002 silam dimana waktu itu Fabregas yang berusia 15 tahun bertanding di partai derby Catalan melawan Espanyol. Cagigao mendesak Steve untuk terbang dari London untuk melihat Fabregas, dan saat Steve melihatnya Steve hanya butuh waktu 15 menit untuk membuat keputusan bahwa Arsenal harus merekrutnya.

Kisah diatas mungkin sebuah penemuan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arsenal, khususnya Cagigao terlebih lagi tahun 2002 itu adalah tahun pertama Cagigao memulai karir sebagai scout di Arsenal.

Tapi sebelum berkarir sebagai scout Cagigao, ya Cagigao (kadang sedikit sulit mengeja namanya : Cakigao) juga sempat berkarir sebagai pemain di Arsenal, tepatnya pada tahun 1984 (usia 16 tahun) sampai 1988, selanjutnya dia membela Barcelona B pada tahun 1989, dan hanya bertahan satu tahun. Setelah itu karirnya menurun, dan hanya dihabiskan di liga liga Cacing, bermain di klub Ferrol, Yeclano dan Lemos. Sepanjang karirnya dia hanya bermain 36 kali dan pensiun tahun 1998.

We’ve always seen that you don’t have to be the biggest, strongest or quickest to be a great footballer, and once he matures a little bit more in his game he’ll develop very well. – Francis Cagigao

Walaupun sebagai pesepakbola karirnya tidak sesuai harapan, namun dalam urusan menemukan pemain, Cagigao termasuk salah satu yang terbaik dan aset berharga yang dimiliki Arsenal. Selain Fabregas, Cagigao juga yang menemukan Ignasi Miquel, Jan Toral, Hector Bellerin dan Fran Merida. Media di Spanyol menjulukinya “Arsenal Man In Spain” dan sekarang Cagigao menjabat sebagai asisten Steve Rowley.

Steve Rowley (Chief Scout/Kepala Pencari bakat)

Rowley, berbincang bersama Wenger

Rowley, berbincang bersama Wenger

Seorang Legenda! Jika Anda berbicara tentang Steve Rowley maka Anda harus berbicara di level lain. Steve tidak bisa dibandingkan dengan pemandu bakat lain yang ada di Arsenal, orang ini berada di level yang sama dengan Pierluigi Casiraghi (Inter Milan), Nito (Real Madrid), Noerbert Ziegler (Bayer Leverkusen) dan Piet De Visser (Chelsea).

Steve adalah kepala pemandu bakat dan orang yang paling bertanggung jawab dalam Arsenal Global Scouting System. Dia adalah sesepuh, sudah 33 tahun berada di Arsenal jauh sebelum Wenger tiba di Highbury dan Steve adalah orang yang menemukan Tony Adams dan Ray Parlour.

Steve juga orang yang loyal, tahun 2011 kemarin dia menolak tawaran Chelsea untuk menjabat sebagai direktur olahraga menggantikan Frank Arnesen yang hijrah ke Hamburg dan menolak tawaran Zenit St Petersburg dengan gaji yang cukup besar. Arsenal tidak boleh melepas orang ini, Wenger harus mengikatnya dengan kuat.

Kesimpulan

Ian Carrington mengatakan sistem jaringan pemandu bakat layaknya seperti sebuah investasi, tidak ada jaminan bahwa pemain yang mereka jaring akan menjadi pemain bintang. Namun dengan memperbesar jaringan pemantauan mereka, masing masing klub berharap rasio sukses mereka pun akan semakin baik. Apalagi mengingat bahwa jika mereka tidak melakukan scouting, kompetitor mereka pasti melakukannya.

Dan saya membayangkan jika Wenger tidak pernah melatih Arsenal mungkin Arsenal tidak akan memiliki Global Scouting System, kalaupun Arsenal memilikinya mungkin kita hanyalah plagiat dari sebuah model yang diterapkan oleh klub lain bukanlah sebagai penggagas.

Steve Rowley pernah berujar bahwa sebelum Wenger tiba di Arsenal ia tidak pernah bepergian ke luar negeri untuk memantau seorang pemain. Sekarang semua berubah, setiap pemandu Arsenal bakat memiliki wilayah teritorial masing masing di seluruh pelosok dunia, tidak ada area yang tidak terjamah, hampir semua pemain akan terdeteksi oleh Arsenal.

We are able to attract the most promising prospects, because we have a calling card stamped ‘Arsene Wenger’. They know they will get the chance to play. It is one of our principal arguments. And of course, the great money paid to youngsters at Arsenal helps. – Gilles Grimandi

Apa yang dikatakan Gilles adalah realita. Arsene Wenger adalah kunci kenapa pemain muda mau bermain untuk Arsenal. Mereka sadar mereka akan mendapat kesempatan bermain lebih banyak dibanding bermain di klub besar lainnya. Faktor besar lainnya adalah fasilitas, semua orang sudah mengakui fasilitas latihan Arsenal mungkin yang terbaik di Inggris. Selebihnya adalah uang sebagai alat pelicin, dalam hal ini mungkin Arsenal masih kalah dibanding klub lain, kita sudah pernah mengalami hal ini dalam kasus Cristiano Ronaldo, Edin Dzeko, dan Didier Drogba. Kita lebih dulu disalip oleh tim lain hanya karena mereka menggelontorkan uang lebih banyak. But don’t worry itu hanyalah hal kecil di masa lalu, saya yakin Wenger sudah belajar banyak dari hal-hal seperti itu . Bukankah baru baru ini kita baru saja mendatangkan nomor 10 terbaik di dunia?

Seperti yang dikatakan Benhan bahwa Arsenal adalah klub inovasi dari era Herbert Chapman sampai Arsene Wenger, dan kini Wenger sudah membuktikan itu, ia telah memetik hasil dari sistem yang telah digagas dan dirancangnya, dan sekarang banyak klub yang berlomba lomba meniru model ini, tapi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada klub lain, hanya sedikit klub yang mampu menyamai jaringan pemandu bakat Arsenal yang sudah mengglobal. Saya bangga mengatakan bahwa Arsenal adalah pemain terdepan dalam industri ini.

Victoria Concordia Crescit!

Catatan penulis: Terima kasih kepada majalah Four Four Two edisi Agustus 2010 yang mengupas “Rahasia Kehidupan Pemandu Bakat” dan sebuah akun di Facebook yang bernama Arsenalku serta artikel Ian Carrington di salah satu situs lokal Indonesia. Beberapa kutipan saya ambil dari artikel tersebut. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Catatan editor: untuk mengetahui bagaimana kerja seorang pencari bakat, tonton film “Trouble with the Curves” yang dibintangi Clint Eastwood, Amy Adams serta Justin Timberlake. Meski lahan yang mereka garap adalah baseball, tapi saya rasa bisa sedikit memberikan gambaran tentang bagaimana mereka bekerja, intrik antar sesama scout, hingga gesekan dengan bos di klub.

KUPAS TUNTAS: Arsenal Global Scouting System dan Mereka yang Tak Pernah Tidur (bagian I)


Oleh: Isril Hamdani

Beberapa tahun lalu sebuah tim dari Bangladesh datang untuk memainkan beberapa pertandingan di Inggris. Mereka tim low profile yang bermain untuk menggalang dana bagi komunitas lokal. Entah mengapa saya tertarik untuk menonton. Saya sangat terkesan dengan kiper tim tersebut dan saya mengatakannya kepada Arsene Wenger. Saya tak percaya ternyata Arsene Wenger sudah mengenal pemain itu. Ia dari Bangladesh! Saya jadi yakin tidak ada satupun pemain di planet ini yang tidak diketahui Arsenal. – Philippe Auclair (Koresponden L’Equipe di London)

Pernyataan diatas bukanlah sebuah pernyataan basa-basi dari seorang Philippe Auclair, sejak Arsene Wenger tiba di Highbury ia melakukan terobosan baru dalam sistem jaringan pemandu bakat di Arsenal yang dinamakan Global Scouting System. Wenger membuat sebuah sistem dengan jangkauan lebih luas, bukan hanya Eropa, tapi sudah mencakup antar benua dan menyentuh area-area yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh siapapun demi mendapatkan permata permata belia.

Apalagi sejak kepindahan ke Ashburton Grove, Arsenal diwajibkan membayar cicilan hutang tiap tahunnya dan Wenger yang kita tau bergelar doktor di bidang ekonomi dipaksa memutar otak untuk hal ini. Seolah tak mau ilmunya semasa kuliah hilang begitu saja dan alih alih mencari pemain via You Tube seperti yang dilakukan oleh banyak tim lain, Wenger malah menghabiskan banyak uang untuk membangun sistem jaringan pemandu bakat kelas dunia.

Seperti yang diungkapkan Francis Cagigao, salah satu scout di Arsenal : “Arsenal mungkin terkesan tidak berbeda dengan Real Madrid, Barcelona atau Valencia, namun kami jauh lebih agresif dibanding mereka. Scout Arsenal adalah bagian penting dari klub, dan mereka membuat kami merasa seperti itu. Kami mendapat fasilitas terbaik untuk bepergian mengunjungi semua pertandingan dan turnamen penting di dunia. Saat ini lebih dari 80 orang dipekerjakan di departemen Scouting Arsenal. Hampir tidak ada klub Eropa yang memiliki jaringan sekuat kami.”

Dan hasilnya bisa kita lihat sendiri, Arsenal sering mendapatkan pemain-pemain yang seolah didatangkan dari planet Mars. Mereka datang dengan wajah polos seolah tidak tahu apa-apa, jauh dari rumah, dan, ehm.. harga yang murah. Sering kali situs transfermarkt.co.uk pun tidak tahu berapa harga pemain-pemain itu. Tapi yang pasti mereka memiliki bakat hebat dan determinasi tinggi untuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Tujuannya jelas, Wenger telah berhasil memangkas biaya pengeluaran klub, menghemat jutaan poundsterling dengan menjadikan jaringan pemandu bakat miliknya sebagai salah satu tulang punggung untuk keberlangsungan hidup klub tersebut.

Buat apa kami bekerja keras mengembangkan bakat dan akhirnya membangkucadangkan mereka karena kita membeli seorang mega bintang. Lebih baik saya bilang kepada manajemen untuk menyimpan 100 juta poundsterling atau diinvestasikan di tempat lain saja. – Arsene Wenger

Kredit khusus memang layak diberikan untuk Wenger, tapi sejatinya scout (pemandu bakat) yang dimiliki Wenger juga patut untuk mendapat pengakuan dan penghargaan. Mereka adalah mata dan telinga Wenger diluar sana. Para scout ini memiliki mata elang yang tajam dalam urusan menemukan pemain. Tanpa mereka mustahil Arsenal sekarang ini memiliki pemain-pemain muda potensial yang dulunya berharga murah.

Di artikel ini biarkan saya untuk mengulas sedikit sistem dan cara kerja jaringan pemandu bakat Arsenal, siapa saja mereka dan pemain-pemain mana saja yang pernah mereka temukan. Tidak lupa sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk admin Indocannon yang mengizinkan saya kembali untuk mengisi kolom artikel tamu. Enjoy!

Arsenal Global Scouting System

Saya tidak peduli paspor mereka, saya hanya peduli bakatnya. – Arsene Wenger

Bagi saya kalimat diatas mengandung nilai magis. Inilah cikal bakal Arsenal Global Scouting System, sebuah konsep dasar mengagumkan yang diterapkan dan ditekankan Wenger kepada para scoutnya. Selain diberikan fasilitas ekslusif, mereka diberikan keleluasaan menemukan pemain. Tidak peduli pemain berasal dari mana dan bermain di klub apa, selagi pemain itu memiliki bakat yang hebat dan memenuhi syarat lainnya, maka Wenger akan dengan senang hati merekrut pemain tersebut. Tidak heran skuad Arsenal berisikan pemain multi-nasional.

Namun sebelum Wenger merancang Arsenal Global Scouting System, sebenarnya arus perpindahan pemain khususnya lintas benua telah terbantu peraturan Bosman yang terjadi tahun 1990-an. Aturan Bosman menyebutkan bahwa klub tidak bisa menahan pemainnya untuk hengkang ke klub lain apabila masa kontraknya telah usai dan klub yang menginginkan pemain tersebut bisa merekrutnya tanpa biaya. Ian Carrington, pengamat dan konsultan beberapa klub di Inggris menegaskan sejak ketentuan Bosman diberlakukan klub-klub Eropa berlomba-lomba mencari bakat muda dari segala pelosok benua. Bahkan adanya peraturan FIFA yang menjaga transfer pemain muda dibawah usia 18 tahun pun tidak menjadi halangan bagi mereka yang mencari Romario dan Ronaldo muda.

FIFA memang melarang sebuah klub membeli dan membawa seorang pemain muda di bawah usia 18 tahun dari satu benua ke benua lainnya. Tapi ada solusi dalam mengatasi hal ini, contohnya kasus Carlos Vela mantan pemain Arsenal asal Meksiko, seluruh keluarganya diajak pindah supaya tidak melanggar peraturan perpindahan pemain itu. Bahkan Arsenal mencarikan pekerjaan untuk ayah Carlos Vela sehingga perpindahannya seolah olah karena pekerjaan ayahnya. Ya, FIFA memang tidak berkutik pada akhirnya.

Arsenal Global Scouting System rancangan Wenger juga dimudahkan karena peraturan tenaga kerja di Eropa misalnya Spanyol. Negara tersebut tidak mengizinkan pemain memiliki ikatan kerja (kontrak) dibawah usia 18 tahun, sehingga pemain pemain seperti Fabregas, Fran Merida, Ignasi Miquel, Jan Toral, Hector Bellerin dan yang terbaru Julio Pleguezuelo bebas direkrut oleh Arsenal.

Selain dimudahkan oleh peraturan tersebut, Wenger juga memiliki skema scouting yang fantastis. Philippe Auclair mengatakan bahwa skema Global Scouting System di Arsenal seperti piramida besar. Yang ada di puncak adalah Arsene Wenger. Dibawahnya adalah Chief Scout (Kepala Pemandu Bakat) Steve Rowley, selanjutnya ada sosok-sosok super scouts yang memimpin semua wilayah utama sepakbola seperti Francis Cagigao (Spanyol dan Portugal), Gilles Grimandi (Prancis, Israel, Swiss dan Afrika), Everton Gushiken dan Pablo Budner (Amerika Selatan), Bobby Bennet (Balkan yang mencakup Serbia, Bosnia, Bulgaria, Makedonia dan Yunani), Peter Clark (Belanda), Danny Karbassiyoon (Amerika Utara), Jurgen Kost (Jerman, Austria dan Rep Ceko), Tony Banfield (Italia, Kroasia dan Slovenia) serta Steve Morrow (International Partnership Performance Supervisor).

Di bawah mereka ada lapisan-lapisan pemandu bakat dari setiap negara. Banyak yang bekerja sebagai pemandu bakat lepas untuk berbagai klub. Selain itu juga faktor koneksi Wenger di luar negeri yang selalu ia eksploitasi dengan baik, contohnya teman lama Wenger Jean Michael Guillou, memiliki sebuah akademi di Pantai Gading bernama ASEC Mimosas yang menghasilkan Kolo Toure dan dibeli Arsenal ‘hanya’ 150 ribu poundsterling.

Menurut David Dein, Wenger percaya bahwa masa depan sepakbola berada di benua Amerika dan Afrika, meskipun Wenger tidak pernah mengakui hal ini secara terbuka namun ia memiliki keyakinan bahwa pemain di benua Amerika memiliki teknik yang lebih unggul dan pemain di benua Afrika memiliki fisik jauh lebih kuat dibanding pemain yang ada di benua Eropa. Sementara itu Chief Scout Arsenal Steve Rowley mengatakan bahwa Wenger dengan tegas percaya setiap pemain besar dimulai dari suatu tempat yang tidak jelas.

Wenger telah membawa visi global dan Arsenal telah ‘meng-global’. Oleh karena itu dengan beberapa peraturan yang cukup memudahkan dalam merekrut pemain yang melahirkan konsep ‘tidak peduli dengan paspor, hanya peduli dengan bakat’ serta gairah dan keyakinan Wenger untuk terus menemukan permata yang terpendam plus skema pemandu bakat layaknya The Dream Team membuat Arsenal Global Scouting System miliknya menjadi pemain utama dalam dalam industri ini dimana persaingannya semakin hari semakin kompetitif dan terkadang sedikit menggila.

How They Work?

Bekerja sebagai pemandu bakat bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Mungkin Anda mengira hanya dengan duduk dipinggir lapangan mengamati pemain sambil memegang pena dan secarik kertas lalu Anda bisa mendapatkan pemain tersebut?

Tentu saja tidak!

Pemandu bakat merupakan sebuah pekerjaan yang sangat intensif dalam sepak bola. Berbagai pertandingan mesti diawasi, pemain harus diuji, agen, orang tua, para penghubung mesti dirayu, dan laporan juga harus ditulis. Namun pada dasarnya yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemandu bakat ada 3 hal, yakni: pengetahuan, seni dan kemampuan untuk merayu.

Pengetahuan yang dibutuhkan adalah kemampuan menilai bakat dan potensi pemain. Pemandu bakat harus cepat menyimpulkan bakat seoran pemain tersebut jika menunggu terlalu lama peluang itu akan hilang. Insting sangat vital dalam hal ini.

Selanjutnya adalah seni, seni yang saya maksud disini ialah seni kamuflase, karena menjadi seorang pemandu hampir sama dengan seorang detektif. Pemandu bakat dengan reputasi tinggi dan datang dari klub besar tidak mungkin memperlihatkan wajahnya saat mengamati seorang pemain.

Contohnya Jose Antonio Reyes, Steve Rowley mengatakan saat itu pemandu bakat Arsenal memantau Reyes dengan topi dan kumis palsu selama 2 tahun di setiap latihan dan pertandingan yang Reyes jalani. Begitu juga halnya dengan Thomas Vermaelen sebelum pindah ke Arsenal Steve Rowley turun langsung untuk mengamati pemain ini, memang tidak memakai kumis palsu tapi Steve bersembunyi dibalik pohon pada saat Thomas Vermaelen sedang latihan bersama Ajax.

Menurut saya cara ini efektif, sebab jika pihak klub mengetahui adanya pemandu bakat yang mengamati pemainnya, maka harga pemain tersebut kemungkinan naik 10 kali lipat dari harga awal. Dengan seni kamuflase pemain tidak tau bahwa mereka sedang dipantau, hal ini bagus karena pemandu bakat bisa mengukur kemampuan yang sebenarnya dari seorang pemain. Seni ini juga membuat seorang pemandu bakat tidak diketahui oleh pemandu bakat dari klub lain yang mungkin saat bersamaan juga memantau pemain tersebut, sebab jika bentuk penyamaran ini diketahui bisa jadi pemain yang diincar akan disambar oleh klub lain.

“Kadang mereka seperti komunitas rahasia. Anda bisa datang ke beberapa laga dan mengenali pemandu bakat lain, tapi kadang mereka bisa tampak tidak jelas. Saya rasa itu memang bagian dari pekerjaan: menyimpan kartu Anda dengan rapi.” Kevin Reeves – Chief Scout Swansea City

Berikutnya kemampuan merayu pemain. Biasanya ini cukup sulit, karena pemandu bakat harus meyakinkan pemain dan keluarganya untuk pindah. Contoh selain Carlos Vela adalah George Puscas. Pada Oktober 2012, Arsenal hampir saja sukses merampungkan kepindahan striker asal Rumania berusia 17 tahun itu — yang sebelumnya sudah dipantau oleh Tony Banfield selama 6 bulan. Namun sang pemain berubah pikiran dan akhirnya bergabung dengan tim Primavera Inter Milan dengan alasan ingin melanjutkan studi di kota Milan.

(bersambung)

Mesut Özil: Bergy of Our Time

Prelude – Minggu, 1 September 2013

Pagi itu terasa sama seperti Minggu pagi lainnya. Sedikit hening jika biasanya bising (rumah saya di Jakarta berada tepat di pinggir jalan). Saya bangun begitu dini. Alasan pertama adalah karena sebulan terakhir, saat berada di rumah, saya selalu mengajak adik saya latihan berenang di hari Minggu pukul delapan. Alasan kedua adalah perasaan aneh yang terus-menerus berkecamuk di kepala.

Saya menggigil membayangkan pertandingan yang akan berlangsung malam itu. Saya merokok tak habis habis, meski terasa sepat dan bibir saya seperti kebas. Tidak enak. Tapi saya yakin, suasana hening pagi yang menenangkan adalah pertanda bahwa Arsenal akan baik-baik saja menghadapi Sp*rs. Pun melihat respon yang saya terima dari artikel match preview pertandingan tersebut, kepercayaan diri mengepul lagi.

Saya menyambi sarapan pagi itu dengan merespon komentar-komentar di sini, putar-putar linimasa Twitter dan layar TV. Sesekali menimpali pembicaraan bapak ibu di ruang makan. Pikiran saya tidak berada di sana. Kalah dari Sp*rs akan mengulang apa yang Arsenal lakukan dua musim lalu saat klub melakukan pembelian panik.

Yossi Benayoun, Per Mertesacker dan Mikel Arteta berhasil memberikan kontribusi positif saat itu. Tapi kita tak boleh melupakan nama Andre Santos dan Park Chu Young yang menyertai perekrutan tersebut. Buang-buang uang saja. Menang atas Sp*rs pun tekanan untuk merekrut pemain tetap ada. Klub tidak punya alasan untuk tidak merekrut pemain penting setelah apa yang mereka lakukan selama jeda kompetisi; penawaran demi penawaran kepada beberapa pemain yang terdengar tak serius. Celakanya waktu yang tersisa tinggal kurang dari 48 jam.

Alamak!

Verse – kolam renang umum di sebuah komplek, 08.11

Suasana lumayan ramai karena di kolam renang ini menyediakan jasa pelatihan renang bagi anak-anak. Terlihat beberapa orang tua mengawasi anaknya di dalam dan luar kolam. Sesekali pandangan saya menyapu pada — demi Tuhan saya tidak ingin terdengar cabul — ibu-ibu muda yang lumayan cantik.

“Ayo kita pemanasan dulu,” kata saya pada adik yang berumur 11 tahun. Kesempatan yang saya manfaatkan untuk menyisir pemandangan di sana. ‘Oh, ada seorang gadis cantik rupanya,’ batin saya.

Saya semakin semangat merenggangkan badan.

Alasan saya menyamakan jam berenang kami dengan jadwal kursus di sana adalah saya bisa menyuruh adik saya untuk mencuri dengar instruksi dari para pengajar di sana sementara saya melakukan beberapa kali putaran. Baru ketika napas saya terasa sesak, saya melanjutkan menemani adik melancarkan gaya katak yang telah saya ajarkan. Dia belum bisa mengambangkan tubuhnya di air. Bodoh sekali.

Skemanya begini: memegangi dan meneriaki dia 5-6 putaran – saya berenang sendiri 1-3 putaran sambil melirik perempuan tadi – keluar dari kolam sambil meneriaki adik dan menghisap rokok. Begitu terus sampai kira-kira pukul 11.30.

Saya teringat saya belum menyesap kopi pertama dan saya tidak pernah memercayakan orang lain untuk menyeduh kopi untuk saya (saya curiga di kantin kolam renang hanya menyediakan kopi instan — sesuatu yang saya anggap bukan kopi). Dan hal ini saya anggap sebagai pertanda hari yang tidak berjalan baik.

Tuntas berenang — dimana saya melewatkan kesempatan untuk mengajak perempuan tadi berkenalan — kami pulang ke rumah. Saya menyeduh kopi pagi idaman dan bermaksud untuk tidur setelahnya. Namun manusia hanya mampu berkehendak, paman dari pihak ibi — beserta istri dan keempat anaknya — datang berkunjung ke rumah setelah mereka pergi ke car free day. Masalahnya dua anak si paman ini bandel dan enerjiknya minta ampun. Niat tidur saya gagal, dan kembali, saya berbisik lirih, “ini pertanda.”

Arsenal kalah, Jack Wilshere dan Olivier Giroud cedera, dan Arsene Wenger ternyata tidak memiliki rencana apapun terkait transfer pemain. Panic buying all over again. Wenger Out Brigade pun berkeliaran di internet.

Middle Eight – The derby against the enemy: “one nil and we spent fuck all!”

Menjadi penulis sepakbola, saya sebenarnya tidak terlalu senang saat menulis match review/preview. Perkaranya sederhana, tulisan-tulisan tersebut lekang oleh waktu. Lain halnya jika yang saya tulis adalah artikel mendalam yang fokus pada satu masalah. Artikel-artikel tersebut tak lekang oleh waktu, bisa dibaca kapan saja. Pun dalam menulis artikel sepakbola, saya selalu melakukan riset; dari data statistik hingga komentar-komentar obyek yang saya tulis. Terkadang dengan amunisi menonton rekaman ulang pertandingan-pertandingan terdahulu.

Maka, percayalah, tak ada yang lebih membahagiakan saya selain mengetahui artikel tersebut mendapat tanggapan positif. Positif dalam artian, artikel menjadi ruang publik untuk saling mengemukakan pendapat karena saya bukan ahli taktik sepakbola. Saya bisa salah. Melegakan sekali saat melihat notifikasi WordPress berkedip-kedip tanda adanya komentar terbaru.

Lebih menyenangkan lagi saat melihat permainan Arsenal saat itu yang seperti membaca match preview yang saya tulis.

Di artikel ini, saya menulis,

Sekali lagi, penting bagi Arsenal untuk berhati-hati dalam melakukan pressing. Jangan terlalu agresif. Cukup papatkan saja ruang mereka supaya alur operan bola mereka tercecer.

Dan teori saya tersebut ternyata berhasil meredam permainan mereka. I’m a happy man. Wenger memainkan sepakbola pragmatis tapi tetap cantik. Tidak seperti Mourinho. Serangan-serangan balik ala Arsenal menjadi spearhead malam itu yang bisa saja membobol gawang Hugo Lloris lebih dari sekali. Sayang ia tampil begitu ciamik.

Fans sepakbola, secara keseluruhan, adalah spesies pelupa. Di tempat yang sama — Ashburton Grove — saat ditaklukkan Aston Villa Gooners meneriakkan “spend some fuckin money! Spend some fucking money! Spend some fucking money!”

Di laga malam itu, mereka, dengan mood yang 180 derajat berbeda meneriakkan “what a waste of money! What a waste of money! What a waste of money!” kepada fans away Sp*rs di Emirates.

One nil and we spent fuck all. Euforia yang saya rasa jamak dirayakan karena yang dipertaruhkan di laga ini bukan hanya tiga poin di klasemen, tapi juga harga diri dan martabat. Kemenangan akan membungkam mulut para pundit sepakbola (I’m talking to you, Jonathan Wilson, James Horncastle) yang dengan mudah merendahkan kekuatan Arsenal, manakala skuat Sp*rs sejatinya sedang dalam tahap pembentukan ulang.

Selengkapnya mengenai analisa taktis pertandingan ini, bisa dibaca disini. Mumpung ingat sebelum lupa, menyenangkan rasanya ketika mengetahui pemain yang kau yakini akan menjadi bagian integral — atau mengacu bahasa game FM, indispensable — dari klub, pemain yang kau tulis sekian banyak artikel mengenai potensi dirinya, akhirnya berhasil mencuri hati sesama Gooners.

***

Chorus – ‘It’s him’, they said. It’s definitely him

Saya tidak tidur malam itu. Beberapa sumber di Twitter benar-benar yakin Arsenal telah berhasil merekrutnya. Pemain berwajah sendu Real Madrid yang memantapkan namanya di jagat sepakbola pada Piala Dunia 2010.

Paginya, kurang 12 jam bursa transfer ditutup, saya menahan-nahan diri untuk tidak terlalu percaya diri menulis namanya di kicauan Twitter. Di saat semuanya seperti meneriakkan namanya, saya lebih asyik menyebar artikel yang saya tulis untuk bolatotal. Karena saya tahu, dalam hitungan menit semuanya bisa berubah.

Selain dia, nama yang dihembuskan beberapa orang, mengenai pemain megabintang Jerman yang akan direkrut Arsenal adalah Julian Draxler, teenage sensation yang meremukkan Borussia Dortmund di Revierderby musim lalu. Pendapat tersebut saya pikir wajar karena kecenderungan Wenger untuk membeli talenta muda ketimbang bakat yang sudah jadi.

Dan tibalah dini hari 2 September. Malam — waktu Indonesia — dimana semua pecinta sepakbola tak henti-henti merefresh linimasa Twitter/homepage klub favorit masing-masing guna mengetahui siapa pemain baru yang klub mereka rekrut.

Saya yang tak kuat menahan kantuk, akhirnya tertidur. Saat bangun kembali pukul 5, suasana linimasa berubah. Saya tahu ia akhirnya menjadi milik Arsenal. Si raja assist berwajah sendu.

This slideshow requires JavaScript.

Pupus sudah rekor transfer klub. Pupus sudah rekor pemain Jerman termahal yang dipegang Mario Gotze baru-baru ini. Hebatnya lagi, berita ini justru menutup berita kepindahan Gareth Bale yang seharusnya menjadi lakon utama bursa transfer 2013-14.

Mesut Özil is a Gooner. Saya belum paham sepakbola saat Arsenal merekrut Dennis Bergkamp belasan tahun silam. Arsenal yang saya kenal adalah Arsene Wenger, Tony Adams dan Ray Parlour. Playmaker pertama yang saya puja sedemikian dalam kala pertama kali mengenal sepakbola adalah Zinedine Zidane. Dan Zidane sendiri yang berkata bahwa penerus tahta playmaker terhebat sejagat ada dalam diri Mesut Özil.

Mesut Özil is a Gooner. Ini era baru. Dengan perekrutan ini, pupus sudah asumsi kebanyakan orang yang menilai Wenger sudah tak mampu menarik bakat memikat Eropa untuk bermain di bawah asuhannya. Pupus sudah teori-teori liar yang mengatakan Ivan Gazidis dan Dick Law tak kompeten dalam persaingan bursa transfer. Arsene Wenger, tidak seperti saya yang melewatkan kesempatan berkenalan dengan perempuan di kolam renang, tak berpikir dua kali untuk menelpon Özil sebelum North London derby — pemain yang ia incar kala masih berseragam Werder Bremen.

Mesut Özil is a Gooner. Dengan kehadirannya Santi cazorla hanya akan tampil lebih beringas. Theo Walcott akan dimanjakan umpan-umpan pembelah pertahanan. Jack Wilshere akan banyak belajar bagaimana melakukan terobosan di kotak penalti. Senyum Lukas Podolski akan bertambah lebar. Dan yang paling penting.. Kehadiran Özil akan merubah paradigma, atau mindset lawan-lawan saat menghadapi Arsenal. Musim lalu orang-orang ramai membandingakan tiga playmaker Spanyol di EPL dengan Cazorla yang mengungguli rekor Juan Mata dan David Silva. Bayangkan apa yang terjadi jika kedua orang itu bermain di tim yang sama.

Mesut Özil is a Gooner. Perekrutan Mathieu Flamini menjadi tepat mengingat mental bulldog pria Prancis ini yang niscaya akan melindungi permata-permata Arsenal dari permainan kasar para musuh. Olivier Giroud, yang musim ini sudah menunjukkan tanda-tanda positif, akan mubazir jika tak mampu mencetak lebih dari 20 gol.

Mesut Özil is a Gooner. Perekrutan satu pemain tidak menjadi jaminan menjadi juara. Tapi efek kedatangan Özil dirasa sama seperti waktu Arsenal merekrut Bergkamp dulu. Bukan hanya langkah klub yang berubah, tapi si pemain juga turut merasakan dampak positif dengan menjadi figur utama di klub.

Mesut Özil is a Gooner. He’s definitely Bergy of our time. Bergkamp-nya era kita!

Song of the Day

My heart beats, so slowly. My heart beats on and on..

Nantikan dua artikel selanjutnya mengenai Özil dari aspek taktik dan masa depan timnas Jerman.

Simak juga video-video Arsenalfantv yang mewartakan kehebohan Ashburton Grove saat Arsenal meresmikan Mesut Özil: video 1video 2video 3video 4

Ö-zil, to the Arsenal, Ö-zil, to the Arsenal.. Ö-zil, to the Arsenal… Ö-zil, to the Arsenaaal!

*Kredit foto:
  1. suasana di Ashburton Grove: Tom Johnson
  2. foto-foto headline surat kabar: Nick Sutton

Early North London Derby: Menjajal Kekuatan Tetangga yang Konon Menakutkan

Kalimat apa yang pantas dijadikan sebagai pembuka di derbi dini ini? Semua orang sepertinya menilai Arsenal akan kesulitan menghadapi Sp*rs yang benar-benar kuat musim ini. Seorang Jonathan Wilson, sejarawan sekaligus ahli taktik sepakbola saja sampai dua kali menulis tentang betapa glamor dan potensialnya skuat baru Sp*rs musim 2013-14.

Yang terlintas di benak saya, kedua tim belum benar-benar tampil meyakinkan di musim yang baru berjalan dua pekan ini. Anda tidak bisa menyanggah bahwa mereka kelimpungan tanpa Gareth Bale dimana di dua laga EPL mereka hanya mampu menang tipis atas Crystal Palace dan Swansea. Masing-masing dengan skor 1-0 dan lewat tendangan penalti Soldado; salah satu rekrutan anyar mereka.

Apakah pembelian gila-gilaan bisa menjamin keberhasilan suatu klub? Jika yang kita bicarakan adalah pembelian model Chelsea pada 2004 silam, maka jawabannya adalah iya. Mari kita lihat nama-nama baru di skuat mereka. Teliti satu per satu. Tidak ada satu pun dari mereka yang mempunyai pengalaman berlaga di Liga Inggris. Seorang Cristiano Ronaldo saja membutuhkan waktu 3 musim untuk mengeluarkan tajinya di liga ini. Lain halnya jika pemain-pemain tersebut mempunyai talenta seperti Ruud van Nistelrooy atau Thierry Henry.

Saya bersyukur jadwal EPL memertemukan kita dengan mereka sedini ini (di kandang pula) karena otomatis kita menghadapi tim yang baru beradaptasi. Tidak menjadwalkan pertemuan kita di akhir September atau awal November dimana saya yakin saat itu skuat mereka sudah menyatu, solid dan tentu saja, mampu mengatasi masalah perginya Bale.

Pendukung Sp*rs dimana saja pasti bersorak kegirangan akhir-akhir ini. Semalam, melalui akun Twitter resminya, mereka dengan setengah bercanda mengunggah video pemasangan nama pemain baru di seragam putih berdisen buruk mereka. Satu per satu huruf ditempel dan terbentuk nama Lamela disana. Dalam bursa transfer kali ini, mereka telah tiga kali memecahkan rekor transfer. Lamela, yang dibeli dengan harga £30juta adalah pemain bagus, saya tidak bisa menyangkal. Tapi apakah ia bisa langsung tampil prima di laga hari Minggu nanti? Saya pikir menjadikannya starter — jika Aaron Lennon tidak cedera —  pun AVB tidak akan berani.

Lamela, dengan torehan 15 gol di Serie A untuk seorang pemuda 21 tahun adalah rekor fantastis, seperti yang diyakinkan James Horncastle. Tapi — tanpa bermaksud meremehkan penggila Serie A — kualitas permainan klub-klub negeri pizza kita ketahui bersama menurun dalam 4 tahun terakhir. Saya pernah menonton pertandingan Liga Inggris bersama teman yang kebetulan milanisti. Saya lupa siapa yang bermain, tapi yang jelas bukan tim papan atas. Ketika teman saya tadi melihat bagaimana bek-bek sayap kedua tim mengantisipasi serangan, dia berkata, “gila ya, liga Inggris, bek tim medioker gini aja jago-jago banget.”

Tapi AVB bukan pelatih sembarangan. Jika anda telah membaca tulisan-tulisan saya sejak musim lalu tentu paham bagaimana pandangan-pandangan saya terhadap mantan pelatih Porto tersebut. Ia juga mengetahui dengan pasti kenyataan bahwa timnya masih  memerlukan proses adaptasi. Seperti yang ia ungkapkan di konferensi pers,

The advantage that they have is that they know each other very, very well from the past because they are a side that has been built together for these last years and, without having new faces, they don’t have to worry about building something.

They’re already in there, the Arsenal way of playing. And we have lots of new faces and still have to build our own style of play

Dari daftar cedera, Arsenal diuntungkan oleh tak bugarnya Benoit Assou-Ekoto dan Aaron Lennon. Kontra Swansea minggu lalu AVB memasang Danny Rose dan Andros Townsend yang kualitasnya jauh di bawah kedua pemain tadi. Townsend musim lalu hanya bermain 5 kali di EPL tanpa sekalipun bermain penuh, sedangkan Rose, yang berusia 23 tahun lebih banyak dipinjamkan Sp*rs.

Besar kemungkinan AVB akan memasang Lamela ketimbang Townsend. Jika AVB menggunakan pendekatan pragmatis dan memilih pemain berdasarkan pengalaman, saya takutkan ia akan memasang Sandro; sosok yang musim lalu tampil begitu trengginas sebagai perusak irama permainan lawan sebelum didera cedera panjang.

Penting bagi Ramsey untuk menentramkan Mousa Dembele

Bertahun-tahun bursa transfer Arsenal selalu dikaitkan dengan pemain yang mempunyai karakteristik seperti Patrick Vieira. Ironisnya, Sp*rs kini memiliki salah satu pemain di EPL yang memiliki kualitas hampir setara eks kapten kita tersebut: Mousa Dembele.

Adalah penting untuk menjaga Dembele tetap jinak. Di atas kertas trio Dembele-Capoue-Paulinho terlihat begitu kokoh untuk dihantam. Semuanya piawai dalam melakukan duel perebutan bola. Di pertandingan melawan Swansea, terlihat sosok Capoue (yang sebelumnya kerap dikaitkan pindah ke Arsenal) menggantikan tugas Scott Parker yang beru saja dilepas ke Fulham.

Ia begitu gigih dalam merebut bola dan berlama-lama menguasai bola adalah hal yang perlu dihindari Arsenal. Selain itu kaki kiri Capoue juga mampu melepas sepakan jarak jauh. Penting bagi trio gelandang Arsenal untuk terus menjaga jarak antara gelandang-bek serapat mungkin.

Disinilah saya harap Ramsey mampu memertahankan permainan efektif yang telah dia lakukan di 4 laga awal 2013-14. Ramsey saya rasa telah memahami pentingnya menjaga stabilitas pertahanan-lapangan tengah di tergantung siapa yang Arsenal hadapi. Melawan Fenerbahce ia leluasa menyerang mereka karena lini tengah mereka tak sekuat Fulham; dimana saat melawan Fulham ia tak sekalipun melakukan penetrasi ke pertahanan mereka.

Permainan operan satu-dua cepat yang The Gunners peragakan versus Fulham, jika dimanfaatkan dengan baik bukan hanya menyulitkan Sp*rs, tapi juga mengacak-acak padatnya lini tengah mereka.

Ramsey membuktikan ia tak akan kalah saat berhadapan dengan pemain berpostur lebih besar; seperti yang ia tunjukkan di pertandingan pra musim terakhir kontra Manchester City. Ramsey mampu menentramkan Yaya Toure yang mempunyai skill, keunggulan postur tubuh, serta pengalaman jauh di atasnya.

Ia — yang saya perhatikan lebih kekar musim ini — mampu melindungi bola dengan memanfaatkan topangan kuda-kuda yang ia dapatkan dulu waktu masih sering bermain rugby.

Melihat permainan Wilshere di laga melawan Aston Villa, juga sedikit cedera yang dia alami di laga kontra Fenerbahce, saya berpikir lebih baik Arsene kembali memasukkan dia di babak kedua. Ini adalah pertandingan yang membutuhkan konsentrasi: bagaimana Arsenal agar jangan terlalu sering melakukan pelanggaran-pelanggaran tidak perlu di zona-zona berbahaya.

Memasang Flamini sebagai starter bisa jadi alternatif dengan Rosicky dan Cazorla bergantian sebagai AMF.

Arsenal kalah jauh dari dari segi fisik — disini absennya Bale patut kita syukuri

Perhatikan postur gelandang-gelandang Sp*rs: Naser Chadli 1,87 cm, Mousa Dembele 1,85, Capoue 1,89 dan Paulinho 1,81. Baik Giroud maupun Cazorla (yang berada di sisi kiri) harus rutin melakukan closing down terhadap Dawson; centre half mereka yang berperan sebagai Mertesacker-nya Sp*rs. Dawson jangan dibiarkan leluasa mengirimkan umpan-umpan lambung karena di lini tengah, Arsenal dirasa takkan sanggup menandingi pemain mereka dalam duel-duel udara.

Jangan lupa mereka juga memiliki Jan Vertonghen; pemain yang musim lalu tak hanya banyak mendulang gol melalui sundulan kepala, tapi juga mampu melakukan penetrasi melalui dribel aduhai ke garis pertahanan lawan untuk kemudian mencetak gol — seperti yang ia lakukan di kandang United musim lalu.

Sekali lagi, penting bagi Arsenal untuk berhati-hati dalam melakukan pressing. Jangan terlalu agresif. Cukup papatkan saja ruang mereka supaya alur operan bola mereka tercecer. Karena kedua tim sama-sama baik dalam memeragakan possession football. Ini adalah pertarungan dua gelandang tengah dalam membaca alur permainan.

Saat kalah atas Liverpool di Anfield musim lalu, Vertonghen berhasil menceploskan dua gol ke gawang Brad Jones dan ya, gol tersebut tercipta atas usaha Gareth Bale yang piawai dalam melepas umpan dari bola mati atau permainan terbuka. Sp*rs dengan Bale bisa begitu efektif karena AVB bisa semena-mena menempatkannya di mana saja. Saat kita takluk dari mereka 2-1 pun AVB memasangnya sebagai second striker: konsentrasi terpecah dan Sigurdsson bisa leluasa memanfaatkan kelengahan tersebut di sektor kanan pertahanan Arsenal.

Bale menopang 90% tanggung jawab di sektor penyerangan musim lalu. Dua kali kemenangan kurang meyakinkan atas tim medioker menjadi bukti bahwa mereka kelimpungan ditinggal Bale.

Kieran Gibbs v Kyle Walker

Umur keduanya terpaut tak terlalu jauh. Keduanya juga bukan pilihan utama di timnas Inggris. Gibbs masih harus bersaing dengan Ashley Cole dan Leighton Baines sementara Walker berhadapan dengan Glen Johnson dan Phil Jones. Gibbs baru dua kali membela timnas sedangkan Walker 6. Keduanya akan saling berhadapan besok malam di garis pinggir kiri pertahananan Arsenal.

Kelebihan Walker adalah kemampuannya melepas umpan lambung dari 2/3 lapangan  ke daerah-daerah berbahaya manakala Gibbs, yang di awal musim ini sudah menyumbang assist dan gol, sudah semakin padu dengan Cazorla dalam membongkar pertahanan lawan.

Kecepatan dan visi dalam menyerang praktis milik Gibbs. Sedangkan Walker, jika ia tak disiplin, akan mudah dibombardir oleh Gibbs-Cazorla karena Lamela belum terlalu paham pola permainan Arsenal (juga timnya sendiri).

Faktor Theo Walcott: peremuk hati penggemar Sp*rs dan AVB

Walcott, yang sejauh ini belum membuka keran golnya, saat ditanya wartawan apakah skuat Sp*rs lebih kuat ketimbang Arsenal menjawab,

That’s a silly question. Not at all. I feel that we’re very, very strong. Everyone may say our squad is very, very weak and there are not many of us but I think we showed we bounced back from such a disappointing result in the opening game and proved a lot of people wrong.

Di skuat Arsenal saat ini, Walcott merupakan pencetak gol terbanyak ke gawang Sp*rs dengan 5 gol. Torahan tadi menjadi semakin mengkilap jika kita menghitung sebilah gol cantik yang ia lesakkan ke gawang Chelsea saat AVB masih bercokol disana.

Pernyataan Walcott tadi memancarkan kepercayaan dirinya untuk kembali tampil beringas di derbi London Utara. Ia tentu panas melihat performa konsisten Giroud dalam mencetak gol. Dengan absennya Podolski, Walcott hanya akan tambah bersemangat untuk memberikan yang terbaik.

Dan semoga ia tak lupa untuk turun membantu Bacary Sagna (yang dikabarkan memangkas habis rambutnya kemarin) dalam bertahan.

Aura positif dalam dressing room Arsenal

In our stadium, against the enemy, we could not lose

Kata-kata di atas diucapkan Sagna saat kita berhasil mengalahkan mereka 5-2 dua musim silam. Persetan dengan kondisi transfer Arsenal yang memrihatinkan. Persetan dengan puja-puji media/jurnalis terhadap skuat mengkilap mereka. London Utara milik kita. Lupakan sejenak ketek-terbukaan manajemen Arsenal. Hadirkan semangat positif di dunia maya ataupun saat nobar nanti.

Laga ini begitu krusial. Kekalahan akan membuat aura positif antar pemain menjadi suram. Mencetak 6 gol dan hanya kebobolan sebiji di kandang Fulham dan Fenerbahce adalah sebuah prestasi (yang sayangnya luput diperhatikan banyak orang). Ini adalah skuat yang ‘katanya’ dalam kondisi krisis. Bertahun-tahun mereka selalu memrediksikan perpindahan kekuasaan/dominasi/hegemoni di utara London. Sepanjang itu pula, Arsene Wenger berhasil mematahkan prediksi mereka dan keraguan suporter.

Meminjam pekikan armada perang klan Stark di serial Game of Thrones:

Arsenal FC, the kings in the north!

Trivia of the day

  1. Dua musim terakhir Sp*rs tidak pernah mampu mengalahkan Arsenal di Ashburton Grove — begitu pula sebaliknya: Arsenal selalu kalah di kandang mereka di periode tersebut,
  2. Rekor Arsenal bersama Arsene di derbi ini sepanjang karir: 40 main, 18 menang, 16 seri dan 6 kalah. Serta 16 tahun selalu mengangkangi mereka di klasemen akhir Liga Inggris,
  3. Pertandingan ini, sepanjang perjalanan Premiership telah menciptakan 124 gol — terbanyak di antara pertandingan lain,
  4. Jika punya teman pendukung Sp*rs dan mengaku pernah menyaksikan timnya memenangi Liga Inggris, tabok saja.

Song of the day

Fuck Ivan Gazidis. Fuck Stan Kroenke. Fuck Arsene Wenger (for being stubborn). This is the clash against the arch-rival, the bitterest of all. Vermaelen saja, yang tidak bisa tampil begitu bersemangat jelang laga ini dengan komentarnya di situs klub.

Jangan tanyakan hasrat Jack Wilshere atau Carl Jenkinson untuk meremukkan mereka karena hal itu telah terpatri kuat di dahi.

Bernyanyilah dengan lantang. Keluarkan aura positif sepanjang laga. Teriakkan makian dengan kencang. Mengucap kata-kata seperti ‘anjing’ atau ‘bangsat’ sangat dimaklumi di kesempatan ini. Luapkan saja. Kepalkan tangan kencang-kencang saat Walcott atau Giroud berhasil menjebol gawang Hugo Lloris.

Biarlah kita terteter di bursa transfer. Biarlah satu per satu target transfer lepas ke klub lain. Kita punya pasukan yang siap berdarah-darah di pertandingan ini.

“Our love is questioned, such a mournful sound/tonight I’m gonna bury that horse in the ground/so I like to keep my issues drawn/but it’s always darkest before the dawn..

Shake it out, shake it out! Oh whooaa!/and it’s hard to dance with a devil on your back so shake him them off! Oh whoooa!”